Cuplikan film 'Pangku' (sumber foto: Instagram @filmpangku)

Film ‘Pangku’ Soroti Perjuangan Ibu Tunggal di Lingkaran Kemiskinan

Film 'Pangku' garapan Reza Rahadian tak sebatas bercerita tentang fenomena 'Kopi Pangku' di jalur Pantura, tapi pergulatan hidup perempuan di tengah situasi yang tak memberinya pilihan. 'Pangku' sekaligus memberikan tamparan pada realitas ketidakhadiran ayah (fatherless) yang jadi persoalan sosial di negeri ini.

“Cari kresek mah gampang, cari Bapak yang susah.”

Seketika hatiku terasa tertekan dan sesak mendengar kalimat itu dari seorang anak, Bayu (Shakeel Fauzi) dalam film ‘Pangku‘. Perasaan seperti itu muncul di diriku karena aku adalah seorang anak yang tidak mendapatkan peran seorang Ayah. Tambah terasa sakit saat teringat adikku yang dalam tumbuh kembangnya juga tidak mendapatkan peran seorang Ayah. 

Ini adalah bentuk tamparan realita fatherless di Indonesia. Bahwa ketidakhadiran ayah baik secara fisik dan emosional, tak hanya dirasakan oleh Bayu. Tapi banyak anak-anak lainnya. 

Pangku‘ adalah film garapan Reza Rahadian berdurasikan 1 jam 40 menit. Film ini mengangkat kisah perjuangan seorang perempuan yang bergelut antara dilema moral dan peran seorang Ibu. Karakter Sartika yang diperankan oleh Claresta Taufan mengingatkanku kepada Ibuku.

Baca Juga: Hari Ayah Nasional: Remaja ‘Fatherless’ Kehilangan Sosok Ayah Bikin Anak Hilang Arah

Ia berjuang sendiri membesarkan anaknya, mengusahakan apapun untuk masa depan anaknya. Sepanjang film ini diputar aku diam tertegun, pikiranku seolah dibawa lari memikirkan dilema yang luar biasa dirasakan perempuan, dalam kehidupan yang seringkali tidak berpihak pada perempuan. 

Claresta Taufan yang memerankan Sartika, bagiku bukan hanya seorang tokoh fiksi di layar lebar, ia adalah representasi bayangan dari sosok Ibu. Perempuan yang berjuang sendirian, mengupayakan segala hal agar anaknya tetap bisa hidup dan bermimpi.

Ada begitu banyak perempuan diluar sana yang seperti Sartika. Menanggung beban hidup sendirian, bertahan dalam dunia yang sering kali tidak memberi ruang bagi mereka untuk memilih dengan bebas. Dunia yang menuntut, menghakimi, tapi jarang ada yang benar-benar memahami.

Pangku tidak hanya bicara tentang pekerja seks atau kopi pangku sebagai fenomena sosial di Pantura. Film ini, jika dibaca dengan hati, justru menyoroti apa yang melatari pilihan-pilihan hidup perempuan itu sendiri.

Banyak yang lupa bahwa di balik tubuh perempuan yang harus dijual demi secangkir kopi dan sedikit perhatian, ada cerita panjang tentang pengorbanan, tanggung jawab, dan cinta pada anak. Sartika bukan ingin, tapi harus. Ia harus mencari pengakuan atas hak anaknya, harus memastikan anaknya tetap sehat dan bersekolah, harus menjaga agar dunia yang keras ini tidak menelan anaknya bulat-bulat.

Film ini membuatku berpikir, bagaimana rasanya menjadi anak dari seorang ibu yang bekerja seperti itu? Bagaimana cara seorang ibu menjelaskan dunia yang tidak adil kepada anaknya, tanpa membuat anak itu ikut membenci hidupnya sendiri? Bagaimana mereka, para Sartika lain diluar sana sanggup menelan pahit getirnya kehidupannya seorang diri?

Baca Juga: Film ‘Andai Ibu Tidak Menikah Dengan Ayah’: Perempuan Sudah Jatuh, Tertimpa Beban Kerja Perawatan   

Di banyak pemberitaan atau obrolan warung, perempuan yang bekerja di tempat seperti itu sering kali langsung dicap “nakal”. Atau, ucapan seperti, “Halahh, perempuan nggak benar itu,” menjadi kalimat yang sering kita dengar. Tapi film ini pelan-pelan mengupas lapisan itu. ‘Pangku‘ memperlihatkan bahwa tidak semua hal bisa disederhanakan dalam hitam-putih.

Fenomena Kopi Pangku di jalur Pantura adalah ruang sosial yang rumit. Ada relasi kuasa antara perempuan dan pelanggan, antara ekonomi dan kebutuhan, antara stigma dan keinginan untuk hidup layak. Film ini dengan berani menyoroti itu semua, memperlihatkan bahwa pekerjaan itu lahir dari sistem yang timpang, bukan dari pilihan yang bebas.

Reza Rahadian mampu membuat film ini serealistis mungkin, karena baginya film seperti ini tidak bisa jika hanya melihat dari keraknya saja. Suasana yang panas, gerah, sumuk, lengket, dan debu bertebaran khas suasana di Pantura. 

Reza melakukan riset selama 4 bulan di Pantura, dan ia menemukan kenyataan ironis. Salah satunya seperti bilik kecil yang digunakan anak kecil tidur, dipergunakan juga untuk melayani pelanggan warung yang datang, persis seperti adegan Sartika ketika menidurkan Bayu anaknya, tiba-tiba disuruh minggir sebentar oleh salah satu teman perempuannya yang hendak melayani pelanggan.

Di titik itu, aku cuma bisa diam. Rasanya sesak banget ngeliat anak sekecil Bayu harus terbiasa dengan pemandangan seperti itu. Dari matanya kelihatan jelas kalau dia paham sesuatu yang seharusnya belum perlu dia mengerti. Dunia orang dewasa terlalu cepat datang buat dia.

Baca Juga: Kritik Bagi Pemikiran Aquarina Kharisma Sari Yang Antifeminis dan Mendukung Patriarki

“Bayu nggak mau liat Ibu dipangku-pangku.”

Anak sekecil itu sudah harus melihat dan mengerti bahwa ibunya disakiti oleh keadaan. Ia belum sepenuhnya paham, tapi tahu betul kalau ibunya sedang menahan sesuatu yang berat.

Kalimat polos itu seperti tamparan buat banyak orang yang dengan mudah menilai perempuan tanpa tahu apa yang mereka hadapi. Di situ aku ngerasa, luka perempuan sering kali diturunkan. Bukan karena mereka mau, tapi karena dunia terlalu keras untuk memberi pilihan yang manusiawi.

Aku jadi teringat dengan kalimat yang cukup populer, dan berkaitan dengan cerita Satika ini “Perempuan itu memang selalu dirugikan dalam banyak hal.” Dan rasanya benar. Perempuan sering kali berada di titik yang serba salah, ketika bekerja keras, mereka dianggap melampaui kodrat, ketika menyerah, mereka dicap lemah.

“Aku capek buk”

Disaat itu Sartika berkeluh menangis di pangkuan Ibu Maya, karakter yang diperankan oleh Christine Hakim. Di situ bukan hanya Sartika yang berkeluh, tapi ini suara keluh semua perempuan yang pernah harus kuat sendirian, semua ibu yang nggak punya ruang buat ngeluh, semua yang cuma bisa nangis diam-diam sambil tetap berdiri dan berjalan karena keharusan.

Kalau kita mau baca film ini dengan kacamata feminisme, film Pangku menunjukkan bentuk feminisme ibu, perjuangan perempuan yang berangkat dari cinta dan tanggung jawab, tapi juga jadi bentuk perlawanan. Sartika tidak punya suara, tapi tindakannya adalah perlawanan itu sendiri. Ia bertahan bukan karena lemah, tapi karena ia nggak punya kemewahan untuk menyerah.

Baca Juga: Dear Pemerintah, Begini Supaya ‘Gerakan Ayah Antar Anak Sekolah’ Bukan Cuma Lip Service

Tapi di sisi lain, karena sutradaranya seorang laki-laki, selalu ada potensi pandangan yang masih male gaze. Dengan kata lain, kamera yang ‘tanpa’ sadar melihat perempuan dari sudut pandang laki-laki. Untungnya, menurutku film ‘Pangku‘ tidak terlalu jatuh ke sana, walaupun beberapa adegan masih menyoroti bagian tubuh perempuan.

Yang aku suka, film ‘Pangku‘ tidak berusaha memberi solusi. Film ini hanya nunjukin realita. Tentang ibu-ibu yang disalahkan karena berjuang. Tentang perempuan yang diminta patuh pada norma, tapi ditinggalkan oleh sistem. Juga tentang anak-anak yang tumbuh dengan luka yang tidak pernah mereka pilih.

Di akhir film, tangisku pecah ketika lagu Iwan Fals yang berjudul ‘Ibu’ diputar sebagai backsound, dengan beberapa adegan yang menyayat hati. Semua orang yang berada di dalam bioskop menangis dan bertepuk tangan sebagai bentuk apresiasi film yang berlatarkan realita sosial ini.

Dan ingat masih banyak Sartika lain di luar sana. Mereka yang tidak punya pilihan lain, selain terus bertahan.

Di tengah kerumitan hidupnya, Sartika bertemu Hadi, karakter yang diperankan oleh Fedi Nuril. Apakah hadirnya Hadi bisa memberikan harapan kepada hidup Sartika? Atau justru dia menjelma menjadi luka baru? Kamu bisa menyaksikan cerita selengkapnya dengan menonton film Pangku di bioskop terdekatmu. 

(Editor: Nurul Nur Azizah)

(sumber foto: Instagram @filmpangku)

Rara Wiritanaya

Mahasiswi Universitas Atmajaya Yogyakarta
Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

Creative Commons License

1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

Let's share!