Laki-laki sekutu

Kamus Feminis: Solidaritas Laki-Laki Sekutu, Menjadi Ally Jangan Hanya Performatif

Apakah kamu laki-laki sekutu feminis (feminist ally)? Pastikan kamu sungguh-sungguh ingin memperjuangkan keadilan gender dan tidak hanya performatif.

Konde.co menyajikan kamus feminis sebulan sekali. Kamus feminis berisi kata-kata feminis agar lebih mudah dipahami pembaca.

Benarkah feminisme hanya tentang dan untuk perempuan? Tentu saja tidak! Nyatanya, banyak laki-laki juga mendukung prinsip feminisme tentang kesetaraan dan keadilan gender, terutama akhir-akhir ini. 

Patriarki menjadi sistem yang menindas perempuan dan kelompok marginal, serta menguntungkan laki-laki. Namun, sadar atau tidak, patriarki juga sesungguhnya kerap merugikan laki-laki; sebab, lebih dari soal perempuan, patriarki adalah tentang penindasan dan ketimpangan dalam konteks yang lebih luas. Lalu feminisme mendorong bukan hanya pemenuhan hak bagi perempuan dan kelompok termarginalkan, tetapi juga laki-laki, di luar kotak-kotak gender yang selama ini diciptakan dan dilanggengkan oleh patriarki.

Di era ketika isu kesetaraan gender makin sering digaungkan, banyak laki-laki mulai menyebut dirinya sebagai ally atau sekutu bagi perempuan. Mereka membaca buku-buku feminis, ikut kampanye “#HeForShe”, atau aktif menyuarakan penolakan terhadap kekerasan berbasis gender di media sosial. Namun, di balik semua gestur dukungan itu, muncul pertanyaan penting. Apa sebenarnya makna menjadi laki-laki sekutu dalam feminisme? Apakah cukup dengan menyatakan dukungan, atau ada tanggung jawab yang lebih dalam?

Perjuangan feminisme bukan semata-mata atas nama perempuan. Feminisme, sebagai gerakan untuk menghapus ketidakadilan berbasis gender, tidak menolak kehadiran laki-laki. Maka di sinilah posisi laki-laki sekutu menjadi rumit. Di satu sisi, mereka diterima sebagai bagian dari perjuangan. Namun, mereka juga perlu selalu dikritisi dan dipantau agar tidak jatuh dalam jebakan patriarki versi lebih ‘halus’.

Baca Juga: Kamus Feminis: Anarkisme dan Anarko-Feminisme (Tidak) Sama Dengan Kekacauan

Gerakan feminis kontemporer memandang laki-laki sekutu sebagai bagian dari solidaritas lintas-gender. Dalam kerangka ini, laki-laki bisa menggunakan privilese sosial yang dimilikinya untuk mendorong perubahan struktural. Misalnya, dengan mendukung kebijakan kerja yang adil gender. Juga menentang kekerasan berbasis gender di lingkungan sekitar, atau menghentikan dan menolak candaan seksis di ruang-ruang pertemanan.

Laki-laki sekutu juga bisa menjadi penghubung di banyak konteks. Tentu bukan dalam arti “juru bicara perempuan”. Di ruang-ruang yang masih didominasi laki-laki, mereka dapat menyampaikan pesan mengenai kesetaraan dan keadilan gender. Para laki-laki ally juga dapat membuka percakapan soal maskulinitas toksik, peran ayah yang setara, dan pentingnya membangun relasi tanpa kekerasan.

Namun, perlu diingat, feminisme tidak pernah menempatkan laki-laki sekutu sebagai ‘pahlawan’ yang datang menolong perempuan. Sesungguhnya gerakan laki-laki sekutu menegaskan bahwa laki-laki diuntungkan oleh sistem patriarki yang menindas. Oleh karena itu, menjadi sekutu berarti ikut bertanggungjawab membongkar sistem tersebut. Termasuk di dalam dirinya sendiri.

Laki-laki sekutu semakin banyak bergabung dalam gerakan feminis. Mereka juga membentuk kelompok solidaritas seperti Aliansi Laki-Laki Baru di Indonesia. Gerakan laki-laki sekutu seperti ini menopang satu sama lain untuk menghadapi tantangan yang selama ini dihadapi oleh aktivis laki-laki. Yang paling sering terjadi, stigmasisasi dari kelompoknya sendiri sebagai laki-laki yang “tidak memenuhi kualifikasi laki-laki ideal”. Mereka juga saling berbagi informasi dan edukasi mengenai kekerasan dan ketimpangan berbasis gender, jenis-jenis kekerasan seksual, dan sebagainya. Pada prinsipnya, gerakan laki-laki sekutu feminis bisa dimaknai sebagai upaya menghancurkan patriarki dari ‘dalam’.

Baca Juga: Kamus Feminis: ‘Her’story, Gugat Penyingkiran Perempuan dalam Sejarah Indonesia

Masalahnya, tidak sedikit laki-laki yang berhenti di permukaan. Mereka menyebut diri feminist ally (sekutu feminis) untuk citra progresif, tetapi tidak mengubah perilaku atau cara berpikirnya. Fenomena ini disebut sebagai performative ally (sekutu performatif). Artinya, sekutu yang sibuk menunjukkan kepedulian, tapi tetap mempertahankan kuasa.

Contohnya bisa dilihat dalam forum-forum diskusi mengenai kekerasan berbasis gender dan perlindungan terhadap perempuan. Masih sering terjadi, justru laki-laki bicara lebih banyak daripada perempuan tentang feminisme dalam forum seperti itu. Bahkan beberapa kali, diskusi bertajuk demikian diisi sepenuhnya oleh panelis atau narasumber laki-laki. Bukannya bersekutu, laki-laki melakukan mansplaining dan perempuan berujung tetap dijadikan objek semata.

Atau misalnya di ruang kerja, laki-laki menyebut diri mendukung kesetaraan tapi masih melecehkan rekan perempuan. Di media sosial pun, masih ada dari mereka yang memosisikan diri sebagai ‘influencer’ atau ‘pemengaruh’ yang lantang menyuarakan ketidakadilan gender, tapi tidak pernah benar-benar mendengarkan pengalaman perempuan.

Lebih buruk lagi, tidak sedikit laki-laki yang mengklaim diri sebagai ally atau sekutu, ternyata tetap melakukan kekerasan berbasis gender. Di depan publik mereka mengaku feminis, tapi di baliknya, mereka pelaku kekerasan seksual. Alhasil, ranah ‘sekutu’ menjadi abu-abu dan muncul pertanyaan mengenai kesungguhan laki-laki untuk mendukung feminisme.

Baca Juga: Kamus Feminis: Filsafat Perspektif Feminis, Ruang Pemikiran Bukan Hanya Milik ‘Abang-Abangan’

Feminisme radikal dan poskolonial mengingatkan bahwa menjadi sekutu bukan soal berbicara atas nama perempuan. Tapi belajar untuk mendengarkan dan merefleksikan posisi kuasa. Laki-laki sekutu yang sejati tidak berfokus pada pembuktian moralitas dirinya dengan mengatakan, “Lihat, aku mendukung perempuan!”. Persekutuan adalah tentang upaya konkret membongkar sistem yang menguntungkannya. Bahkan ketika itu membuatnya tidak nyaman.

Bagi feminis seperti bell hooks, laki-laki sekutu sejati adalah mereka yang berani menanggung risiko sosial dan emosional. Sebab mereka menolak norma maskulinitas dominan. Dalam masyarakat patriarkal, laki-laki yang menunjukkan empati, menangis, atau menolak kekerasan sering dianggap “lemah”. Tapi justru di situlah letak kekuatan: berani keluar dari definisi maskulinitas yang menindas.

“Menjadi sekutu berarti menantang patriarki bukan hanya di luar, tapi juga di dalam diri,” tulis hooks dalam ‘The Will to Change: Men, Masculinity, and Love’. Dengan kata lain, perjuangan laki-laki sekutu tidak bisa berhenti pada advokasi publik, tetapi juga harus menyentuh ranah personal. Misalnya dalam relasi dengan pasangan, cara mendidik anak, hingga pembagian peran domestik.

Di Indonesia, perbincangan soal laki-laki sekutu mulai mendapat tempat dalam beberapa tahun terakhir, terutama seiring menguatnya gerakan feminis muda dan digital. Namun, feminisme Indonesia juga punya kekhasan tersendiri. Ia tumbuh dalam konteks sosial dan politik yang sarat dengan nilai keluarga, agama, dan negara.

Julia Suryakusuma mengupas peran perempuan yang dilekatkan pada peran domestik, yang disebut state ibuism (ibuisme negara). Konsep yang marak sejak Orde Baru ini menunjukkan cara Indonesia membentuk identitas perempuan sebagai “pendamping” laki-laki dan penjaga moral bangsa. Dalam struktur seperti ini, laki-laki kerap diposisikan sebagai pemimpin alami. Maka, ketika laki-laki bergabung dalam gerakan feminis, penting bagi mereka untuk menyadari posisi historisnya. Mereka datang dari tradisi yang selama ini diberi ruang lebih besar untuk berbicara, memimpin, dan menentukan.

Baca Juga: Kamus Feminis: Ekosida, Kejahatan Lingkungan Memusnahkan Perempuan dan Kelompok Rentan

Sementara itu, Gadis Arivia, pendiri Jurnal Perempuan, mengingatkan bahwa kesetaraan bukan hanya soal akses yang sama, tapi juga soal cara berpikir yang setara. Ia menekankan bahwa laki-laki yang ingin menjadi sekutu perlu membuka diri untuk belajar, bukan sekadar mengajar. Laki-laki sering datang dengan perspektif logika dan struktur. Namun, mereka lupa bahwa pengalaman perempuan juga adalah bentuk pengetahuan.

Feminisme Indonesia menempatkan laki-laki sekutu sebagai bagian dari ruang belajar bersama, bukan ruang untuk mendominasi ulang. Dalam banyak komunitas feminis muda, misalnya, laki-laki dilibatkan dalam diskusi soal kekerasan berbasis gender atau peran ayah yang setara. Tapi keterlibatan ini selalu disertai refleksi: apakah mereka benar-benar hadir untuk belajar, atau sekadar ingin terlihat “mendukung”?

Pada akhirnya, feminisme tidak memandang “sekutu” sebagai label yang bisa diklaim begitu saja. Ia adalah proses panjang belajar, mendengar, dan mengubah diri. Laki-laki sekutu perlu memahami bahwa solidaritas feminis bukan tentang berbagi panggung, tapi tentang berbagi beban perjuangan.

Laki-laki perlu ingat beberapa hal. Menjadi sekutu berarti harus berani mengakui privilese yang dimiliki. Harus siap ditegur ketika salah bicara atau berperilaku, serta tidak defensif ketika perempuan menunjukkan kritik. Selain itu, teruslah bertanya: apakah tindakan mereka sebagai sekutu benar-benar membantu, atau justru hanya memperkuat posisi mereka sendiri sebagai laki-laki?

Kesetaraan gender tidak akan tercapai tanpa keterlibatan laki-laki. Tapi keterlibatan itu harus berangkat dari kesadaran yang kritis. Laki-laki sekutu bukan ‘penyelamat perempuan’. Melainkan rekan perjuangan yang juga sedang membebaskan dirinya dari sistem yang sama-sama menindas.

Seperti kata bell hooks, “Feminism is for everybody, but that doesn’t mean everybody gets to define it.”

Maka, ketika laki-laki menyebut dirinya feminis, pertanyaannya bukan apakah mereka mendukung perempuan. Tapi apakah mereka siap berubah bersama perempuan?

Salsabila Putri Pertiwi

Redaktur Konde.co
Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

Creative Commons License

1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

Let's share!