Desi duduk menyamping di sebuah kursi samping kontrakan yang dijadikan rumah aman (shelter) bagi komunitas transpuan. Dia memakai daster hitam motif bunga dengan nuansa batik, rambutnya yang panjang lurus digerai.
Mak Echi, panggilan akrab Desi, menyambut kedatangan saya dengan senyum terkembang. Dia menyapa saya yang sedikit tergopoh karena sempat tersesat saat menyusuri gang yang hanya muat untuk kendaraan bermotor.
Beruntung, Mak Echi sigap meminta pasangannya, Alex, untuk menjemput saya di depan gang di kawasan Jakarta Barat itu. Ia kemudian memandu saya menuju shelter dengan melewati gang yang berkelok dan menurun dari jalan raya.
“Nyasar ya?” Mak Echi, mempersilakan masuk ke ruangan bercat hijau dengan kamar utama dilengkapi dapur dan kamar mandi, pada Jumat sore (21/2/2025).
Dari jalan gang, ruangan itu akan langsung menampakkan ruang tidur yang hanya muat untuk dua kasur single. Di sisinya, ada satu lemari kayu, satu meja untuk vas bunga, dan satu lemari kerangka besi yang digunakan untuk menaruh galon dan peralatan makan.
Tepat di sebelah kiri kamar, ada lagi ruangan sekitar 1,5 x 4 meter. Ruangan itu dibagi dua sekat untuk dapur dan kamar mandi berlantai plester semen.
Lebih baik dari kondisi sebelumnya, Mak Echi bilang, sekarang kamar itu sudah lebih nyaman dengan adanya plafon, kipas, dan cat ulang agar tidak lembab.
Saat ini, ada dua transpuan yang tinggal di shelter itu. Mereka berinisial S yang bekerja di jalanan dan I sebagai pegawai warung tegal (warteg). Keduanya berusia sekitar 30 tahunan.
“Beberapa waktu lalu, saya bilang ke Toyo (Hartoyo), butuh 1 kasur lagi. Syukur ada yang bisa bantu. Sebelumnya cuma ada 1 kasur dan terpaksa satu orang harus tidur di lantai beralaskan matras,” kata Mak Echi sambil menunjukkan matras lipat di atas lemari.
Mak Echi bercerita, S dan I tinggal di shelter karena kondisi ekonomi yang tidak ada uang cukup untuk membayar kontrakan. S sebelumnya tidur di kolong jembatan. Begitupun I yang tak punya tempat tinggal sementara saat itu dia belum bekerja.
Saat Konde.co berkunjung ke shelter, hanya tampak S yang sedang beraktivitas. Hari itu dia sedang tidak berangkat kerja. Jika begitu, biasanya dia akan membersihkan dan mengurus shelter.
S lewat selintas dan mengucap permisi. Dia tengah memanggul galon di pundaknya ke dapur. S tak banyak bicara. Ia kemudian pamit untuk pergi bersama kawannya menerjang hujan sore itu yang kian deras.
“S memang pemalu orangnya,” kata Mak Echi.
Baca Juga: Sejarah Istilah ‘Transpuan’ dan Perjuangan Keadilannya
Hari itu, I sedang tidak di shelter. Biasanya, I pulang ke shelter setidaknya 2 kali seminggu. Bekerja di warteg membuat jam kerja I dimulai pada malam hari untuk memasak. Sementara, siang sampai sore bahkan malamnya, berjualan. Jadinya, I sering menginap di warteg di daerah Jakarta Selatan itu.
Sebagai pendamping di shelter komunitas transpuan, Mak Echi bilang, konsep shelter ini memang untuk rumah aman sementara. Biasanya mereka akan tinggal satu sampai dua bulan, sampai dapat pekerjaan dan mampu membayar kontrakan sendiri.
Selama di shelter, mereka tak perlu membayar sewa kontrakan yang besarnya per bulan Rp750 ribu (belum termasuk listrik dan air). Mereka juga disediakan bahan kebutuhan pokok seperti, beras, minyak dan telur. Sementara untuk kebutuhan lainnya, tergantung kondisi transpuan yang tinggal: jika mampu menyediakan sendiri, Ia didorong untuk memenuhinya.
Mendampingi Sepenuh Hati
Sejak hadir pada 2022, setidaknya ada lebih dari 40 transpuan yang didampingi Mak Echi di shelter itu. Mereka berasal dari berbagai latar belakang seperti lansia yang terlantar, orang dengan HIV/AIDS, korban diskriminasi berbasis gender, hingga usia produktif yang belum punya pekerjaan dan tak punya tempat tinggal.
Mak Echi menerima mereka semua, asal mereka punya itikad baik, rajin, mau bangkit dan berusaha. Sementara ini, ada satu kriteria yang belum bisa Mak Echi terima, transpuan lansia yang sakit parah.
“Saya sendiri mengurus semuanya, gak sanggup kalau yang sakit parah kan butuh perhatian ekstra mengurusnya,” katanya.
Selama sekitar 3 tahun menjadi pendamping (buddy) bagi para transpuan yang ada di shelter berbasis komunitas di Jakarta Barat, Mak Echi punya banyak cerita. Tak sedikit yang getir.
Beberapa transpuan yang diceritakan Mak Echi seperti kisah R. Pada masanya, dia adalah transpuan yang punya bisnis lumayan sukses. Tapi di masa tuanya, dia terlantar dan tidur di bantaran sungai hingga akhirnya dia tinggal di shelter. Setelah kondisinya pulih, dia meminta kembali ke keluarganya. Namun, dua minggu kemudian Mak Echi menerima kabar dia meninggal dunia di gudang milik keluarganya.
“Sedih, ternyata R diasingkan.”
Baca Juga: Nestapa Transpuan: Sudah Terstigma, Tertimpa Polusi Udara Pula
Ada lagi kisah transpuan yang terkena tusuk akibat dirampok saat mengamen di jalan. Juga transpuan dengan HIV yang Mak Echi bantu pengurusan Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan BPJS Kesehatannya. Namun karena dia tidak rutin minum obat Antiretroviral (ARV) setelah tidak lagi di shelter, dua minggu setelahnya dia meninggal dunia.

Salah satu yang paling membekas di pikiran Mak Echi, kisah transpuan berinisial H yang tinggal di shelter akibat jadi korban persekusi dan diarak oleh warga karena identitas gendernya. Dia tinggal selama 3 bulan, sampai akhirnya dia pulih dan dapat pekerjaan. Kini, H bisa menyewa tempat tinggal dengan layak untuk dirinya.
Tak melulu berakhir sedih, banyak juga cerita transpuan yang Mak Echi dampingi di shelter akhirnya bisa hidup mandiri. Ada juga yang bisa dapat pertolongan memadai dari HIV dan infeksi menular seksual (IMS) yang menyebabkan katarak. Banyak dari mereka yang Mak Echi bantu untuk mengurus KTP dan BPJS Kesehatan.
Semua itu, Mak Echi lakukan dengan kesukarelaan dan lapang dada. Menceritakan mereka kembali, membuatnya teringat kesulitan yang mereka alami.
“Aku dari dulu, karena dari pengalaman-pengalaman yang aku lihat dari mata kepala aku sendiri, ada teman transpuan yang meninggal tanpa identitas, ditolak keluarga, aku yang menguburkannya. Ya Allah, ternyata kok begini banget sih jadi transpuan. Ya Allah jangan sampai teman-teman aku harus berjuang sendiri, sampai detik ini aku berjuang banget buat mereka yang membutuhkan.”
Baca Juga: Pameran ‘Ruang Rasa’, Transpuan Memaknai Trauma dan Keberanian
“Hati Mak Echi untuk teman-teman komunitas. Sayang banget sama mereka. Mak Echi rela berjuang untuk mereka,” lanjutnya.
Mak Echi melakukan kerja-kerja kemanusiaan sebagai pendamping di shelter berbasis komunitas di Jakarta Barat, secara sukarela. Dia bekerja sepenuh hati, meski tak ada anggaran untuk imbalan jasanya.
Guna mencukupi kebutuhannya sehari-hari, Mak Echi kini menjadi karyawan paruh waktu di salon perawatan milik temannya yang ada di Depok, Jawa Barat. Beberapa kali seminggu dia bolak-balik dari Jakarta Barat. Penghasilannya tak menentu, dihitung dari banyaknya pelanggan salon dan jenis perawatan yang dilakukan.
Bekerja dari pagi sampai malam, Mak Echi biasanya mendapatkan lima pelanggan. Pernah juga satu atau dua jika sepi.
“Upahnya per hari, misalnya creambath kita dapat komisi Rp20 ribu. Ada juga yang harga perawatannya jutaan kita bisa dapat sampai Rp200 ribu per perawatan.”
Di sela pekerjaannya, Mak Echi juga tak jarang diminta mendampingi orang dengan HIV (ODHIV) berobat. Mereka biasanya memberikan uang transpor kepada Mak Echi.
Inisiasi Shelter Berbasis Komunitas bagi Transpuan
Mak Echi adalah satu di antara sejumlah pendamping shelter berbasis komunitas bagi transpuan yang diinisiasi oleh Hartoyo. Mereka berasal dari kalangan komunitas transpuan juga dan bekerja dengan sukarela.
“Kalau berasal dari komunitas, mereka yang paling tahu kondisi dan kebutuhannya. Bagi penerima manfaat juga pasti akan lebih nyaman dengan komunitas, ini (konsepnya) kayak pendidikan sebaya lah,” Kata Hartoyo kepada Konde.co, Senin (10/2/2025).
Hartoyo bercerita, awal mula pendirian shelter bagi transpuan itu di Bekasi, Jawa Barat, sekitar tahun 2021. Saat itu, konsepnya belum berbasis komunitas. Tapi, shelter berupa rumah sewa yang ada penjaganya. Namun, konsep itu Ia nilai “gagal” karena tidak cocok dengan karakteristik shelter yang dibutuhkan secara mendadak dan sementara.
Di masa awal, sumbangan dari donatur tembus sampai Rp150 juta. Jumlah itu, Ia alokasikan untuk menyewa rumah selama setahun sebesar Rp30 juta, membayar penjaga shelter (jam kerja), dan membeli perlengkapan serta kebutuhan pokok. Ternyata, semuanya tak berjalan lancar.
“Memang kuncinya waktu itu sih, kayaknya orangnya ini (penjaga) yang mengurus shelter nggak tinggal di shelter. Itu yang menurutku satu masalah. Lalu kalau model kayak gitu, kita harus menyediakan uang benar-benar gitu loh, beda kalau shelter berbasis komunitas,” jelasnya.
Baca Juga: Demi Hari Tua, Melihat Pengalaman Transpuan Urus BPJS
Setelah menghabiskan masa kontrak sewa setahun, Hartoyo akhirnya tercetus ide untuk mengalihkan pengelolaan shelter berbasis komunitas.

Di sistem ini, komunitas transgender yang membutuhkan shelter di kondisi darurat bisa mengaksesnya di beberapa titik terdekat yang didampingi komunitas. Ada yang shelter-nya menyewa kontrakan perbulan/pertahun, ada juga shelter berupa ruangan di rumah pendamping yang tak perlu membayar seperti di Jakarta Selatan.
Untuk keperluan sehari-hari shelter, bisa dicukupi dengan donasi dari komunitas/lembaga serta individu. Selama ini, Hartoyo juga aktif melakukan live shopping di media sosial seperti akun Facebook pribadinya ‘Har Toyo’ untuk menjajakan dagangannya. Mulai dari tas sampai sepatu untuk membantu keberlanjutan shelter.
Hartoyo biasanya live berjualan hampir tiap hari. Publik pun juga bisa mendonasikan barang-barangnya yang masih layak, seperti tas dan sepatu, untuk dijualkan. Hasilnya bisa untuk donasi shelter berbasis komunitas.
Impian Hartoyo, konsep shelter berbasis komunitas ini bisa makin luas menjangkau komunitas ragam gender dan seksualitas. Pun juga bisa diadopsi untuk shelter berbasis komunitas untuk para perempuan korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).
“Aku suka banget dengan konsep ini, duh merinding aku. Karena aku ngerasa ini aku kayak nemuin pilot project konsep gitu. Ini bisa aku kembangkan bukan hanya untuk kawan-kawan LGBT, tapi ini sebenarnya bisa diadopsi untuk kawan-kawan isu KDRT.”
Saat ini, Hartoyo sedang mencari tempat yang terjangkau untuk perluasan titik shelter. Jadi, tidak hanya dua lokasi di Jakarta Barat dan Jakarta Selatan yang berfokus untuk komunitas transpuan.
“Aku lagi cari pelan-pelan, kalau ada yang murah, aku jadiin shelter. Tapi kalau ini di rusun. Aku sih rencanaku mau fokus untuk teman-teman gay dan korban KDRT. Jadi bisa ke perempuan, karena aku sendiri nyaman ya dengan isu perempuan,” lanjut dia.
Dalam pengelolaannya, Hartoyo tak menutup diri untuk kolaborasi sesama lembaga atau komunitas bahkan individu. Tak hanya membuka donasi berupa dana, Hartoyo juga membuka kesempatan untuk bahu-membahu menyumbangkan apapun yang dipunya. Misalnya, kebutuhan pokok, barang yang layak, hingga tenaga.
Baca Juga: Stop, Tubuh Transpuan Bukan Sasaran Objek Keanehan
Melalui Yayasan Ragam Berdaya Indonesia, Hartoyo mengoordinasi inisiatif itu. Buat siapapun yang mau menyumbang apapun, bisa juga komunikasi dengan Hartoyo lewat kontak ataupun media sosialnya.
“Sumber daya kami mencari dari dukungan publik. Bisa jualan, bisa sumbangan. Sumbangan bisa bentuk barang, misal kayak kamu ‘oh mas, aku punya kasur gak terpakai. Mas, aku punya beras ini kukirim.’ Sekecil apapun dukungannya, mau kugalang. Jadi, disebut shelter berbasis komunitas karena basisnya komunitas dan ada dukungan publik,” katanya.
Hal yang menjadi perhatian Hartoyo juga, pentingnya mempunyai dana darurat (emergency fund) dalam pengelolaan shelter berbasis komunitas. Dana ini berguna untuk kebutuhan-kebutuhan mendesak, jika ada komunitas atau perempuan korban KDRT yang membutuhkan pertolongan cepat. Misalnya, butuh penginapan sementara, tiket transportasi ke rumah aman, dll.
“Emergency fund ini fleksibel ya, yang ready gitu. Yang malam itu juga bisa ada, dengan sistem yang simpel langsung bisa digunakan.”
Sebagaimana pengalaman Mak Echi, inisiasi yang Hartoyo lakukan dengan shelter berbasis komunitas itu berangkat dari apa yang dia alami.
Tahun 2007, menjadi masa yang kelam bagi Hartoyo. Dia mengalami kekerasan yang membuatnya mesti diungsikan. Dalam situasi darurat, dia menginap di sebuah ruang kantor. Tak ada kasur, dia tidur di meja dan kursi kantor yang dihimpitkan. Apa saja yang ada dibentangkan untuk menghangatkan badannya.
Hartoyo masih merasa beruntung, pada masa-masa kritisnya ada kawan jaringan yang membantunya. Dia membayangkan, jika dia seorang diri dan tak tahu mesti kemana. Seperti halnya banyak diskriminasi dan kekerasan yang terjadi pada kelompok minoritas gender dan seksualitas. Mereka tak punya tempat bernaung atau rumah aman.
Baca Juga: Cerita Mak Echi, Tak Gentar Perjuangkan KTP untuk Transpuan
Sampai hari ini, bayangan itulah yang terus mendorong Hartoyo bergerak membantu sesama kawannya, dari ragam gender dan seksualitas termasuk transpuan.
“Aku menyebutnya sebagai cara bertahan dalam situasi yang tidak ramah,” ujar Hartoyo.
Selain persoalan dukungan finansial dan logistik, kebutuhan untuk menyiapkan sistem dalam pengelolaan shelter berbasis komunitas juga penting. Mulai dari prosedur operasional standar (SOP) hingga saling terhubung dengan ekosistem jaringan yang mengadvokasi hak-hak transpuan dan perempuan.
“Jadi ini tuh kayak mutiara yang bertaburan, kita tinggal merangkai aja gitu. Itu kekuatan shelter berbasis komunitas. Dengan segala keterbatasan sumber daya, menurutku shelter berbasis komunitas itu paling realistis dijalankan. Itulah aku dapat polanya,” kata Hartoyo.
Berjibaku Demi Keberlanjutan
Segala daya dan upaya dilakukan untuk terus menjaga keberlanjutan shelter bagi transpuan. Jika Hartoyo menjual barang second dan menggalang donasi, Rully Malay menggerakkan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang dijalankan langsung oleh komunitas transpuan.

Bunda Rully, sapaan akrab Rully Malay bersama para transpuan di shelter Waria Crisis Center (WCC) di Yogyakarta, menjalankan usaha laundry, menanam dan membuat cendol dari lidah buaya, serta membuat batik ecoprint. Usaha ini, kini menjadi “tulang punggung” dari pemenuhan kebutuhan di shelter.
Berbagai usaha itu dijalankan oleh para transpuan di WCC Yogyakarta. Setidaknya ada 6 orang transpuan, beberapa di antaranya lansia yang bahu-membahu bersama komunitas.
Mereka memanfaatkan area terbuka dekat shelter untuk menanam lidah buaya. Jika sudah tumbuh dan siap dipanen, lidah buaya itu diolah menjadi cendol. Mereka menjualnya dengan mewadahi di toples-toples untuk dijajakan pada masyarakat sekitar. Penjualannya masih serba manual terbatas di area sekitar shelter dan Yogyakarta. Mereka belum menggunakan aplikasi belanja online.
“Kebanyakan yang tinggal di shelter adalah orang-orang lansia dengan skill terbatas, mereka gaptek (gagap teknologi) gak ada yang pakai media sosial,” ujar Bunda Rully sebagai Koordinator WCC Yogyakarta, kepada Konde.co, Kamis (13/2/2025).

Tak hanya berjualan cendol lidah buaya, mereka juga menjalankan usaha laundry yang beroperasi di shelter. Skalanya belum besar, karena hanya dijalankan oleh sekitar 2 mesin cuci. Proses dari mulai memilah pakaian, mengucek dan mencuci, serta menyetrika, menjemur dilakukan oleh para transpuan yang ada di shelter.

Saat ini, mereka juga mengembangkan usaha pembuatan batik ecoprint. Mereka melakukan semua prosesnya mulai dari menyiapkan kain putih yang membentang, mencetak daun-daun alami sebagai pelengkap motif, mewarnai batik, menjemur, sampai memperoleh hasil ecoprint.

Jumlah penghuni Shelter WCC (@wccyogya) sekarang ada 6 orang dengan 1 pasien hemodiase yang harus mengakses cuci darah dua kali dalam seminggu. Dalam sebulan, paling tidak mereka membutuhkan minimal Rp6 juta. Belum bayar kontrakan per tahun sebesar Rp18 juta.
Selain pengeluaran rutin, pengelolaan shelter bagi transpuan juga bisa makin sulit ketika ada kejadian mendadak seperti beberapa waktu lalu.
Pada tanggal 6 Januari 2025 lalu, gudang yang biasa digunakan untuk menyimpan media tanam dan menjemur laundry ambruk karena curah hujan yang tidak lekas berhenti. Tak lama kemudian, tower air di shelter WCC itu tiba-tiba ambruk karena sudah lapuk termakan waktu.
“Yang insidental kayak gini, ada kejadian luar biasa, jadi makin sulit,” katanya.

Bunda Rully bersama pengurus lain di shelter WCC Yogyakarta saat itu pontang-panting. Mereka berjibaku untuk bisa terus memberikan dukungan pada aspek krisis di lingkup komunitas transpuan dan queer. Donasi yang terkumpul di tahun lalu dari personal atau komunitas, sudah habis untuk biaya operasional. Terlebih dengan adanya penghentian dukungan pendanaan imbas dari kebijakan Donald Trump pada komunitas ragam gender dan seksualitas.
Usai membuka donasi di media sosialnya dan solidaritas komunitas yang membantu menyebarkan, WCC Yogyakarta bisa perlahan melakukan renovasi. Setelah sekitar seminggu dibuka donasinya, terkumpul Rp27 juta yang semuanya sudah digunakan untuk renovasi dan membayar tukang bangunan.
“Kemarin kami sudah benahi tower airnya, sudah kami pasang kembali dari donasi yang dikirim. Terus kami ketambahan satu tower lagi sehingga ada tower cadangan, karena di sana kan ada kegiatan untuk laundry. Mereka juga bikin cendol dan ecoprint,” katanya.
Shelter transpuan di WCC Yogyakarta itu, diceritakan Bunda Rully, sejarah pertamanya ada sejak tahun 2017. Saat itu, belum berupa rumah kontrakan seperti sekarang. Namun berdiri atas swadaya di rumah Shinta Ratri, penggagas pondok pesantren transpuan Al Fatah di Yogyakarta. Satu kamar kecil yang juga ruang perpustakaan dan ruang konseling di rumah Shinta di Kota Gede Yogyakarta, digunakan sebagai shelter.
Itu dilakukan pasca kejadian penyerangan di pondok pesantren itu pada 18 Februari 2016.
“Dalam setahun itu kami berpikir, bahwa butuh sebuah ruang aman untuk memfasilitasi kawan-kawan trans, kawan-kawan queer, dan kelompok rentan lainnya dalam situasi-situasi darurat,” ujar Bunda Rully.
Baca Juga: Lihat, Potret Jalan Terjal Religius Waria: Mereka Bukan Orang yang Menyimpang Moral
Betul ternyata, tak lama dari itu, ada lagi kasus mahasiswa di salah satu perguruan tinggi negeri di Yogyakarta yang mengalami kekerasan berbasis gender. Dia mengalami diskriminasi saat coming out identitas gendernya, kemudian ditolak oleh keluarganya. Kondisi dia saat datang ke shelter waktu itu, ketakutan, bingung, dan stres.
Bunda Rully kemudian menghubungkan dengan kawan-kawan psikologi klinis probono dari salah satu kampus swasta.
“Dan ternyata sejak itu kasus-kasusnya makin banyak. Sehingga kami secara terbuka mengumumkan Waria Crisis Center dan menerima rujukan kasus kekerasan.”
Setahun berdirinya WCC Yogyakarta, pada 2018 terjadi kasus pembunuhan transpuan di Klaten. Dari situ, Bunda Rully dan komunitasnya untuk pertama kali kami melakukan proses litigasi hingga sampai ke pengadilan. Ada pula, pendampingan WCC Yogyakarta kepada transpuan yang mendapat kriminalisasi atas tuduhan malapraktik di klinik kecantikan. Namun akhirnya bisa bebas tanpa syarat, usai mereka dampingi dengan bantuan ahli probono.
“Beberapa persidangan itu, kami merasa mendapatkan dukungan yang kuat karena salah satu saksi ahli ekspert dari UGM itu mendampingi dengan penuh, benar-benar sepenuh hati. Ikut jadi saksi komunitas,” kata Bunda Rully.
Baca Juga: Pesantren Waria: Ruang Nyaman untuk Bertemu Tuhan
Dari situlah, awal-awal WCC Yogyakarta merintis kerja-kerja advokasi bagi transpuan. Mereka setelah itu juga makin sering melakukan pelatihan dan workshop penguatan kapasitas paralegal untuk komunitas transpuan. Ada pula workshop untuk upaya rekonsiliasi konflik.
“Misalnya jika ada konflik gimana untuk pendekatan rekonsiliasinya. Waktu itu bersama dengan kawan-kawan Fisipol UGM yang melatih. Nah, ketika masuk pandemi COVID-19 tahun 2020 sekitar Maret atau April itu, itu kan di Jogja benar-benar kesulitan.”
Tak hanya bergerak di litigasi, WCC Yogyakarta juga berpartisipasi dalam bantuan kemanusiaan bagi komunitas transpuan dan masyarakat sekitar yang terdampak pandemi saat itu. Mereka berkolaborasi, dengan Kebaya dan Komunitas Seruni untuk mendirikan dapur umum. Mereka berbagi tugas.
“Waktu itu semua amunisi yang berupa uang, itu masuknya ke rekening ponpes. Dan yang berupa barang masuknya ke Kebaya. Dan kami lebih sebagai penggerak, kalau di Komunitas Seruni itu lebih untuk menggerakkan para aktivis. Nah, ternyata kegiatan kami itu kan bisa berjalan sampai bulan Juni itu. Dari April, Mei, Juni,” jelasnya.
Selain bantuan dari donor, mereka juga menggalang bantuan donasi lewat media sosial. Hingga terkumpul uang sekitar Rp140-an juta saat itu. Hingga bisa digunakan untuk meneruskan dapur umum yang sempat mandek karena kehabisan logistik.
Baca Juga: ‘Kami Ingin Beribadah Dengan Aman dan Nyaman’: Cerita Transpuan Menjalankan Keyakinan dan Agamanya
Setelah pandemi selesai, mereka masih ada sisa sebanyak Rp20 juta. Itulah yang kemudian jadi cikal bakal rumah kontrakan yang sekarang dijadikan shelter.
“Rumah shelter-nya Lansia. Karena dari saat pandemi itu banyak sekali orang Lansia yang benar-benar nggak ada supporting. Jadi mereka mayoritas nggak punya KTP, nggak punya dukungan keluarga. Pokoknya menunggu mereka meninggal di sana. Ada dua atau tiga sih yang meninggal. Kemudian setelah itulah kami menetapkan sebuah program namanya Senior Support Center. Jadi SSS Teratai.”
Di situlah sampai hari ini, mereka membuka usaha untuk bisa terus bertahan dan berkelanjutan dalam mengelola shelter transpuan.
“WCC ini tidak khusus untuk lansia tapi juga untuk orang-orang yang mengalami kekerasan berbasis gender. Mereka yang mengalami penolakan dari keluarga atau mengalami mental health,” pungkas Bunda Rully.
Jika kamu mau mendukung shelter berbasis komunitas bagi transpuan seperti yang diinisiasi Hartoyo dan Bunda Rully, kamu bisa bersolidaritas dengan mendukung usaha yang mereka lakukan seperti membeli preloved dari Hartoyo dan produk UMKM komunitas transpuan lansia di WCC Yogyakarta. Buat kamu yang mau berdonasi, juga bisa ke rekening berikut ini:
Yayasan Ragam Berdaya Indonesia yang membantu kawan-kawan transpuan untuk akses KTP, jaminan sosial dan rumah aman, bagi yang ingin memberikan dukungan pada gerakan ini, melalui rekening;
Bank Mandiri cabang Gedung Nindya Jl.Mt Haryono, Jakarta Timur
No. Rekening : 1660005535810
An Ragam Berdaya Indonesia
Waria Crisis Center (WCC) Yogyakarta:
Bank Mandiri
No. Rekening : No. 9000018212481 an. Majid
Paypal: Majid (NO LAST NAME)
Editor: Anita Dhewy






