Serial Thailand 'The Secret of Us'

‘The Secret of Us’, Kisah Lesbian di Tengah Homofobia dan Kesenjangan Sosial

Serial Thailand 'The Secret of Us' menceritakan lika-liku LGBTQ+, khususnya lesbian, di tengah homofobia dan kesenjangan sosial. Mereka juga berhak atas pengakuan kehidupan.

Setiap manusia berhak menentukan pilihan hidupnya. Status diri sebagai LGBTQ+ tidak dapat menjadi pengecualian atas hal tersebut. Itulah pesan yang muncul di serial Thailand terbaru, ‘The Secret of Us’.

Dengan total 8 episode, ‘The Secret of Us’ mengangkat isu-isu sosial erat dengan kehidupan masyarakat zaman kini. Salah satunya mengenai cinta ‘terlarang’ sesama jenis dan kesenjangan kelas sosial.

Jajaran pemeran dengan nama tersohor turut mewarnai serial ini. Ada Lingling Kwong, Orm Kornnaphat, Jakarin Puribhat, Apasiri Nitibhon, Natthanit Praditthan, dan aktor-aktris lainnya. Serial ini diproduksi oleh BEC World tahun 2024 dan disutradarai oleh Sarasawadee Wongsompetch.

Pengingat: review serial ‘The Secret of Us’ ini mengandung spoiler serta menyebut adegan homofobia, depresi, dan percobaan bunuh diri yang mungkin dapat memicu trauma. Mohon dibaca dengan pertimbangan.

Tentang ‘The Secret of Us

Earn (Orm Kornnaphat) adalah seorang mahasiswi asal Thailand sedang menempuh pendidikan manajemen di luar negeri. Ia secara tidak sengaja bertemu Fahlada (Lingling Kwong), mahasiswi kedokteran.

Mereka tidak saling mengenal sampai akhirnya sadar bahwa keduanya berasal dari Thailand.

Pertemuan itu menjadi awal dari hubungan keduanya yang penuh dengan lika-liku kehidupan. Fahlada selalu mendampingi Earn dalam berbagai situasi dan keduanya sudah berjanji untuk hidup bersama.

Namun, rencana Fahlada dan Earn tidak dapat terwujud. Ibu Fahlada (Apasiri Nitibhon) akhirnya mengetahui bahwa putrinya adalah lesbian. Ia murka dan mengupayakan berbagai cara untuk mengembalikan putrinya sebagai perempuan heteroseksual. Salah satunya dengan mengenalkannya kepada seorang lelaki bernama Wisanu.

Baca Juga: Penggerebekan LGBT di Cawang Menambah Diskriminasi Pemerintah Terhadap LGBT

Sebelum kembali ke Thailand, Fahlada sudah dijodohkan dengan Wisanu yang merupakan anak rekan bisnis keluarga Fahlada. Tujuannya agar Fahlada dapat kembali menjadi seorang perempuan heteroseksual seutuhnya.

Empat tahun setelah dipaksa berpisah, Fahlada dan Earn pun kembali bertemu. Cara ibu Fahlada memisahkan mereka berdampak signifikan terhadap hancurnya kehidupan dua perempuan itu.

Terlepas dari guncangan terhadap mental dan kehidupan mereka, Fahlada pun kembali membuka hati. Ia juga meyakinkan diri bahwa Earn-lah yang ia cintai sebagai pujaan hati, bukan Wisanu. Ia tidak mampu melanjutkan hidup tanpa kehadiran sang kekasih. Begitu pula dengan Earn.

Kesenjangan Sosial dan Penolakan Keluarga

Nasib yang dialami Fahlada dan Earn dalam serial ‘The Secret of Us’ tidak sepenuhnya fiktif. Menurut laporan yang dikeluarkan oleh UNDP dan USAID dengan judul ‘Being LBGT in Asia: Thailand Country Report’, tidak semua keluarga di Thailand dapat menerima anak perempuannya menikah sesama jenis. Apabila pernikahan tetap dilangsungkan, orang tua dari mempelai perempuan (baik satu pihak maupun keduanya) tidak bersedia menghadiri acara. Mereka merasa malu dan berharap putrinya menikah dengan seorang laki-laki atau memilih merawat orang tuanya.

Fahlada diceritakan lahir dari keluarga berkecukupan. Ayahnya merupakan seorang dokter. Sementara itu, Earn terlahir dari keluarga menengah dengan gaya hidup sederhana. Perbedaan kelas sosial menjadi salah satu alasan lain penentangan terhadap hubungan Fahlada dan Earn.

Terlahir dari keluarga terpandang dan memiliki pengaruh besar dalam dunia kesehatan, ibu Fahlada tidak siap dipandang buruk dan mendapat cibiran dari berbagai pihak. Hubungan berlandaskan kepentingan bisnis keluarga harus dijalani oleh Fahlada dan Wisanu.

Keluarga Fahlada dan Earn memiliki pandangan berbeda terkait hubungan putri mereka. Ibu Fahlada terang-terangan tidak menyetujui hubungan anak perempuannya dengan sesama perempuan. Sedangkan ibu Earn mengetahui dan menyetujui keputusan putrinya menjalin hubungan sesama jenis. Sikap ibu Earn muncul di episode ke-2.

Berdampak Pada Kondisi Mental

Serial ‘The Secret of Us’ juga menekankan betapa penolakan atas orientasi seksual sebagai LGBTQ+, khususnya lesbian, dapat mengganggu kesehatan mental. Ini terlihat dari kondisi mental Earn maupun Fahlada. Keduanya mengidap depresi akut, bahkan melampiaskannya pada hal yang membahayakan nyawa.

Timo T. Ojanen, Rattanakorn Ratanashevorn, dan Sumonthip Boonkerd juga membahas kesehatan mental LGBGTQ+ di Thailand dalam riset berjudul ‘Gaps in Responses to LGBT Issues in Thailand: Mental Health Research, Services, and Policies’. Timo dan kawan-kawan menuliskan bahwa gay dan lesbian merupakan dua kelompok dengan tingkat depresi lebih tinggi ketimbang cisgender maupun transgender.

Kelompok lesbian rentan mengalami kekerasan verbal, baik oleh lingkungan sekitar hingga kerabat dekat. Kemudian mereka memilih untuk melampiaskannya pada hal yang membahayakan nyawa. Mulai dari percobaan bunuh diri, konsumsi minuman keras, hingga melakukan hubungan seksual tanpa pengaman demi menenangkan pikiran.

Dalam ‘The Secret of Us’, Fahlada tampak melampiaskan emosi setelah kepergian Earn dengan minum minuman keras dan menangis setiap harinya. Earn turut melakukan hal serupa. Di episode ke-3, dengan kesadaran bahwa dirinya alergi terhadap pisang, ia berupaya mengakhiri hidupnya dengan sengaja memakan buah tersebut.

Pengakuan: Bentuk Kehormatan Bagi Kelompok LGBTQ+

Pola asuh orang tua sedikit-banyak berperan penting dalam kehidupan anak sejak kecil hingga dewasa. Paparan dari jurnal ‘LGBT Youth and Family Acceptance’ mengenai dampak pola asuh anak pada kontrol diri terhadap lingkungan sekitar, terbagi menjadi 3 jenis. Antara lain secure child, insecure child, dan avoidant/dismissive child.

Tipe ‘secure child’ mendapat perhatian dari orang tua sehingga mampu mengontrol emosi, peka akan situasi sekitar, dan dapat diandalkan. Sedangkan ‘insecure child’ dan ‘avoidant/dismissive’ cenderung tidak dapat diprediksi dan pembangkang. Akan tetapi, ‘insecure child’ dan ‘avoidant/dismissive’ akan menanggung beban moril lebih besar saat menjadi LGBTQ+ karena tidak didukung penuh oleh lingkungannya.

Dalam serial ini, misalnya, kehidupan Fahlada tidak pernah terlepas dari campur tangan sang ibu sejak kecil hingga dewasa. Ia selalu menaati perintah demi membahagiakan hati ibunya tanpa memikirkan kebahagiaan diri sendiri. Latar belakang sosial keluarga Fahlada berasal dari kelas atas, meyakinkan pola asuh orang tua secara khusus sang ibu adalah benar dan layak untuk putrinya.

Baca Juga: Pertemuan LGBT ASEAN Batal Digelar di Indonesia Setelah Serangan Kontra yang Masif

Ruang pertemanan Fahlada ‘dijaga’ ketat oleh ibunya. Sang ibu memastikan teman maupun kerabat putrinya berasal dari kalangan atas. Sikap itu menjadi penghalang hubungan Fahlada dengan Earn, sekaligus pertanda pola asuh yang tidak cocok.

Episode 7 dan 8 mengisahkan puncak emosi hubungan Earn, Fahlada, Wisanu, dan ibu Fahlada. Wisanu hendak mengungkapkan kebenaran tentang dirinya pada episode 7. Namun, ibu Fahlada bersikeras menguatkan lelaki itu bahwa ia adalah sosok tepat bagi Fahlada.

Fahlada pun tidak dapat membohongi diri bahwa ia adalah seorang lesbian kepada keluarganya. Ia memilih untuk meninggalkan segala yang melekat dalam hidupnya demi hidup bersama dengan Earn. Ibu Fahlada tidak terima dengan keputusan putrinya hingga jatuh sakit.

Setelah melalui berbagai lika-liku, perjuangan panjang Fahlada pun berbuah manis. Hubungannya dengan Earn direstui oleh sang ibu. Ikhlas, ibu Fahlada membiarkan putrinya untuk mengambil keputusan melanjutkan hidup bersama Earn tanpa memandang status sosialnya.

Pengakuan tidak hanya dirasakan Fahlada; Wisanu pun mendapatkannya. Tan, sahabat laki-laki Fahlada, meyakinkan Wisanu akan dasar hubungan dirinya dengan Fahlada. Kebimbangan Wisanu tentang hubungan mereka yang dilandasi cinta atau dibayangi kepentingan bisnis keluarga mereka, akhirnya terselesaikan. Meski demikian, tidak dijelaskan secara eksplisit mengenai kelanjutan kesepakatan bisnis antara ibu Fahlada dengan keluarga Wisanu usai kandasnya hubungan anak-anak mereka.

Lebih dari itu, rupanya perasaan cinta juga tumbuh di antara Tan dan Wisanu. Ada sebuah tragedi ‘kopi tumpah’ di episode ke-5 yang menjadi awal mula hadirnya bibit cinta tersebut. Di episode terakhir, serial ‘The Secret of Us’ ditutup dengan Tan dan Wisnu yang menyatakan diri sebagai gay dan menghadiri pernikahan Earn dan Fahlada.

Serial ‘The Secret of Us’ paling tidak menekankan satu hal yang kerap dilupakan dalam dunia yang heteronormatif: bahwa pengakuan atas identitas diri adalah hak asasi manusia yang seharusnya terpenuhi. Hak tersebut juga berlaku bagi LGBTQ+, tak lebih dan tak kurang.

Divya Sanjay Bhojwani

Seorang anak tunggal perempuan tertarik dengan isu gender walaupun tidak menjadikan sebagai konsentrasi bidang ketika kuliah dan kerap kali mendengar radio untuk mengisi waktu kosong. Bila tertarik dengan tulis-menulis, bisa coba kontak ke ig @divyasanjayb
Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

Creative Commons License

1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

Let's share!