Ilustrasi dongeng 'Hansel and Gretel'

Stigma Perempuan Hingga ke Negeri Dongeng: Misogini dalam Kisah Klasik dan Legenda

Perempuan distigma dan distereotipe hingga ke negeri dongeng dan legenda. Yang 'baik' harus lembut dan tak berdaya; jika pintar dan melawan, ia disebut karakter 'jahat'.

Sejak kecil kita akrab dengan kisah-kisah tentang perempuan: putri duyung yang rela kehilangan suaranya demi cinta, gadis baik yang diselamatkan pangeran, atau penyihir yang jahat dengan visualisasi yang menakutkan. Kita tumbuh dengan dongeng yang membentuk imajinasi tentang rupa dan laku perempuan yang pantas dicintai atau “baik”. Cenderung lembut, nrima, dan seolah tak berdaya. 

Namun, di balik keindahan kisah-kisah itu, ada pola lain yang berulang: perempuan yang terlihat berkuasa dianggap mengancam, sementara perempuan yang pasif dianggap suci. Dongeng klasik ternyata bukan hanya hiburan anak-anak, tapi juga cermin dari cara dunia memandang tubuh dan suara perempuan. Bahkan, tidak hanya hidup di Barat, pola ini juga hadir di Indonesia.

Dari kisah-kisah dongeng Barat, kita dapat mengambil contoh ‘The Little Mermaid’ karya klasik Hans Christian Andersen. Kisahnya dikenal manis, tapi baru-baru ini saya sempatkan membaca ulang, dan ternyata tragis. Si duyung muda mengorbankan ekor yang merupakan bagian dari jati dirinya demi menjadi manusia. Ia juga menyerahkan suaranya demi cinta pada pangeran yang bahkan tak pernah benar-benar mengenalnya.

Dalam dunia manusia, suara adalah simbol eksistensi. Maka ketika sang duyung menyerahkan suaranya, ia sesungguhnya ‘menyerahkan kuasanya’. Tubuhnya diubah agar sesuai dengan standar manusia, dan akhirnya ia harus menanggung rasa sakit setiap kali melangkah.

Baca Juga: Mendongeng Sampai Atur Screen Time Anak: Ini Tugas Orang Tua, Bukan Cuma Perempuan

Berbeda lagi dengan kisah siren dalam mitologi Yunani, yang terkadang digambarkan sebagai perempuan setengah burung atau setengah ikan. Mitologi siren justru menggambarkan perempuan yang “terlalu bersuara” dengan nyanyian mematikan mereka (siren song). Konon katanya, nyanyian mereka begitu indah hingga menjerumuskan para pelaut, menjadi tergila-gila lalu berujung pada kematian.

Menurut saya, di sini ada kecenderungan penggambaran ke arah perempuan menjadi simbol bahaya; sesuatu yang memikat namun harus dibungkam. Siren bukan lagi makhluk yang bernyanyi, melainkan peringatan: bahwa perempuan yang bersuara terlalu keras bisa menghancurkan tatanan laki-laki.

Pemikir feminis Silvia Federici dalam bukunya ‘Witches, Witch-Hunting, and Women’—diterjemahkan menjadi “Perempuan dan Perburuan Penyihir”—menjelaskan bahwa terdapat tuduhan persetubuhan perempuan dengan iblis yang kemudian melahirkan ketakutan di masyarakat luas. Perempuan dianggap dapat menyihir laki-laki dengan pesonanya, untuk kemudian mengontrol dan menjebak mereka di bawah kekuasaannya. Sehingga tertutupi hasrat yang kemudian menyebabkan mereka lupa akan jarak sosial dan kewajiban. Tak sulit menemukan pantulannya di dunia nyata. Perempuan yang lantang bersuara tentang ketidakadilan sering disebut entah “terlalu emosional”, “terlalu menggoda”, hingga “kasar”.

Dalam ‘Hansel and Gretel’, misalnya. Penyihir digambarkan sebagai perempuan tua yang hidup sendiri, membuat rumah dari permen, dan ingin memangsa anak-anak. Tapi jika kita baca lebih dalam, siapa sebenarnya penyihir ini?  Adakah penyebab ia melakukan apa yang dia lakukan? Saya pernah menulis tentang stigma penyihir perempuan serta penampilan mereka yang “tidak biasa” (seperti dalam karya ‘Wicked’, baik novel, musikal hingga filmnya) dianggap “jahat”.

Baca Juga: ‘Witch’ dan ‘Wizard’, Beda Julukan Penyihir adalah Bentuk Bias Gender dalam Seni dan Sejarah

Kisah penyihir ini tentu berakar pada pandangan tentang “penyihir perempuan” yang disalahpahami pada masa era kegelapan Eropa. Pada masa itu, ribuan perempuan diburu dan dibunuh karena dituduh bersekutu dengan iblis. Kembali, Silvia Federici dalam ‘Caliban and the Witch’ menjelaskan bahwa yang mereka sebut “penyihir” adalah simbol perempuan yang berpengetahuan dan mandiri. Mereka tahu tentang herbal, tentang penyembuhan, dan tentang tubuh manusia. Namun pengetahuan itulah yang justru dikriminalisasi karena dianggap mengancam sistem baru yang ingin menguasai.

Maka sejatinya perburuan penyihir yang diangkat dalam dongeng-dongeng itu bukan hanya tentang takhayul, tetapi tentang pengendalian tubuh perempuan. Dongeng Hansel and Gretel melanjutkan warisan itu: ia mengajarkan anak-anak untuk takut pada perempuan yang “tak biasa”.

Begitu pun dalam mitologi Yunani, siapa yang tidak kenal Medusa? Ia sering dianggap monster yang mengubah siapa pun yang menatapnya menjadi batu. Tapi jarang diingat bahwa sebelum menjadi monster, Medusa adalah korban pemerkosaan di kuil Athena. Karena melanggar kesucian kuil, Medusa malah dikutuk. Padahal ia adalah korban. Tubuhnya diubah, rambutnya menjadi ular, tatapannya dianggap berbahaya. Dalam pandangan feminis seperti Hélène Cixous, Medusa bukan simbol kebencian terhadap laki-laki. Melainkan simbol kekuatan perempuan yang menakutkan bagi dunia patriarki.

Sama halnya dengan Circe, penyihir dalam mitologi Yunani yang konon “menyihir laki-laki menjadi babi.” Versi modern karya Madeline Miller menyatakan Circe bukan tokoh jahat, tapi perempuan yang belajar bertahan di dunia yang menakutkan. Ia tak menaklukkan laki-laki; ia hanya melindungi dirinya. Namun sebaliknya, ia justru menjadi simbolisme perwujudan bahaya yang dihadapi laki-laki: yaitu tentang godaan, kenikmatan yang berlebihan serta bahaya yang dapat “mengubah” laki-laki dari martabat manusia menjadi hewan.

Bayangan Serupa dalam Legenda Nusantara: Waktunya Kisahkan Ulang Perempuan Berdaya

Menariknya, pola serupa juga hadir dalam legenda-legenda Nusantara. Kita mengenal Calon Arang, perempuan sakti yang dituduh membawa wabah dan kehancuran. Tapi bila kita menelusuri penafsiran dalam prosa liris karya Toeti Heraty yang melihatnya sebagai bukan sebagai “penyihir jahat”, melainkan perempuan cerdas yang menolak tunduk pada penguasa patriarkal, dan marah karena kehormatan anak perempuannya direndahkan.

Begitu pula Nyi Roro Kidul, yang kerap digambarkan menggoda dan berbahaya bagi laki-laki. Padahal di sisi lain, ia adalah simbol kekuasaan laut dan penjaga keseimbangan alam. Tubuhnya yang dianggap “berbahaya” justru melambangkan kedaulatan yang tidak bisa dikontrol oleh dunia darat (maskulin).

Kita juga punya Rara Mendut, terutama dalam novel karya YB Mangunwijaya. Ia mendeskripsikannya sebagai perempuan yang menolak menjadi milik penguasa dan berani memilih cintanya sendiri.

Dongeng dan legenda dapat dikatakan sebagai arsip imajinasi patriarki yang mengajarkan perempuan cara bersikap “baik”. Juga mengingatkan mereka akan nasib yang menanti jika berani melawan. Namun, perlu kejelian juga dalam melihat pula bahwa tidak semua kisah menempatkan perempuan sebagai sosok pasif. 

Baca Juga: Stereotip Dunia Sastra dan Film di ‘Wicked’: Cantik Dianggap Baik, Buruk Rupa Dianggap Jahat

Dalam ‘The Snow Queen’, kita mengenal Gerda, gadis kecil yang tidak menyerah mencari sahabatnya, Kai, yang diculik oleh Ratu Salju. Keberaniannya muncul dari kasih sayang dan keteguhan hati. Begitu pula dalam mitologi Yunani, tokoh Psyche berjuang keras untuk mendapatkan kembali cintanya pada Eros. Ia harus melewati serangkaian ujian berat dari Aphrodite, dan justru dari perjuangan itulah ia menemukan kekuatan dirinya sendiri. Ini juga terjadi dalam cerita rakyat Nusantara. Kita mengenal Timun Mas dan segala keberaniannya mengalahkan Buto Ijo.

Mereka menunjukkan bahwa cinta tidak selalu berarti pengorbanan yang membungkam, tetapi bisa menjadi kekuatan yang menggerakkan. Mereka bukan “damsel in distress”, melainkan perempuan yang memilih bertahan dan berjuang dengan caranya sendiri. Begitu pun generasi kini, memiliki kesempatan untuk menulis ulang kisah-kisah itu.

Mungkin sudah waktunya kita berhenti menjadi tokoh dalam dongeng orang lain dan mulai menulis kisah kita sendiri. Sebagai perempuan yang seperti apa? Jawabannya tergantung kita sendiri.

(Editor: Salsabila Putri Pertiwi)

Stella Hita Arawinda

Mahasiswa Fakultas Hukum, Universitas Diponegoro, Semarang
Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

Creative Commons License

1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

Let's share!