Foto: Netflix

Film Ladies First (2026): Ketika Laki-Laki Merasakan Jadi Si “Nomor Dua”

Apa jadinya kalau laki-laki hidup di era matriarki? Film Ladies First (2026) menjawabnya lewat komedi satire yang menohok karya Thea Sharrock. Sayangnya, film ini lebih sibuk menukar peran yang karikatural ketimbang membongkar akar masalahnya.

Film ini dibuka dengan memperkenalkan Damien Sachs (Sacha Baron Cohen), seorang eksekutif periklanan yang sukses, arogan, dan memandang rendah perempuan. Damien memanipulasi promosi Alex Fox (Rosamund Fikes)—seorang ibu tunggal berbakat yang selama dua dekade diabaikan—demi menyelamatkan proyek besar agensinya dengan Guinness dari isu minimnya keterwakilan perempuan. 

Namun, situasi berbalik saat Alex menyadari perannya yang sebatas tokenistik dan memilih resign. Ketika Damien berusaha mengejarnya sambil tetap melontarkan komentar seksis, ia justru mengalami kecelakaan konyol menabrak tiang hingga pingsan. Dari sinilah terjadi insiden pemicu (inciting incident) yang menjadi jembatan magis, melemparkannya keluar dari zona nyaman menuju dimensi realitas alternatif yang sepenuhnya berlawanan.

Di dunia paralel itu, Damien menghadapi pukulan telak terhadap ego maskulinnya setelah terlempar ke posisi sebagai kaum “Liyan”. Untuk pertama kalinya, ia merasakan langsung bagaimana rasanya diabaikan dalam rapat, dicap terlalu emosional, dan dipandang hanya dari penampilan fisiknya.

Baca Juga: ‘The Substance’, Ketika Standar Kecantikan Media Hadirkan Diri yang ‘Liyan’ dan Menghancurkan Tubuh Perempuan

Untuk menyampaikan kritik sosial tersebut, film ini mengandalkan elemen sinematik berupa humor berbasis pembalikan situasi: seperti maraknya novel berpusat pada perempuan, iklan bir yang menampilkan model laki-laki berpakaian minim dan tuntutan gaya berpakaian yang timpang. 

Bukan Feminisme, Bukan Matriarki 

Meskipun mengangkat narasi tentang perempuan yang berdaya di dunia matriarki, film ini sejatinya bukanlah sebuah film feminisme, melainkan sebuah komedi satir yang membalikkan realitas sosial secara ekstrem. 

Melalui representasi dunia paralel, penonton disuguhi fenomena reverse harassment yang agresif, seperti catcalling. Sentilan satir ini terasa kian menggigit ketika standar kecantikan seperti filler yang menyasar untuk laki-laki. Female Gaze dibentuk secara harfiah lewat objektifikasi visual yang juga direpresentasikan lewat merk lingerie, Victor’s Secret

Adegan make over di sini jelas merupakan kritik tajam yang memperlihatkan betapa melelahkannya hidup di bawah bayang-bayang tuntutan fisik yang selama ini dihadapi oleh perempuan. 

Lantaran eksekusi kritiknya terjebak dalam repetisi dengan memamerkan gagasan objektifikasi serta standar kecantikan buatan secara beruntun, beberapa adegan film ini terasa seperti sketsa komedi karikatural yang dipaksakan. Hal tersebut membuat transisi psikologis Damien kurang dieksplorasi secara organik karena narasi terlalu sibuk memamerkan “kegilaan” dunia baru.

Baca Juga: Film ‘Frankenstein’, Patriarki dan Politik Tubuh oleh Laki-Laki yang Terobsesi Atas Penciptaan

Fokus yang timpang ini akhirnya mengabaikan definisi antropologis matriarki yang sebenarnya, yang pada hakikatnya bukan sekadar kebalikan hitam-putih dari sistem patriarki. Perlu diketahui bahwa konstruksi dunia paralel dalam film ini tidak ditujukan untuk menggambarkan sistem matriarki yang akurat secara ilmiah atau antropologis. 

Alih-alih membangun tatanan sosial baru yang autentik, film ini memilih jalan pintas dengan meminjam utuh seluruh struktur patriarki yang ada di dunia nyata, lalu sekadar menukar posisi subjeknya. Pendekatan tersebut mempertegas bahwa dunia baru ini bukan studi kultural yang mendalam, melainkan hanya sebuah refleksi cermin distorsif yang dirancang khusus sebagai alat satire. 

Kemasan Baru dari Komedi Prancis 

Film ini merupakan sebuah remake resmi dari komedi satir asal Prancis berjudul “I Am Not an Easy Man” (Je ne suis pas un homme facile) (2018). Mengambil premis orisinal yang serupa, versi adaptasi ini mencoba mengontekstualisasikan ulang isu-isu bias gender dan diskriminasi struktural ke dalam lanskap industri periklanan yang dinamis. 

Upaya transfer budaya ini menjadi tantangan tersendiri bagi sineas untuk menjaga esensi humor kering khas Eropa, sekaligus membuatnya tetap relevan dan menggigit bagi audiens global.

Baca Juga: Film ‘No Other Land’ Masih Terkungkung Hegemoni Kolonialisme

Dalam versi remake ini, sutradara melakukan beberapa penyesuaian visual dan naratif untuk mempertegas kontras antara kedua dunia. Jika versi Prancisnya cenderung bermain pada ruang-ruang domestik dan interaksi kasual, versi teranyar ini memperluas skalanya dengan mengeksploitasi gemerlap dunia korporat, panggung mode, hingga industri kecantikan medis yang sedang tren. 

Langkah ini diambil untuk memberikan dampak visual yang lebih dramatis dan megah, mengingatkan penonton tentang bagaimana kapitalisme dan struktur kekuasaan bekerja ketika posisi gender diputarbalikkan secara ekstrem. Walaupun jika ditelusuri, versi remake ini cenderung terlalu gamblang dan kehilangan sentuhan ironi yang subtil yang sempat membuat film orisinalnya terasa begitu menohok, terutama di akhir cerita. 

Kontroversi Sacha Baron Cohen 

Keterlibatan aktor Sacha Baron Cohen dalam memerankan Damien memberikan dimensi performatif yang sangat kuat sekaligus kontroversial, mengingat rekam jejak sang aktor yang kerap mengeksplorasi karakter-karakter satir ekstrem. 

Pilihan sutradara Thea Sharrock untuk menunjuk Sacha juga dipertanyakan, mengingat kontroversi personal sang aktor terkait tuduhan pelecehan di lokasi syuting oleh mantan lawan mainnya pada tahun 2016, Rebel Wilson. 

Baca Juga: Cancel Culture di Industri Hiburan: Perempuan Lebih Disorot dari Laki-laki

Sangat menggelitik ketika melihat seorang aktor yang di dunia nyata tersandung isu perilaku seksis, justru didapuk untuk memerankan karakter pria yang harus bertobat dari dosa-dosa chauvinisme-nya. 

Keputusan Thea Sharrock mempertahankan Cohen memicu spekulasi: apakah ini sebuah taktik pemasaran yang sengaja memanfaatkan rekam jejak problematik sang aktor demi memberikan efek kejut yang lebih intens, ataukah sebuah bentuk ketidakpedulian industri terhadap ruang aman kerja? 

Sebagai sebuah produk budaya populer, film ini menjalankan fungsinya sebagai cermin distorsif yang memprovokasi pikiran penonton melalui visualisasi ketidakadilan gender. Namun, pencapaian ini jangan sampai disalahartikan sebagai sebuah karya feminis; film ini tidak menawarkan dekonstruksi ideologis terhadap patriarki maupun ruang emansipasi yang substansial bagi perempuan. 

Elemen-elemen yang tampak seperti “pemberdayaan” di dalamnya hanyalah sebuah narasi yang meminjam mentah-mentah pola penindasan lama, lalu menukarnya ke subjek yang berbeda demi kebutuhan komedi situasi yang menghibur. 

Baca Juga: Di Balik Jas Mewah Met Gala 2025, Ada Kolonialisme Baru Berbalut Perlawanan Simbolik

Oleh karena itu, di luar riuh komedi dan pesona para komediannya, industri sinema kita justru perlu lebih banyak memproduksi film-film dengan nafas feminisme yang autentik. Kita membutuhkan narasi yang tidak sekadar terjebak dalam formula pembalikan peran yang karikatural atau sekadar memuaskan fantasi balas dendam sosial.

Sinema yang kita butuhkan adalah sinema yang berani menggali kedalaman psikologis perjuangan perempuan, membongkar akar diskriminasi struktural secara subtil, serta menawarkan alternatif tatanan sosial yang setara dan humanis tanpa harus menduplikasi racun beracun dari sistem yang ingin dilawannya.

(Editor: Luthfi Maulana Adhari)

Rully Restiana

Pemerhati gender dan lulusan Japan Studies.
Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

Creative Commons License

1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

Let's share!