Bagaimana rasanya menjadi perempuan yang sejak tumbuh kembangnya sudah diperkenalkan dengan perjodohan? Iya, perjodohan yang mengikat dan menutup hampir semua celah atas kendali tubuh kita sendiri.
Ketika seorang anak perempuan mulai beranjak remaja, ia bukan ditanya apa cita-citanya kelak, tapi disuguhkan kenyataan kepada siapa kelak ia akan “diserahkan”.
Perjodohan yang dilandaskan oleh tradisi dan sistem patriarki yang menjamur hingga kini. Jujur membayangkannya saja sudah sumpek, muak, marah. Tapi apa daya jika penolakan ini tidak pernah sama sekali berbuah manis.
Tulisan ini adalah opiniku mengenai pernikahan Ning Robwah dari hasil perjodohan. Kiranya seperti itulah yang dirasakan teman sebaya kita Ning Robwah, seorang anak kyai, perempuan yang menurutku, ia adalah korban dari perjodohan itu. Bahkan usianya jauh lebih muda denganku.
Ning Robwah menikah dengan Gus Kafin dari hasil perjodohan orangtua. Pernikahan digelar di Prajjan, Camplong, Sampang, Madura, Jawa Timur pada Sabtu, 15 November 2025. Unggahan video di media sosial tentang pernikahan Ning dan Kafin sangat menarik perhatian netizen.
Di dalam pernikahan itu, terlihat Ning Robwah melepas jilbab, berambut merah, dan mengenakan gaun Cinderella berwarna biru. Sedangkan penampilan Gus Kafin yang netizen sebut mirip dengan jin di kemasan mie sarimi.
Pergerakan Indonesia dalam website nya menyebut, Keputusan Ning Robwah menikah tanpa hijab pasalnya, narasi yang beredar di Tik Tok menyebut sebagai sikap protes Ning Robwah. Konon pernikahan itu adalah hasil perjodohan di antara sesama kerabat. Ning Robwah dikatakan tidak menyetujui pernikahan tersebut. Bapaknya Ning Robwah juga serba salah. Ada yang menyebut, “mundur taruhannya saudara, maju taruhannya anak”. Maksudnya, kalau pernikahan itu batal, hubungan keluarga bakal retak. Tapi kalau dilanjutkan, kabahagiaan anak akan musnah.
Akhirnya pernikahan itu tetap dilanjutkan. Sebagai bentuk protes, Ning Robwah melepaskan jilbabnya. Dalam tradisi keluarga kiai, pilihan itu hal yang tabu, karena jilbab dianggap wajib. Tapi aksi protes itu diterima oleh sang bapak, sebagai bentuk kompromi. Selain melepas jilbab, Ning Robwah juga terlihat sinis terhadap calon suaminya. Ia memilih berjalan mendahului sang calon suami dalam prosesi pernikahan.
Video dengan ribuan antusiasme netizen dan komentar komentar lucu dari netizen membuat fenomena itu semakin viral. Dan akhirnya momen lucu itu sampai di titik terang atau mungkin bisa dibilang dark momen yang berbalik membuat netizen sedih, kecewa, marah, sekaligus Iba. Pasalnya momen pernikahan itu ternyata adalah hasil dari tradisi perjodohan yang sudah menjamur disana.
Baca Juga: Serial ‘Induk Gajah Season 2: Tekanan Ekspektasi Sana-Sini dalam Kehidupan Perempuan Batak
Who Know? Ternyata penampilan nyentrik Ning Robwah adalah bentuk perlawanan yang selama ini ia pendam. Protes demi protes yang ia coba sampaikan kepada orang tuanya, sama sekali tidak berbuah manis. Hingga akhirnya hijab yang selama ini ia kenakan, ia lepas tepat di hari pernikahannya, lengkap dengan diperlihatkannya rambut merah menyala.
Di Indonesia, perempuan sering kali tidak diberi ruang untuk menolak secara verbal. Menolak dianggap durhaka. Bertanya dianggap membangkang. Menyampaikan isi hati dianggap kurang ajar. Maka jangan heran, banyak perempuan muda mencari cara lain untuk menunjukkan ketidaksepakatannya seringkali lewat simbol, gesture kecil, atau pilihan pakaian yang dianggap tidak pantas.
Rambut merah Ning Robwah dan lepas hijab pada hari pernikahan bukan hanya tampilan nyentrik seperti kata netizen.
Dalam perspektif feminis, tindakan itu bisa dibaca sebagai bentuk resistensi, perlawanan personal yang muncul ketika perempuan tidak punya kuasa menentukan alur hidupnya sendiri.
Teori feminis radikal menyebut bahwa tubuh perempuan kerap dijadikan arena kontrol oleh keluarga, komunitas, bahkan institusi agama. Maka ketika Ning memilih warna rambut terang, warna yang biasanya diasosiasikan dengan keberanian, pemberontakan, dan kebebasan, itu bukan hanya sekedar style. Itu adalah kode. Sebuah jeritan yang mungkin tak terdengar keras, tapi bisa terlihat jelas.
Baca Juga: Kami Para Perempuan, Digosipkan dan Dijodohkan Biar Cepat Menikah
Sementara keputusan melepas hijab pada hari pernikahan justru menjadi puncak dari semuanya.
Di banyak komunitas pesantren tradisional, hijab bukanlah sehelai kain penutup kepala. Ia simbol identitas, kesalehan, dan ketaatan pada keluarga, agama, serta tuhannya. Maka melepasnya pada momen sakral bukanlah tindakan remeh bagi sebagian besar mayoritas muslim di Indonesia.
Jika benar ia tidak menginginkan pernikahan itu, tindakan tersebut adalah satu-satunya ruang yang ia punya untuk mengatakan “Aku tidak memilih ini!”.
Ketika berita ini viral, banyak orang bertanya-tanya “Kenapa nggak nolak aja?” Jawabannya tidak sederhana, karena ia berkaitan dengan struktur sosial yang lebih besar dari dirinya. Ada satu komentar yang membuatku terbelalak “Kak kalau kamu tetanggaku, sudah aku temenin kabur, sumpah!”. Women support women.
Patriarki di banyak daerah masih menjadikan ayah sebagai pemegang keputusan tertinggi bagi anak perempuan. Bahkan saat berkaitan dengan masa depan, pendidikan, hingga pernikahan. Perempuan ditempatkan sebagai pihak yang harus menurut, tunduk, patuh, bahkan bila hatinya menolak sekalipun.
Dalam konsep patriarkal bargain yang dikemukakan Deniz Kandiyoti, perempuan sering kali mematuhi aturan patriarki demi menghindari konflik, sanksi sosial, dan stigma. Namun, dalam beberapa kasus, negosiasi ini tidak lagi mungkin dilakukan. Bila tekanan sosial dan keluarga terlalu besar, perempuan hanya bisa mencari ruang-ruang kecil untuk melampiaskan keinginannya.
Baca Juga: Pengalamanku sebagai Perempuan Madura: Stigma Dulu, Beda dengan Sekarang
Dan dalam kasus Ning Robwah, ruang itu hadir lewat rambut merah dan gaun biru Cinderella yang kontras dengan harapan keluarga. Banyak perempuan berkata “iya” karena tidak ada pilihan. Perempuan selalu dibentuk untuk menjaga nama baik keluarga, bukan menjaga kebahagiaan diri.
Fenomena perjodohan di Sumenep dan beberapa wilayah Madura bukan hal baru. Data tahun 2025 menunjukkan bahwa Madura masih termasuk wilayah dengan angka pernikahan dini yang cukup tinggi. Salah satu penyebabnya adalah tradisi perjodohan yang dilakukan sejak usia belia.
Beberapa keluarga menganggap perjodohan adalah cara menjaga nasab, menjaga hubungan baik antar keluarga, atau memastikan anak tidak keluar jalur. Namun yang sering dilupakan adalah anak, baik perempuan maupun laki-laki, bukan objek tukar-menukar antar keluarga.
Mereka manusia yang punya kehendak, perasaan, dan masa depan.
Di banyak cerita lokal, anak perempuan dijodohkan karena dianggap lebih aman ketika menikah muda. Anak laki-laki dijodohkan karena memenuhi amanah keluarga. Tidak satupun yang bertanya pada anak-anak ini “apa yang kamu mau?”.
Dan inilah yang menjerat perempuan seperti Ning Robwah. Ketika tradisi dijadikan alat mengatur tubuh dan masa depan seseorang, maka tradisi itu bukan lagi nilai budaya. Ia berubah menjadi alat pengekang.
Baca Juga: Viral Kawin Tangkap di Sumba: Stop Kekerasan terhadap Perempuan Berdalih Tradisi
Awalnya masyarakat hanya menertawakan penampilan pengantin. Rambut merah mencolok, make-up bold, dan gaun biru Cinderella dianggap lucu oleh banyak orang. Netizen membuat meme, lalu memviralkan potongan-potongan momen resepsi.
Namun tawa itu perlahan hilang ketika fakta perjodohan muncul. Komentar lucu berubah menjadi empati dan kemarahan. Mereka melihat sesuatu yang jauh lebih gelap di balik pesta meriah itu.
Itulah yang sering terjadi di kehidupan perempuan, kesedihan mereka baru dianggap penting ketika sudah terlalu telat. Ketika sudah terlanjur berjalan ke pelaminan. Ketika sudah tidak ada jalan untuk kembali.
Tetapi viralnya kisah ini menyadarkan banyak orang bahwa perjodohan bukan lagi isu tradisi biasa, melainkan persoalan hak asasi, terutama hak perempuan untuk menentukan masa depannya sendiri.
Di berbagai kasus, perempuan yang dijodohkan mengalami tekanan mental yang tinggi, kecemasan, depresi, bahkan kehilangan identitas. Banyak dari mereka menjalani hidup dengan rasa terpaksa, memikul beban demi menjaga kehormatan keluarga.
Baca Juga: Keluarga Isinya Tak Cuma Ayah, Ibu dan Anak, Tapi Juga Para Lajang
Tidak sedikit perempuan Madura yang dijodohkan, mereka mengatakan bahwa menolak dianggap memalukan bagi keluarga, melawan dianggap kurang ajar, menangis dianggap drama, dan memilih pasangan sendiri dianggap ancaman bagi struktur sosial.
Perempuan tumbuh dengan keyakinan bahwa keinginan mereka tidak valid. Bahwa diam adalah satu-satunya pilihan aman. Dan ketika Ning Robwah mencoba menyampaikan ketidaksukaannya, protes itu tidak pernah berbuah manis.
Ada banyak Ning Robwah lain di luar sana. Perempuan yang akhirnya memilih diam, sementara hidup mereka diputuskan orang lain.
Tidak semua perjodohan berakhir buruk. Beberapa justru terjadi lewat dialog, kesepakatan, dan persetujuan kedua belah pihak. Namun ketika perjodohan dilakukan yang dilakukan tanpa persetujuan, dilakukan sejak usia belia untuk alasan menjaga nama baik, atau demi kepentingan keluarga.
Maka, relasi kuasa menjadi timpang. Seorang anak, baik perempuan maupun laki-laki ditarik masuk ke dalam sistem yang tidak benar-benar mereka pilih.
Baca Juga: Lasminingrat, Penulis Sastra Feminis Yang Tak Banyak Diperbincangkan
Dan ketika tidak adanya persetujuan, perjodohan menjadi bentuk kekerasan struktural. Itulah yang dilupakan dalam perbincangan publik. Perjodohan bukan hanya soal budaya, tapi juga soal relasi kuasa. Dalam banyak konteks, perempuan menjadi pihak yang paling dirugikan karena mereka dianggap tidak memiliki hak menentukan hidupnya sendiri.
Kisah Ning Robwah mengingatkan kita bahwa perempuan berhak menentukan masa depannya sendiri, tradisi tidak boleh mengabaikan persetujuan individu, patriarki masih hidup, terutama dalam kontrol terhadap tubuh perempuan. Ruang-ruang kecil seperti fashion, rambut, atau gestur bisa menjadi bentuk perlawanan, yang terkadang bisa mengungkap luka yang selama ini mereka sembunyikan.
Kita seringkali melihat pernikahan sebagai momen bahagia, padahal banyak perempuan berdiri di pelaminan dengan air mata yang tidak terlihat.
Dan kalau kasus Ning Robwah memberikan pesan apapun pada kita, mungkin pesannya adalah, sudah waktunya perempuan berhenti diatur. Sudah waktunya pilihan perempuan dihormati, bukan dinegosiasikan demi kepentingan keluarga. Sudah waktunya tradisi dibuat ulang, bukan dibiarkan melukai generasi berikutnya.
Baca Juga: Nikah di KUA atau Pakai Resepsi? Keputusan di Tangan Pasangan, Bukan Desakan Ortu
Kita tidak tahu bagaimana kehidupan Ning Robwah setelah hari itu. Tapi yang kita tahu, rambut merahnya menyampaikan sesuatu yang tidak pernah bisa ia ucapkan dengan lantang. Melepas hijabnya adalah tindakan yang keluar dari keputusasaanya, bukanlah keberanian yang sederhana.
Dan kita, para perempuan muda, seharusnya tidak perlu melalui jalan penuh luka seperti itu hanya untuk bisa memilih.
Karena menjadi perempuan tidak seharusnya berarti selalu kalah.





