Lebaran Ideal Lansia yang Bekerja, Mbah Sri dan Mbah Kartini Menanti Anak-Cucu Lewat Semangkuk Soto

Bagi Mbah Sri dan Mbah Kartini, tak ada pilihan selain menyongsong momen Lebaran Idul Fitri dengan bekerja, demi dapat menjamu anak-cucu meski mulai jarang berkunjung.

Di dua lokasi berbeda di Kota Malang, Jawa Timur, dua perempuan lanjut usia (lansia) bernama Mbah Kartini dan Mbah Sri sibuk bekerja sejak selepas sahur hingga berbuka puasa di bulan Ramadan.

Bayangan bertemu anak, cucu, dan cicit dalam keadaan sehat saat Lebaran Idul Fitri pada pertengahan Maret 2026 mendatang, melekat kuat di benak mereka.

Dua lansia yang harus bekerja di usia emasnya, punya gambaran lebaran ideal untuk dilewatkan bersama kerabat dekat di hari Istimewa Lebaran Idul Fitri. Mereka bekerja setahun dan menabung untuk jamuan sehari bersama anak dan cucu.

Cerita pertama datang dari Mbah Kartini. Di usia yang menginjak angka 86, ia bekerja memilah dan menjual sampah. Dia tinggal di dalam gang sempit di tepi sungai Jalan Jaksa Agung Suprapto Dalam, Kecamatan Klojen, Kota Malang. Rumahnya kecil, dengan pajak tahunan kurang dari Rp10 ribu dan memiliki tiga kamar. Masing-masing untuk dirinya, adik laki-lakinya, dan satu cucu perempuan yang terkadang singgah. Terdapat pula kamar mandi, dapur yang tepat berada di atas sungai, ruang tengah, dan ruang tamu di depan.

Suara Mbah Kartini lantang dan jelas, ingatannya tergolong kuat. Ia menjelaskan kegiatannya sejak bangun sahur, Jumat hari itu. 

“Saya sahur, pakai nasi dan menjes. Maaf nggih… Kulo nggadahe niku, kulo syukuri (saya hanya punya itu, saya mensyukurinya),” kata Mbah Kartini kepada Konde.co, Jumat, 13 Maret 2026.

Baca Juga: Perayaan Lebaran Bisa Picu Body Dysmorphia: Hindari atau Tanggapi Komentar Negatif adalah Pilihan Perempuan

Mbah Kartini sangat ramah dan gemar tersenyum dengan gigi yang tak lagi lengkap di bagian depan. Dia lantas menunjukkan dapur tempat ia memasak makanan sehari-hari.

Di dapur itu, dia juga memasak lauk serupa ditambah sayur daun kelor untuk sarapan adik laki-lakinya yang tidak puasa. 

Adik kulo niku, maaf, cacat nggih, mboten saget dipenging, mboten saget dikandani (adik saya itu orang dengan gangguan kejiwaan, tidak bisa dilarang atau diberitahu),” lanjut Mbah Kartini. Adiknya berusia 6 tahun lebih muda dari Mbah Kartini.

Mbah Kartini di samping sampah yang sudah dipilah. (Foto: Dyah Pitaloka/Konde.co)

Pagi itu dia duduk di kursi pendek, dikelilingi bungkusan sampah yang telah dipilah sesuai jenisnya. Ada sampah plastik, kertas, botol, juga kardus sesuai ketebalan masing-masing. 

“Sejak pagi tadi saya memilah dan mencacah kertas ini. Adik saya mengumpulkan ini selama tiga hari terakhir,” katanya.

Edisi Khusus Feminisme: Feminisme Radikal Ajarkan Bagaimana Melawan Penindasan Tubuh Perempuan

Ia hapal harga per kilo sampah yang telah dipilah dan dibersihkan. Sampah botol ukuran besar dihargai Rp3.000 per kilo, gelas plastik Rp1.500 per kilo, kertas putih yang telah dicacah dan kertas berwarna Rp1.500 per kilo, kaleng atau seng Rp500 per kilo, dan sampah plastik Rp1.000 per kilo. 

Plastik niku jarang purun lek mboten sekaligus, soale sekilo kudu katah plastike (Pengepul tak begitu suka membeli plastik jika tidak langsung satu kilo, sehingga harus banyak plastiknya, sebab ringan),” tuturnya.

Pendapatan dari menjual sampah disebutnya tak tentu. Terkadang Kartini mendapat Rp22 ribu setelah tiga hari memulung sampah. Atau mengantongi Rp55 ribu dalam seminggu jika nasibnya sedang mujur. Pekerjaan tersebut dijalaninya sejak beberapa tahun terakhir.

Rumiyin saya kerja dengan suami di Surabaya, terus balik mriki jadi PRT (Pekerja Rumah Tangga) sekitar 33 tahun. Tahun 2010 saya berhenti jadi pembantu karena harus ngurusi adik saya ini yang kecelakaan,” katanya.

Baca Juga: Dari Utara ke Selatan: Menikmati Suasana Sepi Jakarta Saat Lebaran

Sejak itu, perempuan kelahiran Tumpang, Kabupaten Malang itu berganti profesi menjual berbagai gorengan yang dijajakan di dalam RSUD Syaiful Anwar. Letaknya tak jauh dari gang kecil tempat rumahnya berdiri. Namun profesi barunya harus berakhir setelah pihak rumah sakit melarang penjual untuk masuk, termasuk Kartini. Ia pun melakukan berbagai pekerjaan lain, di antaranya memulung sampah.

Setahun terakhir, adiknya menyusul tinggal di Kota Malang meninggalkan rumahnya di desa. Kartini pun gembira, dia tak lagi sendiri. 

Bapake sedo tahun 2004. Anak kulo kaleh, sedo naliko kerjo di Surabaya. Mereka setep (Suami saya meninggal tahun 2004. Dua anak saya meninggal di usia balita waktu kami di Surabaya. Mereka kejang),” tutur Kartini. Sejumlah bantuan sosial berupa uang tunai dari pemerintah, juga beras yang disalurkan lewat kelurahan setempat, sangat membantu meringankan kebutuhannya

Mbah Kartini adalah anak kedua dari tujuh bersaudara. Kini tersisa dua adiknya yang semuanya ada di Malang. Sebagai bagian dari anak tertua, rumahnya dahulu sering menjadi jujugan cucu dan cicit dari adik-adiknya.

Seiring berjalannya waktu, tradisi mengunjungi rumah saudara tertua tak selalu berlangsung di setiap lebaran. Namun bagi Mbah Kartini, harapan berkumpul bersama saat lebaran tetap selalu dinanti.

Ia mengingat, di setiap lebaran ia akan bangun pagi menunaikan shalat Subuh hingga berangkat shalat Idul Fitri di masjid tak jauh dari gangnya.

Sepulang dari masjid, Mbah Kartini gemar memasak soto, atau ceker pedas kegemarannya. Ayam dan ceker sudah disiapkan sehari sebelum suara takbir menggema. “Dados kulo masak langsung setelah shalat Ied, tapi yo sak wontene. (Jadi saya masak setelah shalat Ied, tapi ya seadanya),” terang Mbah Kartini.

Baca Juga: Selamat Lebaran, Semua Dimaafkan, Kecuali Penguasa yang Zalim

Sejumlah cucu dan cicitnya gemar menyantap soto buatannya. Namun bila ayam tak mampu dibeli, Mbah Kartini berupaya menyiapkan tempe goreng, juga sambal dan kerupuk untuk disantap bersama. 

Kulo seneng lek putu-putu niku mriki, tapi niki empun dangu mboten ngriki. Teko gak teko sing penting wes ono (Saya bahagia jika cucu saya datang, tapi ini sudah lama mereka tidak berkunjung. Datang atau tidak yang penting sudah ada makanan),” tuturnya.

Tak mudah bagi Mbah Kartini untuk menyiapkan hidangan bagi belasan cucu yang sudah dewasa beserta cicitnya. Ia harus menabung dari jauh hari untuk membeli semua bahan-bahannya. Semuanya dilakukan untuk menjamu cucu dan cicitnya yang lama dinanti. Meski untuk itu, ia sering disebut pelit oleh orang di sekitarnya lantaran jarang menggunakan uangnya untuk kebutuhan sampingan. 

Sebutan pelit juga didengar ketika Kartini menolak meminjamkan uang kepada tetangganya. “Kulo ancene medit lek diutangi mboten angsal. Soale lek butuh nggih pas sakit niku arep njaluk sopo (Saya memang pelit, tak pernah memberi utang. Sebab kalau sakit saya pasti bingung, mau minta uang siapa),” tuturnya.

Hasil keringatnya banyak ditabung untuk membayar tagihan listrik dan air yang mencapai Rp100 ribu setiap bulan. Termasuk kebutuhan sehari-hari, kebutuhan tidak terduga saat sakit, juga nanti saat lebaran tiba. Kartini bahkan menabung untuk mengeluarkan dua zakat fitrah dirinya dan adiknya. Menyisihkan uang untuk menjamu cucu dan cicit yang selalu diingatnya tanpa pamrih.

Kilo niki mboten kepingin ditumbasaken gula, klambi, mboten. Sing penting diakoni. Nek ono panganan yo ayo dipangan, nek mboten wonten nggih anane ngoten. Kulo mboten purun dibalesi gulo, klambi, sing penting dugi. (Yang penting itu saya diingat. Kalau ada makanan ya silakan dimakan, jika tidak ada ya memang adanya seperti itu. Saya tidak mau pamrih minta balasan gula atau baju, yang penting datang),” ulangnya lagi.

Baca Juga: Alasan Kita Lebih Mudah Saling Memaafkan Saat Idul Fitri, Tapi Amat Sulit di Luar Lebaran

Tak jauh dari Mbah Kartini, ada Mbah Sri Suwarni yang tinggal di Jalan Gajayana, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang. Mbah Sri berusia 73 tahun, atau 13 tahun lebih muda dibanding Mbah Kartini. Setiap harinya, Mbah Sri membuat kue cenil, klepon, dan makanan pesanan lain. Bila tidak hujan, kue buatannya akan dijajakan di pintu masuk Universitas Brawijaya, di sekitar Jalan Veteran setiap siang hingga petang.

Mbah Sri juga tetap berjualan selama Ramadan. “Niki wonten pesenan, mangke dipendet jam telu nak (Ini ada pesanan, nanti diambil jam 15.00),” kata Mbah Sri, Minggu, 15 Maret 2026. 

Ia tampak mencuci dandang dan wajan, alat untuk memasak kue pesanan pagi itu. Hujan yang turun sejak pagi membuat lantai di sekitar dapur menjadi basah. Rumah Mbah Sri berupa bangunan lama dua lantai berbentuk U. Dapurnya menghuni bagian paling depan bangunan itu. Kamar di bawah dan atas tampak tak berpenghuni. 

Niki singen nggeh bapak-ibuk kulo ten mriko sedoyo (Rumah ini dulu ditempati bersama orang tua dan keluarga kami),” kata Mbah Sri menuturkan masa lalu rumahnya.

Ia tinggal di bagian depan rumahnya. Bangunan lama dengan sejumlah sofa dan kursi lapuk dimakan usia. Terdapat dua motor matic terparkir di dalam ruangan itu. Perempuan berusia 73 tahun ini berharap bisa membeli tikar untuk lebaran nanti. Agar anak dan cucunya bisa duduk dengan layak. “Kepingin tuku kloso nak, cek iso digae lungguh genah lek riyoyo (Saya ingin beli tikar, agar bisa dipakai tamu untuk duduk saat lebaran),” kata Mbah Sri.

Rambutnya memutih. Jalannya tak lagi tegap, namun Mbah Sri tetap bekerja setiap harinya. Nenek dengan 12 cucu ini memiliki 11 saudara lain yang kini hanya tersisa tiga orang. Semua cucunya didapat dari tiga anak yang semuanya berada di sekitar Malang. Seorang anaknya tinggal tepat di depan rumahnya berjualan teh dan makanan ringan.

Mbah Sri tersenyum ketika ditemui di kediamannya. Dok: Dyah Pitaloka/Konde.co

Soal makan Mbah Sri tak pernah khawatir kekurangan. Setiap hari anaknya bergantian mengantarkan makanan untuk Mbah Sri. Meski ia menolak jika anaknya memberi uang bulanan. 

Kulo mboten purun, soale sedoyo sami nggada yugo (Saya tidak mau diberi uang bulanan, sebab semua anak-anak saya ya sama-sama punya anak sendiri),” katanya menjelaskan mengapa ia tak mau menerima uang bulanan dari anaknya.

Baca Juga: Kamus Feminis: Dari Ndasmu, Anjing Menggonggong Hingga Antek Asing, Label Sebagai Alat Pembungkaman

Mbah Sri tetap bekerja setiap hari. Berangkat ke pintu masuk Universitas Brawijaya menggunakan ojek online, begitu pula ketika pulang. Mbah Sri mengandalkan tetangga atau siapapun yang bisa membantunya memesan ojek online untuk berangkat dan pulang kembali. “Singen numpak mikrolet, sak niki nggeh sak wontene tiang sing mbantu mesen ojek (Dulu saya naik angkot, sekarang ya naik ojek online dibantu siapapun yang mau memesankan),” lanjutnya lagi.

Berjualan saat Ramadan diakuinya sering lebih cepat habis. Beberapa pembeli memborong dagangannya untuk dibagikan pada pejalan kaki. Mbah Sri pun tak pernah berhitung untung. Ia akan pulang dan membagikan semua barang dagangan tersisa dengan gratis jika pendapatannya sudah cukup untuk berbelanja kebutuhan keesokan harinya. 

Pokok  cukup damel tumbas beras, kopi, gulo abang, gulo klopo, kanji. Lek dagangan tasik sisa ngge kulo dum-dumi (Yang penting cukup untuk beli beras, kopi, gula merah dan kanji. Jika makanan masih sisa akan saya bagikan gratis,” ujarnya.

Meski Mbah Sri juga menabung sebesar Rp15 ribu hingga Rp25 ribu dari setiap kali berdagang. Uang itu dipakai jaga-jaga bila jatuh sakit sebab Mbah Sri tak punya BPJS. Masih melekat kuat ingatan saat Ramadan tahun lalu. Mbah Sri jatuh sakit selama 2,5 bulan, tak bisa bekerja sebab tangan kanannya tak bisa digerakkan.

Mbah Sri berencana libur kerja di hari pertama Lebaran tahun ini. Namun ia berancang-ancang kerja lebih cepat jika pesanan kue tak mau libur. Tak ada pilihan berhenti kerja bagi Mbah Sri yang hidup tanpa uang pensiun di usia emasnya. 

Nggih pre pas riyoyo deng. Tapi lek wonten pesenan nggeh nyambut damel maleh (Libur di hari pertama lebaran, tapi ya kerja lagi jika ada pesanan masuk),” kata Mbah Sri.

Ramadan ini ia pun berdoa agar selalu diberi kesehatan dan cukup uang untuk berobat serta memberi anak cucunya saat mengunjunginya. Uang yang cukup untuk menyediakan kue dan kudapan bagi kerabatnya yang berkunjung. 

Lebaran sak niki pokoe kulo pengen waras, kecukupan. Damel nyangoni putu, ponakan adoh mampir saget nyuguhi jajan (Lebaran kali ini yang penting saya ingin sehat dan berkecukupan. Punya uang untuk membelikan kue cucu dan keponakan jauh yang berkunjung),” katanya berharap.

(Editor: Salsabila Putri Pertiwi)

Dyah Pitaloka

Kontributor Konde.co, selama 18 tahun bekerja menjadi jurnalis dan dosen di Malang.
Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

Creative Commons License

1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

Let's share!