Salah satu persoalan dalam membicarakan cinta adalah kecenderungan untuk menganggapnya sebagai perasaan semata. Padahal, sebagaimana diingatkan bell hooks dalam All About Love, cinta bukan sekadar emosi yang hadir dengan sendirinya, melainkan praktik yang diwujudkan melalui kepedulian, tanggung jawab, penghormatan, kepercayaan, dan komitmen terhadap pertumbuhan bersama.
Dengan cara pandang ini, kualitas sebuah hubungan tidak diukur dari seberapa megah simbol-simbol romantis yang ditampilkan, tetapi dari apakah relasi tersebut memungkinkan kedua belah pihak berkembang sebagai manusia yang utuh.
bell hooks juga mengkritik bagaimana masyarakat patriarkal membentuk cara kita memahami cinta. Menurutnya, sejak lama laki-laki dan perempuan diajarkan menjalankan peran tertentu dalam hubungan, bukannya membangun relasi yang saling memanusiakan. Laki-laki didorong untuk membuktikan kasih sayang melalui kuasa, perlindungan, dan penyediaan materi, sedangkan perempuan ditempatkan sebagai pihak yang menerima dan menjadi objek penyediaan laki-laki. Akibatnya, banyak relasi lebih sibuk mempertahankan peran sosial daripada menghadirkan cinta yang benar-benar membebaskan.
Dalam konteks itulah, berbagai ungkapan romantis yang beredar di media sosial mesti direngkuh lebih kritis. Tidak semua narasi yang terdengar memuliakan perempuan benar-benar menghadirkan kesetaraan
Manis di Unggahan, Berat di Kenyataan
Di media sosial—pada konteks kultur heteronormatif—kita sering menjumpai ungkapan bahwa “laki-laki sejati harus meratukan pasangannya”.
Sekilas, kalimat ini terdengar romantis dan bahkan tampak berpihak pada perempuan. Tidak mengherankan jika banyak orang menyetujuinya. Tampaknya, narasi tersebut lahir dari pengalaman nyata banyaknya perempuan yang pernah diremehkan, disakiti, diabaikan, atau dipaksa bertahan dalam hubungan yang tidak setara.
Karena itu, keinginan perempuan untuk diperlakukan dengan baik tentu bukan sesuatu yang berlebihan. Perempuan berhak merasa aman dalam hubungan, didengar pendapatnya, dihargai keberadaannya, dan terbebas dari perlakuan yang merendahkannya.
Baca Juga: Jadi Perempuan yang Diperjuangkan Atau Mencari Cinta? Saatnya Keluar dari Jebakan Stereotipe
Persoalannya muncul ketika perlakuan baik itu justru berubah menjadi tuntutan yang hanya dibebankan kepada satu pihak. Cinta kemudian diukur dari seberapa besar laki-laki mampu memberi, membayar, mengalah, dan memenuhi harapan pasangan. Semakin banyak yang diberikan, semakin besar pula cinta yang dianggap dimiliki.
Dalam pola seperti ini, perempuan ditempatkan sebagai sosok yang harus dilayani, sementara laki-laki dituntut terus-menerus membuktikan kelayakannya melalui uang, tenaga, waktu, dan perhatian. Hubungan yang seharusnya dibangun atas dasar kerja sama perlahan berubah menjadi hubungan yang bertumpu pada pembagian peran yang tidak seimbang. Padahal, hubungan yang sehat tidak membutuhkan singgasana. Yang dibutuhkan adalah komunikasi, kesepakatan, dan tanggung jawab yang dijalankan bersama.
Patriarki dan Standar Gender yang Menjebak
Selama ini, patriarki sering dipahami sebagai sistem yang menguntungkan laki-laki dan merugikan perempuan. Dalam banyak aspek kehidupan, anggapan itu memang memiliki dasar yang kuat. Namun, patriarki tidak hanya bekerja dengan memberikan privilese kepada laki-laki. Ia juga menciptakan standar yang membatasi perempuan maupun laki-laki dalam peran-peran tertentu.
Dalam narasi “meratukan”, perempuan ideal digambarkan sebagai sosok yang cantik, lembut, setia, dan layak dipuja. Ia ditempatkan sebagai pusat perhatian, tetapi belum tentu memiliki kebebasan yang sama. Perempuan sering dipuji, tetapi belum tentu didengar pendapatnya. Ia boleh diberi hadiah, tetapi belum tentu dilibatkan dalam pengambilan keputusan yang menyangkut dirinya sendiri.
Dengan kata lain, pemujaan tidak selalu identik dengan penghormatan. Seseorang bisa diperlakukan istimewa, tetapi tetap tidak memiliki ruang yang setara dalam hubungan.
Baca Juga: Yang Bisa Kamu Pelajari dari Film ‘Seni Memahami Kekasih’ : Mencintai Dengan Apa Adanya
Di sisi lain, laki-laki juga dibebani standar yang tidak kalah berat. Mereka diharapkan menjadi sosok yang kuat, mapan, mampu memenuhi kebutuhan pasangan, dan selalu siap menghadapi berbagai persoalan. Kerentanan dianggap sebagai kelemahan. Kesulitan ekonomi dianggap sebagai kegagalan pribadi. Akibatnya, banyak laki-laki merasa harus terus terlihat baik-baik saja meskipun sebenarnya sedang menghadapi tekanan.
Di sinilah patriarki bekerja dengan cara yang sering luput disadari. Perempuan didorong menjadi “ratu ideal”, sementara laki-laki dipaksa menjadi “penyedia ideal”. Keduanya sama-sama kehilangan ruang untuk menjadi manusia yang utuh, dengan segala kelebihan dan keterbatasannya.
Laki-Laki Bukan Mesin Penyedia
Jebakan terbesar dari narasi ini yakni tuntutan agar laki-laki menjadi mesin penyedia yang tidak boleh rusak. Laki-laki harus punya uang, waktu, tenaga, dan kesabaran tanpa batas. Padahal, laki-laki juga bisa cemas, sakit, kehilangan pekerjaan, atau sedang berjuang dengan kesehatan mental.
Banyak laki-laki tumbuh dengan pesan bahwa menangis adalah aib dan meminta bantuan adalah tanda lemah. Narasi “meratukan” dapat mempertebal luka itu. Laki-laki merasa harus selalu tampil sanggup di depan pasangan. Bukan karena ingin berpura-pura, tetapi karena takut kehilangan nilai.
Hubungan yang seharusnya menjadi tempat pulang bisa berubah menjadi panggung untuk pembuktian. Seseorang terus memberi, tetapi tidak punya ruang untuk berkata lelah.
Lama-lama, yang tumbuh bukan kasih sayang, melainkan hitungan diam-diam. Hadiah bisa berubah menjadi alat tagih. Perhatian bisa berubah menjadi kontrol. Kalimat “aku sudah melakukan semuanya untukmu” dapat menjadi pintu masuk untuk menuntut kepatuhan.
Dipuja Belum Tentu Bebas
Perempuan yang “diratukan” belum tentu benar-benar bebas. Pemujaan yang bersyarat dapat berubah menjadi pengawasan. Perempuan dihargai selama sesuai dengan citra tertentu: cantik, lembut, setia, tidak banyak membantah, dan layak dipamerkan.
Lalu, bagaimana dengan perempuan miskin, perempuan penyandang disabilitas, ibu tunggal, perempuan queer, transpuan, atau perempuan yang tidak sesuai standar kecantikan arus utama? Apakah semua dianggap layak dicintai dengan baik, atau hanya perempuan tertentu yang cocok dengan fantasi romantis populer?
Karena itu, kritik terhadap “meratukan” bukan penolakan terhadap perempuan yang ingin diperlakukan baik. Kritik ini menolak cara pandang yang membuat perempuan hanya dihargai saat cocok dengan gambaran tertentu, dan laki-laki hanya dihargai saat mampu menjadi penyedia tanpa cela.
Takhta Baru, Pola Lama
Sebagian orang melihat narasi “meratukan” sebagai bentuk perlawanan terhadap sejarah panjang patriarki yang selama ini menempatkan perempuan sebagai pihak yang harus melayani. Namun, membalik posisi tidak serta-merta menghapus ketimpangan.
Jika hubungan masih dibangun dengan pola atas dan bawah, yang berubah hanya siapa yang tampak berada di posisi lebih tinggi. Struktur relasinya tetap sama.
Karena itu, penting untuk membedakan antara penghormatan dan pemujaan. Menghormati pasangan berarti mengakui hak, suara, dan kebebasannya sebagai individu. Sementara itu, memuja pasangan sering kali hanya menempatkannya pada posisi simbolis yang tampak istimewa, tetapi belum tentu setara.
Baca Juga: Kita Kadang Bingung Mengartikan Cinta, bell hooks Membuka Titik Terang Cinta
Tidak sedikit perempuan yang diperlakukan bak ratu, tetapi tetap dikontrol dalam berbagai aspek kehidupan. Mereka diberi hadiah, tetapi pilihan hidupnya diatur. Perempuan dipuji, tetapi pendapatnya diabaikan. Sebagai pasangan, perempuan dimanjakan, tetapi kebebasannya dibatasi.
Dalam kondisi seperti ini, pujian justru dapat menjadi cara yang lebih halus untuk mempertahankan kontrol.
Karena itulah, kritik terhadap narasi “meratukan” bukan berarti menolak keinginan perempuan untuk diperlakukan dengan baik. Kritik ini ditujukan pada cara pandang yang membuat perempuan hanya dihargai ketika memenuhi standar tertentu, sementara laki-laki hanya dianggap bernilai ketika mampu menjadi penyedia tanpa cela.
Cinta yang Mestinya Duduk Sejajar
Hubungan yang setara bukan berarti segala sesuatu harus dibagi secara matematis. Dalam kehidupan nyata, ada masa ketika satu pihak memberi lebih banyak karena pasangannya sedang menghadapi kesulitan. Ada pula masa ketika peran itu berganti.
Yang terpenting adalah adanya komunikasi yang jujur dan kesediaan untuk saling memahami. Hubungan yang sehat tidak dibangun di atas logika utang budi, melainkan atas dasar kepedulian dan tanggung jawab bersama.
Dalam hubungan seperti itu, perhatian bukan kewajiban satu arah. Mendengarkan, menemani, membantu kebutuhan sehari-hari, mengelola emosi, maupun memberikan dukungan finansial dapat dilakukan sesuai kemampuan masing-masing.
Baca Juga: Romantis atau Seksis, Memaknai Peran Gender dalam Percintaan Masa Kini
Karena itu, mungkin istilah yang lebih tepat bukanlah “meratukan”, melainkan “saling merawat”. Saling merawat berarti melihat pasangan sebagai manusia yang setara, bukan sebagai sosok yang harus dipuja atau dibebani peran tertentu.
Perempuan tidak perlu menjadi ratu agar layak dicintai. Laki-laki juga tidak perlu menjadi penyedia tanpa cela agar layak dihargai. Keduanya berhak hadir dalam hubungan sebagai manusia yang memiliki kebutuhan, keterbatasan, dan harapan.
Pada akhirnya, cinta yang membebaskan bukanlah cinta yang membangun singgasana bagi salah satu pihak. Cinta yang membebaskan adalah cinta yang memungkinkan dua orang duduk sejajar, saling mendengar, saling mendukung, dan bertumbuh bersama tanpa dibebani tuntutan peran gender yang kaku dan melelahkan.
Editor: Luthfi Maulana Adhari






