Ilustrasi perempuan childfree

Stop Menghakimi, Pahami Alasan Perempuan Putuskan Childfree

Stop salahkan perempuan yang memutuskan childfree. Perempuan bukan “mesin” penghasil anak dan childfree itu adalah persoalan struktural.

Barangkali di sekelilingmu, ada perempuan yang memilih untuk tidak mempunyai anak (childfree). Ini adalah pesan penting bagimu. 

Kamu perlu lebih berempati pada apapun alasan dia, hingga memutuskan childfree. Alih-alih kamu terus mempertanyakan dan menginvalidasi pendapatnya. Bahkan, jika kamu sampai menghakiminya dengan narasi yang melanggengkan bias patriarki: perempuan harus jadi “mesin reproduksi anak”. 

Perempuan yang memilih childfree, memang bukan lagi hal baru. Rachel Chrastil dalam artikel yang dimuat di Washington Post, situasi childfree ini sudah terlihat dari sejarah munculnya pil kontrasepsi, gelombang kedua feminisme, hingga era kejatuhan ekonomi dan perang. Di Amerika Serikat serta Eropa barat laut, Kanada, dan Australia, childlessness sudah terjadi pada perempuan selama berabad-abad.

Chrastil memberikan satu pengecualian era childlessness. Menurutnya, era baby boom adalah anomali, jeda yang berlangsung sekitar 20 tahun. Kemudian, kondisi tidak memiliki anak muncul kembali, lebih kontroversial dan diperdebatkan secara terbuka daripada sebelumnya. 

Baca Juga: Influencer Mendobrak Tabu Soal Perbincangan Childfree

Kondisi tidak memiliki anak ini juga bukan hanya fenomena di negara-negara Barat. Menurut Chrastil, kondisi tidak memiliki anak adalah karakter dari semua budaya, dengan ekspektasi yang berbeda pada waktu dan tempat yang berbeda.

Di Indonesia, laporan BPS bertajuk ‘Menelusuri Jejak Childfree di Indonesia’ (2023) menyebutkan, prevalensi perempuan childfree yang hidup di Indonesia saat ini sekitar 8%. Estimasi angka tersebut berdasarkan ‘perempuan berusia 15-49 tahun yang pernah menikah, namun belum pernah melahirkan anak dalam keadaan hidup serta tidak menggunakan alat KB’. Hasilnya, 71 ribu dari mereka tidak ingin memiliki anak.

Lebih lanjut, BPS menyebut Indonesia berisiko kehilangan segmen generasi tertentu di piramida penduduk jika ‘tren’ childfree berlanjut. Perempuan childfree, menurut BPS, diindikasikan berpendidikan tinggi, kesulitan ekonomi, hingga menjalani ‘gaya hidup homoseksual’.

Kamus Feminis Konde.co, pernah menyoroti, narasi penyajian data BPS mengenai perempuan childfree mengundang banyak kritik. Pasalnya, penyajian data tentang childfree itu dalam laporan BPS maupun pemberitaan media massa terkesan misoginis dan bias gender. Tingginya angka childfree di Indonesia seakan-akan dibebankan pada perempuan saja. Selain itu, perempuan cenderung hanya dilihat sebagai bagian dari angkatan kerja sekaligus ‘pencetak’ angkatan kerja baru. Perempuan yang memilih childfree pun seolah menjadi ‘beban negara’, termasuk saat mereka menginjak lanjut usia (lansia).

Baca Juga: Kamus Feminis: Perempuan Childfree karena Masalah Struktural, Stop Menyalahkan Perempuan

Tentu ada perbedaan istilah antara childfree dan childless. Namun yang jelas, childfree pun bukan cuma soal keengganan untuk punya anak. Jika ditinjau menggunakan perspektif feminis, sesungguhnya isu childfree adalah masalah yang kompleks. Ia mencakup kekhawatiran perempuan terhadap krisis ekonomi: lonjakan harga bahan-bahan pokok, properti, dan sekolah, serta gizi yang tak terpenuhi. Isu ini juga mencakup minimnya lapangan kerja untuk perempuan, risiko di-PHK, dan sebagainya.

Jadi, kenapa banyak perempuan memilih childfree? Sebelum menghakimi perempuan, pahami dulu faktor-faktor yang berpotensi membuat perempuan semakin lantang memilih untuk tidak punya anak.

Ekspektasi Gender Memunculkan Diskriminasi Perempuan Childfree

Adanya tuntutan untuk perempuan harus memiliki anak untuk disebut “perempuan utuh”, tak lepas dari ekspektasi gender. Bahwa perempuan dikonstruksikan untuk menjadi “penerus keturunan”. Pilihan soal childfree, tentu bertentangan dengan standar ekspektasi gender normatif ini. 

Untuk diketahui, gender merupakan sebuah konsep yang merujuk pada karakteristik sosial, budaya, dan perilaku yang dikaitkan dengan identitas dan peran laki-laki dan perempuan dalam masyarakat. 

Berbeda dengan jenis kelamin (sex) yang bersifat biologis, gender merupakan konstruksi sosial yang mencakup aspek-aspek seperti identitas gender (cisgender, transgender, non-binary), peran gender (misalnya stereotip perempuan sebagai pengasuh dan laki-laki sebagai pencari nafkah), serta norma dan harapan sosial yang sering kali menimbulkan stigma jika hal tersebut dilanggar. 

Diskriminasi dan ketidaksetaraan berbasis gender masih kerap terjadi dalam berbagai bidang, seperti pendidikan, pekerjaan, dan kesehatan, sementara persepsi tentang gender dapat bervariasi antar budaya dan waktu. Sebagai hasil dari konstruksi sosial, gender dibentuk melalui interaksi, pengalaman, dan konteks budaya, sehingga pemahaman dan perannya terus berkembang. 

Baca Juga: Banyak Anak, Banyak Rezeki? Tak Semua Perempuan Relevan dengan Romantisasi Ini

Gender juga terkait erat dengan seksualitas, di mana norma gender memengaruhi orientasi seksual dan identitas seseorang. Gerakan sosial berbasis gender seperti feminisme terus berupaya menantang ketidaksetaraan gender dan struktur patriarki demi mewujudkan masyarakat yang lebih adil dan inklusif (Tong Rosemarie, 2009).

Meskipun kesadaran akan kesetaraan gender terus meningkat, norma-norma tradisional masih kuat mengakar dalam banyak aspek kehidupan. Salah satu contohnya adalah pandangan yang menempatkan perempuan sebagai ibu, yang tetap dominan di banyak masyarakat meskipun terjadi pergeseran nilai dan pilihan hidup di era modern. 

Fenomena ini tidak hanya mencerminkan ekspektasi sosial yang kaku, tetapi juga menciptakan tekanan struktural dan psikologis bagi perempuan yang memilih untuk tidak mengikuti norma tersebut. Pilihan untuk tidak memiliki anak, atau dikenal sebagai childfree, semakin populer, terutama di kalangan perempuan muda. 

Menurut data dari Pew Research Center (2024), sekitar 47% perempuan muda di Amerika Serikat memilih untuk tidak memiliki anak (Rachel Minkin, n.d.), sementara di Indonesia, data dari SUSENAS (2022) menunjukkan bahwa 8,2% perempuan berusia 15-49 tahun tidak berencana memiliki anak. 

Baca Juga: Melihat Childfree dari Perspektif Feminis Eksistensialis

Tren ini mencerminkan perubahan sikap terhadap peran gender, tantangan ekonomi, dan kekhawatiran lingkungan. Namun, pilihan ini sering kali dihadapkan pada stigma, penilaian negatif, dan tekanan sosial yang kuat (The Childfree: A Neglected Population? | BPS, n.d.).

Dominasi norma gender tradisional tercermin dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari ekspektasi sosial, representasi media, hingga struktur keluarga. Perempuan yang memilih untuk tidak memiliki anak sering kali dianggap melanggar norma yang telah mapan, dianggap egois, atau bahkan “tidak lengkap” sebagai perempuan. 

Penelitian oleh Dr. Leslie Ashburn-Nardo (2017) menunjukkan bahwa individu yang tidak memiliki anak seringkali dinilai “kurang bahagia” dan “kurang terpenuhi secara psikologis” dibandingkan dengan orang tua. Selain itu, media massa kerap menggambarkan perempuan dalam peran tradisional sebagai ibu dan pengasuh, yang semakin memperkuat stereotip ini. Representasi semacam ini tidak hanya membatasi ruang gerak perempuan, tetapi juga mengabaikan keragaman pilihan hidup yang sebenarnya valid dan bermakna(The Childfree: A Neglected Population? | BPS, n.d.).

Childfree dari Kacamata Feminisme Radikal

Dalam konteks ini, feminisme radikal menjadi relevan untuk mengkaji fenomena childfree sebagai bentuk perlawanan terhadap kontrol patriarki atas tubuh dan peran reproduktif perempuan. Feminisme radikal adalah aliran dalam gerakan feminis yang muncul pada pertengahan tahun 1970-an dan berfokus pada penghapusan sistem patriarki yang dianggap sebagai penyebab utama penindasan terhadap perempuan. 

Aliran ini menekankan bahwa penindasan laki-laki terhadap perempuan bukan hanya masalah sosial, tetapi merupakan struktur yang terintegrasi dalam sistem politik dan budaya masyarakat (Wibowo, 2022). 

Norma-norma tradisional yang menempatkan perempuan sebagai ibu mencerminkan bagaimana patriarki mengkonstruksi identitas perempuan berdasarkan kemampuan biologis mereka untuk melahirkan, sehingga pilihan untuk tidak memiliki anak seringkali dipandang sebagai bentuk pembangkangan terhadap sistem ini.

Dalam perspektif feminisme radikal, stigma terhadap perempuan childfree dapat dipahami sebagai bentuk penolakan masyarakat patriarki terhadap perempuan yang menolak dikontrol oleh norma reproduksi. Gerakan ini mengadvokasi perubahan mendasar dalam struktur sosial dengan menolak norma-norma dan praktik yang mendukung dominasi laki-laki. Pilihan childfree, dalam hal ini, dapat dilihat sebagai tindakan subversif yang meruntuhkan narasi bahwa nilai perempuan hanya diukur dari kemampuannya melahirkan dan mengasuh anak (Breda et al., 2020). 

Baca Juga: Tentang Childless: Mendengar Pengalaman Perempuan yang Hidup Tanpa Anak

Patriarki, sebagai sistem yang mendominasi, menempatkan perempuan dalam peran reproduktif dan domestik, sehingga pilihan untuk tidak memiliki anak dianggap sebagai ancaman terhadap tatanan sosial yang ada. 

Stigma dan tekanan sosial yang dihadapi oleh perempuan childfree mencerminkan upaya masyarakat untuk mempertahankan status quo, di mana perempuan diharapkan untuk memenuhi peran tradisional mereka sebagai ibu.

Selain itu, representasi media memainkan peran penting dalam memperkuat norma gender tradisional yang mengikat perempuan pada peran reproduktif dan domestik. Media sering kali menggambarkan perempuan sebagai ibu dan pengasuh, seolah-olah peran ini adalah kodrat yang tidak dapat dipisahkan dari identitas perempuan. 

Baca Juga: Mau Childfree atau Childless, Perempuan Selalu Disalahkan

Perempuan yang memilih untuk tidak memiliki anak jarang mendapatkan representasi yang positif atau beragam, sehingga mempersempit narasi tentang makna keberhasilan dan kebahagiaan perempuan. 

Ketimpangan ini tidak hanya membatasi persepsi masyarakat, tetapi juga menciptakan tekanan psikologis bagi perempuan yang berusaha mendefinisikan hidupnya di luar standar tradisional. Oleh karena itu, penting untuk mengubah narasi media dengan memperluas representasi perempuan yang memilih jalur hidup alternatif, agar masyarakat lebih menghargai keragaman pilihan dan mengurangi stigma terhadap perempuan childfree (Nugroho et al., 2022).

In This Economy, Perempuan Bisa Pilih Childfree

Faktor ekonomi dan lingkungan juga menjadi pertimbangan penting dalam keputusan perempuan untuk tidak memiliki anak di era modern. Banyak perempuan muda menghadapi realitas ekonomi yang penuh ketidakpastian, dengan biaya hidup yang tinggi, peluang kerja yang terbatas, dan minimnya dukungan kebijakan keluarga yang memadai. Ketidakpastian ini membuat sebagian perempuan merasa bahwa memiliki anak bukanlah keputusan yang realistis, terutama ketika kestabilan finansial sulit dicapai (Agrillo & Nelini, 2008). 

Selain tekanan ekonomi, kekhawatiran akan krisis iklim dan degradasi lingkungan turut mempengaruhi keputusan reproduksi perempuan. Sebuah penelitian dari ScienceDirect (2022) menemukan bahwa 20% ilmuwan perempuan yang aktif dalam isu perubahan iklim memilih untuk tidak memiliki anak karena kecemasan terhadap masa depan planet ini. 

Dengan demikian, pilihan childfree tidak hanya bersifat personal, tetapi juga refleksi dari kesadaran struktural dan kepedulian terhadap tantangan global yang terus berkembang (Blackstone & Stewart, 2012).

Baca Juga: Mau Childfree Atau Tidak? Pilihan Di Tangan Perempuan

Kombinasi antara konstruksi sosial yang membatasi dan tekanan struktural menunjukkan bahwa pilihan childfree adalah isu kompleks yang perlu dipahami secara mendalam dan multidimensional. 

Dominasi norma gender yang diperkuat oleh media, ditambah dengan faktor ekonomi dan lingkungan yang menekan, memperlihatkan bagaimana keputusan untuk tidak memiliki anak sering kali merupakan bentuk perlawanan terhadap sistem yang tidak mendukung keberagaman hidup perempuan. 

Dalam konteks ini, perubahan paradigma diperlukan, tidak hanya dalam cara media membingkai peran perempuan, tetapi juga dalam kebijakan publik yang lebih mendukung pilihan hidup yang beragam. Dengan menciptakan ruang sosial yang lebih inklusif dan bebas dari stigma, perempuan dapat lebih leluasa menentukan jalan hidupnya tanpa rasa bersalah atau tekanan dari norma yang mengekang kebebasan pribadi mereka.

Referensi: 

Afandi, S. (n.d.). BPS Soal “Childfree”, Aktivis Sebut Perempuan Ingin Punya Anak.Https://Www.Rri.Co.Id/Nasional/1125443/Bps-Soal-Childfree-Aktivis-Sebut-Perempuan- Ingin-Punya-Anak.

Agrillo, C., & Nelini, C. (2008). Childfree by choice: A review. Journal of Cultural Geography, 25, 347–363. https://doi.org/10.1080/08873630802476292

Asmaret, D. (2023). DAMPAK CHILD FREE TERHADAP KETAHANAN KELUARGA DI INDONESIA. ADHKI: JOURNAL OF ISLAMIC FAMILY LAW, 5, 73–89. https://doi.org/10.37876/adhki.v5i1.108

Blackstone, A., & Stewart, M. D. (2012). Choosing to be childfree: Research on the decision not to parent. In Sociology Compass (Vol. 6, pp. 718–727). https://doi.org/10.1111/j.1751- 9020.2012.00496.x

Breda, T., Jouini, E., Napp, C., & Thebault, G. (2020). Gender stereotypes can explain the gender- equality paradox. Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America, 117, 31063–31069. https://doi.org/10.1073/pnas.2008704117

Ellemers, N. (2018). Gender Stereotypes. In Annual Review of Psychology (Vol. 69, pp. 275–298). Annual Reviews Inc. https://doi.org/10.1146/annurev-psych-122216-011719

Media, H. J. D. (n.d.). Puluhan Ribu Perempuan Indonesia Memilih Childfree – Harianjogja.com.Https://Leisure.Harianjogja.Com/Read/2024/11/21/508/1195282/Puluhan-Ribu-Perempuan- Indonesia-Memilih-Childfree.

Nugroho, D. A., Alfarisy, F., Kurniawan, A. N., & Sarita, E. R. (2022). Tren Childfree dan Unmarried di kalangan Masyarakat Jepang. COMSERVA Indonesian Jurnal of Community Services and Development, 1, 1023–1030. https://doi.org/10.36418/comserva.v1i11.153

Rachel Minkin, J. M. H. and C. A. (n.d.). The Experiences of U.S. Adults Who Don’t Have Children. Https://Www.Pewresearch.Org/Social-Trends/2024/07/25/the-Experiences-of-u-s- Adults-Who-Dont-Have-Children/

Regitz-Zagrosek, V., & Gebhard, C. (2023). Gender medicine: effects of sex and gender on cardiovascular disease manifestation and outcomes. In Nature Reviews Cardiology (Vol. 20, pp. 236–247). Nature Research. https://doi.org/10.1038/s41569-022-00797-4

Retnani, S. D. (2017). FEMINISME DALAM PERKEMBANGAN ALIRAN PEMIKIRAN DAN HUKUM DI INDONESIA. Jurnal Ilmu Hukum: ALETHEA, 1, 95–109. https://doi.org/10.24246/alethea.vol1.no1.p95-109

The childfree: a neglected population? | BPS. (n.d.). Https://Www.Bps.Org.Uk/Psychologist/Childfree-Neglected-Population.

Tong Rosemarie. (2009). Feminist Thought: a more comprehensive introduction. Westview.

Wibowo, B. A. (2022). Feminisme Indonesia. Https://Journal.Upy.Ac.Id/Index.Php/Karmawibangga/Article/View/4673.

(Editor: Nurul Nur Azizah) 

Salwa Azhira

Penulis lepas di Konde.co
Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

Creative Commons License

1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

Let's share!