Catatan: Artikel mengandung spoiler dan dapat memantik trauma.
Pernahkah kamu mendengar dua dialog dari serial dan film Indonesia ini?
Di ‘Ratu-Ratu Queens’, Ance menegur Biyah, “Kamu enggak usah kebanyakan drama, deh. Ngapain, sih, pakai pergi-pergi? Rumah kamu, tuh, di sini.” Momen itu terjadi saat Biyah hendak berpamitan di apartemen Queens.
Sedangkan dalam film ‘Rangga & Cinta’, Cinta menegaskan kepada sahabatnya, Alya, “Yang gue butuhin, tuh, kalian sahabat gue. Maura, Karmen, Milly, dan lo, Alya.” Saya menangkap dialog itu sebagai penekanan atas pentingnya persahabatan.
Ya, saya tergugah dengan dua karya sinema tersebut. Industri perfilman Indonesia sangat mencuri perhatian saya, terutama selama sebulan ke belakang, berkat genre hingga pesan yang diusung berbagai karyanya. Secara tidak langsung, saya diajak masuk ke dalam dunia imajinasi para kreator dan menyisakan rasa kesemsem dan hangat dalam hati pasca menonton hingga saat ini. ‘Ratu-Ratu Queens’ dan ‘Rangga & Cinta’ menjadi dua di antaranya.
Baca Juga: Serial ‘Bestie 2’ Buktikan Sisterhood Bisa Kuatkan Perempuan di Masa Tersulit
Serial ‘Ratu-Ratu Queens’ karya Lucky Kuswandi yang berjumlah 6 episode dapat disaksikan pada layanan streaming digital sejak 12 September 2025. Sedangkan pada tanggal 2 Oktober 2025, Riri Riza dan Mira Lesmana kembali ke layar lebar dengan karya film ‘Rangga & Cinta: the Rebirth of ‘Ada Apa dengan Cinta?’’. Keduanya membuat saya tersadar akan kesamaan dalam kedua karya tersebut: konsep sisterhood atau persaudaraan antar-perempuan. Meski berangkat dari latar belakang cerita yang jauh berbeda, terdapat benang merah yang tampak jelas mengenai sisterhood yang diusung dalam kedua karya tersebut.
Serial ‘Ratu-Ratu Queens’ berkisah tentang perjalanan empat perempuan asal Indonesia menghadapi kerasnya kehidupan di Amerika Serikat. Sedangkan film ‘Rangga & Cinta’, yang berangkat dari film legendaris ‘Ada Apa dengan Cinta?’, menampilkan kehidupan romansa dan persahabatan siswa SMA yang dikemas dengan nuansa musikal. Kedua karya tersebut mengaplikasikan nilai-nilai sisterhood yang, menurut saya, realistis tanpa melebih-lebihkan, sehingga mudah melekat di benak masyarakat.
Rumah produksi Miles Films sempat menggaungkan pesan serupa lewat film ‘Bebas’ pada tahun 2019. Sedangkan Imajinari Pictures mengemasnya dalam film ‘Cinta Tak Seindah Drama Korea’ pada Desember 2024. Saya mencoba memantau alasan populernya konsep sisterhood dalam film melalui statistik dari Cinepoint, baik di X maupun situsnya. Kita mungkin bisa berasumsi, sisterhood mulai naik daun seiring jenuhnya masyarakat mengonsumsi genre horor.
Konsep sisterhood tercatat dalam gelombang kedua feminisme yang mengusung solidaritas antar-perempuan. Tujuannya agar dapat saling mendukung dan menjaga satu sama lain. Kendati demikian, konsep itu juga mendapatkan kritik dan pertentangan yang melahirkan feminisme gelombang ketiga. Pasalnya, menurut para pemikir pada saat itu, tidak semua perempuan mengenal dan/atau berkenan menjunjung konsep sisterhood dalam kehidupan. Alhasil, timbul bias makna dan feminitas beracun (toxic femininity) antar-sesama perempuan. Hal ini juga dapat terlihat dalam dua karya yang sedang dibahas di atas.
Baca Juga: Heroine, Centil dan Kuat! Inspirasi dari Tokoh Animasi Pahlawan Perempuan Tahun 2000-an
Jurnal ‘Sisterhood: Political Solidarity Between Women’ karya feminis bell hooks memaparkan konsep sisterhood masih didominasi pemikiran golongan perempuan liberal (liberal feminists). Ia mengatakan, sisterhood yang terkungkung oleh sistem patriarki menilai perempuan sebagai pihak penuh kerentanan dan lemah. Konsep tersebut juga mengatasnamakan kata “korban” sebagai simbol perjuangan.
Bagi hooks, sisterhood mesti menandakan solidaritas perempuan berdasarkan kekuatan dan sumber daya (strength and resources) yang serupa tanpa ada kata “korban” melainkan “seperjuangan”.
Gambaran Solidaritas Perempuan Melalui Sisterhood
Adegan sisterhood dalam ‘Ratu-Ratu Queens’ terasa begitu hangat bagi saya mengingat usia dan pengalaman hidup lebih dekat dengan karya tersebut ketimbang film ‘Rangga & Cinta’. Lucky Kuswandi menggandeng Gina S. Noer dan Andri Cung untuk menjelaskan latar belakang 4 perempuan hingga disatukan dalam satu atap milik Party (Nirina Zubir) sebagai roommate sekaligus keluarga baru di tengah kerasnya hidup di Amerika.
Party, pemilik rumah awal (apartemen di Queens), memulai hidup di Amerika bekerja sebagai pramusaji suatu restoran. Ia punya harapan dapat mengubah keadaan finansial pribadi dan keluarga. Tekanan sebagai anak sulung membuat dirinya mengupayakan berbagai cara untuk membantu kehidupan keluarga di Indonesia di luar bekerja. Salah satunya dengan menyewakan beberapa kamar kosong.
Party menyebarkan informasi terkait penyewaan kamar kosong dibantu Bisma (Yoshi Sudarso). Hal ini membawanya bertemu Ance (Tika Panggabean), seorang ibu tunggal beranak satu yang menyambung hidup sebagai supir taksi. Ance memutuskan pindah tempat tinggal menuju Queens dengan harapan dapat berdamai dengan keadaan pasca ditinggal mendiang suaminya. Selain itu, alasan lainnya yaitu ketidakstabilan finansial.
Baca Juga: Hari Kelahiran Pancasila: Menggali Feminisme Pancasila, ‘Ibu Bangsa’, dan Jati Diri Berkeadilan
Penyewa kamar kedua setelah Ance adalah Chinta (Happy Salma). Pertemuannya dengan Party sebagai housekeeper di rumah Ricky (Edward Lewis French), suami Chinta, membukakan pintu hidup baru bersama 2 perempuan tangguh. Sedangkan pertemuan dengan Biyah (Asri Welas) sekaligus penyewa terakhir rumah Queens terbilang unik. Biyah menjadi tunawisma di Amerika dan berpapasan dengan Eva (Luna Allegra), putri semata wayang Ance. Saat itu, Eva mencoba mencari solusi agar dapat kembali ke kamar akibat pintu gerbang terkunci. Biyah membantu Eva, namun terjadi kesalahpahaman di antaranya dan para penghuni lain. Hal itu sekaligus awal mula ia bergabung di Queens.
Para Ratu Queens saling bahu-membahu usai melalui beragam peristiwa yang terasa dekat dengan kehidupan diaspora di luar negeri. Mulai dari permasalahan yang tidak kunjung usai baik mengenai keluarga, romansa, hingga memaknai ulang konsep sisterhood.
Dinamika yang terjadi menjadi bibit sisterhood bagi mereka serta menyiratkan pesan mengenai pentingnya dukungan sesama perempuan baik moril maupun non-moril. Solidaritas yang kuat ditunjukkan dalam scene penggalangan dana biaya pengobatan ibunda Party (Rita Matu Mona) melalui penjualan sambal dalam acara bazar kuliner Indonesia. Dilanjutkan dengan lomba masak masakan Indonesia hingga menjadi juara pertama.
Perasaan hangat juga berkaca-kaca pasca menonton Ratu-Ratu Queens dilanjutkan penggambaran Geng Cinta dalam film Rangga & Cinta oleh Mira Lesmana. Masih serupa 23 tahun lalu, tanpa mengurangi makna dari sisterhood walaupun dikemas lebih modern. Persahabatan kelima remaja tersebut dihadapi lika-liku permasalahan baik pribadi maupun kelompok (Geng Cinta) serupa dengan Ratu-Ratu Queens.
Baca Juga: ‘Women Supporting Women’: Menelusuri Mitos dan Celah Kesenjangan Sosial Diantara Perempuan
Cinta (Leya Princy), ketua Geng Cinta dan bagian dari Tim Mading Sekolah, menjalani masa SMA bersama dengan 4 sahabatnya. Milly (Katyana Mawira), Maura (Kyandra Sembel), Karmen (Daniella Tumiwa), dan Alya (Jasmine Nadya). Mereka dipandang sebagai primadona sekolah, baik dari sisi persahabatan maupun popularitas masing-masing individu. Setiap pergerakan Geng Cinta acap kali menjadi buah bibir sekolah. Khususnya mengenai persahabatan mereka yang minim ‘gesekan’. Namun, pandangan tersebut berubah pasca pertemuan dengan Rangga (El Putra Sarira), laki-laki misterius kelas 3 SMA sekaligus pemenang lomba puisi.
Dinamika persahabatan Geng Cinta tidak serta-merta datang pasca pertemuan dengan Rangga. Alya, korban KDRT ayahnya, menjadi sorotan sejak awal film. Kisahnya dengan Geng Cinta menekankan pentingnya perempuan untuk saling merangkul menjaga satu sama lain (women support women). Walaupun tidak selamanya orang yang ditunjuk sebagai sahabat mendampingi secara fisik hadir 24 jam.
Scene percobaan bunuh diri Alya meninggalkan kesan tersendiri bagi saya. Pasalnya, Geng Cinta telah memiliki kesepakatan untuk membagikan segala momen suka maupun duka dalam hidup. Kisah mereka dituangkan dalam buku harian bersama. Ini mengingatkan saya akan house rules milik Ratu-Ratu Queens digagas dan disepakati oleh Ratu-Ratu Queens. Namun persahabatan mereka seolah gagal membendung upaya percobaan bunuh diri Alya.
Serupa dengan Alya, Biyah dalam Ratu-Ratu Queens secara sadar memisahkan diri dan menghilang tanpa kabar dari ketiga sahabatnya pasca keributan yang terjadi dengan Tuti Emut (Shanty). Komunikasi hanya terjalin melalui Eva, putri semata wayang Ance dan pertemuan di Queens setelah muncul kabar mengenai wafatnya ibu Party. Pengalaman kedua karakter tersebut mengingatkan pandangan dari bell hooks akan makna sesungguhnya dari sisterhood.
Bias Makna Sisterhood Dalam Kehidupan Perempuan
Poin utama biasnya konsep sisterhood yang dikemukakan oleh bell hooks diperkuat dengan pandangan Elisabeth Evans dalam buku The Politics of Third Wave of Feminisms pada bab Sisterhood: Inclusivity and Spaces. Evans menilai solusi yang ditawarkan golongan perempuan liberal terkait sisterhood dengan cara dicetuskannya women-only dan women-born-women only, berubah menjadi consciousness raising groups (CR) guna merangkul pandangan dari golongan lain (Third Wave of Feminism) dan keluar dari tatanan patriarki.
Dengan kata lain, hal tersebut tidak mewakili pandangan dari golongan perempuan lain dan tetap berpegangan pada pemikiran golongan perempuan liberal dengan segudang privilesenya sehingga menimbulkan bias makna.
Bila melihat dari serial Ratu-Ratu Queens dan film Rangga & Cinta, terdapat momen (scene) karakter dari karya tersebut bias pemahaman sisterhood. Karakter-karakter tersebut belum memahami sisterhood sebagai bentuk solidaritas perempuan seperti pandangan bell hooks. Alhasil, terjadi gesekan dan timbul sisi feminitas beracun (toxic femininity).
Baca Juga: Okupasi Ruang Lewat Aksi Piknik Melawan, Demo Damai yang Tetap Bikin Pemerintah Gerah
Pertikaian antara Tim Ratu-Ratu Queens dengan Tim Solena diketuai oleh Solena (Dira Sugandi) memperlihatkan bias makna sisterhood sebagai sesama diaspora Indonesia di Amerika seharusnya saling merangkul karena jauh dari Tanah Air. Mulanya, Tim Solena membicarakan kehidupan pribadi Chinta pasca bercerai dari mantan suaminya, Ricky dan puncaknya mengolok-olok Tim Ratu-Ratu Queens mengenai barang jualan di bazar, sambal racikan Party.
Eskalasi konflik semakin membara di antara kedua kubu dan dilanjutkan pada lomba masak. Rendang yang akan dihidangkan Party kepada dewan juri secara tidak sengaja tersenggol Biyah. Respon dari Tim Solena hanyalah tertawa tanpa memperlihatkan sikap empati sedikitpun karena menilai dirinya “beda level” dengan Tim Ratu-Ratu Queens hingga dinyatakan sebagai pemenang lomba.
Serial Ratu-Ratu Queens identik dengan scene pertikaian kedua tim. Sedangkan dalam film Rangga & Cinta, poinnya ada pada merenggangnya hubungan Cinta dari gengnya. Saya ingat betul ketika scene Alya diinterogasi oleh Maura, Milly, dan Karmen terkait keberadaan Cinta. Alya hanya menjawab dengan 1 dialog menarik dapat ditemukan dalam film maupun lagu ‘Di Mana Cinta?’.
“Mungkin Cinta hanya butuh ruang dan waktu,” jawab Alya dengan tegas kepada ketiga sahabatnya.
Baca Juga: “Superwomen” Saat Penyelam Perempuan Melawan Stereotipe Gender Pulihkan Terumbu Karang
Jawaban Alya tentunya sangat tidak memuaskan hati ketiga sahabatnya, bahkan menimbulkan pertanyaan lain. Respon Maura yang berapi-api akan hilangnya Cinta, seolah memperlihatkan pandangan sisterhood sebagai konsep yang ‘memaksa’ semua orang seragam dan wajib bersama-sama. Sementara itu, tidak ada yang memberikan ruang kepada Cinta untuk mengenali sisi lain dirinya usai mengenal Rangga.
Pandangan terkait konsep sisterhood oleh sesama perempuan tidak lepas dari segala kontroversi dan keberpihakan. Seperti yang dikemukakan oleh bell hooks serta Elisabeth Evans mengenai makna asli sisterhood. Namun, terlepas dari segala kontroversi yang ada, saya memiliki keyakinan bahwa sesungguhnya sisterhood yang lebih beragam dan inklusif juga penting. Jika ‘Ratu-Ratu Queens‘ dan ‘Rangga & Cinta‘ bisa menjadikan sisterhood sebagai ‘pusat’ cerita, konsep ini juga tentu dapat diaplikasikan ke dalam industri perfilman Indonesia secara lebih luas.






