Belum lama ini saya membaca dua buku mengenai perempuan dengan latar wilayah yang sama—sama-sama Jepang—hanya saja dimensi waktunya berbeda. Buku pertama berjudul The Last Concubine (2008) sedangkan buku kedua berjudul Susu dan Telur (2019).
The Last Concubine bercerita mengenai perempuan petani yang akhirnya menjadi selir shogun (sebutan untuk pemimpin dan kepala pemerintahan di zaman feodal Jepang—red). Bagaimana Sachi—demikian nama tokohnya—jatuh cinta dengan laki-laki bangsawan kaya raya, laki-laki beristri yang ketika keduanya melakukan hubungan seks didampingi oleh sekelompok pelayan untuk memantau prosesi intercourse mereka.
Malam ini mereka berhubungan seks, besoknya si shogun harus melakukan perjalanan yang pada akhirnya meninggal. Dan di sepanjang cerita, sejak pertama dan terakhir kalinya Sachi melihat dan berhubungan seks dengan shogun, gadis belasan tahun itu begitu memuja laki-laki dewasa yang dua kali usianya.
Saya belum berhasil menyelesaikan The Last Concubine karena merasa tidak sefrekuensi lagi dengan alur dan tema ceritanya. Namun saya meyakini kalau fenomena tersebut memang pernah terjadi. Bagaimana perempuan mendefinisikan cinta dan memaknai relasi. Apa yang terjadi selama seorang perempuan tumbuh besar serta seperti apa lingkungan dimana dia dibesarkan akan memberi pemaknaan terhadap diri dan cara dia memandang relasi.
Belum tuntas The Last Concubine, saya berpindah ke Susu dan Telur. Saya rasa buku yang ditulis oleh Kawakami Mieko ini lebih relate dengan situasi dan kondisi yang kerap saya lihat di keseharian saya—dulu dan sekarang. Ada beberapa tokoh perempuan dengan karakteristik dan problematiknya masing-masing. Namun, saya menyorot pada tokoh Natsuko yang ingin memiliki anak tapi dia tidak punya ketertarikan pada aktivitas atau hubungan seks.
Baca Juga: Seks, Budaya dan Perempuan
Natsuko yang tidak memiliki ketertarikan seksual tapi senang dengan keintiman nonfisik bersama laki-laki yang disenanginya. Wah..ternyata sekompleks ini pemaknaan relasi manusia.
The Last Concubine dan Susu dan Telur sama-sama buku fiksi yang saya rasa menggambarkan realita yang terjadi pada tahun yang menjadi latar kedua cerita tersebut. The Last Concubine mendeskripsikan perempuan di era Tokugawa (1603 – 1868) sedangkan Susu dan Telur di era Jepang Modern (2008 – 2019).
Sebagai perempuan Indonesia yang punya sejarah, budaya, dan ceritanya sendiri, saya juga mengalami transisi pemaknaan mengenai cinta, relasi, keintiman yang terbangun karena nilai-nilai yang ditanamkan oleh zaman, lingkungan, serta keluarga.
Juni 2025 saya tepat memasuki usia 39 tahun dengan status lajang, tidak “perawan”, tidak punya pekerjaan tetap; dalam kurun waktu dua tahun terakhir saya di-PHK dua kali, dan tidak punya rumah pribadi.
Bagaimana saya memaknai 39 tahun menjadi perempuan Indonesia? Saya akan mengawalinya dari periode saya dilahirkan.
1986 – 1998
Saya lahir sebagai minoritas di negara Indonesia ini. Minoritas dari sisi agama—saya Kristen Protestan—dan saya lahir di Serambi Mekahnya Indonesia yang bukan mengkonfrontasi, tapi di tahun-tahun saya lahir menjadi Kristen di salah satu provinsi dengan ummat Islam terbanyak adalah tantangan tersendiri.
Saya masih ingat betul, bagaimana bulan puasa selalu menjadi momen yang ekstra hati-hati. Di satu kelas, yang Kristen hanya lima orang. Kalau mau makan bekal, kami harus ke ruang agama Kristen di mana proses belajar mengajar mata pelajaran agama Kristen dilakukan.
Belum lagi, pertanyaan dari murid-murid lain yang beragama Islam mengenai Tuhan orang Kristen yang ada tiga. Pertanyaan itu bisa jadi timbul karena mungkin mereka mendengar kalau orang Kristen berdoa ke Bapa, Anak, dan Roh Kudus—yang sebenarnya konsep Tritunggal Tuhannya orang Kristen.
Saya pernah dilempari batu—walau tidak sampai seperti Stefanus, karena mengenakan tas pinggang dengan tulisan I Love Yesus ke sekolah. Stefanus adalah pengikut Yesus yang mati martir karena kesaksiannya akan iman Kristen yang tidak disukai oleh pemimpin Yahudi.
Waktu itu musim ujian, jadi tidak perlu bawa tas besar, cukup tas pinggang untuk menyimpan perlengkapan alat tulis. Dan pada masa saya sekolah ketika itu, penggunaan tas pinggang lagi ngetrend. Kebetulan saya Kristen dengan ibu penjaga perpustakaan gereja, menggunakan pernak-pernik dengan aroma kristiani adalah kebiasaan kami. Masalahnya saya minoritas, sehingga menjadi anomali dari situasi yang kebanyakan. Belum lagi soal akademis, saya tidak tergolong murid pintar. Sudahlah Kristen, kemampuan akademik tidak di atas rata-rata, paslah menjadi bulan-bulanan. Mungkin begitu.
Baca Juga: ‘Ngobrolin Seks Dicap Mesum’, Padahal Menabukan Seks itu Kuno, Say!
Selain dari sisi agama, saya juga minoritas dari sisi suku. Saya Batak tulen, dengan bapak bermarga Pandiangan, yang juga minoritas di kalangan masyarakat umum. Kenapa saya bilang minoritas, karena selama 39 tahun hidup menyandang marga tersebut, tidak sedikit yang mengira Pandiangan itu dari Manado, atau sama sekali belum pernah mendengar marga Batak Pandiangan karena biasanya lebih familiar dengan Sinaga atau Panjaitan. Namun, tak jarang juga yang mengira saya punya hubungan kekerabatan dengan pemanah Donald Pandiangan. Ibu saya boru Simanungkalit, dan tentang ini jarang yang mempertanyakan, karena Batak menganut patrilineal sehingga anak hanya menyandang marga bapak. Lain hal kalau bertemu dengan sesama Batak, borunya ibu juga ditanyakan untuk melengkapi partaromboan.
Istilah Tarombo merujuk pada silsilah atau garis keturunan. Martorombo adalah aktivitas mencari tahu silsilah dari orang yang ditanyakan marga/borunya untuk mengetahui kedekatan kekerabatan.
Selain dari agama, suku, saya juga terminorkan karena gender. Saya perempuan. Lahir di tahun 1986 dan besar di tahun 90-an, pergerakan perempuan tidak semaju dan semasif sekarang. Kami, perempuan generasi millennial masih dicekoki ‘kiat menjadi perempuan baik-baik’. Diselamatkan oleh pangeran berkuda putih. Laki-laki adalah kepala rumah tangga, pencari nafkah, pelindung dalam keluarga. Sehingga, kalau laki-laki marah, keras, banyak menuntut, itu wajar. Karena pada pundaknya ada beban tanggung jawab.
Baca Juga: Seksualitas Perempuan Disable; Stop Menganggap Remeh
Laki-laki nakal, punya banyak perempuan, tidak perjaka lagi ketika menikah, itu biasa. Yang tidak biasa itu kalau perempuan tidak “perawan” lagi—bahkan kalau yang memerawaninya adalah dudukan sepeda. Di tahun 1983, ada film berjudul Tirai Malam Pengantin. yang menceritakan mengenai hal itu. Ceritanya, seorang perempuan sedang naik sepeda kemudian terjatuh sehingga selaput daranya robek. Karena perawan anak perempuannya sudah tidak ada, si ibu sedih dan takut kalau anak perempuannya ini akan gagal menikah, sehingga si ibu ngide untuk anaknya melakukan operasi selaput dara.
Mungkin ini juga yang menjadi inspirasi ibu saya, ketika tahu selaput dara saya sudah tidak ada ketika suatu hari saya duduk di kelas 5 SD, saya mendapatkan tindakan pemeriksaan medis karena ada infeksi vagina. Dokter yang memeriksa mengatakan kalau selaput dara saya sudah tidak ada dan menambahkan kalau kemungkinan ada yang melakukan “pemaksaan” ke saya.
Selain mendesak saya, siapa yang melakukan “pemaksaan” tersebut, ibu juga mengatakan kalau saya harus melakukan operasi selaput dara. Karena kalau tidak, tak akan ada laki-laki yang mau menikahi saya.
Saya pikir-pikir, setelah berusia matang seperti sekarang, dan melalui banyak problema hidup, saya rasa ide operasi selaput dara itu ibu dapatkan dari film. Padahal, infeksi vagina saya dulu, karena masturbasi yang tidak bersih. Masturbasi yang dilakukan anak kecil dianggap sebagai ketabuan dan dosa besar. Kenapa anak kecil bisa memikirkan seks? Pasti kalau bukan otaknya yang kotor, ada orang dewasa yang sudah mencabuli pikiran dan fisiknya. Pemikiran mainstream kan begitu. Sebelum kita, masyarakat Indonesia mulai terbiasa dengan istilah edukasi seks sejak dini saat ini.
1999 – 2012
Ketika menginjak bangku kuliah, saya bermimpi untuk menikah muda. Dengan prediksi lulus kuliah di usia 22 tahun, saya berharap akan menikah di usia 23 tahun. Asumsi saya sangat polos saat itu. Supaya jarak usia antara ibu dan anak tidak terlalu jauh sehingga bisa terlihat seperti teman. Mungkin, saya berkaca pada jarak usia saya dan ibu yang selisih 42 tahun. Ketika saya remaja, dalam pandangan saya ibu sudah cukup berumur sehingga tidak sefrekuensi lagi.
Atau mungkin juga saya merasa dengan adanya suami, masalah hidup bisa lebih teratasi, kan di Alkitab menyebutkan lebih baik berdua dari pada seorang diri (Pengkotbah 4:9-12). Padahal kalau di balikkan di zaman sekarang, ada istilah lain yang menyebutkan lebih baik sendiri ketimbang hidup berumah tangga namun kesepian. Serta validasi-validasi lain yang menyarankan resep perempuan awet muda adalah hidup tanpa pernikahan/laki-laki, and so on.
Di usia 23 tahun saya tidak berhasil menggapai mimpi menikah muda. Lulus dari kuliah saya disibukkan dengan bekerja di koran kecil dengan gaji pas-pasan—asalkan kerja karena uang kuliah saya sudah dibiayai saudara sehingga saya harus segera mandiri.
Oh ya, ketika usia 15 tahun ayah saya meninggal karena serangan jantung. Sedangkan ibu adalah ibu rumah tangga biasa. Kehidupan kami selanjutnya bergantung pada pensiunan dan transferan dari abang dan kakak. Jadi, sekecil apa pun penghasilan yang diterima dapat meringankan beban nominal transferan bulanan mereka.
Baca Juga: Negosiasi Seksual, Hal Penting Bagi Perempuan Menikah di Indonesia
Menikah masih menjadi harapan saya, sembari bekerja meniti karier seperti manusia-manusia normal pada umumnya. Dalam pencarian cinta sejati, sadar atau tidak saya menjadikan tontonan dan bacaan sebagai panduan menemukan soulmate. Sebagai wartawan di media kecil yang bekerja tak kenal waktu yang seringnya pulang malam, demi healing sejenak, saya rela tidur sampai subuh dan marathon nonton drama korea (drakor).
Beberapa drakor menjual mimpi dan seringnya diisi alur dimana laki-lakinya bersikap kasar yang disebut sebagai tanda sayang. Kasar berarti sayang—tidak semua orang masokis kan? My Lovely Sam Soon (2005) adalah salah satu drakor yang saya tonton masa-masa itu. Senior di media tempat saya bekerja menyarankan untuk menonton drakor itu. Katanya lucu.
“Cowoknya lucu, marah-marah tapi sebenarnya suka dengan ceweknya.” Begitu katanya.
Dalam drakor itu, perempuannya juga digambarkan sebagai perempuan gemuk, penampilan berantakan, tapi si cowok akhirnya jatuh cinta. Sangat klasik kan? Satu tone dengan drama Taiwan lawas Meteor Garden (2001) yang sudah mengalami adaptasi berulang kali—seperti mengadaptasi ke-toxic-an—kalau sudah terbangun kesadaran betapa kasarnya Tao Ming Tse (Jerry Yan) memperlakukan Sanchai (Barbie Hsu). Tapi itu disebut cinta.
Di pertengahan 20-an saya memiliki pemaknaan yang berbeda akan cinta. Cinta harus penuh dengan pengorbanan. Perempuan harus berkorban banyak. Laki-laki yang memang bajingan. Kelembutan hati dan perjuangan perempuan yang akan mengubah laki-laki menjadi gentleman. Intinya semua bergantung pada perempuan. Padahal, it takes two to tango.
Baca Juga: Harus Menikah dan Punya Anak Biar Disebut Sempurna? Stop Budaya Glorifikasi
Hampir memasuki usia seperempat abad, pencarian akan pasangan sejati tidak kunjung membuahkan hasil. Saya malah terlibat affair dengan suami orang. Untuk pengalaman hidupku yang ini, saya tidak mau menormalisasi. Ini semestinya tidak dilakukan, karena dalam perselingkuhan ada pihak perempuan yang disakiti. Maka, sepenuh hati saya menyadari kesalahan saya di masa lalu, dan saya meminta maaf untuk perempuan yang tersakiti itu.
Ini tidak pernah ada dalam rencana relasi jangka panjang yang saya desain di dalam kepala sejak dulu—menjadi istri dan ibu yang baik budi dan rajin menabung.
Terlibat affair membuat saya mendapat predikat sebagai pelakor—perebut laki orang. Karena di Indonesia ketika perselingkuhan terjadi, biasanya pihak perempuan selalu disalahkan. Untungnya ketika affair berlangsung media sosial belum “gila” seperti sekarang ini. Kalau sudah “gila” bisa-bisa saya juga ikut viral. Karena, pernah beberapa kali rekan kerja atau pun teman sepergaulan menangkap basah saya dan suami orang ini sedang jalan bareng.
Jika perselingkuhan itu terjadi di masa sekarang, bisa-bisa saya sudah masuk thread di X dan sudah buat video klarifikasi.
Sialnya, sebagai pelakor saya melakor bukan dengan pejabat atau pun laki-laki mapan yang setidaknya bisa membelikan roti seharga Rp 300.000. Tidak. Saya menjadi selingkuhan laki-laki ekonomi rata-rata dengan kepribadian di bawah rata-rata. Dosanya sama, nanggung sekali kan? Belakangan malah, si suami orang itu tidak mengakui secara personal kalau kami pernah menjalin hubungan, dia bilang kami hanya “teman dekat” yang cuma “senang-senang”.
Baca Juga: Menikah, Bukan Ajang Balapan Punya Keturunan
Bukan suatu hubungan yang saya banggakan—dan sejujurnya selama ini tidak ada hubungan yang saya banggakan karena semuanya suwek. Dengan suami orang ini saya berlama-lama dalam hubungan yang tidak ada ujungnya. Yang tidak memberikan keuntungan ekonomi dan juga emosional.
Secara mental, laki-laki ini emotional abuser dan body shaming. Sering kali menyalahkan saya untuk setiap hal yang bisa disalahkan. Misalnya ketika puasa hari pertama, dia berniat buka puasa dengan makan kolak pisang. Namun tidak keburu untuk membeli kolak di tempat yang dia sasar, karena sudah terlanjur habis. Sedangkan mau membeli di tempat lain juga sudah kehabisan. Dia kemudian menyalahkan saya karena menurutnya saya terlalu lelet sehingga kami tidak sempat membeli kolak. Atau ketika dia mengomentari bekas jerawat saya atau keloid di bahu saya yang menurutnya bikin tidak mood.
Kenapa saya bertahan dengan laki-laki begini? Selain karena kesepian dan ketika itu hanya dia saja yang ada, saya juga punya pemikiran kalau perempuan memang semestinya sabar—termasuk dengan suami orang—perempuanlah yang akan mengubah laki-laki. Bad boy menjadi good boy. Yah, seperti di tivi-tivi, tayangan sinetron, film-film roman. Semua laki-laki bangsat, tinggal perempuannya saja sekarang bagaimana. Toh, kata-katanya, jalan atau tidaknya relasi itu tergantung perempuannya. Kalau perempuannya tidak menggoda, laki-laki tidak akan tergoda. Kalau perempuan tidak memberi celah, tidak akan ada kesempatan laki-laki untuk memulai. Pemerkosaan yang terjadi pada perempuan juga salah perempuan. Keluar larut malam, mengenakan pakaian pendek. Semua tergantung pada perempuan. Begitu kan?
Baca Juga: Kami Para Perempuan, Digosipkan dan Dijodohkan Biar Cepat Menikah
Lepas dari hubungan dengan suami orang, saya kembali menjatuhkan diri pada hubungan yang tak kalah toxic-nya. 2012 saya pindah ke Jakarta karena diterima kerja di media gaya hidup terbesar pada masanya. Di masa adaptasi tinggal di kota besar, saya beririsan dengan seorang penulis yang selama ini karyanya hanya bisa dibaca tanpa bertatap muka langsung. Saya mendapat privilege untuk dekat. Tidak hanya berhenti sebatas di “dekat” tapi juga “intim” secara perkelaminan. Saya mengira ada “sesuatu” di antara kami, tapi saya hanya dianggap groupies.
Lagi-lagi, saya mengira bila dengan usaha dan ketulusan, dia bisa menyeriusi saya. Apa sebenarnya serius itu? Apa definisi hubungan serius menurut kebanyakan? Saya bertaya ke AI dan dijawab sebagai berikut:
Hubungan serius adalah hubungan yang memiliki komitmen, keseriusan, dan tujuan jangka panjang antara dua orang. Ciri-ciri hubungan serius antara lain:
1. Komitmen untuk bersama dalam jangka panjang.
2. Saling percaya dan menghargai.
3. Komunikasi terbuka dan jujur.
4. Kesediaan untuk bekerja sama dan mengatasi masalah bersama.
5. Rencana masa depan bersama, seperti membangun kehidupan bersama.
Baca Juga: Kami Para Perempuan, Digosipkan dan Dijodohkan Biar Cepat Menikah
Dalam hubungan serius, kedua belah pihak biasanya memiliki harapan dan tujuan yang sama, serta bersedia berusaha untuk mempertahankan dan memperkuat hubungan.
Saking polosnya, saya pernah bertanya kepada tarot reader yang kebetulan saya wawancara dalam suatu event kantor. Si tarot reader mengocok kartu yang kemudian saya ambil dan di kartu tersebut menunjukkan gambar seorang laki-laki dengan banyak ikan di bawah kakinya. Kurang lebih begitu. Saya lupa detailnya, karena itu 13 tahun lalu. Yang saya ingat, tarot reader-nya menyampaikan begini, sambil mematut diri di kaca, karena dia lagi di-makeup-in untuk tampil di event, “Dia ini punya banyak perempuan bukan kamu aja.”
Sepulang dari event, di Kopaja—waktu itu masih ada angkutan umum Kopaja di Jakarta—saya mengirim pesan ke orangnya langsung dan menyampaikan pembacaan si tarot reader. “Enggak usah didengerin..” demikian jawabnya setelah sebelumnya mengirimkan emoticon tertawa.
Saya akui, saya naif—atau tolol?—mengapa sebegitu mudahnya percaya. Seharusnya sebagai perempuan, saya bisa membaca gelagat laki-laki yang tidak serius. Kenapa saya menceburkan diri pada hubungan rumit ini? Eksplorasi, ekspresi diri, pengakuan, merasa diinginkan? Karena dia bilang tubuh saya bagus? Kebanggaan? Apa yang dibanggakan dari menjadi fuck body dari penulis paruh baya yang belum selesai dengan dirinya sendiri?
2012 – 2023
Pencarian jati diri dan coba-coba saya tidak selesai sampai di situ. Setelahnya, drama kehidupan membawa saya dari satu tubuh ke tubuh yang lain. Sampai akhirnya saya mendapatkan pencerahan, mengapa tidak menuangkan kesialan-kesialan berbagi peluh dan cairan ini ke dalam bentuk tulisan? Di masa-masa saya kepikiran menuangkan pengalaman seks ke dalam tulisan, media alternatif sudah cukup speak up menyoal ketubuhan dan seksualitas perempuan. Apalagi sekarang, di tahun-tahun sekarang tubuh sudah menjadi konsumsi publik.
Hanya saja, yang membedakannya—saya rasa—perempuan sudah mulai bisa merebut kembali tubuhnya dan menggunakannya sebagai kekuatan untuk sembuh dari traumanya. Mengapa harus malu membicarakan seks dan pengalaman buruk yang pernah dialami? Kalau itu bisa menjadi proses penyembuhan untuk dirinya?
Sejak tahun 2020 sampai 2024 saya sudah menulis beberapa buku dengan tema seksualitas based on pengalaman saya sendiri, perubahan lingkungan yang saya amati, serta orang-orang yang bercerita ke saya. Memang, sebagian besar tulisan tersebut lebih banyak muatan pengalaman individualnya. Tak jarang saya menceburkan diri sendiri ke suatu hubungan untuk mendapatkan pengalaman buat dituliskan. Kurang kerjaan? Emang.
Baca Juga: Angka Nikah Terus Turun? Ngobrol Bareng Gen Z Kenapa Mereka Ogah Menikah Cepat
Beberapa kali memperosokkan diri ke relasi yang tak kalah toxic-nya dengan suami orang, saya seperti memutilasi diri sendiri. Saya mengadopsi konsep autotomi cicak yang memutuskan ekornya sebagai bentuk pertahanan diri, kemudian ekornya tumbuh kembali. Sebagai bentuk coping dari “pemutusan ekor” saya menuliskan setiap pengalaman-pengalaman tersebut.
Meski begitu, setidaknya ada hal yang “cukup positif” dari mengadopsi pertahanan cicak. Saya punya pengetahuan yang bisa saya bagi dengan keponakan saya dari kesialan-kesialan relasi yang pernah saya jalani. Saya memberikan informasi mengenai klinik kesehatan reproduksi ketika keponakan perempuan saya mengalami keputihan sebagai bagian dari proses pubertasnya.
Atau mengobrol dengan keponakan laki-laki saya mengenai seks pertamanya seperti kami teman baik. Sesuatu yang saya akui tidak saya dapatkan dalam tumbuh kembang saya sebagai perempuan dewasa. Saya kecil-remaja-dewasa muda, tidak punya ruang untuk menanyakan sejuta pertanyaan seputar seksualitas. Padahal, di masa-masa itu, semua hormon bekerja dengan baik dan mendesak untuk eksekusi. Saya membayangkan, kalaulah saya punya tempat untuk bertanya dan mendapatkan penjelasan mengenai apa yang saya rasakan dan ditawarkan lawan jenis, saya mungkin tidak memutuskan hal-hal yang dulu saya lakukan.
Baca Juga: Memilih untuk Tidak Menikah Bukanlah Kegagalan Bagi Perempuan
Saya tidak menyesal. Karena kalau saya yang dulu tidak ada, saya yang sekarang juga tidak akan lahir ke dunia. Hidup ini adalah proses yang tidak pernah selesai. Akan selalu ada hal-hal yang perlu dituntaskan, pembelajaran, dan lain-lainnya lagi. Dan sebagai perempuan, beban proses belajar ini begitu berat, karena ada banyak tuntutan yang mengiringi perjalanan perempuan. Tuntutan yang sudah pasti tidak menyenangkan. Penuh penghakiman dan pemaksaaan untuk tunduk terhadap norma.
2024 – 2025
November 2023 saya di-PHK dari pekerjaan tempat saya bekerja selama hampir 6 tahun. Di dunia dimana manusia dinilai dari profesinya, menjadi pengangguran bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Dan ini bukan saja dari sisi finansial melainkan jati diri dan value kita sebagai bagian dari masyarakat. Ketika tidak bekerja, bukan hanya dompet yang kosong, tapi hati juga hampa.
Untuk perempuan Indonesia, bekerja seolah bukan kewajiban. Karena ada anggapan kalau pencari nafkah adalah laki-laki dan perempuan bertugas untuk mengurus pekerjaan domestik. Laki-laki adalah tulang punggung keluarga. Seharusnya perempuan tidak perlu mengkhawatirkan masalah ekonomi dan pemenuhan kehidupan. Terus, kalau perempuannya single?
Setelah di-PHK di November 2023, saya mendapatkan panggilan pekerjaan di Medan pada Mei 2024. Pekerjaan tersebut ternyata mode kerjanya PKWT (Perjanjian Kerja Waktu Tertentu). Dengan mode kerja begitu, sangat mudah untuk memutuskan ikatan dinas karyawan–kalau dalam pikiran saya, ya.
Dan memang benar, waktu kerja saya hanya sampai PKWT 2. Saya tidak dilanjut lagi. Sebenarnya, kalau boleh jujur, saya setengah hati juga bekerja di sana. Salah satunya karena gaji saya yang sangat kecil. Perusahaan menggunakan sistem perhitungan gaji yang mengelompokkan jumlah uang yang diterima karyawan dalam beberapa kategori; gaji pokok, tunjangan profesi, dan tunjangan-tunjangan lain. Ini semata untuk mengakali pembayaran pajak dan THR.
Baca Juga: Suami Palsukan Akta Cerai untuk Nikah Lagi, Bisakah Diproses Hukum?
Suatu hari, tak lama setelah saya diputus kontrak dan menjadi pengangguran untuk kedua kalinya, orang terdekat saya berkomentar, “Legalah yang sekarang karena sudah tidak bekerja lagi…” dia bilang begitu karena tahu kalau saya tertekan dengan gaji yang tidak sesuai. Saya menjawab, kalau di satu sisi memang ada rasa lega, tapi di sini lain saya perlu memikirkan bagaimana kehidupan ke depannya. Menerima gaji bulanan adalah kepastian ekonomi. Dan perlu untuk tetap memiliki penghasilan. Dia menyarankan saya untuk menikah, karena dengan menikah, kebutuhan ekonomi akan ditanggung oleh laki-laki.
Menjadi single di usia hampir 40 tahun memang jadi pertanyaan untuk orang-orang yang bisa jadi masih menganut faham kalau manusia haruslah hidup berpasang-pasangan. Berpasang-pasangan dan punya anak. Saya jadi teringat dengan penulis paruh baya yang menjadikan saya sebagai partner seks tanpa status di pertengahan usia 20-an. Dia juga menyuruh saya menikah dan punya anak supaya hidup saya jelas dan ada tujuan.
“Menikah terus cerai?” saya jawab gitu menyindir statusnya yang juga cerai.
“Ya janganlah..itu kan aku, kamu ya jangan..”
Sungguh sebuah saran yang sableng dari orang yang tulisannya dianggap mencerahkan, padahal sendirinya penuh dengan racun patriarki. Kehidupan kan memang se-oksimoron itu.
Baca Juga: Ini Fenomena Waithood, Perempuan Tunda Menikah karena Beban Sandwich Generation dan Trauma
Pernikahan memang dianggap menjadi suatu solusi dan kesepakatan ekonomi untuk bisa menopang kehidupan dua manusia. Manusia yang satu tidak bisa mengerjakan pekerjaan domestik, sedangkan manusia yang kedua tidak bisa memenuhi kebutuhan finansialnya. Belum lagi ada kebutuhan lainnya yang bernama seks dan status sosial. Jadilah keduanya mengikat janji dalam suatu ikatan perkawinan demi kestabilan hidup.
Saya tidak menyalahkan pemikiran demikian. Pada akhirnya itu semestinya kesepakatan dan consent dari pihak yang membutuhkan. Orang terdekat saya sendiri menjalani perjanjian ekonomi tersebut. Saya mengenal seorang perempuan yang sudah setahun ini ditinggal mati oleh suaminya. Usianya sudah pertengahan 40 dan dia merasa tidak bisa lagi mencari pekerjaan di usianya sekarang. Tidak ada yang mau mempekerjakan orang di usia tua. Begitu katanya. Apalagi menurutnya, sebagai lulusan SMA dengan skill terbatas, akan lebih sulit untuk mendapatkan pekerjaan.
Sebagai solusi untuk situasinya sekarang, mencari laki-laki yang mau menanggung hidupnya adalah pilihan yang patut dipertimbangkan. Saya agak terpana. Tidak mengira. Apakah dia menikahi suaminya yang terdahulu atas dasar kebutuhan ekonomi? Semudah itu perasaan manusia bisa berubah? Apakah cinta memang sungguh ada? Apa itu cinta? Atau jangan-jangan, saya pun juga bisa demikian. Ketika berada dalam kondisi terdesak, saya juga akan mencari perlindungan pada laki-laki untuk melindungi dan memenuhi kebutuhan saya?
Selain pertanyaan mengenai makna dan cinta, perjalanan kehidupan saya sebagai perempuan Indonesia di usia 39 tahun adalah keterbukaan membahas seks dengan saudara laki-laki saya. Abang pertama saya. Abang yang dulunya punya selingkuhan yang sampai memiliki anak dan ketika selingkuhan abang mengandung dibawa ke rumah kami. Itu terjadi ketika saya duduk di bangku kelas tiga SMP. Lalu, 21 tahun kemudian kami–saya dan abang–membicarakan perselingkuhannya seperti teman nongkrong.
Baca Juga: Tentang Childless: Mendengar Pengalaman Perempuan yang Hidup Tanpa Anak
Saya tidak tahu, keberanian apa yang membuat saya akhirnya bertanya langsung peristiwa menggemparkan dua generasi. Apakah ini disebut dengan kekuatan meniduri 15 laki-laki? Atau usia hampir kepala empat membuat kita berani, seberani-beraninya. Saya tidak hanya menanyakan relasinya tapi juga mengklarifikasi kebenaran yang sebenarnya tidak penting-penting amat untuk diklarifikasi. Namun, buat saya itu suatu kepastian.
Di tahun 2022, saya pernah menuliskan pengalaman saya ketika bertemu dengan selingkuhan abang saya. Itu adalah pertemuan terakhir, karena setelahnya Mba O meninggal. Di pertemuan tersebut, saya menanyakan apakah abang saya sunat atau tidak–sungguh pertanyaan yang tidak penting! Karena waktu itu saya sedang tergila-gila dengan sunat, dan menjadikan sunat sebagai tolak ukur kebersihan dan keandalan penis. Entah kenapa, saya penasaran saja, apakah abang saya sunat atau tidak. Anehnya, saya bertanya ke selingkuhannya, bukan ke istri sahnya. Dan Mba O menjawab kalau abang sunat.
Beberapa tahun kemudian, saya berkesempatan untuk ngobrol mendalam dengan ipar saya–istri abang–dan di dalam obrolan tersebut saya menyelipkan pertanyaan soal sunat. Sama seperti Mba O, istri abang saya juga mengernyitkan dahi, sempat mempertanyakan kenapa menanyakan sunat, tapi kemudian dia jawab juga, “Enggak sunat.”
Baca Juga: ‘Kapan Nikah? Berapa Anaknya?’: Pertanyaan Basa-Basi Ini Bisa Jadi Stigma Buat Kamu
Saya agak terkejut. Mana yang benar, “sunat atau tidak sunat”. Sampai akhirnya saya punya kesempatan untuk bertanya langsung ke orang yang bersangkutan dan dijawab dengan, “Tidak sunat.”
Jujur saya speechless. Speechless-nya kenapa, karena saya tidak mengira kalau kebenaran justru datang dari istri abang saya. Apakah Mba O berbohong? Atau dia tidak bisa membedakan mana yang sunat dan tidak sunat?
Sembari masih terus bergumul dengan pikiran sendiri, abang saya menjelaskan mengapa dia tidak sunat. Katanya kulupnya bisa diturunkan ke bawah, sehingga dia tidak perlu sunat. Saya mendebatnya dan bilang kalau kebutuhan sunat bukan hanya karena kulup yang diturunkan dan tidak diturunkan melainkan alasan kebersihan. Yang dijawab abang saya kalau dengan kebisaan kulup yang diturunkan itu bisa memudahkan untuk dibersihkan.
Kami berdebat mengenai kulup dengan ulasan yang detail, tapi tidak sedetail yang membuat saya cerita ke abang kalau saya pernah melihat penis dengan kulup yang bisa diturunkan namun kotor yang amat sangat.
39 tahun menjadi perempuan yang hidup di Indonesia yang tumbuh besar dengan budaya patrilineal dan patriarkis, obrolan ini adalah obrolan bermutu sepanjang masa buat saya. Mengapa begitu? Karena buat saya pribadi, ini memutus rantai ketabuan pembicaraan seks internal dalam keluarga.
Baca Juga: Film ‘The Worst Person in the World’: Tak Harus Menikah dan Punya Anak Untuk Disebut Sebagai Perempuan
Orangtua kami dari generasi silent yang bukan hanya soal seks saja, ada banyak hal yang ditabukan serta serba dikonvensionalkan. “Aku tidak minta dilahirkan!!!” Biasanya kan anak-anak sekarang sudah berani speak up dan protes melihat kondisinya lalu meminta untuk tidak dilahirkan. Kami tidak demikian. Saya sendiri merasa kalau apa yang dilakukan orangtua kami ke kami, adalah sesuatu yang diturunkan. Ibu saya menutup pintu informasi mengenai seks karena bisa jadi itu yang diterimanya ketika kecil.
Dalam percakapan dewasa saya dan abang, kami membicarakan bagaimana abang ketika duduk di bangku kuliah dan kedapatan menonton film porno didoakan dengan dipanggil pendeta ke rumah. Doa adalah solusi untuk sesuatu yang tidak bisa (tidak mau diselesaikan secara “empat mata”. Atau sebenarnya bukan tentang empat mata sih, melainkan keengganan untuk membahas lebih spesifik saja dengan alasan tabu dan tidak pantas.
Saya menganggap obrolan “tak penting” kami–antara saya dan abang–sudah mendobrak ketabuan yang menjadi turun-temurun di keluarga kami. Yah, walaupun itu tidak serta merta menyelesaikan seluruh masalah kehidupan, tapi setidaknya saya merasa kami sudah setingkat lebih maju dalam hal tidak menabukan hal-hal yang oleh norma, adat, dan adab menjadi tabu.
Baca Juga: Tak Semua Perempuan Menikah Harus Punya Anak; Yang Penting Happy
Harapannya, ketika kelak membelah diri atau berinteraksi dengan manusia-manusia lain, kami tidak menurunkan ideologi-ideologi yang tidak patut ditemurunkan.
Kalau dipikir-pikir, ada banyak kesedihan yang diteruskan dari satu generasi ke generasi lainnya. Saya kadang bersyukur, kesialan dan kesakitan kehidupan yang saya alami di usia muda membuat saya tidak terlalu terjebak dalam ritual norma yang biasa ditemukan di struktur sosial masyarakat. Paling persoalannya adalah kuat-kuatan hati dan mental saja, karena selama masih bernapas, kita tidak akan pernah bisa lepas dari yang namanya interaksi dengan manusia–termasuk komentar orang yang beranggapan cara hidup kita berbeda dan tidak wajar.
2025 dan seterusnya
Hampir di pengujung akhir usia 30-an, bergender perempuan, dan tinggal di Indonesia, tidak punya pekerjaan tetap, single, dan sekarang ini menjadi baby sitter untuk keponakan laki-laki yang menginjak usia satu tahun. Saya sudah membersamainya sejak usia enam bulan. Ketika mimpi untuk memiliki keluarga dan anak pupus, saya malah ketiban menjadi pengurus bocil. Mulai dari membuat MPASI sampai membawanya rutin vaksin. Cerita bagaimana saya sampai menjadi pengurus bocil karena kedua orangtuanya bekerja dan mereka enggan untuk meninggalkan anaknya dengan orang asing. Akhirnya, karena saya tidak terikat dimana-mana, saya menjadi penjaga ponakan.
Menjadi penjaga bayi membuat saya semakin menyadari kalau hidup berkeluarga bukan hanya sekadar mendapatkan pasangan seks halal atau memiliki anak ataunya lagi “bermain rumah-rumahan”. Kita memang harus benar-benar menanggungjawabi keluarga yang kita bentuk, termasuk makhluk kecil yang lahir dari senggama tersebut. Tidak mudah, dan memang tidak akan pernah mudah.
Ketika kita kira lewat usia satu tahun sudah masuk kategori aman, selalu ada saja hal yang baru yang harus kita upgrade dalam rangka pengembangan manusia mini tersebut.
Namun, di balik segala peng-upgrade-an dan lelah, tidur yang tak nyenyak, serta lain-lainnya, akan sangat bahagia melihat tumbuh kembangnya. Itu yang saya rasakan sejauh ini ketika melihatnya berhasil mempelajari satu hal atau melewati sakit dan kembali sehat.
Baca Juga: Tentang Childless: Mendengar Pengalaman Perempuan yang Hidup Tanpa Anak
Oh ya, mengurus keponakan semakin menyakini saya kalau menikah dan punya keluarga tidak untuk semua orang. Sampai saat ini saya beranggapan, ketimbang membelah diri dan meramaikan populasi yang sudah padat, lebih baik mengurus anak yang sudah ada.
Kalau pepatah jadul bilang butuh satu desa untuk membesarkan seorang anak, itu adalah kenyataaan. Saya rasa, ketimbang menjadi “mesin reproduksi”, saya lebih baik menjadi bagian dari warga desa yang membantu membesarkan anak.
Konsep hidup sendiri dan membantu membesarkan anak bukan sesuatu yang baru. Kalau kita melihat ke belakang, di tahun-tahun sebelumnya, banyak juga yang hidup sendiri–di luar Paulus yang hidup sendiri karena memilih untuk fokus pada pelayanan dan Tuhan. Paulus adalah rasul Yesus yang hidup di abad pertama Masehi, meninggal karena keyakinannya pada Yesus.
Saya mengenal seorang teman yang dua adik perempuan dari ibunya–tantenya–tidak menikah. Kedua tante ini secara tidak langsung membantu membesarkan teman saya. Saya tidak tahu apa yang membuat kedua tante ini memutuskan untuk tidak menikah. Ada banyak hal yang terjadi dalam kehidupan manusia yang membuatnya tidak menikah dan tak memiliki anak.
Baca Juga: Mengenal Teori Politik Feminis dan Kontribusinya Mendorong Kebijakan Adil Gender
Tidak melulu drama, kepahitan, trauma, terkadang memang tidak menemukan orang yang tepat saja. Ketika akhirnya tidak membentuk keluarga, keputusan para single membantu keluarganya membesarkan anak-anak yang sudah ada.
Lingkungan internal dan eksternal membentuk pengalaman hidup seseorang dan bagaimana dia memaknai kehidupannya. Apa yang ingin dia lakukan ke depan, perspektifnya mengenai kehidupan orang lainnya, dan cara berelasi. Lingkungan juga dibentuk oleh zaman dimana lingkungan tersebut hidup dan bergerak. Namun, tidak mutlak demikian.
Zamannya sudah progresif sekalipun kalau manusianya tidak mendapatkan dorongan internal dan dukungan eksternal yang memadai, “pencerahan” juga tidak akan terjadi. Mengapa saya bilang demikian? Karena di masa sekarang, ketika bacaan-bacaan yang mencerahkan sudah banyak muncul ke permukaan, tidak semuanya berhasil membawa perubahan. Bisa jadi karena perkara akses ke sumber media tersebut atau semua adalah masalah pola pikir yang dibentuk sehingga membuat dirinya membatu.
Suatu kali, dalam suatu obrolan santai dengan editor buku seks saya, si editor bertanya, “Kalau seandainya orangtua Mbak masih ada, kira-kira Mbak akan menulis buku seks atau enggak ya?” Saya tercenung mendengar pertanyaannya. Karena memang saya tidak pernah memikirkan sedalam itu. Saya masih hidup berinteraksi dengan saudara saudari saya–saya anak ketujuh dari tujuh bersaudara–dan mereka tahu apa yang saya kerjakan.
Baca juga: Kamus Feminis: Apa Itu Feminisme Interseksional? Pentingnya Perspektif Kelas dalam Membela Perempuan
Menariknya, tidak ada satupun yang mengkonfrontasi saya karena apa yang saya tulis. Mungkin karena saya sudah “dewasa”, mandiri dan tidak bergantung secara finansial lagi sehingga mereka tidak bisa mendikte saya. Namun, kalau dipikir-pikir, saya lebih ringan menuliskan cerita seks karena orangtua saya sudah tidak ada lagi. Jadi, saya tidak punya beban moral untuk menulis dengan bebas–selepas-lepasnya.
“Mungkin enggak ya…” saya menjawab setelah terdiam agak lama.
Saya tidak mungkin sebebas ini menulis–tentang seks–apalagi menceritakan pengalaman dibesarkan oleh orangtua saya, kalau keduanya masih ada dan saya membersamai mereka. Bisa jadi kalau orangtua masih hidup saya benar-benar menikah di usia 20-an seperti masa kecil saya. Dan tidak tanggung-tanggung, bukan tak mungkin saya menikah dengan laki-laki Batak banget, memiliki anak, menjadi ibu rumah tangga (?), dan meneruskan patriarki yang sangat beracun itu! Mungkin.
Atau mungkin mereka bisa menerima saya dengan segala pengalaman buruk nan busuk yang saya alami? Lha, kalau mereka masih ada, mustahil buat saya untuk tidur dan meniduri 10+ laki-laki? Ketika mereka ada, saya akan hidup dalam pagar norma dan keluarga, sehingga mustahil buat saya untuk mencari pelampiasan lewat jalur seks.
Toh, salah satunya karena kehilangan mereka yang membuat saya akhirnya menjadi lepas, bebas, dan terlepas. Memunculkan trauma kemudian bangkit dari trauma dan menemukan persepsi baru mengenai diri dan kehidupan.
Baca juga: Edisi Khusus Feminisme: Feminisme Liberal Perjuangkan Persamaan Hak Perempuan
Saya sesekali pernah membayangkan, bagaimana seandainya orangtua saya masih hidup. Apa yang terjadi? Apakah kehidupan menjadi lebih baik? Bisakah duka tidak akan ada terlalu banyak? Apakah saya akan mengiris-iris tangan dan melukai diri sendiri? Tidak ada yang pasti mengenai hal tersebut.
Kepergian orang-orang terdekat terkadang menjadi kesempatan buat kita untuk menjadi diri sendiri. Mereka pergi untuk memberi kita kesempatan menjalani hidup yang lebih baik.
Bulan Juni 2025 ini, saya menginjak usia 39 tahun. Saya warga negara Indonesia, beretnis Batak, di KTP saya masih tercantum identitas Kristen Protestan–walau sudah lima tahun tidak beribadah di gereja. Hidup nomaden. Saya di-PHK dua kali. Sering di-ghosting HRD. Masih terus berusaha menegarkan diri dalam menghadapi perubahan digitalisasi yang menggila di era AI ini. Saya berusaha tetap hidup dan menikmati hidup di tengah iklim “gado-gado” di Indonesia.
Menjadi perempuan di negara patriarki dengan level kegilaannya sendiri memang penuh tantangan. Namun saya bisa dengan yakin mengatakan, saya bahagia dan masih mengupayakan kebahagiaan itu selagi masih bernapas dan diberi kesempatan serta kemauan untuk berkarya.
Saya tidak menyesali apa yang sudah terjadi dengan diri saya. Buat apa disesali? Nasi sudah menjadi bubur, tinggal kita yang memilih topping apa yang cocok untuk bubur tersebut? Cakue, udang, daging, atau taburan merica sebagai penambah pedas gurih kehidupan yang “hambar” ini.






