Riuh seribuan pengunjung silih berganti memadati area pameran Art Jakarta Paper di Pondok Indah Mall 3, Jakarta Selatan, sepanjang 5 hingga 8 Februari 2026. Belum usai acara, puluhan galeri pengisi pameran sudah meminta ikut serta di pameran serupa tahun depan. Koleksi mereka nyaris kosong diserbu peminat seni kertas, bahkan sebelum pameran ditutup.

Namun kondisi kontras muncul di Kampung Wisata Payung Kertas, Pandanwangi, Kota Malang. Berjarak sekitar 800 kilometer, kampung yang diresmikan hampir 10 tahun lalu, kini seolah mati suri. Tak hanya keberadaan payung kertas yang terancam punah. Fungsi kampung tematik untuk mendongkrak perekonomian masyarakat pun seolah tak berjejak.
Demi melihat perbedaan itu, setelah mampir dari Art Jakarta Papers, saya mendatangi Kampung Wisata Payung Kertas. Saya bertemu Nia, perajin payung kertas di RT 5, RW 3 Kelurahan Pandanwangi, Kecamatan Blimbing, yang menegaskan sepinya usaha payung kertas mereka.
“Ya seperti ini, Mbak. Ramainya satu hari saja, waktu peresmian,” katanya kepada saya, Selasa, 10 Maret 2026. Meski bernama Kampung Wisata Payung Kertas, permukiman di dalam Gang Taruna III itu hanya memiliki tiga perajin payung kertas. Mereka adalah Nia dan kedua orang tuanya.
Ibu rumah tangga dengan satu anak itu mengingat riuh suasana kampungnya ketika diresmikan sebagai kampung payung kertas, tahun 2017 lalu. Ada Walikota bahkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan kala itu Muhadjir Effendy datang meninjau kampungnya. Saat itu ia merasa bangga.
Baca Juga: ‘Ibu Bumi Memberi, Ibu Bumi Disakiti, Ibu Bumi Mengadili’ Pameran Seni Perlawanan Perempuan Menolak Tambang
“Tidak perlu jauh-jauh ke Solo, ini loh di Malang ada payung kertas, kami yang membuat dan asli dari sini,” ingatnya.
Nia adalah cucu dari Mbah Rasimun alias Mbah Mun, satu-satunya maestro payung kertas yang tersisa di kampungnya. Maka momen itu menjadi kebanggaan karena kerja keras kakeknya mendapat pengakuan negara. Tidak hanya itu, Nia juga ingat pendapatan dari penjualan payung saat itu terasa besar.
“Kebantu banget pendapatannya, pesananan setelah itu banyak datang, utamanya dari sekolah-sekolah,” lanjutnya. Kala itu Nia baru saja menyelesaikan pendidikan SMK-nya.
Sayang, hampir 10 tahun berlalu, kondisi kampung tersebut kini jauh berbeda. Keberadaan payung kertas hanya tampak di pintu masuk gang kediaman Nia. Tak jauh dari gapura bambu itu, terdapat mural bertema payung—warnanya pun pudar.
Mbah Rasimun sendiri sudah meninggal dunia pada November 2025. Kini Nia dan ayahnya, Rusman, menjadi dua generasi terakhir penerus seni payung kertas Mbah Mun. Meski pesanan masih ada, namun jumlahnya tak lagi banyak. Sedangkan kebutuhan keluarga Nia bertambah.
“Pesanan tak sebanyak dulu. Kalau banyak ya lumayan, bisa buat tambah beli kebutuhan pampers dan susu anak saya,” kata perempuan berusia 29 tahun itu.
Baca Juga: ‘Raminten Universe: Life is a Cabaret’ Rayakan Keberagaman Lewat Seni Crossdressing

Ia tak lagi bekerja di luar rumah setelah menikah. Suaminya memintanya tinggal di rumah saja. Kini mereka menetap di kediaman orangtuanya di ujung gang buntu. Di sana tinggal pula anak, suami, ayah dan ibunya, juga seorang adik laki-lakinya.
Ibu Nia adalah pekerja rumah tangga (PRT), bekerja sejak pagi hingga larut malam. Suaminya dan adik laki-lakinya menjadi pekerja bergaji tetap di sektor swasta. Hanya Nia dan ayahnya, Rusman, yang lebih banyak mengerjakan payung jika ada pesanan. “Kalau Ramadan seperti ini saya buka pesanan kue coklat kering, hasilnya lumayan meski setahun sekali,” imbuh Nia.
Di ruang tamu berukuran 3×4 meter persegi itu, Nia mengerjakan pesanan payung. Terdapat dua motor terparkir di ruang yang sama. Di antara tiga bersaudara, hanya Nia yang bisa membantu bapaknya, Rusman, mengerjakan payung. 30 payung kecil selesai dibuat bulan lalu. Kini mereka menunggu pesanan datang lagi.
“Kalau kampung ramai seperti dulu ya sangat membantu sekali. Akan banyak pesanan, tapi minusnya kita sekarang kurang perajin payung,” tutur Nia.
Laiknya napas yang tak lagi panjang, nasib payung kertas Mbah Rasimun kini di ujung tanduk. Nia yang sejak kecil membantu kakeknya, juga tak bisa membuat satu payung utuh. Bersama ibunya dan Rusman, Nia kebagian menyulam benang sebagai tempat jeruji payung. Hanya Rusman yang bisa membuat payung secara utuh.
“Dari 10 bersaudara anak Bapak (Mbah Mun), hanya saya yang bisa membuat payung kertas,” kata Rusman, Sabtu, 28 Februari 2026.
Baca Juga: #OkeGasAwasiRezimPrabowo: Pemberedelan Sukatani dan Karya Seni Kritis, Alarm Bahaya dari Rezim Antikritik
Siang itu ia tampak menyapukan kuas dengan cat warna hijau pada payung kertas berukuran kecil. Harganya 25 ribu Rupiah dan payung paling besar 75 ribu Rupiah. Ia meneruskan jejak orang tuanya, Mbah Rasimun, sang maestro payung kertas, yang tutup usia November tahun lalu.
“Dulu sejak tahun 1945, banyak warga di sini yang bisa membuat payung. Tapi yang tetap bertahan hanya bapak saya saja, kami memanggilnya Mbah Mun,” tuturnya.
Rusman, yang kini tak memiliki pekerjaan tetap, menyebut Kampung Payung Kertas akan hidup kembali bila warga setempat ikut terlibat. Namun sejumlah kendala masih menghantuinya. Mulai dari ketiadaan struktur organisasi serupa Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), kepastian manfaat ekonomi untuk warga sekitar, hingga kekhawatirannya berbagi cara membuat payung. Rusman takut, teknik membuat payung turun temurun bakal berpindah tangan.
“Sulit meyakinkan warga untuk terlibat, sebab banyak yang ingin mendapatkan hasil cepat,” katanya.

Seolah mengunyah buah simalakama, di satu sisi kampung tematik tak akan hidup jika perajin payung terbatas jumlahnya. Sedangkan di sisi lain ia khawatir peluang bisnisnya mengecil lantaran persaingan tak sehat. “Dulu waktu ada pengunjung ke sini mereka pengin tahu cara buatnya, tapi saya rahasiakan. Sebab kalau diambil alih mereka, nanti gimana. Di sini kami gak punya apa-apa,” katanya risau.
Namun, ia masih berkeinginan menghidupkan kembali Kampung Payung Kertas. Bersama beberapa warga ia mulai berpikir tentang struktur kepengurusan. Rusman juga meminta izin pada perangkat RT dan RW setempat untuk berkegiatan kembali, serta berpikir tentang pengajuan hak intelektual atas payung kertas. “Saya juga masih banyak bertanya, sambil jalan saja semoga bisa hidup lagi tahun ini,” katanya.
Baca Juga: ‘Witch’ dan ‘Wizard’, Beda Julukan Penyihir adalah Bentuk Bias Gender dalam Seni dan Sejarah
Payung kertas buatan Mbah Mun dikenal memiliki bentuk unik. Semua bahan dasarnya bisa didaur-ulang. Mulai dari kayu dan bambu untuk rangkanya, janur, hingga kertas samson untuk bagian tudung payung. Lukisan khas bunga disapukan menggunakan kuas dari pelepah kayu sono dan juga bambu. Payung kertas Mbah Mun tak hanya berfungsi untuk peneduh, tetapi juga memiliki nilai unik.
“Payung Mbah Mun itu otentik dan berbeda dari payung lain,” kata Heru Mataya, penggagas Festival Payung Indonesia, Minggu 1 Maret 2026.
Di festival tahun 2017, karya Mbah Mun pertama kali bertemu dengan payung lain dari seluruh Indonesia bahkan juga Asia. Ada payung dari Tasikmalaya, Jepara, Bali, Sawahlunto, yang kemudian berkembang menyertakan payung dari Thailand dan negara lain di Asia dan dunia. “Payung Mbah Mun itu disimpan di Chiangmai sejak 2017,” lanjutnya.
Kondisi dahulu yang berbalik dengan saat ini tak pelak membuat Heru turut resah. Keberadaan payung kertas kini terancam hilang. Tak banyak yang mampu meneruskan jejak Mbah Mun. Masalah yang juga banyak dijumpai di sentra payung daerah lain. Wilayah yang bisa berkembang justru mereka yang bisa melestarikan dan berinovasi.
“Sekarang diteruskan anaknya; tentu karyanya juga berbeda dengan buatan Mbah Mun. Tidak masalah, itu bagian dari upaya melestarikan. Jika mengejar hak intelektual tapi tidak berkembang lantas apa fungsinya. Seharusnya ada regenerasi dulu, baru kemudian dipatenkan,” katanya.
Ia pun mengusulkan adanya museum payung kertas di Kampung Payung Kertas sebagai bagian sarana yang bisa dikunjungi tamu. Isinya bisa berbagai perkakas Mbah Mun hingga perjalanannya dalam menekuni kerajinan payung kertas. Di sana, keluarga Mbah Mun bisa menjelaskan asal usul payung kertas pada pengunjung, selain menyediakan sarana lain.
Baca Juga: Cok Sawitri, Perempuan Seniman Pembongkar Mitos Perempuan
“Sehingga tanpa Haki pun, orang akan tahu bahwa ini adalah payung kertas Mbah Mun, lewat museum, lewat catatan dan cerita yang ada. Muaranya akan tetap ada di Mbah Mun,” terangnya.
Layaknya kertas pada umumnya, kertas jenis samson juga mudah digunakan untuk kebutuhan praktis dan dasar seperti menulis, menggambar, juga sketsa. Namun bukan berarti kertas yang keberadaannya mudah dijumpai, tak punya nilai artistik.
“Sebelum melukis, seniman membuat sketsa dulu di kertas. Tetapi justru kami merasa ada keunikannya di sini,” kata Adinda, perwakilan penyelenggara Art Jakarta Papers 2026, Minggu 8 Februari 2026 di Jakarta.
Tahun ini menjadi kali pertama Art Jakarta menyelenggarakan pameran dengan medium kertas. Hasilnya, animo 28 galeri peserta dan juga pengunjung justru di luar dugaan. Fair Director Art Jakarta Tom Tandio menyebut banyak galeri memesan pameran kembali tahun depan. “Banyak first buyer juga, sebab harganya memang lebih miring dan karyanya juga punya nilai seni,” katanya di tempat yang sama.
Begitu pun payung kertas Mbah Mun. Dosen Ilmu Sejarah di Universitas Negeri Malang Dwi Cahyono mengingat, payung kertas itu dahulu memiliki fungsi praktis di keseharian. Mulai dari payung untuk ritual mengantar jenazah ke makam, payung untuk melindungi makam ari-ari bayi, hingga payung untuk kebutuhan sehari-hari seperti payung hujan atau payung peneduh saat berjualan di tanah lapang.
Seiring bergesernya zaman dan temuan bahan lain yang lebih awet, payung kertas dalam nilai praktisnya tak lagi banyak dicari. Sedangkan Dwi menilai payung Mbah Mun kini masih muncul dalam bentuk yang sama. Belum memiliki nilai kreasi pun inovasi. Seolah tertelan laju zaman, payung kertas Malang kini sekarat hendak kehabisan napas.
“Kalau ikut pameran jadi cenderung ndak laku. Tradisi pameran lebih ke kreasi,” kata Dwi, Selasa 3 Maret 2026.
Baca Juga: Seniman Perempuan Bertubuh Mini: Tidak Pernah Merasa Kecil Meski Kerap Dikecilkan
Keberadaan payung kertas Mbah Mun sejak tahun 1945-an pun disebut sudah memenuhi nilai Warisan Budaya Kebendaan, sehingga patut dilestarikan. Namun tanpa kemauan berbagi dari keluarga Mbah Mun, ia memperkirakan payung kertas itu akan hilang dalam dua hingga tiga tahun ke depan. “Sekarang menjadi penting bagi keluarga Mbah Mun berbagi teknis membuat payung, agar lestari. Jangan sampai privatisasi dalam bentuk paten itu justru menghambat pelestarian karena tidak bisa dikerjakan bersama-sama,” lanjut Dwi.
Agar hak kekayaan intelektual bisa seiring dengan pelestarian, Dwi berharap payung kertas bisa dikembangkan menjadi dua karya berbeda.
“Perlu payung klasik yang diuri-uri (dirawat), dan payung kreasi seperti ditambah ornamen atau lukisan candi khas Malang atau hal lain. Tradisi murni mungkin bisa dipatenkan, tapi art-nya bisa terus berkembang,” ucapnya.
Kampung asal Mbah Mun terbangun di sepanjang sungai irigasi. Warga lokal mengenal wilayah perbatasan dengan Kabupaten Malang ini sebagai Lok Padas. Sebuah kampung lawas yang telah ada sejak era kolonial. Di tahun 2015, wilayah ini masuk sebagai salah satu kawasan kumuh Kota Malang. Keterlibatan warga, menurut Dosen di Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya Novi Sunu Sri Giriwati, mutlak dibutuhkan jika ingin kampung tematik berjalan. Maka manfaat ekonominya mutlak pula harus dirasakan warga di perkampungan lawas itu.

Agar kampung tematik berjalan, masalah sosialnya harus diselesaikan lebih dahulu. Harus ada keinginan bersama dari warga kampung, bisa dalam bentuk organisasi di mana masing-masing warga memiliki fokus pekerjaan berbeda. Juga kemauan warga untuk bersama membesarkan kampung.
“Kampung tematik pendekatannya bottom up, bentuknya participatory community based tourism. Jadi harus rembug dulu, apakah mereka mau terlibat dan berkenan. Misalnya Bu Ani mau rumahnya jadi tempat workshop, Bu Yuyun mau jualan makanan, dan yang lain,”katanya Kamis 5 Februari 2026.
Baca Juga: Prioritisasi Perempuan Seniman Mulai Dirintis
Soal kekhawatiran anak Mbah Mun terkait pesaing bisnis, ia menyarankan ada paten berupa merek dagang. “Misalnya merek “Payung Kertas Mbah Mun”. Warga lain bisa ikut membuat payung dengan sistem bagi hasil, sehingga keluarga Mbah Mun tetap mendapatkan manfaat ekonomi,” lanjut doktor perempuan jebolan Kyushu University ini.
Bila masalah sosial sudah teratasi, maka kampung tematik bisa didesain dengan memenuhi unsur atraksi, akomodasi dan aksesibilitas serta 3S, something to do, something to see dan something to buy. “Ada atraksi melukis payung di beberapa rumah warga, ada musala dan toilet, ada berbagai payung berbeda yang bisa dibeli, ada papan informasi dan peta kampung,” katanya memberi contoh.
Tak hanya kampung lebih hidup, kondisi itu juga bisa membawa pengunjung tinggal berlama-lama di dalam kampung. Semakin lama pengunjung tinggal, semakin besar potensi pendapatan warga. “Ada yang haus ya beli minum, ada yang lapar mungkin ada warga yang membuka warung makanan khas jika ada,” imbuhnya.
Novi mendorong kolaborasi antara warga, pemerintah, juga akademisi agar terwujud kampung tematik yang berkelanjutan. “Kampus punya pengabdian masyarakat, warga bisa mendapatkan pendampingan multi years tak perlu risau. Asalkan syaratnya satu, warganya punya kemauan,” tandasnya.






