Istilah ‘witch’ dan ‘wizard’ sering muncul dalam berbagai karya seni dan sejarah, mulai dari legenda klasik hingga serial modern. Meski keduanya sama-sama merujuk pada penyihir, terdapat perbedaan tersirat yang mempengaruhi penggambaran mereka dalam fiksi.
Secara garis besar, julukan ‘witch’ biasanya digunakan untuk menyebut penyihir perempuan, sedangkan penyihir laki-laki disebut ‘wizard’. Dalam banyak karya seni, perbedaan antara istilah ‘witch’ dan ‘wizard’ tidak hanya berkaitan dengan gender. Tetapi juga konotasi positif atau negatif yang melekat pada masing-masing istilah tersebut.
Sebagai contoh, dalam legenda ‘King Arthur’, penyihir laki-laki seperti Merlin digambarkan sebagai figur bijaksana dan pelindung. Merlin terkenal karena kebijaksanaannya serta kekuatan magisnya yang digunakan untuk kebaikan. Hal itu membantu Arthur dalam menjalankan tugasnya sebagai raja. Sementara itu, karakter Morgana, penyihir perempuan dalam beberapa versi cerita, sering digambarkan sebagai antagonis yang menggunakan sihir untuk menentang Arthur dan memicu konflik.
Perbedaan serupa juga terlihat pada sosok ‘wizard’ dalam ‘Lord of the Rings’. Dalam cerita tersebut, penyihir laki-laki seperti Gandalf digambarkan sebagai tokoh heroik yang melindungi dunia dari kehancuran. Kekuatan magis Gandalf dianggap sebagai kekuatan positif yang digunakan untuk melawan kegelapan dan melindungi umat manusia. Sebaliknya, ‘witch’ atau penyihir perempuan dalam kisah klasik Eropa sering kali dihubungkan dengan kekuatan jahat atau terlarang. Cerita rakyat seperti ‘Hansel and Gretel’ adalah satu dari banyak contohnya.
Baca juga: Toeti Heraty, Perempuan Pemikir Feminis Telah Tiada
Namun, dalam karya ‘Wicked’—spin-off dari kisah ‘the Wizard of Oz’—stereotipe tersebut dibalik. Karakter Elphaba, yang nantinya dikenal sebagai the Wicked Witch of the West atau Penyihir Jahat dari Barat, diberikan latar belakang yang lebih kompleks. Cerita ini mengeksplorasi pandangan masyarakat terhadap ‘penyihir jahat’ yang rupanya bisa keliru. Penyihir perempuan diberikan lebih banyak kedalaman cerita, meskipun label negatif tetap melekat padanya.
Tak lupa serial Marvel terbaru, ‘Agatha All Along’—sekuel ‘WandaVision’—juga mengeksplorasi karakter Agatha Harkness. Agatha adalah penyihir perempuan yang awalnya digambarkan sebagai antagonis. Namun, ia lalu menjadi contoh narasi tentang penyihir perempuan yang perlahan berubah menjadi karakter yang lebih kompleks dan ambigu seiring berjalannya waktu.
Makna ‘witch’ sering kali dikaitkan dengan kesan negatif, seperti kekuatan yang menantang norma atau melanggar aturan sosial. Sementara itu, istilah ‘wizard’ cenderung memiliki konotasi positif, dan sering kali dikaitkan dengan kebijaksanaan serta kepahlawanan. Hal ini menunjukkan bias gender dalam persepsi penyihir: kekuatan perempuan dianggap lebih berbahaya atau mengancam dibandingkan kekuatan laki-laki.
Ritual Pembakaran Penyihir, Diskriminasi Gender dan Alat Pengendalian Sosial di Masa Lalu
Ritual pembakaran penyihir di masa lalu merupakan contoh nyata diskriminasi gender dan tindakan seksisme yang dilegalkan oleh masyarakat. Di Eropa, khususnya selama abad pertengahan hingga awal era modern, ribuan perempuan dieksekusi atas tuduhan sebagai penyihir. Perburuan penyihir ini dipicu oleh ketakutan terhadap kekuatan perempuan yang dianggap melawan norma-norma sosial dan agama. Wilayah-wilayah seperti Jerman, Prancis, dan Swiss menjadi tempat penargetan perempuan yang dicurigai terlibat dalam sihir. Mereka dituduh sebagai penyihir tanpa bukti kuat dan hanya berdasarkan ketakutan, prasangka, atau alasan politis.
Tuduhan-tuduhan ini mencapai puncaknya pada abad ke-16 dan ke-17. Ribuan perempuan dihukum mati; banyak di antaranya dibakar di tiang pancang. Proses ini merupakan bentuk diskriminasi berbasis gender. Perempuan yang mandiri atau memiliki kekuatan sering kali dipersepsikan sebagai ancaman terhadap tatanan patriarki. Salah satu contoh terkenal adalah sejarah Pengadilan Penyihir di Salem (Salem Witch Trials) pada tahun 1692. Kejadian itu menjadi simbol mengaitkan istilah ‘witch’ dengan stigma negatif. Karya seperti “The Crucible” oleh Arthur Miller mengangkat kembali peristiwa ini sebagai gambaran ketakutan sosial dan pengendalian terhadap perempuan. Selain itu, Levack dalam “The Witch-Hunt in Early Modern Europe” menjelaskan, banyak perempuan yang dituduh sebagai penyihir adalah mereka yang tidak mengikuti ajaran agama dominan atau yang memiliki pengetahuan medis serta herbal tradisional. Alhasil, mereka dianggap sebagai ancaman terhadap otoritas gereja dan negara.
Menurut Kennedy dalam “Psychological and Social Explanations of Witchcraft” (1967), salah satu alasan utama di balik perburuan penyihir adalah ketakutan akan peran perempuan dalam kekuasaan. Pemerintah dan otoritas khawatir bahwa perempuan yang memiliki pengaruh besar bisa mengancam tatanan sosial yang didominasi laki-laki. Keterlibatan perempuan yang kuat dalam masyarakat, terutama di ranah politik atau spiritual, sering dianggap sebagai ‘penyimpangan’ yang berbahaya. Oleh karena itu, label ‘witchcraft’ atau ilmu sihir digunakan untuk membenarkan penyingkiran perempuan yang berani melawan atau mempertanyakan status quo.
Baca juga: Cok Sawitri, Perempuan Seniman Pembongkar Mitos Perempuan
Eksekusi atas tuduhan sihir sering kali dijadikan alat kontrol sosial. Dengan membakar atau menghukum perempuan yang dicap sebagai penyihir, masyarakat memastikan bahwa perempuan lainnya tetap tunduk pada aturan patriarki. Ritual-ritual ini tidak hanya menakutkan bagi perempuan, tetapi juga bagi siapa saja yang berani menentang kekuasaan. Dengan menjadikan istilah ‘witchcraft’ sebagai alasan politis untuk eksekusi, masyarakat kala itu memperkuat dominasi laki-laki dan menghilangkan peran perempuan yang independen. Sedangkan, istilah ‘wizardry’ umumnya dikaitkan dengan penyihir laki-laki yang sering memiliki konotasi positif. Sebagaimana dibahas oleh Marina Warner dalam ‘From the Beast to the Blonde’, wizardry lebih sering dipandang sebagai bentuk sihir yang terhormat dibandingkan witchcraft. Padahal, kedua istilah tersebut jika diterjemahkan memiliki arti yang sama, yaitu ‘sihir’. Stigma ini bertahan hingga zaman modern. Istilah ‘witch’ masih sering digunakan dengan konotasi negatif, terutama terhadap perempuan.
Mengeklaim Makna ‘Witch’: Transformasi Simbol Kekuatan Perempuan dalam Gerakan Feminis
Seiring dengan perkembangan zaman, makna “Witch” mulai direklamasi oleh gerakan feminis. Mereka melihat penyihir perempuan sebagai simbol kekuatan dan kebebasan dalam melawan patriarki. Perbedaan tersirat antara “Witch” dan “Wizard” tidak hanya mempengaruhi cara keduanya digambarkan dalam fiksi. Tetapi juga mencerminkan persepsi masyarakat tentang kekuatan berdasarkan gender. Meski begitu, karya-karya modern mulai mendekonstruksi narasi ini, memberikan ruang bagi penyihir perempuan untuk menjadi lebih dari sekadar tokoh jahat, dan mengakui kompleksitas serta potensi mereka sebagai karakter yang kuat dan bernuansa.
Pada dasarnya istilah “Witch” dan “Wizard” membawa perbedaan mendasar yang dipengaruhi oleh bias gender dalam seni dan sejarah. “Witch” dan “Witchcraft” sering dikaitkan dengan perempuan yang dilabeli secara negatif sebagai sosok penentang norma sosial dan agama. Sedangkan “Wizard” dan “Wizardry” dikaitkan dengan laki-laki yang memiliki konotasi lebih positif, digambarkan sebagai bijaksana dan heroik.
Perburuan dan pembunuhan penyihir di masa lalu merupakan wujud nyata diskriminasi terhadap perempuan. Kekuatan dan kemandirian mereka dianggap sebagai ancaman terhadap patriarki. Namun, seiring berjalannya waktu, gerakan feminis mulai berani menggeser istilah “Witch” sebagai simbol kekuatan perempuan dan kebebasan dalam melawan sistem patriarki. Diimbangi dengan narasi modern yang mulai memberikan kedalaman pada karakter penyihir perempuan sebagai tokoh protagonis dari inti cerita.






