*Joy Aprilea Ginting- www.Konde.co

Apakah anda pernah membayangkan jika suami yang di depan istrinya baik-baik saja, namun ternyata di belakang istrinya ia melakukan kekerasan? Cerita tentang perselingkuhan yang dilakukan laki-laki tidak hanya satu atau dua kali saya dengar, namun cerita ini kerap saya dengar:

Han (bukan nama sebenarnya) tidak pernah pulang larut malam dari kantor. Ia terlihat baik-baik saja di depan istrinya, tidak pernah mengabaikan weekend dengan istrinya, tidak pernah chatting, telepon atau online secara sembunyi-sembunyi. Bukan pemabuk, bukan penjudi juga bukan pelaku kekerasan fisik terhadap perempuan. Sebagai laki-laki ia juga memiliki prospek karir yang bagus di perusahaan nya. Ketika sedang bekerja, ia juga tidak pernah absen menelepon istri dan anaknya. Ah, istri mana yang akan meragukan laki-laki seperti Han?

Lain cerita lain yaitu Ai, laki-laki yang berusia 25 tahun. Belum menikah. Punya pacar seumuran. Gaya pacaran mereka no travel alone, bahkan sering ibadah bersama. Hal yang melegakan hati orang tua perempuan pacar Ai adalah ketika ia mengetahui bahwa anaknya mendapat calon suami yang baik.

Namun yang terjadi justru sebaliknya, di balik semua hubungan baik ini, ternyata laki-laki ini berselingkuh dengan sejumlah perempuan.

Mengunjungi SPA plus sudah tak ubahnya bagai makan siang atau makan malam bagi para laki-laki ini. Untuk meyakinkan pasangan, cukup diberi kabar sebelumnya dan rajin menelepon untuk mengabarkan jika mereka melepas lelah di luar kantor, sedang menghadapi jalanan pulang macet, atau mengabarkan sedang makan di luar saja berama teman-teman kantor. Hal ini yang tidak diketahui pacar atau istri di rumah. Komunikasi sering kali menjadi perantara baik, namun bisa juga hanya menjadi legitimasi bagi laki-laki bahwa mereka selalu mempunyai banyak perhatian dengan keluarga. Padahal, perilaku mereka jauh dari itu.

Lalu, apakah mereka juga tidak berpikir jika ketika di SPA ini mereka juga melakukan sesuatu dengan perempuan, yang hanya dilegitimasi sebagai perempuan yang menemani kesepian para laki-laki ini? Sungguh tak adil bagi semua perempuan. Saya sering geram melihat ini, mendengar cerita-cerita yang berseliweran setiap saat.

Apa yang harus dilakukan perempuan? Mencurigai suami melakukan sesuatu, membuat suami marah. Menanyakan sesuatu, dipikirnya istri terlalu banyak mengurusi suami. Namun kebohongan-kebohongan seperti ini terus berlanjut. Padahal istri Han dan pacar Ai tidak pernah tahu soal ini semua.

Dalam perspektif feminis, inilah yang disebut sebagai rantai kekerasan. Kekerasan yang dilakukan tidak hanya pada istri, namun juga anak, menyumbang pada pertumbuhan dan perkembangan anak yang buruk, kekerasan psikis pada istri. Dan kebohongan ini akan menjadi rantai yang panjang. Trauma, kemarahan, sakit hati.

Saya bertanya, apakah laki-laki suami ini tidak pernah melihat ini sebagai persoalan? Apa yang sebenarnya selama ini dalam pikiran mereka?


*Joy Aprilea Ginting, penulis


“Hingga menjelang usia 22 tahun, saya memang belum pernah berpacaran sekali pun. Jangankan berpacaran, didekati laki-laki saja saya sudah merasa risih. Tapi, bukan berarti saya tidak tahu bagaimana perempuan dan laki-laki berpacaran. Beberapa teman perempuan saya sering menceritakan tentang pacarnya masing-masing kepada saya. Pada awalnya, jelas yang mereka ceritakan tidak jauh dari sisi romantis, perhatian, dan segala kebaikan si pacar. Sampai-sampai saya sempat dibuat tergoda untuk merasakan berpacaran karena cerita mereka.”



*Luluk Khusnia- www.Konde.co

Selama ini, sebagian besar orang mengidentikkan Februari sebagai bulan kasih sayang. Setiap di antara mereka berlomba-lomba menunjukkan kasih sayang kepada orang-orang terkasih, atau terkhusus pasangannya masing-masing. Lalu, apa yang sebenarnya sedang kita peringati di bulan Februari ini? Kasih sayang itukah? Kasih sayang yang seperti apa?

Selama ini saya sering tergoda untuk berpacaran. Tapi, beberapa lama kemudian, saya melihat banyak kejadian dan cerita teman-teman perempuan yang berangsur-angsur mulai berubah. Ada yang tubuhnya mulai dipaksa dipegang-pegang si pacar, ada juga yang dipaksa berciuman. Apakah teman-teman saya itu menolak diperlakukan demikian? Jelas tidak. Bagaimana mungkin menolak, ketika si laki-laki justru mengatakan bahwa ajakan itu sebagai bukti atau tanda kasih sayang? Jika tidak mau menuruti ajakan itu, maka si laki-laki akan menganggap si perempuan sudah tidak sayang kepadanya dan mengancam akan memutuskan hubungan saat itu juga.

Saya sampai berpikir, apakah berpacaran semengerikan itu? Apakah seorang perempuan harus tunduk sepenuhnya kepada laki-laki, menuruti semua keinginan laki-laki, bahkan dengan mudah memberikan tubuhnya untuk laki-laki?

Tidak berhenti sampai di cerita teman-teman saya itu, masih ada hal lain yang lebih mengerikan, yang saya temukan ketika sedang melakukan praktik kuliah lapangan di kepolisian: perempuan dan anak-anak di bawah 18 tahun yang dicabuli dan diperkosa oleh pacarnya sendiri.

Lagi-lagi, kasus-kasus itu terjadi dengan pola dan motif yang hampir sama. Ada yang dilakukan saat perayaan hari jadian, hari ulang tahun, perayaan tahun baru, dsb. Si perempuan dibahagiakan hatinya, dibawa ke tempat yang sepi, dibujuk dengan rayuan dan kata-kata sayang, lantas diajak berhubungan seksual. Semua itu dianggap sebagai bukti kasih sayang: kasih sayang yang dikehendaki laki-laki, tapi sebenarnya tidak dikehendaki pihak perempuan. Bahkan, si laki-laki berjanji akan bertanggung jawab dan menikahi si perempuan kalau terjadi hal yang tidak diinginkan setelah berhubungan seksual, seperti kehamilan misalnya.

Namun, apakah janji itu ditepati? Hanya segelintir yang mau bertanggung jawab, itu pun lantaran didesak banyak pihak. Selebihnya, ada yang kabur, ada yang semakin berkelit dalam proses hukum, dsb.

Apa yang telah saya lihat, saya dengar, bahkan saya rasakan, setidaknya telah membuat saya berpikir bahwa selama ini perempuan masih belum memiliki otoritas atas tubuhnya sendiri. Hampir semua di antara perempuan-perempuan yang saya ceritakan itu, berdalih tidak berani menolak bujuk rayu dan kata-kata sayang si pacar ketika diajak bertindak terlalu “jauh”.

Ada yang tidak berani menolak karena mendapatkan ancaman. Ada pula yang tidak berani menolak karena merasa berhutang budi atas semua kebaikan dan kasih sayang yang diberikan oleh pacarnya. Dan pada akhirnya, laki-laki bisa dengan bebas menikmati tubuh si perempuan. Saya kira hal serupa juga terjadi pada perempuan-perempuan lain di luar sana: terpaksa menerima ajakan laki-laki.

Berbicara mengenai kasih sayang, kali ini saya akan coba menunjukkan satu hal yang saya anggap cukup meresahkan. Bagi saya, saat ini kita justru sedang memperingati kasih sayang yang mulai disalahartikan dan disalahgunakan. Ya, dalam peringatan kasih sayang ini, sebenarnya kita juga diingatkan bahwa ada hal yang tidak baik-baik saja di balik sesuatu yang kita namakan kasih sayang.

Apa yang saya katakan ini bukannya tidak beralasan. Dalam Lembar Fakta Catatan Tahunan Komisi Nasional Perempuan (Catahu Komnas Perempuan) yang diterbitkan pada 7 Maret 2017, tercatat ada 259.150 kasus kekerasan terhadap perempuan di sepanjang tahun 2016. Kasus-kasus tersebut ditangani oleh 359 pengadilan agama (245.548 kasus) dan 233 lembaga mitra pengada layanan (13.602 kasus) yang ada di Indonesia. Pada tahun yang sama, 1.022 pengaduan kasus juga masuk di Komnas Perempuan, 903 kasus di antaranya merupakan kasus Kekerasan dalam Rumah Tangga atau relasi personal (KDRT).

Sedangkan pada tahun 2017, Komnas Perempuan menyebutkan bahwa kasus KDRT didominasi oleh kasus perkosaan (1.389 kasus) dan pencabulan (1.266 kasus). Selain itu, 135 kasus perkosaan juga terjadi dalam perkawinan. Pelaku kekerasan seksual tertinggi di ranah KDRT adalah pacar, yakni sebanyak 2.017 orang.

Bukankah sudah seharusnya kita tidak menutup mata dengan fenomena semacam ini? Kasus-kasus yang disebutkan di atas sebenarnya ada dan terjadi di sekitar kita.

Dalam hubungan pacaran misalnya. Berapa kasus pelecehan dan kekerasan seksual yang terjadi dalam hubungan pacaran? Sudah berapa kasus yang kita dengar, terkait seorang perempuan yang dicabuli atau bahkan diperkosa oleh pacarnya? Dan, ada berapa bayi yang terlahir dari hubungan pacaran, lalu perempuan yang harus menanggung semuanya, merawat bayinya sendiri dan laki-lakinya pergi?. Pernahkah kita berpikir bahwa ada di antara kasus-kasus itu yang terjadi atas nama kasih sayang?

Menurut saya, menyerahkan tubuh perempuan pada laki-laki atau bahkan berhubungan seksual, bukan bukti mutlak dari kasih sayang. Meskipun di satu sisi, berhubungan seksual juga bisa mempererat hubungan, tapi coba perhatikan, di luar sana masih banyak pasangan yang kemudian memilih berpisah setelah berhubungan seksual pra-nikah secara paksa.

Ingat, jika kau tidak nyaman dengan “ajakan” pacarmu yang laki-laki itu, maka kau sangat berhak untuk menolaknya. Tanyakan pada dirimu, apakah “ajakan” pacarmu itu bagian dari kasih sayang atau nafsu? Kau punya kendali atas tubuhmu sendiri. Jangan biarkan pacarmu itu dengan mudah menjamahmu atau bahkan membawamu ke atas ranjang, tanpa ada persetujuan darimu. Ada kalanya kau perlu berhati-hati dengan kebaikan, rayuan, ataupun janji dari pacarmu, agar tidak menyesal di kemudian hari…

Jadi, mari kita pikirkan kembali…

Apakah kasih sayang itu dibuktikan ketika bibir laki-laki melumat bibir perempuan secara paksa?

Apakah kasih sayang itu dibuktikan ketika penis laki-laki berhasil memasuki vagina perempuan tanpa ada kesepakatan dari keduanya?

Dan, apakah kasih sayang itu dibuktikan dengan kehadiran janin-janin yang tidak dirawat oleh laki-laki?

Tidak! Bukan itu yang dinamakan kasih sayang…


(Foto/Ilustrasi: Pixabay)

*Luluk Khusnia, Mahasiswi Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang yang sedang menempuh semester akhir S1. Aktif sebagai pers mahasiswa.

File 20180209 51706 idnppx.jpg?ixlib=rb 1.1

Survei menyebutkan LGBT masih disingkirkan secara sosial pada tataran komunitas, tapi lebih diterima secara sosial dalam keluarga.
Africa Studio/shutterstock.com



Irwan Martua Hidayana, Universitas Indonesia

Serangan terhadap orang-orang LGBT (Lesbian, gay, biseksual, dan transgender) di Indonesia meningkat lagi belakangan ini, mengulang perdebatan sengit yang terjadi pada 2016. Hal ini dipicu oleh penolakan Mahkamah Konstitusi terhadap sebuah permohonan untuk melarang perilaku seks pranikah dan seks sesama jenis pada Desember tahun lalu. Upaya untuk melarang perilaku seksual ini sekarang sudah masuk ke Dewan Perwakilan Rakyat yang sedang membahas revisi KUHP (Kitab Undang-Undang Hukum Pidana).


Liputan media kembali menyoroti LGBT sebagai ancaman, degradasi moral, dosa dan bisa dipidana. Di tengah-tengah “kampanye” anti-homoseksualitas, pada 25 Januari 2018 dirilis sebuah survei nasional tentang sikap masyarakat terhadap LGBT. Survei yang dilakukan Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC) ini barangkali adalah yang pertama di bidang ini. Menggunakan multistage random sampling, 1.220 responden diwawancarai dalam survei ini.


Beberapa temuan utamanya meliputi:


• 58,3% responden tahu atau pernah mendengar tentang LGBT.




Dari mereka yang tahu tentang LGBT:


• Mayoritas (87%) menganggap LGBT adalah ancaman.


• 79% merasa tidak nyaman mempunyai tetangga LGBT.


• Sekitar 46% bisa menerima jika anggota keluarga mereka adalah LGBT.


• Sekitar 58% berpandangan bahwa LGBT berhak hidup di negeri ini.


• 50% berpandangan bahwa negara harus melindungi LGBT.






Lebih diterima dalam keluarga


Secara umum, survei ini menunjukkan tingkat inklusi sosial dalam masyarakat Indonesia terhadap LGBT. Inklusi sosial adalah sebuah proses dalam upaya meningkatkan partisipasi individu-individu dan kelompok-kelompok kurang beruntung dalam masyarakat. Inklusi sosial meliputi upaya meningkatkan berbagai peluang, memberikan akses terhadap sumber daya, penerimaan sosial, dan penghormatan hak.


Tampaknya LGBT masih disingkirkan secara sosial pada tataran komunitas, tapi lebih diterima secara sosial dalam keluarga. Survei ini juga menunjukkan bahwa persepsi terhadap orang-orang LGBT dalam masyarakat tidak selalu negatif.


Sayangnya, dalam survei ini tidak jelas apa yang dimaksud dengan “ancaman LGBT”. Ancaman macam apa yang dirasakan orang terhadap LGBT? Mengingat perdebatan-perdebatan yang terus berlangsung tentang LGBT, saya rasa yang disebut “ancaman LGBT” adalah ancaman moral dan LGBT sebagai penyakit.


Di samping itu, istilah LGBT mempunyai beberapa makna bagi masyarakat umum. Pertama, LGBT sering merujuk pada homoseksualitas. Kedua, istilah ini terkait dengan penampilan fisik seperti laki-laki yang keperempuan-perempuanan, perempuan tomboy atau berlintas busana (cross-dressing), terutama waria-perempuan transgender. Ketiga, LGBT kadang-kadang diyakini “menular”, seperti penyakit. Mudah dijumpainya para waria, hingga kadar tertentu, mengurangi stigma. Meski begitu, sering kali mereka menempati status sosial rendah (pekerja seksual, pengamen, penata rambut) dan karena itu waria sering mengalami pelecehan.


Beda survei, beda hasil


Sebuah survei tentang stigma dan inklusi sosial terhadap gay dan waria yang saya lakukan pada 2012 bersama dua kolega dari Universitas La Trobe University, tapi belum diterbitkan, menunjukkan hasil cukup berbeda. Di Jakarta, Makassar, dan Surabaya kami mewawancarai 611 orang di tempat-tempat umum seperti terminal, taman, dan mal. Sekitar 40% responden, yang mengenal gay (waria), merasa tidak nyaman jika anggota keluarga mereka adalah gay (waria). Tetapi, sekitar 22% dari mereka yang mengenal gay (waria) dan 55% dari mereka tidak mengenal komunitas tersebut merasa tidak nyaman hidup berdekatan dengan gay (waria).


Hasil-hasil ini berbeda secara signifikan dengan survei SMRC. Kendati demikian, survei SMRC itu menangkap sikap kemasyarakatan umum yang tampaknya berubah terhadap LGBT. Survei itu mengungkapkan bahwa eksklusi sosial terhadap LGBT meningkat, terutama di tingkat komunitas—sebagaimana ditunjukkan oleh rendahnya tingkat penerimaan memiliki tetangga LGBT.


Penting untuk digarisbawahi bahwa survei dan wawancara kami dengan para informan kunci para 2012 itu mendukung sebuah “hipotesis kontak”. Dalam hipotesis ini mengenal seorang laki-laki gay atau seorang waria terkait dengan respons lebih positif dan manusiawi terhadap mereka. Di antara mereka yang kenal dengan orang gay atau waria, sekitar 60% bisa menerima jika anggota keluarga mereka adalah gay atau waria. Bagaimana pun juga, temuan ini sangat berbeda dengan hasil survei terbaru SMRC tersebut.


Sebagian data kami menunjukkan bahwa bukannya berempati terhadap ketidakberuntungan yang dialami laki-laki gay dan waria, respons yang lebih umum adalah rasa kasihan. Para informan kunci menggunakan rasa kasihan untuk memperlihatkan kepedulian mereka, tetapi sikap ini justru menyebabkan marginalisasi lebih besar, bukan partisipasi dan inklusi yang lebih besar. Sikap ini memperkuat gagasan bahwa gay dan waria—dan LGBT pada umumnya—tidak bisa benar-benar dipahami dari luar.


The ConversationSurvei SMRC tentang LGBT adalah sebuah upaya penting untuk memahami persepsi masyarakat Indonesia. Survei reguler dan lebih ketat sangat perlu dilakukan untuk menangkap dinamika sikap masyarakat terhadap LGBT. Walau banyak dalam data ini yang mencemaskan, data ini juga menunjukkan banyak itikad baik dan optimisme. Lebih dari itu, berdasarkan studi kami, sebagian besar dari mereka yang diwawancarai benar-benar menginginkan yang terbaik bagi komunitas-komunitas tersebut, tapi tak banyak yang punya akses pada model-model produktif dan realistis untuk mencapai inklusi sosial yang lebih besar.


Irwan Martua Hidayana, Associate Professor, Department of Anthropology, Universitas Indonesia


Sumber asli artikel ini dari The Conversation. Baca artikel sumber.


*Kustiah- www.Konde.co

Jakarta, Konde.co- Apa saja kekerasan yang terjadi pada perempuan di internet ? Akhir tahun 2017 lalu Komisi Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) mengadakan forum belajar internal tentang cyber crime dan kekerasan terhadap perempuan. Forum diikuti puluhan orang dari berbagai organisasi dan lembaga swadaya masyarakat.

Nungki, Koordinator Resourch Center Komnas Perempuan, selaku moderator dalam diskusi tersebut mengatakan, dari kliping media yang dilakukan oleh Komnas Perempuan menyatakan bahwa angka kekerasan terhadap perempuan di dunia maya makin naik.

Widuri, Deputi Direktur ICT Watch dan Pegiat Internet Sehat dan Rita Wulandari Wibowo dari Bareskrim Mabes Polri Direktorat Cyber Crime dan Kekerasan Terhadap Perempuan yang hadir sebagai pemateri diskusi tersebut mengatakan bahwa ada beberapa macam bentuk cyber crime: ada yang disebut illegal content, yakni merupakan kejahatan dengan memasukkan data atau informasi ke internet tentang sesuatu hal yang tidak benar, tidak etis, dan dapat dianggap melanggar hukum atau mengganggu ketertiban umum.

Sebagai contohnya adalah morphing, online defamation, cyber grooming, cyber harassment, cyber stalking, cyber pornography, online prostitution, cyber prostitution.

Catatan pengaduan Komnas Perempuan tahun 2014, biasanya yang masuk ke Komnas Perempuan adalah kasus cyber grooming, cyber stalking, cyber harassment, illegal content, cyber bullying dan mix dari beragam bentuk cyber crime di lima bentuk di atas.

"Ini adalah catatan pengaduan, bentuknya tetap sama sampai tahun 2015. Saya belum catat di sini untuk cyber stalking," ujar Nungki.

Setidaknya, lanjut Nungki, untuk cyber stalking ada sekitar 9 perempuan yang mengadu ke Komnas Perempuan. Di antaranya kasus Ibu Nuril di Mataram di mana Komnas Perempuan menjadi saksi ahli di Pengadilan. Kasus ini masuk dalam kategori kekerasan terhadap perempuan di dunia maya dalam tiga bentuk yakni cyber grooming, cyber harassment dan illegal content, juga online defamation.

Ibu Nuril dijerat dengan pasal 27 ayat (1) juncto Pasal 45 Undang-Undang Nomor11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Pasal ini digunakan untuk menjerat dan mengkriminalisasikan Ibu Nuril yang menurut Komnas Perempuan sesungguhnya sebagai korban.

Komnas Perempuan juga mencatat kasus Ibu Prita Mulyasari, Florence, Elfani di Yogyakarta atau Wisni di Bandung.

"Kami mengumpukan kliping tentang cyber crime dari 2012 sampai 2017. Kita lihat angkanya makin naik dari tahun ke tahun dan di tahun 2017 naiknya pesat sekali," kata Nungki.

Kejahatan cyber crime dalam dunia maya adalah paling banyak terjadi di tahun 2017 dengan hampir 80% pemberitaan media dengan berbagai kasus kejahatan.

Pada tahun 2012, 3 % pemberitaan media terkait cyber crime ini munculnya pemberitaan media mengenai trafficking yang dimodifikasi, media sosial menjadi modus trafficking atau perdagangan orang dan penyebaran konten seksual tanpa persetujuan.

Tahun 2013 ada prostitusi online yang sangat viral dan marak sekali. 3% pemberitaan media yang muncul adalah soal prostitusi online dan perempuan Indonesia menjadi incaran kejahatan cyber oleh kelompok Negara Nigeria.

Pada tahun 2014, hampir 5% pemberitaan media terkait kasus penyebaran konten seksual tanpa ijin.

Di tahun 2017 pemberitaan media ada beberapa kasus dari 5 macam kejahatan cyber crime tadi, yang salah satunya Ibu Nuril dengan persekusi.
Komnas Perempuan juga melakukan beberapa kliping media terkait cyber crime di Resource Center. Tahun 2017, hampir 80% pemberitaan media dan kasus-kasus kejahatan cyber crime terhadap perempuan, paling banyak berita pada tahun 2017 adalah tuduhan pencemaran nama baik, kasus UU ITE, kasus penyebaran konten seksual tanpa seijin, kasus lelang perawan dalam aplikasi, memperjualbelikan perempuan secara online, dalam kasus ini pun adanya unsur pornografi dan perdagangan manusia yang dimodifikasi. Ujaran kebencian yang mengakibatkan terjadinya kekerasan seksual terhadap perempuan.

"Ada pengaduan yang viral di video, mahasiswa yang karena HP nya hilang, atau karena pasangannya balas dendam, itu adalah data beberapa kali pengaduan di Komnas Perempuan," ujar Nungki.

(Foto/Ilustrasi: Pixabay)


*Kustiah,
mantan jurnalis Detik.com, kini pengelola www.Konde.co dan pengurus Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta

Luviana- www.Konde.co

Jakarta, Konde.co- Para Pekerja Rumah Tangga (PRT) hari itu mencuci, kemudian menjemur baju. Mereka memasang tali-tali gantungan diantara pintu, tepatnya di tengah halaman Kantor Kemenaker di Gatot Subroto, Jakarta. Baju, kaos bertuliskan peras bajunya, bukan PRT nya tampak berderet diantara tali dan ember cucian.

PRT yang mencuci dan menjemur bajunya ini terjadi pada tanggal 15 Februari 2018 dimana merupakan peringatan hari PRT sedunia. Hujan yang sudah mengguyur Jakarta sejak pagi tidak menghalangi para PRT ini untuk membawa cucian mereka di kantor ini.

Penetapan Hari Nasional PRT setiap tanggal 15 Februari 2007 tersebut dilatarbelakangi peristiwa penganiayaan majikan terhadap PRT Anak bernama Sunarsih hingga meninggal.

Sunarsih adalah PRT anak yang berusia 15 Tahun, berasal dari Pasuruan yang kemudian bekerja di Surabaya. Sunarsih meninggal karena dianiaya majikannya Ny. Ita.

Sunarsih bersama dengan 4 orang kawan PRTAnya bekerja di rumah Ny. Ita. Selama bekerja 6 bulan Sunarsih dan kawan-kawan sering mendapat berbagai jenis kekerasan dari majikannya. Dalam kurun waktu tersebut, ia bekerja lebih dari 18 jam sehari-harinya, upahnya yang tidak diberikan, tidak ada istirahat, libur mingguan, tidak ada akses untuk berkomunikasi, bersosialisasi, diisolasi dalam rumah tidak boleh keluar rumah, tidak mendapat makan secara layak, tidur di lantai jemuran, tidak ada jaminan kesehatan, bekerja dalam situasi yang sangat tidak layak dan manusiawi.
Sunarsih adalah cermin jutaan wajah PRT yang ditinggalkan negara dan bekerja dalam situasi yang tidak layak.

Hal ini juga menjadi refleksi bagaimana perjalanan Rancangan Undang-Undang (RUU) Perlindungan PRT di DPR dan Pemerintah merupakan perjalanan panjang yang sudah terjadi sejak tahun 2004.

Sudah 14 tahun dan 3 periode pemerintahan 2004-2009 ke periode 2009-2014 dan sekarang periode 2014-2019. Dalam waktu 14 tahun perjalanan RUU PPRT yang mandeg, telah bermunculan “Sunarsih-Sunarsih” lain. Sri Siti Marni atau Ani dan 3 orang temannya yang disekap dan disiksa selama 9 tahun. Nur Laela yang disekap dan disiksa 5 tahun. Dan kejadian tragis 2 hari lalu, Adelina yang meninggal di tanah rantau karena siksaan majikan. 14 tahun sudah cukup membuktikan bahwa negara memang telah mengorbankan PRT.

Koordinator JALA PRT, Lita Anggraeni menyatakan bahwa Indonesia sebagai negara dimana jumlah PRT terbesar masih belum ada perubahan apapun terhadap situasi PRT. Berdasarkan Rapid Assesment yang dilakukan oleh JALA PRT (2010), jumlah PRT diperkirakan mencapai 16.117.331 orang. Berdasar survey ILO Jakarta terbaru 2015 sebesar 4,2 juta PRT lokal – bekerja di dalam negeri. Artinya negara benar-benar mengabaikan kesejahteraan 4,2 juta warga Negara yang bekerja sebagai PRT dan keluarganya.

Sejak 25 September 2015, masyarakat dunia secara resmi berkomitmen untuk melaksanakan Agenda 2030 untuk pembangunan berkelanjutan. Pembangunan Berkelanjutan (the 2030 Agenda for Sustainable Development atau SDGs) sebagai kesepakatan pembangunan baru yang mendorong perubahan-perubahan yang bergeser ke arah pembangunan berkelanjutan yang berdasarkan hak asasi manusia dan kesetaraan untuk mendorong pembangunan sosial, ekonomi dan lingkungan hidup. SDGs/TPB diberlakukan dengan prinsip-prinsip universal, integrasi dan inklusif untuk meyakinkan bahwa tidak akan ada seorang pun yang terlewatkan atau “No-one Left Behind". SDGs terdiri dari 17 Tujuan. Dua dari Tujuan SDGs yaitu Tujuan 1 adalah Tanpa Kemiskinan dan Tujuan No. 8 adalah terwujudnya Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi.

“Janji Kampanye Jokowi-JK yang tertuang dalam Visi Misi resmi yang disampaikan ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan disarikan dalam Nawa Cita memasukan UU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga (PPRT) di dalam visi misi. Tak hanya itu pada hari buruh 1 Mei 2014 Jokowi secara langsung menyatakan dukungan untuk disahkannya UU PPRT. Perlindungan bagi Pekerja Rumah Tangga juga dicantumkan di halaman 23 Nawa Cita, yang berbunyi “Peraturan perundang-undangan dan langkah-langkah perlindungan bagi semua Pekerja Rumah Tangga (PRT) yang bekerja di dalam maupun di luar negeri,” kata Lita Anggraeni.

Dalam faktanya, situasi hidup dan kerja PRT sama sekali tidak mencerminkan bahwa PRT menjadi bagian dari Pembangunan Berkelanjutan dan Nawacita itu sendiri. PRT Indonesia justru semakin terdiskriminasi dan bekerja dalam situasi perbudakan modern dan rentan kekerasan. PRT masih belum diakui sebagai pekerja dan mengalami pelanggaran atas hak-haknya baik sebagai manusia, pekerja dan warga negara.

Tercatat oleh JALA PRT di dalam negeri sampai dengan Desember 2017 tercatat 249 kasus kekerasan PRT termasuk pengaduan upah tidak dibayar, PHK menjelang Hari Raya dan THR yang tidak dibayar. Junlah kasus tersebut adalah data yang kami himpun berdasar pengaduan dari lapangan pengorganisasian.

Di samping itu, dari survei Jaminan Sosial JALA PRT terhadap 4296 PRT yang diorganisir di 6 kota: 89% (3823) PRT tidak mendapatkan Jaminan Kesehatan. 99% (4253) PRT tidak mendapatkan hak Jaminan Ketenagakerjaan. Mayoritas PRT membayar pengobatan sendiri apabila sakit termasuk dengan cara berhutang, termasuk berhutang ke majikan dan kemudian dipotong gaji. Meskipun ada Kartu Indonesia Sehat (KIS), namun PRT masih kesulitan dalam mengaksesnya karena tergantung dari aparat lokal untuk menyebut PRT sebagai orang miskin. Selain itu PRT juga tidak mendapatkan jaminan kesehatan dan ketenagakerjaan karena statusnya bukan dianggap sebagai buruh.

“Oleh karena itu kami bersama LBH Jakarta dan Federasi Buruh Lintas Pabrik menuntut pemerintah dan DPR segera mengesyahkan UU PRT, mengakui PRT sebagai buruh dan memberikan kerja layak bagi PRT,” ujar Lita Anggraeni.

*Sinta Lia- www.Konde.co

Jarak Jakarta Bandung apalagi di waktu libur seperti ini, memang tak pernah mengenakkan hati. Kemacetan panjang seperti sesuatu yang harus dinikmati. Apalagi yang bisa dilakukan selain mendengar radio atau musik di mobil.

Pernah dalam sebuah kesempatan, saya bertiga pulang ke Bandung bersama teman-teman perempuan kami. Kami mendengarkan sebuah lagu tentang perselingkuhan yang diputar di salah satu radio. Ada juga lagu yang dinyanyikan oleh penyanyi laki-laki yang melakukan perselingkungan atau Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) untuk istrinya.

“Lagunya sih enak ya, karena semua orang sudah menyanyikan ini. Tapi kalau ingat siapa yang menyanyikan, kog jadi sedih ya lihat perlakuan dia buat istrinya,” ujar teman perempuan saya.

“Nah ini lagi, lagunya tentang perselingkuhan, tetapi laki-lakinya enak karena dialah yang berselingkuh, dan kemudian dia juga yang harus memilih salah satu dari 2 perempuan pacarnya. Duh, beratnya jadi perempuan dan enaknya jadi laki-laki.”

Kami mengumpulkan, ternyata ada sejumlah lagu yang syairnya menuliskan hal ini. Belum lagi cerita seperti ini ada di sinetron, entertainment talkshow, seolah cerita-cerita seperti ini merupakan sesuatu yang biasa. Lumrah jika dilakukan. Padahal menurut kami ini bahaya karena yang mengkonsumsi ini sangat banyak, tiap hari diputar di media, radio, TV, youtube. Apa jadinya jika orang kemudian mempercayai ini sebagai sebuah kelaziman, kebenaran?

“Jadi, laki-laki harus memilih karena selama ini dia ternyata sudah pacaran dengan 2 perempuan sekaligus. Kita tanya dulu laki-lakinya, mau pilih perempuan yang ini atau perempuan yang itu?.”

Ini kalimat yang sering saya dengar dalam sebuah entertainment talkshow di TV.

Media adalah ruang yang paling efektif untuk menyebarkan informasi. Ia bisa menyihir, mengagitasi dan melakukan propaganda pada banyak warga di setiap saat. Jika hal-hal seperti ini kita dengar setiap hari, bahaya jika semua orang mempercayainya dan menjadi ideologi yang ia percaya.

Feminisme menyebut ide ini adalah ide maskulinisme yang melegalkan kekerasan yang dilakukan laki-laki dalam syair lagu dan sinetron. Juga ada ide misoginis yang disebarkan untuk membenci para perempuan

Orang menjadi percaya bahwa laki-laki bebas berselingkuh dan boleh memilih salah satu perempuan yang dipilihnya. Perempuan juga berhak untuk dipilih, harus menjadi korban kekerasan dan tidak boleh marah jika tidak dipilih oleh laki-laki, karena laki-laki dalam lagu-lagu dan acara ini selalu dituliskan sebagai laki-laki yang perkasa dan punya banyak pilihan.

“Sedih khan, masak kita harus mendengar banyolan seperti ini?,’ ujar teman perempuan yang lain.

Dan lagu-lagu, acara-acara seperti ini sangat jauh dari advokasi yang dilakukan kelompok feminis seperti menolak KDRT, menolak kekerasan dalam pacaran, menolak patriarkhi.

Lalu bagaimana cara menghentikannya?

Yang paling mudah mungkin menelepon media yang bersangkutan dan memberikan kritik secara langsung. Cara lainnya yaitu menulis surat pembaca, protes, memberikan masukan, karena lagu atau acara seperti ini sama sekali tidak memberikan pendidikan yang baik bagi masyarakat, apalagi bagi perempuan.

Jika sekarang saja sudah banyak kekerasan yang menimpa perempuan, bagaimana jika lagu seperti ini diputar setiap hari, memenuhi rumah kita, mobil, tempat kita kerja. Saya berpikir jika ini terjadi terus-menerus, tak pelak akan makin banyak perlakuan kekerasan terhadap perempuan.

Maka, jangan segan-segan untuk melakukan kritik secara langsung jika ada lagu, acara-acara seperti ini. Jika tidak sekarang kita mau melakukannya, kapan lagi?


(Foto/ Ilustrasi: Pixabay)

*Sinta Lia, penikmat sastra dan musik. Menuliskan ide-idenya dengan menulis


Luviana- www.Konde.co

Dulu waktu sekolah, merayakan Imlek adalah seperti pulang ke kampung halaman. Banyak sekali yang membawa kue keranjang ke sekolah, dan pasti kita akan makan ramai-ramai, bahkan kita selalu membawa pulang sesudah itu karena selalu banyak sekali kue keranjang yang terkumpul.

Obrolan kami pastinya sekitar Imlek dan kue keranjang: siapa yang memasak kue keranjang ini, kenapa warnanya bisa coklat tua dan ada yang coklat muda. Kenapa rasanya ada yang lembut tapi ada juga yang agak keras. Ngobrol seperti ini selalu membuat kami ingin belajar lebih banyak soal tradisi dari keluarga-keluarga lainnya.

Saking banyaknya yang membawa kue, sampai-sampai jika kue keranjangnya masih tersisa, besoknya kami masih bisa menggorengnya lagi dengan telur dan dimakan lagi beramai-ramai.

Saya selalu hidup di tengah lingkungan yang beragam. Teman sekolah yang berasal dari banyak daerah karena sekolah kami yang berada di tengah kota yang mudah diakses. Juga ketika di rumah, ada 15 anak kost yang berasal dari berbagai daerah. Jadi setiap hari raya apapun, rumah kami selalu ramai untuk tempat berkumpul. Ketika ramadhan, ada hantaran kue. Ketika Natal, selalu ada kue tart demikian juga ketika Imlek datang, selalu ada kue yang datang ke rumah kami. Ibu-ibu kami yang selalu memulai tradisi ini.

Jadi kue, bagi kami bukan saja pusat kegembiraan, tetapi juga menjadi tanda keberagaman karena kami bisa menikmatinya secara bersama-sama. Kami malah menyebutnya bahwa makanan adalah tanda yang bisa menyatukan kami semua.

Tulisan sejahrawan JJ Rizal soal makanan dan keberagaman di Koran Tempo ini selalu mengingatkan saya pada beragamnya makanan, dan tak hanya itu namun sudah menjadi budaya bagi semua orang.

Adalah kue keranjang. JJ Rizal menulis bahwa sudah lebih dua dasawarsa lebaran belakangan ini, di meja hidangan orang Betawi-Jakarta mulai banyak ditemukan kue cina atau kue keranjang yang merupakan kue utama perayaan tahun baru Cina (sin tjia).

“Terang saja kue cina tidak bisa menggantikan simbolisasi dari kue satu, tetapi kue cina yang adalah hidangan utama perayaan sin tjia penganut Sam Kauw (‘tiga ajaran’: Konfusianisme, Taoisme, dan Budhisme), telah membuat hidangan lebaran malah bertambah kuat bobot filosofisnya ihwal pluralisme. Sebab sebelumnya orang Betawi-Jakarta dalam lebaran sudah memasukan kaas stengels, yaitu hidangan natal para Belanda dan Indo penganut Kristen. Banyak cerita yang dituturkan dari orang-orang tua yang hidup di zaman voor de oorlog alias zaman sebelum perang di Jakarta yang mengungkapkan bahwa orang Betawi setiap natal dan tahun baru datang ke rumah orang Indo. Biasanya malam hari. Mereka memberi ucapan selamat dan dijamu. Sebaliknya sinyo dan noni ikut merayakan malam lebaran, bermain petasan dan kumpul-kumpul di kampung. Tuan dan nyonya memberi ucapan selamat lebaran kepada tetangganya orang Betawi.”

Dan kini, saya menemukan kue keranjang ini diantara tahun baru Imlek yang terjadi hari ini. Salah satu teman mengirimkan kue keranjang semalam. Ia mengingat dengan jelas bagaimana dulu setiap kali kami lahap memakan kue keranjang. Teman anak saya juga membagikan kue keranjang di sekolah. Bagi saya inilah kegembiraan kami di tahun baru Imlek hari ini. Walaupun jauh, kami bisa merayakannya bersama-sama. Dan, makan kue keranjang setiap Imlek datang, ini tradisi seru yang selalu ada di tengah kami.

Walau Imlek di tahun ini, kami juga merasakan perbedaan. Di waktu dekat ini, banyak hal yang sudah terjadi. Fundamentalisme agama yang semakin menguat adalah satu fakta yang ada di tengah kami. Mengherankan memang jika semua kegiatan selalu mengatasnamakan agama. Dan ini semakin menguat jika kita lihat saja kalau kita di jalan- jalan di Jakarta, ada banyak spanduk acara yang mengatasnamakan agama, di sosial media ada banyak kotbah agama, di whats app pun yang sifatnya lebih personal daripada facebook, orang juga menuliskan dengan bahasa-bahasa agama.

Teman saya si pengirim kue keranjang menelepon siang ini,”Padahal kalau kita bisa ramai-ramai kayak dulu seru ya, kita ketemu, tidak pernah ngobrolin agamamu apa, agamaku ini, kami suku itu, kamu suku ini, trus kita makan bareng, selesai deh semua.”

Simpel bukan?

Karena dari dulu ibu kita semua, nenek moyang kita sudah mempunyai tradisi untuk menyatukan kita semua, dari menyapa ketika bertemu di jalan, dari mendatangi rumah orang ketika ada perayaan dan diakhiri dengan makanan yang kita masak ramai-ramai.

Sesimpel itu sebenarnya dan tak sulit untuk kita kerjakan, karena para perempuan jaman dulu, ibu-ibu kita sudah terlebih dahulu memberikan pelajaran atas ini: keberagaman melalui kue yang kita makan setiap hari raya tiba.


(Referensi: http://lembagakebudayaanbetawi.com/headline/lebaran-makanan-dan-persaudaraan.html)


“Ketika saya membaca sebuah tulisan yang bercerita tentang pelecehan seksual yang dituliskan oleh seorang perempuan di media, saya langsung tergetar untuk menuliskannya. Inilah saya, pengalaman perempuan dan ibu dari 2 anak perempuan yang juga pernah menjadi korban pelecehan seksual.”


*Rimba Raya- www.konde.co

Tulisan ini saya buat setelah membaca tulisan Ully Siregar di BBC tentang kasus pelecehan seksual yang pernah dialaminya bertahun-tahun lalu. Ully menulis pengalaman kelamnya karena terpantik kasus seorang pasien yang menyatakan dilecehkan oleh seorang perawat di rumah sakit tempat ia menjalani pengobatan.

Saya juga mengalaminya. Juga keponakan saya yang kala itu, saat menjadi korban pelecehan seksual, berumur 11 tahun.

Saat menceritakannya pun, selalu diiringi isakan tangis dan rasa takut. Saya melihat dari tangisannya, mendengar suaranya bergetar saat bercerita, dan saya hanya bisa memeluknya untuk menenangkannya.

Sore itu kami, saya beserta dua keponakan, sedang berbincang tentang rencana berlibur ke luar kota. Kami bersepakat untuk naik kereta. Selain karena keponakan kecil mabuk darat jika naik bus, kereta menurut kami lebih longgar dan lebih menyenangkan jika kami naik kereta.

Keponakan yang besar lebih fleksibel, senang naik kereta tapi juga tak menolak jika naik bus. Yang penting bagi dia jalan-jalan ke luar kota.

Tetapi, sore itu tiba-tiba, seperti marah, dia mengatakan menolak menggunakan bus. Saya penasaran. Saya, yang beberapa kali menjadi korban pelecehan seksual ketika masih kanak-kanak, remaja, dan dewasa paham betul bagaimana rasanya dilecehkan. Dan saya berpikir pasti tak mudah bagi anak- anak menceritakan kejadian memalukan dan menakutkan kepada orang lain bahkan kepada orang terdekat sekalipun. Malu, takut disalahkan, dan banyak perasaan campur aduk berkecamuk.

Saya lantas meminta adiknya yang sedang berbaring di samping untuk keluar membelikan susu di warung samping rumah. Saya beranggapan mungkin keponakan besar bisa bicara jika hanya berdua dengan saya.

Dan dalam keadaan menangis dia mulai bercerita. Saya memeluknya dan tidak memaksanya untuk bercerita.

Pertanyaan saya, " Kenapa tidak mau naik bus mbak? (saya memanggil keponakan saya mbak untuk memanggilkan anak-anak saya. Karena dia anak kakak saya)."

Namun pertanyaan ini justru dijawab panjang lebar dengan berurai air mata.

"Saya nggak mau naik bus tante. Seminggu lalu, di bus pas perjalanan dari kampung ke Jakarta pahaku digerayangi bapak-bapak yang duduk di sampingku. Aku sudah mengibaskan tangannya, tapi dia mengancam. Aku ketakutan tante. Aku nggak berani bilang ke ibu. Karena dia mengancam".

Katanya laki-laki itu duduk di samping kanannya. Ibu dan adik laki-lakinya duduk di sebelah kirinya. Jadi, keponakan duduk di tengah.

Lelaki itu mulai menggerayangi saat hari mulai gelap. Ibunya yang diberi sinyal dengan dicubit, disenggol dengan badan tak merspon. Ibunya mengira anaknya yang besar sedang sakit kepala, sehingga hanya menyuruhnya menyandarkan kepalanya.

Dan menurut keponakan besar, ibunya memang terlampau sibuk mengurus adiknya yang mabuk sejak naik bus hingga hendak turun. Akhirnya keponakan mendiamkan perbuatan lelaki di sampingnya menggerayangi pahanya sampai dia bersama ibu dan adiknya turun dari bus.

Pengalaman pahit yang dialami keponakan saya tak akan terlupakan sepanjang hidupnya. Karena saya pun pernah merasakan ketakutan seperti yang keponakan saya alami.


Saya Juga Mengalaminya

Saya pun pernah menjadi korban kekerasan seksual. Saat itu saya berusia sekitar 8 tahun. Di suatu siang, usai pulang sekolah seorang tetangga yang usianya 10 tahun lebih tua dari saya menggandeng dan mengajak saya pergi ke halaman belakang rumah tetangga. Dalam perjalanan, yang mengendap-endap, dia meraba dada. Karena kaget saya melepaskan pegangannya dan lari terbirit ketakutan.

Saya tak pernah menceritakan peristiwa ini. Baik kepada keluarga atau teman. Karena, lelaki itu anak seorang guru yang dihormati dan disegani di desa saya. Orang-orang di desa saya juga menilai lelaki itu orang baik-baik, kalem, ramah, santun. Saya takut dianggap mengada-ada jika menceritakan kelakuannya yang sebenarnya.

Saya sering melihatnya, karena rumahnya memang tak jauh dari rumah saya. Yang membuat saya merasa aneh dan miris, jika bertemu saya, lelaki itu seperti merasa tak bersalah dan seperti tak pernah melakukan dosa. Mungkin dia menganggap saya kala itu anak ingusan yang akan mudah lupa.

Pelecehan sekual kembali saya alami saat duduk di kelas tiga sekolah menengah atas. Saya ingat betul, pelakunya adalah teman kakak sepupu.
Sambil menunggu kelulusan sekolah, kakak sepupu saya yang menjadi anggota TNI mengajak saya, dua tetangganya laki-laki dan perempuan dan seorang teman yang juga tetangganya seorang anggota polisi untuk camping di hutan sekitar 25 kilometer dari rumah saya.

Saat itu hutan di dekat tempat saya tinggal masih lebat, pohon jatinya besarnya empat pelukan orang dewasa menjulang tinggi.

Di hari terakhir saat menyalakan api unggun teman kakak sepupu saya yang anggota polisi tiba-tiba duduk di samping saya. Saya masih ingat, betapa kaget dan takutnya saya ketika tangannya mengelus paha saya. Saat itu saya mengenakan celana jins. Tetapi, meski paha terbungkus bahan jins, kekagetan yang tiba-tiba menjalar ke kepala tetap tak bisa saya hindari.

Saya shock, ingin marah, teriak, tapi suara seperti tercekat. Saya hanya refleks mengibaskan tangannya. Pelaku menarik tangannya ketika kakak saya mendekat hendak memberikan kopi.

Sejak peristiwa itu, saya tak pernah bersedia menemui pelaku ketika beberapa kali masih berani-beraninya mendatangi rumah saya yang entah apa tujuannya. Saya tak menceritakan peristiwa malam itu bahkan ke kakak atau ibu saya.

Sama seperti yang dikatakan Ully Siregar, andai saja kita diberikan keberanian untuk memberitahukan pengalaman pahit kepada orang terdekat, baik itu keluarga atau teman, mungkin setidaknya korban kejahatan seksual bisa dihindari. Bisa jadi jika saya bercerita, maka tak akan ada korban lagi. Karena, pelaku kejahatan seksual tak akan diam begitu saja tanpa memangsa korban berikutnya.

Saat dewasa saya sering berpikir, pasti banyak predator seks yang mengintai anak-anak yang lepas dari pantauan keluarga di luar sana. Jadi, jika kita sudah waspada menghindari kejahatan seksual seharusnya pemerintah memayungi semua warganya dengan regulasi.

Rancangan Undang-undang Penghapusan Kekerasan Seksual mestinya segera disahkan untuk memberikan perlindungan kepada semua warga negaranya.


(Foto/Ilustrasi: Pixabay)

*Rimba Raya (bukan nama sebenarnya),
ibu dari 2 anak perempuan.

Sejumlah iklan di televisi, di media cetak, di sosial media menunjukkan bahwa valentine selalu diidentifikasi sebagai kasih sayang antara laki-laki dan perempuan. Seolah hanya kasih sayang yang terjadi antara kelompok heteroseksual saja.

Yang kedua, kenapa valentine selalu dirayakan dengan pesta di hotel dan resto-resto? Dengan hadiah coklat dan bunga yang dibungkus pita-pita mahal warna merah dan pink? Sejuta rasanya.

Padahal ada banyak valentine yang bisa kita rayakan dengan cara berbeda.

Valentine sebenarnya tidak hanya ungkapan kasih sayang antara laki-laki dan perempuan, namun untuk semua orang, dari saudara, teman, adik dan kakak, tak peduli dari kelompok heteroseksual maupun bukan. Sian Ferguson dalam everydayfeminism.com menuliskan pertanyaan dan harapan-harapannya tentang valentine yang biasa dirayakan setiap tanggal 14 Februari.


1. Valentine dan Relasi Anda

Bagaimana dengan relasi anda? Apakah ada penindasan di dalamnya? Apakah ada pemaksaan-pemaksaan yang membuat anda merasa tidak nyaman? Hari kasih sayang bisa dilakukan untuk perenungan atas ini, perjuangan atas ini.


2. Mencintai dan Merawat Diri Sendiri

Ini hal yang sering kita lupakan, yaitu mengurus diri sendiri. Padahal ini benar-benar penting untuk memberikan diri anda untuk dicintai, karena anda berhak mendapatkan perawatan yang layak anda dapatkan. Di hari valentine seperti hari ini anda bisa mengambil waktu untuk melakukan hal-hal kecil yang membuat anda merasa baik, seperti mencoba beberapa makanan lezat, membaca, atau praktek membuat kerajinan tertentu.

Atau Anda bisa mengambil waktu untuk merencanakan dan berkomitmen untuk menciptakan rutinitas perawatan diri jangka panjang.

Jika kita memikirkan kembali Hari Valentine menjadi sekitar cinta dalam segala bentuknya, luangkan waktu untuk menunjukkan beberapa cinta untuk orang yang paling penting dalam hidup anda: Anda.


3. Valentine, Perayaan dan Assesoriesnya

Salah satu hal tentang hari Valentine adalah bahwa hal itu sangat dikomersialisasikan. Valentine tiba-tiba berubah menjadi cara untuk memanipulasi orang ke dalam pengeluaran uang atas nama cinta. Padahal ada persoalan disana, yaitu bagaimana banyak orang sudah mengkomersilkan sesuatu yang berhubungan dengan cinta, yaitu seolah menyamakan kemampuan untuk membeli dengan kemampuan untuk mencintai.

Ini juga sangat materialistis bahwa kita menyamakan daya beli dengan cinta. Masyarakat sering mengabadikan gagasan bahwa pengeluaran uang pada seseorang adalah satu-satunya cara untuk menunjukkan cinta, dan banyak dari kita tahu itu tidaklah benar.

Tapi kebanyakan dari kita masih menginternalisasi pesan menyakitkan ini: jika anda tidak menghabiskan uang pada seseorang, anda berarti tidak benar-benar mencintai mereka. Hari valentine ini, menjadi subversif. Mengekang dorongan untuk menghabiskan banyak uang atas nama cinta yang dikomersialisasikan.

Tetapi jika Anda masih ingin memberikan hadiah pada hari valentine, anda bisa membuat mereka sendiri. hadiah Handmade - kartu, rajutan, barang-barang rumah tangga dan sebagainya - yang selalu benar-benar manis.


4. Komunitasmu

Komunitasmu adalah orang-orang yang selama ini berada di sekelilingmu. Mereka adalah orang-orang yang selalu mendukungmu. Kamu bisa melakukan ini bersama-sama komunitasmu, misalnya menyediakan buku-buku untuk anak-anak secara gratis di hari valentine ini, mengunjungi panti jompo bersama-sama, atau sekedar membersihkan sampah secara bersama-sama.

Keterlibatan komunitas selalu harus datang dari tempat cinta yang berpusat pada kebutuhan bersama.


5. Rayakan Valentine dengan semua cinta

Hari valentine bisa menjadi waktu yang tepat untuk merayakan persahabatan, hubungan keluarga dekat, dan hubungan yang penuh kasih.

Kirimkan surat pada saudara untuk mengingatkan mereka betapa anda menghargai mereka. Pergi keluar untuk makan malam dengan teman-teman terbaik anda. Kunjungi kakek-nenek anda untuk minum teh. Jika anda memiliki anak-anak dalam hidup anda, mungkin anda ingin membawa mereka ke pantai, taman, atau menonton film. Memberikan hadiah kecil untuk rekan kerja anda atau tetangga juga bisa anda lakukan.


6. Luangkan Waktu Untuk Hubungan Spesial dengan Teman atau Saudara yang Selama ini Jauh dari Anda

Apakah ada seseorang yang anda jadikan teman dekat atau tempat untuk curhat selama ini, tapi anda tidak pernah sempat untuk meminta mereka datang atau bertemu? Mungkin ada teman anda yang belum banyak anda temui selama ini . Mengapa tidak menggunakan hari valentine untuk menemui mereka?

(Foto/ Ilustrasi: Pixabay)

(Disadur dari tulisan Sian Ferguson, is a Contributing Writer at Everyday Feminism and a queer, polyamorous, South African feminist who is currently studying towards a Bachelor of Arts majoring in English and Anthropology. Originally from Cape Town, she now studies at Rhodes University in Grahamstown, where she works as vice-chair of the Gender Action Project dalam http://everydayfeminism.com/2016/02/feminist-valentines-day-ideas/)



*Aprelia Amanda- www.Konde.co

Jakarta, Konde.co - Rencana DPR RI yang akan mengesahkan Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RKUHP) pada 14 Februari 2018 esok, ditentang banyak pihak.

Organisasi masyarakat sipil yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Sipil Tolak R-KUHP yang melakukan aksi di depan gedung DPR RI pada Senin, 12 Februari 2018 menyatakan bahwa RKUHP bersifat menjajah dan akan melakukan kriminalisasi terhadap warga negara Indonesia. Selain itu tidak berpihak pada perempuan, anak, minoritas agama, Orang dengan HIV/AIDS atau Odha dan kelompok marjinal lainnya. Hal ini akan membunuh ruang demokrasi dan mengekang kebebasan bereskpresi, mengancam program kesejahteraan rakyat.

Aliansi juga melihat bahwa diterbitkannya RKUHP ini juga menunjukkan tidak berpihaknya DPR pada lembaga independen negara seperti KPK, BNN, Komnas HAM dan Komnas Perempuan.

Komnas Perempuan sendiri juga mengajak untuk berdiskusi mengenai 4 isu penting yaitu, perluasan zina, kriminalisasi hidup bersama, pemidanaan Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) dan pemajuan HAM Perempuan jika RKUHP ini disyahkan. RKUHP sejatinya tidak hanya meminggirkan para LGBT namun juga kelompok rentan lainnya.

Dalam diskusi yang dilakukan 7 Februari 2018 lalu di Komnas Perempuan, 5 komisioner Komnas Perempuan yaitu Khariroh Ali, Mariana Amiruddin, Nina Nurmila, Magdalena Sitorus, serta Wakil Ketua Komnas Perempuan Yuniyanti Chuzaifah menyatakan Komnas Perempuan melihat adanya sejumlah masalah dalam beberapa pasal di dalam RUU RKUHP. Di sosial media juga ramai yang membahas tentang RUU KUHP karena RUU ini berpotensi mempidanakan warga negara terutama kelompok marjinal, miskin, anak dan perempuan.

“Komnas perempuan merasakan bahwa semakin banyak kelompok yang bernafsu mempidanakan orang. Masalah yang harusnya berada di ruang pendidikan dan budaya, tetapi dimasukkan ke ruang kriminal”, ucap Mariana Amiruddin, Komisioner Komnas Perempuan.

Rumusan norma Pasal 488 RUU KUHP berpotensi mengkriminalisasi pasangan yang terikat perkawinan namun belum dianggap sah karena belum tercatat oleh negara seperti perkawinan adat atau perkawinan penghayat kepercayaan.

Pasal tersebut akan berpotensi mengkriminalisasi perkawinan yang sah menurut agama/ kepercayaan namun terhalang mendapatkan pencatatan dari negara karena perbedaan agama dan keyakinan, ketidakmampuan menjangkau instansi pencatatan sipil dan juga ketidakmampuan membayar administrasi yang dipersyaratkan.

Padahal menurut data dari Perempuan Kepala Keluarga (PEKKA), dalam pertahun ada sekitar 2 juta pasangan yang tidak bisa mendapatkan akte nikah karena berbagai faktor, oleh sebab itu pengesahan pasal ini akan berakibat mengkriminalisasi banyak orang.

Pasal 488 RUU KUHP juga berpotensi mengkriminalisasi perempuan yang menjadi istri kedua dan seterusnya dalam perkawinan dengan istri lebih dari seorang.

Komnas Perempuan menegaskan ketidaksetujuannya dengan praktek poligami dan praktek kejahatan perkawinan yang dibungkus dalam makna poligami, karena poligami merupakan akar kekerasan terhadap perempuan. Dan Komnas Perempuan juga tidak setuju dengan kriminalisasi pasangan yang melakukan poligami. Karena menurut Komnas Perempuan, hukum seharusnya melindungi seluruh masyarakat, tidak hanya kelompok tertentu, terutama masyarakat yang rentan yang tidak memiliki akses pelayanan publik.

Dalam RUU KUHP juga terdapat norma baru mengenai perzinaan pada Pasal 284. Norma baru tersebut diatur dalam pasal 484 ayat 1 huruf e. Pada dasarnya kata “zina” dalam pasal 284 KUHP yang diadopsi oleh Pasal 484 KUHP berasal dari Bahasa Belanda yaitu overspel. Menurut Van Dale’s Groat Woordenboek Nederlanche Taang, kata overspel berarti echbreuk, schending ing der huwelijik strouw yang artinya pelanggaran terhadap kesetiaan perkawinan.

Pakar hukum pidana berbeda pendapat dalam menerjemahkan overspel. Ada yang menggunakan istilah zina, ada juga yang menggunakan kata mukah (permukahan) atau gendak. Padahal perzinaan bersifat umum, artinya semua hubungan diluar perkawinan adalah zina tapi belum tentu bermukah. Terjemahan overspel sebagai mukah digunakan dalam terjemahan KUHP hasil karya Moelyanto, Andi Hamzah, R. Soesilo, Soenarto Soerodibroto atau terjemahan KUHP dari Badan Pembinaan Hukum Nasional (BPHN). Selaras dengan terjemahan ini, padanan kata yang tepat dengan bahas inggris dari kata overspel adalah adultery. Hal ini berbeda dengan padanan kata yang dimaksud sebagai perzinaan dalam pasal 484 yaitu fornication yang sangat berbeda makna dengan overspel dan adultery.

Overspel yang diadopsi dalam pasal RUU KUHP mempunyai pengertian yang berbeda dengan zina yang dimaksud dalam hukum islam. Semua hubungan kelamin di luar nikah adalah perbuatan keji menurut hukum islam yang disebut sebagai zina. Indonesia akan dianggap mundur jika tetap merumuskan perbuatan fornication yang bukan permukahan (overspel) sebagai tindak pidana permukahan, karena banyak negara yang sudah menghapuskan tindak pidana tersebut karna dianggap sebagai tindak pidana tanpa korban (victimless crime).

Rumusan Pasal 484 bukan mengatur tentang mukah (overspel), namun mengatur fornication, yaitu persetubuhan antara laki-laki dan perempuan yang dilakukan secara suka rela dimana belum ada ikatan perkawinan yang sah.

“Komnas Perempuan bukan pro terhadap zina, sebab perzinaan juga mengundang kekerasan bagi perempuan, yang Komnas Perempuan tidak setujui adalah kriminalisasi berlebih terhadap kasus-kasus yang ceroboh”, ucap Wakil Ketua Komnas Perempuan, Yuniyanti Chuzaifah.

Kriminalisasi terhadap perzinahan berdampak pada efektifitas hukum terhadap kasus pemerkosaan. Semakin sulitnya pembuktian pemerkosaan akan membuahkan tuduhan zina kepada perempuan. Dengan demikian maka pasal ini akan berpotensi mengkriminalisasi korban perkosaan, menghalangi korban mengakses keadilan dan juga menghalangi perempuan untuk melaporkan kasus pemerkosaan. Meskipun pasal ini bebas gender, pada prakteknya sering diarahkan kepada perempuan dan anak perempuan yang akhirnya menyebabkan kekerasan dan diskriminasi kepada mereka.

Hal lain yaitu terdapatnya tiga pasal dalam RUU KUHP dalam paragraf perkosaan dan pencabulan yang menyertakan frasa, “dan belum kawin” pada rumusan normanya, yang tidak sejalan dengan upaya pencegahan perkawinana anak, yaitu pasal 490, 496, dan 498. Dampaknya akan terjadi ketidakadilan bagi korban karena apabila pelaku melakukan pencabulan terhadap korban yang sudah kawin, maka pelaku tidak dapat dipidana.

RUU KUHP ini juga dianggap bisa meningkatkan jumlah perkawinan pada anak. “Anak tetap anak karena usianya, bukan karena statusnya”, tutur Magdalena Sitorus, Komisaris Komanas Perempuan.

Maka dari itu Komnas Perempuan menyarankan untuk menghapus frasa “dan belum kawin” pada ketiga pasal tersebut.

Nina Nurmila, Komisaris Komnas Perempuan menghawatirkan dampak dari RUU KUHP terhadap social chaos yang ditimbulkan. Kemungkinan persekusi akan mudah terjadi dengan alasan untuk pelaksanaan peraturan ini. Fitnah-fitnah bisa terjadi karena ada unsur kebencian.

Dari pengalaman organisasi-organisasi perempuan, terdapat tujuan yang bersifat patriarkis yang memelintir sebuah masalah, misalnya isu LGBT yang seringkali dijadikan kambing hitam guna menutup hak perempuan.

“Komnas Perempuan ingin agar setiap warga negara bebas dari ketakutan, kekerasan, dan mendapat perlakuan hukum yang adil. Bagi Komnas Perempuan kekerasan tetap kekerasan baik orang itu hetoroseksual ataupun homoseksual. Maka Komnas Perempuan menyarankan ditunda pengesahannya. RUU KUHP harus digodok lagi untuk menemukan rumusan yang lebih tepat agar tidak terjadi kriminalisasi berlebih di masyarakat,” kata Yuniyanti Chuzaifah.


(Media biefing dan diskusi tentang RKUHP yang diadakan Komnas Perempuan Jakarta pada 7 Februari 2018/ Foto: Aprelia Amanda)


*Aprelia Amanda, Mahasiswa IISIP Jakarta dan pengelola www.Konde.co