Luviana- www.Konde.co

Seminggu yang lalu, anak perempuan saya mengikuti ujian musik di sekolahnya. Ia memainkan pianika dan melantunkan lagu “Tanah Airku.”

“Tanah airku tidak kulupakan.
Kan terkenang selama hidupku.
Biarpun saya pergi jauh, tidak kan hilang dari kalbu.
Tanah ku yang kucintai, engkau kuhargai.”


Ketika saya mencertakan ini kepada salah satu sahabat saya yang tinggal di Perancis, ia terenyuh mendengar cerita ini. Bukan karena cerita anak saya yang bisa bermain pianika, namun karena ia gemetar, anak-anak Indonesia menyanyikan lagu ini.

Tiba-tiba ia ingat Indonesia, ingat Solo, kota yang membesarkannya dulu.

“Kalau dengar lagu ini, rasanya pengin nangis. Pengin pulang. Tidak mau balik lagi kesini.” Begitu ujarnya ketika menelepon saya malam-malam.

Lagu-lagu seperti ini selalu mengingatkannya pada rumah. Ia berulangkali bercerita, kalau ketemu teman Indonesia disana, mereka tak berhenti untuk bercerita tentang Indonesia, tentang kota, tentang kampung, tentang desa yang telah membesarkan mereka.

Hari ini, pencipta lagu “Tanah Airku”, saridjah Niung atau Ibu Soed ini genap berusia 109 tahun. Google Doodle hari ini di lamannya menuliskan ulangtahun Ibu Soed ini, perempuan yang banyak jasanya untuk anak-anak Indonesia.

Lahir di Sukabumi, Jawa Barat pada 26 Maret 1908. Ibu Soed kemudian meninggal tahun 1993 pada usia 85 tahun. Ibu Soed adalah seorang pemusik, guru musik, pencipta lagu anak-anak, penyiar radio, dramawan dan seniman batik Indonesia. Lagu-lagu yang diciptakan Ibu Soed sangat terkenal di kalangan pendidikan Taman Kanak-kanak Indonesia. Ibu Soed dikenal sebagai tokoh musik tiga zaman (Belanda, Jepang, Indonesia)

Sebagai pemusik yang mahir memainkan biola, Ibu Soed turut mengiringi lagu Indonesia Raya bersama W.R. Supratman saat lagu itu pertama kali dikumandangkan dalam acara Sumpah Pemuda di Gedung Pemuda, tanggal 28 Oktober 1928.

Jauh sebelum meninggal, Ibu Soed sempat mengungkapkan perasaannya yang menyayangkan bahwa lagu anak-anak sekarang telah menjadi serba komersil. Ibu Soed telah menciptakan 480 lagu anak-anak Indonesia, antara lain: Burung Kutilang, Naik Delman, Lihat Kebunku, Kupu-Kupu, Naik-Naik ke Puncak Gunung, Desaku, Hai Becak, Berkibarlah Benderaku, Bendera Merah Putih dan Tanah Airku.

Lagu-lagu Ibu Soed, menurut Pak Kasur, salah seorang rekannya yang juga tokoh pencipta lagu anak-anak, selalu mempunyai semangat patriotisme yang tinggi. Sebagai contoh, patriotisme terdengar sangat kental dalam lagu Berkibarlah Benderaku. Lagu itu diciptakan Ibu Soed setelah melihat kegigihan Jusuf Ronodipuro, seorang pimpinan kantor RRI menjelang Agresi Militer Belanda I pada tahun 1947, dimana Jusuf menolak untuk menurunkan Bendera Merah Putih yang berkibar di kantor RRI, walaupun dalam ancaman senjata api pasukan Belanda

Hingga sekarang, setiap hari kita masih mendengar lagu “Tanah Airku” ini dalam penutup siaran di sejumlah stasiun televisi. Lagu ini selalu mengingatkan saya akan Indonesia, alamnya yang indah, namun juga kemiskinannya, problem sosial masyarakat, persoalan perempuan yang tak kunjung usai. Ibu Soed selalu mengingatkan, pada perjuangan kemanusiaan untuk mencintai Indonesia.


(Referensi: http://www.biografi.id/2016/01/biografi-lengkap-ibu-soed-saridjah-niung.html)
(Foto/ ilustrasi: Google.co.id)

Sica Harum- www.Konde.co


Minggu lalu, saya bertemu teman.  Kami kenal sudah lama, dan sesekali berjumpa -baik sengaja atau tidak- dalam sejumlah penggalan episode kehidupan.
Saat ia masih belasan, saya di awal 20-an.

Saat ia di momen absurd seperempat abad, saya di awal 30-an.

Kini,  usianya pas 30 tahun.

Buat saya, usia itu sungguh menyenangkan. Usia tanpa galau. Udah mulai punya duit sendiri, (biasanya) juga udah mulai mapan dalam karier, dan sudah terbiasa dengan sejumlah kekecewaan. Jadi, saya siap menghadapi segala sesuatunya, tak terlalu galau dalam menghadapi masalah hidup, dan jika terjadi lagi pun, tak terlalu lama untuk bangkit kembali.

“Iya tau, Kak. Enak banget. Bebas kemana-mana. Bener-bener fearless dan worry free.”

Haha. Iya. I know.

Apakah ia masih ditanyai “kapan menikah”?

Ya, tapi biasanya umur segitu mah sudah kebal. Dan sudah biasa memberi banyak versi jawaban tanpa harus menjadi selalu sebal.  Dan mengapa pertanyaan seputar menikah dan anak ialah hal-hal yang akan terus mengelilingi perempuan? Itu katanya.

Jika ditelp, yang ditanya: kapan menikah?

Ketika diajak kenalan di sebuah forum, yang ditanya: sudah menikah?

Ketika bertemu orang di sebuah pesta perkawinan, yang ditanya: kenapa datang sendirian? pasangannya kemana?

Ketika bertemu teman lama, yang ditanya: mengapa tidak menikah juga?

Menikah seolah menjadi status yang menjadi jawaban yang melegakan bagi orang lain, yang membuat orang lain menjadi lega ketika kita bisa menjawabnya. Benarkah jika kita membawa pasangan kita ke pesta dan mengenalkan pasangan kita pada orang lain, bisa membuat orang lain menjadi lega? Benarkah begitu?

Teman saya yang lain memutuskan untuk tidak menikah, hidupnya happy. Yang harus bekerja dan kuliah di luar negeri dan meninggalkan pasangannya yang selingkuh, masih bisa menghirup udara segar-keluar dari persoalan.

Dan yang belum menemukan pasangan seperti teman-teman saya, tetap enjoy hidupnya, mempunyai banyak waktu untuk back packeran, jalan-jalan, minum coklat di sore hari sepulang kerja, lebih bisa full membantu di organisasi yang ia ikuti, menjadi volunteer di sejumlah organisasi dan lebih punya banyak waktu untuk merenung, mengembangkan karir. Menulis buku, membuat film, mengelola platform baru. Bertemu banyak orang yang berbeda.

Banyak hal yang bisa dilakukan perempuan di usia 30 tahun.

Tak perlu menjadi sedih dan merasa sendiri di usia ini.

Dalam perjalanan hidup yang saya tempuh, di usia ini, justru kita menemukan banyak sekali tantangannya.

Happy 30, ya!


Ika Ariyani - www.konde.co

“Menjadi istri yang baik itu adalah kewajiban dan tuntutan yang harus dijalani seorang anak perempuan setelah ia menikah. Tujuan akhir hidup seorang perempuan adalah menjadi istri dan ibu. Sebanyak apapun kontribusimu bagi dunia, kalau kamu tidak menikah, kamu tetap saja nothing.”

Itulah kalimat yang sering saya dengar. Hmm..sebenarnya, dogma itu asalnya dari siapa ya?

Menjadi Istri yang “Baik”?

Menjadi istri yang baik versi normal itu bagaimana maksudnya? Bisa memasak, bisa beres-beres rumah, menanam bunga dan menata rumah, bisa memijat suami, rajin ikut arisan, disayang mertua, pintar atur keuangan, harus jaga kecantikan, telaten urus anak, rajin ibadah, plus sambil kerja nyari uang. Ini istri atau siluman sih?

Kalau seorang perempuan dibiarkan melakukan itu semua, kapan waktunya dia memikirkan diri sendiri? Sering (banget) temen-temenku yang sudah menikah, merasa bersalah saat mereka hang out bersama temannya di luar. Mereka takut dan ingin segera pulang karena tidak enak sama suami, apalagi kalau sudah punya anak.

Memangnya kenapa kalau perempuan bergaul setelah jam kerja? Memangnya perempuan itu seperti ayam, yang kalau mau maghrib harus masuk kandang? Kenapa suami kok bebas saja keluar rumah sampai tidak ingat waktu?(memang tidak semua sih).

Terlalu sibuk bekerja, mengurus rumah, belum lagi meladeni suami yang manja, akan membuat perempuan lelah dan tidak sempat lagi memikirkan dirinya sendiri, menjaga kesehatan bahkan merawat kecantikannya.

Dan yang lebih miris, seorang perempuan yang dulunya juara kelas, punya gelar sarjana bahkan master, memenangkan kejuaraan ini itu, harus menjadi istri yang ‘baik’, sehingga ia lupa mengembangkan dirinya sendiri, tidak sempat baca buku, tidak sempat merenung, tidak sempat diskusi, bahkan lupa apa impiannya, saking banyaknya tuntutan yang ditujukan kepadanya.

Akibatnya perlahan ia menjadi terlihat tua. Dan setelah begitu, suami malah menghinanya dan tebar pesona kepada perempuan lain yang lebih cantik dan smart. Tidak ingin suami pindah ke lain hati adalah ambisi satu-satunya dalam hidup. Sehingga istri melakukan apa saja supaya tampil cantik dan seksi.

Harus Menyenangkan Keluarga Besar?

Lalu apa gunanya seorang perempuan yang selalu dipuja puja saat masih tahap pacaran oleh pacarnya?, jika akhirnya setelah menikah ia akan diberi segudang tanggungjawab yang kadang melewati batas kemampuannya? Apalagi jika harus menurut pada keluarga besar yang sering menuntut banyak pada pasangan yang telah menikah.

Entah siapa yang membuat aturan jika menikah, juga harus ikut ‘menikahi’ keluarganya. Sehingga seorang perempuan yang masuk ke keluarga suami berhak dijadikan objek penilaian, apakah ia layak dipuji karena kualifikasinya sesuai selera keluarga, atau dicemooh karena tidak bisa seperti istri pada umumnya seperti rajin menyambangi mertua, dekat dengan saudara ipar, dsb. Pokoknya hidup adalah hanya tentang menyenangkan hati keluarga suami.

Banyaknya media yang menerangkan cara agar disayang suami, agar suami betah di rumah, cara menjadi istri yang baik, membuat saya heran. Ini sudah tahun 2017, dan tetap tidak ada bedanya dengan peran istri pada jaman dulu.

Berikan perempuan ruang untuk mencapai segala mimpinya. Hidup ini bukan hanya tentang kesuksesan seorang laki-laki atau suami saja. Mungkin para laki-laki ada yang mengkhawatirkan istrinya lebih hebat.

Setiap perempuan butuh dukungan, bukan hanya laki-laki saja yang butuh dukungan, perempuan akan selalu menyandarkan dirinya pada orang yang menyayanginya setulus hati. Ia takkan bisa hidup tanpa seseorang yang selalu ingin berkembang bersamanya.

Perempuan diciptakan bukan hanya untuk menjadi bayangan. Pernikahan jangan menjadi alasan untuk ‘menundukkan’ istri agar tidak ‘too much’ dalam mengembangkan dirinya dan seakan memprioritaskan urusan domestik rumah tangga menjadi bakti dan prestasi paling tinggi di mata masyarakat. Perempuan juga berhak untuk punya arti dalam kehidupannya tanpa terikat oleh batasan-batasan dalam pernikahan.

(Ika Ariyani, Saat ini sedang mempelajari Human Resource dan fakta sosial perempuan Indonesia. Sehari-hari tinggal di Surabaya, Jawa Timur)

Febriana Sinta-www.konde.co

Jogjakarta, Konde.co - Usia senja tidak menghalangi seseorang untuk tetap menghasilkan sebuah karya.Salah satunya adalah Simbah Atemo Wiyono. Di usia 75 tahun dia tetap bekerja sebagai pengrajin dolanan (mainan) anak tradisional.

Sejak usia muda Simbah Atemo telah menekuni pekerjaannya sebagai pembuat mainan tradisional. Dari bahan sederhana yang didapat dari sekitar rumahnya, setiap hari dirinya membuat dolanan dari bahan kertas, bambu, kawat dan lem. Dolanan anak yang dihasilkan adalah otok-otok, wayang kertas , burung dan sangkarnya, kitiran, dan kipas kertas.

Dolanan kitiran
"Ini saja pekerjaan saya, gampang , bisa dikerjakan sambil momong (menemani) cucu," tuturnya.

Dolanan yang dihasilkan Simbah Atemo tidak setiap hari laku, karena saat ini jarang anak - anak yang memainkan dolanan tradisional. Jika ada acara Sekaten, pameran, atau acara seni, barulah dagangannya laku. Penjual akan mengambil dagangannya untuk dijual kembali.

"Jadi ada orang yang ambil dagangan untuk dijual lagi. Jarang ada pembeli yang langsung ke tempat saya. Saya sudah tidak kuat kalau jualan keliling ."

Sebenarnya di Desa Pandes, Sewon, Bantul tidak hanya Mbah Atemo saja yang menjadi pengrajin, ada puluhan pengrajin dolanan anak lainnya. Untuk itu desa yang terletak lima kilometer dari pusat Kota Jogjakarta ini disebut sebagai Desa Wisata Dolanan Anak.

Simbah Atemo bercerita dolanan anak miliknya sempat menjadi mainan yang paling dicari oleh anak - anak di tahun 80 hingga awal 90an. Namun sesudah itu mainan ini seperti hilang pamornya. Baru sekitar empat tahun lalu  mainan tradisional ini mulai dilirik banyak orang.

" Katanya yang main sekarang malah bukan anak-anak lagi, tapi orang tuanya..." ujar simbah sambil tertawa. Menurutnya mainan tersebut sudah menjadi barang klangenan atau barang kesukaan.

Dia menuturkan saat ini tidak hanya warga Jogja saja yang membeli , namun juga berasal dari luar kota untuk disimpan atau dijual.

Dolanan tradisional wayang kertas
yang dihasilkan Mbah Atemo
Untuk harga, mainan ini dijual sangat murah. Untuk pembeli eceran satu mainan hanya dihargai Rp.3.000. Jika permainan membutuhkan banyak bambu maksimal dihargai Rp.5.000. Pembeli borongan atau dalam jumlah banyak simbah akan memberikan potongan harga.

"Kalau dijual lagi bisa dihargai lebih dari Rp5.000 per mainan, tapi saya tetap berusaha tidak menaikkan harga. Tidak berani," ujar Mbah Atemo.

Jika pesanan banyak dalam sehari simbah mampu menghasilkan seratus buah mainan. Pekerjaan itu dia kerjakan sendiri. Alasannya anak atau menantunya tidak menyukai pekerjaan menjadi pengrajin dolanan tradisional.

Saat ini Mbah Atemo berharap pemerintah banyak mengadakan kegiatan atau pameran budaya, sehingga anak - anak dapat mengenal dan kembali memainkan dolanan tradisional.

"Saya inginnya ya banyak acara , banyak yang main lagi, banyak yang kenal...," pungkasnya sambil tersenyum. 

Foto : Febriana Sinta

Febriana Sinta-www.konde.co

Konde.co-Kepergian pejuang perempuan Pegunungan Kendeng, Patmi mengundang beberapa pihak melakukan aksi solidaritas. Hari ini, Rabu(22/3) Gelora Demokrasi melakukan aksi di depan Gedung DPRD Sulawesi Tengah. Mereka menuntut pemerintah menghentikan pembangunan pabrik semen di Rembang, Jawa Tengah.

Di Jogyakarta, akan dilakukan acara doa bersama di Griya Gusdurian. Acara Tahlil Untuk Keadilan akan diadakan selama enam hari mulai Rabu(22/3) hingga Senin(27/3) pukul 18.30 WIB.
Salah seorang panitia doa bersama, Fatin Ahmad menyatakan acara ini terbuka untuk semua kalangan yang ingin mendoakan Ibu Patmi.

" Acara doa bersama ini kami lakukan untuk  mendoakan pejuang lingkungan Kendeng, Ibu Patmi. Acara ini terbuka untuk umum, siapa saja bisa datang untuk mendoakan kepergian Bu Patmi."

Untuk menghormati perjuangan Ibu Patmi, Komnas Perempuan memberikan sebutan Ibu Patmi sebagai Perempuan Pembela Hak Asasi Mnausia (HAM). Ketua Komnas Perempuan, Azriana menyatakan pemberian  ini berdasarkan perjuangan Ibu Patmi bersama dengan perempuan-perempuan Kendeng yang melakukan aksi penolakan ekploitasi alam dan pendirian pabrik semen sejak tahun 2006.

" Ibu Patmi menjadi teladan bagi perempuan penyelamat lingkungan yang tidak kenal lelah berjuang menyelamatkan kelesetarian alam dengan melakukan usaha penyelematan lingkungan", ujar Azriana seperti tertulis dalam pers release Komnas Perempuan.

Selain itu Komnas Perempuan merekomendasikan agar Pemerintah Daerah Propinsi Jawa Tengah, Pemerintah Kabupaten Rembang dan PT Semen Indonesia, serta masyarakat untuk mentaati kesepakatan antara masyarakat dengan Presiden , yaitu menunggu proses Kajian Lingkungan Hidup strategis (KLHS) yang sedang berjalan harus dilakukan secara independen, transparan, dan melibatkan warga khususnya perempuan.

Febriana Sinta-www.konde.co

Konde.co-Salah satu petani perempuan Kendeng yang melakukan aksi pasung kaki di depan Istana Negara meninggal dunia. Ibu Padmi adalah perempuan yang gigih menolak penambangan batu karst Semen Indonesia d Rembang, meninggal dunia dalam usia 45 tahun ,Selasa 21 Maret 2017 pukul 02.55 WIB.

Salah satu  pendamping petani Pegunungan Kendeng dari Yayasan Desantara Sobirin mengatakan, Ibu Padmi meninggal dunia dalam perjalanan menuju  RS St. Carolus Salemba.

'Sebelumnya Bu Padmi mengeluh badannya tidak enak, lalu mengalami kejang-kejang dan muntah. Kemudian dokter yang sedang mendampingi segera membawa ke RS St. Carolus Salemba. Menuju rumah sakit dokter menyatakan Bu Patmi meninggal dunia."

Dalam pers release, Sobirin menceritakan kronologi meninggalnya salah satu pejuang perempuan Kendeng, Ibu Padmi.

Senin sore, 20 Maret 2017,
Perwakilan warga diundang Kepala Kantor Staf Presiden, Teten Masduki untuk berdialog di  Kantor Staf Presiden.

Senin malam, 20 Maret 2017,
Sebagian warga Kendeng akan pulang ke kampung halaman, sementara aksi akan terus dilakukan oleh 9 orang. (Alm) Bu Patmi adalah salah satu yang akan pulang. Cor kaki Bu Padmi dibuka pada malam hari, dan akan pulang Selasa(21/3/2017) pagi.

Selasa dini hari, 21 Maret 2017,
Kurang lebih pukul 02.30 WIB setelah mandi, Bu Patmi mengeluhkan badannya tidak enak, kemudian mengalami kejang-kejang dan muntah.
Dokter yang sedang mendampingi segera membawa Bu Patmi ke RS St. Carolus Salemba. Dalam perjalanan ke  RS, dokter menyatakan  Bu Patmi meninggal dunia. Pihak RS St. Carolus menyatakan Bu Patmi meninggal dunia sekitar pukul 02.55 WIB , dengan dugaan mengalami serangan jantung.

Pagi tadi jenazah Bu Patmi langsung dipulangkan ke Desa Larangan, Kecamatan Tambakromo, Kabupaten Pati untuk dimakamkan di desanya.

Kematian Ibu Padmi merupakan gambaran perjuangan warga yang harus berjuang untuk mempertahankan tanah kelahiran mereka sendiri.

Warga Kendeng harus melakukan aksi pasung kaki dengan cor karena tidak tahu harus melakukan apa lagi untuk mempertahankan desa miliknya. Hal ini menyusul dikeluarkan ijin baru oleh Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo untuk melakukan penambangan karst oleh PT Semen Indonesia di daerah Rembang,

Petani perempuan Kendeng pertama kali melakukan aksi pasung kaki dengan Semen pada bulan Maret 2016. Aksi kali ini dilakukan sejak 13 Maret 2017 di depan Istana Negara dengan harapan Presiden Jokowi bersedia mencabut ijin tersebut

Selamat jalan Ibu Padmi......


Luviana-www.konde.co

Jakarta, Konde.co-Sejumlah aktivis perempuan di Jakarta melakukan aksi pasung di Istana Negara, Senin (20/3/1017). Aksi yang dilakukan sejumlah aktivis perempuan ini sebagai bentuk solidaritas mereka untuk para perempuan petani di Kendeng, Jateng dalam menolak pabrik semen.

Dhyta Caturani, Lini Zurlia, Efi S Handayani, Veronica Iswinahyu, Siti Maemunah, merupakan sejumlah aktivis perempuan yang ikut dalam solidaritas pemasungan kaki tersebut.

Lini Zurlia mengatakan perempuan seringkali dianggap tidak memiliki otoritas atas tubuhnya. Keputusan ibu-ibu petani dari pegunungan Kendeng untuk menyemen dan memasung kakinya sebagai bentuk perlawanan menggunakan tubuh, dituduh oleh sekelompok orang sebagai bentuk dari eksploitasi terhadap perempuan.

" Aksi ini untuk menunjukkan bahwa kita punya otoritas atas tubuh kita dalam melakukan perlawanan. Selain itu juga sebagai bentuk solidaritas untuk ikut merasakan perjuangan para petani Kendeng, meski tak secuil pun sebanding tentunya," tutur Lini Zurlia.

Guyuran air hjan tidak membuat keinginan mereka surut, justru jumlah mereka bertambah. Sejak aksi pertama kali dilakukan tanggal 13 Maret lalu, saat ini jumlah mereka bertambah menjadi 60 orang.

Para petani Kendeng ini meminta Presiden Jokowi segera mencabut ijin lingkungan PT Semen Indoensia yang dikeluarkan oleh Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo.
Terbitnya ijin baru baru tersebut mengakibatkan penambangan batu kapur yang dilakukan PT Semen Indonesia tetap berjalan.





Foto: Damar Juniarto dan Lini Zurlia


Luviana – www.Konde.co

Jakarta, Konde.co -  Pada seminggu terakhir ini, Indonesia dikejutkan dengan terungkapnya jaringan eksploitasi seksual terhadap anak melalui facebook group “Official Loly Candy’s 18+” yang beranggotaan 7000 orang yang berasal dari berbagai negara. 

Kelompok ini kemudian melibatkan anak-anak sebagai  korban dalam aksi mereka, bahkan anak-anak ini merupakan kerabat dekat dengan pelaku. Dua dari empat  pelaku yang tertangkap adalah anak dan pernah mengalami kekerasan seksual  sebelumnya.

Ini menggambarkan bagaimana kejahatan seksual itu berantai terjadi. Semua situasi ini akan memicu  anak-anak untuk dilacurkan dan menjadi korban trafiking. Adanya kasus ini menunjukkan bahwa kekerasan seksual terhadap anak di Indonesia semakin memprihatinkan. 


Indonesia Peringkat 3 di Asia

Data sejumlah organisasi anak yang tergabung dalam Indonesia ACT menyebutkan bahwa saat ini Indonesia menjadi peringkat ke 3 di Asia Tenggara terkait jumlah kasus kekerasan seksual terhadap anak.

Anak merupakan manusia yang sedang tumbuh dan berkembang, baik fisik, mental maupun intelektualnya. Pada masa perkembangan tersebut setiap anak sedang berusaha mengenal dan mempelajari nilai-nilai yang berlaku di masyarakat serta berusaha meyakininya sebagai bagian dari dirinya, dalam masa perkembangan ini senyuman dan keceriaan anak sangat berperan penting.

Tapi nyatanya, di masa pertumbuhan anak tersebut, kondisi anak-anak tersebut sangat rentan untuk disalah gunakan oleh orang dewasa. Salah satu kasus terbesar penyalahgunaan terhadap anak adalah eksploitasi seksual. 

“Pada tahun 2016, sekitar 50% kasus perdagangan anak yang ditangani oleh Indonesia ACT merupakan untuk tujuan eksploitasi seksual,” ujar Yani Mulyani, Presidium Indonesia ACT.


Mengusut Pelaku Eksploitase Seksual Anak

Merespon peristiwa/kasus terungkapnya jaringan eksploitasi seksual terhadap anak melalui facebook group “Official Loly Candy's 18+”, Indonesia ACT berpendapat  selain melakukan upaya hukum untuk menjerat para pelaku, hal penting yang harus dilakukan adalah  melakukan pemulihan terhadap anak-anak yang menjadi korban dan membayar restitusi/kompensasi untuk menjamin keberlanjutan pemulihan untuk jangka panjang, mengingat seluruh korbannya masih berusia anak.

“Sebagai bentuk kepedulian Indonesia Act dalam upaya perlindungan anak, maka sikap kami terhadap kasus terbongkarnya jaringan online eksploitasi seksual terhadap anak ini antaralain meminta dan mendesak kepada aparat penegak hukum untuk mengusut secara tuntas tidak hanya admin tapi juga anggota facebook group yang secara sengaja telah menyebarkan image explisit anak dan saling share informasi tentang eksploitasi seksual yang mereka lakukan terhadap anak.”

Indonesia telah meratifikasi Protokol Opsional Konvensi Hak Anak tentang Penjualan Anak, Prostitusi Anak dan Pornography Anak. Secara tertulis, negara memiliki kewajiban yang termaktub di dalam pasal 3(c) bahwa negara harus menjamin penegakan hukum bagi orang atau kelompok baik di dalam negeri atau lintas negara yang memproduksi, mendistribusikan, menyebarluaskan, mengimpor, mengekspor, menawarkan, menjual, atau memiliki hal-hal untuk tujuan pornografi anak.

Indonesia Act juga meminta dan mendesak kepada aparat penegak hukum untuk mempidana pelaku sesuai dengan perundang-undangan yang telah ada di Indonesia yaitu UU Pornography No. 44/2008 pasal 8, 12 dan 34 dan 38; UU Perlindungan Anak No. 35 tahun 2014 pasal 76C, 76D, 76E, 76F, 82 dan 88; KUHP pasal 292 dan 296, dan UU ITE No. 11 tahun 2008 pasal 27 dan 45.

“Selain itu kami mendesak kepada pemerintah untuk melakukan proses rehabilitasi terhadap korban eksploitasi seksual, mendesak kepada DPR-RI untuk segera mempercepat proses pembahasan dan pengesahan UU Penghapusan Kekerasan seksual yang menjamin perlindungan anak yang menjadi korban,” kata Presidium Indonesia ACT lainnya, Syamsul.

Selanjutnya mereka juga mendesak pemerintah untuk merumuskan kebijakan yang menjamin pemenuhan hak korban, penyediaan akses layanan serta menjamin ketidak berulangan (korban menjadi korban kembali) melalui kewajiban negara dalam bentuk komitmen hukum dan kebijakan, program serta dukungan anggaran untuk penyelenggaraannya, mengingat sampai saat ini Indonesia belum memiliki aturan yang jelas terkait dengan proses pemulihan bagi korban kekerasan seksual dan sistem peradilan pidana khusus (untuk mengadili pelaku).

Indonesia Against Child Trafficking (Indonesia ACT) adalah jaringan nasional yang memfokuskan diri pada isu perlindungan anak khususnya pencegahan dan penanganan kasus perdagangan anak melalui partisipasi masyarakat dan anak dan advokasi kebijakan di tingkat lokal, nasional dan regional. Saat ini Indonesia ACT beranggotakan 16 organisasi di 10 propinsi di Indonesia yaitu: CMC (Banda Aceh), KKSP (Medan), Yayasan Anak dan Perempuan, Yayasan Kusuma Buana (Jakarta), Yayasan Kusuma Bongas (Indramayu), Sari Solo (Solo), KJHAM (Semarang), Setara (Semarang). Samin (Jogjakarta), Rifka Annisa (Jogjakarta), Kawan Kami (Surabaya), Bungkulan (Bali), LBH Apik Pontianak (Pontianak), Rumah Perempuan (Kupang) dan Pancakarsa (Mataram).


(Foto/ Ilustrasi: Pixabay.com)


Sica Harum- www.Konde.co

Saya bukan orang yang disiplin. Cenderung berantakan. Slordeh. Dan tipikal pemuja deadline. Kalau belum dekat deadline, rasanya otak belum bisa diajak kerja, masih main-main mencari distraksi lainnya.

Saya juga bukan orang yang persisten. Cita-cita banyak, tapi sering kandas karena kurang tekun saat eksekusi. Banyak kesempatan yang saya buat. Sangat banyak. Buat saya, lebih mudah menciptakan kesempatan ketimbang mewujudkannya dalam hasil yang nyata.

Tapi, jika kesempatan itu berhubungan dengan pihak lain, kita tidak bisa sekadar melupakannya ketika eksekusi di lapangan mengalami kendala.

Somehow,  I feel … lost.

Bingung menentukan prioritas karena semua TERASA PENTING.

Meski jangan-jangan, ya enggak penting-penting amat.

Salah satu kebiasaan buruk yang saya punya: overthinking, dan too much in to detil.  Oh, satu lagi: susah bilang “No” karena enggak enakan. 

Now, I should simplifies life.

Salah satu review buku yang dibagi oleh pebisnis perempuan dan kolumnis Amerika, Arianna Huffington melalui jejaring LinkedIn yang saya baca, berjudul  “Rest: Why You Get More Done When You Work Less”.   Terbit Desember 2016 dan saat ini baru tersedia versi Hard Copy. Resensi itu sendiri,  merupakan artikel  Arianna untuk New York Times.

Ada sejumlah kutipan yang menarik di buku ini:

“Work and rest aren’t opposites like black and white or good and evil,” Pang writes. “They’re more like different points on life’s wave.”

Pertanyaannya, bisakah semua pekerjaan yang segunung itu bisa diselesaikan jika kita mengurangi waktu untuk mengerjakannya?

Tulisan Arianna dan sejumlah buku lain yang saya baca bisa menjadi tips dalam kita bekerja:


Pareto 20:80 
Buat daftar semua yang harus dikerjakan. Pilih mana yang mendatangkan hasil dan impact paling banyak. Eliminasi yang tidak membawa banyak impact. Atau, jika tidak bisa dibuang, delegasikan.

Konsep ini juga bisa diterapkan juga untuk memilih mana barang yang tidak perlu lagi kita simpan. Bahkan, mungkin, bisa diterapkan juga untuk bagaimana kita memutuskan untuk membuang kenangan yang tak perlu. 


30 Menit: 30 Hari: 30 Minggu

Saya lupa membaca konsep 30:30:30 ini di buku siapa. Yang jelas, saya ingat ini metode untuk memutuskan apakah sesuatu layak dikerjakan atau bisa ditunda.  Untuk setiap hal yang membutuhkan keputusan, pikirkan efek dan impactnya selama 30 menit ke depan, 30 hari ke depan, dan 30 minggu ke depan.

Ada yang sifatnya sangat urgen, dan jika tidak dilakukan bisa merugikan dalam waktu 30 menit.
Dan menariknya, saat menerapkan konsep ini, banyak hal yang kita kira penting ternyata tidak segitu pentingnya.

Jadi, jika kita punya sekitar 100 “things to do”, maka dengan menerapkan konsep Pareto, kita bisa memilih 20 hal saja. Dari 20 itu, kita bisa menyusun skala prioritas dengan konsep 30:30:30.


Kerangka Waktu 

Tetapkan waktu dan tenggat untuk menyelesaikan apa yang sudah menjadi komitmen prioritas kita. Kadang-kadang, ada pekerjaan yang beres dalam waktu lima menit tapi bisa tertunda sekian lama, hanya karena kita menunda…kemudian lupa.

Ada ide tentang bekerja 4 hari dalam seminggu, masing-masing 10 jam kerja per hari dengan jeda break 3 kali. Total waktu bekerja tetap 40 jam per minggu.  Dan cara ini (dengan detail yang berbeda) sudah diterapkan di beberapa perusahaan besar, seperti Google dan Amazon.

Ada banyak faktor yang dibutuhkan agar cara itu berhasil. Tapi, jika kebanyakan cara dan proses bisnis kita masih bersifat manual, rasanya membatasi waktu kerja menjadi 4 hari seminggu mungkin berdampak pada konsekuensi bisnis.

Saya sendiri tertarik mencoba 4 hari kerja seminggu,  plus Friday Creative Session.  Jadi, inginnya Jumat khusus untuk meet up, dan seharusnya bisa untuk brainstorm ide baru, atau chit chat bahas analisis seminggu.


Mengurangi Distraksi 

Teknologi seharusnya mempersingkat waktu kerja kita. Namun yang lebih sering terjadi, teknologi membawa distraksi yang tak berkesudahan.  Tak ada cara lain, selain disiplin menjauhkan diri dari ponsel, dan internet, saat harus bekerja.

Apalagi, kalau kita menjalankan prosesnya dengan betul, maka email-email yang sifatnya insidensial semestinya tidak akan terjadi.  Tidak perlu ada krisis yang harus diselesaikan segera.


Cara Scrum 

Scrum umumnya diterapkan untuk pembuatan software. Kerjakan satu per satu. Jika ada lima project, maka bereskan satu per satu, bukan kelimanya dalam satu waktu.

Apakah bisa diterapkan untuk sebuah proyek kerja jasa? Well, agak chalenging, tapi layak dicoba. Sebab biasanya, kita enggak bisa dengan mudah mengatur waktu klien untuk kick off program. Bisa saja semua menumpuk di satu waktu dan deadline berdekatan.

Ciri khas Scrum ialah cara kerja per tahapan kecil, dan bersifat iteratif. Scrum juga menerapkan tiga hal dalam monitoring: transparan, inspeksi, adaptasi.

Di pabrik Toyota, setiap orang punya hak untuk menghentikan mesin kapan saja ketika melihat ada yang tidak beres. Lalu ada perbaikan saat itu juga, dan mesin kembali berjalan.

Dari sisi tim,  metode Scrum membutuhkan tiga pihak. Yaitu product owner, development team, dan scrum master. Product Owner mendesain. Development Team yang membuat. Keduanya bertanggungjawab pada hasil/produk. Sedangkan Scrum Master bertanggungjawab atas proses. Ia yang memastikan proses berjalan sesuai tahapan, dan membantu agar tim bekerja efisien dan agile.

Lebih lengkapnya, suatu saat saya akan posting tentang bagaimana kami melakukan cara ini ke sebuah project.

So, apakah semua yang ditulis di atas bisa diterapkan untuk bekerja lebih singkat namun memberi hasil lebih banyak? 

Silakan dicoba. 


(Foto: Ariannahuffington.com dan wikipedia.com)


Luviana – www.Konde.co

Jakarta, Konde.co - "Karoshi" begitu orang Jepang menyebut kematian akibat bekerja melampaui batas (overwork). Kementerian Perburuhan Jepang mencatat kerja lembur berlebih mengakibatkan 96 pekerja tewas karena sakit dan 93 kasus bunuh diri dan percobaan bunuh diri karena gangguan mental. Hal ini juga terjadi pada perempuan pekerja.

Serikat Pekerja Media dan Industri Kreatif untuk Demokrasi (SINDIKASI) melihat pekerja industri kreatif Indonesia memiliki kecenderungan bekerja melampaui batas yang mengakibatkan depresi dan rentan mengalami tragedi seperti di Jepang.

Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) membagi sektor kreatif menjadi 16 subsektor yaitu aplikasi dan game developer, arsitektur, desain interior, desain komunikasi visual, desain produk, fashion, film, animasi, dan video, fotografi, kriya, kuliner, musik, penerbitan, periklanan, seni pertunjukan, seni rupa, serta televisi dan radio.

SINDIKASI melihat sisi kesehatan dan keselamatan kerja banyak diabaikan ketika persoalan ekonomi kreatif menjadi perbincangan. Padahal, BEKRAF memproyeksikan sektor ini sebagai “tulang punggung ekonomi Indonesia”. Sementara BPS mencatat industri kreatif menyerap 15,9 juta pekerja tahun lalu dan tumbuh 4,3 persen dalam setahun.


Perempuan Pekerja Rentan Depresi

Pekerja kreatif diduga banyak mengalami depresi karena kelebihan kerja. “Saya cerita ke teman bahwa saya mengalami gejala depresi. Ternyata mereka pun mengalami gejala yang sama,” kata Anggota SINDIKASI Ellena Ekarahendy pada Kamis, 16 Maret 2017.

Perempuan yang bekerja sebagai desain grafis ini menyampaikan keprihatinannya dalam diskusi berjudul “Antara Dedikasi dan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3)” yang diselenggarakan SINDIKASI dan didukung Aliansi Jurnalis Independen (AJI) serta Federasi Serikat Pekerja Media (FSPM) Independen di Gudang Sarinah Ekosistem, Jakarta Selatan pada 16 Maret 2017 lalu.

Salah satu kasus yang menyita perhatian di Jepang adalah peristiwa tewasnya Matsuri Takahashi, perempuan pekerja perusahaan periklanan raksasa Dentsu Inc setelah terjun dari apartemen.

Hasil penyelidikan tewasnya Matsuri menyimpulkan perempuan 24 tahun ini mengalami depresi akibat beban psikologi di tempatnya bekerja. Kondisi ini terjadi karena beban kerja Matsuri bertambah drastis dan membuatnya harus lembur selama 150 jam dalam sebulan. Setelah kematian Matsuri, perusahaan iklan Dentsu Inc pun melarang pekerja bekerja di kantor di atas pukul 22.

Ellena menambahkan banyak kerja lembur muncul karena tidak ada sistem yang melindungi para pekerja kreatif. 

“Ada yang kerja full time dan lembur dalam sebulan gajinya Rp 1,5 juta,” katanya mencontohkan kondisi suram pekerja kreatif.

Untuk itu, Ellena mendesak adanya instrumen hukum sebagai penjamin kesehatan dan keselamatan kerja bagi sektor ini. Terlebih, banyak pekerja kreatif cenderung informal tanpa tempat kerja yang jelas.

SINDIKASI melihat jam kerja yang panjang, lembur tanpa kompensasi, minimnya perlindungan kesehatan, tingkat stress tinggi, dan ancaman kekerasan menjadi gambaran rentannya para pekerja kreatif dalam kesehariannya.

Kasus meninggalnya pekerja periklanan Mita Diran pada 2013 lalu membuka mata publik akan rentannya kesehatan pekerja industri kreatif dalam kultur kerjanya. Perempuan 27 tahun itu meregang nyawa setelah bekerja non stop selama 30 jam.

Lembaga pemerhati K3 Local Initiative for OSH Network (LION) menganggap pemerintah gagap dalam melindungi para pekerja kreatif. Ini karena banyak pekerja kreatif cenderung berada di ranah informal.
“Pekerja dengan pola hubungan non standar tidak punya jaminan pasti. Itu berdampak pada K3, negosiasi kenaikan upah,” terang Koordinator LION, Wiranta Yudha Ginting.

Ia mengusulkan agar pemerintah menyusun definisi ulang hubungan ketenagakerjaan di sektor kreatif. Di antaranya adalah definisi ulang tempat kerja dan kerja. Kajian itu dapat menjadi dasar pembentukan regulasi untuk perlindungan pekerja kreatif.

SINDIKASI menyerukan agar ada kerjasama antara berbagai sektor pekerja kreatif untuk menyusun standar-standar kerja yang lebih manusiawi.
“Mari kita mencari waktu, melihat sumber daya manusia yang ada, organisasi dan komunitas apa saja yang sudah ada dan apa yang kita bisa lakukan bersama,” ajak anggota SINDIKASI, Ellena.

Ajakan ini disambut oleh sejumlah peserta diskusi. Di antaranya Sammy Suyanto yang mewakili Asosiasi Profesional Desain Komunikasi Visual Indonesia (AIDIA), Jati Andito dari Komunitas Voice Over Indonesia, dan Rege Indrastudianto dari Asosiasi Desainer Grafis Indonesia.
“Ini sebuah hajat besar yang perlu dikerjakan bersama,” terang Sammy.


Bekerja Melebihi Batas

Overwork adalah masalah serius di seluruh Asia meskipun ternyata panjangnya jam kerja tak otomatis membuat produktifitas negara meningkat.Hasil studi, seperti dikutip Nikkei Asian Review, terhadap 18 perusahaan manufaktur di Amerika menunjukan 10 persen peningkatan terhadap jam lembur malah menurunkan 2,4 persen produktifitas.

Data International Labor Organization (ILO) pada 2015 mencatat sebanyak 26,3 persen pekerja di Indonesia bekerja lebih dari 49 jam dalam sepekan. Padahal, Undang-undang No 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan mensyaratkan 40 jam kerja dalam sepekan. Data lain menunjukkan pekerja di Jakarta, berdasarkan survei UBS pada 2015, menghabiskan 2.102 jam untuk bekerja dalam setahun atau di atas Manila (1.950 jam per tahun) dan Kuala Lumpur (1.934 jam per tahun)