Saat Narasi ASI Menekan Ibu

Setiap ibu memiliki kondisi yang berbeda setelah melahirkan bayinya. Mereka tak selalu “mudah” menyusui termasuk memberikan ASI eksklusif. Pemerintah harus memberikan support system yang dibutuhkan, tak cukup hanya memperketat larangan iklan susu formula (sufor).

Pemerintah Indonesia beberapa waktu lalu mengeluarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 28 Tahun 2024 sebagai langkah untuk mendorong pemberian ASI eksklusif dan melindungi kesehatan bayi. 

Dalam peraturan ini, terdapat larangan terhadap iklan susu formula bayi, yang diharapkan dapat mengurangi pengaruh komersial dan memotivasi lebih banyak ibu untuk memberikan ASI, yang dianggap memiliki banyak manfaat untuk pertumbuhan dan kesehatan bayi. Meskipun tujuan kebijakan ini positif, pemerintah tidak mempertimbangkan banyak aspek seperti psikologis, ekonomi dan sosial  dari berbagai yang dihadapi oleh ibu-ibu dalam praktik menyusui yang perlu diperhatikan.

Jangan Menyederhanakan Persoalan

Artikel menarik yang ditulis oleh Sirin Kale. Di sana menggambarkan pengalaman pribadinya dalam menyusui dan bagaimana banyak ibu menghadapi tekanan emosional serta fisik yang signifikan selama proses tersebut. 

Banyak ibu yang tidak memiliki kemampuan atau kondisi fisik yang mendukung untuk menyusui dengan baik. Dalam beberapa kasus, mereka mengalami rasa sakit yang hebat atau masalah kesehatan lainnya, menjadikan praktik menyusui sebagai tantangan yang besar. Selain faktor psikologis, faktor sosial dan ekonomi juga berperan penting dalam keputusan pemberian makan, seperti yang disoroti oleh berbagai ahli yang dijelaskan Sirin Kale dalam artikelnya. 

Selaras dengan pendapat Sirin Kale, Oster juga menyoroti pengaruh sosial yang signifikan yang dapat membuat perempuan merasa bersalah jika mereka tidak mampu atau memilih untuk tidak menyusui. Tekanan ini berpotensi merugikan kesehatan mental ibu. 

Oleh karena itu, penting untuk melakukan narasi tanding atas pernyataan bahwa menyusui adalah satu-satunya cara bisa menjadi ibu baik. 

Penting untuk menciptakan lingkungan yang menghargai keputusan setiap ibu, termasuk mereka yang menyusui maupun yang menggunakan susu formula karena alasan medis, sosial, atau pribadi. Lebih lanjut, Oster menyerukan perlunya penelitian yang lebih kuat untuk memahami dampak menyusui secara akurat. Dia menyarankan agar lebih banyak uji coba acak dilakukan untuk memberikan bukti yang lebih jelas mengenai manfaat menyusui. Tanpa data yang cukup, sulit untuk memberikan panduan yang tepat bagi ibu mengenai pilihan terbaik untuk kesehatan anak mereka.

Baca Juga: Peran Ayah ASI Diabaikan, Padahal Anak Juga Urusan Ayah

Salah satunya pendapat dari Dr. Ruth Ann Harpur, seorang psikolog dan pendiri Infant Feeding Alliance, sebuah kelompok kampanye yang menyerukan “belas kasih, otonomi, dan keamanan” dalam praktik pemberian makanan bagi bayi. Dr Harpur berargumen bahwa bukti mengenai manfaat menyusui tidak begitu kuat. 

Ia menunjukkan bahwa anak-anak yang disusui biasanya berasal dari keluarga yang lebih kaya, yang cenderung memiliki hasil kesehatan yang lebih baik. Ia juga mengingatkan tentang risiko dehidrasi pada bayi baru lahir, yang dapat terjadi ketika orang tua berusaha keras untuk menyusui meskipun bayi tidak mendapatkan cukup susu untuk tubuhnya. 

Penekanan pada aspek sosial-ekonomi dalam narasi tentang manfaat menyusui juga dijelaskan oleh Emily Oster  dalam tulisannya yang diterbitkan New York Times berjudul The Data All Guilt-Ridden Parents Need. Oster menjelaskan Sebagian besar penelitian tentang menyusui menunjukkan adanya bias karena perempuan yang menyusui biasanya memiliki latar belakang yang berbeda dari mereka yang tidak. 

Di Amerika Serikat dan negara maju lainnya, perempuan yang lebih berpendidikan dan lebih kaya cenderung lebih sering menyusui. Ini disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk kurangnya dukungan menyeluruh bagi ibu.

Pendidikan dan sumber daya yang lebih baik seringkali berkaitan dengan hasil yang lebih baik untuk bayi dan anak-anak, terlepas dari apakah mereka disusui atau tidak. Oleh karena itu, sulit untuk menentukan apakah menyusui secara langsung memberikan manfaat pada perkembangan anak. 

Baca Juga: Ruang Laktasi Tak Layak, Buruh Pabrik Sering Kehilangan Alat Pumping ASI

Dengan kata lain, sulit untuk mengetahui apakah menyusui itu sendiri yang membuat anak lebih baik, atau apakah perbedaan tersebut disebabkan oleh faktor lain yang dimiliki oleh ibu yang menyusui.

Misalnya  Ibu yang punya pendapatan di atas UMR, memiliki akses yang lebih baik ke layanan kesehatan berkualitas, dukungan laktasi, dan pendidikan tentang manfaat menyusui. Mereka mungkin mampu membayar konsultan laktasi yang dapat membantu mereka mengatasi kesulitan menyusui, sedangkan ibu dengan latar belakang ekonomi yang lebih rendah bisa jadi tidak memiliki akses yang sama. 

Ibu dari kelas menengah dan atas biasanya juga memiliki dukungan yang lebih besar dari keluarga dan lingkungan sosial mereka, yang mendorong mereka untuk menyusui. 

Selain itu, ibu yang berada di lingkungan yang lebih stabil secara ekonomi mungkin mengalami lebih sedikit stres dan tekanan dibandingkan dengan ibu yang berjuang secara finansial. Stres dapat memengaruhi kemampuan ibu untuk menyusui, termasuk produksi susu. Misalnya, ibu yang bekerja di beberapa pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mungkin merasa tertekan dan tidak memiliki waktu untuk menyusui dengan baik.

Pentingnya Kritis dan Komprehensif Menafsirkan Data

Dalam artikelnya yang lain berjudul “Everybody Calm Down About Breastfeeding”. Oster mengajak pembaca untuk lebih kritis terhadap klaim-klaim manfaat menyusui dan mempertimbangkan faktor-faktor sosial-ekonomi yang mungkin berperan dalam hasil kesehatan anak. Oster mengkritik klaim-klaim yang menyatakan bahwa menyusui memberikan berbagai keuntungan jangka panjang bagi bayi, seperti mengurangi risiko obesitas dan meningkatkan IQ, dengan menegaskan bahwa banyak dari klaim tersebut sering kali tidak didukung oleh bukti yang kuat dan bertanggung jawab atas skor tes yang lebih tinggi tersebut.

Salah satu kritik yang disampaikan Oster adalah mengenai riset yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan Masyarakat California, yang menemukan bahwa pemberian ASI dapat menghasilkan ikatan yang lebih baik antara ibu dan bayi, mengurangi angka kematian bayi, dan meminimalkan risiko infeksi di masa bayi. Namun, Oster menunjukkan bahwa banyak studi yang menunjukkan hasil kesehatan lebih baik pada anak-anak yang disusui seringkali melibatkan ibu yang berasal dari latar belakang yang lebih beruntung secara sosial dan ekonomi. 

Kesulitan dalam membedakan antara korelasi dan kausalitas inilah yang membuat sulit untuk menentukan apakah hasil yang lebih baik pada anak disebabkan oleh menyusui itu sendiri atau oleh faktor-faktor lain yang terkait dengan kondisi ibu. 

Oster juga mencatat bahwa meskipun ada beberapa manfaat awal dari menyusui, seperti pengurangan infeksi gastrointestinal, bukti untuk banyak klaim jangka panjang tidak konsisten. 

Baca Juga: Catatan Tentang Ayah ASI

Dari penelitian PROBIT, meskipun ada penurunan dalam infeksi gastrointestinal, tidak ditemukan perbedaan signifikan dalam infeksi pernapasan atau angka kematian bayi. Ini menunjukkan bahwa manfaat menyusui mungkin lebih terbatas daripada yang sering dipromosikan. 

Ketika membahas kesehatan dan perilaku anak, Oster menunjukkan bahwa banyak klaim tentang manfaat kesehatan jangka panjang akibat menyusui tidak didukung oleh penelitian yang baik. Misalnya ketika peneliti membandingkan kesehatan antara anak-anak yang disusui dan yang tidak disusui, perbedaan hasil kesehatan yang terlihat bisa jadi tidak sepenuhnya disebabkan oleh praktik menyusui itu sendiri. Sebaliknya, perbedaan tersebut mungkin juga dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang ada dalam keluarga, seperti tingkat pendidikan orang tua, kondisi ekonomi, akses terhadap perawatan kesehatan, dan lingkungan tempat tinggal.

Argumen Oster tidak bermaksud untuk menihilkan kegunaan pemberian ASI, tetapi Oster ingin menjelaskan lebih kritis bahwa memang ada data yang akurat untuk mendukung bahwa menyusui meningkatkan kesehatan jangka pendek bayi, seperti lebih sedikit ruam alergi, gangguan usus, dan infeksi telinga. Beberapa klaim tentang manfaat jangka panjang menyusui, seperti peningkatan kecerdasan atau penurunan risiko penyakit kronis, menurut Oster, belum sepenuhnya didukung oleh data yang kuat dan bebas dari bias sosial ekonomi.

Manfaat Jangka Panjang, ASI Butuh Tambahan Nutrisi Makanan

Dalam artikel yang berbeda, Oster juga memberikan kritik pada rekomendasi The American Academy of Pediatrics(AAP) merekomendasikan menyusui secara eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan bayi. Dalam rekomendasinya AAP juga mengeluarkan pernyataan kebijakan yang diperbarui, yang memperpanjang periode menyusui dengan penambahan makanan padat hingga dua tahun atau lebih. Rekomendasi ini bertujuan untuk mendukung kesehatan dan perkembangan anak, serta memberikan manfaat jangka panjang bagi ibu.

Namun, Emily Oster menunjukkan bahwa dalam rekomendasi yang diperbarui ini, AAP hanya mencatat manfaat bagi ibu untuk menyusui selama dua tahun atau lebih. Sementara ada beberapa bukti bahwa ibu yang menyusui dapat mengalami manfaat jangka panjang, seperti penurunan risiko kanker payudara, bukti yang dikutip AAP tentang keuntungan melanjutkan menyusui setelah 12 bulan masih tergolong kabur.

Oster menjelaskan AAP mengatakan ada potensi manfaat bagi ibu dalam hal risiko diabetes yang lebih rendah, risiko penyakit jantung yang lebih rendah di kemudian hari. Namun, dia menambahkan bahwa setelah menyelidiki data tersebut, ia merasa bahwa kesimpulan AAP melebih-lebihkan apa yang bisa diambil dari informasi yang ada. Contohnya, bukti mengenai diabetes tipe 2 sering didasarkan pada total jumlah bulan yang dihabiskan oleh wanita untuk menyusui. 

Baca Juga: Peran Ayah ASI Diabaikan, Padahal Anak Juga Urusan Ayah

Sayangnya, sebagian besar perempuan tidak menyusui satu anak lebih dari setahun. Oleh karena itu, ketika melihat mereka yang telah menyusui lebih dari setahun, sebagian besar adalah perempuan yang menyusui beberapa anak secara berturut-turut.

Dalam klarifikasinya kepada Yahoo Life, Dr. Joan Younger Meek, penulis utama panduan menyusui AAP, menyatakan bahwa “bayi (masih) mendapat manfaat dari kontribusi nutrisi dan imunologi dari ASI hingga tahun kedua kehidupan.” 

Namun, dia juga menegaskan bahwa tidak banyak data yang tersedia tentang menyusui setelah 12 bulan. “Kami tidak memiliki data yang baik di luar tahun pertama kehidupan, karena kami belum mempelajari menyusui yang lebih lama. Kami bahkan tidak memiliki data di AS tentang berapa banyak keluarga yang menyusui di atas 12 bulan. Data menyusui di AS saat ini dikumpulkan oleh CDC (Centers for Disease Control and Prevention), tetapi data tersebut berhenti pada 12 bulan,” ungkap Meek.

Baca Juga: Dari Mulut Ibu, Saya Jadi Tahu Pedihnya Kehidupan Buruh Pabrik

Dia menambahkan bahwa mengubah rekomendasi untuk lebih sesuai dengan bukti yang ada dapat membantu mendorong kebijakan yang lebih baik, pengumpulan data yang lebih akurat, serta studi lebih lanjut mengenai hasil dari praktik menyusui yang lebih lama. Dengan demikian, diharapkan bahwa kebijakan dan rekomendasi tersebut dapat beradaptasi seiring dengan penemuan baru dalam penelitian dan praktik di lapangan, sehingga memberikan dukungan yang lebih baik untuk ibu dan bayi.

Oster menyimpulkan bahwa meskipun menyusui memiliki beberapa manfaat, klaim bahwa itu adalah keharusan untuk kesehatan anak dan perkembangan kognitif yang optimal tidak didukung oleh bukti yang kuat. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk menghargai keputusan individu, baik untuk menyusui maupun menggunakan susu formula. 

Dengan kritik dan pemahaman yang lebih seimbang, pembaca diajak untuk berpikir kritis tentang informasi yang mereka terima mengenai menyusui, serta mendorong diskusi yang lebih terbuka tentang pilihan yang tersedia bagi ibu.

 Refleksi Bagi Pemerintah

Tulisan ini saya tulis tentu bukan untuk tujuan mensubordinasikan pemberian ASI, beberapa data yang saya sebutkan di atas, sudah menjabarkan pentingnya pemberian ASI khususnya dalam rentang jangka pendek. 

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tetap menyarankan pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama, dan dilanjutkan dengan makanan pendamping hingga usia dua tahun atau lebih. Namun, implementasi dari rekomendasi ini tidak selalu mudah atau memungkinkan bagi semua ibu.

Tulisan ini lebih mengarah pada kritik, ada kebijakan pemerintah Indonesia yang seharusnya lebih berfokus pada peningkatan kualitas hidup warga negara Indonesia. Utamanya untuk memastikan pertumbuhan dan perkembangan bayi yang optimal. Peningkatan akses terhadap pendidikan, kesehatan, dan dukungan sosial bagi ibu sangat penting dalam menciptakan lingkungan yang mendukung keputusan yang baik untuk pemberian makan bayi.

Dengan kata lain, artikel ini tidak bertujuan untuk mengurangi pentingnya ASI, melainkan untuk mendorong kebijakan dan narasi publik yang lebih empatik, berbasis bukti, serta menghargai kenyataan hidup yang dihadapi oleh beragam ibu di Indonesia.

Dalam bidang pendidikan, pemerintah harus mengedukasi masyarakat tentang pentingnya kesehatan dan nutrisi bagi ibu dan bayi. Program-program pendidikan yang mengajarkan tentang kehamilan yang sehat, menyusui, dan pemberian makanan yang tepat untuk bayi akan meningkatkan pengetahuan orang tua dan membantu mereka membuat keputusan yang lebih informasional. 

Akses terhadap layanan kesehatan yang berkualitas juga sangat krusial. Pemerintah perlu memastikan bahwa semua ibu, terutama yang berada di daerah terpencil atau kurang beruntung secara ekonomi, memiliki akses yang memadai ke fasilitas kesehatan, konseling menyusui atau laktasi, dan dukungan perawatan prenatal. Dengan demikian, mereka dapat menerima bantuan yang diperlukan untuk mengatasi masalah yang mungkin timbul selama proses menyusui dan perawatan bayi.

Baca Juga: ‘Aku Bunuh Kamu, Aku Gantung Lehermu’ Kesaksian Buruh Perempuan di Balik Tembok Pabrik

Dukungan sosial yang memadai, seperti cuti melahirkan yang lebih lama dan akses ke layanan penitipan anak yang terjangkau, akan sangat membantu ibu dalam menjalankan peran mereka. Ketika ibu merasa didukung secara sosial dan emosional, mereka lebih cenderung untuk membuat keputusan yang sehat untuk diri mereka sendiri dan anak-anak mereka. 

Pemerintah juga perlu menciptakan kebijakan yang mendukung lingkungan kerja yang ramah bagi ibu yang menyusui. Misalnya, menyediakan ruang menyusui di tempat kerja dan waktu fleksibel bagi ibu yang menyusui dapat mendorong lebih banyak ibu untuk memilih menyusui tanpa merasa tertekan.

Alih-alih hanya melarang iklan susu formula, pemerintah harus melakukan pendekatan yang lebih komprehensif dengan menyertakan informasi yang akurat dan berbasis bukti mengenai manfaat menyusui dan pilihan pemberian susu formula. 

Informasi ini harus disebarluaskan melalui berbagai saluran untuk memastikan bahwa semua ibu memiliki pemahaman yang sama tentang pilihan mereka. Penting juga untuk melibatkan komunitas dalam mendukung ibu-ibu baru. Membangun jaringan dukungan di tingkat komunitas, seperti kelompok ibu, dapat memberikan platform bagi ibu untuk berbagi pengalaman, bertanya, dan mendapatkan dukungan yang mereka butuhkan.

Sebagai penutup, penting untuk diingat bahwa baik menyusui maupun pemberian susu formula memiliki peran masing-masing dalam memastikan kesehatan dan perkembangan bayi. Setiap ibu memiliki kondisi dan pilihan yang unik, dan keputusan mengenai cara terbaik memberi makan bayi harus dihargai tanpa adanya stigma atau tekanan sosial. 

Baca Juga: Hari Buruh: Jika Daycare Jumlahnya Minim, di Mana Buruh Bisa Titipkan Anaknya Ketika Kerja?

Pemerintah dan masyarakat perlu menciptakan lingkungan yang mendukung, di mana informasi yang akurat dan berbasis bukti tersedia untuk membantu ibu membuat pilihan yang tepat bagi diri mereka dan anak mereka. 

Kita perlu terus mendorong kesehatan yang lebih baik bagi ibu dan bayi, serta menghormati keputusan individual yang beragam dalam proses ini. Hanya dengan pendekatan yang inklusif dan memahami, kita dapat mencapai tujuan bersama untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

(Editor: Nurul Nur Azizah) 

Guevara Nusantara

Suara dari Pinggiran Narasi Arus Utama.
Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

Creative Commons License

1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

Let's share!