Membaca Karya I Gusti Ayu Kadek Murniasih tentang Tubuh Perempuan Memandang Trauma, Represi, dan Relasi Kuasa

Berangkat dari pengalaman hidup seniman perempuan I Gusti Ayu Kadek Murniasih, karyanya menghadirkan perlawanan tubuh perempuan yang menyimpan luka dan kemarahan secara gamblang dan relevan hingga hari ini.

Kertas-kertas itu tergantung rapi, putihnya memantulkan cahaya dari lampu pameran. Pengunjung pameran berjalan perlahan dari satu booth ke booth lain, berhenti sejenak, lalu berpindah lagi. Di tengah lalu-lalang itu, beberapa karya justru menahan langkah saya lebih lama. Bukan karena ukuran atau warnanya yang mencolok, melainkan karena intensitas pengalaman yang tergambar.

Di depan booth Galeri ROH, saya memutuskan menjeda keinginan berkeliling dan mampir sejenak untuk mengamati lebih dekat. Gambar-gambar itu amat mencolok. Beberapa di antaranya menggabungkan objek hewan, tumbuhan, benda-benda sekitar, anggota tubuh, bahkan secara berani menampilkan vagina dan penis. 

Setelah mengambil beberapa gambar dengan ponsel, saya memutuskan membuka perbincangan singkat dengan salah satu pengurus galeri ROH, berinisial S. Ia dengan ramah menceritakan karya yang tergantung di sana. Kumpulan karya itu milik seniman perempuan I Gusti Ayu Kadek Murniasih (1966–2006) dengan judul Nggak Nyenyak, ditampilkan oleh galeri ROH di tengah perhelatan pameran Art Jakarta Paper 2026, di Pondok Indah Mall 3 sepanjang 5-8 Februari 2026.

Baca Juga: Bagaimana Memperjuangkan Panggung Teater yang Berperspektif Gender?

Dari perbincangan itu, saya menemukan bahwa di antara eksplorasi medium kertas yang beragam, karya-karya Murni menghadirkan praktik yang berangkat dari pengalaman biografis yang pedih dan kesadaran atas posisi tubuh perempuan dalam kultur yang patriarkal.

“Tubuh dalam karya-karya tersebut hadir bukan sebagai objek. Tetapi sebagai subjek yang memiliki kehendak dan suara sendiri. Yang juga memperlihatkan bagaimana Murni menggunakan proses menggambar sebagai cara untuk mencatat pengalaman dan imajinasinya secara jujur dan spontan,” tutur S kepada saya, Minggu, 8 Februari 2026.

Murni menempatkan tubuh perempuan sebagai pusat narasi, yang dalam karyanya menjadi perpanjangan dari riwayat hidupnya sendiri. Pengalaman hidupnya bukan tanpa luka. 

Saat kecil, Murni menjadi korban kekerasan seksual. Ia juga menjadi pekerja rumah tangga di usia muda, berada dalam relasi kuasa yang timpang sejak dini. Luka ini juga timbul atas peristiwa perceraian dengan suaminya dan persoalan reproduksi karena Murni secara biologis tidak bisa melahirkan.

“Banyak yang mengira praktik Murni hanya sekadar eksplorasi seksualitas. Padahal banyak karyanya yang juga menceritakan tentang kehidupan, identitas, relasi kuasa, dan pengalaman menjadi perempuan dalam konteks sosial tertentu,” lanjut S.

Baca Juga: Institut Ungu: Karya Seni Bisa Lakukan Pembelaan Pada Perempuan dan HAM

Rangkaian pengalaman itu membekas dan membentuk cara Murni melihat kekerasan, representasi seks, dan kuasa laki-laki. Tubuh perempuan dalam karyanya tidak pernah netral. Ia membawa ingatan, trauma, sekaligus kesadaran atas cara perempuan kerap ditempatkan dalam posisi yang rentan. Kesadaran atas konstruksi tersebut membuat karyanya tampil sebagai ruang perlawanan sekaligus bentuk gugatan terhadap kuasa laki-laki.

Meski telah meninggal dunia pada 2006, karya-karya Murni masih hadir dalam berbagai perhelatan seni rupa. Perlawanannya tetap hadir di ruang-ruang seni kontemporer. Ini menunjukkan bahwa persoalan tubuh perempuan, pengalaman trauma, dan relasi kuasa yang ia angkat belum benar-benar usai, karena struktur patriarkal yang ia kritik pun masih mendominasi.

“Pesan-pesannya masih sangat relevan (hingga) hari ini. Terutama dalam diskusi tentang kebebasan berekspresi dan bagaimana tubuh direpresentasikan dalam seni. Menampilkan karya Murni juga berarti membahas kontribusinya yang radikal dalam sejarah seni Indonesia,” papar S.

Perlawanan yang tersaji lewat goresan karya Murni juga diamati oleh Ira Adriati, Dosen Kelompok Keahlian Estetika Ilmu-Ilmu Seni FSRD Institut Teknologi Bandung, yang membahas karya tersebut dalam disertasinya.

“Murni kan belajar di Pengosekan, Bali. Dia memadukan antara budaya seni di Bali, yang kemudian berkaitan dengan bagaimana keberanian untuk mengungkapkan (pengalamannya). Dari pengalaman hidupnya yang bercerai atau berani mengajukan cerai. Buat orang Bali, itu sudah suatu kemajuan,” papar Ira dalam obrolannya dengan Konde.co secara daring pada Sabtu, 28 Februari 2026.

Baca Juga: ‘Papermoon Puppet Theater’, Sembuhkan Kesehatan Mental dan Trauma Lewat Seni

Selain menampilkan perlawanan, Ira menangkap karya Murni juga dapat dibaca sebagai kesedihan dan rasa tidak berdaya. Terutama karena kondisi biologis yang membuatnya tidak memungkinkan untuk melahirkan. Ini menjadi pengalaman yang membentuk narasi batin tersebut.

“Walaupun dia mengungkapkan sesuatu yang berani, tapi pada hakikatnya mengandung perasaan perempuan tradisional Indonesia yang merasa sedih dan lemah bahwa dia tidak bisa hamil,” lanjut Ira. 

Kondisi itu tidak terlepas dari rasa bersalah akibat konstruksi dan pembagian peran gender yang kaku. Di Indonesia, perempuan sejak kecil sering ditanami ide-ide tentang “kodrat” perempuan, yang mempengaruhi sudut pandang mereka dalam melihat dirinya.

Karya Murni menunjukkan cara tubuh menjadi ruang artikulasi yang lahir dari pengalaman paling personal. Namun, tubuh perempuan dan pengalamannya tidak berhenti pada medium kanvas atau kertas saja. Di lanskap seni yang lebih luas, pertanyaan tentang bagaimana perempuan mengolah pengalaman personal menjadi praktik kreatif terus bergema. Hal ini masih berkaitan dengan isu ruang, kuasa, dan posisi perempuan dalam struktur yang maskulin.

Saya mendapatkan perspektif itu direfleksikan oleh S. Sophiyah. K., seorang praktisi seni sekaligus Program Director Yayasan Teater Tilik Sarira.

Sophiyah menilai seni menjadi salah satu cara perempuan membagikan pengetahuan dari pengalaman perempuan itu sendiri. Ia melihat perempuan sering memikirkan hal-hal yang oleh masyarakat dominan dianggap remeh atau sepele. Ini juga berkaitan dengan posisi perempuan yang sering ditempatkan sebagai masyarakat kelas dua dalam status quo. Menjadikan pengalaman perempuan sebagai persoalan sampingan.

Baca Juga: Konser ‘UNiTE’, Kampanyekan Stop Kekerasan Terhadap Perempuan Lewat Seni

Namun, justru di sanalah lapisan pengalaman itu tersimpan. Hal-hal yang disepelekan dalam logika dominan, menurut Sophiyah, justru menyimpan kerentanan dan pengalaman yang bisa menjadi bahan refleksi publik. Ia memposisikan perempuan sebagai subjek yang saling berbagi gagasan.

“Yang menjadi modal ide-ide perempuan dalam proses kreatif adalah dengan menjadikan hal-hal personal sebagai keberanian. Bagaimana mengubah pengalaman pribadi sebagai modal transfer pengetahuan untuk publik. Dan semua itu adalah cara perempuan—melalui seni—memperlihatkan ide-idenya sebagai pengetahuan yang harus diketahui oleh publik secara lebih luas,” tutur Sophiyah kepada Konde.co, Sabtu, 28 Februari 2026.

Dalam salah satu karyanya, In Transit: Performativitas Perempuan di Ruang Sementara, ia menggunakan metafora “ruang sementara” untuk menggambarkan bagaimana perempuan kerap hidup dalam ruang yang tidak sepenuhnya mereka miliki. Ruang yang bisa dipersempit, dipindahkan, atau dirampas sewaktu-waktu. Dan harus beradaptasi dengan tubuhnya dalam merespon keterhimpitan ruang.

“Jadi “ruang sementara” yang aku pakai ini adalah metafora untuk memperlihatkan bagaimana perempuan hidup dalam keterhimpitan, dalam ruang hidup yang diambil, dan dalam ruang sosial yang memang dia tidak mempunyai banyak kesempatan,” papar Sophiyah.

Lanjutnya, “Salah satunya adalah kasus penggusuran yang ada di Solo. Lalu, ada perempuan-perempuan yang hidup di tanah “ilegal”. Karena mereka itu hidup bersama orang-orang yang telah meninggal, tinggal di pemakaman. Terus, bagaimana perempuan bisa mengatur ruang hidupnya dan mengatur ritus habitualnya yang adaptif, itu menjadi poin-poin estetika yang ditawarkan.”

Baca Juga: Seniman Perempuan Bertubuh Mini: Tidak Pernah Merasa Kecil Meski Kerap Dikecilkan

Sebagai program director di sebuah teater, ia mengajak perempuan lain terlibat dalam pertunjukan. Juga memberi mereka ruang untuk bercerita tentang pengalaman masing-masing. Hasilnya mungkin tak langsung terasa, tapi pelan-pelan membekas melalui hubungan yang setara dan ruang berbagi yang mereka ciptakan bersama. Dari proses kreatif semacam itu, ruang untuk mengekspresikan diri tak lagi hanya milik seniman, ia menjadi milik semua yang selama ini terpinggirkan.

“Mengajak para perempuan untuk ikut perform memang nggak akan terlihat sebagai efek yang wow. Kayak pergerakan yang masif, yang membentuk massa. Namun, keintiman person to person, dengan cara berbagi ruang kreatif itu sih yang jadi sangat emosional. Dampaknya tuh kecil-kecil, efek-efek kecil, yang sebenarnya akan tetap muncul dari tiap proses kreatif,” jelas Sophiyah.

Membicarakan Ruang Aman yang Semu

Meski semakin banyak perempuan memimpin pameran, festival, organisasi seni, atau bahkan memiliki galeri, Sophiyah dan S tetap merasa ruang aman belum benar-benar ada. Ruang itu rapuh dan belum terselesaikan dari akarnya.

Dalam praktiknya, perempuan memang semakin dilibatkan dalam berbagai aktivitas seni. Namun, secara kultural, banyak ruang seni, termasuk ruang-ruang kolektif, masih dikuasai pola pikir maskulin. Sophiyah menyatakan banyaknya kasus kekerasan seksual di berbagai kota menunjukkan bahwa ruang aman belum sepenuhnya dipikirkan sebagai sistem. Seperti pencegahan dan penanganan kasus kekerasan yang berperspektif korban, hingga pemilihan narasumber atau kolaborator tanpa rekam jejak kekerasan seksual.

“Kadang-kadang untuk membentuk itu menjadi ruang aman, kita abai terhadap dos and don’ts-nya. Atau sikap dalam berkolektif/berorganisasi lah. Kadang kita tuh sudah yakin banget kalau ruang aman itu sudah terbentuk, jadi nggak perlu dipikirin lagi. Padahal ternyata ruangnya masih sangat maskulin,” jelas Sophiyah.

S pun merasakan keresahan yang sama. “Mewujudkan ruang aman bukan hal yang instan karena selain ruang fisik ada hal lain seperti sikap, etika kerja, dan kesadaran kolektif. Ini jujur menantang sekali, karena sebagai perempuan saya selalu mempertanyakan, “tempat mana yang sebenarnya aman ya buat saya?”. Di ujung dunia mana pun sepertinya sangat sulit ditemukan. Apalagi di pekerjaan yang cair dan berbasis jejaring informal.”

Represi secara “halus” pun kerap dialami seniman perempuan, yang tidak selalu hadir dalam bentuk pelarangan secara terbuka. Karya yang bicara tentang pengalaman tubuh perempuan sering diremehkan, dipertanyakan letak “seninya”. Dan tanpa ada keinginan untuk mengulik lebih jauh soal gagasan dan proses kreatifnya.

Baca Juga: Prioritisasi Perempuan Seniman Mulai Dirintis

“Kadang kan, perempuan itu akan berada di situasi yang “abang-abangan” ya. Belum lagi audiens yang bisa bicara sebebasnya tanpa mau memahami lebih lanjut konteks kekaryaannya. Hanya melihat itu dianggap karya atau nggak. Itu bisa jadi boomerang untuk teman-teman generasi berikutnya, jadi terbatas untuk melakukan hal-hal yang lebih gila,” jelas Sophiyah.

Ia juga menyoroti betapa isu perempuan kadang dimanfaatkan secara oportunis. Sekadar agar terlihat progresif atau memperoleh legitimasi tertentu. Biasanya demi memuaskan ego melalui pengakuan-pengakuan dari publik. Dalam praktik seperti itu, tubuh perempuan kembali menjadi objek, tak lagi subjek yang utuh—yang memiliki ruang untuk bicara.

Di titik inilah pengalaman dan pembacaan Sophiyah berkelindan dengan karya Murniasih. Keduanya memperlihatkan bahwa ketika perempuan menjadikan tubuh atau pengalaman personal sebagai medium seni, ada upaya-upaya besar untuk merebut ruang. Ruang untuk berbicara, ruang untuk diakui sebagai subjek, serta ruang untuk merasa aman dalam proses berkarya.

Sophiyah, Ira, maupun S, sebagai perempuan yang berkecimpung di dunia seni, menaruh kritik sekaligus harapan soal pentingnya ruang aman, kesadaran terhadap perspektif gender, serta bagaimana suara perempuan yang selama ini tersingkir, bisa kembali tampil di narasi arus utama.

Sebagai pengurus galeri, S bicara lugas tentang apa yang menurutnya masih kurang dalam ekosistem seni Indonesia.

“Saya berharap seni di Indonesia bisa lebih terbuka terhadap keberagaman praktik dan perspektif. Saya juga ingin lihat distribusi kesempatan yang lebih adil, misalnya tidak terpusat hanya di kota-kota besar atau pada nama-nama yang sudah mapan.”

Baca Juga: Frida Kahlo: Potret Interseksional Feminis dari Lensa Seniman Disabilitas

“Selain itu, penting bagi kita untuk terus mendorong etika kerja yang sehat. Ekosistem seni yang ideal adalah yang memungkinkan seniman dan para pekerjanya bereksperimen dengan aman dan hidup layak dari praktiknya,” tutur S.

Perjuangan atas praktik ruang aman juga disampaikan oleh Sophiyah. Ia menjelaskan kerap ditemukan laki-laki yang menggunakan “modus” bertukar pikiran sebagai pintu masuk untuk melakukan tindak pelecehan.

“Bentuk-bentuk memanipulasi perempuan dengan dalih ngajarin perempuan, semoga nggak ada lagi deh yang kayak gitu. Strategi-strategi manipulasi kayak gitu sudah nggak relevan. Banyak perempuan yang berniat belajar dan tergabung dalam skena-skena tertentu, eh malah harus jadi korban pelecehan, dan dia pasti gak menduga hal itu akan terjadi,” kritik Sophiyah.

Sedangkan Ira, sebagai akademisi, menyoroti minimnya perempuan perupa yang tercatat dalam sejarah. Melalui risetnya, ia menemukan hanya sekitar 33 persen perempuan perupa yang terdokumentasikan secara memadai dalam penulisan sejarah seni rupa. Ia menyoroti kesenjangan antara riset akademik dan ruang publik.

“Kelemahannya kalau wilayah akademik ini, ada kendala dalam mempublikasikannya, perlu dana yang besar. Mungkin juga tidak banyak kesempatan yang diberikan di ruang media massa, kesempatan biasanya diberikan ke orang-orang yang memang sudah populer.”

Baca Juga: KDRT Perempuan Seniman: Konten Intim Disebar Mantan Suami, Niat Lapor Polisi Barang Bukti Hilang

Melalui penelusuran karya Murniasih—yang penuh dengan ragam emosi—dan cerita-cerita para pegiat seni itu, saya menyadari bahwa seni dapat menjadi medium untuk menegaskan eksistensi sebagai perempuan di tengah kultur yang maskulin. Pengalaman tubuh secara personal menghasilkan sebuah keberanian yang mampu merebut ruang, hingga menentang batas tabu dan melawan stigma gender.

Namun, kebebasan yang sering dibicarakan itu tak ayal hanya jadi angan-angan jika tak dibarengi dengan kesadaran akan interseksionalitas. Tanpa perspektif gender yang menempatkan pengalaman perempuan dan kelompok rentan di pusat perhatian, ketidakadilan akan terus menyelimuti perempuan dan kelompok rentan yang membayangi setiap langkah kreatif. 

Persoalan ini pun tidak berhenti di dunia seni, tetapi berlaku secara universal. Di berbagai bidang lain yang juga masih dibayangi cara pandang yang serupa. Suara-suara yang termarjinalkan butuh didengar untuk mewujudkan ruang yang merdeka bagi semua orang.

(Editor: Salsabila Putri Pertiwi) 

(Sumber Gambar: artworlddatabase)

Laras Ciptaning Kinasih

Mahasiswi Universitas Brawijaya
Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

Creative Commons License

1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

Let's share!