Ilustrasi mindfulness

Kamus Feminis: “Mindfulness” Bisa Jadi Kemewahan Bias Kelas Bagi Warga yang Hidup dalam Berita Buruk

Semua orang tentu ingin hidup dengan “mindfulness”. Tapi kemampuan untuk tenang dan berpaling sejenak dari kabar buruk adalah kemewahan bagi sebagian besar orang yang hidup dalam berita buruk tersebut.

Konde.co menyajikan kamus feminis sebulan sekali. Kamus feminis berisi kata-kata feminis agar lebih mudah dipahami pembaca.

Berita tentang bencana, krisis ekonomi, kekerasan, konflik politik, dan berbagai kebijakan yang memengaruhi kehidupan masyarakat seakan membanjiri kita. Belum selesai penanganan bencana ekologis di Sumatera, efek gempa bumi di Flores, Nusa Tenggara Timur juga lambat laun diabaikan oleh pemerintah pusat. Sementara itu, kebakaran hutan dan lahan terus membara di Kalimantan dan Sumatera hingga menyebabkan kabut asap dan kekeringan. Makin banyak pelajar keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG), bahan pangan pokok kian sulit ditemukan, dan berbagai berita buruk mondar-mandir di sekitar kita.

Di tengah semua itu, mungkin anjuran untuk tetap “mindful” terdengar menenangkan. Tarik napas, batasi konsumsi berita, berhenti doomscrolling. Pilih informasi yang masuk ke kepala, lalu ambil jarak jika semuanya terasa terlalu berat.

Terdengar oke? Secara personal, nasihat semacam itu mungkin tidak langsung bermasalah. Manusia memang memiliki kapasitas emosional yang terbatas. Terus-menerus mengonsumsi berita tentang penderitaan dapat melelahkan. Menjaga kesehatan mental, mengambil jeda dari media sosial, dan membatasi paparan informasi dapat menjadi bentuk perawatan diri yang penting. 

Baca Juga: Kamus Feminis: Kritik Choice Feminism, “Pilihan” Perempuan Bukan Hanya Konsekuensi Pribadi

Namun, persoalannya berubah ketika pengalaman tersebut dipresentasikan seolah-olah semua orang memiliki hubungan yang sama dengan hal yang disebut “berita buruk”. Di sinilah perspektif feminis menjadi penting. Sebab, feminisme tidak hanya bertanya apa yang dirasakan seseorang. Tetapi juga siapa yang memiliki ruang untuk merasakan sesuatu, yang harus menanggung konsekuensinya, dan struktur apa yang membuat pengalaman tersebut berbeda antara satu kelompok dengan kelompok lain.

Perdebatan ini muncul setelah selebritas Maudy Ayunda mengunggah vlog berjudul “Mindfulness in the Age of Bad News” pada 21 Agustus 2026. Dalam video tersebut, Maudy berbicara tentang rasa kewalahan menghadapi arus berita buruk, baik dari Indonesia maupun dunia. Ia pun membagikan beberapa cara personal untuk menjaga kesehatan mental di tengah derasnya informasi. Maudy juga menekankan bahwa tips tersebut merupakan pengalaman pribadinya, bukan nasihat dari seorang ahli. Kemudian, dia mengingatkan agar orang-orang tetap ter-update dengan situasi terkini.

Cuplikan vlog Maudy Ayunda tentang "mindfulness in the age of bad news" (sumber foto: tangkapan layar YouTube Maudy Ayunda)
Cuplikan vlog Maudy Ayunda tentang “mindfulness in the age of bad news” (sumber foto: tangkapan layar YouTube Maudy Ayunda)

Video tersebut kemudian menuai kritik. Pasalnya, ia dianggap kurang memperhitungkan kenyataan bahwa kemampuan untuk mengambil jarak dari berita merupakan privilese. 

Bagi sebagian orang, mereka boleh dan bisa memutus hubungan dari “kabar buruk” dengan berhenti membaca berita. Bagi sebagian lainnya, mereka hidup di dalam “berita buruk” itu. Mereka tak punya pilihan untuk “menjadi mindful” atas kondisi yang menimpa mereka. Sebab persoalannya bukan pada berita buruk, melainkan pada kekacauan sistemik yang seakan tak pernah usai.

Setelah dikritik, Maudy Ayunda mengklarifikasi pernyataannya pada 13 September 2026. Ia mengakui bahwa kemampuan untuk menjauh dari berita merupakan sebuah privilese. Juga, tidak semua orang mempunyai pilihan tersebut. Terutama ketika peristiwa yang diberitakan berdampak langsung terhadap kehidupan, keluarga, pekerjaan, atau komunitas mereka. Ia juga meminta maaf karena perspektif tersebut belum cukup ia refleksikan dalam video awalnya. 

Baca Juga: Kamus Feminis: Sebut Penguasa “ODGJ” Itu Menyamakan Penderitaan Disabilitas dengan Pemerintah Problematik

Klarifikasi tersebut penting dicatat. Namun, persoalan yang muncul dari perdebatan ini tetap relevan. Ia membuka pertanyaan yang lebih besar tentang kelas, gender, neoliberalisme, dan politik emosi. 

Sebab bukan hanya Maudy Ayunda yang sikap dan pernyataannya bisa tampak tidak sensitif terhadap situasi masyarakat. Setiap kali rakyat menyuarakan keresahan, tidak sedikit selebritas, pejabat, hingga influencer di media sosial mendaku mindfulness dan ketenangan diri sebagai solusinya. Lebih buruk lagi, kecemasan warga bahkan kadang dibalas dengan olok-olok yang tidak sensitif dan bias kelas dari figur publik. Dalihnya, agar masyarakat “lebih santai” dan “jangan serius-serius amat”.

Misalnya Uya Kuya, selebritas sekaligus anggota DPR-RI yang pada Agustus 2025 berbicara tentang bagaimana publik sebaiknya tidak terlalu terbawa narasi media sosial. Selain Uya, pada masa itu selebritas lainnya di kursi DPR seperti Eko Patrio dan Nafa Urbach juga disorot karena sikap dan pernyataan yang nirempati terhadap kritik rakyat atas rumor kenaikan tunjangan anggota DPR di tengah krisis ekonomi. Memang antara situasi saat itu dan sekarang tidak identik. Tetapi sama-sama memperlihatkan kecenderungan untuk menempatkan pengelolaan respons individu terhadap informasi sebagai persoalan penting.

Lantas, mengapa kemampuan untuk menjaga ketenangan diri dapat menjadi bentuk privilese?

Pertama-tama, kita perlu mengkaji arti sesungguhnya dari mindfulness. Jon Kabat-Zinn mengartikan mindfulness sebagai kesadaran dari waktu ke waktu. Tidak menghakimi apa yang ada di pikiran dan perasaan diri sendiri maupun orang lain. Jon Kabat-Zinn juga mengatakan bahwa mindfulness merupakan kemampuan untuk memberikan atensi.

Baca Juga: Kamus Feminis: Piala Dunia 2026 Juga Isu Feminis, Ada Maskulinitas Hegemonik dalam Sepak Bola

Namun, ada perbedaan besar antara membaca tentang krisis dan hidup di dalam krisis. Misalnya, bagi seseorang yang berada jauh dari wilayah bencana, banjir mungkin muncul sebagai video di linimasa. Ia dapat merasa sedih, marah, atau prihatin, lalu menutup aplikasi dan melanjutkan aktivitas. Bagi orang yang rumahnya terendam, banjir bukan informasi. Melainkan kehilangan tempat tinggal, dokumen, pekerjaan, akses terhadap sekolah, atau bahkan anggota keluarga. 

Berita mengenai kenaikan harga pangan bagi sebagian orang mungkin merupakan grafik inflasi dalam artikel ekonomi. Bagi perempuan yang bertanggung jawab atas kebutuhan rumah tangga, kenaikan harga dapat berarti mengurangi lauk, mengurangi porsi makanan, menunda membeli obat, atau memutar otak agar uang belanja bertahan sampai akhir bulan. 

Begitu pula dengan berita tentang PHK. Untuk sebagian orang, PHK adalah isu ekonomi yang dibicarakan dalam diskusi publik. Namun bagi pekerja yang mengalaminya, PHK berarti kehilangan pendapatan. Juga ketidakpastian tempat tinggal, utang, biaya pendidikan anak, dan kecemasan tentang masa depan.

Berita mengenai kekerasan seksual juga tidak pernah sekadar berita bagi penyintas. Berita mengenai penggusuran bukan sekadar berita bagi warga yang rumahnya terancam, dan berita mengenai kerusakan ekologis bukan sekadar berita bagi masyarakat yang menggantungkan kehidupan pada tanah, hutan, laut, atau sungai. 

Baca Juga: Kamus Feminis: Feminisme Postmodern, Melawan Narasi Seksis dan Bias Gender di Media

Karena itu, kita perlu membedakan paparan terhadap berita dengan paparan terhadap realitas sosial. Seseorang mungkin dapat mengurangi konsumsi berita, tetapi tidak selalu dapat mengurangi dampak dari realitas yang diberitakan. Perempuan yang mengalami kekerasan tidak bisa meredam “kata kunci” kekerasan. Buruh yang kehilangan pekerjaan tidak bisa memalingkan muka dari topik PHK. Petani yang gagal panen tidak dapat melakukan digital detox dari perubahan iklim. Pekerja rumah tangga tidak bisa mengaktifkan mode “jangan ganggu” terhadap beban kerja perawatan yang tidak dibayar.

Di titik ini, “berita buruk” menjadi kategori yang sangat politis. Hal yang bagi kelompok tertentu merupakan informasi, bagi kelompok lain adalah pengalaman hidup. Karena itu, persoalannya bukan soal kebergunaan mindfulness. Tentu saja semua orang butuh dan berhak menjadi mindful. Namun kenyataannya, hanya segelintir orang yang memiliki kondisi material untuk mempraktikkannya sebagai pilihan.

Untuk memahami mengapa gagasan semacam ini begitu populer, kita juga perlu melihat kebangkitan kembali Stoikisme dalam budaya self-help kontemporer. 

Penting untuk tidak menyamakan Stoikisme klasik dengan mindfulness modern. Stoikisme merupakan tradisi filsafat etika yang jauh lebih kompleks daripada sekadar nasihat untuk “tidak terlalu memikirkan hal-hal yang berada di luar kendali”. Namun, sejumlah gagasannya—terutama pengendalian diri, penerimaan terhadap keadaan yang tidak dapat dikontrol, dan penekanan pada bagaimana seseorang merespons peristiwa—telah mengalami penyederhanaan dalam budaya pengembangan diri kontemporer.

Baca Juga: Kamus Feminis: Ada Komodifikasi Tubuh Perempuan di Balik Iklan Media Sosial Hari ini

Prinsip “kendalikan apa yang bisa dikendalikan dan terima apa yang tidak bisa dikendalikan” bukan masalah. Namun, ia jadi persoalan ketika diterapkan tanpa pertanyaan terhadap relasi kuasa. Dalam konteks neoliberal, seseorang dapat didorong untuk terus mengoptimalkan respons internalnya terhadap keadaan eksternal. Ketika dunia kacau, kelola pikiran; ketika pekerjaan eksploitatif, kelola stres. Atau ketika kebijakan pemerintah merugikan, kelola kemarahan; ketika ketidakpastian ekonomi meningkat, tingkatkan resiliensi. Akhirnya, persoalan bukan lagi cara mengubah dunia yang menghasilkan penderitaan. Tetapi cara agar menjadi cukup kuat untuk menanggungnya. Ia menjadi tanggungan individu alih-alih koreksi terhadap sistem.

Kritik ini bukan sekadar dugaan. Kajian tentang corporate mindfulness menunjukkan betapa mindfulness kontemporer dapat mengalami proses individualisasi. Ketika tanggung jawab atas kesejahteraan dipindahkan kepada individu. Lalu ia diminta untuk mengatur keadaan internalnya sendiri di tengah kondisi ekonomi-politik yang tidak berubah. 

Dalam budaya wellness, Stoikisme dan mindfulness bahkan dapat bertemu dalam formula yang sangat mudah dijual. Misalnya, jangan biarkan dunia mengendalikan emosimu; fokus pada hal-hal yang dapat kamu kontrol. Jangan terlalu melekat pada hal-hal eksternal; jaga ketenangan; bangun pertahanan diri. 

Formula tersebut terdengar membebaskan. Tetapi dapat menjadi problematis ketika diterapkan kepada orang-orang yang justru membutuhkan perubahan pada kondisi eksternal. Bagi seseorang yang mengalami kekerasan, kemiskinan, eksploitasi kerja, atau diskriminasi, masalahnya bukan semata-mata bahwa ia memberikan terlalu banyak kuasa kepada keadaan eksternal. Masalahnya adalah keadaan eksternal tersebut memang memiliki kuasa atas hidupnya.

Baca Juga: Kamus Feminis: Feminisme Bukan Hanya Tentang Perempuan ‘Barat’, Tapi Juga Milik Perempuan Asia dan Afrika

Feminisme memberikan kritik yang lebih mendalam terhadap ideal Stoik yang populer dalam budaya kontemporer. Yakni gagasan tentang subjek yang rasional, mampu mengendalikan dirinya, tidak mudah diguncang oleh keadaan, dan tidak membiarkan emosi menentukan tindakannya. 

Dalam sejarah pemikiran Barat, ideal rasionalitas semacam ini tidak pernah sepenuhnya netral secara gender. Kajian tentang perempuan dan etika Stoik menunjukkan bahwa Stoikisme klasik memang memiliki potensi egalitarian karena mengakui kemampuan rasional perempuan dan laki-laki. Tetapi tradisi tersebut juga secara historis dibingkai melalui oposisi antara rasionalitas dan “passion”. Dengan rasionalitas dan pengendalian diri kerap dikodekan sebagai sifat maskulin.

Kritik feminis kontemporer bahkan mempertanyakan asumsi epistemologis Stoik tentang kemampuan mengetahui secara objektif dan terlepas dari posisi sosial. Chelsea Bowden, misalnya, berargumen bahwa penekanan Stoik terhadap keterpisahan antara pengetahuan dan posisi gender bertegangan dengan epistemologi feminis yang justru menekankan situated knowledge dan standpoint theory. Pengetahuan tidak selalu lahir dari posisi netral, tetapi dari tubuh, pengalaman, dan posisi sosial tertentu.

Ini penting untuk konteks “berita buruk”. Jika kita membayangkan manusia ideal sebagai subjek yang dapat mengambil jarak secara rasional dari peristiwa dan mengontrol respons emosionalnya, kita berisiko mengabaikan bahwa tidak semua orang berdiri pada jarak yang sama dari sebuah peristiwa. Seorang perempuan yang mengalami kekerasan tidak berada pada posisi epistemik yang sama dengan orang yang membaca berita kekerasan tersebut dari rumah yang aman. Seorang buruh yang kehilangan pekerjaan tidak memiliki jarak yang sama terhadap berita PHK dengan orang yang memiliki tabungan dan pekerjaan stabil. Masyarakat yang hidup di wilayah terdampak bencana tidak mempunyai hubungan yang sama dengan berita bencana seperti penonton yang menyaksikannya melalui layar.

Dengan kata lain, feminisme menolak gagasan bahwa respons emosional dapat dipisahkan begitu saja dari posisi sosial seseorang. Ketakutan, kemarahan, kesedihan, atau kecemasan tidak selalu merupakan gangguan terhadap penalaran. Dalam situasi tertentu, emosi justru merupakan pengetahuan tentang kerentanan dan ketidakadilan yang sedang dialami tubuh.

Baca Juga: Kamus Feminis: Operasi Plastik dan Patriarki yang Membuat Otonomi Tubuh Jadi Bersyarat

Kritik tersebut menjadi lebih penting ketika ditempatkan dalam pengalaman perempuan. Perempuan secara historis telah dibebani tuntutan untuk melakukan kerja emosional. Menenangkan anak, merawat pasangan, menjaga keharmonisan keluarga, mendengarkan orang lain. Bahkan mengendalikan konflik, dan tetap berfungsi meski dirinya sendiri mengalami tekanan. Karena itu, tuntutan agar perempuan terus menjadi subjek yang tenang, rasional, resilien, dan mampu mengelola emosinya dengan baik dapat menjadi bentuk tambahan dari kerja yang tidak terlihat.

Dalam masyarakat patriarkal, perempuan sering kali tidak hanya diminta melakukan pekerjaan fisik. Tetapi juga mengatur atmosfer emosional di sekitarnya. Ketika muncul konflik, perempuan diharapkan menjadi pihak yang menenangkan. Saat keluarga mengalami krisis, perempuan sering diasumsikan sebagai pengelola dampaknya. Ketika anak mengalami masalah, ibu dituntut hadir. Ketika pasangan mengalami kesulitan, perempuan diharapkan memberikan dukungan emosional. Bahkan ketika perempuan sendiri mengalami kekerasan, ia dapat dituntut untuk meresponsnya dengan cara yang dianggap “baik”, “tenang”, dan “rasional”.

Karena itu, “perempuan stoik” ideal yang mampu menanggung semuanya tanpa terlihat terguncang bukanlah pembebasan. Dalam kondisi tertentu, ia justru dapat memperpanjang logika patriarki. Seakan-akan perempuan harus cukup kuat untuk menanggung struktur yang tidak cukup adil untuk melindunginya.

Kajian Olúfẹ́mi O. Táíwò mengenai Stoikisme sebagai “emotional compression” juga relevan. Ia menunjukkan bagaimana norma pengendalian dan pembatasan ekspresi emosi dapat menjadi bentuk emotional labor yang dikodekan secara maskulin. Sekaligus menekankan bahwa persoalannya tidak sesederhana menolak seluruh bentuk pengendalian emosi.

Baca Juga: Kamus Feminis: Interseksionalitas Ajarkan Membaca Ketidakadilan dari Gender, Kelas dan Relasi Kuasa

Dengan demikian, kritik feminis bukan ajakan untuk menjadi manusia yang dikuasai emosi. Persoalannya adalah siapa yang diberi hak untuk marah, siapa yang dipaksa tenang, dan siapa yang memiliki kuasa untuk menentukan emosi mana yang dianggap rasional.

Di sinilah budaya mindfulness dapat menjadi problematis ketika ia bertemu dengan politik gender. 

Kita mungkin pernah mengalami atau menyaksikan perempuan yang marah terhadap diskriminasi dianggap terlalu emosional. Atau perempuan yang bersuara keras dapat dianggap agresif. Perempuan yang memprotes kebijakan dapat dianggap tidak tahu diri. Dan perempuan yang menolak tuntutan sosial dapat dianggap terlalu sensitif.

Pernah mendengar kata-kata seperti ini saat kita sebagai perempuan marah dengan keadaan?

“Tenang dulu.” Atau, “Jangan terlalu emosional,” “Jangan baper,” dan, “Jangan terlalu negatif.”

Kalimat-kalimat ini tampak netral, tetapi tidak selalu memiliki dampak yang netral. Sara Ahmed menunjukkan bahwa emosi tidak hanya berada di dalam diri seseorang. Melainkan beredar melalui hubungan sosial dan melekat pada tubuh serta kelompok tertentu. Kemarahan dapat menjadi penanda bahwa suatu kelompok dianggap mengganggu kenyamanan kelompok lain. Dalam konteks tersebut, tuntutan agar seseorang “mengelola emosi” dapat menjadi cara untuk mengembalikan situasi kepada keadaan nyaman tanpa mengubah sumber ketidaknyamanannya.

Karena itu, pertanyaan feminisnya bukan sekadar, “Bagaimana agar kita tidak terlalu marah?” Tetapi mengapa orang yang mengalami ketidakadilan lebih sering diminta mengendalikan emosinya, daripada mereka yang menghasilkan kondisi ketidakadilan tersebut diminta mengubahnya?

Baca Juga: Kamus Feminis: Fatherless, Ketika Ayah ‘Absen’ dan Perempuan Memikul Beban Pengasuhannya

Ada perbedaan antara mengelola emosi agar kita tidak hancur dan mengelola emosi agar kita berhenti mempertanyakan keadaan. Yang pertama dapat menjadi bentuk perawatan diri. Yang kedua berpotensi menjadi depolitisasi.

Kritik ini menjadi semakin tajam ketika dibaca melalui konsep feminisme neoliberal. Dalam kritik terhadap feminisme neoliberal, keberhasilan perempuan semakin sering diukur melalui kapasitas individual untuk mencapai sesuatu. Pendidikan, karier, kemandirian ekonomi, produktivitas, kebahagiaan, dan keseimbangan hidup. Namun, hal itu terjadi tanpa secara memadai mempertanyakan struktur yang membuat keberhasilan tersebut tidak tersedia secara setara.

Perempuan kemudian dibayangkan sebagai subjek yang bebas memilih dan bertanggung jawab atas pilihan tersebut. Kalau lelah, self-care; stres, healing; pekerjaan terlalu berat, set boundaries. Lalu kalau berita terlalu buruk, mundur dulu; lingkungan terlalu toksik, lindungi ketenanganmu. Kalau dunia terlalu kacau, kendalikan responsmu.

Formula ini memiliki kemiripan dengan versi populer Stoikisme yang menempatkan kendali atas respons internal sebagai pusat ketahanan individu. Masalahnya bukan pada gagasan bahwa manusia memiliki kapasitas untuk memilih respons. Melainkan pada kecenderungan mengabaikan bahwa kapasitas memilih tersebut didistribusikan secara tidak merata oleh struktur sosial.

Seseorang yang memiliki keamanan ekonomi dapat lebih mudah mempraktikkan “fokus pada hal-hal yang dapat kamu kontrol”. Sebab ia memang memiliki lebih banyak hal yang dapat dikontrol. Sebaliknya, orang yang hidup dalam kemiskinan, kekerasan, diskriminasi, atau ketidakamanan kerja memiliki ruang kontrol yang jauh lebih sempit. Meminta keduanya menggunakan resep psikologis yang sama berarti menghapus perbedaan posisi material mereka.

Di sinilah self-care dapat berubah menjadi politik yang sangat individualistik. Individu diminta terus mengoptimalkan diri agar dapat bertahan di tengah kondisi yang tidak berubah. Kajian tentang wacana self-help bahkan menunjukkan bagaimana pengelolaan emosi dapat berfungsi sebagai bagian dari rezim emosional neoliberal. Ketika individu didorong menghindari emosi negatif dan bertanggung jawab secara personal atas kesejahteraan serta keberhasilannya.

Baca Juga: Kamus Feminis: Solidaritas Laki-Laki Sekutu, Menjadi Ally Jangan Hanya Performatif

Kemampuan untuk memilih kapan membaca berita, berita apa yang dibaca, berapa lama mengakses media sosial, dan kapan mengambil jeda merupakan bentuk kontrol atas waktu dan kehidupan. Kontrol semacam ini tidak tersebar secara merata. Seseorang yang memiliki pekerjaan aman, pendapatan relatif stabil, rumah yang layak, tabungan, akses kesehatan, jaringan sosial, dan kemampuan mengatur waktunya sendiri memiliki ruang lebih besar untuk berkata, “Aku tidak mau membaca berita hari ini.”

Sebaliknya, pekerja informal mungkin harus terus memantau berita tentang harga, pekerjaan, kebijakan, atau kondisi ekonomi karena semua itu menentukan pendapatannya. Petani tidak dapat mengambil jarak dari berita cuaca atau perubahan iklim ketika hasil panennya bergantung pada kondisi tersebut. Ibu tunggal tidak bisa begitu saja mengabaikan berita tentang harga pangan, layanan publik, pendidikan, atau kesehatan ketika keputusan-keputusan tersebut langsung memengaruhi keluarganya. Maka, kemampuan untuk “tidak peduli untuk sementara” bukan hanya pilihan psikologis, tetapi juga mempunyai basis material.

Dalam bahasa feminis, hal ini berkaitan dengan politik kerja reproduktif. Perempuan, terutama perempuan dari kelas pekerja, sering kali memiliki tanggung jawab yang membuat krisis sosial masuk langsung ke ruang domestik. Krisis ekonomi menjadi persoalan makanan di meja makan, krisis kesehatan menjadi pekerjaan merawat anggota keluarga, krisis lingkungan menjadi persoalan air bersih, krisis transportasi menjadi waktu kerja yang hilang, dan krisis pengasuhan menjadi pertanyaan siapa yang harus berhenti bekerja untuk menjaga anak. Krisis publik, dengan demikian, tidak pernah benar-benar berada “di luar”. Ia masuk ke rumah, tubuh, waktu, dan kerja perempuan.

Kemampuan untuk mengatakan “berita buruk terlalu melelahkan, jadi saya memilih tidak mengikutinya” karena itu perlu dibaca berdasarkan posisi sosial seseorang. Kritik ini bukan tuntutan agar setiap orang terus-menerus mengonsumsi berita sampai mengalami burnout. Justru kita perlu mengakui pentingnya mengambil jeda. Yang perlu dipertanyakan adalah ketika pengalaman seseorang yang memiliki ruang untuk mengelola kecemasan dipresentasikan sebagai solusi universal bagi orang-orang yang tidak memiliki kondisi material yang sama.

Baca Juga: Kamus Feminis: Anarkisme dan Anarko-Feminisme (Tidak) Sama Dengan Kekacauan

Persoalan sensitivitas kelas juga terlihat dalam sejumlah kontroversi figur publik. Seperti pada Agustus 2025, misalnya. Uya Kuya dan Eko Patrio—keduanya selebritas yang duduk sebagai anggota DPR—menjadi sorotan setelah video mereka berjoget dalam rangkaian Sidang Tahunan MPR beredar di tengah kontroversi mengenai fasilitas dan tunjangan anggota DPR. Pemberitaan saat itu mencatat kritik publik yang mempertanyakan empati para anggota dewan terhadap kondisi masyarakat.

Meski para selebritas tersebut akhirnya meminta maaf dan DPR mengklarifikasi isu kenaikan tunjangan anggotanya, masalah utamanya tetap hadir. Perspektif feminis membantu kita melihat bahwa persoalan representasi publik tidak selesai pada intensi. Ada perbedaan antara intensi dan dampak. 

Seseorang mungkin tidak berniat mengejek masyarakat, tetapi tindakannya tetap dapat dibaca sebagai tidak sensitif ketika dilakukan dalam situasi sosial tertentu. 

Hal yang sama berlaku dalam perdebatan mengenai mindfulness. Kita tidak perlu menyimpulkan bahwa seorang figur publik tidak peduli hanya dari satu pernyataan. Yang dapat dikritik adalah struktur pemikiran di balik pernyataan tersebut dan siapa yang diuntungkan oleh cara pandang tertentu.

Figur publik memiliki platform. Ketika pengalaman personal seseorang disebarkan kepada jutaan pengikut, pengalaman tersebut tidak lagi sepenuhnya personal. Ia menjadi wacana publik tentang bagaimana seharusnya orang menghadapi krisis. Kalimat “aku memilih menjauh dari berita buruk” dapat menjadi refleksi pribadi yang sah. Tetapi ketika disampaikan kepada publik, muncul pertanyaan tentang siapa yang dapat melakukan hal yang sama. Di sinilah sensitivitas kelas dibutuhkan.

Baca Juga: Kamus Feminis: ‘Her’story, Gugat Penyingkiran Perempuan dalam Sejarah Indonesia

Feminisme juga mengingatkan bahwa keberadaan perempuan atau figur dari kelompok tertentu di ruang publik tidak otomatis menghasilkan politik yang berpihak kepada kelompok rentan. Kita tidak dapat menganggap seseorang pasti memiliki perspektif progresif hanya karena ia perempuan. Demikian pula, menjadi figur publik dengan latar belakang tertentu tidak otomatis membuat seseorang memahami pengalaman semua kelompok yang lebih miskin atau lebih rentan.

Karena itu, feminisme interseksional penting. Gender tidak pernah berdiri sendiri. Pengalaman seseorang dibentuk sekaligus oleh kelas, ras, etnisitas, disabilitas, usia, wilayah, status kewarganegaraan, dan posisi sosial lainnya. Perempuan kelas menengah atas di kota besar dan perempuan pekerja di wilayah yang terdampak krisis ekologis sama-sama perempuan, tetapi tidak berarti mereka memiliki akses, risiko, atau kapasitas yang sama untuk menghadapi krisis.

Pertanyaan feminisme karenanya tidak berhenti pada “apakah perempuan sudah diberdayakan?” Tetapi bergerak lebih jauh: diberdayakan untuk apa, dengan sumber daya apa, dan dalam struktur sosial seperti apa? Inilah titik ketika kritik terhadap empowerment individual bertemu dengan kritik terhadap neoliberalisme. Jika perempuan hanya didorong agar lebih tangguh menghadapi struktur yang tidak adil, sementara struktur tersebut tidak disentuh, pemberdayaan dapat berubah menjadi tuntutan untuk beradaptasi.

Kritik terhadap nasihat mindfulness tidak perlu berubah menjadi tuntutan agar semua orang terus-menerus mengonsumsi berita sampai kelelahan. Semua orang capek dan kewalahan, termasuk mereka yang terdampak langsung oleh situasinya. 

Baca Juga: Kamus Feminis: Filsafat Perspektif Feminis, Ruang Pemikiran Bukan Hanya Milik ‘Abang-Abangan’

Kita semua berhak beristirahat, mematikan notifikasi, tidak membuka media sosial, tertawa, menonton film, berlibur, bermain dengan anak, tidur, atau melakukan apa pun yang membantu kita bertahan. Feminisme tidak seharusnya menuntut pengorbanan diri tanpa akhir. Justru feminisme telah lama mengkritik budaya yang membuat perempuan merasa harus terus memberi, merawat, dan mengorbankan dirinya untuk orang lain.

Yang perlu dikritik adalah ketika kerja perawatan dipisahkan dari struktur sosial dan kemudian dijadikan jawaban terhadap semua persoalan. Perawatan diri tidak boleh menggantikan perawatan sosial. Kita membutuhkan keduanya. Bukan hanya merawat diri, tetapi juga membangun sistem yang membuat orang tidak terus-menerus membutuhkan ketahanan luar biasa untuk bertahan hidup. Kita perlu menjaga kesehatan mental, tetapi juga mempertanyakan pekerjaan yang eksploitatif dan kebijakan yang diskriminatif. Juga kekerasan berbasis gender, ketimpangan ekonomi, kerusakan ekologis, dan berbagai struktur yang menghasilkan penderitaan.

Kita boleh berhenti membaca berita malam ini. Tetapi besok, pertanyaannya tetap ada. Siapa yang masih hidup di dalam berita tersebut? Sebab berita buruk bukan sekadar informasi yang masuk ke layar ponsel. Ia bisa menjadi alamat rumah, tubuh, pekerjaan, keluarga, dan masa depan seseorang. 

Sekali lagi: bagi sebagian orang, berita buruk adalah sesuatu yang bisa dilewati. Bagi sebagian lainnya, berita buruk adalah kehidupan sehari-hari.

Baca Juga: Kamus Feminis: Ekosida, Kejahatan Lingkungan Memusnahkan Perempuan dan Kelompok Rentan

Maka, mindfulness yang benar-benar kritis tidak seharusnya hanya mengajarkan kita bagaimana menjadi tenang ketika dunia sedang kacau. Ia harus membantu kita memahami mengapa sebagian dari kita memiliki kemampuan untuk merasa tenang sementara sebagian lainnya tidak. 

Dan kritik feminis terhadap Stoikisme versi self-help membawa pertanyaan ini lebih jauh. Apakah kita sedang belajar mengendalikan diri agar dapat bertindak secara lebih sadar? Atau sedang diajarkan untuk menerima keadaan yang seharusnya kita lawan?

Di situlah pertanyaan feminis menjadi penting. Bukan sekadar, “Bagaimana saya melindungi damai dalam diri saya?” Tetapi, “Siapa yang memungkinkan saya memiliki kedamaian tersebut? Dan siapa yang harus kehilangan kedamaiannya agar saya dapat menikmatinya?”

Sebab jika mindfulness hanya membuat mereka yang relatif aman semakin nyaman menghadapi penderitaan yang dialami orang lain, maka yang sedang dirawat bukan hanya kesehatan mental. Yang sedang dirawat bisa jadi adalah kenyamanan kelas yang memiliki cukup privilese untuk menganggap krisis sebagai sesuatu yang dapat ‘digulung’ begitu saja. Ibarat kabar buruk tentang pertaruhan nyawa masyarakat yang kebetulan hinggap di layar.

Salsabila Putri Pertiwi

Wakil Pemimpin Redaksi Konde.co
Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

Creative Commons License

1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

Let's share!