Film 'The Ugly Stepsisters' (sumber foto: IMDB)

‘The Ugly Stepsister’ Menghidupkan Kembali Dongeng Klasik yang Misoginis

The Ugly Stepsister mencoba memberi panggung pada tokoh yang selama ini dicap jahat. Namun, di balik upaya memberi perspektif baru, film ini justru mempertegas betapa kuatnya cengkraman dongeng misoginis bahwa tubuh perempuan adalah ladang pengorbanan.

Kita tumbuh besar bersama cerita Cinderella. Gaun biru, kereta labu, sepatu kaca, dan lengkap dengan ibu serta dua saudara tiri yang jahat. 

Tapi seiring bertambahnya usia, kita belajar bahwa setiap cerita punya dua sisi. The Ugly Stepsister memang tidak menawarkan dongeng baru, tapi untuk memberi tahu bahwa ia disebut jahat bukan karena memang terlahir begitu, melainkan karena dunia dan patriarki yang memaksanya menjadi demikian.

Dengan menjadikan “adik tiri buruk rupa” sebagai tokoh utama, penonton seolah diberi kesempatan memilih, apakah kini saatnya berpihak pada Elvira? Namun bagi saya, baik Elvira maupun Cinderella adalah dua tokoh yang masih terjebak dari narasi dongeng klasik misoginis yang memaksa perempuan bersaing demi validasi laki-laki. Dongeng-dongeng misoginis ini tidak perlu diperbaiki atau diberi sudut pandang baru, mereka seharusnya punah bersama zaman yang melahirkannya.

The Ugly Stepsister adalah film yang mengambil inspirasi dari dongeng klasik Cinderella versi Grimm Bersaudara dari Jerman, Jacob dan Wilhelm Grimm, yang pertama kali menerbitkan kumpulan cerita rakyat mereka pada tahun 1812 dalam buku Children’s and Household Tales (Kinder- und Hausmärchen). Kisahnya berjudul Aschenputtel.

Baca Juga: Stigma Perempuan Hingga ke Negeri Dongeng: Misogini dalam Kisah Klasik dan Legenda

Namun tak seperti versi Disney yang lebih manis dan ringan, dongeng-dongeng Grimm dikenal kelam, penuh kekerasan, dan sering kali berakhir dengan hukuman sadis. Dalam versi aslinya, saudara tiri Cinderella memotong jari kaki demi masuk ke sepatu kaca, dan matanya dipatuk burung sebagai hukuman. Ratu jahat di cerita Snow White dipaksa menari dalam sepatu besi panas sampai mati. Penyihir dalam Hansel dan Gretel dibakar dalam oven panas. Semua kekejaman ini diceritakan oleh keluarga-keluarga saat itu sebagai hal wajar, dan menjadi pengantar cerita anak-anak sebelum tidur.

Cerita Cinderella yang populer, termasuk yang dibuat oleh Disney, didasarkan pada dongeng tradisional yang telah ada sejak lama dan memiliki beberapa versi di berbagai negara. Versi paling awal diketahui berasal dari Tiongkok pada abad ke-9, dengan tokoh Ye Xian yang juga menghadapi ibu tiri kejam dan dibantu ikan ajaib. Versi lain ditulis oleh Charles Perrault di Prancis yang kemudian diadopsi Disney. Setiap versi mencerminkan nilai-nilai sosial zamannya, tetapi pola utamanya tetap sama, perempuan yang menderita, menunggu pertolongan, lalu diselamatkan oleh laki-laki berkuasa.

Kekejaman pada Tubuh Jadi Daya Tarik Film

Elvira (diperankan Lea Myren) mengalami transformasi tubuh yang ekstrem demi dipilih pangeran sebagai istri. Tubuhnya menjadi ladang pengorbanan, dan upayanya seakan digambarkan lebih keras daripada Agnes atau Cinderella (diperankan Thea Sofie Loch Næss) untuk datang ke pesta dansa. Kekejaman terhadap tubuh Elvira inilah yang justru menjadi inti dan daya tarik film ini. Terlihat jelas dari poster promosinya yang menampilkan Elvira sedang memegang parang, bersiap memotong kakinya sendiri. Bagi kamu yang tidak tahan dengan adegan sadis, berdarah, dan penyiksaan diri, disarankan untuk menonton dengan penuh pertimbangan.

Mutilasi tubuh, pematahan tulang hidung, darah, hingga muntahan cacing yang jadi bagian dari transformasi tubuh Elvira dalam The Ugly Stepsister bisa dibaca melalui lensa abjection menurut feminis postmodern Julia Kristeva dalam bukunya Powers of Horror. Kristeva menjelaskan abjection sebagai perasaan mual dan jijik ketika tubuh tak lagi utuh, busuk, atau mengeluarkan cairan. Rasa jijik ini dipengaruhi batas moral dan sosial tentang tubuh yang seharusnya.

Kristeva juga menyebut abjection sebagai sesuatu yang menjijikkan sekaligus memikat, kita ingin menolak, tapi juga tidak bisa berhenti melihat. Kekerasan terhadap tubuh perempuan menjadi daya tarik karena menciptakan ketegangan antara penolakan dan ketertarikan. Film ini menunjukkan, betapa budaya kita masih menempatkan tubuh perempuan sebagai objek pengorbanan yang bisa dikagumi sekaligus dilukai, dalam satu napas yang sama.

Baca Juga: Mendongeng Sampai Atur Screen Time Anak: Ini Tugas Orang Tua, Bukan Cuma Perempuan

Abjection, seperti yang dijelaskan Julia Kristeva, menjadi fondasi penting dalam memahami genre body horrortermasuk dalam film The Ugly Stepsister. Body horror menampilkan ketakutan yang muncul dari tubuh yang mengalami transformasi, kerusakan, atau pelepasan batas-batas normalnya. Sang stepsister tubuhnya dijadikan objek eksperimen, pengorbanan, bahkan lelucon demi mendekati versi “ideal” seperti Cinderella. Tapi semakin ia mengejar kesempurnaan, semakin tubuhnya lepas kendali. Kita sedang melihat fantasi misoginis bahwa perempuan yang tidak cantik atau tidak patuh harus dihukum oleh tubuhnya sendiri. Tubuh itu kemudian menjadi lahan rekreasi sadistik bagi penonton.

Yang Cinta Kalah dengan yang Cantik

Elvira mencintai pangeran bahkan sebelum mereka bertemu. Ia jatuh cinta lewat mimpi, sebuah cinta yang emosional, imajinatif, dan penuh harap, seperti banyak cinta perempuan lainnya yang diajarkan lewat dongeng. Demikian juga Elvira yang percaya dengan bentuk cinta seperti dari buku-buku yang ia baca.

Masyarakat telah membesarkan perempuan dengan nasihat jika kamu mencintai dengan tulus, menjadi baik, dan berharap sepenuh hati, maka pangeran akan datang. Cinta dipromosikan sebagai jalan keselamatan, tapi dunia tak pernah jujur bahwa cinta dari perempuan yang tidak cantik akan dibuang, ditertawakan, dan tidak dianggap. Elvira adalah produk dari dongeng itu, ia percaya padanya. Pangeran bahkan tak tahu Elvira ada. Dan untuk mendapatkan pangeran, cinta yang besar saja tak cukup, harus ada pengorbanan dan kompetisi. Dan semuanya itu tetap tidak menjamin balasan.

Elvira digambarkan sebagai sosok perempuan yang canggung, bingung, namun penuh semangat dalam usahanya untuk mendapatkan cinta pangeran. Karakternya yang kikuk, sangat sesuai untuk menggambarkan kebingungannya bahwa ia ternyata harus melewati serangkaian kekejaman yang menyakitkan. Ia adalah remaja pemalu yang layaknya sedang jatuh cinta, lalu terjebak dalam ilusi romansa tanpa memahami harga yang harus dibayar

Bagi Elvira, pangeran adalah cinta. Tapi bagi Cinderella, pangeran adalah jalan keluar dari kemiskinan, dari status yatim piatu yang bahkan tak bisa membiayai pemakaman ayahnya sendiri. Dan bagi ibu tiri mereka, Rebekka (diperankan Ane Dahl Torp), pangeran adalah harapan terakhir untuk bertahan hidup dalam tatanan sosial yang kejam terhadap perempuan kelas atas seperti mereka.

Baca Juga: Jadi Perempuan yang Diperjuangkan Atau Mencari Cinta? Saatnya Keluar dari Jebakan Stereotipe

Pada masa Grimm bersaudara menulis dongeng mereka, perempuan dari kelas atas dilarang bekerja karena dianggap merendahkan martabat. Mereka juga nyaris tidak punya hak atas warisan. Sementara pekerjaan kasar seperti buruh tani atau pabrik hanya bisa diakses oleh perempuan dari kelas bawah. Maka, sebagai janda bangsawan yang usianya menua, Rebekka sadar bahwa satu-satunya strategi bertahan adalah menikahkan anak perempuannya dengan lelaki kaya. Patriarki memaksa perempuan menjadi makhluk yang saling memangsa demi bertahan hidup.

Patriarki tidak hanya kejam pada perempuan, ia juga menyingkirkan laki-laki yang tak mampu tampil sebagai penyelamat. Dalam The Ugly Stepsister, Cinderella meninggalkan kekasihnya seorang penjaga kuda, lelaki miskin yang mencintainya sebelum ia jadi “putri.” Laki-laki yang tak bisa menyediakan materi dianggap gagal sebagai laki-laki oleh patriarki.

Dongeng Grimm adalah warisan sastra yang menyumbang pola pikir patriarki. Perempuan tidak punya cerita lain selain tampil sebagai putri, ibu, atau istri. Hidup dan nilainya ditentukan oleh laki-laki, kecantikan, dan pengorbanan. Maria Tatar, dalam bukunya The Hard Facts of the Grimms’ Fairy Tales, menyoroti bagaimana dongeng-dongeng ini merefleksikan dan mereproduksi norma-norma sosial pada abad ke-19, ketika Grimm bersaudara mengumpulkannya.

Dongeng bukan sekadar cerita untuk anak-anak; mereka adalah alat pendidikan moral dan sosial. Terutama nilai-nilai etika konvensional dengan mengutamakan kejujuran, ketaatan, ketekunan, kesabaran, dan kebajikan. Pada masa itu, perempuan martabatnya terkait erat dengan reputasi seksual dan domestik serta kepatuhan terhadap nilai-nilai konvensional tadi.

Grimm bersaudara dengan sadar atau tidak membakukan nilai-nilai itu dalam cerita-cerita mereka. Maka mempertahankan dongeng-dongeng misoginis tanpa kritik, apalagi meromantisasinya, adalah bentuk pelestarian sistem yang menindas.

(Editor: Luviana Ariyanti)

(sumber foto: IMDB)

Ika Ariyani

Kontributor Konde.co
Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

Creative Commons License

1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

Let's share!