Sampah Bukber Ramadan: Seringkali Diabaikan, Padahal Dampaknya Gak Sepele

Bicara soal sampah itu tidak netral gender. Perempuan mendapat beban ganda dalam mengelola sampah, sekaligus paling rentan mengalami dampak buruknya.

Arina ada janji untuk bukber (buka bersama) bertemu dengan kedua sahabatnya, Rendy dan Jelita, di pusat kota. Sebuah tempat terbuka hijau yang terletak di dekat stasiun atau halte bus. Cukup berjalan kaki belasan menit. 

Ia menawarkan untuk pergi ke Taman Ismail Marzuki (TIM). Tempat yang adem, tapi tidak sepi-sepi amat. Setidaknya selalu ada aktivitas publik yang meramaikan suasana biar tidak garing. 

Di sepanjang jalan, Arina membeli beberapa jenis takjil, jajanan untuk buka puasa. Dia mendatangi tukang gorengan dan penjual dimsum yang menyodorkan makanan berkemasan plastik sekali pakai.  

Alhasil, di tangan kanan Arina ada bungkusan plastik berisi bakwan, tahu isi, dan tempe. Sementara tangan kirinya, ada dimsum mentai di wadah aluminium foil yang ia tenteng dengan plastik bening. 

Saat menunggu Rendy dan Jelita, sahabatnya, Arina juga membelikan air mineral plastik titipan Rendy. Dia pesan juga nasi dengan lauk ayam balado dan sayur singkong berwadah kertas sekali pakai.

Dari kejauhan dia melihat Rendi dan Jelita datang ke arahnya. Mereka sudah membawa tentengan plastik putih berisikan sekotak kertas berisi risoles. Tak membeli minuman plastik, Jelita membawa tumbler abu-abunya dari rumah.

Setelah mengobrol sekitar setengah jam, mereka akhirnya buka puasa saat azan maghrib  berkumandang. 

“Kita bukbernya yang ada aja dulu dari pedagang pinggir jalan. Nanti kalau masih lapar kita cari tempat makan buat makan yang lebih berat,” kata Arina sambil terkekeh saat ditemui Konde.co di TIM, Minggu (8/3). 

Baca Juga: Indonesia Darurat Sampah: Pemulung Terkubur Gunungan Sampah di Bantar Gebang

“Iya nih, sekali pakai semua lagi ini bungkusnya. Kayaknya biar simpel aja buat pedagangnya, kita tinggal buang ke tempat sampah,” imbuh Rendy yang mengaku tidak sempat membawa wadah sendiri. 

“Cuma tumbler yang ku bawa bikin tampak mending, hehe,” timpal Jelita. 

Makanan bukber Arina, Rendy, dan Jelita didominasi oleh bungkus sekali pakai. Dok: Nurul Nur Azizah/Konde.co

Tidak mau menambah sampah, mereka menghabiskan semua makanan yang dibelinya tanpa tersisa. “Biar yang dibuang sampah bungkusnya aja, bukan makanan (sisa),” kata Arina yang kemudian memasukkannya ke tempat sampah. 

Mengitari TIM, Konde.co melihat ada banyak kumpulan orang yang menikmati bukber serupa dengan Arina, Rendy, dan Jelita. Mereka kebanyakan duduk di selasar dan sudut-sudut gedung sambil menggelar makanan dan minuman dengan wadah plastik dan kertas sekali pakai. 

Baca Juga: Indonesia Darurat Sampah: Ironi Perempuan dalam Sengatan Bau Sampah

Tak sampai satu jam setelah Maghrib, tumpukan sampah itu sudah menggunung di tempat sampah berwarna hijau yang tersedia di sudut-sudut gedung. Tak hanya sampah-sampah bungkus makanan, tetapi juga ada sampah-sampah sisa makanan  (food loss and waste) yang tercecer di sekitar gunungan sampah itu. 

Tempat sampah yang dipenuhi sampah plastik dan kertas sekali pakai. Dok: Lidwina Nathania Sasmaya/Konde.co

Serupa, penelusuran Konde.co dalam momentum bukber di Masjid Istiqlal Jakarta Pusat pada Kamis (6/3) juga menemui hal yang sama. Banyak sampah-sampah bukber yang menggunakan bungkus wadah sekali pakai, baik dari plastik maupun kertas. 

Para jamaah yang mengikuti bukber bisa berkumpul di selasar masjid. Di sana mereka bisa ngabuburit dengan mendengarkan tausiah. 

Baca Juga: Eco Gender Gap Itu Nyata, ‘Ramah Lingkungan’ Bukan Cuma Tanggung Jawab Perempuan

Sejak pukul 5 sore, panitia sudah bersiaga dengan plastik-plastik merah dan putih yang berisikan nasi kotak. Tiap plastik itu bisa memuat sekitar 10 nasi kotak yang dibagikan ke para jamaah. Jika ditotal, jumlahnya bisa ratusan bahkan ribuan nasi kotak untuk tiap hari bukber. 

Di sisi pinggir ada berkardus-kardus air mineral plastik yang juga siap dibagi. Selain kardus lainnya yang berisi takjil beberapa butir kurma yang dibungkus plastik.  

Bungkusan plastik nasi kotak yang siap dibagikan ke jamaah untuk bukber di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat. Dok: Lidwina Nathania Sasmaya/Konde.co

Panitia menyediakan tempat sampah di sudut-sudut selasar. Bedanya, mereka juga bersedia untuk melakukan edukasi pemilihan sampah. Tak hanya secara lisan ke para jamaah, tetapi juga melalui banner berbentuk balok ‘Yuk, Pilah Sampah di Sini’

Kampanye ‘Yuk, Pilah Sampah di Sini’ yang ada di Masjid Istiqlal pada momentum bukber. Dok: Lidwina Nathania Sasmaya/Konde.co

Selepas buka puasa, para jamaah dibantu panitia mengumpulkan sampah-sampah bukber itu. Sebelum memasukkan ke tempat sampah, mereka memilah sesuai kategori sampah plastik dan sampah kertas bungkus nasi kotak. Sampah plastik ada di keranjang dan kertas nasi bungkus di trash bag berwarna hitam. 

Baca Juga: ‘Ecohorror’, Melihat Kualitas Film Horor yang Eksplorasi Masalah Lingkungan
Keranjang sampah plastik sekali pakai yang sudah dipilah di Masjid Istiqlal. Dok: Lidwina Nathania Sasmaya/Konde.co
Kantong-kantong trash bag yang berisi kardus kotak nasi di Masjid Istiqlal. Dok: Lidwina Nathania Sasmaya/Konde.co

Meski sudah ada pemilahan sampah-sampah bukber itu, Konde.co menemukan beberapa titik dekat halte pintu keluar Masjid Istiqlal di mana sampah sisa makanan dan bungkusnya dalam trash bag tergeletak begitu saja. Tak tampak petugas satu pun di sana yang bakal mengangkut sampah bukber itu. 

Baca Juga: Terganggu Dengan Baliho Pemilu Karena Rusak Lingkungan? Banyak Pohon Dipaku Dan Bikin Sampah
Kantong-kantong trash bag yang berisi kardus kotak nasi bukber di Masjid Istiqlal tergeletak di dekat halte bus. Dok: Lidwina Nathania Sasmaya/Konde.co

Sampah-sampah bukber yang ada di TIM dan Masjid Istiqlal adalah secuil dari potret situasi penumpukan sampah pada momentum Ramadan di Jakarta. Bagaimana sampah-sampah plastik dan kertas sekali pakai itu dihasilkan, beredar, dan dikumpulkan. 

Baca Juga: Voice of Baceprot Kampanye Stop Panas Jakarta dan Sayangi Bumi

Tak hanya sampah dalam bentuk bungkusnya, sampah-sampah sisa makanan juga banyak ditemukan meningkat. 

Di lingkup DKI Jakarta, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta mencatat timbunan sampah selama Ramadan mencapai 10-20% dibanding bulan biasa. Peningkatannya didominasi oleh sampah sekali pakai. Pola konsumsi yang meningkat berbanding lurus dengan volume sampah yang dihasilkan. 

Sedikit-sedikit, lama-lama menjadi bukit adalah pepatah yang menggambarkan bahwa sampah sisa makanan dan bungkusnya, yang kadangkala tak kita sadari, itu punya dampak yang tidak main-main.

Baca Juga: Gerakan Chipko Menginisiasi Perempuan Untuk Menyelamatkan Lingkungan di India

Titik Sasanti dari Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI) menjelaskan tentang fenomena peningkatan sampah pada momentum Ramadan ini. Menurutnya, pola ini seiring dengan meningkatnya konsumsi masyarakat. Hal ini tampak signifikan terlebih usai pandemi, ketika kebiasaan membeli makanan-minuman secara daring, dengan bungkus sekali pakai, semakin marak. 

Jika di hari biasa, konsumsi cukup pada apa yang dimasak di rumah, saat Ramadan justru sering “lapar mata” untuk membeli takjil dan makanan-minuman yang ramai dijajakan.

“Kayak balas dendam seharian gak makan gak minum, begitu mau buka (bukber) semuanya dibeli. Semuanya disiapkan,” ujar Titik kepada Konde.co, Rabu (5/3). 

Lebih parahnya lagi, jajanan dan makanan yang dibeli ini menggunakan wadah sekali pakai. Misalnya saja: kertas alas, kantong plastik, cup plastik, sedotan plastik, mika, styrofoam, dll. 

“Itu menyebabkan timbunan sampah plastiknya meningkat,” lanjutnya. 

Di satu sisi, sampah organik sisa-sisa makanan pun juga mengalami peningkatan di lingkup rumah tangga sampai industri. Jika tak diolah dengan baik, bahkan dicampuradukkan dengan sampah anorganik, situasi penumpukan sampah itu semakin buruk.  

Sadar tak sadar, kebiasaan mencampur sampah ini tak bisa disepelekan. Ditambah, ekosistem pengolahan sampah di Indonesia saat ini juga tak tertata. Yaitu sebatas kumpul, angkut, buang. Tanpa adanya proses pemilahan yang konsisten dari hulu ke hilir. 

Baca Juga: Edisi Khusus Feminisme: Ekofeminisme Perjuangkan Lingkungan Ramah Perempuan

Titik menekankan bahwa dampaknya bukan hanya merusak estetika karena penumpukan sampah-sampah yang bercampur di ruang publik. Namun, juga ada dampak ke kesehatan karena pencemaran limbah. 

“Secara kasatmata mengganggu estetika dan membuat tidak nyaman. Dari sisi kesehatan, apalagi sekarang dengan curah hujan tinggi, itu kan air lindi (air sampah) yang sudah tercemar oleh air kencing tikus, misalnya, mencemari air dan tanah menjadi sumber penyakit,” kata dia. 

“Inilah kenapa ketika musim hujan, pencemaran sampah juga bisa menyebabkan banyaknya penyakit diare, sakit perut, sakit kulit, dll.,” imbuhnya. 

Persoalan sampah ini, menurutnya, juga tidak netral gender. Di ranah sampah domestik, misalnya, mengolah makanan dan minuman sampai pengelolaan sampahnya selalu dikonstruksikan secara gender sebagai beban tanggung jawab perempuan. 

Saat ada pencemaran lingkungan karena sampah, perempuan juga yang paling rentan terdampak. Misalnya, domestikasi perempuan yang menyebabkan mereka harus lebih lama berada di rumah, air dan tanah yang tercemar berdampak paling parah ke perempuan. Sebab terpapar paling intens. 

Pun, semisal, sampah-sampah rumah tangga itu kemudian dibakar. Asap-asap yang membubung dengan kandungan yang memicu kanker (karsinogenik) itu juga paling banyak dihirup oleh para perempuan yang ada di rumah, tempat pembakaran dilakukan. Tak hanya di momentum pembakaran, tapi sisa-sisa asap yang menempel juga terhirup dan menyebabkan gangguan pernafasan. 

Baca juga: Edisi Kemerdekaan: 6 Perempuan Muda Marjinal Bergerak, Jauh Dari Hingar-Bingar (1)

Mikroplastik yang berbahaya pada kemasan sekali pakai plastik juga menjadi ancaman bagi kesehatan. Dia menjelaskan, “Karena kepraktisannya dan mengikuti perkembangan zaman (kemasan kekinian), mereka gak perlu bawa wadah. Tetapi dampaknya, namanya plastik kalau kena panas itu bahan-bahan beracunnya keluar,” kata dia. 

Selain perempuan, anak-anak, lansia, dan disabilitas, juga bisa jadi kelompok yang paling rentan. 

“Kalau bicara sampah itu seolah selalu tanggung jawab perempuan, karena konstruksi (patriarki) urusan domestik adalah urusan perempuan. Ini salah kaprah, sampah adalah tanggung jawab bersama,” ujar perempuan yang juga Direktur Program Yayasan Gita Pertiwi, lembaga swadaya masyarakat untuk isu pelestarian lingkungan dan keadilan gender itu. 

Bicara soal pengelolaan sampah, selama ini juga selalu identik dengan produk sampahnya. Tapi sering kali luput bahwa sebelum menjadi sampah di tempat sampah atau diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA), ia bisa dikelola. 

Inilah mengapa penting untuk memahami pengelolaan sampah dari hulu ke hilir. 

Sebagaimana UU No. 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah menyebutkan, pengelolaan sampah itu merupakan kegiatan sistematis, menyeluruh, dan berkesinambungan yang meliputi pengurangan dan penanganan sampah.  

Kaitannya dengan ini, pemerintah dan pemerintah daerah mempunyai tanggung jawab dalam mewujudkan hak masyarakat terhadap lingkungan hidup yang sehat sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 28H ayat (1) UUD 1945. 

Baca juga: Desa Tenggelam dan Hilang, Perempuan Setengah Mati Bayar Hutang: Akibat Banjir Rob

Selama ini yang dilakukan pemerintah, menurutnya, sebatas pada hilirnya, yaitu setelah menjadi sampah. Tapi di tingkat edukasi, perubahan perilaku, bagaimana penerapan pola hidup 3R (reduce, reuse, recycle) jarang dilakukan.  

“Baru kalau sudah jadi sampah, ramai-ramai bingung, ini gimana ini gimana. Padahal, kalau bicara penanganan sampah tidak hanya setelah jadi sampah, tetapi pemerintah juga harus punya komitmen terkait langkah strategis pengurangan (pemicu sampah),” jelas Titik. 

Sebagai upaya pencegahan sampah, Titik menggarisbawahi soal pentingnya kebijakan pengurangan sampah. Dalam konteks kemasan plastik sekali pakai, intervensi terhadap industri pembuatannya juga harus tegas dibatasi. 

Sebaliknya, penting untuk mendorong upaya-upaya yang lebih ramah lingkungan. Mulai dari kemasan daur ulang hingga unit mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang menerapkan sistem isi ulang (refill).

“Sekarang kan banyak toko-toko refill. UMKM-UMKM refill itu mesti diberi kemudahan-kemudahan, misalnya soal kebijakan, soal afirmasi anggaran dan sebagainya. Karena kan mereka juga mulai mengembangkan model atau budaya mengurangi sampah. Pembeli bisa datang bawa wadah,” terang dia. 

Tak kalah penting, edukasi di masyarakat pun harus digencarkan secara sistematis dan berkesinambungan. Misalnya, terintegrasi melalui kurikulum sekolah hingga pemberdayaan masyarakat. Upaya pengurangan sampah juga dibarengi dengan pemilahan sampah. 

Baca juga: Cerita Perempuan Terdampak Tambang Nikel: Sumber Penghidupan Hancur, Kesehatan Terancam

Sampah dipilah bukan hanya anorganik yang bisa didaur ulang menjadi barang bekas bernilai ekonomi. Tapi sampah organik pun juga tak bisa diabaikan. Bank sampah mempunyai peran penting dalam hal ini.

Selama ini Bank Sampah itu fokusnya hanya mengelola sampah anorganik yang bernilai ekonomi. Padahal menurutnya, kalau kita lihat timbunannya itu lebih banyak sampah organik dan sampah pangan (sisa). 

“Inilah yang perlu didorong: pemilahan sampah organik untuk dikelola meningkatkan produksi pangan, misalnya sampah organik dibuat kompos (tanaman), pakan ternak, magot (pakan ikan dan unggas). Akhirnya kan sirkuler ekonomi terbentuk,” katanya. 

Dalam upaya penanaman pembiasaan pengelolaan sampah, dia menekankan pentingnya melibatkan anak-anak muda sebagai generasi penerus. Tidak saja melalui pendidikan formal, tetapi juga nonformal seperti kampanye di media sosial.

“Anak-anak muda yang melek teknologi ini bisa menjadi juru kampanye tentang bagaimana gaya hidup berkelanjutan,” pungkasnya.   

Nurul Nur Azizah dan Lidwina Nathania Sasmaya

Redaktur Pelaksana Konde.co dan Pekerja Magang Konde.co
Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

Creative Commons License

1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

Let's share!