‘Perempuan Timur’ dan ‘Kabar Perempuan’: Perjuangkan Suara Perempuan di Indonesia Timur

Konde.co dan Kabar Makassar, didukung BBC Media Action, resmi meluncurkan rubrik khusus yang memperjuangkan suara perlawanan perempuan di wilayah Timur Indonesia.

Aida Nursanti Ulim terjebak di tengah kericuhan demonstrasi penolakan terhadap militer di Jayapura, Papua. 

Perempuan yang baru setahun jadi jurnalis itu panik dan spontan berlari ke tempat yang ia rasa aman. Ternyata, dia berdiri di tempat cuci pakaian (laundry) milik warga setempat. Di ruangan itu, percikan gas air mata sudah mengeluarkan aroma menusuk dan sensasi pedih di matanya. 

Tak ada pilihan lain. Aida, yang kala itu baru jadi jurnalis di Jubi.id, harus segera menyelamatkan diri. Tapi bukannya aman yang didapat, Aida justru sudah dikepung oleh massa aksi yang berhadapan dengan polisi. 

“Sempat takut. Karena kalau lama-lama di gedung itu, kalau ada konflik, itu bakar-bakar gedung. Saya takut sekali,” cerita Aida saat peluncuran ‘Perempuan Timur’ dan ‘Kabar Perempuan’ secara hybrid di Jakarta Pusat, pada Kamis (12/2/2026). 

Saat ia berlari, Aida sempat dihadang oleh beberapa polisi dan Korps Brigade Mobile (Brimob). Meski akhirnya berhasil mencari tempat aman, pengalaman itu membuatnya sempat menangis ketakutan dan trauma. 

“Baru pertama jadi jurnalis, ketemu hal seperti itu,” katanya lagi. 

Aida Nursanti Ulim (kanan atas) bercerita tentang pengalamannya menjadi jurnalis perempuan di Papua. Dok: Lidwina/Konde.co

Bagi Aida, hari-hari setelah peristiwa itu nyatanya tak lebih mudah. Dia harus berhadapan dengan banyak persoalan di Papua. Mulai dari pelanggaran HAM, penggusuran masyarakat adat, dan persoalan tanah dan lingkungan yang mengorbankan perempuan dan kelompok rentan. 

Baca Juga: Hidup Tanpa Bahasa Ibu: Ragam Perlawanan Mama Namblong di Lembah Grime Nawa

Sama halnya dengan jurnalis Terasmaluku.com, Insany Syahbarwaty, yang berjuang saat meliput persoalan di pedalaman Indonesia. Di tengah keterbatasan akses, risiko perjalanan, dan minimnya perlindungan, jurnalis perempuan Timur sepertinya menghadapi situasi berlapis yang merentankan. 

“Saya juga pernah meliput ke pulau-pulau terluar, naik perahu, nyawa juga menjadi satu masalah besar ketika meliput di pulau-pulau. Ada juga infrastruktur yang terbatas, (padahal) akses internet adalah hal yang paling urgent,” kata Insany yang juga kini bertugas sebagai Pemimpin Redaksi dari Terasmaluku.com, di kesempatan yang sama. 

Bertahan di situasi itu, Insany menjalin solidaritas dan berjejaring dengan sesama jurnalis di daerahnya. Meskipun gerakan kolektif perempuan dan jurnalisme sampai kini belum ia rasakan, tidak memiliki keterbatasan. Terlebih bagi jurnalis perempuan di wilayah Timur seperti dirinya. 

Namun begitu, dirinya meyakini bahwa penting untuk membangun kampanye bersama yang menyuarakan isu jurnalisme berperspektif gender. “Utamanya yang mengangkat isu daerah,” imbuh dia. 

Insany Syahbarwaty (paling kanan) bercerita tentang pengalamannya menjadi jurnalis perempuan saat bertugas di wilayah 3T. Dok: Lidwina/Konde.co

Cerita Aida dan Insany adalah secuil dari pengalaman perempuan Timur yang beragam. Tak hanya di dunia jurnalisme, tetapi juga dari berbagai latar belakang. 

Maka dari itu, Konde.co, Kabar Makassar, dan didukung BBC Media Action meluncurkan platform “Kabar Perempuan” dan microsite  “Perempuan Timur”di Ke:Kini, Jakarta Pusat, pada Kamis, 12 Februari 2026.

Dengan inisiatif ini, harapannya kehadiran platform “Kabar Perempuan” dan microsite “Perempuan Timur” memberikan ruang bagi para perempuan di Indonesia Timur untuk menyuarakan isunya yang jarang terdengar.

Baca Juga: Rahim Papua: Di Tengah Mitos, Politik dan Mandat Suami

Dalam sambutannya, Pemimpin Redaksi Konde.co, Luviana Ariyanti menyampaikan bahwa media ini untuk mendukung semangat perempuan jurnalis dari Indonesia Timur. 

“Ini dilatarbelakangi oleh sulitnya akses media untuk menceritakan pengalaman bagi warga di Indonesia Timur, khususnya bagi jurnalis perempuan di timur,” kata Luviana. 

Lahir dari latar belakang tersebut, ia berharap rubrik ‘Perempuan Timur’ di Konde.co nantinya bisa menjadi jembatan sekaligus ruang bersuara untuk menceritakan kondisi di timur kepada publik, terutama berperspektif gender. 

Wakil Pemimpin Redaksi, Salsabila Putri Pertiwi, juga menyampaikan bahwa dibuatnya rubrik ini berangkat dari urgensi para perempuan dan kelompok rentan di wilayah timur. Kisah mereka sulit terangkat. Hal itu terjadi karena ketimpangan infrastruktur yang merupakan permasalahan struktural, terkhususnya di wilayah timur.

Salsabila mengutarakan keterbatasan akses teknologi, menyebabkan misinformasi dan disinformasi. Terutama di wilayah di timur Indonesia. Berangkat dari keterbatasan tersebut, hal ini juga turut menyebabkan kekerasan berlapis di Indonesia Timur. Baik itu kekerasan secara verbal, non-verbal di ruang digital maupun secara langsung.

Para peserta diskusi yang hadir secara luring dalam peluncuran ‘Perempuan Timur’ dan ‘Kabar Perempuan’ di Kekini Jakarta Pusat. Dok: Lidwina/Konde.co

Melalui microsite “Perempuan Timur”, tim Konde.co menyimpan, mengkurasi, dan memublikasikan isu kritis yang jarang dibahas oleh media massa lainnya. Rubrik ini, harapannya, juga merupakan sarana untuk meluaskan empati bagi pembaca terutama di Indonesia bagian barat. 

“Pengingat bahwa Indonesia bukan hanya tentang Barat tapi juga Timur,” lanjutnya. 

Baca Juga: All Eyes On Papua, Cerita Perempuan Papua Menolak Tunduk

Ardiyanti, redaktur dari Kabar Perempuan, menjelaskan bahwa pengalaman perempuan adalah pengetahuan. Berangkat dari hal tersebut, Kabar Perempuan merupakan ruang bersuara yang menempatkan perempuan sebagai subjek. 

Ia juga menyampaikan bahwa Kabar Perempuan tidak mementingkan soal kecepatan publikasi berita atau mengikuti tren, melainkan prioritas isu untuk keberdampakan.

“Isu yang kami dorong yaitu kekerasan berbasis gender, ruang aman di sekolah dan tempat kerja, kesehatan reproduksi, akses layanan publik dan ketidakadilannya, kriminalisasi, dan konflik,” tutur Ardiyanti. 

Senada dengan itu, Hajriana dari Kabar Makassar berharap nantinya, ‘Kabar Perempuan’ bisa menjadi wadah bagi gerakan perempuan khususnya di Indonesia bagian timur. 

“Kabar Perempuan merupakan wadah bagi gerakan perempuan yang berperspektif korban. Wadah ini diharapkan dapat memengaruhi kebijakan publik. Serta bisa tumbuh menjadi ruang yang dipercaya oleh publik dan penguat bagi suara perempuan,” tambah Hajriana. 

Adanya Kabar Perempuan ini merupakan sebuah upaya bersama untuk meningkatkan jurnalisme yang perspektif gender. 

“Bentuk nyata bagi jurnalis di Indonesia Timur untuk mendapat ruang yang setara dan layak,” kata dia. 

Baca Juga: Kematian Irene Sokoy, Aktivis dan Akademisi Desak Perbaikan Akses Layanan Kesehatan Bagi Perempuan Papua

Dari diskusi yang dipandu oleh Anita Dhewy, Alia Yofira dari Purple Code mengemukakan bahwa perempuan sering kali mengalami tantangan berlapis. Salah satunya adalah kekerasan berbasis gender, baik secara online maupun offline.

Dia mencontohkan cerita tentang Ibu Anna (ibu berjilbab pink, simbol keberanian saat demo Agustus 2025) yang viral. 

“Ibu Ana mengkritik polisi (saat aksi). Setelah viral, banyak narasi muncul. Terkait disinformasi berbasis gender. Misalnya, (dibilang) ‘gak sopan berkata kasar dengan identitasnya sebagai Muslim dan seorang ibu.’ Ini dampak dari disinformasi dan misinformasi. (Publik) Berusaha meyakinkan orang bahwa sesuatu (argumen) itu terjadi. Sehingga orang terprovokasi. (Ini) Ini upaya untuk mendelegitimasi gerakan,” ungkap Alia. 

Diskusi ini berjalan secara interaktif, sebab ada tiga peserta diskusi yang bertanya. Salah satunya yaitu Ifana yang juga dari Indonesia bagian timur. Ia bertanya terkait pihak mana saja yang disebut sebagai perempuan. Dikarenakan banyak perempuan yang belum tentu mengangkat isu gender di wilayahnya, terutama di timur. 

Insany menjawab pertanyaan tersebut, bahwa ruang redaksi harus didominasi perempuan yang berperspektif gender. Maka, permasalahan gender yang sulit dibahas perlahan mendapatkan ruangnya.

Baca Juga: Di Papua, Rawa-rawa Berubah Jadi Lumpur Kematian Perempuan Akibat ‘Pembangunan’

Di akhir sesi, Presidium Kaukus Timur Indonesia, Uslimin Usle, menyampaikan harapannya terkait peluncuran platform yang mengutamakan isu gender, khususnya untuk para jurnalis perempuan di Tanah Timur. 

“Diharapkan ini sebagai media perjuangan. Kami bersama berjuang untuk meningkatkan harkat martabat jurnalis perempuan timur,” kata dia. 

Mery Kolimon, seorang dosen dari Kupang, juga menyampaikan harapannya untuk ruang jurnalisme bagi masyarakat di timur Indonesia.

“Kita membutuhkan jurnalis perempuan yang perspektif adil gender. Terkait upaya untuk mengartikulasikan perempuan timur (dengan) basis data dan keberanian untuk meliput isu sensitif.”

Ia juga menyampaikan bahwa jurnalisme perempuan perlu merawat akar gerakan perempuan di Indonesia. Di akhir pernyataannya, Mery mengucapkan selamat atas peluncuran platform “Kabar Perempuan” dan microsite “Indonesia Timur”, serta menyambut kerja sama di masa yang akan datang. 

(Editor: Nurul Nur Azizah)

Lidwina Nathania Sasmaya

Mahasiswa Universitas Negeri Semarang (Unnes).
Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

Creative Commons License

1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

Let's share!