Joki Anotasi Buku hingga Strava, Ketika Kapitalisme Jual Jalan Pintas Untuk Hidup Ideal

Jasa joki saat ini ada dimana-mana, dari joki buku beranotasi hingga catatan olahraga. Jasa joki bukan sekadar soal pencitraan. Ada budaya yang mengomersialkan pengakuan sosial, ketimpangan akses, dan tekanan ekonomi yang berujung pada komoditas.

Pernah melihat seseorang membagikan foto buku yang penuh anotasi warna-warni? Bahkan lengkap dengan catatan reflektif yang terlihat mendalam. Lalu ternyata kita mengetahui bahwa semua itu dikerjakan oleh orang lain. 

Atau seseorang yang memiliki catatan lari puluhan kilometer di Strava, padahal aktivitas tersebut tidak sepenuhnya dilakukan sendiri? 

Budaya media sosial saat ini menjadikan hampir setiap aktivitas sebagai sesuatu yang layak dipamerkan. Maka jasa joki pun hadir untuk membantu seseorang terlihat membaca, berolahraga, menghadiri konser, bahkan memiliki perangkat dan gaya hidup tertentu.

Dulu mungkin kita lazim mendengar joki tugas. Kini fenomena perjokian meluas ke berbagai aspek kehidupan. Ada joki anotasi buku, joki Strava, joki foto konser, hingga jasa screenshot iPhone yang menyediakan tangkapan layar dengan tampilan antarmuka khas perangkat Apple. 

Motif pengguna maupun penyedia jasa beragam. Mulai dari memenuhi tuntutan sosial, menghemat waktu, hingga mencari penghasilan tambahan.

Sebagian orang menganggap perjokian sebagai bukti bahwa masyarakat semakin sibuk membangun citra daripada menjalani pengalaman sesungguhnya. Joki membaca buku dinilai merusak esensi literasi, sedangkan joki olahraga dianggap memalsukan pencapaian demi pengakuan sosial. Sebagian lainnya melihat jasa-jasa tersebut sebagai peluang ekonomi atau bahkan sarana untuk memancing ketertarikan terhadap aktivitas tertentu.

Namun, perdebatan tentang apakah perjokian itu baik atau buruk tidak cukup jika hanya berhenti pada penilaian moral terhadap individu. Mengapa semakin banyak aktivitas membutuhkan bukti visual agar dianggap benar-benar dilakukan? Mengapa seseorang merasa perlu terlihat membaca, berolahraga, atau memiliki barang tertentu? Dan bagaimana maraknya jasa joki berkaitan dengan ketimpangan ekonomi serta terbatasnya akses terhadap hal-hal yang seharusnya dapat dinikmati lebih banyak orang?

Hidup di Tengah Budaya Performatif

Media sosial telah mengubah cara kita menunjukkan diri kepada orang lain. Membaca buku, berlari, menonton konser, dan membeli barang kini dapat dikemas menjadi konten yang dinilai melalui jumlah tanda suka, komentar, dan respons audiens. Pengalaman tidak lagi berhenti ketika sesuatu selesai dilakukan, tetapi juga perlu didokumentasikan agar memperoleh pengakuan sosial.

Di sinilah budaya performatif bekerja. Seseorang tidak hanya menjalani aktivitas, tetapi juga membangun citra sebagai orang yang produktif, berpengetahuan, sehat, atau memiliki selera yang baik. Perbedaan antara melakukan sesuatu dan terlihat melakukannya semakin kabur ketika representasi visual lebih mudah dipamerkan daripada proses yang sebenarnya.

Joki anotasi buku, misalnya, muncul di tengah budaya yang menjadikan buku sebagai penanda identitas intelektual. Halaman penuh stabilo dan catatan reflektif dapat menjadi bukti visual bahwa seseorang rajin membaca. Padahal, membaca merupakan proses yang tidak selalu menarik untuk dipamerkan: ada kebingungan, kebosanan, ketidaksetujuan, dan pemahaman yang membutuhkan waktu.

Hal serupa terjadi pada joki Strava. Olahraga yang semestinya berkaitan dengan kesehatan, kebugaran, atau kesenangan bergerak dapat berubah menjadi pencapaian yang diukur melalui jarak tempuh, kecepatan, dan konsistensi latihan. Angka-angka tersebut kemudian menjadi modal simbolik untuk menunjukkan kedisiplinan dan keberhasilan menjalani gaya hidup sehat.

Fenomena fear of missing out (FOMO), atau ketakutan tertinggal dari pengalaman dan tren yang dinikmati orang lain, turut memperkuat tekanan tersebut. Ketika linimasa dipenuhi dokumentasi buku, pencapaian olahraga, dan pengalaman konser, seseorang bisa merasa kurang produktif atau kurang menarik. Joki menawarkan jalan pintas untuk mengejar citra serupa tanpa harus melalui seluruh proses di baliknya.

Meski demikian, tidak semua pengguna jasa joki didorong oleh FOMO. Motif mereka bisa beragam dan tidak selalu dapat diketahui dari luar. Karena itu, kritik seharusnya tidak berhenti pada individu yang menggunakan jasa tersebut, tetapi juga menyasar budaya yang membuat penampilan semakin bernilai dibandingkan pengalaman itu sendiri.

Baca juga: Joki Tugas Kuliah Makin Menjamur, Gimana Solusi Mencegahnya?

Kapitalisme memungkinkan hampir semua kebutuhan, termasuk kebutuhan akan pengakuan sosial, diubah menjadi peluang transaksi. Jika seseorang ingin terlihat rajin membaca, tersedia jasa anotasi. Jika ingin mempunyai dokumentasi konser, ada joki foto. Bahkan, tampilan visual yang diasosiasikan dengan kepemilikan perangkat tertentu dapat diperjualbelikan.

Dalam logika ini, yang dijual bukan hanya hasil anotasi, foto, atau tangkapan layar, melainkan juga kemungkinan untuk terlihat memiliki pengalaman, kebiasaan, dan status tertentu. Pasar tidak hanya memenuhi kebutuhan material, tetapi juga menawarkan cara untuk membangun identitas sosial.

Jasa screenshot iPhone, misalnya, dapat dibaca dalam konteks konsumsi simbolik. Perangkat teknologi tidak selalu dipilih semata-mata berdasarkan fungsi, tetapi juga karena merek tertentu diasosiasikan dengan prestise dan kelas sosial. Dalam masyarakat yang menjadikan barang sebagai penanda keberhasilan, seseorang dapat merasa perlu memiliki atau setidaknya terlihat memiliki simbol-simbol tersebut agar dianggap setara dengan kelompok sosial tertentu.

Tentu saja, tidak semua pengguna iPhone mengejar status, sebagaimana tidak semua orang yang memakai jasa screenshot mempunyai motif serupa. Namun, budaya konsumsi yang mengaitkan kepemilikan barang dengan keberhasilan dapat menciptakan tekanan untuk mengikuti standar gaya hidup yang tidak selalu terjangkau.

Perjokian kemudian menjadi bagian dari ekonomi yang menjual representasi. Seseorang dapat membeli tampilan atau dokumentasi tertentu tanpa harus memiliki pengalaman maupun barang yang mendasarinya. Namun, kritik terhadap sistem ini tidak berarti semua transaksi joki otomatis bermasalah. Menjual jasa anotasi, misalnya, dapat menjadi pekerjaan yang sah selama tidak digunakan untuk menipu atau membuat klaim yang merugikan pihak lain.

Ketimpangan Akses: Buku Mahal, Olahraga Eksklusif

Mengkritik joki membaca buku tanpa membicarakan akses terhadap bacaan berarti mengabaikan persoalan penting dalam ekosistem literasi. Harga buku, ongkos pengiriman, keterbatasan perpustakaan, dan distribusi bacaan yang tidak merata dapat menjadi hambatan bagi masyarakat berpendapatan rendah.

Ketika membaca dipromosikan sebagai kebiasaan wajib bagi orang produktif, kita perlu bertanya apakah setiap orang memiliki uang, waktu, dan ruang yang memadai untuk melakukannya. Pekerja dengan jam kerja panjang, orang yang menanggung biaya hidup tinggi, atau mereka yang tinggal jauh dari fasilitas literasi tidak memiliki kesempatan yang sama dengan orang yang mempunyai sumber daya lebih besar.

Ini bukan berarti jasa anotasi otomatis mengatasi ketimpangan literasi. Catatan yang dibuat orang lain tidak dapat menggantikan pengalaman membaca dan memahami buku. Namun, fenomena tersebut dapat membuka diskusi tentang bagaimana literasi kadang-kadang direduksi menjadi penampilan intelektual, alih-alih persoalan akses terhadap pengetahuan.

Persoalan serupa muncul dalam dunia olahraga. Hidup sehat sering dipromosikan sebagai persoalan disiplin dan kemauan pribadi, padahal kesempatan berolahraga dipengaruhi oleh kondisi material. Tidak semua orang memiliki akses ke trotoar yang layak, ruang terbuka yang aman, atau fasilitas olahraga gratis. Tidak semua orang mempunyai waktu luang setelah bekerja, terutama mereka yang menempuh perjalanan panjang atau memikul tanggung jawab perawatan keluarga.

Baca juga: Membaca Cara Kita Berliterasi yang Sudah Tidak Sama Lagi

Selain itu, olahraga yang populer di media sosial kerap dikaitkan dengan sepatu khusus, pakaian olahraga, jam tangan pintar, dan keanggotaan pusat kebugaran. Barang-barang tersebut tidak selalu diperlukan untuk mulai bergerak, tetapi budaya konsumsi dapat membuatnya seolah-olah menjadi bagian dari gaya hidup sehat yang ideal.

Akibatnya, aktivitas yang sebenarnya dapat dilakukan banyak orang menjadi terikat pada fasilitas dan simbol yang tidak dimiliki semua orang. Joki Strava memang tidak menyelesaikan persoalan akses olahraga, tetapi kemunculannya memperlihatkan bagaimana pencapaian fisik dapat dipisahkan dari pengalaman olahraga itu sendiri.

Karena itu, kritik terhadap perjokian jangan sampai berubah menjadi penghakiman terhadap orang yang dianggap kurang produktif atau tidak cukup sehat. Kita perlu melihat ketimpangan waktu, uang, fasilitas, keamanan, dan kondisi kerja yang membentuk pilihan seseorang. Pada saat yang sama, keterbatasan akses juga tidak otomatis membenarkan penipuan atau klaim pencapaian yang tidak benar.

Perjokian, Peluang Ekonomi di Saat Kepepet?

Di balik budaya konsumsi dan performativitas, ada sisi lain yang perlu diperhatikan: orang-orang yang menawarkan jasa joki juga sedang bekerja.

Ketika biaya hidup meningkat dan pekerjaan yang layak sulit diperoleh, masyarakat mencari berbagai cara untuk mendapatkan penghasilan. Ekonomi digital memungkinkan seseorang menawarkan keterampilan dan tenaga tanpa harus memiliki toko fisik atau modal besar. Jasa anotasi, dokumentasi, pengeditan, dan berbagai layanan berbasis permintaan dapat menjadi sumber pemasukan tambahan.

Kita tidak bisa langsung menyimpulkan bahwa seluruh fenomena perjokian merupakan akibat krisis ekonomi. Motif pengguna dan penyedia jasa berbeda-beda, sementara tren tertentu juga tumbuh akibat perubahan budaya digital. Tentu butuh data untuk membuktikan bahwa tekanan ekonomi secara langsung meningkatkan perjokian.

Meski demikian, ketidakpastian ekonomi merupakan konteks penting untuk memahami mengapa pekerjaan semacam ini menarik bagi sebagian orang. Ketika pekerjaan formal tidak memberikan pendapatan memadai, atau kesempatan kerja terbatas, waktu dan keterampilan dapat diubah menjadi sumber pemasukan melalui pasar jasa informal.

Karena itu, kita perlu membedakan posisi pengguna dan penyedia joki. Bagi pengguna, jasa tersebut mungkin merupakan cara praktis memenuhi kebutuhan sosial atau personal. Bagi penyedia, pekerjaan yang sama dapat membantu membayar kebutuhan sehari-hari. Pekerjaan itu tetap membutuhkan waktu, tenaga, dan keterampilan, terlepas dari bagaimana hasilnya digunakan oleh konsumen.

Namun, penghargaan terhadap pekerjaan tersebut perlu disertai pertanyaan tentang kondisi kerjanya. Apakah tarifnya sepadan dengan waktu yang dibutuhkan? Apakah pekerja memiliki kendali atas jam kerja dan harga? Dan apakah mereka menghadapi risiko pesanan tidak dibayar, perubahan permintaan sepihak, atau tekanan tenggat waktu?

Baca juga: “Mereka Ikut Mematikan Kami”, Penulis dan Toko Buku Independen Menjerit Lawan Pembajakan

Fleksibilitas kerja digital tidak selalu berarti kebebasan. Seseorang mungkin bisa menentukan kapan menerima pesanan, tetapi pilihannya terbatas jika ia membutuhkan uang dengan segera. Tanpa perlindungan memadai, pekerjaan informal dapat menjadi sumber pendapatan yang rentan dan tidak menentu.

Praktik membayar orang lain untuk menggantikan seseorang atau mengerjakan tugas tertentu bukanlah fenomena yang sepenuhnya baru. Namun, berbagai bentuk perjokian mempunyai sejarah dan konteks berbeda sehingga tidak tepat menganggap semuanya berasal dari satu penyebab.

Joki tugas dan ujian, misalnya, berkaitan dengan sistem pendidikan yang menjadikan nilai sebagai penentu penting bagi kelulusan dan kesempatan melanjutkan pendidikan. Ketimpangan akses terhadap sekolah berkualitas, bimbingan belajar, waktu belajar, dan dukungan keluarga dapat memperbesar tekanan untuk memperoleh nilai tinggi. Kondisi tersebut membantu menjelaskan konteks sosial praktik kecurangan akademik, meskipun tidak membenarkannya.

Di Indonesia, istilah joki juga dikenal dalam konteks transportasi. Pernahkah kamu mendengar istilah ‘3-in-1’? Di Jakarta, kebijakan lalu lintas yang mewajibkan kendaraan roda empat berpenumpang minimal tiga orang sempat berlaku hingga tahun 2016. 

Baca juga: Klub Buku Sebagai Tempat Aman untuk Berdiskusi dan Berekspresi

Sebetulnya kebijakan ini muncul sebagai upaya mengurangi kemacetan dengan menekan angka kendaraan bermotor di jalanan. Namun, hal itu juga menimbulkan fenomena joki penumpang tambahan untuk memenuhi persyaratan jumlah penumpang. Praktik ini memperlihatkan bagaimana aturan, kebutuhan masyarakat, dan peluang mencari penghasilan dapat melahirkan pekerjaan informal.

Konteks tersebut memang berbeda dari joki membaca buku atau olahraga. Karena itu, kita tidak dapat menyusun satu garis sejarah yang menyatakan bahwa seluruh jenis joki berakar pada kemiskinan struktural. Namun, kemiskinan struktural tetap relevan untuk menjelaskan mengapa sebagian orang memasuki pasar jasa informal. Kesempatan mendapatkan pendidikan, pekerjaan, dan penghasilan yang layak tidak hanya ditentukan oleh kemauan individu, tetapi juga oleh struktur ekonomi dan sosial.

Persoalannya bukan bahwa setiap penyedia joki pasti miskin. Melainkan bahwa tidak semua orang mempunyai daya tawar dan pilihan pekerjaan yang sama. Kita perlu memahami kondisi yang mendorong orang menawarkan jasa tersebut tanpa meromantisasi pekerjaan informal maupun menghakimi pekerjanya.

Di Dunia Serba-sibuk Ini, Tidak Semua Kita Disiapkan Untuk Produktif

Perspektif feminis membantu membongkar asumsi bahwa setiap orang memiliki waktu dan kesempatan yang sama untuk membaca, berolahraga, mengembangkan keterampilan, dan menjalani kehidupan sosial.

Dalam banyak keluarga, pekerjaan domestik dan perawatan masih dibebankan secara tidak proporsional kepada perempuan. Memasak, membersihkan rumah, merawat anak, dan mendampingi anggota keluarga yang sakit membutuhkan waktu serta tenaga, meskipun sering tidak dibayar dan tidak dianggap sebagai pencapaian produktif.

Bagi seseorang yang menjalani pekerjaan berbayar sekaligus memikul tanggung jawab domestik, membaca buku atau berolahraga secara rutin membutuhkan negosiasi waktu yang tidak sederhana. Sebaliknya, orang yang memiliki akses terhadap pengasuhan berbayar, layanan rumah tangga, atau dukungan keluarga mempunyai peluang lebih besar untuk menjalani gaya hidup yang dipromosikan di media sosial.

Karena itu, standar produktivitas yang tampak netral sebenarnya dibentuk oleh pembagian kerja dan sumber daya yang tidak setara. Siapa yang bisa membaca dengan tenang setelah bekerja? Atau yang dapat berolahraga tanpa harus memastikan kebutuhan anak atau anggota keluarga lain terpenuhi? Siapa yang dapat menghadiri konser tanpa memikirkan ongkos, keamanan perjalanan, dan tanggung jawab domestik setelah pulang?

Pengalaman tersebut tidak seragam. Perempuan kelas menengah yang mempunyai akses terhadap fasilitas olahraga, misalnya, tidak menghadapi hambatan yang sama dengan pekerja informal yang menempuh perjalanan panjang atau merawat keluarga tanpa dukungan. Perspektif feminis yang interseksional mengajak kita melihat bagaimana gender berkelindan dengan kelas, usia, disabilitas, lokasi geografis, dan kondisi pekerjaan.

Analisis ini juga relevan bagi orang-orang yang menyediakan jasa joki. Pekerjaan digital dapat memberikan kesempatan memperoleh penghasilan secara fleksibel, termasuk bagi mereka yang memiliki tanggung jawab perawatan. Namun, fleksibilitas tersebut perlu diperiksa. Apakah pekerja sungguh-sungguh bebas menentukan tarif dan jam kerja, atau justru harus menerima pesanan kapan pun karena tidak memiliki jaminan pendapatan?

Baca juga: Diskusi Buku Konde.co Didatangi Polisi, Diskusi Buku Reset Indonesia Dibubarkan Aparat

Ini bukan asumsi bahwa setiap penyedia maupun pengguna joki adalah perempuan. Tapi secara menyeluruh, kita perlu menelaah bagaimana pembagian kerja, tanggung jawab perawatan, dan ketimpangan kuasa memengaruhi siapa yang menyediakan jasa, siapa yang membelinya, dan siapa yang memperoleh keuntungan.

Di sisi lain, tuntutan untuk tampil sebagai individu ideal juga mempunyai dimensi gender. Perempuan kerap menghadapi ekspektasi untuk terlihat cerdas, produktif, sehat, menarik, dan mampu mengelola kehidupan dengan baik. Budaya performatif kemudian bukan hanya soal memamerkan aktivitas, tetapi juga tekanan untuk memenuhi standar keberhasilan dan feminitas yang ditentukan masyarakat.

Joki tidak otomatis merupakan respons terhadap tekanan gender tersebut. Namun, fenomenanya membantu menunjukkan bagaimana tuntutan untuk selalu terlihat baik dapat menciptakan pasar baru, sementara kemampuan memenuhi tuntutan itu tetap bergantung pada sumber daya yang tidak terbagi secara merata.

Di satu sisi, ada pendapat bahwa layanan joki dapat meningkatkan ketertarikan terhadap aktivitas yang dijokikan. Anotasi buku mungkin membuat orang penasaran terhadap isinya, sementara dokumentasi olahraga dapat memicu percakapan mengenai kesehatan. Kemungkinan ini tidak sepenuhnya mustahil. Tetapi ketertarikan terhadap suatu bidang perlu dibedakan dari pengalaman menjalani aktivitas tersebut.

Baca juga: 100 Tahun Pramoedya Ananta Toer, Mengingat Tulisannya Tentang Perempuan Revolusioner Sampai Pelarangan Buku

Seseorang bisa tertarik membaca setelah melihat catatan buku orang lain. Tetapi ketertarikan itu tidak berarti ia telah memahami buku yang dicatat. Demikian pula, melihat rekam jejak olahraga dapat memotivasi seseorang untuk bergerak. Tetapi catatan yang dibuat joki bukan bukti bahwa pemilik akun memperoleh manfaat fisik dari aktivitas tersebut.

Penggunaan jasa juga perlu dilihat berdasarkan konteksnya. Membayar orang untuk membuat catatan bacaan sebagai bahan diskusi atau inspirasi berbeda dari menggunakan catatan tersebut untuk berpura-pura telah membaca buku dalam penilaian yang menuntut kemampuan mandiri. Membayar fotografer untuk mendokumentasikan konser juga berbeda dari mengambil foto orang lain lalu mengklaimnya sebagai dokumentasi pengalaman pribadi.

Dengan demikian, tidak semua bantuan berbayar dapat disamakan dengan kecurangan. Yang perlu diperiksa adalah transparansi layanan, klaim yang dibuat, dan kemungkinan kerugian bagi pihak lain. Kita dapat mengakui nilai ekonomi sebuah jasa sekaligus mengkritik penggunaan yang menyesatkan.

Jangan Berhenti Pada Pertanyaan, “Siapa yang Palsu?”

Perjokian memperlihatkan kontradiksi budaya digital. Kita semakin mudah membagikan pengalaman, tetapi juga semakin mudah membeli representasinya. Buku, olahraga, konser, dan perangkat teknologi dapat berubah menjadi tanda sosial yang diperjualbelikan. 

Namun, jika perdebatan hanya berhenti pada pertanyaan apakah pengguna joki merupakan orang palsu, kita kehilangan kesempatan untuk membicarakan persoalan yang lebih besar.

Kita perlu mempertanyakan mengapa membaca dijadikan simbol kecerdasan, mengapa olahraga dikemas sebagai gaya hidup yang membutuhkan banyak barang, dan mengapa perangkat tertentu diasosiasikan dengan kelas sosial. Kita juga perlu membicarakan kondisi kerja orang-orang yang menawarkan jasa tersebut. Termasuk ketidakpastian pendapatan dan terbatasnya perlindungan dalam ekonomi informal.

Kritik terhadap budaya performatif tetap diperlukan, terutama ketika perjokian melibatkan kebohongan, manipulasi, atau klaim pencapaian yang merugikan pihak lain. Namun, kritik itu harus proporsional: tidak semua dokumentasi adalah kepalsuan, tidak semua bantuan berbayar adalah kecurangan, dan tidak semua pengguna joki memiliki motif yang sama.

Pada akhirnya, persoalannya bukan semata-mata mengapa seseorang membayar orang lain untuk membaca, berlari, atau mendokumentasikan konser. Kita juga perlu bertanya mengapa masyarakat membuat orang merasa harus membuktikan bahwa mereka telah melakukan aktivitas tertentu agar dianggap menarik dan layak diakui.

Selama pengakuan sosial dapat dijual sebagai komoditas, sementara waktu, uang, dan kesempatan tetap terbagi secara timpang, pasar akan terus menemukan cara baru untuk menawarkan jalan pintas menuju citra kehidupan yang dianggap ideal. 

Memahami fenomena ini bukan berarti membenarkan semua praktik perjokian. Melainkan melihat bahwa di baliknya terdapat persoalan yang lebih besar daripada pilihan individual. Budaya yang mengutamakan penampilan, ekonomi yang mengubah kecemasan menjadi peluang bisnis, dan struktur sosial yang membuat kesempatan untuk menjalani kehidupan ideal tidak pernah benar-benar setara.

Salsabila Putri Pertiwi

Wakil Pemimpin Redaksi Konde.co
Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

Creative Commons License

1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

Let's share!

latest news

latest news

popular

Yuk, Menulis di Konde.co

Kami memanggil kamu yang peduli dengan penguatan narasi yang berperspektif perempuan dan kelompok marjinal di media untuk menulis di Konde.co. Dengan mengirim tulisan ke Konde.co, kamu juga turut mendukung jurnalisme publik Konde.co bisa terus hidup.

Video