Kegiatan membaca buku di lapak perpustakaan jalanan dalam aksi tolak gelar pahlawan Soeharto di Jakarta, Juni 2025. (foto: dok. Konde.co/Salsabila Putri Pertiwi)

Membaca Cara Kita Berliterasi yang Sudah Tidak Sama Lagi

Banjir informasi membuat tuntutan literasi kian genting. Dari komunitas baca hingga penerbit alternatif yang bergeliat menemukan pembacanya, warga punya cara sendiri menjawab tuntutan itu.

Selama bertahun-tahun, buku ditempatkan sebagai salah satu ukuran penting dalam membicarakan literasi. Seseorang yang membaca buku dianggap sedang belajar, memperluas pengetahuan, membangun kemampuan berpikir, yang berujung pada kesimpulan menjadi literat.

Perpustakaan, toko buku, sekolah, dan ruang-ruang baca kemudian menjadi bagian dari ekosistem yang menghubungkan orang dengan pengetahuan. Ruang tersebut kini tidak lagi berdiri sendiri. Pengetahuan hadir melalui mesin pencari, media sosial, video, podcast, e-book, newsletter, forum daring, hingga akal imitasi (AI). 

Kemampuan membaca tidak lagi—dan tidak pernah—cukup dipahami sebagai kemampuan mengenali tulisan dan memahami isi buku. Apalagi saat sumber informasi semakin banyak, persoalannya juga menjadi lebih rumit; bagaimana kita memilih informasi, memahami konteksnya, memeriksa kebenarannya, dan menentukan apa yang layak dipercaya?

Di Indonesia, perubahan tersebut berlangsung di tengah persoalan literasi yang sudah lama dibincangkan. Rendahnya kemampuan membaca dan memahami teks masih menjadi tantangan, sementara akses terhadap buku, perpustakaan, perangkat digital, dan internet juga belum merata.

Baca Juga: Kreator Konten Juga Perlu Edukasi Literasi Digital, Tidak Hanya ‘Followers’

Pada saat yang sama, ekosistem perbukuan tidak berhenti bergerak. Komunitas baca tumbuh, festival buku bermunculan, penerbit alternatif mencari pembacanya, dan buku menemukan ruang baru melalui media sosial.

Membicarakan literasi hari ini tidak cukup hanya dengan melihat apakah buku masih dibaca. Kita perlu melihat perubahan yang terjadi di sekitarnya, tentang bagaimana orang menemukan bacaan, bagaimana teknologi ikut membentuk kebiasaan membaca, dan apakah setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk mengaksesnya.

Apakah Orang Muda Benar-Benar Malas Membaca?

Orang muda dianggap lebih suka bermain media sosial daripada membuka buku. Lebih cepat bosan melihat teks panjang daripada menonton video berdurasi satu menit.

Tapi kalau dipikir lagi, apakah mereka benar-benar tidak membaca?

Mereka membaca chat panjang, caption, komentar media sosial, lirik lagu, hingga artikel yang muncul di linimasa. Masalahnya di sini bukan hanya sekadar berapa banyak yang dibaca, tetapi bagaimana sesuatu yang dibaca itu dipahami.

Sekarang kita hidup berdampingan dengan informasi yang datang terus-menerus. Satu informasi belum selesai dipahami, sudah ada informasi baru yang muncul. Akhirnya, kita bisa saja membaca banyak tanpa memahami apa yang benar-benar kita baca. Literasi di sini berkaitan dengan kemampuan memahami, mempertanyakan, memeriksa kembali informasi, lalu menentukan apa yang bisa dipercaya dan apa yang sebaiknya tidak langsung diterima.

Namun, anggapan bahwa orang muda sudah meninggalkan buku juga tidak sepenuhnya sesuai dengan kenyataan. Dalam beberapa tahun terakhir, justru muncul berbagai gerakan membaca yang digerakkan dan diikuti oleh orang muda. Membaca buku mulai dibawa ke ruang-ruang yang sebelumnya tidak selalu identik dengan kegiatan literasi, mulai dari taman kota, kafe, transportasi umum, dan ruang publik lainnya.

Baca Juga: Pahlawan Martha Christina Tiahahu Jadi Nama Perpustakaan dan Tempat Literasi: Kamu Bisa Kesini

Di media sosial, buku juga menemukan bentuk kehidupan baru melalui BookTok, Bookstagram, BookTube, dan berbagai komunitas pembaca. Buku kemudian menjadi gaya hidup yang dibicarakan, direkomendasikan, diulas, dan dibagikan kepada orang lain. Fenomena ini menunjukkan bahwa media sosial tidak selalu menjadi lawan buku. Dalam beberapa situasi, media sosial justru menjadi pintu masuk seseorang untuk kembali tertarik membaca.

Gerakan membaca bersama juga semakin terlihat. Komunitas seperti Membaca Melawan dan berbagai komunitas baca lainnya memperlihatkan bahwa membaca tidak selalu harus menjadi kegiatan yang sunyi dan dilakukan sendirian. 

Artinya, mungkin yang berubah bukan semata-mata keinginan untuk membaca, tetapi cara orang muda menemukan buku dan membangun hubungan dengan kegiatan membaca. Buku tidak selalu ditemukan melalui perpustakaan atau toko buku. Ia bisa ditemukan melalui video rekomendasi, unggahan media sosial, percakapan dengan teman, komunitas, atau acara baca bersama.

Perubahan dalam literasi dirasakan oleh salah satu siswa, yaitu Vini Wijaya. Ia merupakan pelajar dari MAN 5 Sleman yang sempat saya ajak berbincang saat bertemu di sela acara Jogja Art+Books Festival (JABFEST) tentang kondisi literasi saat ini.

“Menurut saya, literasi di Indonesia saat ini lagi minim-minimnya banget. Di beberapa tempat, banyak banget yang kurang bisa mengandalkan buku. Mereka lebih mengandalkan GPT atau AI lainnya,” ujar Vini.

Baca Juga: Membangun Literasi di Pesantren Kreatif: Diskusi, Sastra dan Ruang untuk Perempuan

Vini melihat bahwa teman-temannya mulai mengandalkan AI dalam mengerjakan tugas sekolah. Menurutnya, beberapa pelajar di sekolahnya lebih banyak menggunakan AI dibanding mengandalkan buku sebagai referensi belajar.

Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa perubahan yang terjadi bukan hanya pada media yang digunakan untuk mencari informasi, tetapi juga pada cara seseorang menyelesaikan proses belajar.

Hal ini menjadi semakin relevan jika melihat hasil PISA 2025. Skor membaca Indonesia berada di angka 365, naik dari 359 pada PISA 2022. Namun, kenaikan tersebut belum signifikan secara statistik. Hanya sekitar 27 persen siswa Indonesia yang mencapai Level 2 atau lebih dalam kemampuan membaca, sedangkan rata-rata OECD mencapai 69 persen. Hampir tidak ada siswa Indonesia yang mencapai Level 5 atau lebih dalam membaca.

Angka tersebut tentu tidak bisa diterjemahkan begitu saja sebagai bukti bahwa orang muda Indonesia “malas membaca”. PISA mengukur kemampuan membaca dan memahami teks, bukan sekadar seberapa sering seseorang membuka buku. Namun, hasil tersebut tetap penting karena menunjukkan bahwa kemampuan memahami informasi secara mendalam masih menjadi tantangan besar.

Di sisi lain, hasil PISA 2025 juga menunjukkan bahwa penggunaan teknologi dan AI sudah menjadi bagian dari kehidupan belajar siswa. Di Indonesia, 53 persen siswa melaporkan menggunakan chatbot AI untuk membantu belajar setidaknya sekali dalam seminggu. Artinya, persoalannya lebih besar dari sekadar orang muda akan menggunakan AI atau tidak. Persoalannya adalah bagaimana mereka menggunakannya tanpa menggantikan proses berpikir dan memahami.

Baca Juga: Hari Aksara: Pentingnya Akses Literasi Untuk Hapus Kekerasan Berbasis Gender

Ketika AI memberikan jawaban, kita tetap perlu membaca. Tetap perlu memahami informasi yang diberikan, mempertanyakan kembali, membandingkan keakuratan informasi, dan melihat apakah jawabannya masuk akal.

Di sinilah bentuk literasi mulai berubah. Dulu, kemampuan literasi banyak dibicarakan dalam konteks membaca dan memahami teks. Sekarang, kita juga berhadapan dengan kemampuan untuk memilah informasi dari mesin, membandingkannya dengan sumber lain, dan menggunakan teknologi secara sadar.

Literasi bukan hanya sebatas membaca dan menemukan jawaban. Ada proses mencari, membaca, membandingkan, mempertanyakan, kemudian menyusun pemahaman sendiri. Proses yang panjang itu dapat membentuk kemampuan berpikir kita yang lebih kritis.

Buku Tidak Hilang, Cara Kita Menemukannya yang Berubah

Menariknya, di tengah anggapan bahwa orang muda semakin jauh dari buku, ekosistem perbukuan justru menunjukkan gejala yang berbeda. Selain komunitas baca, muncul pula penerbit-penerbit alternatif dan penerbit independen yang memberi ruang bagi karya, tema, dan suara yang tidak selalu masuk ke pasar penerbitan arus utama.

Penerbit independen menjadi salah satu bagian dari ekosistem ini. Dalam beberapa tahun terakhir, geliat penerbit indie di Indonesia semakin terlihat. Mereka menerbitkan karya penulis baru, terjemahan, esai, karya sastra, hingga buku dengan tema-tema yang lebih spesifik dan alternatif. Kehadiran penerbit seperti ini memperluas pilihan pembaca sekaligus membuka jalan bagi penulis yang mungkin sulit menemukan ruang di penerbit besar.

Membaca tidak lagi hanya tentang menemukan buku yang tersedia di rak toko buku besar. Pembaca juga mulai mencari buku melalui pameran buku, bazar, komunitas, media sosial, toko buku independen, hingga penerbit kecil. 

Dengan kata lain, perubahan teknologi tidak otomatis membuat buku kehilangan tempat. Justru muncul cara-cara baru untuk menemukan, mempromosikan, dan membicarakan buku.

Baca Juga: Literasi Digital Penting Dalam Kampanye Narasi Perempuan

Fenomena tersebut juga memperlihatkan bahwa budaya membaca tidak berdiri sendiri. Ia hidup karena ada ekosistem yang dihidupkan, mulai dari penulis yang menghasilkan karya, penerbit yang menerbitkannya, toko buku dan perpustakaan yang menyediakan akses, komunitas yang membicarakannya, serta pembaca yang terus mencari bacaan baru.

Permasalahannya kemudian adalah bagaimana ekosistem itu mampu dipelihara, bertahan, dan panjang umur di tengah segala tantangan yang melingkupinya.

Literasi Bukan Hanya Soal Baca Buku, tetapi Juga Akses

Di samping bahasan soal masa depan ekosistem “perbukuan”, diskusi soal literasi sebenarnya jauh lebih luas daripada sekadar kemampuan membaca tulisan. Dalam konteks perkembangan literasi Indonesia, kemampuan literasi dapat dilihat sebagai kecakapan untuk memahami, mengolah, mengevaluasi, dan menggunakan informasi. Buku memang disebut sebagai salah satu sumber pengetahuan penting, tetapi literasi tidak berhenti pada keberadaan buku.

Karena persoalan literasi Indonesia seharusnya tidak hanya dibicarakan dengan pertanyaan, “Berapa banyak buku yang sudah kamu baca?”

Ada pertanyaan lain yang tidak kalah penting, “Apa yang kita lakukan setelah mendapatkan pengetahuan tersebut?”

Ketika seseorang bisa membaca satu buku sampai selesai, belum tentu ia memahami isinya. Sebaliknya, seseorang mungkin mendapatkan pengetahuan melalui artikel, video, atau media sosial. Kalau ia mampu memahami, mempertanyakan, membandingkan, dan menggunakan informasi dengan tepat, aktivitas itu juga merupakan bagian dari literasi.

Baca Juga: Pentingnya Tingkatkan Literasi Digital Perempuan Untuk Lawan Hoaks

Perdebatan tentang literasi sebaiknya tidak berhenti pada pertentangan antara buku dan teknologi. Buku tetap penting, tetapi teknologi juga sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Tantangannya adalah memastikan bahwa kemudahan mendapatkan informasi tidak membuat kita kehilangan kemampuan untuk berpikir kritis terhadap informasi tersebut.

Yang selalu dipertanyakan biasanya adalah mengapa seseorang tidak membaca buku, tetapi jarang yang menanyakan apakah buku-buku tersebut dapat dijangkau. Sebab, tidak semua orang memiliki uang untuk membeli buku dan tidak semua daerah mempunyai perpustakaan dengan koleksi yang memadai.

Dalam perkembangan literasi di Indonesia, keberadaan taman bacaan dan komunitas menjadi salah satu cara menghadirkan buku lebih dekat dengan masyarakat. Namun, persoalan yang dihadapi pegiat literasi juga tidak sederhana. Berbagai gerakan literasi tumbuh dari inisiatif masyarakat, tetapi keberlangsungannya tetap bergantung pada dukungan, relawan, koleksi bacaan, ruang, dan pendanaan.

Di sinilah gerakan baca yang muncul dari orang muda menjadi menarik. Sebagian gerakan tersebut tidak menunggu orang datang ke perpustakaan, tetapi justru membawa buku ke ruang yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Buku dibawa ke taman, kampus, tempat nongkrong, transportasi umum, dan ruang publik lainnya.

Baca Juga: Konde.co dan Plain Movement Kampanye Literasi Digital Perempuan

Gerakan seperti ini juga menunjukkan bahwa membangun budaya baca tidak selalu harus dimulai dari program yang besar. Kadang-kadang, ia dimulai dari sekelompok orang yang ingin membaca bersama, saling merekomendasikan buku, atau menyediakan ruang agar orang lain merasa nyaman untuk membaca.

Teknologi memang membuka jalan untuk dapat mengakses pengetahuan. Namun, masih ada orang yang tidak memiliki ponsel pribadi, komputer, atau koneksi internet yang stabil. Ada juga yang harus menggunakan satu perangkat secara bergantian dengan anggota keluarganya.

Persoalan akses dalam literasi tidak hanya tentang ada atau tidaknya buku, tetapi juga tentang ada atau tidaknya kesempatan untuk mendapatkan pengetahuan. Buku yang tersedia di perpustakaan tetap sulit dijangkau jika perpustakaannya terlalu jauh. E-book juga tidak banyak membantu jika seseorang tidak memiliki perangkat. Informasi dari internet pun tidak mudah diakses jika koneksi terbatas.

Literasi juga membutuhkan ruang, buku, perpustakaan, internet, perangkat, serta lingkungan yang memungkinkan seseorang untuk belajar. Sulit mengatakan bahwa seseorang tidak memiliki minat baca jika kesempatan untuk mendapat bacaan berkualitas saja terbatas atau tidak sama sekali.

Pada akhirnya, cara kita membaca memang sudah berubah, pun cara kita berliterasi. Buku tidak lagi menjadi satu-satunya pintu menuju pengetahuan, tetapi bukan berarti pintu itu sudah tidak penting. Justru karena pilihan sumber informasi semakin banyak, kemampuan untuk membaca secara kritis menjadi semakin dibutuhkan.

Baca Juga: Kurang Perpustakaan dan Bacaan Sebabkan Indonesia Minim Literasi

Sebab, di tengah banjir informasi, kemampuan membaca bukan hanya soal mampu membuka halaman dan menyelesaikannya. Membaca berarti memberi waktu untuk memahami, meragukan, memeriksa, menghubungkan, dan membentuk pikiran sendiri.

Buku mungkin tidak lagi menjadi satu-satunya tempat kita belajar. Namun, kebutuhan untuk membaca dengan lebih dalam justru semakin besar.

(Editor: Luthfi Maulana Adhari)

Phoebe Lukito Als Luo Zi Yi

Reporter magang Konde.co dan Mahasiswa Universitas Atma Jaya Yogyakarta.
Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

Creative Commons License

1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

Let's share!

latest news

latest news

popular

Yuk, Menulis di Konde.co

Kami memanggil kamu yang peduli dengan penguatan narasi yang berperspektif perempuan dan kelompok marjinal di media untuk menulis di Konde.co. Dengan mengirim tulisan ke Konde.co, kamu juga turut mendukung jurnalisme publik Konde.co bisa terus hidup.

Video