Konde.co menyajikan kamus feminis sebulan sekali. Kamus feminis berisi kata-kata feminis agar lebih mudah dipahami pembaca.
Di pengujung Juli 2025, sebuah poster acara diskusi bertajuk ‘Merayakan Kematian Filsafat?’ ramai dibincangkan di media sosial. Poster acara yang diselenggarakan oleh Odyssey Centre for Philosophy tersebut menampilkan lebih dari 20 pembicara—yang semuanya adalah laki-laki.
Protes bermunculan karena diskusi tersebut menjadi all-male panel serta tidak inklusif bagi perempuan dan ragam gender-seksualitas. Usai ramai, beberapa pembicara menyatakan pengunduran diri dan pihak penyelenggara meminta maaf serta menurunkan poster tersebut. Namun, kritik terus mengalir. Sorotan utamanya adalah peminggiran perempuan dan ragam gender-seksualitas dari ruang obrolan dan pemikiran filsafat selama ini.

Apa pun motif penyelenggaraan diskusi tersebut, kehadirannya memunculkan pertanyaan-pertanyaan mengenai inklusivitas dalam filsafat serta invalidasi perempuan di dalamnya sepanjang sejarah. Benarkah bahwa filsafat itu maskulin dan hanya bisa dipahami oleh ‘abang-abangan’? Betulkah bahwa filsafat adalah ilmu yang hanya cocok untuk laki-laki karena mempersoalkan ‘rasionalitas’? Apakah lantas perempuan serta ragam gender dan seksualitas lainnya menjadi nihil dalam diskursus filsafat karena mereka dianggap lebih cenderung ‘emosional’?
Baca Juga: Kamus Feminis: Ekosida, Kejahatan Lingkungan Memusnahkan Perempuan dan Kelompok Rentan
Sejak masa Yunani Kuno hingga kini, perempuan selalu dikecualikan dari diskusi bidang filsafat. Namun, persepsi bahwa filsafat adalah bidang ilmu yang ‘maskulin’ sesungguhnya sudah usang. Kemunculan feminisme dan tokoh-tokoh filsuf perempuan dalam linimasa perkembangan filsafat pun membuktikan: ‘makhluk rasional’ bukan hanya laki-laki, pengalaman perempuan dan kelompok rentan juga menjadi esensi gagasan filsafat.
Lantas, saatnya kita berkenalan dengan filsafat berperspektif feminis, yuk! Sebab ruang berpikir filsafat bukan hanya tongkrongan ‘abang-abangan’ dengan bahasa-bahasa yang terlalu meninggikan filsafat dan maskulinitas, sekaligus merendahkan dan mengesampingkan perempuan.
Sejarah Filsafat yang Bias Gender Serta Perlawanan Perempuan
Persepsi bahwa filsafat adalah bidang ilmu yang ‘maskulin’ dan bias gender rupanya sudah mengakar sejak awal kemunculannya. Hal ini diulas dalam buku ‘Menuju Filsafat Berperspektif Feminis’ (2003) karya Gadis Arivia.
Sepanjang sejarah filsafat yang telah berusia lebih dari 2500 tahun, ia selalu dilekatkan dengan pemikiran laki-laki. Sejak zaman Yunani Kuno hingga hari ini, filsafat secara eksklusif dibuat oleh laki-laki dan dipenuhi prasangka laki-laki. Sedangkan filsuf dan pemikiran perempuan kerap dianggap tidak penting dan berada di pinggiran (marginal).
Dalam buku yang berasal dari disertasinya itu, Gadis Arivia meneliti setidaknya 14 filsuf laki-laki dalam sejarah. Seperti Plato, Aristoteles, John Locke, David Hume, dan lain-lain. Meski gagasan filsafat mereka telah menginspirasi gagasan-gagasan kontemporer setelahnya dan menjadi arus utama, pemikiran mereka kebanyakan tetap mengindikasikan peminggiran perempuan.
Marginalisasi perempuan dan serta pengalaman dan pemikirannya sudah berlangsung sejak jauh sebelumnya. Gadis Arivia menyebut, diskredit terhadap perempuan dalam bidang filsafat rupanya sudah mengakar sejak sekitar 10 ribu tahun yang lalu, sejak milenium keempat sebelum Masehi (SM). Masa-masa itu menandai lahirnya patriarki-supremasi laki-laki.
Baca Juga: Kamus Feminis: Perkosaan, Cara Laki-laki Menakut-Nakuti Perempuan Agar Berada di Tempatnya
Gagasan-gagasan para filsuf di era Yunani Kuno sebetulnya sudah menunjukkan watak tersebut. Aristoteles contohnya. Ia dikenal karena berbagai gagasannya, mulai dari retorika, manusia sebagai makhluk sosial, metode induktif-deduktif dalam upaya penemuan pengetahuan dan kebenaran, hingga ide-ide soal politik dan hukum. Namun, di samping itu, Aristoteles melihat perempuan sebagai makhluk yang ‘minim otoritas’ dan melegitimasi subordinasi mereka terhadap kekuasaan laki-laki dalam rumah tangga hingga bermasyarakat. Ia juga menyebut perempuan sebagai, “Laki-laki yang tidak sempurna” secara biologis.
Aristoteles membagi hubungan rumah tangga menjadi beberapa kategori: ‘tuan dan budak’, ‘ayah dan anak’, serta ‘suami dan istri’. Masing-masing menetapkan bentuk kekuasaan (archē) yang ‘proporsional’ secara deliberatif. Menurutnya, meski perempuan memiliki kemampuan itu, mereka, “Tidak memiliki otoritas,” juga membedakan istri dari budak yang, “Sama sekali tidak berakal.” Maka Aristoteles melihat perempuan sebagai agen rasional yang penilaiannya tetap berada di bawah pengawasan laki-laki. Ia juga membingkai perempuan sebagai sosok yang, “Pasif secara biologis” dalam ‘tatanan alami’ hierarki seksual.
Pemikiran Aristoteles memunculkan perdebatan awal mengenai misogini dan domestikasi perempuan. Banyak kritik terhadap pemikirannya, meski beberapa orang menganggap gagasan Aristoteles terkait perempuan tidak bisa dimaknai begitu saja. Di sisi lain, gagasan Plato—guru dari Aristoteles—cukup sering digaungkan sebagai ‘pemikiran feminis pertama’. Tapi ia juga gagal keluar dari kerangka berpikir yang seksis.
Di satu sisi, Plato mempromosikan tentang tatanan masyarakat ideal yang setara. Menurutnya, setiap orang patut mendapatkan pendidikan dan pelatihan mumpuni. Dalam pemahaman tersebut, ia percaya, perempuan dapat, “Setara dengan laki-laki.” Plato juga menilai penindasan terhadap perempuan adalah kesia-siaan bagi sumber daya manusia. Namun, kesetaraan bagi perempuan baru bisa dicapai jika mereka mendapatkan ‘pelatihan’ tersebut. Ini karena Plato melihat perempuan secara fisik ‘lebih lemah’ dari laki-laki. Dalam karya-karyanya, Plato menyebut perempuan sebagai ‘tertutup’, ‘inferior’, ‘mudah tersinggung’, ‘kasar’, ‘terlalu emosional’, dan ‘pendidik yang buruk’.
Baca Juga: Kamus Feminis: Dari Ndasmu, Anjing Menggonggong Hingga Antek Asing, Label Sebagai Alat Pembungkaman
Bukannya tidak ada filsuf perempuan di masa Yunani Kuno. Namun, nama-nama yang tercatat dalam sejarah hanya sedikit. Misalnya Sappho (abad ke-7 atau 6 SM), penulis puisi tentang cinta dan seksualitas dari Pulau Lesbos. Atau Ptolemais, penulis buku ‘Pythagorean Principles of Music’. Diotima, sosok filsuf perempuan yang ditulis Plato. Dan Hypatia (350/370-415), filsuf dan matematikawan Neoplatonis perempuan pertama yang akhirnya dibunuh secara tragis.
Di era Yunani dan Romawi Kuno, perempuan tidak boleh mengajar dan berbicara, terutama di gereja. Alhasil, perkembangan pemikiran perempuan pun terhambat. Mereka didomestikasi dan dibungkam. Laki-laki dipandang sebagai sosok ‘sempurna’, sedangkan perempuan ‘tidak sempurna’ dan ‘liyan’. Gagasan bahwa perempuan bisa mencapai tahapan spiritual dan pengetahuan yang sama dengan laki-laki muncul pada teks sekolah ‘Gnosticism’ di abad 2 dan 3. Namun, hal itu disebut baru bisa dicapai jika perempuan, “Menjadi seperti laki-laki.”
Patriarki dan bias gender dalam gagasan filsafat terus berlanjut. Di Abad Pertengahan, pemikiran didominasi ‘gereja’ dengan perspektif maskulin. Namun, para pemikir perempuan juga muncul di masa itu, kebanyakan di monastri atau biara. Mereka ‘melawan’ maskulinitas gereja dengan membentuk komunitas biara yang saling mendukung.
Salah satu sosok yang signifikan di Abad Pertengahan adalah Abbess Hildegard von Bingen (1098-1170) dari Jerman. Ia kerap mengkritisi kekuasaan gereja dalam karyanya. Pemikiran teologisnya pun kemudian dituliskan oleh Mary Daly (1928-2010) di era modern. Ada pula pemikiran Wilhelmina dari Milan (1280), yang meyakini dirinya sebagai reinkarnasi feminin dari Tuhan di dunia. Wilhelmina mewarisi pemikiran hierarki perempuan dalam gereja pada Mayfreda, yang dibakar gereja pada tahun 1300.
Baca Juga: Kamus Feminis: (Bukan) Gender War, yang Sebenarnya Terjadi adalah Ketimpangan Gender
Perlawanan-perlawanan terus bermunculan dari biara di Abad Pertengahan. Biarawati asal Perancis, Marguerite Porete (1260-1310), menuliskan buku ‘The Mirror of Simple Souls’ tentang penggambaran Tuhan lewat cinta alih-alih gereja. Serta biarawati Teresa dari Avila, Spanyol (1515-1582) yang menginisiasi aturan untuk biara. Sebab menurutnya, aturan dari laki-laki tidak akan sesuai untuk kebutuhan perempuan. Ia juga menjadi doktor perempuan pertama gereja.
Filsafat beranjak ke era modern, tapi ia tetap lekat dengan bias gender. Rasionalitas, yang menjadi landasan berbagai pemikiran di era ini, tetap diidentikkan sebagai ‘pengalaman laki-laki’. Wacana itu muncul dari sejumlah filsuf modern seperti Descartes, Immanuel Kant, dan Hegel. Immanuel Kant juga menulis bahwa perempuan tidak cocok untuk pekerjaan rasional atau moral karena terlalu ‘emosional dan tergantung’. Sedangkan Hegel menihilkan peran perempuan di ruang publik karena mereka ‘tidak dapat melampaui ikatan keluarga’.
Diskursus rasionalitas pun dianggap netral. Padahal, itu adalah rasionalitas laki-laki kulit putih borjuis. Mereka mengabaikan konteks tubuh, relasi sosial, dan pengalaman non-dominan.
Di sisi lain, pada saat bersamaan, para tokoh filsuf perempuan lahir dan mengintervensi sistem filsafat maskulin. Seorang filsuf Perancis Christine de Pizan menulis ‘The Book of the City of Ladies’ (1405). Ia menyerang ironi misoginis, khususnya dalam konsep kenegaraan. Pizan menuliskan tokoh-tokoh perempuan dan menggambarkan masyarakat utopis yang menempatkan perempuan dalam situasi memiliki hak dan kebebasan layaknya laki-laki. Ada pula Marie de Gournay (1565-1645) yang pertama kali menggagas pemikiran awal modern mengenai ‘equal rights (hak setara)’ dalam buku ‘The Equality of Men and Women’.
Di Abad Pencerahan, pada saat Revolusi Perancis 1789 meletus, perempuan secara aktif terlibat di dalamnya. Women’s March pertama lahir pada tahun tersebut, tepatnya tanggal 5 Oktober 1789. Aksi itu diikuti lebih dari 8,000 perempuan pekerja dan borjuis, menjadi bagian dari feminisme gelombang pertama. Mereka melawan gagasan patriarkal mengenai rasionalitas, yang menilai bahwa perempuan bukan makhluk rasional dan hanya bertugas mengurus anak.
Baca Juga: Kamus Feminis: di Mana Ada Bias Gender, di Situ Terjadi Diskriminasi Terhadap Perempuan
Gagasan tersebut juga muncul dari filsuf perempuan asal Inggris, Mary Wollstonecraft (1759-1797). Ia menulis buku ‘A Vindication of the Rights of Women‘ (1792). Wollstonecraft mengkritik filsuf Perancis Jean-Jacques Rousseau yang mengatakan bahwa perempuan diciptakan untuk membantu dan menyenangkan laki-laki. Menurut Wollstonecraft, ketidakmandirian perempuan dibentuk oleh masyarakat patriarkal sehingga perempuan harus merebut kembali kemerdekaannya.
Salah satu nama yang fenomenal adalah Simone de Beauvoir. Ia adalah feminis eksistensialis dan penulis buku ‘The Second Sex’. Meski sering dikenal hanya sebagai ‘pendamping’ filsuf Jean-Paul Sartre, pemikiran Beauvoir merupakan bagian penting yang berdiri sendiri dalam perkembangan filsafat modern yang lebih berperspektif gender. Malah, sebagian orang juga mengetahui bahwa karya-karya Sartre berasal dari pertukaran pikirannya dengan Beauvoir. Melalui tulisannya, Beauvoir menunjukkan bahwa perempuan tidak pernah menjadi subjek universal dalam filsafat. Perempuan kerap dianggap sebagai ‘Liyan (the Other)’ atas ‘Diri (the Self)’ laki-laki.
Tokoh-tokoh feminis lainnya di linimasa itu juga menantang gagasan filsafat maskulin dan patriarki. Seperti Judith Butler dan Luce Irigaray yang membongkar bahasa dan logika filsafat yang menyembunyikan seksisme struktural. Serta bell hooks, Angela Davis, dan Audre Lorde yang menyoroti bahwa bukan hanya gender, tapi ras, kelas, dan kolonialisme juga dilupakan oleh filsafat arus utama.
Sementara itu, pemikiran dan pengalaman interseksional yang autokritik terhadap pemikiran sesama perempuan juga sebetulnya menjadi elemen penting dalam filsafat. Hal ini diutarakan oleh Sojourner Truth, perempuan mantan budak yang muncul pada Konferensi Perempuan Amerika Serikat pada 1851. Truth mengkritik gerakan perempuan pada era tersebut, yang cenderung berpihak pada ras dan kelas tertentu. Gugatannya kemudian dikenal dengan tajuk ‘Ain’t I a Woman?‘. Ia mengajukan pertanyaan itu kepada peserta yang hadir, terutama laki-laki yang mempertanyakan hak perempuan untuk memilih secara politik.
Indonesia Tidak Kekurangan Filsuf dan Pemikir Perempuan
Filsafat maskulin juga membuat kita kerap tidak mengenal sosok-sosok filsuf dan pemikir perempuan di Indonesia. Padahal, pemikiran dan karya mereka begitu relevan dalam perkembangan ilmu filsafat dan ilmu-ilmu pengetahuan lainnya selama ini.
Salah satunya Karlina Supelli, filsuf sekaligus astronom perempuan pertama di Indonesia. Karlina Supelli juga kini menjadi Direktur Program Pascasarjana dan Ketua Program Doktor di Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara. Ia menuangkan sejumlah gagasan dalam karya-karyanya, termasuk tentang fanatisme dan ekstremisme. Dilihat dari perspektif kosmologi yang kompleks, menurut Karlina, gejala fanatisme dan ekstremisme merupakan penghalang kemungkinan membentuk masyarakat yang pluralis. Kekhawatiran itu digugahnya dalam karyanya ‘Dari Kosmologi ke Dialog, Mengenal Batas Pengetahuan, Menentang Fanatisme‘ (2011).
“Begitu manusia mendaku tahu tentang Tuhan, dia menjadi Ontologi (Sang Ada) yang dipertaruhkan melalui pelbagai epistemologi (laku mengetahui). Padahal epistemologi mengandaikan pengakuan akan ciri antropologis laku mengetahui,” ujar Karlina dalam tulisan tersebut.
Baca Juga: Kamus Feminis: Sojourner Truth Melawan Perbudakan dan Penindasan Gender dan Ras
Bukan hanya dikenal sebagai filsuf dan astronom, Karlina Supelli juga menjadi salah satu motor aksi Suara Ibu Peduli (SIP) yang menentang rezim Orde Baru pada tahun 1998. Ia bersama Gadis Arivia dan Wilasih Noviana menggagas gerakan perempuan yang bersolidaritas dengan demonstrasi mahasiswa menolak kenaikan harga kebutuhan pokok.
Sosok filsuf perempuan lainnya di Indonesia adalah mendiang Toeti Heraty. Ia dianggap sebagai salah satu perempuan pemikir feminis pertama di Indonesia. Toeti Heraty pun banyak menulis pemikiran penting perempuan. Seperti soal narasi perempuan dari mitologi dan sejarah sebagai wacana perlawanan. Dirinya merupakan salah satu pendiri media feminis Jurnal Perempuan dan jadi bagian dari Suara Ibu Peduli. Kini namanya diabadikan dalam Toeti Heraty Scholarship, beasiswa untuk perempuan dan minoritas gender yang menempuh pendidikan di perguruan tinggi strata S1, S2, dan S3 di bidang kajian gender dan ilmu filsafat.
Cendekiawan perempuan seperti Profesor Dr. Saparinah Sadli juga punya kontribusi penting. Saparinah Sadli adalah akademisi di bidang psikologi perempuan dan gender. Ia mengkaji pengalaman perempuan Indonesia secara empirik dan teoretis dengan pendekatan humanistik. Sebagai salah satu tokoh awal gerakan akademik studi perempuan dan gender di Indonesia, Saparinah Sadli mendirikan program studi Kajian Wanita yang kemudian berganti nama menjadi Kajian Gender di Universitas Indonesia. Ia juga berperan dalam lahirnya Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) Mei 1998 dan menjadi ketua pertama Komisi Nasional anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan).
Baca Juga: Kamus Feminis: Stop Mendikotomi ‘Perempuan Baik Versus Perempuan Buruk’
Sosok akademisi lainnya adalah Musdah Mulia, yang bergerak di bidang teologi feminis Islam. Ia menulis buku ‘Islam Menggugat Poligami‘ dan ‘Islam & Hak Asasi Manusia: Konsep dan Implementasi‘. Melalui karya-karyanya, Musdah Mulia membongkar tafsir agama yang patriarkal. Serta menegaskan kesetaraan dalam Islam berdasarkan nilai keadilan, bukan sekadar tradisi. Ia berupaya membangun jembatan antara feminisme dengan keislaman progresif.
Kemudian ada Gadis Arivia, filsuf feminis Indonesia yang menggugat patriarki dalam filsafat Barat. Ia memperkenalkan epistemologi dan etika feminis ke dalam konteks Indonesia melalui disertasi yang lalu dibukukan berjudul ‘Menuju Filsafat Berperspektif Feminis‘. Gadis Arivia juga mendirikan Jurnal Perempuan bersama Toeti Heraty, Asikin Arif, dan Ratna Syafrida Dhanny pada 1995. Serta menjadi salah satu koordinator aksi Suara Ibu Peduli pada 1998.
Filsafat Berperspektif Feminis
Maskulinitas dalam filsafat memunculkan protes dan kritik dari para feminis dan akademisi perempuan. Ini juga memicu Gadis Arivia untuk membuat disertasi terkait filsafat berperspektif feminis.
Dalam buku ‘Menuju Filsafat Berperspektif Feminis‘, muncul tawaran gagasan ‘filsafat berperspektif feminis’. Ia menantang filsafat Barat arus utama yang sarat akan pemikiran laki-laki dan bias gender. Gadis Arivia juga menghadirkan kritik filosofis feminis ke dalam konteks Indonesia. Serta menawarkan pemahaman baru tentang epistemologi, etika, dan politik dari sudut pandang feminisme.
Gadis menyoroti bahwa filsafat yang disebut “universal” sebenarnya dilihat dari kacamata laki-laki. Menurutnya, “Filsafat tampak netral, padahal ia dibangun dengan mengasingkan tubuh dan pengalaman perempuan.” Konsep-konsep seperti subjek rasional, objektivitas, dan moralitas universal mengabaikan pengalaman hidup perempuan dan minoritas. Filsafat Barat klasik hingga modern juga gagal mengakui bahwa jenis kelamin dan relasi kuasa memengaruhi cara berpikir dan membangun teori.
Ia juga menekankan bahwa rasionalitas dalam filsafat sering dipertentangkan dengan emosi dan tubuh. Filsuf feminis seperti Genevieve Lloyd dan Luce Irigaray mengkritik bahwa rasionalitas telah dikonstruksi sebagai maskulin. Emosi, intuisi, dan pengalaman tubuh (yang dilekatkan pada perempuan) dianggap tidak sah secara filosofis. Artinya, cara berpikir yang dianggap “logis” sering digunakan untuk mengabaikan suara perempuan dalam ruang publik dan akademik.
Muncullah gagasan epistemologi feminis, khususnya standpoint epistemology. Sesungguhnya pengetahuan tidak pernah netral, tapi selalu lahir dari posisi sosial tertentu. Pengalaman perempuan memberi perspektif yang sah. Pengetahuan dari “pinggiran” (perempuan, miskin, minoritas) harus diakui dalam filsafat. Sebab pengetahuan bukan monopoli “subjek netral universal” alias laki-laki kulit putih, heteroseksual, dan borjuis.
Baca Juga: Kamus Feminis: Bagaimana Kenaikan PPN 12 Persen Mencekik Perempuan?
Filsafat moral Barat didominasi oleh etika berbasis prinsip (Kantian, Utilitarian), yang menekankan aturan universal dan individualisme. Gadis mengenalkan etika perawatan (ethics of care) dari Carol Gilligan dan Nel Noddings, yang melihat moralitas sebagai keterhubungan antar manusia. Perempuan sering membuat keputusan moral berdasarkan relasi, empati, dan tanggung jawab sosial, bukan sekadar logika kaku. Ini membalik anggapan bahwa keputusan etis yang “rasional” harus bebas dari emosi.
Kenapa Harus Ada Perempuan dalam Forum Diskusimu? Ini Bukan Cuma Soal Kuota Representasi
Kembali ke konteks isu yang sedang ramai, kritik terhadap poster diskusi filsafat yang diisi sepenuhnya oleh laki-laki pun menuai reaksi. Beberapa orang menilai para feminis dan perempuan bersikap, “Berlebihan,” “Merusak suasana,” dan “Merasa paling harus diikutkan.” Ada juga yang mempertanyakan urgensi melibatkan perempuan dalam ruang-ruang diskusi. Mereka mengatakan, jika perempuan tidak terima dengan forum all-male, buat saja ruang diskusi sendiri khusus perempuan.
Namun bukankah selama ini kita sudah melakukan itu, semata-mata karena kita tidak pernah dilibatkan dalam ruang yang sejak awal tidak pernah menyebut diri sebagai ‘ruang laki-laki’—yang artinya, perempuan dan minoritas gender-seksualitas seharusnya bisa terlibat, tapi nyatanya tidak?
Dalam konteks ruang diskusi filsafat maupun secara umum, representasi perempuan dalam forum bukan hanya soal angka. Perempuan menuntut untuk dilibatkan bukan hanya demi visibilitas; ini adalah upaya inklusi. Representasi bermakna perempuan bukan hanya penting dalam cakupan politik—yang saat ini sedang gencar dilakukan—tetapi juga dalam sektor-sektor arus utama lainnya. Jika memang dunia adalah setara dan ruang-ruang diskusi ‘terbuka untuk semua’, kenapa perempuan tak pernah dianggap sebagai bagian dari ‘semua’ itu? Kenapa perempuan dan kelompok marginal akhirnya harus membuat ruangnya sendiri? Itu adalah ekslusivitas yang tercipta di tengah tatanan masyarakat patriarki.
Baca Juga: Kamus Feminis: Apa Itu Stereotipe Gender? Perempuan Digeneralisir dan Dibatasi Kebebasannya
Terlebih, setelah melintasi linimasa sejarah filsafat, seharusnya kita sadar betapa bidang keilmuan ini masih amat maskulin dan seksis. Belum pula bicara tentang minimnya ruang bagi ragam gender dan seksualitas, serta pemikiran dan pengalaman mereka yang tidak akan pernah bisa dipahami sepenuhnya oleh laki-laki.
Justifikasi bahwa, “Isu perempuan dan marginal juga bisa disampaikan oleh laki-laki” pun tidak dapat diterima. Sebab, sebagaimana pun laki-laki menjadi ‘sekutu’ perempuan dan kelompok marginal, perbedaan pengalaman adalah batasan yang kentara. Pengalaman perempuan dan kelompok marginal adalah milik mereka, begitu pula suara mereka. Tentu laki-laki boleh berbicara sebagai pendukung, tapi bukan perwakilan. Apa lagi jika laki-laki membicarakan perempuan sebagai objek belaka alih-alih subjek yang punya akal dan pengalamannya sendiri.
Jika filsafat dan diskursus di sekitarnya masih terjebak dalam kerangka berpikir “laki-laki adalah makhluk rasional” dan “perempuan adalah makhluk emosional”, inklusivitas dan keterlibatan perempuan tidak akan pernah dilihat sebagai suatu urgensi bagi para ‘abang-abangan‘ filsafat. Filsafat menjadi ruang pergumulan ego laki-laki berkedok akal, lalu ia mati dengan sendirinya.
Menanti ‘Perayaan Kematian’ Filsafat Maskulin dan Bias Gender
Hari ini, meskipun sudah ada banyak intervensi feminis, filsafat akademik masih sangat maskulin dalam banyak hal. Kurikulum filsafat di universitas masih didominasi ‘Great Men of Philosophy‘, sedangkan filsuf perempuan dan non-Barat sering dimasukkan sebagai “tambahan” atau “pilihan minor. Ruang publik filsafat seperti konferensi, jurnal, dan diskusi daring juga sering belum aman atau setara untuk perempuan dan minoritas gender. Sebab rasanya tidak relevan bicara tentang pemikiran dan pengalaman langsung perempuan lewat mulut 20-an panelis yang semuanya adalah laki-laki, bukan?
Filsafat yang maskulin bukan hanya tentang siapa yang menulis. Ia juga tentang bagaimana dan dari mana cara berpikir itu dibangun. Filsafat maskulin telah lama menyingkirkan pengalaman dan tubuh perempuan. Selain itu, menetapkan nilai-nilai “rasionalitas” dan “universalisme” yang bias gender, serta membentuk institusi dan ruang diskusi yang tidak inklusif.
Namun sejak pertengahan abad ke-20, filsuf perempuan dan feminis telah merebut ruang filsafat. Mereka bukan hanya dengan masuk ke dalamnya, tapi mengubah kerangka epistemologinya secara radikal.
Baca Juga: Kamus Feminis: Apa Itu Feminisme Interseksional? Pentingnya Perspektif Kelas dalam Membela Perempuan
Filsafat tidak seharusnya eksklusif hanya bagi laki-laki. Ia juga tidak patut menolak emosi, tubuh, dan pengalaman sehari-hari, terutama yang dialami oleh perempuan dan kelompok minoritas. Filsafat sejatinya perlu mengakui keberagaman suara dan identitas.
Oleh karena itu, perempuan dapat aktif menulis, berpikir, dan mengisi ruang-ruang filsafat. Pasalnya, selama ini budaya akademik filsafat sering menjauhkan perempuan dengan gaya elit, maskulin, dan konfrontatif. Ruang-ruang diskusi filsafat juga harus terbebas dari kerangka ‘rasionalitas maskulin’ serta tidak mengeksklusikan perempuan dan kelompok marginal dari forum.
Filsafat harus dikritik dan dibongkar dari dalam, karena ia telah lama menjadi alat dominasi patriarki. Dalam pemahaman tersebut, feminisme pun perlu dimaknai bukan sekadar wacana sosial. Ia juga sebuah jalan filosofis untuk membangun dunia yang adil dan setara. Sebab perempuan tidak hanya objek filsafat. Mereka harus menjadi subjek yang berpikir dan menulis filsafat dengan tubuh, emosi, dan pengalaman mereka sebagai sumber pengetahuan sah.
Jadi, apakah ‘kematian filsafat’ patut dirayakan? Ini bisa diperdebatkan. Mungkin yang juga perlu dirayakan adalah kelahiran filsafat berperspektif feminis yang tidak meminggirkan pemikiran dan pengalaman perempuan dan keberagaman.






