Hari Anak Perempuan Internasional diperingati setiap tanggal 11 Oktober. Ironisnya, pada momen bersamaan, pekat asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mencekik anak dan balita di Kalimantan.
Asap karhutla masih mengepung Kalimantan. Meski kualitas udara kian memburuk, penanganan cepat tak kunjung didapat. Warga ‘dipaksa’ berjuang sendiri untuk dapat bertahan hidup.
Eleonora (38) meluapkan kegelisahannya di media sosial Threads. Perempuan yang tinggal di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, ini sudah mulai merasakan dampak karhutla sejak Juli 2026. Keresahan ibu dari anak balita 4 tahun berinisial G ini bertambah karena anaknya beberapa kali menangis dan menjerit, mengeluhkan sesak dan sulit bernapas. Kondisi itu bisa terjadi kapan saja, terlebih saat larut malam hingga dini hari, saat kabut asap tebal tiba-tiba menyusup lewat celah-celah ventilasi rumah.
“Biasanya kan kalaupun musim kabut (asap), subuh-subuh itu embunnya turun. Nah, itu biasanya kabut terasa,” kata Elen, sapaannya, kepada Konde.co, Jumat, 16 Oktober 2026
Pada saat itulah, anaknya biasanya tiba-tiba merasa sesak. Hidungnya terasa mampet dan kesulitan mengatur napas.
“Nggak enak gitu kan rasanya. Habis itu (anaknya) ditambah panik, jadi makin gak bisa bernapas,” imbuhnya.
Elen pertama mengunggah kondisi anaknya yang mengalami sesak napas akibat asap karhutla itu di Threads pada 25 September 2026. Dalam video pendek yang dibagikannya itu, anaknya tampak menangis kencang dan sulit bernapas.
Saat itu, dirinya juga panik karena tidak mempunyai persediaan obat atau alat khusus untuk membantu anaknya. Ia kemudian segera membelikan anaknya oksigen portabel, alat semprot hidung, hingga vitamin.
Elen juga mendapatkan bantuan dari sesama warga Threads yang mengirimkan kepadanya alat nebulizer untuk melegakan saluran napas. Paling tidak untuk sementara. Dikarenakan selagi asap karhutla masih terus mengepung, kualitas udara yang dihirup pun masih buruk.
Baca juga: Karhutla Makin Parah, Warga Bisa Tuntut Apa? Ini Jalur Hukumnya
“Jadi setiap malam sudah kami nebu (nebulizer). Kalau kondisi normal itu, nebu adalah proses penyembuhan. Kalau untuk kami di sini, alat nebu ini hanya untuk membantu melegakan. Mengurangi dampak dan gejala, tapi tidak menyembuhkan,” katanya.
Dari alat nebulizer yang ia terima untuk anaknya itu, dia juga meminjamkannya kepada keluarga terdekatnya yang membutuhkan, seperti orang tuanya yang lansia.

Tak lama berselang, anak Elen kembali mengalami sesak napas hingga menangis-menjerit pada 13 Oktober 2026. Saat itu, kabut asap karhutla memang sedang tebal-tebalnya. Itu terjadi bersamaan dengan banyak unggahan media sosial yang menunjukkan asap karhutla berwarna kuning pekat di sekitar rumahnya.

Situasinya bisa lebih parah karena beberapa bulan ini kawasan di rumahnya beberapa kali mengalami pemadaman listrik selama berjam-jam. Itu artinya, penyejuk ruangan (AC) di rumahnya juga tak bisa berfungsi.
“Asap lagi super tebal gini kok, masih ada pemadaman?” tanyanya.
Dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, karhutla kali ini terbilang parah. Setidaknya tiga bulan terakhir, Agustus-September-Oktober 2026, asap karhutla sampai membuat kawasan sekitarnya berwarna kuning pekat. Partikel dalam asap juga menimbulkan dampak kesehatan bagi tubuh.
Apa lagi Elen masih harus tetap bekerja ke luar rumah. Sepanjang hari dia mesti bersinggungan langsung dengan asap kathutla, yang parahnya hanya bisa menjangkau pandangan beberapa meter ke depan.
“Naik motor itu walaupun sudah pakai kacamata, mata tetap perih, merah, berair. Otomatis jadi meler (hidung). Kalau kita pakai masker, kita bersin-bersin. Itu memicu pusing, mual, dan lain-lain,” cerita Elen.
Ini kondisi yang sulit. Dia dan keluarga harus terus menutup pintu rumah karena di luar asap karhutla pekat, namun di rumahnya terjadi pemadaman listrik.
Baca juga: Saat Asap Karhutla Mengepung, ke Mana Lagi Tempat Berlindung?
Saat dirinya menyalakan senter di ruangan rumahnya, Elen melihat adanya kepulan partikel-partikel asap karhutla yang berterbangan.
Tak ada alat penyaring udara (air purifier) atau penyejuk ruangan (AC), sehingga udara yang tercemar dengan partikel berbahaya itulah yang harus dirinya dan keluarganya hirup. Termasuk anaknya yang tengah mengalami sesak napas.


Meski karhutla sudah terjadi selama berbulan-bulan, Elen melihat inisiatif dukungan penanganan lebih banyak terjadi pada sesama warga hingga organisasi masyarakat. Sementara dirinya belum melihat langsung upaya serius yang dilakukan oleh pemerintah pusat.
Dia belum memeriksakan anaknya ke pusat layanan kesehatan atau rumah sakit karena ia menganggap anaknya belum sampai menunjukkan gejala Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Alasan ini juga berkaitan dengan kekhawatiran potensi penularan yang justru bisa saja terjadi karena adanya kontak dengan penderita.
“Untuk yang periksa ke puskesmas dan rumah sakit itu biasanya yang sudah bergejala, batuk pilek,” katanya.
Namun, Elen hingga kini masih terus memantau kondisi anaknya. Dia berharap anaknya tak sampai mengalami dampak yang lebih parah.
Satu-satunya pilihan yang dimiliki Elen dan keluarga saat ini adalah bertahan. Mereka tidak punya pilihan untuk mengungsi ke luar Kalimantan agar tak lagi menghirup asap karhutla. Ia bersama suaminya juga masih harus tetap bekerja di luar rumah, sembari merawat balitanya.
Baca juga: Ifa Musdalifah: Perempuan Hadapi Risiko Serius di Tengah Suhu Panas Ekstrem
“Jangankan mengungsi berbulan-bulan (tanpa kepastian), untuk weekend kami staycation pun, bukan kemampuan kami. Jadi, kami tidak punya pilihan selain bertahan,” ucap dia.
Elen mendesak pemerintah untuk serius dalam menangani karhutla di Kalimantan ini. Pemerintah pusat dan daerah mestinya sigap dan kompak dalam memberikan perlindungan terhadap masyarakat yang terdampak karhutla, terlebih anak-anak dan kelompok rentan.
Bagi masyarakat kelas menengah bawah, Elen mengamini bahwa dampak karhutla ini kian menekan. Karhutla tak hanya mengancam kesehatan secara masif karena minimnya perlindungan, tetapi juga memiskinkan dengan berkurangnya pendapatan sementara pengeluaran kian membengkak. Misalnya, langkanya masker dan harganya untuk sekadar bertahan dari udara yang buruk.
“Bagaimana menangani kami yang terdampak saat ini. Bukan hanya kesehatan, tapi ekonomi dan aspek kehidupan lain,” kata dia.
Pemerintah Lamban, Warga Bantu Warga
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) per 12 Oktober 2026, mencatat sebanyak 277 kasus ISPA akibat karhutla, sebanyak 62 ribu lebih (22,5%) menimpa anak usia 0-5 tahun (balita).
Dari pemberitaan media, satu per satu anak-anak dan balita dilaporkan sampai terancam nyawanya akibat ISPA karhutla itu. Misalnya saja, anak enam tahun berinisial ASB tercatat berkaitan dengan gagal napas akibat Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS) yang disertai syok sepsis. Dia sempat menjalani perawatan selama enam hari di rumah sakit—tepatnya sejak 8 Oktober lalu sampai akhirnya mengembuskan napas terakhir pada 14 Oktober.
Ada pula berita viral di media sosial. Seorang bayi berusia 1 tahun 2 bulan di Samarinda, Kalimantan Timur, meninggal setelah mengalami sesak napas dan sempat menjalani perawatan intensif di ruang Intensive Care Unit (ICU) rumah sakit.
Kondisi itu terjadi di tengah kabut asap karhutla yang menyelimuti lingkungan tempat tinggal mereka di Palaran, Samarinda.
Ia awalnya mengalami sesak napas hingga harus dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis pada Rabu (14/10). Kondisinya kemudian memburuk dan mengharuskannya menjalani perawatan di ruang ICU. Namun, nyawa bayi tersebut tidak tertolong. Bayi itu dinyatakan meninggal pada hari berikutnya, Kamis (15/10).
https://www.instagram.com/reel/DegtN0zEZAL/?cplk=MTJkZmQydTg4ZWd4ag%3D%3D
Asap karhutla mengandung partikel PM2.5 dan zat berbahaya lainnya yang dapat memicu ISPA, batuk, sesak napas, serta memperburuk asma. Balita, anak, ibu hamil, lansia, dan penderita asma hingga penyakit paru kronis menjadi kelompok paling rentan terdampak asap karhutla berbahaya ini.
Berdasarkan kategori Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) Indonesia, nilai 0–50 tergolong baik, 51–100 sedang, 101–200 tidak sehat, 201–300 sangat tidak sehat, dan di atas 300 berbahaya. Sebagai informasi, beberapa lokasi di Kalimantan yang mengalami karhutla memiliki PM2.5 yang bisa mencapai angka 2 ribuan lebih.
Baca juga: “Bersatu Kita Teguh, Bercerai Kita Kawin Lagi”? Gubernur Kalteng, Karhutla Bukan Bahan Lelucon Patriarki
Sarasi Silvester dari Youth Act Kalimantan mengonfirmasi ini. Berdasarkan alat pengukur kualitas udara yang dimiliki lembaganya, Palangka Raya, PM2.5 sempat mencapai paling tinggi lebih dari 2.500. Ini level yang sudah sangat berbahaya.
Dia menyayangkan bahwa, meskipun sangat berbahaya, sosialisasi terkait kualitas udara ini tidak dilakukan kepada masyarakat secara merata. Ia mencontohkan alat pengukur kualitas udara dari pemerintah setempat di ruang publik yang ada di Palangka Raya seringkali tidak berfungsi. Makanya itu, pihaknya melakukan uji mandiri kualitas udara yang secara berkala dipublikasikan di media sosial mereka.
“Udah diibaratkan kayak ‘bunuh diri’. Jadi kita udah tahu itu racun, yang terpaksa harus dihirup karena gak ada pilihan lain,” ujar Sarasi ketika dihubungi Konde.co, pada Minggu (18/10).

Sarasi di Youth Act Kalimantan bersama jaringan organisasi masyarakat seperti Ranu Welum & Big Red Button menggerakkan inisiatif Rumah Aman Asap di tengah situasi asap karhutla ini. Pertama diluncurkan pada tahun 2019, kini Rumah Aman ini tersebar di 26 titik di seluruh Kalimantan.

Rumah Aman Asap ini menyediakan berbagai bantuan untuk masyarakat, termasuk anak-anak yang terdampak asap karhutla. Mulai dari penyediaan ruang udara bersih (shelter).
Di dalam ruangan dilengkapi dengan perangkat penjernih udara seperti air purifier, air cooler, dan kipas angin agar warga bisa menghirup udara yang lebih bersih tanpa harus memakai masker terus-menerus. Ini terbuka untuk umum setiap hari, terutama diprioritaskan bagi kelompok rentan seperti bayi, anak-anak, ibu hamil, lansia, dan penderita gangguan pernapasan/asma.

Baca juga: Melihat Upaya Kolektif Masyarakat Adat Cegah Kebakaran Hutan
Rumah Aman Asap ini juga memberikan pengobatan gratis dan terapi nebulizer bagi warga yang mengalami gangguan pernapasan akibat kabut asap, layanan oksigen gratis di lokasi posko, layanan oksigen keliling, hingga membantu pemenuhan logistik dan dukungan operasional bagi para relawan serta tim pemadam kebakaran.
Sarasi menyebut, permintaan Rumah Aman Asap pada karhutla tahun 2026 ini lumayan melonjak dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Dalam kurun tiga bulan ini, ada lebih dari 2.400 warga yang mengakses, termasuk anak-anak sekitar 30-40%. Itu pun ada yang belum terdata karena keterbatasan sumber daya di lapangan. Dia mencontohkan saat situasi parah, ada banyak warga yang berdatangan ke Rumah Aman Asap sementara petugas yang berjaga hanya beberapa.
“Tahun 2023 kayaknya kita PM 2,5 itu hanya sampai 500-700 ya kalau gak salah. Dan di tahun ini tuh udah berlipat-lipat kan, jadi ini sih ini pertanda semakin memburuk (karhutla),” katanya.
Meski diakui belum menjadi solusi yang komprehensif, Rumah Aman Asap ini bagi Sarasi, paling tidak menjadi inisiatif warga yang membantu di saat darurat.

Sarasi mendesak pemerintah untuk sigap dalam memberikan respons pelayanan kesehatan gratis bagi warga terlebih anak-anak terdampak karhutla. Dari observasinya di lapangan, ia melihat banyak warga yang terkendala mengakses layanan kesehatan.
Baca juga: Kamus Feminis: Ekosida, Kejahatan Lingkungan Memusnahkan Perempuan dan Kelompok Rentan
Di Kalimantan, banyak masyarakat transmigran dari berbagai daerah yang menghadapi situasi nihilnya kartu tanda penduduk (KTP) dan belum terdaftar BPJS ataupun menunggak BPJS karena keterbatasan ekonomi.
Maka dari itu, Sarasi menuntut pemerintah juga menjalankan kebijakan yang bisa membaca persoalan sosial ini. Sehingga ada pemerataan akses kesehatan yang layak dan tanpa diskriminasi. Termasuk bagi orang tua yang anaknya terdampak asap karhutla.
Tak kalah penting, dia mengatakan, pemerintah harus mengevaluasi secara menyeluruh akar masalah dari karhutla ini. Sebab karhutla di Kalimantan bukan hanya sekali-dua kali terjadi.
Sarasi juga mengajak anak-anak muda untuk terus menyuarakan isu tentang karhutla di Kalimantan. Hingga ada pihak yang mempertanggungjawabkan masalah ini dan masyarakat, termasuk anak-anak, tidak dua kali menjadi korban karhutla.
“Jangan sampai karhutla ini menjadi suatu yang ‘dinormalkan’ tanpa pertanggungjawaban,” pungkasnya.
(Editor: Salsabila Putri Pertiwi)




























