Di penghujung malam, saya terkadang merenung. Kepala saya dipenuhi pertanyaan-pertanyaan: mengapa semudah itu dunia mengeksploitasi tubuh para perempuan muda?
Saya teringat pemberitaan terkait perempuan muda di Thailand yang jadi korban perdagangan orang dengan dalih penipuan “perdagangan sel telur”. Kejadian di awal tahun ini, bermula dari lowongan kerja palsu yang menjanjikan harapan kesejahteraan. Namun, para perempuan muda Thailand seusia saya itu justru berakhir dijebak, disekap, dan dieksploitasi sebagai “mesin reproduksi” sel-sel telur yang diperdagangkan di Georgia, AS.
Kejadian yang menimpa mereka ini, saya bayangkan, bisa saja menimpa saya dan perempuan lain yang ada di ‘Global South’. Kita sebagai perempuan direntankan tak hanya sistem patriarki yang merenggut hak otonomi atas tubuh, namun juga tertindas oleh kapitalisme dalam relasi global yang timpang.
Banyak perempuan Thailand dari kalangan miskin, direkrut melalui iklan media sosial yang menawarkan pekerjaan sebagai surrogate mother (ibu pengganti). Gajinya konon sebesar 400.000 hinga 600.000 baht (Rp 200-300 juta-an) perbulan, angka yang sangat menggiurkan bagi mereka yang tinggal di negara dengan upah minimum hanya sekitar 10.620 baht (Rp 5 jutaan).
Saya dapat membayangkan bagaimana mereka ketika membaca iklan tersebut dengan raut wajah penuh harapan, seolah ini adalah jalan keluar dari kemiskinan, yang mereka timpa dan cara membantu perekonomian keluarga. Tapi itu semua harus pupus usai kenyataan menghantam mereka.
Baca Juga: Kamus Feminis: Apa Itu Surrogate Mother atau Ibu Pengganti
Investigasi dari Thai BPS dan Pavena foundation menemukan fakta bahwa setibanya di Goergia alih-alih bekerja sebagai surrogate mother mereka malah dijebak dalam sindikat global. Mereka dipaksa untuk tinggal didalam apartemen tertutup yang asing, paspornya disita paksa, dan tubuh mereka disuntik hormon secara berulang agar sel telur mereka dapat diambil.
Saat membaca testimoni bagaimana mereka tidak mendapat penjelasan medis mengenai prosedur yang dilakukan, tidak adanya kontrak yang melindungi dan ketika berusaha melarikan diri mereka malah diancam. Saya makin merasakan betapa mudahnya tubuh perempuan dijadikan komoditas, diambil haknya, apalagi ketika Pavena Foundation (2025) memperkirakan masih ada sekitar 100 perempuan Thailand lain yang terjebak dalam jaringan serupa di Georgia.
Ini adalah bukti nyata dari sistem global yang bergerak dengan sistematis menargetkan tubuh perempuan dari negara miskin.
Setelah berada di Georgia, proses yang harus mereka jalani jauh dari kata pekerjaan yang bermartabat. Para perempuan Thailand itu dipaksa menjalai stimulasi ovarium berulang tanpa pendampingan medis yang memadai hanya demi mengejar dan memenuhi permintaan pasar fertilitas global.
Dari laporan investigasi Thai PBS (2025) dan Human Rights Research Center (2025), banyak korban yang melaporkan mengenai efek samping berat akibat suntikan hormon itu mulai dari pendarahan hingga nyeri hebat, tapi keluhan itu tak didengar oleh sindikat.
Baca Juga: “Join Live, Buat Beli Beras untuk Istri”: Eksploitasi Perempuan dan Kemiskinan di Layar TikTok
Tubuh mereka hanya dijadikan komoditas yang diperjualbelikan tanpa dipenuhi hak hak dasar dan keselamatan mereka justru diabaikan.
Ada testimoni dari salah satu korban yang saya baca ia mengatakan, “setiap kali mereka menyuntik saya, saya merasa tubuh saya makin jauh dari milik saya sendiri.”
Kalimat sederhana itu begitu terasa menyakitkan, seolah mewakili rasa kehilangan dan ketidak berdayaan yang harus dialami banyak perempuan dari ‘Global South’. Cerita semacam ini seperti yang diungkapkan oleh Pavena Foundation dalam Konferensi pers dan berita internasional, menjelaskan betapa sistem global dapat begitu kejam pada perempuan yang punya mimpi kecil di tanah air mereka.
Jaringan perdagangan sel telur ini tidak mungkin muncul begitu saja. Di balik operasi yang tengah terjadi di Georgia terdapat sistem global yang ternyata jauh lebih kompleks dan terstruktur.
Menurut Amecores Research (2022), industri Surrogacy dan reproduksi global dapat diperkirakan menyentuh angka senilai lebih dari USD 6,4 milliar pada 2021, dan akan terus berkembang seiring meningkatnya permintaan pasar dari negara-negara kaya yang sedang mengalami krisis demografi.
Ketika Thailand pada 2015 menutup praktik surrogacy komersial dan India melalui Surrogacy (Regulation) Act 2021 mulai memperketat regulasi mereka untuk melindungi warganya, ternyata itu tidak dapat menghentikan mereka, dan berpindah ke wilayah yang pengawasannya lebih longgar seperti Georgia. Meskipun surrogacy komersial legal disana, tetapi regulasi mengenai “donasi sel telur” tak pernah benar-benar ada.
Baca Juga: Di Balik Konten TikTok Sadbor, Ada Ketimpangan Ekonomi dan Dorongan Kejar Atensi
Menurut Europian Society of Human Reproduction and Embriology yang dikutip dalam laporan SILK Medical Clinic (2024), Georgia itu sudah dijuluki semacam “Hub reproduksi murah” di kawasan Eurasia. Sebuah label yang netral, tetapi dibaliknya tersimpan kisah-kisah kelam tentang bagaimana tubuh perempuan menjadi ladang yang dieksploitasi.
Saya makin memahami apa yang terjadi pada perempuan Thailand di Georgia bukanlah nasib buruk, melainkan hasil dari struktur global yang dirancang untuk mengambil keuntungan dari tubuh perempuan miskin demi kepentingan negara-negara kaya.
Ketimpangan ini bukan sekedar masalah ekonomi tapi ini sudah termasuk masalah gender yang menyentuh fondasi kemanusiaan. Sebagai mahasiswa Hubungan internasional, saya diajarkan mengenai ‘Global South’ dan ‘Global North’ terhubung melalui rantai pasokan, perdagangan, dan perjanjian ekonomi. Namun ada ratu rantai yang jarang dibahas di ruang kelas yaitu rantai pasokan tubuh perempuan.
Dalam risetnya berjudul ‘Commercial Surrogacy in India: Manufacturing a Perfect Mother-Worker’ (2010), seorang akademisi Amrita Pande menunjukkan bahwa praktik surrogacy beroperasi dengan menjalankan logika kolonial yang belum hilang seluruhnya dan perempuan dari negara miskin harus dimobilisasi untuk memenuhi kebutuhan reproduksi kelas menengah dan kaya di negara yang sejahtera.
Studi ‘Cross Border Reproductive Care (CBRC): A Growing Global Phenomenon’ oleh Salama dan kolega dalam Human Reproduction Update (2018) membuktikan bahwa mayoritas permintaan donor sel telur global datang dari pasien di negara berpenghasilan tinggi, sementara mayoritas donornya berasal negara yang ekonominya lemah.
Baca Juga: ‘Sleep Call’ Perempuan Urban di Pusaran Eksploitasi Seksual dan Teknologi Digital
Bisa dilihat polanya sangat jelas mulai dari tubuh perempun miskin yang jadi bahan baku bagi kebutuhan reproduksi negara kaya. Ketika saya menyadari ini, ketidaksetaraan global tidak lagi terasa seperti teori abstrak yang dipelajari di kelas, tapi ia hidup dan nyata di dalam tubuh perempuan ‘Global South’, di dalam keputusan-keputusan yang harus mereka buat ketika kelaparan, dan di dalam semua penderitaan yang mereka alami ketika tubuh mereka dieksploitasi tanpa hati nurani.
Analisis feminisme menunjukkan praktik ini adalah perpaduan antara patriarki yang merendahkan perempuan (eksploitasi, objektifikasi) dan kapitalisme yang mengkomodifikasikan perempuan miskin di negara berkembang dengan kerentanannya, menjadi penyedia sel telur bagi negara yang disebut maju. Dengan kata lain, ini memperburuk ketidaksetaran global, dimana tubuh perempuan di kawasan “berkembang” dieksploitasi untuk pemenuhan reproduksi kawasan yang katanya “maju”.
Feminisme menentang praktik ini karena melanggar hak asasi perempuan atas tubuhnya dan memperkuat penindasan reproduktif. Inilah yang jadi perjuangan Feminisme Radikal yang mengajarkan bagaimana melawan penindasan terhadap tubuh perempuan.
Hulamith Firestone dalam bukunya Dialectic of Sex berpendapat bahwa ‘sistem kelas seksual’ adalah bentuk stratifikasi pertama. Sistem semacam itu ada sebelum sistem berbasis kelas dan kapitalisme.
Menurutnya perbedaan biologis antara laki-laki dan perempuan menjadi dasar bagi pembagian kerja yang berbeda. Hal ini diatur melalui ‘keluarga biologis’. Sistem kelas seksual merupakan dasar dari semua sistem kelas lainnya. Laki-laki menikmati kekuasaan mereka atas perempuan dalam keluarga biologis dan berusaha memperluasnya ke ranah kehidupan sosial dan ekonomi lainnya.
Ada satu pertanyaan yang terus berputar di kepala yaitu mengapa dunia memilih diam? Disaat berita tentang surrogacy muncul di media internasional, liputan biasanya hanya berfokus pada kisah cinta pasangan kaya dari negara barat, perkembangan teknologi medis atau bahkan public figure yang mencari surrogate.
Baca Juga: Banyak Eksploitase Tubuh Perempuan Dalam Karya Seni, Dibutuhkan Perspektif Feminis
Tapi ketika perempuaan Asia Tenggara yang sedang mengalami kemalangan dengan dijebak menjadi ladang sel telur tanpa kehendak mereka, cerita mereka menghilang dalam sekejap tertumpuk diantar berita lain yang dianggap lebih “sensasional”. Sepertinya tubuh wanita miskin tidak cukup menarik untuk mendapat liputan yang berkelanjutan.
Ada temuan dari Internews yang meneliti 99 liputan berita daring di enam negara yang menunjukkan banyak liputan surrogacy tidaklah menggunakan perspektif gender sama sekali. Di dalam narasi media pun, nyaris tidak ditampakkan berbagai ketimpangan yang harus dialami perempuan, terutama mereka yang berasal dari negara berpendapatan rendah.
Terhapusnya cerita mengenai perempuan ‘Global South’ yang nyaris tak terhindarkan bukanlah kebetulan, ini adalah bentuk dari pilihan sistematis untuk tidak melihat, mendengar, bahkan tidak memperdulikan. Jelas saya merasa marah ketika menyadari bahwa penderitaan perempuan seperti saya hanya dianggap sebagai detail kecil yang bisa diabaikan, sesuatu yang tidak cukup layak untuk dibicarakan di meja berita dunia.
Perubahan tidak akan mungkin terjadi hanya dengan moral dan kemarahan semata. Tetapi butuh tindakan nyata yaitu, regulasi Internasional yang jelas mengenai perdagangan sel telur, transparansi penuh terhadap imdustri surrogacy, memberikan perlindungan hukum bagi perempuan migran pekerja reproduksi, dan dapat memberikan sanksi tegas terhadap sindikat perdagangan manusia UNODC dalam Global Report on Trafficking in Persons 2022 dan WHO menekankan urgensi pengawasan lintas negara.
Baca Juga: Eksploitasi Buruh Perempuan di Tengah Gemerlap Bisnis Fesyen Busana Muslim
Namun lebih dari itu, dunia juga harus mulai mengubah cara pandang pada perempuan ‘Global South’ bukan sebagai objek penderitaan semata. Melainkan sebagai subjek politik yang berdaya. Pengetahuan kami, pengalaman kami, dan penderitaan kami adalah bagian dari diplomasi global yang selama ini diabaikan.
Sebagai perempuan muda dari ‘Global South’, saya tidak akan berhenti bersuara bahwa kami bukanlah ladang reproduksi dunia. Kami bukan pula komoditas medis, dan bukanlah solusi murah untuk krisis demografi negara lain. Selama masih ada perempuan diluar sana yang tubuhnya dijual, disuntik, atau dipaksa, suara perempuan ‘Global South’ akan terus bergema untuk menuntut pengakuan, perlindungan, dan keadilan.
Perubahan harus dimulai dari segala bentuk penolakan untuk diam, dilupakan dan penolakan untuk menerima bahwa tubuh kami bukan milik dunia.
(Editor: Nurul Nur Azizah)
Referensi:
Amecores Research. (n.d.). Surrogacy market growth opportunities and forecast till 2030. https://www.amecoresearch.com/market-report/surrogacy-market-276758
Civil Georgia. (2025, February 6). 100 Thai women allegedly forced into human egg harvesting in Georgia, MIA launches investigation. https://civil.ge/archives/659924
Hatch.us. (2024, April 25). Surrogacy in Thailand: What you need to know. https://www.hatch.us/en/blog/surrogacy-in-thailand
Human Rights Research Center. (2025, February 17). Trapped in the surrogacy boom: Thai women rescued from human egg farms in Georgia. https://www.humanrightsresearch.org/post/trapped-in-the-surrogacy-boom-thai-women-rescued-from-human-egg-farms-in-georgia
NCBI/PMC. (2020, May). Non-commercial surrogacy in Thailand: Ethical, legal, and social perspectives. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC7747428/
NCBI/PMC. (n.d.). Different but same: A call for a joint pro-active regulation of surrogacy https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC6329471/.
NDTV. (2025, February 7). Women enslaved in Georgia for human-egg harvesting by Chinese gangsters. https://www.ndtv.com/world-news/women-enslaved-in-georgia-for-human-egg-harvesting-by-chinese-gangsters-report-7665007
Pande, A. (2010). Commercial surrogacy in India: Manufacturing a perfect mother-worker. Signs: Journal of Women in Culture and Society, 35(4), 969–992.
Reuters. (2025, February 7). Georgia, Thailand probing human egg trafficking ring. https://www.reuters.com/world/georgia-thailand-probing-human-egg-trafficking-ring-2025-02-07/
Salama, M., et al. (2018). Cross border reproductive care (CBRC): A growing global phenomenon. Human Reproduction Update, 24(5), 582–592. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC6063838/
SILK Medical Clinic. (2024, October 1). Legal aspects of fertility treatments in Georgia. https://silkmedicalclinic.com/2024/10/02/legal-aspects-of-fertility-treatments-in-georgia/
Thai Anti-Human Trafficking Action (Pavena Foundation). (2025, February 3). Thai women rescued from human-egg farm in Georgia. https://www.thaianti-humantraffickingaction.org/Home/2025/02/03/thai-women-rescued-from-human-egg-farm-in-georgia/
The Nation Thailand. (2025, February 2). Urgent help sought for 100 Thai women forced into human egg farms. https://www.nationthailand.com/news/general/40045862
UNODC. (2022). Global report on trafficking in persons 2022.
Women’s Agenda Australia. (2025 harvested-in-georgia/, February 10). Thai women tricked into having their eggs harvested in Georgia. https://womensagenda.com.au/latest/thai-women-tricked-into-having-their-eggs-






