Prima Gaida Journalita (40) tampak mengenakan celana hitam dan atas kemeja bermotif. Ia merias wajahnya dengan polesan tipis lipstik dan celak mata. Kakinya duduk menyamping di sebuah sofa panjang di sudut ruangan tempat kami bertemu di Kota Kupang beberapa waktu lalu.
Perempuan asal Nusa Tenggara Timur (NTT) itu akrab disapa Prima. Dia adalah seorang perempuan disabilitas fisik. Dalam kesehariannya, dia mengandalkan alat bantu tongkat kaki untuk bisa berjalan. Meski tubuhnya memiliki keterbatasan bergerak, namun tidak pada keberaniannya sebagai penyintas untuk bersuara.
Kepadaku, dia menceritakan pengalaman kekerasan berbasis gender yang dialaminya. Mulai dari kekerasan seksual oleh ayah kandungnya sejak kecil, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dari suami, hingga perundungan yang Ia dapatkan sebagai perempuan dengan disabilitas.
Prima tak enggan disebutkan nama lengkapnya. Meski dia meminta untuk menyamarkan nama-nama pihak yang terlibat dalam ceritanya. Keberaniannya dalam bersuara, Ia harapkan bisa jadi penguat sesama penyintas lainnya untuk bangkit dan berdaya.
Pengalamannya untuk keluar dari luka, ketakutan dan trauma, serta ketidakberdayaan, adalah proses panjang sampai Ia ada di titik sekarang ini. Ia kini aktif sebagai aktivis perempuan dan organisasi disabilitas di NTT. Dia seringkali mendampingi dan terlibat dalam aksi-aksi mendukung korban kekerasan seksual dan KDRT. Dalam berbagai kesempatan aksi, Ia seringkali tampil membacakan puisi karyanya: puisi-puisi yang lahir dari pengalamannya sebagai penyintas.
Baca Juga: Artis Perempuan dan Fandom Alami Pelecehan Seksual: Rebut Agensi, Perjuangkan Mereka
Pelecehan seksual pertama yang dialami Prima justru datang dari orang yang semestinya melindunginya, ayah kandung. Prima masih bersekolah di Taman Kanak-Kanak (TK). Waktu itu, kejadian terjadi di rumah lamanya di Dilli, Timur Timur (saat ini Timor Leste). Mamanya (ibu) seorang guru, PNS dan bapaknya seorang wiraswasta yang terbilang sukses.
Saat itu, ibunya mendapatkan beasiswa tugas belajar di Inggris dan ia sudah kelas dua sekolah dasar (SD), kira-kira delapan tahun usianya pada tahun 1992.
Di rumahnya, Kompleks BTN seperti biasa ada kamar tidur hanya dua, satu kamar mandi, ruang tamu dan dapur. Selanjutnya, orang tuanya mengembangkan rumah tersebut. Ada deret dua kamar tidur dekat ruang tamu, di mana ia menempati kamar depan, orangtua di kamar sebelah, selanjutnya kamar kakak-kakaknya.
Pada suatu malam ia tidur. Kebiasaannya tidur lampu kamar tidak dipadamkan karena takut. Tetapi malam itu, ia merasa gerah, panas, pengap dan gelap. Ia merasa sesak di dada. Ia kaget dan membuka mata, apa yang ada di atas tubuhnya.
Dalam kegelapan malam, ia melihat ayahnya di atas tubuhnya dan merasakan tubuh ayahnya seperti naik turun. Ia melihat ayahnya menggosok alat kelamin (penis) di kemaluannya (vagina).
Baca juga: Artis Perempuan Terkena Cyberbullying: Mental Kena dan Hampir Bunuh Diri
Setelah melakukan itu, ayahnya perlahan-lahan keluar dari kamarnya. Dalam ketakutan, sebagai seorang anak kecil, dirinya bertanya dalam hati sebenarnya apa yang terjadi dengan dirinya.
“Saya bertanya dalam hati. Ini apa? apakah saya bermimpi. Mau bilang shock, saya anak kecil. Saya sungguh tak mnegerti apa-apa,” ungkap Prima, dengan mata yang berkaca-kaca saat menceritan kepadaku, Jumat (22/8).
Air matanya tak terbendung mengalir ke pipi. Suaranya mulai tersendat dan pecahlah tangisnya.
Ia mengaku, benar-benar tidak mengerti apa yang dilakukan ayahnya saat itu. Setelah dewasa ia baru tahu itu yang namanya pelecehan seksual, kekerasan seksual. Yang diingatnya sejak saat itu, ada beberapa kali, kalau tidak salah empat kali ayahnya berbuat demikian sebelum ibunya kembali dari Inggris.
“Saya belum mengerti, kenapa begini,” lanjutnya.
Sejak saat itu, ia selalu ketakutan jika berada sendirian di kamar tidur. Caranya menghindari dari pelecehan yang dilakukan ayahnya, dia selalu berupaya untuk tidur dengan kakaknya di kamar lain.
Sikapnya itu mendapat respon dari kakak dan saudaranya kalau ia dianggap anak paling kecil, tidak berani dan penakut. “Kakak sering mengejek saya, masih kecil, penakut, Kamar sendiri ada lampu kamar juga takut,” katanya mengenang ucapan kakaknya.
Baca juga: Nina dan Anak-Anak Timor Leste yang Dicuri
Mereka terus mengejeknya karena dikira ia penakut, ingin manja. Padahal itu caranya menghindari ayahnya. Dia juga lebih memilih tidur paling larut atau suka menyelinap masuk untuk tidur di samping kiri kanan kakaknya.
Ia menyimpan semua kejadian buruk yang menakutkan itu seorang diri. Dia juga berusaha menjaga dirinya sendiri dan tidak berani bercerita kepada siapapun juga. Sebab kalaupun ia bercerita, pasti tidak akan ada orang percaya. Dia akan dianggap anak kecil yang mengarang cerita.
Sewaktu ibunya pulang sekolah dari luar negeri, ia sudah mulai menghindar dari laki-laki, ayahnya, pamannya. Biasa kalau ulang tahun dirinya dipangku, tetapi ia menghindar. Akhirnya ia dinilai oleh mereka sok dewasa.
Meski yang dilakukan ayahnya pelecehan seksual bukan perkosaan namun itu sangat membekas di hati dan ingatannya sehingga membuat ia trauma.
Seiring perjalanan waktu, ekonomi keluarganya semakin membaik. Ibunya menjadi instruktur dan menjadi agen buku pertama di Dilli. Karena ekonominya membaik ayah dan ibunya membeli mobil baru.
Saat itu, ia sudah kelas lima SD. Oleh ayahnya, mereka semua diwajibkan belajar menyetir mobil. Karena anak kecil, ia lalai dengan peristiwa pelecehan yang dilakukan ayahnya terhadap dirinya.
Baca juga: Tak Mengakui Ada Perkosaan Massal, Pernyataan Fadli Zon Memalukan Perempuan
Mereka berlatih menyetir di halaman sekolah STM. Rumah mereka berada di belakang kompleks sekolah tersebut. Lapangan yang dipakai untuk latihan dekat rumahnya sangat luas. Saat latihan ia dipangku ayahnya. Ibu, kakak-kakak dan pekerja rumah tangga (PRT), mereka berdiri di pinggir lapangan menyaksikan latihan tersebut sekalian menunggu sampai latihan selesai.
Saat mobilnya jauh dari pandangan ibu dan kakak-kakaknya, tangan ayahnya menggerayangi seluruh tubuhnya sampai payudara, vaginanya. Di usia anak, ia saat itu tak berdaya. Sejak saat itu, ia menolak mengikuti latihan menyetir mobil. Jadi ia hanya satu kali saja mengikuti latihan dan tidak pernah mau lagi meski berkali-kali dimarahin ayah dan ibunya.
Tidak maunya ia mengikuti latihan menyetir dianggap ia tidak mempunyai keinginan untuk meningkatkan ketrampilan dan kemampuan diri.
Waktu terus berjalan. Untuk menjaga dirinya dan menekan trauma, pelariannya adalah bermain dengan anjing. Karena dirinya muslim maka ketahuan memegang anjing tangannya akan dicuci.
Saat akan membersihkan tangannya yang memegang anjing, ayahnya memandikannya, dimana seluruh anggota tubuhnya akan dipegang ayahnya. Hal itu membuatnya kalau mandi harus menyikat kuku kaki, kuku tangan. Hingga saat ini kalau mandi semua kuku kaki, kuku tangan akan disikat sampai bersih, seperti kalau tidak bersih itu akan terjadi sesuatu.
“Kalau yang seperti ini mau cerita dengan siapa. Saya anak kecil, kalau cerita pasti dianggap omong kosong. Jadi semua hal ini dipendam sendiri sementara ngomong dengan anjing juga tidak boleh,” tuturnya sembari menambahkan karena ketertutupannya itu, sejak dulu ia tidak mempunyai teman.
Baca juga: Dear Fadli Zon, Perkosaan Massal Mei 1998 Itu Nyata, Kami Perempuan Muda Tolak Sejarah yang Misoginis
Ketika SMP payudaranya mulai tumbuh, setiap ada kesempatan berpapasan dengan ayahnya pasti ayahnya menyentuh payudaranya. Setiap kesempatan akan dipakainya untuk melakukan pelecehan terhadap dirinya. Saat ke toko membeli sepatu, mengukur sepatu atau membeli baju pasti dicari kesempatan untuk menyentuh bagian tubuhnya yang sensitif.
Memasuki SMA mereka sudah pindah ke Kupang. Di Kupang, mereka tinggal di rumah neneknya. Terkadang saat mandipun ayahnya mengintip. Makanya ia tidak nyaman berada di rumah dan lebih memilih berada di luar rumah.
Teman-teman pergaulannya juga kebanyakan laki-laki. “Dengan kondisi seperti itu berapa tahun saya berusaha untuk bagaimana menjaga diri saya sendiri?” tanyanya.
Saat di SMA ia belum mengalami menstruasi. Suatu saat ayahnya masuk kamar tidurnya dan menuduh kalau ia belum menstruasi karena hamil.
Di SMA itu juga ketahuan ayahnya selingkuh dan ia marah sekali. Ia mendampingi ibunya menangkap ayahnya selingkuh di salah satu tempat pekerja seks di Kota Kupang.
Sementara mendampingi ibunya, ia mengeluhkan perilaku ayahnya kepada ibunya. Ia menyampaikan ketidaknyamanannya terhadap ayahnya karena memperlakukannya pelecehan seksual saat ibunya masih sekolah di Inggris.
“Mama, beta tuh tidak nyaman dengan bapak”
“Kenapa?” tanya ibunya.
“Mama beta mau cerita. Beta rasa sesak sekali. Beta bukan anak nakal. Bapak tuh begini begini. Ya, beta kasih tahu dia punya kelakuan,” ungkapnya dengan dialek Kupang dan mata berkaca-kaca dan berlinang airmata.
Baca Juga: ‘Adik Perempuanku Diculik dan Disekap Di Gedung DPRD’: Kami Berjuang Melawan Teror
Respon ibunya justru menganggap dirinya ingin menghancurkan hubungan ibu dan ayahnya dan merusak rumah tangga mereka. “Kau ini mau menghancurkan rumah tangga bapak dan mama, kau buat ibu sakit kepala,” ucapnya meniru jawaban ibunya saat itu.
Entah jawaban ibunya untuk mengalihkan persoalan ia tidak paham terhadap hal itu. Sejak saat itu, ia tidak percaya kepada orang lain. Termasuk ibunya.
Meski ayahnya selingkuh, tetapi ibunya tidak mau menjelek-jelekan ayahnya. Sejak kecil ayah dan ibu, baginya sama saja. Mereka berdua itu seperti paman dengan keponakannya, sehingga ibu begitu percaya kepada ayahnya.
Ia pernah menanyakan kepada ibunya apakah ia anak dari ibu dan ayahnya, karena ia sendiri yang bentuk tubuh berbeda dari kakak-kakaknya. Ia kecil, hitam. Begitupun perlakuan dalam hal membeli barang, tas, baju, sepatu dan sepeda ialah yang paling terakhir.
“Mama, beta ini yang paling lain. Su pendek lai, hitam lai. Beta mama pung anak ko, bukan?. Karena dari kecil tuh mama perlakukan kakak-kakak tuh semuanya baik sekali. Iya. Tidak ada yang kayak beta. Mau dari barang kah, beta ini paling beda ini sudah kecil. Segala macam kalau pilih-pilih apa-apa mau pilih tas kah, mau pilih sepatu atau terakhir itu sepeda. Selalu beta yang terakhir. Entah mungkin karena beta anak kecil kah?” tanyanya kala itu.
Baca Juga: Pekerja Magang Di Kedubes Alami Pelecehan Seksual, Lapor Polisi Kasusnya Malah Dihentikan
Kejadian pelecehan seksual oleh ayahnya membuat ia tidak pernah mau dipeluk. Ia memang tidak nyaman dengan ayahnya. Tetapi ibunya selalu mendekatkan ia dengan ayahnya. Mungkin karena ia yang paling kecil dalam keluarga.
Ketidakpercayaannya kepada orang lain membuat perhatian dan energinya dihabiskan dengan aksi, menulis, membuat puisi diskusi dengan teman-temannya.
Berulang Dilecehkan dan Dipaksa Menikah
Saat SMA itu ia memberontak. Rumah menjadi tempat yang tidak aman dan nyaman baginya, sehingga ia baru pulang rumah sudah larut malam. Bahkan ia beberapa kali kabur dari rumah karena ketidaknyaman di rumah.
Ia akhirnya dikirim ayah ke Jawa masuk pesantren. Setelah kembali dari Jawa, pulang Kupang ia dipaksa menikah tahun 2009.
Setelah menikah ia pernah mendapatkan pelecehan seksual dari seorang petugas masjid, tahun 2022 lalu, saat ia mengantar anaknya ke sekolah di pesantren.
Sekitar Mei tahun 2024 lalu, ia juga mendapatkan pelecehan seksual dari seorang dosen. Ia melaporkan dosen itu ke seniornya dan setelah itu ia memblokir semua kontak. Ia tidak mau berurusan lagi dengan orang tersebut.
Semua kejadian pelecehan seksual yang dialaminya tidak pernah dilaporkannya ke polisi. Disimpannya sebagai alasan “urusan pribadi”.
“Seluruh pelaku tidak pernah saya laporkan, situasi subjektif, lingkungan dan masih ada rasa iba dan berpiki efek kedepannya,” ungkapnya.
Baca Juga: Minimnya Transportasi Publik Perkotaan, Perspektif Gender Cuma Jadi Impian
Ketertindasan dalam bentuk fisik verbal, psikis tidak saja dialami sebelum menikah sampai ia menikah juga ia mengalami kekerasan dalam rumah tangga, fisik, psikis serta penelantaran.
Saat berumah tangga ia sudah berkenalan dengan gerakan perempuan, mengetahui hak-haknya sebagai perempuan. Sehingga saat ia mendapatkan KDRT dari ia melawan dan minta cerai. Hanya saja waktu itu ayahnya masih hidup dan menegaskan kalau dalam keluarga besarnya tidak ada yang menikah perempuan bercerai. Saat itu ia juga sudah menjadi aktivis sehingga begitu mendapatkan kekerasan verbal ia melawan.
“Dalam pikiran saya dinikahkan waktu itu satu tahun sudah cerai. Saya minta cerai, papa bilang dalam keluarga besar kita tidak ada perempuan yang bercerai,” katanya.
Menjadi Disabilitas dan Korban KDRT
Puncaknya pada tahun 2020, ia mengalami kecelakaan motor tanggal 2 September. Di rumah sakit pingsan dua hari dan koma selama lima hari. Keluar dari rumah sakit, setelah di rumah saat ia ma ke toilet baru ketahuan ia mengalami keterbatasan fisik sebelah kiri secara total. Tubuh sebelah kanan mengalami stroke hemoragik (pecahnya pembuluh darah di otak).
“Saya kecelakaan tunggal terpelanting dan stroke hemoragik, ada sedikit pendarahan di otak kanan, yang mengakibatkan keterbatasan fisik bagian kiri,” ungkapnya.
Di rumah sekitar lima hari terjadi pertengkaran hebat setelah itu. Pemicunya, anak bungsunya sakit perut. Kepanikannya dianggap berlebihan. Ia akhirnya ditelantarkan di rumah. Pernah juga, suaminya meninggalkan dirinya di salah satu kamar kos kosong, kos-kosan ibunya yang berjarak 100 meter dari rumah mereka.
Hari-hari hidupnya setelah mengalami disabilitas fisik adalah penderitaan. Kekerasan fisik, psikis, verbal dan penelantaran dialaminya. Mantan suaminya tahu ia tidak bisa melawan karena keterbatasan fisik.
Di kamar kos itu ia tidak dinafkai dan dirinya ditelantarkan. Kalau suaminya datang hanya untuk menyita ponselnya, melihat siapa saja yang berkomunikasi dengan dirinya, setelah itu ia pergi.
Baca Juga: Kenapa Papan Informasi di Transportasi Umum Penting? Ini Aksesibel dan Inklusif
Terkadang ia datang hanya untuk melihat apakah dirinya masih hidup atau tidak. Selanjutnya ia pergi. Di kamar kost ia belajar ngesot, jongkok, duduk di kursi, belajar berdiri dan merayap di tembok. Hingga Ia akhirnya bisa kuat menopang dirinya dan bisa berdiri.
Suaminya tidak memberinya nafkah. Dia membeli sendiri ‘obat Cina’ untuk pengobatannya, pakai uang yang dikirim kakaknya. Karena ia tidak bisa mengambil uang di bank, Ia pun sering meminta tolong adik suaminya. Itu dilakukan dengan membuat kuasa pengambilan uang di bank. Itupun dilakukan tanpa sepengatahuan suaminya.
Selama enam bulan, dia belajar ngesot, pegang kursi, hingga pegang tembok. Hingga Ia bisa menyeimbangkan tubuhnya tanpa terjatuh.
Ia melakukan itu sampai ia kuat dan bisa berdiri, tanpa bantuan orang lain. Pernah dibantu sesekali terapis, namun karena Ia tak sanggup membayar terapisnya tidak mau datang lagi.
Di situasi itu, KDRT yang dilakukan suaminya pun terus berlanjut.
Baca Juga: City Car, Industri dan Kebijakan Pemerintah Bikin Udara Jakarta Buruk
Suaminya pernah suatu waktu melempar beras seberat 5 kg ke arahnya. Sementara Ia berada di atas kursi roda. Suaminya juga meludah ke dirinya, memukul kepalanya sampai berdarah. Sebelum kemudian memaki-maki dirinya.
Ia juga pernah dituduh suaminya berselingkuh dengan rekannya. Ceritanya Prima yang memiliki keterampilan mengedit foto, meski memiliki keterbatasan fisik, sedang berkumpul dengan beberapa fotografer yang datang ke rumahnya. Karena tak nyaman atas tuduhan itu, rekan fotografernya itu tidak mau datang lagi usai bertengkar dengan suaminya. Padahal, Prima mencari nafkah dari profesinya mengedit foto itu.
Bahkan dalam urusan kecil sehari-hari pun, suami Prima bisa saja memaki-makinya. Misalnya saat Prima tak sengaja kentut, suaminya menuduh dia menghinanya.
Ia sungguh sudah tidak tahan lagi. Karena ia sudah bisa berjalan menggunakan tongkat, ia pun keluar dari rumah itu dan menuju ke rumah orang tuanya. Setelah suaminya saat itu mengatainya sebagai perempuan jalang karena disabilitas yang Ia miliki.
“Hei, Ima (Prima). Perempuan cacat seperti Lu itu bisa apa? Lu itu hanya bisa jadi lonte,” katanya meniru Kembali makian mantan suaminya kepada dirinya saat itu sambil menangis.
Baca Juga: Di Sekolah PRT Aku Bisa Cerita Pelecehan Seksual yang Aku Alami
Kesedihan atas perkataan itu, membuatnya hingga saat ini, jika ia mendapatkan uang dari pekerjaanya ia sering berseru kepada Tuhan, Tuhan ini uang halal.
“Sampai ini detik, setiap kali beta (saya) terima uang, beta selalu bilang. Tuhan, ini halal, ya? Tidak semua perempuan jual diri, Tuhan. Tuhan, kasih beta (saya) rezeki ya,” ucapnya nelangsa.
Setelah pergi dari rumah yang kini menjadi mantan suaminya, Prima sempat tinggal beberapa waktu ke rumah orang tuanya. Saat itu, ayahnya ada di Jakarta. Dalam keseharian, Prima mengurus domestik rumah dengan keterbatasan fisiknya. Dia juga bekerja dengan berjualan di kantin sekolah.
Ia membeli termos es. Ia mengikat termos es menggunakan dasi dipikulnya termos es tersebut, sementara tas jeans dipakai menaruh dagangannya, ia pergi berjualan di madrasah. Hanya untuk mendapatkan uang Rp10.000 untuk membeli jajan bagi anaknya.
Dia harus tetap bekerja karena suaminya tidak mau tau kebutuhan anaknya. Sebab kalau suaminya memahami tanggung jawabnya sebagai ayah, mestinya karena ada motor ia bisa mengantar dirinya berjualan dengan motor. Tetapi itu tidak dilakukannya. Sehingga setiap hari ia harus berjalan kaki pulang pergi tempat berjualan.
Baca Juga: Edisi Care Work: Potret PRT di Kaltim, ‘Ning’ dan ‘Ita’ Tak Punya Pilihan
Saat Ia kembali ke rumah, suaminya hanya bermain game, tidur sepanjang hari dan tidak peduli. Jika ia karena lelah dan stres kemudian marah marah, suaminya menyebar teror dengan mengasah pisau, parang dan gurinda untuk menakut-nakutinya. Sehingga ia ketakutan dan secara psikologis terganggu.
“Kalau beli beras, harus ada minyak tanah. Kalau ada ikan harus ada minyak goreng. Uang dari mana untuk beli minyak tanah, minyak goreng, bumbu-bumbu. Saya mencarinya sendiri,” ungkapnya.
Saat suaminya mengantar anak pertamanya ke Surabaya, uang hasil usahanya Rp 25 juta yang dititipkan pada suaminya, dipakai bersenang-senang hingga ludes.
KDRT suaminya pernah ia laporkan ke polisi. Suaminya suka menggunakan anaknya sebagai tameng. Karena anaknya menangis merasa iba kasus tidak dilanjutkan. Sering mengalami KDRT, bertengkar terus-menerus ia sampai pada batasnya. Ia menggugat cerai suaminya.
Proses menggugat cerai juga melalui proses yang rumit. Ia mengatur strategi, keluar dari rumah, cari tempat tinggal sementara, daftar ke pengadilan agama, dan meminta LBH APIK mendampingi dirinya dalam proses mediasi, hingga putusan pengadilan.
“Semuanya sudah berakhir,” katanya.
Menyembuhkan Trauma dan Berani Bersuara
Prima tak mau berlarut-larut dalam kesedihan dan luka. Seiring waktu, dia memulai proses penyembuhan diri. Dia juga aktif berjejaring yang membantunya mendapatkan penguatan dan keberanian bersuara.
Untuk kekerasan seksual yang pelakunya ayahnya sendiri, dia memang tidak melaporkan ke polisi. Tapi dia lakukan dengan menjauh darinya, dia menyibukkan diri dengan membaca, menyalurkan ke organisasi.
Untuk pelaku pelecehan oleh penjaga rumah ibadah, akhirnya dia mendesakkan kesepakatan agar dia pulang kampung dan tidak boleh datang lagi ke kupang. Sedangkan untuk pelaku dosen, ia laporkan ke seniornya, seseorang yang ia percaya, blokir nomer kontaknya dan menjauh.
Menurut dia, sebenarnya setiap orang mempunyai pilihan di dalam kehidupan, dan semua pilihan punya konsekuensi yang mau tidak mau harus siap dihadapi.
“Dan puji Tuhan setiap keputusan yang saya ambil berimbas positif untuk saya. Saya mencari lingkungan lingkungan yang berdampak positif bagi saya, saya mencari orang-orang cerdas untuk berdiskusi tentang isu isu kemanusiaan di sekitar kita, saya membuat puisi, membuat tulisan dari situasi lingkungan saya,” katanya menuturkan bagimana ia bisa keluar dari keterpurukannya.
Baca juga: Dilarang Ikut Acara Hiburan sampai Dipaksa Berhijab: Maraknya Diskriminasi Ragam Seksual dan Identitas Gender
Sampai saat ini, Ia membuat tulisan tentang “inklusif belum tentu aksesibel’. Tulisan terakhirnya tentang “menguatkan cita cita proklamasi”. Selain itu, ia sering membuat puisi-puisi tentang kekerasan seksual, KDRT, tentang budaya, tentang situasi Indonesia.
Ia kini juga aktif menjadi pembina KOMPUTER (komunitas perempuan terdidik) Kota Kupang, Ketua JAKER (jaringan kebudayaan rakyat) Kota Kupang dan bergiat di salah satu organisasi disabilitas.
Dia berpesan kepada para penyintas, kekerasan seksual dan KDRT, yang bisa terjadi pada perempuan mana saja, umur berapapun, dalam kondisi ekonomi apapun, dimanapun, dan kapanpun, untuk berani bersuara. Di samping juga terus menguatkan diri dengan pulih dan berjejaring.
“Siapa kamu kedepannya ditentukan dari apa yang kamu putuskan sekarang, silahkan speak up dan lawan,” imbuhnya memberi semangat.
Dia juga memberi peringatan bahwa keluarga dan lingkungan korban untuk tidak membungkam suaranya atas nama baik. Mereka perlu terus sadar, bahwa korban harus menanggung trauma seumur hidup, terluka seumur hidup, tak percaya siapapun selain dirinya sendiri. Maka, berpihaklah pada korban.
Bagi perempuan korban KDRT, dia juga mengajak mereka, jika tidak bisa speak up, atur strategi, kumpul bukti dan uang, dan lawan, tinggalkan pelaku, stop memikirkan orang lain termasuk anak sendiri.
“Kamu berharga, kamu layak bahagia, dan satu pertanyaan saya, kapan kamu memikirkan, untuk mencintai dirimu sendiri?” pungkasnya.






