Konde.co menyajikan kamus feminis sebulan sekali. Kamus feminis berisi kata-kata feminis agar lebih mudah dipahami pembaca.
Bagaimana cara pandang feminisme terhadap fenomena operasi plastik?
Benarkah banyak artis melakukan operasi plastik karena biar mereka tidak ditinggalkan oleh industri yang membesarkan mereka?
Tak hanya artis Indonesia yang melakukan operasi plastik, tapi artis di negara lain juga melakukannya. Namun, dari semua yang mereka lakukan, artis perempuan sering jadi bulan-bulanan ketika melakukannya. Seperti di industri K-Pop, yang kerap diidentikkan dengan praktik operasi plastik. Pada awal popularitasnya di Indonesia, banyak orang menghujat idola K-Pop, terutama perempuan, karena dituduh melakukan operasi plastik yang dianggap ‘berlebihan’ atau membuat penampilan menjadi ‘tidak alami’. Di sisi lain, seiring berjalannya waktu, makin banyak orang melakukan operasi plastik untuk berbagai alasan.
Operasi plastik sering dipresentasikan sebagai kisah tentang pilihan individual, kemajuan teknologi medis, dan kebebasan seseorang atas tubuhnya sendiri.
Dalam iklan klinik estetika, prosedur ini digambarkan sebagai jalan menuju kepercayaan diri, kebahagiaan, bahkan kesuksesan sosial. Namun feminisme sejak lama mengingatkan bahwa tubuh, terutama tubuh perempuan, tidak pernah berdiri di ruang hampa. Ia selalu berada dalam relasi kuasa, dipengaruhi oleh norma sosial, ekonomi, budaya, dan politik. Karena itu, membaca operasi plastik hanya sebagai urusan selera pribadi berarti mengabaikan lapisan-lapisan struktur yang membentuk keinginan itu sendiri.
Dalam masyarakat patriarkal, tubuh perempuan telah lama ditempatkan sebagai objek yang dinilai, diawasi, dan dikoreksi. Simone de Beauvoir pernah menulis bahwa perempuan tidak dilahirkan, melainkan “dijadikan”. Tubuh perempuan dibentuk oleh ekspektasi sosial sejak dini: bagaimana ia harus terlihat, bergerak, menua, bahkan bagaimana ia harus “memperbaiki diri” ketika dianggap tidak sesuai standar.
Operasi plastik hadir sebagai salah satu teknologi paling ekstrem dari proses pembentukan tersebut, karena ia tidak hanya menata penampilan di permukaan. Tetapi secara literal mengubah tubuh agar lebih mendekati gambaran ideal yang telah ditentukan sebelumnya.
Standar kecantikan yang mendominasi ruang publik tidak muncul secara netral. Ia lahir dari pandangan patriarkal yang memusatkan pengalaman dan selera laki-laki heteroseksual sebagai ukuran utama. Tubuh perempuan yang dianggap ideal biasanya adalah tubuh yang mudah dikonsumsi secara visual: langsing namun berlekuk, muda, simetris, berkulit cerah, dan bebas dari tanda-tanda penuaan atau kerja keras. Ketika tubuh-tubuh yang berbeda dari standar ini dianggap kurang bernilai, perempuan didorong untuk terus-menerus memperbaiki dirinya. Dalam konteks ini, operasi plastik bukan sekadar tentang “ingin terlihat cantik”, tetapi tentang bertahan hidup secara sosial di tengah sistem yang menghargai perempuan terutama dari penampilannya.
Baca Juga: Kamus Feminis: Interseksionalitas Ajarkan Membaca Ketidakadilan dari Gender, Kelas dan Relasi Kuasa
Feminisme juga menggarisbawahi pengawasan terhadap tubuh perempuan yang sering kali tidak lagi membutuhkan paksaan eksternal yang kasar. Kontrol itu telah diinternalisasi. Konsep male gaze, yang diperkenalkan Laura Mulvey, menjelaskan bagaimana perempuan belajar melihat dirinya sendiri dari sudut pandang penilai eksternal. Tubuh perempuan menjadi proyek yang harus terus diawasi, dikoreksi, dan disempurnakan. Dalam situasi ini, keinginan untuk melakukan operasi plastik sering muncul sebagai suara dari dalam, padahal suara tersebut dibentuk oleh tatapan sosial yang terus-menerus menilai tubuh perempuan.
Di titik ini, kapitalisme masuk sebagai kekuatan yang memperdalam dan memperluas persoalan. Industri kecantikan, termasuk bedah plastik, hidup dari ketidakpuasan tubuh. Kapitalisme tidak tertarik pada tubuh yang berdamai dengan dirinya sendiri; ia membutuhkan tubuh yang selalu merasa kurang. Setiap kerutan, lipatan lemak, hidung yang terlalu besar, atau payudara yang dianggap tidak proporsional bisa diubah menjadi “masalah” yang membutuhkan solusi berbayar. Operasi plastik dipasarkan bukan hanya sebagai prosedur medis, tetapi sebagai investasi diri, cara meningkatkan nilai personal di pasar sosial dan ekonomi.
Dalam logika kapitalisme, tubuh perempuan menjadi komoditas yang bisa ditingkatkan nilainya. Tubuh yang mendekati standar kecantikan dominan dianggap lebih layak diterima di dunia kerja tertentu, lebih menjanjikan dalam relasi romantis, dan lebih berpotensi mendapatkan pengakuan sosial. Dengan demikian, operasi plastik sering diposisikan sebagai langkah rasional dalam sistem yang tidak adil: jika dunia menghargai tubuh tertentu, maka mengubah tubuh dianggap sebagai strategi bertahan. Feminisme materialis dan Marxis membaca fenomena ini sebagai bukti bagaimana kapitalisme mengeksploitasi ketimpangan gender, menjadikan tubuh perempuan sebagai ladang akumulasi keuntungan.
Baca Juga: Kamus Feminis: Fatherless, Ketika Ayah ‘Absen’ dan Perempuan Memikul Beban Pengasuhannya
Di sisi lain, tidak semua aliran feminisme mengambil posisi yang sama. Feminisme liberal, yang menekankan otonomi individu, cenderung melihat operasi plastik sebagai pilihan personal yang sah. Dari sudut pandang ini, perempuan berhak menentukan apa yang ia lakukan dengan tubuhnya, termasuk mengubahnya melalui prosedur medis. Jika operasi plastik membuat seseorang merasa lebih nyaman atau percaya diri, maka keputusan itu patut dihormati. Namun kritik feminis terhadap posisi ini menunjukkan bahwa “pilihan” tidak pernah sepenuhnya bebas dari konteks sosial. Ketika pilihan dibuat di bawah tekanan norma yang sangat kuat, penting untuk bertanya apakah kebebasan itu benar-benar utuh atau hanya ilusi yang dibungkus bahasa individualisme.
Feminisme radikal mengambil sikap yang lebih konfrontatif terhadap operasi plastik. Dalam pandangan ini, praktik tersebut dilihat sebagai bentuk internalisasi kekerasan simbolik patriarki terhadap tubuh perempuan. Operasi plastik dianggap sebagai cara sistem memaksa perempuan untuk menyesuaikan diri, alih-alih mengubah sistem itu sendiri. Dari sudut pandang ini, setiap pisau bedah yang mengoreksi tubuh perempuan adalah pengingat bahwa tubuh alami perempuan dianggap tidak cukup. Feminisme radikal tidak menolak perempuan yang melakukan operasi plastik, tetapi menolak sistem yang membuat prosedur itu terasa perlu, bahkan tak terelakkan.
Perkembangan media sosial memperumit persoalan ini. Di era digital, tubuh bukan hanya hadir di ruang fisik, tetapi juga di ruang virtual yang dipenuhi algoritma. Platform media sosial mempromosikan estetika tertentu melalui filter, tren kecantikan, dan figur influencer. Tubuh-tubuh yang sesuai standar lebih sering muncul, lebih banyak mendapat validasi, dan lebih mudah dimonetisasi. Akibatnya, standar kecantikan menjadi semakin sempit dan seragam, sementara tekanan untuk menyesuaikan diri semakin besar. Operasi plastik lalu tampil sebagai cara tercepat untuk menyelaraskan tubuh nyata dengan citra digital yang dianggap ideal.
Baca Juga: Kamus Feminis: Solidaritas Laki-Laki Sekutu, Menjadi Ally Jangan Hanya Performatif
Globalisasi turut memainkan peran penting. Standar kecantikan yang dominan sering kali berasal dari pusat-pusat budaya global dan membawa bias ras, kelas, dan kolonial. Banyak prosedur operasi plastik bertujuan mendekatkan tubuh perempuan pada ciri-ciri tertentu yang dianggap modern, internasional, atau “berkelas”. Dalam konteks ini, operasi plastik tidak hanya mencerminkan patriarki, tetapi juga hierarki global yang menempatkan tubuh tertentu sebagai lebih bernilai daripada yang lain.
Feminisme tidak hadir untuk memberikan vonis moral sederhana terhadap operasi plastik. Ia tidak berdiri untuk menyalahkan individu, tetapi untuk membongkar struktur yang membuat pilihan tertentu terasa wajib. Pertanyaan feminis bukan “mengapa perempuan melakukan operasi plastik”, melainkan “dalam sistem seperti apa keinginan itu terbentuk”. Dengan menggeser fokus ke struktur, feminisme membuka ruang untuk empati sekaligus kritik. Ia mengakui bahwa banyak perempuan membuat keputusan yang masuk akal dalam sistem yang tidak adil, sambil tetap menantang sistem tersebut agar berubah.
Dalam kerangka ini, otonomi tubuh dipahami sebagai sesuatu yang bersyarat. Otonomi sejati bukan hanya kemampuan memilih, tetapi juga kemampuan untuk memilih tanpa ancaman kehilangan nilai sosial, ekonomi, atau rasa aman. Feminisme mendorong masyarakat untuk menciptakan kondisi di mana tubuh perempuan tidak terus-menerus dinilai dan diperdagangkan, sehingga keputusan tentang tubuh benar-benar bisa lahir dari keinginan yang bebas, bukan dari ketakutan akan penolakan.
Baca Juga: Kamus Feminis: Anarkisme dan Anarko-Feminisme (Tidak) Sama Dengan Kekacauan
Pada akhirnya, membaca operasi plastik dari perspektif feminisme membawa kita pada kesadaran bahwa persoalan ini jauh lebih luas daripada estetika. Ia menyentuh cara kita memahami tubuh, nilai diri, dan relasi kuasa dalam masyarakat. Operasi plastik adalah cermin dari dunia yang menuntut perempuan untuk terus-menerus memperbaiki diri, alih-alih mempertanyakan mengapa dunia begitu sempit dalam mendefinisikan kecantikan.
Feminisme mengajak kita membayangkan dunia lain: dunia ketika tubuh tidak harus sempurna untuk dihargai. Ketika keberagaman bentuk dan rupa dianggap sebagai kenyataan manusiawi. Bukan masalah yang harus diperbaiki. Dalam dunia semacam itu, operasi plastik mungkin tetap ada sebagai pilihan medis tertentu. Tetapi ia tidak lagi berdiri di atas ketidakpuasan kolektif yang diproduksi oleh patriarki dan kapitalisme. Tubuh, pada akhirnya, bisa kembali menjadi milik subjeknya sendiri, bukan proyek tanpa akhir yang harus terus disesuaikan dengan standar yang tak pernah puas.






