Cuplikan film 'Laut Bercerita' (sumber foto: Instagram @lautbercerita)

Film ‘Laut Bercerita’ Bukan Hanya Cerita Masa Lalu, Ia Harus Bangkitkan Perlawanan Hari Ini

Film ‘Laut Bercerita’ mendokumentasikan kisah nyata aktivis pro-demokrasi tahun 1990-an yang dihilangkan paksa oleh rezim Orde Baru dalam bentuk fiksi. Di atas semua itu, ia harus menjadi ‘cermin’ perlawanan kita terhadap pola rezim serupa hari ini.

Beberapa tahun yang lalu, saya pernah begitu menantikan novel ‘Laut Bercerita’ karya Leila Chudori tayang di layar lebar. Kali ini, banyak keraguan muncul dalam diri, sehingga saya mencoba untuk menonton film panjang ‘Laut Bercerita’ sebagai orang awam.

Sebagai konteks awal, saya pernah menjadi penggemar berat bukunya saat masih menjadi mahasiswa. Saya membeli cetakan pertamanya yang bertengger di etalase best seller sebuah toko buku di Jakarta pada November 2017. Novel ‘Laut Bercerita’ pernah membuat saya tergerak untuk lebih aktif mengikuti Aksi Kamisan di Jakarta—meski dulu tidak berdomisili di kota ini—hingga mengikuti roadshow demi menonton film pendeknya dan mendapatkan tanda tangan penulis. 

Tapi selayaknya manusia, setiap pengetahuan bisa dilepaskan (unlearning), dan yang pernah kita amini bisa dipertanyakan. Maka berbagai pertanyaan dan jawaban tentang ‘Laut Bercerita’ muncul dalam diri saya seiring berjalannya waktu. Termasuk ketika memutuskan untuk menonton film layar lebarnya, dengan segala dinamika pemikiran yang muncul, terbentuk, lalu luruh.

Tentang Film

Ini memang bukan satu-satunya adaptasi film ‘Laut Bercerita’. Pada 2017, sutradara Pritagita Arianegara menggarap film pendeknya, yang diputar secara terbatas dalam roadshow dan diskusi publik selama beberapa tahun. Kemudian muncul kabar bahwa novel ini akan diadaptasi dalam bentuk film panjang oleh Yosep Anggi Noen, sutradara yang juga membuat film ‘Istirahatlah Kata-Kata’ tentang aktivis pra-Reformasi Wiji Thukul.

Sebagian besar narasi film ‘Laut Bercerita’ disampaikan oleh Biru Laut Wibisana—masih diperankan Reza Rahadian, seperti dalam film pendeknya. Ia seorang mahasiswa dan aktivis pro-demokrasi di Yogyakarta pada era 1990-an. 

Laut, yang sangat menggemari sastra meski era Orde Baru melarangnya, bergabung dalam kelompok Winatra yang dipelopori Kasih Kinanti (Dian Sastrowardoyo), bersama ketua kelompok Wirasena, Arifin Bramantyo (Yoga Pratama). Kelompok—atau ‘gerakan’, menurut Kinan—Winatra kerap menggelar diskusi sastra hingga merencanakan demonstrasi untuk membantu perjuangan kelompok marjinal. Dua di antaranya yakni penggusuran warga untuk pembangunan Waduk Kedungombo (1991) dan alih fungsi paksa lahan jagung warga di Blangguan menjadi area latihan tempur tentara (1993).

Bersama Winatra, Laut terlibat dalam aksi tanam jagung di Blangguan. Namun, belum sempat terlaksana, aksi itu buyar karena rencana mereka rupanya bocor sehingga aparat datang menggeruduk Desa Blangguan. Alhasil, para mahasiswa yang datang dari Yogyakarta hingga Jakarta dan sempat menginap di rumah-rumah warga pun harus menarik diri dan masyarakat Blangguan tetap kehilangan tanahnya.

Film ini tidak hanya bercerita tentang demonstrasi dan perlawanan. Di atas statusnya sebagai aktivis mahasiswa, Biru Laut adalah anak sulung dari dua bersaudara. Ia tinggal jauh dari rumah orangtuanya di Jakarta, tapi komunikasi mereka hampir tak pernah terputus. Laut sering bertukar kabar dan canda dengan adiknya, Asmara Jati (Yunita Siregar) dan orangtuanya. Setiap pulang, ayahnya akan menyiapkan empat piring untuk ia, istrinya, Laut, dan Asmara. Pemuda itu juga kerap membantu ibunya memasak tengkleng favoritnya untuk disantap bersama sekeluarga.

Laut juga menjalin romansa dengan Anjani (Eva Celia), mahasiswa seni yang ditemuinya di markas Winatra. Anjani sempat membuat mural yang memutarbalikkan kisah Ramayana. Alih-alih Shinta, dalam lukisan Anjani, Rama-lah yang diculik dan Shinta pergi untuk menyelamatkan sang pujaan hati. Kedekatan Laut dan Anjani terjalin semakin dekat setelah beberapa aktivitas Winatra. Akhirnya mereka pun berpacaran.

Namun tahun demi tahun berlalu, Orde Baru makin beringas. Pelarangan buku semakin ketat, kebebasan berpendapat kian diinjak-injak. Karya-karya sejumlah penulis, terutama yang dianggap terafiliasi dengan komunisme seperti Pramoedya Ananta Toer, tidak boleh beredar dalam bentuk apa pun. 

Berdasarkan percakapan antara Laut dengan ayahnya yang seorang wartawan pun, Menteri Penerangan sampai mengumpulkan para pemimpin redaksi media dan menegaskan larangan merekrut pekerja yang pernah menjadi tahanan politik atas tuduhan komunisme pasca-1965. Sementara gerakan-gerakan mahasiswa dan sipil yang dianggap membelot dari kekuasaan harus dimusnahkan.

Dalam situasi itulah, Laut dan kawan-kawannya di Winatra—Sunu, Alex, Daniel, Kinan, Bram, Naratama, Gusti, dan lainnya—mau tidak mau harus lebih merunduk.

Dengan pertimbangan situasi yang memanas di Jakarta, Winatra memutuskan untuk pindah ke ibukota dan membantu gerakan pro-demokrasi di sana. Laut, yang telah diangkat menjadi Sekretaris Jenderal Winatra setelah kepindahan gerakan itu, lebih sering pulang ke rumah keluarganya. Tapi ia juga makin ‘jauh’ dari keamanan yang disediakan rumahnya. 

Bayang-bayang ancaman rezim pun termanifestasi ketika kelompok Winatra, yang hendak mendeklarasikan posisi politik mereka menjadi sebuah partai, dituduh sebagai dalang kerusuhan Sabtu Kelabu. Kinan pun langsung mengambil sikap dengan menyebarkan para anggota Winatra ke beberapa daerah di luar Jakarta. Laut, Alex, Daniel, dan Sunu dipindahkan ke Sumatra. Berbulan-bulan mereka meloncat-loncat dari Lampung, Padang, hingga Batam, berganti-ganti nama dan identitas. Laut terus mengirimkan cerita pendek untuk dimuat di media dengan nama samaran, sembari menyadari bahwa kini ia sedang menjalani kehidupan sebagai buronan.

Suatu hari, sang ayah menelepon Laut. Namun, Laut merasakan kejanggalan dari suara lelaki itu. Rupanya rumah keluarganya sedang digeledah. Ayah Laut dipaksa menelepon anak sulungnya itu untuk mengetahui keberadaannya.

Akhirnya, pada 1997, Laut dan kawan-kawannya bisa kembali ke Jakarta berkat bantuan wartawan media Tera, Utara Bayu. Namun, status mereka tetap dalam daftar pencarian orang. Mereka dibuatkan KTP palsu sebagai identitas baru dan ditempatkan di Rusun Klender, Jakarta Timur. Meski sudah kembali ke ibukota, orang-orang muda itu tetap tidak bisa bergerak bebas.

Situasi tersebut membuat Laut, Sunu, Alex, dan Daniel mulai frustrasi. Sunu, kawan karib Laut yang juga anak eks-tahanan politik pasca-1965, merasa hidup begitu tidak adil padanya. Mereka pun berusaha mempertahankan mimpi-mimpi kehidupan yang lebih merdeka dan bebas dari represi penguasa.

Namun bayangan kebahagiaan itu tak bertahan lama. Suatu hari, sekelompok orang mendobrak kediaman mereka dan memukuli Laut sebelum menutup kepalanya dengan kain dan menyeretnya keluar. Pada momen berikutnya, Laut sudah berada di dalam sel tahanan. Alex, Sunu, dan Daniel ada di sel-sel sebelahnya. Dari aktivis, kemudian buronan penguasa, kini mereka menjadi tahanan politik.

Masa-masa penahanan adalah muatan kisah tentang penyiksaan bertubi-tubi. Para pemuda itu dikurung dalam sel gelap yang lembab, diinterogasi tentang Winatra dan siapa yang membiayai mereka, sembari dipukuli. Pada hari-hari terburuk, Laut dan kawan-kawannya bahkan dipukuli di atas balok es dalam keadaan telanjang.

Sementara itu, mimpi buruk Anjani yang pernah diceritakannya kepada Laut menjadi nyata. Seseorang dari Lembaga Sahabat Masyarakat mendatangi rumah keluarga Laut, mengabarkan bahwa anak mereka dinyatakan hilang. Situasi tersebut begitu menohok orang-orang terdekat Laut hingga mereka menolak kenyataan tersebut. Orang tua Laut dan Anjani memaksa untuk percaya bahwa Laut bukan hilang, hanya sedang bersembunyi dan menunggu situasi membaik. Ayah Laut masih menyiapkan empat piring makan di rumahnya dengan harapan anaknya akan pulang. Hanya Asmara yang cukup realistis menyadari sang kakak dihilangkan dan berusaha keras untuk mencari jejak keberadaannya.

Menuju akhir film, Laut juga menjemput ajalnya. Di akhir hayatnya, ia baru menyadari bahwa Gusti, kawan yang dianggapnya akrab dalam Winatra, justru adalah pengkhianat yang selama ini membocorkan pergerakan mereka. Laut ditembak dan ditenggelamkan di laut tanpa salam perpisahan kepada orang-orang terkasih. 

Lalu, Reformasi 1998 terjadi berdarah-darah dan Soeharto berhenti dari jabatan Presiden RI. Matahari mulai terbit lagi, tapi keluarga Laut dan beberapa kawan aktivisnya tetap menanti dalam ketidakpastian. Keluarga dan kerabat korban penghilangan paksa pun menggelar pameran foto, diskusi, hingga aksi untuk merawat ingatan tentang mereka.

Perempuan yang Melawan dan Bertahan

‘Laut Bercerita’ memang menghadirkan sosok perempuan dalam narasinya tentang gerakan demokrasi di tahun 1990-an. Saya duga, ini upaya untuk menunjukkan bahwa perempuan ada dalam berbagai bentuk perjuangan dalam dan setelah itu, tidak seperti narasi sejarah Orde Baru kebanyakan yang cenderung maskulinistik.

Namun saya sendiri merasa representasinya masih mengganjal, terutama dalam film. Barangkali Asmara-lah justru karakter perempuan yang menjadi representasi ‘perlawanan’ itu. Ia tidak segalak Kinan, tidak terlibat dalam aktivisme seperti Anjani, dan tidak mengalami langsung represi aparat seperti ibunya. Tapi ia paling ‘realistis’, langsung memahami tindakan-tindakan yang perlu dilakukan untuk memperjuangkan keadilan bagi sang kakak sekaligus merawat keluarganya yang berduka abadi.

Mungkin memang maksudnya demikian. Asmara Jati, adik perempuan seorang aktivis yang berkuliah dan berprofesi di bidang kedokteran—sama sekali jauh dari aktivisme—menjadi yang paling hadir setelah Laut dihilangkan. Memang narasi dalam novel ‘Laut Bercerita’ dibuat seperti itu. Ketika Laut ‘habis’, narasinya dilanjutkan dari sudut pandang Asmara. Jadi, ‘Laut Bercerita’ adalah cerita dari kakak-beradik Laut dan Asmara.

Tapi bagi saya, ini malah membuat karakter-karakter perempuan lainnya seakan berhenti hanya sebagai ‘pendukung’. Padahal, dalam narasi sejarah pra-Reformasi sesungguhnya gerakan perempuan mulai menggeliat bangkit kembali pasca-pemberangusan tahun 1965. Mungkin juga karena, baik dalam buku maupun film, narasi itu disampaikan dari sudut pandang laki-laki—Biru Laut. Maka fokusnya hanya kepada perempuan-perempuan di sekitarnya, yang perannya ia maknai sendiri.

Anjani, misalnya. Ia memang hadir dalam aksi-aksi Winatra, tapi lebih banyak muncul sebagai kekasih Laut. Ketika Laut dinyatakan hilang, ia berkeras untuk percaya pada intuisi-intuisi mistis dan menolak realita yang disodorkan Asmara dan pihak-pihak lainnya. Meski dalam novel ada titik balik yang menampar Anjani bahwa kekasihnya takkan pernah pulang, sayangnya, film hanya menunjukkan karakternya berhenti pada angan-angan bahwa Laut akan kembali.

Begitu pula ibu Laut, yang tidak memiliki banyak dialog atau ruang untuk mengekspresikan apa-apa selain kecemasan, duka, dan derita. Sebagaimana Anjani, sang ibu dalam film tetap percaya Laut tidak hilang. Atau Kinan, yang dimaksudkan untuk tampil dominan sebagai perempuan yang memimpin pergerakan, tapi karakternya masih terasa beradaptasi dengan maskulinitas aktivisme. Kemudian kisahnya tidak tampak sama sekali setelah penculikan kawan-kawannya terjadi.

Tentu saja representasi tidak harus selalu gamblang. Atau, menghadirkan perempuan di dalam narasi perjuangan tidak harus berarti perempuan itu harus ‘melawan’ dengan cara-cara ‘keras’. Kerja perawatan juga bentuk bertahan. Strategi pengorganisiran juga bentuk berlawan. Tapi pada akhirnya, kisah perjuangan perempuan-perempuan itu seakan-akan hanya ‘melengkapi’ cerita dan tragedi sang tokoh utama laki-laki. 

Dan, lagi-lagi, ini hanya interpretasi pribadi. Sebab saya keluar dari bioskop tanpa dorongan baru untuk menjadi ‘perempuan yang melawan’ selain keinginan yang memang sudah ada dalam diri.

Cerita Masa Lalu dalam Film adalah Kisah Kita Hari Ini

Lagi-lagi, saya mencoba keluar dari pemikiran sebagai pembaca novel ‘Laut Bercerita’. Sebab sebagai pembaca, tidak ada kejutan atau perubahan plot. Talah, tampaknya film ‘Laut Bercerita’ berusaha agak terlalu keras untuk memastikan narasi novelnya tetap utuh dalam film. Alhasil, banyak adegan yang terasa berlalu begitu cepat tanpa penjelasan yang cukup, kendati film ini begitu padat kata-kata. 

Jika tidak membaca novelnya, beberapa penonton bisa jadi tidak memahami, misalnya, urgensi perlawanan di Kedungombo dan Blangguan. Bahkan dengan penjelasan Kinan tentang ganti rugi warga Kedungombo yang tidak sesuai janji pemerintah dan, sejujurnya, seakan-akan menyitir langsung dari Wikipedia. Atau kebingungan dengan keriuhan demonstrasi mengawal sidang vonis Bram. 

Atau soal aksi keluarga korban berdiri di depan Istana Negara, yang merujuk ke Aksi Kamisan, dan menurut saya kurang dijelaskan konteks aslinya. Bagi mereka yang tidak familier dengan aksi ini, film ‘Laut Bercerita’ yang tidak menunjukkan berlangsungnya aksi tersebut barangkali membuat penonton mengira bahwa aksi itu semata-mata diinisiasi oleh keluarga korban penghilangan paksa dan telah berlalu. Padahal, aksi itu masih berlangsung di berbagai kota di Indonesia setiap Kamis. Di Jakarta, inisiatornya, Maria Catarina Sumarsih—ibu dari Bernadinus Norma Irawan (Wawan), korban penembakan Tragedi Semanggi I September 1998—masih setia menagih janji kepada negara untuk mengusut tuntas kasus pembunuhan terhadap anaknya.

Mungkin ada juga yang baru mengetahui, setelah keluar dari bioskop, bahwa penyiksaan terhadap Alex serta aktivis lain dan latar belakang Bram adalah gambaran fiktif dari kisah langsung Nezar Patria dan Budiman Sudjatmiko; dua ‘aktivis’ pro-demokrasi yang kini bercokol di pemerintahan. Sedangkan dalam novel ‘Laut Bercerita’, Leila secara gamblang menyampaikan bahwa ia terinspirasi dari kisah kedua orang itu, juga Waluyo Jati dan beberapa aktivis yang sungguhan dihilangkan paksa oleh rezim Orde Baru sampai detik ini.

Ulasan ini tidak akan banyak membahas persoalan teknis dan prinsipal. Termasuk, misalnya, soal pro dan kontra prinsip politis Leila Chudori terhadap komunisme dalam karya-karya sastranya. Atau tentang keterlibatan ironis Dian Sastrowardoyo dan yayasannya dalam buku dan film ‘Laut Bercerita’. Toh, diskursus tentang hal-hal tersebut sudah dan masih berlangsung hangat di antara publik.

Tapi kita perlu mengakui bahwa film ini berusaha menyampaikan pesan penting tentang perjuangan melawan tirani. Mungkin agak memaksa untuk agak ‘kekinian’ terlepas dari latar belakangnya di tahun 1990-an, misalnya dengan seruan “membaca adalah melawan” dan poster “bebaskan kawan kami”. Atau celetukan “LSM antek-antek asing” yang dilontarkan menjelang pemulangan Alex dan Daniel dari tahanan.

Maka dalam hal relevansi, film dan novel ‘Laut Bercerita’ mungkin tetap relevan bagi orang-orang yang baru menyadari bahwa represi Orde Baru tidak hanya terjadi di tahun 1998, melainkan sejak bertahun-tahun sebelumnya—selama 32 tahun kekuasaan absolut Soeharto. Mungkin ia relevan bagi masyarakat sipil yang perlu alasan lebih kuat untuk terus membaca dan berkonsolidasi. 

Sedangkan mereka yang sudah mulai akrab dengan sejarah, bisa bertolak dari karya ini menuju karya-karya lain yang menunjukkan kompleksitas seni dan sastra berembel-embel ‘perlawanan’ dalam pendiriannya terhadap komunisme yang begitu dibenci oleh rezim Orde Baru. Ia harus menjadi titik balik pemahaman bahwa narasi perjuangan demokrasi di Indonesia juga tak lepas dari sentimen negatif terhadap ideologi tertentu. 

Setidak-tidaknya, ‘Laut Bercerita’ harus membuat kita dapat ‘meradikalisasi diri’ dengan belajar lebih jauh tentang sejarah kekerasan budaya di masa Orde Baru. Juga melepaskan ajaran (unlearning) dari karya tersebut. Ini barangkali juga akan membantu kita menyadari bahwa dulu dan kini, sangat mungkin ada Budiman Sudjatmiko dan Nezar Patria lainnya—yang pernah mengalami sendiri kekerasan penguasa, tapi kini merapatkan diri kepada kekuasaan yang sama.

Saya pikir, yang terpenting saat menonton film ‘Laut Bercerita’, jangan melihatnya sebagai film sejarah dari sudut pandang kita sebagai orang ketiga—walaupun film ini juga menempatkan penonton seperti demikian. Adegan-adegan dalam film ini memang fiktif, tapi sebagian besar diambil dari peristiwa sungguhan. Termasuk adegan penyiksaan para tahanan politik dan pencarian orang-orang yang dihilangkan paksa. 

Lebih dari semua itu, keluarlah dari studio bioskop dengan kesadaran bahwa peristiwa-peristiwa itu bukan hanya masa lalu. Ia masih terjadi; mereka yang hilang masih tak tampak jejaknya, keluarga mereka masih menanti hingga satu per satu tutup usia, dan aksi di depan istana dengan pakaian serbahitam yang kini kita kenal sebagai Aksi Kamisan itu masih berdiri kokoh setiap Kamis sore. Dan terduga penculik aktivis itu masih hidup, menduduki kursi Presiden bersama kroni-kroninya yang pernah ada dalam barisan perlawanan.

Biru Laut dan kawan-kawannya yang disiksa dan dihilangkan karena kritis juga bukan tokoh pahlawan fiktif. Sayangnya, Laut di masa lalu dalam semesta Leila Chudori adalah banyak orang muda di tahun-tahun terkini yang ditangkap sewenang-wenang, dipukuli dan disiksa atas tuduhan tak berdasar sebagai kedok pembungkaman kritik. Lalu kadang ditemukan tinggal tulang-belulang di gedung yang kemungkinan sengaja dibakar dalam kisruh demonstrasi.

Dan rezim otoriter-militeristik yang membungkam gerakan dalam film ‘Laut Bercerita’ adalah ‘bapak’ dari rezim hari ini. Ia datang dengan pola yang sama, teror yang sama—dan sejatinya harus dilawan dengan semangat dan kemarahan yang sama. Sebab protes adalah hak dan tirani harus tumbang hingga ke akar-akarnya.

(sumber foto: Instagram @lautbercerita)

Salsabila Putri Pertiwi

Wakil Pemimpin Redaksi Konde.co
Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

Creative Commons License

1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

Let's share!

latest news

latest news

popular

Yuk, Menulis di Konde.co

Kami memanggil kamu yang peduli dengan penguatan narasi yang berperspektif perempuan dan kelompok marjinal di media untuk menulis di Konde.co. Dengan mengirim tulisan ke Konde.co, kamu juga turut mendukung jurnalisme publik Konde.co bisa terus hidup.

Video