Booth Sedjarah Pakaian di JILF 2026 (foto: dok. Konde.co/Luviana Ariyanti)

Bukan Cuma Outfit: Melihat Sedjarah Pakaian Indonesia di JILF 2026

Sedjarah Pakaian membuka booth yang menarik perhatian saya ketika datang dalam perhelatan Jakarta International Literary Festival (JILF) 2026 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Oktober lalu.

Sedjarah Pakaian adalah sebuah proyek riset dan dokumentasi digital yang mengupas evolusi, sejarah, serta makna busana tradisional Indonesia.

Dalam booth nya di Jakarta International Literary Festival (JILF) 2026, ada beberapa gambar, maket dan buku tentang bagaimana sejarah pakaian di Indonesia, mengapa pakaian tersebut dikenakan, dan pemaknaan atas pakaian ini.

“Kita mengenakan pakaian setiap hari, tetapi seberapa jauh kita mengenal cerita di baliknya? Dari mana bahan-bahannya berasal, bagaimana cara membuatnya diwariskan, dan apa yang bisa kita pelajari dari cara masyarakat pada masa lalu berpakaian?,” Salwa Fitri Fatima, salah satu peneliti Sedjarah Pakaian yang sedang menunggu booth tersebut, mengatakan hal ini pada saya.

Organisasi Sedjarah Pakaian didirikan oleh Danya Adhalia, seorang desainer dan periset yang juga aktif di Cipta Garis Temurun. Ia kemudian meriset soal manuskrip sejarah pakaian Indonesia di tahun 1956. Danya mulai turun lapangan, datang ke lokasi dan melihat dokumentasi bagaimana pakaian sehari-hari yang dikenakan masyarakat Indonesia. Ia mulai melakukan penelitian di berbagai daerah dan apa yang terjadi di masa itu.

“Macam-macam hasilnya. Kadang kita melihat pakaian sebagai sesuatu yang sakral, padahal sifatnya jangan-jangan trend saja,” ungkap Salma Fitri menceritakan temuan riset yang dilakukan Danya Adhalia.

Salwa mencontohkan, dulu banyak perempuan Indonesia tidak mengenakan pakaian, mereka memilih untuk bertelanjang dada. Lalu kolonialisme datang, dan perempuan diajari cara berpakaian. Jika perempuan tidak mengenakan pakaian, maka dianggap tidak sopan.

Booth Sedjarah Pakaian di JILF 2026 (foto: dok. Konde.co/Luviana Ariyanti)
Booth Sedjarah Pakaian di JILF 2026 (foto: dok. Konde.co/Luviana Ariyanti)

Lalu proses selanjutnya ada aturan yang menyatakan bahwa pakaian perempuan haruslah tebal, tidak boleh tipis. Jadi aturan ini kemudian dikonstruksikan secara terus-menerus.

“Demikian juga kebaya, dulu dianggap trend, lalu lama-lama tidak dianggap trend dan ketinggalan zaman. Selalu berubah-ubah di setiap masa,” kata Salwa.

Dalam website Cipta Garis Temurun, Danya Adhalia, memulai risetnya pada Maret 2024.

Awalnya, proyek ini lahir dari upaya digitalisasi manuskrip Sedjarah Pakaian yang ditulis oleh Ratmini Soedjatmoko, seorang pelukis sekaligus pengajar mode, pada tahun 1956. Media ini bertujuan untuk membandingkan dan melengkapi hasil penelitian dari sumber-sumber sekunder pada masa itu, dengan publikasi yang lebih mutakhir. Manuskrip ini menjadi pijakan utama dalam eksplorasi ragam pakaian di Nusantara, dengan tujuan mengungkap perkembangan busana dari masa ke masa serta bagaimana pakaian merefleksikan identitas sosial, budaya, dan politik masyarakat Indonesia.

Display booth Sedjarah Pakaian di JILF 2026 (foto: dok. Konde.co/Luviana Ariyanti)
Display booth Sedjarah Pakaian di JILF 2026 (foto: dok. Konde.co/Luviana Ariyanti)

Mulanya, Sedjarah Pakaian hanya berfokus pada pembahasan isi manuskrip yang telah

ditemukan dalam dua versi: cetakan pertama dari tahun 1956 dan versi kedua yang

belum ditemukan tanggal dibuatnya.

Saat ini, penelitian terus berjalan untuk menemukan cetakan final dari manuskrip tersebut. Seiring dengan selesainya pembahasan terhadap manuskrip awal, proyek ini berkembang lebih luas, melampaui tujuan awalnya.

Kini, Sedjarah Pakaian (SP) menggali topik-topik yang lebih dalam, seperti mengapa pakaian perempuan di Indonesia umumnya lebih rumit dibandingkan pakaian laki-laki yang komponennya cenderung lebih sederhana.

Selain itu, SP menelusuri bagaimana kebaya, kain, dan selendang disebut sebagai Pakaian Nasional perempuan, sementara teluk belanga dan peci identik sebagai Pakaian Nasional laki-laki. Pertanyaan menarik lainnya adalah bagaimana pakaian asli masyarakat di berbagai daerah sebelum adanya pengaruh dari luar, baik dari luar Nusantara maupun dari pulau-pulau lain di Indonesia.

Display booth Sedjarah Pakaian di JILF 2026 (foto: dok. Konde.co/Luviana Ariyanti)
Display booth Sedjarah Pakaian di JILF 2026 (foto: dok. Konde.co/Luviana Ariyanti)

Pernah mereka juga meriset soal keberadaan kebaya di Surabaya. Ternyata banyak ditemukan kebaya di daerah lain di Indonesia, dan kebanyakan kebaya ternyata bermotif

bunga. Motif bunga inilah yang kemudian mereka teliti.

“Mengapa banyak ada bunga? Ternyata kami juga menemukan bahwa fashion banyak diproduksi di Surabaya, bukan di Jakarta, dan dipenuhi dengan desain bunga-bunga,” kata Salwa dalam wawancara Konde.co

Pertanyaan-pertanyaan ini kemudian menjadi bagian dari perbincangan dalam Book Club Pojok Baca Cipta Garis Temurun (CGT) di JILF 2026 yang diisi oleh Organisasi Sejarah Pakaian yang digelar 24 Oktober 2026.

Bersama 2 pembicara yaitu Alma Farisi dan Danya, para peserta diskusi diajak mengenal perjalanan riset sejarah pakaian, bertukar cerita tentang buku-buku yang berkesan, serta membicarakan bagaimana sebuah bacaan bisa membawa kita pada pertanyaan-pertanyaan baru.

“Bagi sebagian orang, memulai perjalanan mengenal sejarah pakaian Indonesia bukan perkara mudah. Sumber bacaan yang bisa dijangkau masih terbatas, sementara begitu banyak cerita tentang pakaian dan budaya sandang yang belum kita kenal,” kata Danya.

Kesadaran inilah yang mendorong Cipta Garis Temurun (CGT) menghadirkan perpustakaan dengan koleksi buku seputar sejarah pakaian Indonesia. Melalui perpustakaan ini, CGT ingin membuka lebih banyak kesempatan bagi siapa pun untuk membaca, belajar, dan menemukan ketertarikannya sendiri terhadap sejarah pakaian.

Suasana JILF 2026 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta (foto: dok. Konde.co/Luviana Ariyanti)
Suasana JILF 2026 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta (foto: dok. Konde.co/Luviana Ariyanti)

Di JILF 2026, peserta tidak hanya datang untuk mendengarkan percakapan, tetapi juga berkesempatan meminjam buku dari koleksi Perpustakaan CGT. Buku-buku tersebut membahas beragam hal, mulai dari batik, kebaya, songket, pakaian adat, hingga tradisi kain kulit kayu di Indonesia dan Oceania.

Di antaranya terdapat Batik Cloth and Clothing: A Dynamic Indonesian Tradition karya Sandra Niessen, Contemporary Indonesia Fashion karya Alessandra Lopez y Royo, Floating Threads: Indonesian Songket and Similar Weaving Tradition karya Judi Achjadi, serta Fuya & Tapa: Tradisi Kain Kulit Kayu di Indonesia & Oceania dari Museum Tekstil.

Dalam perbincangan tersebut, Alma juga membahas Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer.

Kehadiran buku ini mengingatkan kita bahwa pengetahuan tentang masyarakat dan zamannya bisa ditemukan melalui beragam bacaan. Kita tidak selalu harus memulai dari buku sejarah atau literatur akademik. Terkadang, sebuah cerita justru menjadi awal dari rasa ingin tahu yang membawa kita pada penelusuran lebih jauh.

Membaca sejarah pakaian juga berarti belajar melihat kehidupan manusia dari sudut pandang yang berbeda. Pakaian bukan sekadar sesuatu yang dikenakan, melainkan bagian dari cara manusia menjalani hidup dan berinteraksi dengan lingkungannya.

Bahan yang digunakan, cara kain dibuat, hingga bentuk pakaian yang berkembang dapat bercerita tentang alam tempat masyarakat hidup, pengetahuan yang mereka miliki, serta hubungan sosial dan kebudayaan yang membentuk keseharian mereka.

“Dari sana, kita tidak hanya belajar tentang masa lalu, tetapi juga menemukan hal-hal yang bisa direnungkan dalam kehidupan hari ini,” kata Danya

Setelah berbincang, peserta diajak membaca koleksi buku dan berdiskusi dalam kelompok melalui lembar kerja yang telah disiapkan. Mereka memiliki kesempatan untuk memilih bacaan, menemukan hal yang menarik perhatian, berbagi temuan, dan mengajukan pertanyaan bersama. Tidak ada satu titik awal yang harus sama bagi setiap orang. Sebuah gambar, sepotong informasi, atau satu paragraf dalam buku bisa menjadi awal dari penelusuran yang berbeda-beda.

Ruang semacam ini menjadi penting karena belajar sejarah pakaian tidak harus dimulai dengan pengetahuan yang lengkap. Kita bisa datang dengan rasa ingin tahu, dengan pertanyaan yang belum terjawab, atau bahkan tanpa tahu harus mulai dari mana.

Melalui membaca dan berdiskusi, pemahaman dapat tumbuh perlahan, sementara perbedaan pengalaman dan sudut pandang membuka kesempatan untuk saling belajar. Lewat Pojok Baca dan Perpustakaan CGT, Cipta Garis Temurun ingin membuat sumber pengetahuan tentang sejarah pakaian Indonesia lebih dekat dengan publik.

Kehadirannya bukan hanya tentang menyediakan buku, tetapi juga membuka ruang bagi orang-orang untuk bertemu dengan pengetahuan, berbagi pertanyaan, dan bersama-sama merawat ketertarikan terhadap budaya sandang.

“Sebab, cerita tentang pakaian adalah bagian dari cerita kita tentang manusia: bagaimana kita hidup, mengenali lingkungan, mewariskan pengetahuan, dan membangun kebudayaan. Semakin banyak orang mendapat kesempatan untuk membacanya, semakin banyak pula kemungkinan cerita tersebut dipahami, dipertanyakan, dan diteruskan,” kata Danya dalam pernyataan yang diterima Konde.co

Sedjarah Pakaian dapat menjadi sumber inspirasi dalam perancangan busana kontemporer yang tetap berakar pada nilai-nilai budaya Indonesia. Dengan pendekatan ini, Sedjarah Pakaian tidak hanya berperan sebagai dokumentasi sejarah, tetapi juga sebagai media pembelajaran yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan dalam evolusi pakaian di Indonesia.

(foto: dok. Konde.co/Luviana Ariyanti)

Luviana

Setelah menjadi jurnalis di media mainstream selama 20 tahun, kini menjadi chief editor www.Konde.co dan menjadi dosen pengajar paruh waktu di Jakarta. Pedagoginya dalam penulisan isu media, perempuan dan minoritas
Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

Creative Commons License

1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

Let's share!

latest news

latest news

popular

Yuk, Menulis di Konde.co

Kami memanggil kamu yang peduli dengan penguatan narasi yang berperspektif perempuan dan kelompok marjinal di media untuk menulis di Konde.co. Dengan mengirim tulisan ke Konde.co, kamu juga turut mendukung jurnalisme publik Konde.co bisa terus hidup.

Video