Konde.co menyajikan kamus feminis sebulan sekali. Kamus feminis berisi kata-kata feminis agar lebih mudah dipahami pembaca.
Apa itu ‘fatherless’? Apakah artinya hanya “tidak punya ayah” dalam makna fisik? Rupanya ini bukan hanya tentang ketiadaan ayah secara harfiah, tetapi juga absennya figur dan peran ayah secara emosional dan bermakna dalam keluarga.
Dalam beberapa tahun terakhir, istilah fatherless menjadi salah satu frasa yang paling sering diulang dalam percakapan publik. Ia muncul dalam diskusi-diskusi psikologi populer, dipakai sebagai argumen moral dalam perdebatan di media sosial, hingga dijadikan penanda bagi berbagai bentuk kerentanan anak dan keluarga.
Namun, pemaknaan fatherlessness sering kali terlalu simplistik. Seolah-olah fenomena ini hanya disebabkan oleh “ayah yang tidak bertanggung jawab” atau “keluarga yang tidak lengkap”. Kendati di satu sisi benar bahwa fatherless adalah absennya figur ayah secara fisik dan emosional, fenomena ini sesungguhnya hanya pintu menuju persoalan patriarki yang lebih besar.
Dari kacamata feminis, fatherless adalah gejala yang jauh lebih kompleks. Ia lahir dari struktur sosial yang selama ini menempatkan peran pengasuhan hampir sepenuhnya pada perempuan. Di sisi lain, ruang bagi laki-laki untuk hadir secara utuh sebagai pengasuh sangat sedikit. Sebab laki-laki dianggap berperan untuk mencari nafkah saja, sedangkan pengasuhan anak adalah tugas perempuan. Lebih buruk lagi ketika sosok laki-laki bukan hanya gagal menjadi sosok ayah dalam pengasuhan, tetapi juga tidak menjalankan perannya untuk menafkahi keluarga—artinya, dia mangkir dari sebuah keluarga.
Baca Juga: ‘Father Hunger’ Lebih Mengganggu Perkembangan Emosional Anak Dibandingkan ‘Fatherless’
Sejak lama masyarakat patriarki mengonstruksi dunia dalam dua ranah. Yakni publik yang menjadi wilayah laki-laki, dan domestik yang dianggap sebagai habitat perempuan. Dalam konstruksi tersebut, pengasuhan anak tidak pernah dibayangkan sebagai pekerjaan bersama, melainkan sebagai “kodrat” perempuan. Cara pandang ini bukan sekadar norma sosial; ia adalah sistem yang terlembagakan, tertanam di dalam pendidikan, budaya, kebijakan negara, hingga pembagian kerja yang tampak begitu natural.
Teori feminis materialis menyebutnya sebagai ketidakadilan dalam pembagian kerja reproduktif. Pekerjaan yang menopang kehidupan, seperti mencuci, memasak, membersihkan, merawat, dan mengasuh, diberikan kepada perempuan. Tanpa upah, tanpa pengakuan, dan tanpa izin untuk berhenti. Seolah pekerjaan itu melekat pada identitas biologis mereka.
Sementara itu, kehadiran ayah dalam pengasuhan sebenarnya tidak pernah diperlakukan sebagai kewajiban. Ketika seorang ayah mengganti popok atau mengantar anak ke sekolah, masyarakat dengan cepat memujinya. Ia dianggap ayah siaga, sosok hebat, panutan. Tetapi ketika seorang ibu melakukan hal yang sama, masyarakat melihatnya sebagai hal lumrah. Tidak ada tepukan tangan, tidak ada pujian, tidak ada pengakuan. Yang ada hanyalah anggapan bahwa itu memang tugasnya.
Pandangan masyarakat patriarkal terhadap peran ayah dan ibu juga kerap muncul dalam bentuk lain. Misalnya, ketika seorang anak melakukan kegiatan bersama sang ayah, masyarakat justru menanyakan keberadaan ibunya. Ketika ayah mengantar-jemput anak ke sekolah, orang-orang merasa ‘kasihan’ karena waktu bekerja laki-laki tersebut jadi terganggu dan, lagi-lagi, mereka menyalahkan perempuan. Namun apakah persepsi serupa mereka terapkan jika situasinya dibalik—laki-laki tak tampak hadir secara fisik maupun emosional dalam perjalanan hidup anak dan keluarga, sedangkan perempuan selalu ada di sana? Cara masyarakat mengapresiasi pengasuhan ayah dan meremehkan pengasuhan ibu bukan sekadar bias kecil. Ia adalah pilar utama yang membuat fenomena fatherless terus berulang.
Baca Juga: Hari Ayah Nasional: Remaja ‘Fatherless’ Kehilangan Sosok Ayah Bikin Anak Hilang Arah
Di sisi lain, masyarakat kerap salah paham dan mengira bahwa feminisme adalah gerakan ‘anti-ayah’. Pandangan bahwa feminisme sama dengan misandris membuat banyak orang menganggap feminisme justru menjadi penyebab maraknya fenomena fatherless. Padahal, feminisme justru mendesak laki-laki untuk hadir dalam perannya sebagai ayah, bukan hanya secara fisik, tetapi utamanya hadir secara bermakna. Yang ditolak oleh feminisme adalah patriarki yang menjauhkan laki-laki dari pengasuhan dan membebankannya hanya kepada perempuan.
Jika laki-laki tumbuh dalam lingkungan yang selalu mengatakan bahwa “pengasuhan adalah urusan ibu”, maka ketidakhadiran mereka secara emosional maupun fisik tidak pernah dianggap sebagai sesuatu yang perlu dipertanyakan secara serius.
Seorang ayah yang jarang pulang karena bekerja dianggap wajar. Seorang ayah yang tidak memahami emosi anak dianggap normal. Bahkan ayah yang benar-benar menghilang pun sering kali dibingkai sebagai kesalahan perempuan. Misalnya karena dianggap tidak mampu mempertahankan hubungan, atau tidak cukup “baik” sebagai istri. Dari perspektif feminis, ini adalah bentuk kekerasan simbolik yang ditanggung perempuan. Mereka menanggung beban pengasuhan sekaligus stigma ketika laki-laki absen dari peran tersebut.
Baca Juga: Kritik Bagi Pemikiran Aquarina Kharisma Sari Yang Antifeminis dan Mendukung Patriarki
Feminis bell hooks pernah menulis bahwa penindasan patriarki bekerja dengan cara yang sangat halus. Ia menormalkan hal-hal yang seharusnya dipertanyakan dalam ketimpangan relasi antara perempuan dan laki-laki. Misalnya, gagasan bahwa laki-laki yang terlalu terlibat dalam pengasuhan dianggap kurang maskulin. Pada konteks tersebut, maskulinitas dipahami sebagai ketegasan, produktivitas, dan jarak emosional. Maka kedekatan seorang ayah dengan anaknya, empatinya, atau perannya dalam perawatan sehari-hari menjadi sesuatu yang dianggap menyimpang. Hasilnya adalah generasi laki-laki yang tidak pernah diajarkan cara hadir secara emosional dalam keluarga. Mereka mampu menjadi pencari nafkah, tetapi tidak dibentuk untuk menjadi pengasuh.
Karena itu, fatherlessness tidak bisa dibaca hanya sebagai ketiadaan ayah sebagai individu. Ia adalah ketiadaan ayah sebagai produk budaya. Patriarki melahirkan laki-laki yang tidak dibekali keterampilan emosional, tidak dibebani tanggung jawab pengasuhan, dan tidak disiapkan untuk menjadi figur yang terlibat dalam hidup anak-anak mereka. Ketika ayah tidak pernah dipersiapkan untuk hadir, ia mungkin tak sepenuhnya memahami betapa penting kehadirannya secara bermakna. Pada saat yang sama, perempuan harus mengisi setiap ruang kosong yang ditinggalkan laki-laki. Mereka menanggung beban fisik, finansial, dan emosional sekaligus tanpa kompensasi sosial apa pun.
Baca Juga: Film ‘Pangku’ Soroti Perjuangan Ibu Tunggal di Lingkaran Kemiskinan
Sosiolog Arlie Hochschild menyebut beban ini sebagai emotional labor. Artinya pekerjaan emosional yang tak terlihat, tetapi sangat melelahkan. Ibulah yang harus meredakan amarah anak, memastikan kebutuhan psikologisnya terpenuhi, menjadi tempat kembali ketika dunia terasa membingungkan. Sekaligus menghadapi tekanan sosial yang terus menganggap keluarga tanpa ayah sebagai kegagalan.
Yang jarang dibicarakan adalah betapa beratnya beban mental yang harus dipikul perempuan dalam situasi fatherless. Tidak hanya mereka harus bekerja mencari nafkah, mengurus rumah tangga, mengasuh anak, dan memberi dukungan emosional. Mereka juga harus menghadapi budaya yang menyalahkan mereka jika anak menunjukkan tanda-tanda kesulitan emosional. Sementara itu, ketika ayah tidak hadir, masyarakat lebih sering memaklumi dan memberikan maaf daripada tuntutan. Ketidakhadiran mereka dibingkai sebagai konsekuensi dari tekanan ekonomi, prioritas kerja, atau bahkan sebagai “hal yang biasa”.
Fatherless Itu Masalah Sistemik, Pengurus Negara Juga Harus Tanggung Jawab
Feminisme juga menunjukkan bahwa isu fatherless bukan sekadar masalah hubungan keluarga. Lebih dari itu, ia juga adalah masalah kebijakan publik. Minimnya cuti ayah dan pengetahuan mengenai substansi hak tersebut, juga berbagai tuntutan jam kerja tinggi, membuat laki-laki semakin jauh dari keluarga.
Ketika negara tidak memberikan cuti ayah yang memadai, laki-laki tidak pernah punya kesempatan untuk membentuk hubungan emosional dengan anak sejak hari pertama kehidupan mereka. Contoh lainnya adalah ketika perusahaan memuja produktivitas berlebihan sebagai ciri laki-laki pekerja ideal. Mereka menciptakan ayah yang jarang di rumah karena dipaksa tunduk pada jam kerja panjang. Atau ketika sekolah dan ruang publik hanya mengundang ibu untuk rapat orang tua. Sistem pendidikan pun memperkuat gagasan bahwa ibu adalah satu-satunya pihak yang bertanggung jawab atas perkembangan anak.
Dengan kata lain, fatherless adalah fenomena struktural, bukan hanya moral. Ia lahir dari kebijakan yang bias gender, budaya kerja yang maskulin, norma maskulinitas yang sempit, dan pembagian kerja domestik yang timpang. Mengatasinya tidak cukup dengan menyuruh laki-laki menjadi ayah yang “lebih peduli” atau “lebih hadir”. Masalahnya bukan semata pada niat individu, tetapi pada struktur sosial yang membentuk perilaku mereka.
Baca Juga: Film ‘Andai Ibu Tidak Menikah Dengan Ayah’: Perempuan Sudah Jatuh, Tertimpa Beban Kerja Perawatan
Untuk keluar dari lingkaran ini, masyarakat harus memulihkan nilai pengasuhan sebagai kerja sosial yang setara. Pengasuhan bukan kewajiban perempuan, melainkan tanggung jawab bersama yang membutuhkan perhatian penuh dari semua pihak. Baik itu ayah, ibu, komunitas, dan negara. Mengubah paradigma ini berarti berhenti hanya memuji ayah atas hal-hal dasar yang semestinya merupakan tanggung jawab mereka. Ini berarti, melihat ibu bukan sebagai mesin pengasuhan yang berjalan otomatis. Juga berarti mengakui bahwa menjaga kehidupan adalah pekerjaan yang paling penting dan paling politis dalam masyarakat.
Pada akhirnya, memahami fenomena fatherless dari perspektif feminis mengajak kita untuk melihat bahwa masalahnya bukan sekadar tentang siapa yang ada atau tiada dalam rumah. Ini adalah soal cara masyarakat membentuk laki-laki dan perempuan dalam relasi yang timpang. Juga soal pengurus negara yang merancang kebijakan yang memihak pada satu gender. Serta soal pengasuhan yang dipandang sebagai sesuatu yang remeh padahal merupakan fondasi kehidupan.
Selama patriarki masih berdiri kokoh dan membebani perempuan dengan pekerjaan reproduktif tanpa pengakuan, fenomena fatherless akan terus menghantui generasi demi generasi. Mengubahnya bukan hanya urusan keluarga, tetapi urusan keadilan gender secara menyeluruh.






