Jika kamu berpikir bahwa novel ‘The Little Prince (Pangeran Kecil)’ itu cerita untuk anak-anak, tidak salah juga. Tapi apa iya ceritanya tidak justru ‘menampar’ orang dewasa yang selama ini merasa dirinya lebih memahami dunia dibanding anak-anak?
Mari kita tanya sang Pangeran Kecil.
Alkisah, Pangeran Kecil menghampiri sosok orang dewasa, Sang Pilot, dan meminta gambar domba. Pikir Sang Pilot, permintaan itu tentu harus dipenuhi dengan gambar yang bagus dan indah. Ia pun menggambar domba yang diminta sang Pangeran Kecil. Gambar pertama gagal memenuhi ekspektasi laki-laki kecil berambut kuning itu. Upaya kedua juga sama.
Sang Pilot bingung. Setelah berpikir dengan lebih serius dan melepaskan beban bahwa seekor domba harus mirip dengan karya masterpiece seniman terbaik, ia menggambar dengan enggan sebuah kotak dengan tiga lingkaran kecil.
Pangeran Kecil melihatnya dengan mata berbinar: “This is exactly the way I wanted it (Ini persisnya yang aku inginkan).”
Baca Juga: Dari Novel Teenlit, Remaja Perempuan Temukan Ruang Aman Pencarian Jati Diri
Tidak hanya itu, pada bab sebelum pertemuan itu, Narator menceritakan pengalamannya saat berusia 6 tahun. Ia menggambar seekor boa yang menelan mangsa. Dengan gambar itu, Narator berharap bahwa orang-orang dewasa akan takut. Sebaliknya, orang dewasa malah tertawa dan mengatakan untuk apa takut pada gambar topi. Yang lebih ironis, orang dewasa justru memintanya untuk menekuni geografi dan aritmatika daripada menggambar.
Pertanyaan pun mengendap perlahan. Mengapa orang dewasa dan anak kecil seolah-olah bicara dengan bahasa yang berbeda? Mengapa orang dewasa kerapkali mendefinisikan anak-anak dalam kategori “tidak masuk akal”? Siapa yang berhak menentukan bahwa geografi dan aritmatika layak dipelajari sementara menggambar layak ditinggalkan?
Pertanyan-pertanyaan ini tidak hanya sekadar soal perbedaan genre. Ia bicara tentang relasi kuasa yang samar. Tentang bagaimana satu pihak memiliki otoritas untuk menentukan kategori dan menyingkirkan pihak lain ke pinggiran. Ini adalah ironi awal yang akan coba saya bongkar.
Dalam teks The Little Prince, ada lima citra orang dewasa yang paling mencolok dan eksplisit dinarasikan dibanding dengan beberapa tokoh orang dewasa lainnya. The King (Sang Raja), The Conceited Man (Si Sombong), The Tippler (Si Pemabuk), The Businessman (Si Pengusaha), dan The Geographer atau The Scholar (Sang Ilmuwan).
Lima planet dengan lima orang dewasa. Lima pula cara manusia kehilangan esensi manusianya.
Baca Juga: Bagaimana Kisah Siti Nurbaya Masih Relevan Hari Ini
Tokoh-tokoh itu digambarkan sebagai pribadi obsesif. Haus kekuasaan, haus validasi, haus angka. Mereka kehilangan relasi dengan realitas dan koneksi dengan orang. Sang Raja terputus dari realitas karena menganggap bahwa berkuasa adalah segalanya. Si Sombong kehilangan hubungan dengan orang lain karena ia hanya melihat dirinya sendiri. Lalu Si Pemabuk melarikan diri dari rasa malunya dengan mempermalukan diri. Si Pengusaha kehilangan makna memiliki karena tak pernah benar-benar memiliki apa yang ia klaim. Sang Geografer kehilangan rasa takjub karena ilmunya membeku dalam kategori-kategori yang mati.
Kontras dengan Pangeran Kecil, seorang anak yang berasal dari planet tak lebih besar dari rumah. Rutinitasnya sederhana namun esensial: bersahabat dengan rubah dan menjadi kekasih yang merawat untuk mawarnya. Relasinya dengan rubah memberinya tanggung jawab sebagai seorang teman. Hubungannya dengan mawar memberinya ruang untuk merawat tanggung jawab.
Lima tokoh dewasa dalam The Little Prince mungkin tampak karikatural dan menarik. Namun bila diamati lebih dekat penggambaran tokoh-tokoh tersebut justru menampakkan cerminan cara kerja relasi kuasa antara anak-dewasa. Perry Nodelman, dalam The Hidden Adult, mengatakan bahwa sastra anak tidak pernah lahir dari anak-anak. Ia tercipta dari gagasan orang dewasa tentang apa yang seharusnya diinginkan anak. Pangeran Kecil yang bijaksana, mengkritik orang dewasa yang absurd, tetaplah ditulis dari sudut pandang 2 orang dewasa: Narator dan penulisnya sendiri.
Nodelman, dalam Progressive Utopia—analisisnya tentang novel-novel klasik anak perempuan—menemukan pola yang sama. Anne Shirley (tokoh utama Anne of Green Gables) dan Pollyana (tokoh utama Pollyana), misalnya, adalah dua anak perempuan yang berapi-api, imajinatif, gigih, cerdas, dan cerewet. Keduanya lahir yatim. Seolah-olah mereka lahir dengan karakter alami dan memiliki kemampuan untuk mengubah sudut pandang orang dewasa lewat sikap-sikap cerdas mereka.
Baca Juga: Belajar dari Nyai Ontosoroh yang Melawan Patriarki dan Rasisme di Masa Kolonial
Pangeran Kecil adalah versi laki-laki dari pola ini. Ia datang kepada orang-orang dewasa untuk mengajar. Ia tidak berubah, tetap setia pada mawarnya, tetap polos, dan bijaksana hingga akhir. Yang berubah adalah narrator. Melalui sekuen-sekuen pertemuannya dengan Pangeran Kecil, Narator belajar kembali tentang yang esensial dalam hidupnya. Dalam beberapa hal, inilah mimpi terbesar orang-orang dewasa: bahwa anak-anak menjadi guru tanpa melalui proses menjadi dewasa. Hadir sebagai figur bijaksana yang siap pakai tanpa melalui fase-fase pencarian jati diri yang melelahkan.
Paradoksnya ketika orang dewasa menciptakan tokoh dewasa yang ideal, mereka sebenarnya tengah bicara tentang diri mereka sendiri. Kegelisahan orang dewasa pada apa yang dihadapinya saat ini. Nodelman menyebutnya sebagai The Hidden Adult, situasi yang menjelaskan bahwa sastra anak adalah kesadaran orang dewasa yang membuat sifat kekanak-kanakannya jadi lebih bermakna dan dapat dipahami (comprehendible). Pangeran Kecil yang polos dan bijaksana itu adalah suara orang dewasa. Ada nostalgia pada hal-hal yang esensi sekaligus kerinduan pada kesederhanaan yang mungkin tak pernah ada.
Nodelman meminjam gagasan Edward Said tentang kolonialisme dalam mendefinisikan hubungan orang dewasa dengan anak-anak. Dalam The Other, ia mengatakan bahwa sastra anak adalah sebuah institusi penjajahan. Sebuah proyek legal orang dewasa yang mengurus anak dengan cara mendefinisikan, menggambarkan, mengatur, dan akhirnya menguasai mereka.
Anak ditempatkan sebagai pihak yang tidak bisa bicara untuk diri mereka sendiri. Dalam konteks ini Pangeran Kecil menjadi sebuah produk konstruksi identitas.
Baca Juga: Lewat The Handmaid’s Tale, Kita Membaca Indonesia dan Tubuh Perempuan di Bawah Kuasa Negara
Salah satu mekanisme paling halus dalam kolonialisasi ini adalah cara sastra anak mendefinisikan pengetahuan anak. Nodelman dalam The Hidden Adult memaparkan soal itu. “Adult knowledge is knowledge. Being represented as the opposite of adult knowledge, childlike or animal wisdom, can only be understood as a lack; a deficiency—a state of bliss defined by what is absent from it.”
Ketika kita menyetujui kebijaksanaan anak adalah sesuatu yang murni dan intuitif, maka secara tidak langsung kita mengabsenkan kompleksnya pengalaman-pengalaman orang dewasa. Dengan kata lain, secara halus kita justru menegaskan bahwa anak adalah subjek yang tidak pernah utuh.
Pangeran Kecil adalah personifikasi sempurna dari ironi bahwa orang dewasa menginginkan anak-anak tumbuh seperti tokoh ini. Tetapi di sisi lain, orang dewasa mengabaikan karakteristik alamiah anak-anak yang chaos dan tidak masuk akal seperti Raja dan Si Pemabuk.
Saat pertama kita menikmati novela The Little Prince, sudut pandang Pangeran Kecil tampak sederhana dan apa adanya. Pangeran Kecil melihat keanehan dan absurditas pada perilaku orang-orang dewasa. Tetapi, yang perlahan kita abaikan adalah sudut pandang Narator. Perjalanan Pangeran Kecil dari planet ke planet adalah narasi yang dikisahkan oleh Narator pada pembaca. Nodelman menyebut hal ini sebagai shadow text atau narasi bayangan: the text tends to offer two different point of view, one childlike and one adult… n being different and often opposite, the two points of view imply a conflict between childlike and adult perceptions and values.” (Nodelman, The Hidden Adult, hl. 77).
Lantas, apa yang dicari orang dewasa lewat sastra anak?
Baca Juga: ‘Madilog’ Tan Malaka Ajak Kita Mempertemukan Mitos dan Logika Secara Kritis
Sastra anak adalah utopia bagi orang dewasa. Memberi ruang bagi orang dewasa untuk membayangkan dunia di masa kepolosan masih berharga dan kebaikan selalu menang. Atau mungkin orang dewasa merasa dapat kembali pada masa-masa kecil yang tak pernah benar-benar mereka alami. Pangeran Kecil, Rubah, dan planet kecilnya adalah pintu masuk segala utopia tersebut.
Apa yang dapat kita pelajari dari realitas ini? Bahwa konstruksi identitas tentang siapa anak dan siapa dewasa, siapa yang rasional dan siapa yang emosional bukanlah hal yang alamiah dan statis. Bahasa tak pernah netral dan ia selalu berpihak pada kekuasaan yang dominan. Kategori-kategori tersebut dapat dibongkar dan diisi ulang dengan makna baru. Nodelman sendiri menegaskan pertanyaan reflektif tentang sastra anak ini dalam The Other:
“What claims do specific texts make on the children who read them?”
“How do they represent childhood for children and why might they be representing it in that way?”
“What interest of adults might the representation be serving?”
“How does it work? How does children literature make its claims on child readers?”
Mungkin tugas kita bukan lagi bertanya tentang anak seperti apa yang ideal? Namun lebih tentang bagaimana kita dapat menciptakan ruang yang cukup aman bagi anak-anak untuk mendefinisikan diri mereka sendiri. Kita perlu belajar melepaskan obsesi kita pada representasi yang tepat dan membuka diri pada kemungkinan-kemungkinan baru yang lahir dari dalam diri anak-anak.
(Editor: Salsabila Putri Pertiwi)
(sumber foto: Netflix)






