Di Balik Tirai Tabu: Menelusuri Kabut Mitos KB

Menelusuri mitos KB di Maluku: ketakutan, hoaks digital, tekanan sosial, dan perjuangan perempuan merebut kendali atas rahimnya.

Di sudut Puskesmas yang pengap oleh aroma disinfektan, Nur Tuasamu  meremas ujung jilbabnya.

Matanya gelisah, menatap poster KB yang tertempel di dinding—sebuah gambar keluarga bahagia dengan dua anak yang tampak terlalu sempurna untuk menjadi kenyataan.

Baginya, poster itu bukan sekadar program pemerintah; itu adalah medan perang antara kebutuhan ekonomi dan bisikan-bisikan yang menghantuinya dalam obrolan ibu-ibu di kampung.

“Katanya kalau pakai implant seng (tidak) bisa halangan (haid-red) badan bisa melilit kesakitan bahkan ada yang bilang  nanti berkarat di dalam kalau pakai implant,” bisiknya lirih, seolah dinding-dinding itu punya telinga yang siap menghakiminya.

Ketakutan Nur  bukanlah anomali. Di Maluku khususnya bahkan  Indonesia umumnya, alat kontrasepsi seringkali bukan sekadar alat medis, melainkan narasi yang dibumbui mistis, rumor medis yang keliru, hingga stigma moralitas. Teras Maluku  mencoba membedah lapisan-lapisan ini, menemukan bahwa di balik setiap mitos, ada ketidaktahuan yang dipelihara oleh rasa malu.

Horor di Dalam Rahim: antara Spiral dan “Karatan”

Mitos paling persisten adalah tentang IUD (Intrauterine Device) atau yang akrab disapa spiral. Di warung-warung kopi hingga grup WhatsApp keluarga, IUD digambarkan sebagai benda asing yang bisa “berjalan-jalan” hingga ke jantung atau paru-paru.

Menurut Juliana Halapiry, secara medis, IUD adalah alat kecil berbentuk T yang ditempatkan di dalam rahim. Secara matematis, kemungkinan IUD berpindah keluar dari rahim sangatlah kecil—kurang dari 1 banding 1.000 kasus, dan biasanya terjadi karena kesalahan pemasangan atau kondisi anatomi tertentu. Namun, narasi yang berkembang di masyarakat jauh lebih dramatis dari angka statistik.

‘Jadi bisa dijelaskan secara medis, itu barang apa,’’ ujar Ketua Ikatan Bidan Indonesia Cabang Ambon itu via wawancara whatsapp, Kamis ( 29/01/2026).

Bagi sebagian besar warga, penjelasan ilmiah sering kali kalah sakti dibanding testimoni tetangga. Muncul ketakutan kolektif bahwa alat kontrasepsi bisa “berjalan-jalan” ke paru-paru atau bahkan sampai ke otak. Padahal, realitas medisnya jauh lebih membumi.

Baca Juga: All Eyes On Papua, Cerita Perempuan Papua Menolak Tunduk

IUD (Intrauterine Device), atau yang akrab disebut spiral, sejatinya adalah penghuni setia rahim. Ia menetap di dalam panggul—sebuah organ berbentuk kantong yang tertutup rapat. Secara anatomis, mustahil benda kecil ini bertualang ke organ tubuh lain. Keluhan yang nyata hanyalah flek atau nyeri panggul, sisanya hanyalah mitos yang mekar karena ketidaktahuan.

Dahulu, Indonesia mengenal Ipeslock. Bentuknya menyerupai jangkar, berbeda jauh dengan model modern. Di masa itu, sering terdengar cerita bayi lahir dengan alat kontrasepsi menempel di kulitnya. Fenomena “kebobolan” ini bukan tanpa alasan. Ipeslock memiliki empat ukuran yang ditandai dengan warna: hitam, putih, kuning, dan biru.

Ketepatan ukuran ini bergantung sepenuhnya pada kejujuran sang ibu. Bidan senior ini  mengenang bagaimana prosedur bisa berantakan hanya karena sebuah rahasia kecil.

“Ada ibu yang mengaku ini kehamilan pertama, padahal ia sudah pernah keguguran dua kali. Rahim tidak bisa berbohong; ukurannya berubah setelah kehamilan. Jika ukuran Ipeslock yang dipasang tidak sesuai dengan riwayat rahim, ia akan melonggar dan gagal menjalankan tugasnya.”

Masalah terbesar sebenarnya bukan pada alatnya, melainkan pada kepedulian. Banyak pengguna yang “lupa” bahwa IUD memiliki masa kedaluwarsa. Meski tenaga kesehatan sudah berkali-kali mengingatkan, rasa abai sering kali menang. Mereka membiarkan benda asing itu menetap jauh melampaui jangka waktu yang ditetapkan, hingga akhirnya memicu komplikasi yang sebenarnya bisa dicegah.

Dunia medis telah beranjak dari masa Ipeslock yang berbentuk jangkar. Kini, kita mengenal Copper T atau Multiload. Bentuknya yang menyerupai huruf T dengan lilitan tembaga memiliki tingkat keberhasilan yang jauh lebih tinggi. Berbeda dengan model lama, teknologi sekarang dirancang untuk lebih adaptif dengan sistem tubuh manusia.

Baca Juga: Keluarga (Tidak) Berencana: KB dan Kontrol Negara Atas Tubuh Perempuan Lewat Kontrasepsi

Meski begitu, setiap alat kontrasepsi tetaplah memiliki efek samping. Tubuh manusia adalah semesta yang unik; apa yang diterima dengan baik oleh satu orang, mungkin ditolak oleh sistem tubuh yang lain. Namun, di tengah banjir mitos dan ketakutan, satu hal yang pasti: kejujuran kepada tenaga medis dan kesadaran untuk disiplin adalah kunci utama dari kesehatan reproduksi itu sendiri.

Namun tetap saja, banyak perempuan di Ambon menganggap alat  KB berupa implant atau IUD bisa membahayakan tubuh mereka.

“Suami saya bilang, nanti kalau berhubungan bisa ‘kena’ besinya,” ujar Asra (37) warga Stain, Ambon. Dari mana informasi sesat itu muncul, suami Asra dan para kaum suami pada umumnya  tentu saja terpapar dari gawai mereka, entah TikTok atau media sosial lainnya.

Lalu ada narasi tentang perubahan fisik. Pil KB sering dituduh sebagai biang keladi kegemukan, jerawat, hingga kemandulan permanen.

Ona Hatapayo, 29  tahun, ibu muda ini mengaku kuatir karena jika berKB bisa menyebabkan kegemukan, ‘’ jang lay (jangan lagi) nanti tubuh berubah,’’ tolaknya.

Realitanya, Juliana menegaskan, hormon dalam kontrasepsi modern telah mengalami evolusi.

‘’ Dosis hormon saat ini jauh lebih rendah dibandingkan dekade 70-an. Efek samping seperti retensi cairan memang ada, namun bersifat individual. Mengkambinghitamkan pil KB atas bertambahnya berat badan seringkali mengabaikan faktor gaya hidup dan metabolisme yang berubah seiring usia,’’ ungkap Juliana.

Baca Juga: Sisi Lain Vasektomi: Kontrasepsi Tanggung Jawab Bersama, Lebih dari Syarat Bansos

Sering kali, sebuah prosedur medis berakhir dengan kalimat sederhana dari seorang bidan: “Ibu, tiga hari lagi kembali ke sini ya, kita kontrol.” Sebuah instruksi yang krusial, sebuah masa tenang untuk memastikan bahwa si “huruf T” kecil itu telah duduk manis di singgasananya, tepat di tengah rongga rahim, tanpa bergeser barang satu milimeter pun.

Namun, begitu sang pasien melangkah keluar dari ubin puskesmas yang dingin, instruksi itu sering kali menguap. Kontrol tiga hari—yang seharusnya menjadi garansi keamanan agar tidak ada risiko pendarahan atau kegagalan—dianggap sebagai formalitas belaka. Bagi mereka, selama tidak ada rasa sakit yang menghunjam, maka semuanya dianggap baik-baik saja.

Ketajaman Bibirnet

Juliana  memastikan di sinilah tragedi informasi dimulai. Di saat kursi ruang tunggu puskesmas kosong dari pasien yang seharusnya kontrol, teras-teras rumah justru penuh dengan narasi liar.

“Bibirnet itu lebih cepat dan tajam dibandingkan dengan ilmu yang akurat,” ujar Juliana dengan nada getir.

Masyarakat kita sering kali lebih memilih bersandar pada testimoni “katanya” daripada data “faktanya”. Sebuah keluhan nyeri yang dialami satu orang, setelah melewati tiga mulut tetangga, bisa berubah menjadi kisah horor tentang malpraktik.

Padahal, menurut Juliana posisi IUD yang tidak dicek pasca-pemasangan adalah bom waktu yang diciptakan sendiri. Risiko “kebobolan” atau infeksi sebenarnya bisa diredam jika komunikasi dua arah antara nakes dan pasien berjalan lancar. Namun, ketika mitos sudah dianggap sebagai kitab suci, edukasi medis hanya menjadi angin lalu yang mampir di telinga kiri dan keluar di telinga kanan.

Pada akhirnya, perang melawan angka kelahiran yang tak terencana bukan hanya soal ketersediaan alat medis, melainkan perang melawan bayang-bayang informasi yang lahir dari bibir ke bibir yang sumbernya dari gawai yang dipelototi tiap waktu—sebuah jaringan informasi yang sayangnya, sering kali lebih dipercaya daripada gelar sarjana di belakang nama sang bidan.

Baca Juga: Alat Kontrasepsi: Kebebasan Atau Belenggu Bagi Tubuh Perempuan?

Ia memaparkan, mitos memang menyebabkan ketakutan akan “keringnya rahim” setelah berhenti menggunakan kontrasepsi juga menjadi momok. Padahal, kesuburan biasanya kembali segera setelah penggunaan dihentikan (untuk pil) atau beberapa bulan kemudian (untuk suntik). Rahim bukanlah tanah yang mengering karena pestisida; ia adalah organ dinamis yang tahu cara pulih.

Ini yang dialami, Sri Pattimahu, berawal dari sering menerima broadcast whatsapp ia akhirnya memutuskan menolak memakai alat kontrasepsi apapun, ketakutannya jangka panjang,

‘’ Kalo rahim kering bagaimana nanti, pasti tidak bisa hamil lagi,’’ ujarnya sambil menunduk kepala saat diwawancarai Terasmaluku, Sabtu (24/01/2026) di rumahnya di kawasan Stain, Kota Ambon.

Sri tak sendiri ada banyak ibu-ibu  seusianya yang ketakutan, tak hanya ketakutan soal rahim ia juga kuatir, kegemukan atau bahkan kehilangan gairah berhubungan dengan suaminya.

Labirin Digital yang Menyesatkan

Jika di masa lalu hoaks tentang rahim hanya berpindah dari mulut ke mulut di bawah rindang pohon kersen, kini ia bermigrasi ke dalam saku daster melalui layar gawai.

Di  ruang kerjanya di kampus Universitas Kristen Indonesia  Maluku  (UKIM) yang tenang di kawasan Tanah Lapang Kecil,Kota Ambon,  Mutiara Dara Utama menyesap kopinya sambil memandangi grafik yang melonjak. Ia menjelaskan bahwa kita tidak sedang sekadar melawan kebohongan, melainkan sedang melawan mesin yang dirancang untuk mencintai ketakutan.

“Mengapa narasi IUD yang ‘berjalan’ ke jantung lebih cepat melesat daripada infografis BKKBN yang rapi?” . Jawabannya terletak pada cara otak kita bekerja. Informasi resmi seringkali terasa seperti ceramah di ruang kelas—steril dan membosankan. Sebaliknya, hoaks hadir dengan unsur emosional yang meledak; ia menggunakan logika survival.

IUD yang menusuk organ vital bukan sekadar berita bohong, ia adalah film horor dalam format teks. Otak manusia purba kita dirancang untuk membagikan peringatan bahaya lebih cepat daripada kabar baik. Di sinilah infografis pemerintah kalah telak: ia bicara tentang kesehatan, sementara hoaks bicara tentang kematian.

Baca Juga: Pemakaian Kontrasepsi Bukan Cuma Urusan Perempuan, Tapi Juga Laki-Laki

Mutiara mengakui logika bisa dikalahkan oleh mitos, karena  di  dalam dunia echo chamber atau ruang gema hal ini menjadi mudah terjadi. Mutiara  menggambarkan seorang ibu muda yang awalnya hanya merasa sedikit pusing setelah suntik KB. Ia mencari di kolom pencarian: “Efek samping KB suntik”.

Sekali ia mengklik satu video testimoni negatif yang dramatis,  algoritma media sosial mulai bekerja seperti pelayan yang terlalu rajin. Esok harinya, beranda TikTok-nya akan penuh dengan kisah-kisah kegagalan KB. Algoritma tidak peduli pada kebenaran; ia hanya peduli pada durasi sang ibu menatap layar. Sang ibu pun terjebak dalam delusi bahwa seluruh dunia sedang mengalami penderitaan yang sama, hingga keraguan kecilnya berubah menjadi keyakinan yang keras kepala. Begitulah  echo chamber itu bekerja di kepala sang ibu, sergah Mutiara.

Bandingkan dengan istilah “rahim kering”. Kata “kering” memberikan imajinasi tentang tanah yang pecah-pecah, ketandusan, dan hilangnya fungsi keperempuanan. Ia menyerang identitas, bukan sekadar kesehatan. Penggunaan diksi populer ini berhasil melumpuhkan logika kritis karena ia langsung menghujam rasa takut yang paling purba dalam diri manusia: ketakutan akan menjadi tidak berguna.

Saat diskusi berakhir, Mutiara  menyentil satu  catatan krusial bagi pemerintah. Data statistik dan angka-angka capaian BKKBN tidak akan pernah cukup untuk memenangkan peperangan ini. Angka adalah benda mati yang dingin.

“Kita tidak bisa melawan api dengan es batu,” ujarnya. Untuk melawan narasi ketakutan, pemerintah harus mulai bercerita. Mereka perlu menampilkan wajah-wajah bahagia, testimoni yang hangat, dan kisah-kisah tentang bagaimana sebuah keluarga kecil bisa menyekolahkan anak hingga sarjana karena perencanaan yang matang. Angka harus diubah menjadi manusia; statistik harus diubah menjadi empati.

Sebab di dunia digital yang bising ini, kebenaran yang sunyi akan selalu kalah oleh kebohongan yang berteriak.

Perilaku Masyarakat: Ketika Mitos Menjadi “Kebenaran Kolektif”

Teras Maluku menemui Abdul Manaf Tubaka di rumahnya yang sederhana di kawasan Kampus Universitas Islam Negeri AM Sangadji (UINSA) Ambon. Ia tengah membaca bukunya yang nyaris lebih tebal dari sepatu wedges istrinya. Sosiolog muda itu, tersenyum ketika pertanyaan tentang bagaimana mitos bekerja.

Dalam sosiologi, kita mengenal hukum Thomas: “Jika manusia mendefinisikan situasi sebagai nyata, maka situasi tersebut nyata dalam konsekuensinya.” Mitos alat kontrasepsi telah menciptakan ruang ketakutan kolektif. Masyarakat tidak lagi bertindak berdasarkan data medis, melainkan berdasarkan “solidaritas kecemasan”.

Sosiolog muda Maluku itu  mengurai,  ketika seorang ibu menolak IUD karena takut benda itu “berjalan ke jantung”, ia sedang melakukan tindakan perlindungan diri yang logis dalam sistem kepercayaan dunianya. Mitos memicu perilaku avoidance (penghindaran) yang masif. Akibatnya, kontrasepsi tidak lagi dilihat sebagai alat kesehatan, melainkan sebagai “ancaman terhadap integritas tubuh”.

‘’Perilaku ini mengakar karena testimoni kegagalan satu orang lebih dianggap sebagai “kebenaran otoritatif” dibandingkan ribuan data keberhasilan medis yang dianggap asing,’’ terangnya.

Ada garis imajiner yang membedakan bagaimana mitos bekerja di desa dan di kota, namun keduanya bermuara pada ketidakpercayaan.

Baca Juga: Perempuan Jawa dalam Sejarah: Cengkeraman Patriarki dan Kapitalisme Atas Tubuh, Pekerjaan, dan Pilihan Hidup

‘’Di Pedesaan (Mitos Fisik-Mistik-red) Mitos cenderung bersifat mekanis dan visual. Ketakutan akan alat yang hilang di dalam tubuh atau kemandulan permanen mendominasi. Di sini, tubuh dilihat sebagai entitas utuh yang tidak boleh diintervensi oleh logam atau benda asing. Di Perkotaan (Mitos Medis-Kosmetik, redMasyarakat urban yang lebih terpapar informasi justru terjebak dalam over-thinking medis, ‘’bebernya.

‘’Mitos bergeser pada isu hormon ketakutan akan jerawat, penurunan libido, hingga perubahan suasana hati. Di kota, kontrasepsi sering dianggap musuh bagi estetika dan performa tubuh modern. Jika orang desa takut mati, orang kota takut kehilangan kendali atas citra diri mereka,’’ jelas Manaf sambil membolak balik buku tebalnya.

Budaya patriarki di Maluku, jelasnya,  sering kali memandang rahim bukan milik perempuan melainkan aset keluarga atau simbol kejantanan suami. Mitos banyak anak banyak rezeki adalah konstruksi budaya yang digunakan untuk menekan agensi perempuan.

Dalam spektrum agama, mitos sering kali dibalut dengan narasi melawan takdir. Alat kontrasepsi diposisikan sebagai bentuk ketidakpercayaan pada pemeliharaan Tuhan. Sosiologi melihat ini sebagai penggunaan agama sebagai alat kontrol sosial untuk mempertahankan struktur keluarga tradisional.’’ Di sini, mitos bukan lagi soal kesehatan, melainkan soal moralitas. Perempuan yang ber-KB seringkali secara halus diberi stigma sebagai sosok yang kurang bersyukur atau takut miskin, ujar akademisi UINSA Ambon ini.

Baca Juga: Ketika Vasektomi Jadi Syarat Bantuan: Rentan Manipulasi dan Abaikan Persoalan Struktural

Manaf menutup diskusi kami pagi itu dengan mengungkapkan, secara klinis, rahim yang dipaksa bekerja tanpa jeda akibat ketakutan pada KB akan mengalami kelelahan biologis. Namun secara sosiologis, dampaknya lebih mengerikan: hilangnya kesempatan perempuan untuk berdaya secara ekonomi dan pendidikan.

‘’ Mitos kontrasepsi adalah rantai yang mengikat perempuan di dalam siklus domestik yang tak berujung, menciptakan generasi baru yang tumbuh dalam keterbatasan gizi (stunting) dan akses pendidikan yang rendah,’’ tukasnya.

Fakta Statistik: Dampak Hoax terhadap Kepesertaan KB

Data BKKBN menunjukkan bahwa alasan ketakutan akan efek samping (yang seringkali dipicu informasi salah) menyumbang angka yang signifikan terhadap tingkat unmet need (kebutuhan KB yang tidak terpenuhi):

  • Alasan Kesehatan & Efek Samping: Sekitar 10% hingga 16% Pasangan Usia Subur (PUS) tidak menggunakan KB karena takut akan efek samping yang mereka dengar dari desas-desus lingkungan.
  • Literasi Rendah: Di beberapa wilayah, literasi yang rendah menyebabkan 75% masyarakat masih mempercayai mitos negatif terkait metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP).

Hoax Kebijakan (Isu Viral 2024-2025)

Sepanjang tahun 2024 hingga awal 2026, muncul hoax mengenai kebijakan pemerintah:

  • Isu Kontrasepsi Remaja: Sempat beredar kabar bahwa pemerintah memfasilitasi alat kontrasepsi secara bebas untuk pelajar/anak sekolah.
  • Klarifikasi BKKBN: BKKBN menegaskan bahwa penyediaan alat kontrasepsi tetap diprioritaskan untuk Pasangan Usia Subur (PUS) yang sudah menikah. Bagi remaja, fokus utamanya adalah edukasi kesehatan reproduksi dan pendewasaan usia perkawinan, bukan pembagian alat kontrasepsi secara bebas.
Faktor Pemicu Penyebaran Hoax

BKKBN mengidentifikasi tiga faktor utama mengapa hoax KB sulit diberantas:

  1. Pengalaman Subjektif yang dilebih-lebihkan: Keluhan ringan (seperti pusing atau flek) diceritakan secara dramatis antar warga sehingga berubah menjadi “horor” medis.
  2. Kurangnya Dukungan Suami: Banyak suami yang melarang istri ber-KB karena termakan mitos tentang penurunan gairah seksual atau ketakutan akan biaya (padahal banyak layanan gratis).
  3. Judul Konten Media Sosial yang Bombastis: Video singkat di platform seperti TikTok atau grup WhatsApp yang menyebarkan informasi tanpa validasi medis.
Strategi BKKBN Mengatasi Hoax
  • Tim Pendamping Keluarga (TPK): Mengerahkan ratusan ribu kader untuk melakukan edukasi door-to-door.
  • Digitalisasi Informasi: Menggunakan aplikasi dan media sosial untuk memberikan respon cepat terhadap isu yang viral.
  • Fokus MKJP: Mendorong masyarakat beralih ke Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (IUD, Implan, MOW, MOP) karena lebih efektif dan minim kesalahan penggunaan dibanding metode jangka pendek (Pil/Suntik).

BKKBN menekankan bahwa pemilihan kontrasepsi harus didasarkan pada konseling medis (Metode Klop) bersama bidan atau dokter, bukan berdasarkan cerita tetangga atau informasi di media sosial yang belum tentu benar.

Suara dari Garis Depan: Rahim yang Dipenjara Kata-Kata

Di salah satu ruang Kantor Gasira di Kawasan Kudamati,  yang dipenuhi berkas pengaduan, Lies Marantika  menatap keluar jendela, merenung. Obrolan via whatsapp, mengguggah pikirnya, Insany, jurnalis Terasmaluku, mengirim rentetan pertanyaan kritis. Lies yang lebih dari 30an tahun mengadvokasi kasus perempuan dan anak di Maluku,  tersentak sadar, masih ada cerita yang tersembunyi di balik bilik ranjang perempuan, rahim mereka masih terpenjara.

Baginya, hoaks kontrasepsi bukan sekadar salah ketik di grup WhatsApp,  itu adalah rantai yang mengikat kaki-kaki perempuan agar tak melangkah terlalu jauh dari dapur.

“Kita harus jujur,” ujarnya dengan nada rendah namun tegas, “mitos ‘rahim kering’ atau ‘IUD yang berjalan ke jantung’ bukan sekadar ketidaktahuan. Itu adalah instrumen kontrol.”

Dalam budaya patriarki yang kental, tutur perempuan yang wajahnya dipenuhi garis kebijakan akan pengalaman itu, tubuh perempuan dianggap sebagai milik komunal—milik suami, milik mertua, milik tradisi. Mitos-mitos ini sengaja dipelihara untuk menanamkan rasa takut.

Baca Juga: Stop Menghakimi, Pahami Alasan Perempuan Putuskan Childfree

‘’Ketika seorang perempuan takut pada alat kontrasepsi, ia kehilangan kendali atas rahimnya. Dan ketika ia kehilangan kendali atas rahimnya, ia kehilangan kendali atas seluruh peta hidupnya. Ia menjadi mudah diatur, mudah dijinakkan dalam domestikasi yang tak berujung,’’ keluhnya.

Ia menceritakan tentang perempuan-perempuan yang datang padanya dengan napas tersengal, membawa pil KB yang disembunyikan di lipatan baju terdalam.

“Mereka sedang melakukan gerilya,” katanya. Ada beban psikologis yang mengerikan ketika seorang istri harus memilih antara kesehatan reproduksinya atau kepatuhan pada suami yang termakan hoaks. Di mata masyarakat kita, perempuan yang ber-KB tanpa izin sering dicap sebagai istri yang ‘membangkang’ atau ‘ingin bebas berselingkuh’. Ini adalah kekerasan psikologis yang sunyi; mereka harus menyelamatkan nyawa mereka sendiri dalam diam, seolah-olah kesehatan adalah sebuah kejahatan.

Kita melihat ketidakadilan yang telanjang: seorang istri rela perutnya disayat berkali-kali dalam operasi sesar atau tubuhnya dibanjiri hormon setiap bulan, namun sang suami menolak prosedur kecil hanya karena takut ‘merasa kurang pria’. Mitos ini adalah bukti bahwa dalam banyak rumah tangga, kenyamanan pria masih menempati kasta tertinggi di atas keselamatan reproduksi perempuan.

Lies mengaku, sering menemui korban dari mantra “banyak anak banyak rezeki” di pemukiman kumuh. Mitos ini adalah racun yang dibalut madu tradisi. Ketika perencanaan keluarga dihambat oleh hoaks, kemiskinan menjadi sesuatu yang diwariskan, bukan takdir. Anak-anak yang lahir dalam jarak terlalu dekat bukan hanya berisiko stunting secara fisik, tapi juga ‘stunting’ dalam kesempatan hidup. “Saya melihat perempuan-perempuan yang menua sebelum waktunya, yang matanya kehilangan binar karena setiap tahun rahimnya harus bekerja tanpa jeda, semua karena mereka dilarang memutus ‘rezeki’ oleh lingkungan yang tidak mau membantu memberi makan anak-anak itu.”

Baca Juga: Kenapa Vasektomi Jadi Syarat Bansos Juga Merugikan Perempuan? Meningkatkan Stigma dan Kekerasan Berbasis Gender

Lalu, bagaimana sang aktivis yang juga seorang pendeta dan akademisi ini melawan? Bukan dengan membalas teriak, tapi dengan membisikkan keberanian. “Kami menggunakan bahasa persaudaraan,” jelasnya. Di lingkaran-lingkaran kecil saat mencuci baju atau menjemput anak sekolah, mereka mulai bicara tentang hak untuk tidak sakit, hak untuk cukup tidur, dan hak untuk melihat anak tumbuh sehat.

Strateginya adalah mengubah sudut pandang: bahwa ber-KB bukan melawan takdir, melainkan tindakan mulia untuk menjaga amanah kehidupan.

“Kami tidak hanya memberi mereka alat kontrasepsi,” pungkasnya sambil merapikan tumpukan berkas di mejanya, “kami memberikan mereka kembali kunci atas rumah mereka sendiri: tubuh mereka.”

Lantas Mengapa Mitos Ini Masih Bertahan?

Mitos kontrasepsi di Maluku tumbuh  di tanah yang subur akan tabu. Ketika seksualitas dianggap kotor untuk dibicarakan secara jernih, maka rumor menjadi satu-satunya sumber informasi. Informasi “katanya” lebih dipercaya daripada penjelasan dokter karena “katanya” disampaikan dengan bahasa empati oleh tetangga, sementara dokter seringkali hanya bicara soal prosedur medis yang dingin.

Nur, Asra, Sri  dan ribuan perempuan lainnya, terjepit di antara keinginan untuk mengatur hidupnya dan narasi-narasi menakutkan yang tak kunjung diklarifikasi. Pendidikan seksual bukan hanya soal anatomi, tapi soal menghancurkan hantu-hantu informasi yang membuat perempuan merasa bersalah atas pilihan tubuhnya sendiri. Mitos-mitos ini adalah cermin dari betapa jauhnya jarak antara kebijakan publik dan realitas psikologis masyarakat. Selama kontrasepsi masih dianggap sebagai intervensi yang “melawan kodrat” daripada sebuah alat pemberdayaan, maka “karat” di dalam rahim dan “keringnya” kesuburan akan terus menjadi hantu di bilik ranjang kita sendiri.*

Liputan ini merupakan republikasi hasil kolaborasi antara Terasmaluku.com, KabarMakassar, Konde.co dan didukung oleh BBC Media Action. Baca artikel asli di sini.

Insany Syahbarwaty

Jurnalis Teras Maluku
Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

Creative Commons License

1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

Let's share!