Di tahun 2013, Leila S. Chudori meluncurkan sebuah novel berjudul Pulang. Novel ini memiliki tema tentang warga negara Indonesia yang menjadi ekspatriat karena perbedaan ideologi yang dimiliki dengan pemerintahan pada zaman Orde Baru. Ini membuatnya tidak bisa kembali ke Indonesia.
Tidak ketinggalan dengan dunia tekstual. Pada tahun 2016, dunia perfilman juga diramaikan dengan film bertema serupa. Yakni film yang disutradarai Angga Dwimas Sasongko berjudul Surat Dari Praha.
Dari tema besar yang serupa, yaitu tentang warga negara Indonesia yang menjadi eksil politik Indonesia yang tidak bisa kembali ke Indonesia. Kira-kira elemen apa saja yang bisa mencerminkan nasib eksil dalam karya seni tekstual maupun visual?
Dua novel ini tak lepas dari masa pergantian rezim Orde Lama yang dipimpin oleh Presiden Soekarno dengan Orde Baru yang dipimpin oleh presiden Soeharto. Transisi itu meninggalkan berbagai jejak peristiwa yang masih diingat beberapa pihak yang merasa dirugikan atas tindakan-tindakan yang dilakukan oknum yang berkuasa pada saat itu. Tidak jarang tindakan pemerintah Orde Baru dalam mengambil alih pemerintahan Soekarno diisi dengan kegiatan atau aturan menindas beberapa golongan untuk memuluskan keinginannya. Salah satunya adalah yang pembohongan publik atas peristiwa G30S yang menyebabkan banyak jatuhnya nyawa orang dan adanya trauma psikis.
Untuk mengungkap kebenaran yang disembunyikan dari peristiwa tersebut ada banyak seniman yang berusaha membuat karya seni agar sudut pandang masyarakat Indonesia berubah menjadi lebih paham dengan sejarah negaranya. Dari mulai karya tekstual hingga audio-visual berusaha membeberkan fakta tentang sejarah yang berusaha ditutupi kebenarannya.
Pulang: Cerita di Balik G30S dan Reformasi 1998
Novel Pulang karya Leila S. Chudori terdiri dari 3 bab, Dimas Suryo, Lintang Utara, dan Segara Alam. Namun, selain bab-bab di atas terdapat bab prolog sebagai pengantar dan bab epilog sebagai penutup kisah Pulang.
Bab-bab tersebut terdiri dari beberapa sub bab yang dapat menjadi satu kesatuan yang utuh.
Cerita dalam novel ini dibuka dalam bab prolog oleh narasi tokoh Hananto Prawiro pada April 1968 di Jalan Sabang, Jakarta tentang penangkapan dirinya oleh Lettu Mukidjo beserta temannya.
Hananto Prawiro adalah mantan wartawan di Kantor Berita Nusantara yang dituduh menganut paham kiri yang bagi pemerintah saat itu membahayakan. Penangkapan tersebut berlangsung damai karena tidak ada perlawanan dari Hananto. Bahkan ia hanya bisa mengira-ngira nasib orang-orang yang ia sayangi selama masa persembunyiannya ini.
Bab selanjutnya, yaitu dinarasikan oleh Dimas Suryo. Pada bab ini cerita berfokus pada kisah Dimas Suryo yang merasa bahwa suasana Paris yang saat itu sedang bergejolak sama halnya dengan Indonesia. Namun ia merasa pertarungan di Paris lebih baik dari pertarungan yang ada di Indonesia.
Baca Juga: ‘Orde Baru Itu Masih Ada, Hanya Berganti Jas’: Film ‘Eksil’ Ceritakan Nasib Diaspora Penyintas 1965
Dimas Suryo merasa iri dengan pertarungan yang ada di Paris ini karena terlihat siapa berseteru dengan siapa. Ada mahasiswa dan buruh yang menggugat pemerintah De Gaulle. Hal ini justru terasa berbeda di Indonesia. Dimas Suryo merasa ia dan teman-temannya akrab dengan kekisruhan dan kekacauan, tetapi tidak tahu mana lawan dan mana kawan. Yang ia tahu kekacauan tersebut karena perihal perebutan kekuasaan.
Lalu cerita bab ini mengalir pada kisah Dimas Suryo yang merasakan jatuh cinta dengan perempuan Prancis, Vivienne Devereaux. Mereka pun menjadi sepasang kekasih yang sedang kasmaran.
Hubungan mereka selalu diisi dengan bertukar cerita dan diskusi tentang apa saja, terkecuali tentang latar belakang Dimas Suryo. Entah mengapa Dimas Suryo seakan enggan bercerita tentang sejarah hidupnya hingga bagaimana ia bisa sampai di Paris. Namun, di suatu malam Dimas sudah tak dapat menahan diri saat mendapatkan surat dari Kenanga, putri sulung Hananto. Ia pun merasa gelisah Vivianne pun menangkap kegelisahan Dimas. Ia pun bertanya kepada Dimas tentang kenapa Dimas tampak gelisah akhir-akhir ini.
Kisah masa lalu kelam Dimas Suryo dimulai dari cerita Kenanga yang ada dalam surat yang dikirimkan, yaitu tentang proses penahanan Surti, ibunya.
Proses penahan tersebut dilanjutkan dengan proses interogasi yang dilakukan setiap hari hingga memakan waktu berjam-jam. Kenanga sendiri selama berada di tahanan mendapat tugas menyapu dan membersihkan beberapa ruangan setiap hari. Suatu ketika Kenanga menemukan cambuk ekor pari yang masih berlumuran darah di ruangan yang ia bersihkan. Ia juga melihat beberapa laki-laki yang digiring dengan wajah berlumuran darah. Setelah mengetahui keadaan yang dialami Kenanga dan keluarganya di Indonesia dari surat tersebut Dimas dan Vivianne merasa nelangsa.
Baca Juga: Pemerintah Bertemu Eksil di Eropa, Janji Pulihkan Hak Korban Pelanggaran HAM
Selanjutnya, cerita tentang kehidupan Dimas Suryo perlahan bergulir dari narasi yang ia bawakan sendiri. Ia menuturkan jika ia hidup di tengah orang-orang yang memiliki paham atau aliran sendiri, sedangkan ia berusaha netral. Misalnya Hananto Prawiro, atasannya di Kantor Berita Nusantara sekaligus sahabatnya, menganut paham kiri. Tak heran bila akhirnya Hananto dicari oleh tentara dan pada akhirnya tertangkap.
Dalam bab ini Dimas juga pada akhirnya harus mengakui bahwa ia pernah dekat dengan Surti kepada Vivienne. Hubungan Dimas dan Surti bersemi saat dibangku kuliah. Namun, karena Dimas merasa bimbang dan rendah diri saat Surti mengundangnya untuk menemui orang tua Surti, Dimas malah berdiam diri tak berkata apa-apa dan membuat Surti sedih. Mulai saat itu hubungan Dimas dengan Surti meregang. Hingga pada akhirnya ia tak sengaja melihat Hananto sedang memeluk pinggang Surti di Kamar kos Hananto. Hubungan Surti dan Hananto pun berlanjut hingga menikah
Keterkaitan kehidupan Dimas dengan pasangan ini pun pada akhirnya menjadi salah satu penyebab Dimas berada di Paris. Awalnya Hananto yang mendapat tugas untuk mengikuti Konferensi Wartawan Asia-Afrika di Peking. Tetapi saat itu hubungannya dengan Surti, istrinya sedang tidak baik karena ia ketahuan selingkuh. Akhirnya Hananto meminta Dimas untuk menggantikannya menghadiri acara tersebut.
Pada awalnya Dimas menolak, tetapi karena mengetahui keadaan rumah tangga Hananto dan Surti sedang tidak baik, ia pun menerima tawaran tersebut. Bersama dengan Nugraha, Tjai, dan Risjaf, Dimas menghadiri Konferensi Wartawan Asia-Afrika di Peking.
Baca Juga: Solidaritas Dari Perempuan untuk Perempuan dalam ‘Ubud Writers and Readers Festival 2024’
Tetapi dalam perjalanan dinasnya keluar negeri ini ia mendapat kabar bahwa di Indonesia telah meletus peristiwa 30 September. Jenderal-jenderal diculik dan dibunuh. Tempat kerjanya, yaitu Kantor Berita Nusantara juga ikut digeledah karena dianggap kiri.
Dari hari ke hari berita tentang apapun yang berhubungan dengan partai komunis diburu dan beberapa ada yang dibunuh. Karena kejadian tersebut Dimas, Nugroho, Tjai, dan Risjaf sulit untuk menghubungi keluarga di Indonesia. Selain itu passpor mereka dicabut yang membuat mereka tidak memiliki kewarganegaraan—stateless.
Lalu selanjutnya mereka dengan berbagai cara berhasil pindah dari Peking menuju Paris. Mereka memilih Negara Prancis karena Prancis merupakan negara yang disebut sebagai pays des droits de l’homme atau dalam bahasa Indonesianya adalah “Negara hak asasi manusia”—negara yang dapat menampung orang-orang yang bermasalah karena politik di negaranya membuat mereka tak bisa kembali.
Selain menetap di Paris mereka juga mencoba mendapatkan kewarganegaraan Prancis. Tetapi, nyatanya tidaklah mudah proses birokrasi yang harus mereka jalani demi mendapatkan kewarganegaraan tetap.
Baca Juga: Hari HAM, Perempuan Korban Suarakan Ingatan Kolektif Pelanggaran HAM Lintas Generasi
Oleh karena itu, sementara mereka memegang Titre de Voyage (Surat Perjalanan). Mereka dapat pergi ke mana saja di seluruh dunia, kecuali Indonesia. Dan, ketika mereka tinggal di Paris mereka mendapatkan bantuan sekedarnya dari lembaga sosial pemerintah. Pada Februari tahun berikutnya setelah kepindahan mereka ke Prancis, Dimas mendapat kabar bahwa ibunya meninggal. Tetapi, Dimas belum bisa pulang karena situasi di Indonesia masih belum membaik. Dimas pun hanya bisa menikmati kesedihannya dengan cara berdiam diri selama beberapa minggu.
Pertemuanya dengan Vivienne yang mampu mengembalikan Dimas seperti semula. Ketulusan Vivienne yang dapat menjadikan Paris sebagai rumah persinggahan bagi Dimas. Setahun setelahnya akhirnya mereka berdua menikah dan melahirkan buah hati bernama Lintang Utara.
Selama menikah, Vivienne telah bekerja sebagai staf pengajar di Fakultas Sastra Inggris Universitas Sorbonne, sedangkan Dimas sudah berganti-ganti pekerjaan beberapa kali. Kemudian Dimas bersedia bekerja di Kementerian Pertanian karena melihat sikap Vivienne yang judes terhadap dirinya sebab kontribusi terhadap financial yang tidak tetap. Tetapi Dimas memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya tersebut karena ia merasa dunianya bukan di Kementerian Pertanian. Dunianya adalah menulis buku dan menerbitkan koran.
Baca Juga: Diskusi Diintimidasi, Aksi Direpresi: Apakah Kita Kembali ke Era Orde Baru?
Pada tahun 1982 Dimas, Nugroho, Risjaf, dan Tjai berhasil mendirikan restoran Indonesia di Paris. Restoran itu bernama “Tanah Air”. Pada awalnya saat dibukanya restoran ini ada pihak yang meminta “jatah” atas berdirinya Restoran Tanah Air. Selanjutnya, datanglah Sumarno ke restoran Tanah Air. Ia adalah orang yang dibenci oleh Dimas, Tjai, Nugroho, dan Risjaf, sebab Sumarno orang yang suka menunjuk mereka yang masuk kelompok kiri dalam semua organisasi kesenian di Indonesia, termasuk penangkapan Hananto Prawiro yang terjadi atas pemberitahuan Sumarno kepada tentara. Dalam kunjungannya ke Restoran Tanah Air, Sumarno dengan panjang lebar bercerita tentang bagaimana keadaan di Indonesia.
Sumarno bercerita tentang keadaan eks tapol yang dibebaskan dari pulau Buru—KTP-nya harus diberi tanda ET (eks tapol). Selain itu, keluarga dari para eks tapol juga harus merasakan kehidupan yang tidak mengenakan karena mereka tidak diterima kerja dimanapun tempat mereka melamar kerja,
Bab selanjutnya dalam novel Pulang karya Leila S. Chudori ini adalah Bab Lintang Utara. Semula dalam cerita ini dinarasikan oleh tokoh Dimas Suryo, tetapi dalam bab ini cerita lebih berfokus pada Lintang Utara.
Di awal bab ini dikisahkan bagaimana Lintang Utara kesusahan dalam mencari objek Tugas Akhir kuliahnya. Kemudian dosennya memberikan saran bahwa sebaiknya meneliti tentang aktivis Indonesia yang diculik. Lintang Utara yang merasa asing dengan Indonesia merasa bimbang apakah ia harus menerima tawaran dari dosennya tersebut. Walaupun ada darah Indonesia yang mengalir di dalam tubuhnya ia seumur hidup belum pernah menginjakkan kakinya di Indonesia.
Sebenarnya Lintang sering mendengar bunyi gamelan saat berada di Restoran Tanah Air milik dan juga mendengar kisah-kisah pewayangan dari ayahnya. Saat-saat seperti itulah Lintang merasa aliran darahnya lebih deras mengalir keseluruh tubuhnya. Tetapi ia tetap merasa tak mengenal separuh dirinya itu. Ditambah saat perceraian orang tuanya yang membuat ia harus perlahan menjauh dari hal-hal berbau Indonesia karena ia dan ayahnya harus berpisah.
Baca Juga: Kabur Aja Dulu Dituduh Tak Nasionalis? Realitanya Negara yang Seringnya Bikin Kecewa
Lintang sebenarnya merasa ada yang janggal dengan keluarganya ini. Ia merasa kehidupan keluarganya diselimuti rasa was-was. Ia membandingkan dirinya dengan teman-tamannya yang lain yang sama-sama hasil dari perkawinan campuran. Mereka semua pernah ke tanah air orang tuanya, sedangkan dia belum pernah dan bahkan tidak pernah bisa mengunjungi Indonesia bersama ayahnya (selama pemerintahan yang sama masih berkuasa). Ia semakin lama semakin penasaran perihal mengapa ayahnya tidak bisa pulang ke Indonesia dan mengapa ayahnya bersama teman-temannya masuk ke dalam daftar orang yang diburu.
Pada sub bab selanjutnya diceritakan Lintang mempunyai teman dekat seorang laki-laki yang sama-sama keturunan Prancis-Indonesia bernama Narayana Lafebvre. Orang tua Naraya dekat dengan staf KBRI sedangkan staf KBRI tidak pernah bersikap ramah kepada orang tua Lintang. Suatu hari Lintang diundang Nara untuk menghadiri acara perayaan Kartini di KBRI. Semula Lintang menolak ajakan Nara karena ia takut orang-orang di acara tersebut akan menghina ayahnya di depan matanya, namun pada akhirnya ia mau menerima ajakan tersebut.
Baca Juga: #PerempuHAM: Femisida dalam Tragedi 1965, Perempuan Bersuara Lewat Dialita Choir
Dalam acara tersebut pada Lintang awalnya mendapatkan sambutan yang baik dari para pemuda teman Nara, tetapi tidak dengan para generasi tua. Para lelaki sibuk membicarakannya dan juga ayahnya. Salah satu orang tua tersebut menyangkutpautkan kehadiran Lintang Utara pada acara Kartini tersebut dengan kebijakan “Bersih Lingkungan” yang ketika masa orde baru dijalankan. Aturan “Bersih Lingkungan” itu menjelaskan bahwa jika seseorang yang “dianggap PKI” akan dilarang menjadi. anggota Pegawai Negeri Sipil,anggota ABRI, menjadi anggota parpol termasuk anggota lembaga legislatif. Aturan ini pun tidak hanya berlaku ke satu individu saja, tetapi berlaku untuk turunannya dan keluarganya juga.
Jika ditelaah lebih jauh, peristiwa yang dialami oleh Lintang Sebenarnya tidak saling terhubung – diskriminasi antara orang yang memiliki kedekatan dengan paham kiri dan menghadiri acara kenegaraan sebagai tamu umum biasa. Akan tetapi stereotipe yang sudah terlanjur melekat karena orang tuanya Lintang yang dianggap golongan kiri serta adanya aturan “Bersih Lingkungan” yang diberikan pemerintah pusat terhadap masyarakat Indonesia golongan tertentu membuat Lintang harus merasa terkucilkan di dalam acara tersebut. Hal tersebut membuat Lintang merasa penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi.
Baca Juga: Penyangkalan Perkosaan Mei 1998, Bukti Negara Gagal Mengakui Luka Sejarah
Suatu ketika Lintang bercerita tentang penyebab terjadinya perceraian kepada Nara. Saat masih kecil ia tak sengaja menemukan tumpukan surat yang dikirimkan kepada, Dimas Suryo untuk Surti Anandari mantan kekasih ayahnya itu. Lintang yang saat itu masih kecil kalap memberikan surat tersebut kepada ibunya yang menyebabkan pertengkaran besar terjadi antara Dimas Suryo dan Vivienne. Tetapi, sebenarnya surat-surat dari Indonesia tidak hanya memberikan kemarahan kepada Lintang tetapi kesedihan, kelak ketika dewasa saat ia akan pergi ke Indonesia Lintang menemukan surat-surat berdarah yang dikirimkan oleh pamannya; Aji Suryo, Kenanga, Surti Anandari, dan sahabat ayahnya; Moh. Amir Jayadi. Surat-surat tersebut berisi tentang keadaan di Indonesia yang membuat bersedih. Lintang merasa harus benar-benar menguak rahasia sejarah yang justru oleh pemerintah Indonesia dikubur dalam-dalam.
Dalam bab selanjutnya, yaitu Bab Segara Alam diceritakan kedatangan Lintang Utara dan perjumpaannya dengan Segara Alam, anak Hananto Prawiro. Kedatangan Lintang bertepatan dengan keadaan Indonesia yang mulai memanas karena keputusan pemerintah menaikkan BBM dan protes para mahasiswa tentang praktik KKN dan reformasi. Pada akhirnya, setelah aksi demo besar-besaran yang dilakukan oleh mahasiswa presiden Soeharto yang telah menjabat selama 32 tahun dapat dilengserkan. Peristiwa lengsernya Soeharto ini disebut sebagai Reformasi 98. Lintang yang saat itu berada di Jakarta bisa melihat secara langsung bagaimana peristiwa Reformasi 98 terjadi dan membawa pengaruh besar terhadap Indonesia.
Surat dari Praha: Terkuaknya Cinta yang Tak Kunjung Usai di Balik Orde Baru
Film Surat dari Praha dimulai dengan Seorang perempuan bernama Larasati ya ditinggal mati oleh ibunya.
Dalam surat wasiat ibunya ia berpesan bahwa rumahnya akan menjadi miliknya tetapi ia harus memenuhi satu permintaan terakhirnya, yaitu memberikan suatu kotak kayu kepada seseorang di Praha.
Bukti telah dilaksanakan perintah tersebut adalah ada tanda tangan dari orang yang menerima kotak tersebut. Mau tidak mau Larasati harus pergi ke Praha.
Sesampainya di Praha kedatangannya disambut penolakan oleh orang yang seharusnya menerima kotak kayu tersebut, yaitu Pak Jaya. Ia tidak mau menandatangani surat yang dibawa Larasati. Larasati pun penasaran dengan sikap Pak Jaya karena menolak untuk menandatangani surat tersebut.
Pertengkaran demi pertengkaran terjadi hingga terkuak sebab Pak Jaya menolak menandatangani berkas yang dibawa Larasati. Kenyataan bahwa sebenarnya Pak Jaya adalah mantan pacar ibu Larasati, yaitu Sulastri, yang tidak kunjung kembali ke Indonesia untuk melamar. Bisa dibilang kisah cinta antara Pak Jaya dan Sulastri belum berakhir.
Dan penyebab Pak Jaya tidak kembali ke Indonesia adalah ia lebih ingin mempertahankan pendiriannya tentang Indonesia dengan menolak rezim orde baru yang membuat ia kehilangan kewarganegaraan.
Baca Juga: ‘I’m Still Here’ Perlawanan Perempuan Dalam Penghilangan Paksa: Film Internasional Terbaik Piala Oscar 2025
Tampaknya Pak Jaya seakan lebih mementingkan ego nasionalisnya daripada berjuang demi asmaranya, namun, sebenarnya Pak Jaya masih tetap terus mencintai Sulastri hingga ia memutuskan tidak menikah untuk selamanya karena baginya mencintai Sulastri dan menolak Rezim Soeharto adalah dua hal yang berbeda yang akan terus ia lakukan.
Kisah Pulang dan Surat Dari Praha : Menguak Tabir Menjalani Takdir sebagai Eksil Politik Indonesia
Seperti telah dijelaskan sebelumnya. Tema yang sama dari dua karya seni yang dalam tulisan ini adalah tentang warga negara Indonesia yang menjadi eksil politik Indonesia yang tidak bisa kembali ke Indonesia.
Dalam novel Pulang, penyebab Dimas Suryo, Nugroho, Tjai, dan Risjaf ke Perancis adalah dalam rangka menghadiri konferensi Wartawan Internasional. Sedangkan tokoh Pak Jaya dalam film Surat dari Praha mendatangi ibu kota Cekoslovakia, yakni Praha. Karena ia dikirim oleh pemerintah presiden Soekarno sebagai mahasiwa ikatan dinas (MAHID).
Dalam novel Pulang dikisahkan bagaimana seseorang yang sebenarnya tidak memiliki ideologi kiri bahkan cenderung netral diburu oleh pemerintah Indonesia zaman Orde Baru. Pasalnya, hidupnya dikenal dekat lingkungan yang dianggap berlawanan oleh pemerintahan. Adalah Dimas Suryo, bersama Nugroho, Tjai, dan Risjaf yang harus rela pasportnya dicabut karena mereka dianggap berlawanan dengan ideologi yang ada di pemerintahan saat itu padahal sebenarnya tidak.
Lain halnya dengan film Surat Dari Praha. Tokoh Pak Jaya memang mempunyai pendirian yang dapat menjatuhkan pemerintahan pada saat itu—menolak rezim Soeharto. Keputusan Pak Jaya berakibat sama dengan Dimas dan kawan-kawan dalam novel Pulang, yaitu pasportnya dicabut dan pada akhirnya ia stateless.
Lalu, perjalanan hidup mereka hampirlah sama, menderita di negeri orang. Bahkan kedua tokoh pada cerita yang berbeda ini, Dimas dan Pak Jaya digambarkan harus menerima kenyataan yang buruk. Yakni tidak bisa menghadiri pemakaman orang tuanya di Indonesia.
Baca Juga: 100 Tahun Pramoedya Ananta Toer, Mengingat Tulisannya Tentang Perempuan Revolusioner Sampai Pelarangan Buku
Selain itu, kenyataan bahwa ada gerakan “bersih lingkungan”, yang dalam implementasinya salah kaprah. Membuat tokoh-tokoh yang sedang terjebak masalah kewarganegaraannya ini harus selalu merasa tidak nyaman bersosialisasi dan menjalin komunikasi dengan orang Indonesia lainnya yang dianggap bersih.
Di dalam film Surat dari Praha gerakan “bersih lingkungan” terlihat dalam scene Pak Jaya yang bercerita kepada Larasati tentang keputusannya untuk tidak menghubungi Sulastri hingga 20 tahun lamanya. Ia takut jika menghubungi Sulastri maka akan terjadi apa-apa dengan perempuan yang ia sayangi itu di Indonesia. Sebab, ia dianggap memiliki hubungan dengan Pak Jaya.
Dalam novel Pulang kegiatan “bersih lingkungan” terlihat saat Lintang Utara, anak dari Dimas Suryo menghadiri acara di Kedutaan Besar Indonesia di Praha. Ia mendengar gunjingan tentang ia dan keluarganya saat berada di sana. Kedatangannya tidak diharapkan pada acara tersebut karena Ia keturunan dari Dimas Suryo seorang eksil politik.
Berbagai fakta di atas merupakan tanda bahwa pemerintah orde baru memang sangat waspada terhadap berbagai gerak-gerik yang secara langsung dan tidak langsung ingin menumbangkan kekuasaannya. Caranya termasuk tidak mengakui orang Indonesia yang sedang tidak di Indonesia sebagai warga Negara Indonesia yang dianggap memiliki pemikiran yang berlawanan dengan mereka yang mengakibatkan orang tersebut hidupnya susah.
Untuk bertahan hidup para eksil politik Indonesia harus memulainya dari bawah. Dimas Suryo dan kawan-kawan dalam novel Pulang harus rela kerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya di Paris. Sampai akhirnya mereka menemukan jalan untuk membuka bisnis restaurant Indonesia di Paris. Namun, bukan tanpa halangan bisnis mereka berjalan, adanya pungutan liar berusaha mematahkan semangat mereka. Tetapi mereka tetap terus mengembangkan bisnis mereka hingga menjadi besar.
Baca Juga: Ani Soetjipto: Pentingnya Perspektif Interseksionalitas dalam Politik Global
Lain halnya dengan Pak Jaya. Seorang Sarjana nuklir yang harus rela hanya menjadi tukang bersih-bersih gedung pertunjukkan hingga separuh masa hidupnya. Ia merasa apa yang dilakukan untuk menolak rezim Soeharto adalah keputusan yang tepat walau ia harus sengsara di negeri orang.
Surat juga merupakan benda penting bagi jalannya kedua cerita tersebut Pada zaman tersebut belum ada teknologi yang canggih. Maka, kedua cerita ini memakai surat sebagai alat komunikasi utama. Dalam novel Pulang banyak sekali surat dan telegram yang dikirimkan oleh adik dan istri temannya serta anaknya kepada Dimas Suryo untuk mengabarkan bagaimana keadaan di Indonesia pasca peristiwa G 30 S. Surat-surat itu tampaknya yang menggulirkan perasaan Dimas Suryo hingga tidak bisa begitu saja untuk sejenak melupakan kehidupan di Indonesia.
Lain halnya dengan film Surat dari Praha. Surat adalah inti dari permasalahan yang terjadi antara tokoh Mahdi Jaya dengan Sulastri. Saat Mahdi berkuliah di Praha adalah masa di mana orba mulai berkuasa. Ia memutuskan untuk tak mendukung Soeharto dan harus mendapat kenyataan bahwa ia dianggap kiri dan menjadi tahanan politik kelas C yang membuatnya tidak bisa memberi kabar kepada Sulastri maupun keluarganya lewat media apa pun. Hal ini membuat Sulastri terus menunggu kabar Jaya hingga akhirnya ia lelah menanti dan memutuskan menikah dengan orang lain.
Namun, setelah keadaan membaik 20 tahun kemudian Jaya mengirim surat kepada Sulastri secara terus menerus yang tidak pernah dibalas. Sulastri hanya menyimpan suratnya. Kemudian Jaya menerima balasan surat tersebut belasan tahun kemudian lewat Larasati, anak Sulastri, saat Larasati mengunjungi Mahdi Jaya untuk memintanya menandatangani berkas syarat pengajuan hak waris Larasati.
Dalam akhir novel Pulang kita akan dihadirkan dengan perasaan Dimas Suryo yang pada akhirnya bisa “pulang” ke Indonesia walau dalam wujud sudah menjadi mayat. Kegigihannya selama bertahun-tahun mengurus visa namun selalu ditolak oleh pemerintah Indonesia terbayar di penghujung hidupnya.
Baca Juga: Wacana Soeharto Diberi Gelar Pahlawan Nasional, Aktivis: Tolak dan Adili Soeharto!
Akhirnya ia bisa tenang. Sebelum kepulangannya itu ia selalu merasa ada kehampaan yang mengisi relung hatinya meski ia sudah hidup tenang dan berkeluarga di Paris. Hal tersebut yang membuatnya tidak pernah putus asa dalam mengurus visa untuk pergi ke Indonesia. Selain perasaan Dimas, cerita novel Pulang juga menghadirkan perasaan Lintang Utara yang penasaran atas asal usul separuh dari jati dirinya yang berasal dari ayahnya, yaitu Indonesia.
Ia selalu bertanya mengapa ia tidak pernah berkunjung ke Negara kampung halaman ayahnya tersebut, sedangkan teman-teman sekolahnya yang keturunan campuran semua sudah pernah berkunjung ke Negara asalnya. Dan pada akhir kisah Pulang Lintang berhasil mengetahui bagaimana sebenarnya Indonesia dan apa yang membuat ayahnya selalu ingin pulang ke Indonesia.
Berbeda dengan Surat dari Praha yang menunjukkan romansa yang begitu kental. Akhir kisah yang ditunjukkan dalam film ini adalah bagaimana Pak Jaya dapat berbaikan dengan Larasati dan mau menerima dan memaafkan dirinya sendiri atas pilihannya meninggalkan Sulastri dan kehidupannya di Indonesia yang kemudian membuatnya ikhlas untuk kembali pulang ke Indonesia bersama Larasati.
Epilog
Dari kedua cerita, Pulang dan Surat dari Praha, eksil dimaknai sebagai sosok korban dari peristiwa pergantian rezim Soekarno dan Soeharto. Dimana sosok Dimas Suryo terpaksa meninggalkan Indonesia karena ia dianggap memiliki ideologi “kiri” padahal ia sama sekali tak menganut paham tersebut.
Lain halnya dengan tokoh Mahdi Jayasri dalam film Surat dari Praha, yang memang dengan sadar akan resiko yang ia terima bila menolak rezim Soeharto. Meski begitu keduanya harus mengalami perasaan yang sama, yaitu terasing dan terisolasi dengan Negara asalnya, Indonesia.
Selain itu, Adanya aksi “Bersih Lingkungan” dan juga pembahasan tentang surat yang dimunculkan dalam ke dua bentuk karya ini semakin menguatkan adanya situasi dan kondisi yang menggambarkan bahwa karya seni – mau tekstual atau visual, tetap berusaha memotret realita yang ada secara nyata. Kedua elemen tersebutlah yang menjadi penanda jika kehidupan eksil pada zaman itu tidaklah mudah.






