Musim kampanye pemilu lalu pada tahun 1980-an tiba. Semarak orang berkumpul di titik-titik kota Jakarta.
Produser film, Meiske Taurisia yang kala itu masih mengenyam pendidikan Sekolah Dasar (SD), diantar ibunya ke sekolah di kawasan Pasar Baru, Jakarta Pusat.
Saat melewati kerumunan orang-orang yang berkampanye politik, ibunya berseru pada Meiske dan keempat saudaranya segera menunduk, posisi mereka di dalam mobil. Perkataan yang hingga saat ini masih terus menempel di kepalanya.
“Semua nunduk, supaya nggak kelihatan,” ujar Ibu Meiske saat itu.
“Nggak kelihatan apa ya?” Tanya Meiske.
“Nggak kelihatan karena kita orang Cina,” Sahut ibunya.
Di masa Orde Baru, etnis Tionghoa seperti Meiske dan saudaranya banyak mendapat diskriminasi dan intimidasi, seperti yang terjadi di hari itu.
Mereka sering jadi sasaran kontrol ketat di bidang politik dan sosial. Di samping juga, ada diskriminasi sistematis yang melarang segala bentuk ekspresi budaya Tionghoa.
“Kita (di masa itu) dilatih untuk menjadi kecil, menjadi rendah,” ucap Meiske dalam bahasa Inggris kepada Konde.co, Selasa (26/5).

Pengalaman sebagai Tionghoa itu lah, salah satu yang menjadi alasan Meiske menerima tawaran Edwin sebagai produser di film Babi Buta yang Ingin Terbang (2008). Film itu jadi pengalaman pertamanya sebagai produser.
“Saya tidak pernah terpikir sama sekali (jadi produser). Waktu itu saya mulai kerja di film dan jadi wardrobe. Itu pertama kalinya saya kerja di film dan ketemu sama Edwin itu,” kata perempuan yang menamatkan pendidikan magisternya di jurusan Fashion, Design, and Strategy di kampus Belanda itu.
Selain turut menjadi produser bersama Sidi Saleh, Edwin juga menjadi sutradara dan penulis skenario di film Babi Buta yang Ingin Terbang (2008) yang berlatar belakang isu diskriminasi perempuan etnis Tionghoa di Indonesia itu.
Film yang dibintangi oleh Ladya Cheryl, Joko Anwar, Clarine Baharrizki, dan Carlo Genta itu, berhasil memenangkan penghargaan bergengsi seperti NETPAC Award di Festival Film International Rotterdam (IFFR) dan FIPRESCI Prize di Festival Film Internasional Bratislava.
Di Babibuta Film, Meiske setelahnya juga menjadi produser untuk beberapa film dokumenter seperti Postcards from the Zoo (2012) yang menjadi nominasi di Golden Bear di Berlinale dan Cuts (2016). Film-film itu bercerita tentang cerita manusia dari sisi perempuan di kebun binatang dan menyoroti soal kebebasan berekspresi pembuat film dengan aturan Lembaga Sensor Film di Indonesia.
Mulai dari mereka di era Babibuta Film (2008-2016) hingga Palari Film (2016-sekarang), Meiske dan Edwin sudah bekerja sama hampir dua dekade.
“Kayaknya kita cukup cocok karena ternyata sejak saat itu sampai (hampir) 20 tahun kemudian masih kerja bareng dia sampai sekarang,” katanya.
Di Palari Film yang didirikannya bersama Muhammad Zaidy, Meiske juga menjadi produser berbagai film seperti Posesif (2017), Aruna & Lidahnya (2018), Ali dan Ratu-Ratu Queens (2021), Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas (2021), Dear David (2023), Monster Pabrik Rambut (2026), hingga yang direncanakan tayang akhir tahun ini ‘Desember Jani’ (2026).
Jika ditarik benang merahnya, film-film yang diproduserinya menempatkan tokoh perempuan sebagai peran utama. Ceritanya pun mengangkat isu sosial dan cerita manusia terlebih perempuan yang secara interseksi mempunyai kompleksitas masalahnya.
“Kalau kita lihat 10 atau 20 tahun mendatang, saat kita look back, dan kita bisa lihat potret zaman itu seperti apa,” katanya.
Meiske tipikal sineas yang suka ‘kejutan’ dalam filmnya. Bukan saja terbatas secara audio-visual yang ditampilkan, namun pemikiran.
Dalam membuat film, Meiske tidak mau menyesal di kemudian hari. Dia benar-benar memikirkan apa yang dia kerjakan di perfilman. Meski dia sadari, hal itu bukanlah pekerjaan mudah apalagi dengan kapasitas produksi yang terbatas.
“Memang kita pikirin banget, saat benar-benar ‘memasak’ film itu. Dari mulai skenario, terus kerja sama direkturnya, terus shooting, mikirin treatment-nya mau seperti apa. Jadi bukan fast food, unfortunately,” kata dia.
Film-film yang digarap Mieske itu tercipta secara natural. Dari proses dia membaca pengalaman dan cerita di sekitarnya.
Di film ‘Desember Jani’ yang paling baru digarapnya dan akan rilis Desember ini, Meiske secara natural juga terlibat bekerja dengan para perempuan sesama etnis Tionghoa. Namun bedanya dengan film pertamanya ‘Babi Buta yang Ingin Terbang’ yang menyoroti isu diskriminasi etnis Tionghoa yang dilakukan negara, kali ini Meiske dengan all women project-nya menceritakan pengalaman perempuan di ranah paling privat yaitu rumah dan keluarga.
Bagaimana mereka sebagai etnis Tionghoa juga sebagaimana manusia umumnya yang menjalani kehidupan berkeluarga.
“Kalau kita ngomongin film keluarga Cina (Tionghoa) gitu kayak kesannya kita selalu mau ngomongin soal diskriminasi, padahal kita juga hidup kayak ‘orang biasa’. Kita juga punya role lainnya, bukan cuma role etnis atau bagasi etnis saja,” kata Meiske.
Meskipun jika ditilik, isu yang disampaikan sebetulnya juga persoalan struktural perempuan seperti kerja perawatan emosional yang dilakukan perempuan dalam keluarga. Mereka seringkali mesti yang lebih berat menanggung beban yang tak terlihat itu.
Meiske bersama tim ingin membawa penonton masuk ke kehidupan rumah sebuah keluarga dengan dinamikanya. Menariknya, film ini menampilkan sudut pandang perempuan dari tiga generasi dengan pengalamannya masing-masing. Tanpa banyak penceritaan verbal, gestur dari tokoh-tokoh film itu menunjukkan sendiri pesannya.
“Tetap ada integrasi sensori di sana, bukan for the sake of verbal bahwa saya perempuan tangguh, nggak mungkin tuh di dialog kita. Tapi yang kita lihat adalah Winnie (tokoh ibu di Desember Jani) yang seorang single mother, breadwinner, harus mengurus anaknya yang masih minor 13 tahun dan anak satu lagi yang sudah punya free will 18 tahun. Dan ada oma, ibunya yang tentu juga harus dirawat,” Meiske menerangkan.

Selain Meiske yang menjadi produser di Desember Jani, film ini juga digarap oleh sutradara dan seniman visual Ariani Darmawan dan naskahnya ditulis oleh Cyntha Hariadi.
Film Desember Jani juga menggabungkan pemeran perempuan lintas generasi. Mereka adalah Chempa Puteri (Jani berusia 13 tahun), Sigi Wimala (Winnie), Tutie Kirana (Oma), dan Hyori Mika (Julia).
Dalam pertemuan dengan media di kawasan Jakarta pada Kamis (21/5), mereka berkumpul menceritakan film Palari Film yang digarap All Women Project pertama kali.
“Ini adalah film pertama Palari Films yang sangat perempuan. Seluruh pembuatnya hingga pemainnya adalah perempuan, dengan cerita yang juga sangat dekat dengan perempuan, terutama untuk seorang ibu dan anak perempuan,” ungkap Meiske.
Ariani Darmawan sebagai sutradara pertama perempuan di Palari Film juga menceritakan awal keterlibatannya dalam Desember Jani. Pengalamannya sebagai seorang ibu dengan anak dan orang tua, menjadi awal dari tercetusnya ide cerita.

Jika dulu saat menjadi anak, hal yang dia lihat dari seorang ibu adalah orang yang selalu mengingatkannya, memastikannya sehat, membuatkannya jus wortel dan tomat, dll. Sesuatu yang dia betul-betul baru pahami setelah dia menjadi ibu, bahwa itu adalah bentuk kasih sayang ibu kepada anaknya.
Tapi lebih dari itu, pengalaman menjadi ibu juga seringkali bersinggungan dengan kerja domestik dan perawatan. Selain dia bekerja dan mengerjakan apa yang dia suka.
“Ketika sudah menikah dan punya anak, urusan domestik itu setiap hari. Day to day pekerjaan saya adalah hal domestik dan selain itu juga saya mengurus toko buku dan perpustakaan,” kata Ariani kepada Konde.co, Selasa (26/5).
“Saya menikah dan punya anak rasanya multitasking yang dilakukan tuh berkali-kali lipat dari sebelumnya,” imbuhnya.
Dalam film Desember Jani, sutradara yang pernah menggarap film pendek Piknik Pesona itu mengembangkan cerita pengalaman sebagai ibu setelah bertemu dengan Cyntha Hariadi yang menjadi penulis skenario. Mereka mengerucutkan pengalaman ibu yang adalah single parent dan mesti menjadi breadwinner dari keluarga besarnya (generasi di atasnya).
Cyntha Hariadi bagi Ariani adalah penulis skenario yang tepat untuk Desember Jani. Ariani selama ini mengagumi karya-karya Cyntha termasuk yang berkaitan bagaimana dia memotret pengalaman menjadi ibu dan kerja-kerja domestik dan perawatannya yang tak dilihat.
Salah satu karya Cynthia berjudul Ibu Mendulang Anak Berlari menggambarkan itu. Kumpulan puisi yang memenangkan Sayembara Manuskrip Buku Puisi Dewan Kesenian Jakarta (2015) itu, banyak diapresiasi dan dikagumi.
Mengutip pernyataan juri “Dengan bahasa yang sederhana, naskah ini berhasil memotret kekompleksan sebuah pengalaman menjadi ibu dengan menyulap detail-detail banal kehidupan domestik menjadi sesuatu yang menakjubkan dan hampir surreal.”

Cyntha bercerita bahwa puisi-puisi itu berangkat dari pengalamannya sebagai ibu. Dia punya anak pertama dan satu-satunya (sampai saat ini) di saat usianya sudah 30 tahun lebih. Dia menguraikan pengalaman dan sisi yang tak banyak orang selami dari seorang ibu termasuk saat dia mengalami baby blues (gangguan psikologis setelah melahirkan).
Bahwa “kesempurnaan” dari sosok ibu adalah mitos. Glorifikasi dan pembakuan peran gender terhadap peran ibu juga seringkali mengaburkan bahkan meniadakan persoalan sistemik dari kerja domestik dan perawatan yang harus dipikul lebih berat sebagai ibu. Begitulah kira-kira benang merah dari kumpulan puisi-puisinya itu.
Dan kompleksitas sebagai ibu ini tak banyak dibicarakan. Bahkan tak dianggap penting. Itu nyata dialami oleh Cyntha bahkan ketika mengikutkan karyanya di sayembara puisi itu.
“Kalau gak ada salah satu juri perempuan yang memahami isu ini, naskahku sudah dibuang dianggap gak penting. Karena isu soal kerja perawatan perempuan gak dilihat,” kata Cyntha kepada Konde.co di kawasan Jakarta, Kamis (21/5).
Dari irisan pengalaman dan observasi sekitar tentang pengalaman menjadi ibu, Cyntha bersama Ariani kemudian mematangkan ide cerita di Desember Jani.
Meskipun dari awal tak ada rencana khusus bahwa film ini bakal menautkan All Women Project, namun kesalingan pengalaman dan perspektif akhirnya menyatukan produser, sutradara dan penulis skenario ini. Tak banyak menggunakan narasi penceritaan langsung dalam filmnya, namun detail-detail yang memperkuat cerita.
Ariani yang punya latar belakang arsitektur memikirkan detail perencanaan tata letak dan ruang dengan matang. Dia misalnya membangun karakter tokoh dengan benda-benda yang khas di sekitarnya, bagaimana suasana rumah bahkan kebiasaan sederhana yang tak banyak orang menyadari.
Mereka lantas menjahit cerita yang menampilkan kompleksitas sebagai perempuan tiga generasi. Bagaimana mereka menjalani kehidupan menjadi manusia dengan cara pandangnya yang berbeda.
Kerja-kerja perawatan emosional juga disoroti dari film Desember Jani. Para pemeran perempuan dalam Desember Jani masing-masing membawa lapisan emosi yang kompleks.

Tutie Kirana yang memerankan tokoh Oma (75 tahun), mengungkapkan cinta bukan dari kata-kata melainkan tindakan. Sigi Wimala memerankan Winnie sebagai single parent, menyimpan rasa bersalah yang tak pernah terucapkan. Hyori Mika memerankan Julia, anak yang pergi dan belum tahu cara pulang. Juga Chempa Puteri memerankan Jani (13 tahun) yang melihat bagaimana keretakan keluarganya lebih jelas sekaligus jadi yang pertama jadi penggerak.
Ketika ditanya alasan tokoh Jani sebagai judul film itu, Ariani menjawab “Memang kalau dari sudut Jani, saya pikir menarik untuk Jani dan anak-anak seumurannya dia. Bagaimana kelak menjadi dewasa itu ada tiga cermin itu.”

Di sisi lain, jalinan cerita di Desember Jani bagi Ariani juga menunjukkan kompleksitas menjadi manusia dan perempuan. Tak sesimpel menanyakan ‘kalau sudah besar mau jadi apa?’ tapi bagaimana hidup itu dijalani. Dan hal yang berat namun tak banyak dibicarakan adalah bagaimana kerja perawatan emosional atau mengelola perasaan sebagai ibu.
“Ada satu hal yang saya pelajari setelah saya menikah dan punya anak, saya sering bilang ke suami, wah ternyata pekerjaan terberat seorang ibu itu adalah mengelola perasaan diri sendiri dan anggota keluarga,” kata Ariani.
“Dan di Desember Jani, kami mengajak penonton untuk masuk ke rumah, ke kamar-kamar mereka dan kita mendengarkan perasaan-perasaan mereka secara dalam,” katanya.
Desember Jani direncanakan bisa ditonton di akhir tahun 2026 ini.




























