File 20180816 2912 1tc55yj.jpg?ixlib=rb 1.1

Tarian tradisional Indonesia Reog Ponorogo menggambarkan hubungan sesama jenis yang intim antara dua karakter, warok (laki-laki dewasa) dan gemblak (pemuda laki-laki).
shutterstock



Irwan Martua Hidayana, Universitas Indonesia

Masyarakat Indonesia seringkali memahami gender dan seksualitas secara biner–pria dan wanita, maskulin dan feminin–tanpa mempertimbangkan jenis kelamin dan seksualitas lainnya.


Heteroseksualitas diakui sebagai orientasi seksual yang “normal”, jika bukan sesuatu yang wajib. Sedangkan homoseksualitas dan biseksualitas dianggap tidak dapat diterima. Karena itu, gencarnya serangan terhadap LGBT (lesbian, gay, biseksual, dan transgender) belakangan ini) tidaklah mengherankan, terutama dalam media.


Namun, orang-orang harus memahami bahwa keberagamaan gender dan seksualitas melekat pada masyarakat Indonesia.


Keberagaman gender di Indonesia


Secara budaya, orang Indonesia telah mengakui keragaman seksual dan gender sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari mereka.


Indonesia memiliki sejarah homoseksualitas dan transgender yang kaya. Fakta ini tentunya bertentangan dengan kepercayaan umum bahwa mereka adalah “kiriman dari Barat”.


Sudah saatnya orang-orang menyadari bahwa homoseksualitas dan transgender bukanlah produk yang datang dari Barat. Budaya Indonesia telah lama terbiasa dengan keragaman gender sebelum datangnya kolonialisme dan modernisasi yang memberikan pengaruh kuat pada masyarakat.


Mari kita lihat masyarakat Bugis di Sulawesi Selatan dengan keberagamaan gendernya. Sejak era sebelum Islam masuk, orang-orang Bugis telah mengakui lima jenis gender. Mereka membagi masyarakat berdasarkan gendernya menjadi laki-laki (oroane), perempuan (makkunrai), laki-laki menyerupai perempuan (calabai), perempuan menyerupai laki-laki (calalai), dan pendeta androgini (bissu).


Kemiripan juga terjadi di provinsi yang sama pada masyarakat Toraja. Mereka mengakui gender ketiga,yang disebut to burake tambolang.


Antropolog Hetty Nooy-Palm menyatakan masyarakat Toraja percaya bahwa para pemimpin agama yang paling penting dalam budaya mereka adalah seorang wanita, atau burake tattiku, dan seorang pria berpakaian sebagai seorang wanita, atau burake tambolang.


Di masa lalu, pemimpin agama transgender di Toraja dan Bugis memainkan peran penting dalam komunitas mereka. Bissu dan to burake. Mereka memimpin upacara spiritual atau ritual panen di desa-desa. Masyarakat akan mengagumi dan menghormati sebuah desa yang memiliki to burake.


Sayangnya, tradisi ini telah terkikis oleh nilai-nilai modern dan pendidikan yang dibawa oleh kolonialisme.


Praktik seks sesama jenis juga telah lama hadir di Indonesia.


Beberapa suku di tenggara Papua–mirip dengan suku-suku di dataran tinggi sebelah timur Papua Nugini–melaksanakan “ritual homoseksualitas”. Praktik ini meminta pemuda laki-laki melakukan oral seks pada laki-laki yang lebih tua sebagai bagian dari ritual mereka menuju kedewasaan. Mereka percaya bahwa air mani adalah sumber kehidupan dan intisari dari maskulinitas, sehingga penting bagi pemuda laki-laki untuk menjadi pria yang sejati.


Di Jawa Timur, pertunjukan tarian tradisional Reog Ponorogo menunjukan hubungan intim antara dua karakter, warok dan gemblak. Penari laki-laki utama, atau warok, harus mengikuti aturan maupun ritual fisik dan spiritual yang ketat.


Dalam aturan ini, seorang warok dilarang berhubungan seksual dengan seorang wanita. Tetapi dia diizinkan untuk melakukan hubungan intim dengan karakter anak laki-laki muda, atau gemblak, dalam pertunjukan tarian tersebut. Meski pun warok dan gemblak terlibat dalam perilaku sesama jenis, mereka tidak mengidentifikasi diri mereka sebagai homoseksual. Saat ini, karakter gemblak mulai dimainkan oleh perempuan.


Dalam pertunjukan drama tradisional Jawa lainnya seperti ludruk dan wayang orang, laki-laki memainkan peran perempuan atau sebaliknya adalah hal yang biasa.


Perubahan gender dalam konteks global


Tradisi keberagamaan gender di Indonesia yang kaya dan unik telah berkurang karena kolonialisme. Kolonialisme mendefinisikan ulang konsep gender dan seksualitas menurut agama dan nilai-nilai modern.


Agama modern sangat menekankan heteroseksualitas dalam pernikahan. Seks dianggap sebagai masalah moral, sehingga seks yang terjadi di luar pernikahan atau antara pasangan non-heteroseksual adalah tindakan yang tidak bermoral.


Homoseksualitas telah dilarang di bawah kolonialisme Belanda. Meski pun Indonesia tidak memiliki undang-undang khusus tentang homoseksualitas, homoseksualitas pada umumnya tidak dapat diterima.


Namun, globalisasi telah membawa dimensi baru terhadap identitas seksual dan gender. Kategori baru seperti lesbian, gay, transgender, queer dan interseks telah masuk dalam kosa kata kita. Istilah LGBT mulai populer beberapa tahun belakangan, terlepas dari pro-dan-kontranya.


Informasi yang luas melalui internet dan media sosial memberikan wacana yang relatif dinamis tentang identitas gender di Indonesia.


Di internet, kita dapat menemukan istilah-istilah yang berbeda untuk mengakomodasi keberagamaan gender. Orang-orang memperkenalkan istilah seperti lesbi, yang mengacu pada lesbian, dan tomboi, atau perempuan maskulin. Di Sumatera Barat, mereka mengembangkan istilah seperti butch, femme, dan andro yang mengacu pada lesbian urban. Ada juga istilah-istilah seperti hunter (lesbian maskulin) dan lines atau lesbian feminin dari Sulawesi Selatan. Istilah lain termasuk waria (wanita transgender), priawan (pria transgender), transmen (pria trans) dan transpuan (wanita trans).


Istilah baru ini menunjukkan bahwa reaksi orang-orang terhadap keberagaman gender cukup bervariasi. Diskusi dinamis seputar topik ini juga menunjukkan “hasrat seksual yang lebih dari sekadar pengkategorian gender saja”.


Perdebatan yang muncul di internet menunjukkan bagaimana teknologi dan globalisasi telah berhasil meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap gender dan identitas seksual yang mengikuti konteks budaya lokal.


Bimo Alim turut berkontribusi dalam penerbitan tulisan ini


Catatan Editor: Tulisan ini telah diperbarui untuk memperbaiki kesalahan mengenai definisi varian-varian gender di budaya Bugis.The Conversation


Irwan Martua Hidayana, Associate Professor, Department of Anthropology, Universitas Indonesia


Sumber asli artikel ini dari The Conversation. Baca artikel sumber.


Poedjiati Tan - www.konde.co
Akhir-akhir ini ramai tagar atau perdebatan mengenai uang seratus ribu dapat apa. Hal ini terjadi setelah pernyataan Calon Wakil Presiden Sandiaga Uno yang mengatakan uang Rp 100 ribu saat ini hanya bisa untuk beli cabai dan bawang. Keluhan itu, menurut Sandiaga, disampaikan salah seorang ibu di Pekanbaru, Riau, yang mengeluh tentang naiknya harga sejumlah kebutuhan pokok akibat melemahnya rupiah terhadap dolar. Pernyataan bernuansa politik ini tidak saja menjadi bahan perdebatan antara yang pro dan kontra, tetapi lebih dari itu perempuan juga yang menjadi objek dan sekaligus korban dari pernyataan itu.

Dalam sebuah talk show di tv swasta yang menchallenge dua kubu perempuan untuk belanja dengan uang seratus ribu bisa dapat apa. Sebetulnya bukan nilai nominalnya sebab tiap orang berbeda dalam melihat sebuah nilai uang dan tergantung dari kelas, lokasi tempat tinggal.  Memang selama ini perempuan selalu menjadi alat atau kendaraan untuk perubahan ekonomi ataupun politik. 
Perempuan memang selalu yang paling berdampak bila terjadi keguncangan ekonomi. Hal ini terjadi karena perempuan yang diberikan tanggung jawab untuk mengatur keuangan keluarga. Sebagai seorang istri dianggap harus mampu mengatur gaji suami berapapun itu nilainya. Cukup atau tidak uang yang diterima, istri harus bisa menyajikan makan kepada keluarganya, membayar uang sekolah anak, membayar tagihan dan lainnya.   

Kehebohan uang seratus ribu dapat apa, menuai berbagai komen baik dari perempuan maupun laki-laki. Bahkan ada laki-laki yang mengatakan kalau istri belanja seratus ribu hanya dapat cabe dan bawang saja maka 2019 ganti istri. Polemik ini jadi seperti mengadu antar perempuan dan memojokan perempuan yang dianggap tidak becus mengatur uang.

Pada masyarakat yang patriarki mengatur keuangan dianggap tugas seorang istri dan suami seperti tidak mau tahu kesulitan istri dalam mengatur keuangan. Belum lagi stigma terhadap perempuan yang sering dianggap boros dan suka belanja. Padahal bila pasangan suami istri mau berbagi peran dalam tugas domestik dan juga pengaturan keuangan bersama tentu tidak akan menjadi beban seorang istri.

Perempuan tidak akan menjadi menjadi objek dan agenda politik bila perempuan diberikan akses ekonomi, akses pendidikan dan juga dilibatkan dalam pembuatan kebijakan. Rendahnya tingkat pendidikan perempuan juga menjadi kendala bagi perempuan dalam kemampuan mengolah keuangan rumah tangga atau berpartisipasi dalam pembangunan.  


*Tiasri Wiandani – www.Konde.co

Perempuan sebagai struktur kedua dalam lingkungan sosial masyarakat sangat rentan mendapat perlakukan diskriminasi. Banyak data menunjukkan hal ini. Dalam bidang politik, ekonomi, sosial dan budaya menempatkan perempuan dalam posisi yang lebih buruk dan lemah dibanding dengan laki-laki.

Diskriminasi terhadap perempuan telah berlangsung secara terus-menerus dalam hukum, masyarakat (public) maupun dalam keluarga (private). Hal ini terjadi merupakan akibat dari warisan sejarah panjang yang menempatkan perempuan sebagai kelompok kedua setelah laki-laki.

Artikel 2 dalam Deklarasi Universal HAM (DU HAM) secara jelas tidak memperbolehkan adanya perbedaan berdasarkan jenis kelamin, akan tetapi DU HAM juga tidak memberikan perhatian pada perempuan. Dalam artikel 7 Kovenan Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya hanya melindungi perempuan sebatas dalam memperoleh perlakuan upah yang sama di sektor publik (tempat kerja), tetapi tidak menyangkut persoalan terhadap kekerasan perempuan di sektor privat.

Karena kelemahan- kelemahan UN Declaration of Human Right, untuk mengupayakan perlindungan bagi perempuan maka sesudah tahun 1948 dibentuk CSW (Commision on the Status of Women) sebuah komisi yang bertugas untuk mempersiapkan rekomendasi dan lapporan pada U.N untuk meningkatkan status perempuan di bidang politik, ekonomi, sipil, sosial, dan pendidikan. Eleoners Roosevelt (Istri Presiden Amerika) waktu itu yang ikut membuat rancangan DUHAM, menyadari bahwa ternyata persoalan perempuan tidak tercover atau tidak dilindungi di dalamnya. Kemudian Eleoners Roosevelt membentuk suatu komisi yakni Commission on the Status of Women (CSW) untuk mempersiapkan Undang-undang atau konvensi yang bisa melindungi perempuan berdasarkan laporan-laporan atau kasus-kasus terhadap perempuan seperti penindasan, marginalisasi di bidang politik, ekonomi, sosial, budaya dan pendidikan. Komisi tersebut menghasasilkan konvensi hak politik perempuan pada tahun 1953. Hak politik perempuan dimaksud adalah hak bagi perempuan untuk ikut memilih dan dipilih dalam pemilihan umum serta menjadi anggota parlemen yang harus diambil atau dijadikan hukum bagi semua anggota PBB.

Tahun 1957 muncul konvensi tentang hak warga negara bagi perempuan menikah tidak harus mengikuti warga negara suaminya, tetapi berhak memilih dan menentukan warga negara sesuai pilihannya. Tahun 1960 UNESCO mendesak PBB untuk mengeluarkan konvensi anti diskriminasi pendidikan. Berdasarkan penelitian UNESCO terbukti bahwa gender telah berdampak pada perempuan tidak mendapatkan akses informasi, pendidikan, dan yang lainnya. Karena tidak mendapatkan akses informasi dan pendidikan, maka berdampak pada kehidupan perempuan yang tetap terkurung di dalam rumah (domestik) dan tidak dapat mengembangkan potensinya sebagai manusia.

Pada tahun 1979 PBB mensyahkan konvesi CEDAW (Convention for the Elimination of Discrimination Againts Women). CEDAW adalah konvensi anti diskriminasi terhadap perempuan yang telah diratifikasi oleh 139 negara anggota PBB termasuk Indonesia. CEDAW adalah konvensi hak asasi manusia yang telah menjabarkan persoalan Hak Asasi Manusia di dalam DUHAM dari perspektif perempuan. CEDAW sebagai pelengkap dari UN Declaration of Human Right yang melihat persoalan HAM dari perspektif perempuan.

Meskipun diskriminasi terhadap perempuan terus berlangsung, akan tetapi upaya untuk menghapus atau mengurangi diskriminasi tersebut masih terus dilakukan. Sejak CEDAW disahkan pada tahun 1979 hak asasi perempuan diakui oleh DUHAM yang sudah diratifikasi oleh PBB. CEDAW telah mensyaratkan pada negara-negara yang telah meratifikasi untuk mengimplementasikan ke dalam aturan hukum, yaitu peraturan anti diskriminasi terhadap perempuan. Tahun 1984 Indonesia meratifikasi Konvensi CEDAW.

Sejak Indonesia menandatangi Konvensi CEDAW, maka Indonesia berkewajiban melakukan berbagai upaya untuk menghormati, melindungi dan memenuhi hak-hak perempuan yang telah diatur dalam Konvensi CEDAW yaitu:

- Pasal 6, yaitu hak untuk bebas dari perdagangan perempuan dan eksploitasi prostitusi.
- Pasal 7, yaitu hak untuk berpartisipasi dalam politik dan kehidupan publik.
- Pasal 8, yaitu hak untuk berpartisipasi dalam tingkat internasional.
- Pasal 9, yaitu hak kewarganegaraan.
- Pasal 10, yaitu hak pendidikan.
- Pasal 11, yaitu hak ketenagakerjaan,
- Pasal 12, yaitu hak kesehatan.
- Pasal 13, yaitu hak ekonomi sosial.
- Pasal 14, yaitu hak perempuan pedesaan.
- Pasal 15, yaitu hak persamaan di muka hukum.
- Pasal 16, yaitu hak dalam kehidupan perkawinan.

Tahun 1992 juga telah didesakkan satu draf Deklarasi Anti Kekerasan Terhadap Perempuan oleh CSW pada tahun 1992. Deklarasinya kemudian disahkan pada konferensi di Wina. Tujuan Deklarasi Anti Kekerasan Terhadap Pertempuan adalah untuk memperkuat CEDAW. Maka sejak disahkannya Deklarasi Anti Kekerasan Terhadap Perempuan, maka kekerasan terhadap perempuan tidak lagi sebagai persoalan privat atau persoalan rumah tangga. Kini kekerasan terhadap perempuan dapat diangkat ke tingkat publik dan tingkat internasional. Kekerasan terhadap perempuan merupakan pelanggaran terhadap Hak Asasi Manusia.

Dalam Konferensi Hak Asasi Manusia tahun 1994 di Geneva, semua negara peserta mengadukan berbagai kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia serta mencoba melihat kembali seluruh konvensi HAM yang tidak berperspektif perempuan. Masyarakat internasional ada suatu usaha besar untuk memasukkan perspektif perempuan ke dalam konvesi HAM.


Akar Diskriminasi Terhadap Perempuan


Banyak yang salah mengartikan tentang gender, banyak yang mengartikan bahwa gender itu adalah anti laki-laki. Gender adalah perspektif yang digunakan oleh perempuan dan laki-laki untuk melihat ketimpangan antara laki-laki dan perempuan di masyarakat. Tidak ada aktivis gender yang anti laki-laki, anti perempuan, dan anti perkawinan. Feminisme adalah perspektif anti kekerasan. Dalam feminisme terkandung humanisme, karena feminism adalah paham yang memerangi ketidakadilan yang diakibatkan oleh struktur sosial politik yang bisa menindas perempuan bahkan struktur itu sendiri bisa menindas perempuan dan laki-laki.

Gender berangkat dari perspektif perempuan untuk melihat ketimpangan hubungan atau relasi laki-laki dan perempuan. Konstrusi gender sudah tersosialisasi dan membudaya sejak lama. Sering kita mendengar bahwa anak perempuan tidak boleh berlaku kasar dan tidak boleh duduk seenaknya, dan anak laki-laki dikonstruksikan tidak boleh nangis, tidak main boneka, bisa memanjat dan lain-lain. Konstruksi gender inilah yang telah menimbulkan diskriminasi dan subordinasi yang menganggap perempuan itu lemah atau dilemahkan. Konstruksi gender setiap budaya, agama, kelas sosial, antara kelas atas dan kelas bawah berbeda-beda.

Perbedaan perempuan dengan laki-laki hanya pada perbedaan biologis, bukan bersifat konstruksi gender. Pembedaan wilayah publik sebagai wilayah laki-laki, dan wilayah privat sebagai wilayah perempuan sebagai pihak yang lemah dan tidak memiliki posisi tawar bagi dirinya. Perempuan hanya sebagai milik dan benda yang tidak dipandang sebagai manusia. Sistem patriarki menempatkan laki-laki sebagai pemilik kekuasaan utama dalam kepemimpinan politik, otoritas moral, hak sosial, penguasa harta, memiliki otoritas terhadap perempuan, dan anak-anak. Jadi, akar diskriminasi terhadap perempuan adalah konstruksi gender yang bias laki-laki (sistem patriarki).

Pengertian Diskriminasi Terhadap Perempuan dalam Pasal 1 Konvensi CEDAW adalah “Segala pembedaan, pengucilan atau pembatasan yang dibuat atas dasar jenis kelamin yang mempunyai dampak atau tujuan untuk mengurangi atau meniadakan pengakuan, penikmatan atau penggunaan hak asasi manusia dan kebebasan-kebebasan pokok di bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, sipil atau bidang lainnya oleh perempuan, terlepas dari status perkawinan mereka, atas dasar kesetaraan antara laki-laki dan perempuan.

Diskriminasi terhadap perempuan juga berdampak pada munculnya kekerasan terhadap perempuan yang bisa terjadi di rumah tangga, di tempat kerja, di tempat publik. Bentuk kekerasan terhadap perempuan yang disahkan oleh U.N Declaration of Human Right, (dalam CEDAW), antara lain:

1. Pelecehan seksual (fisik) secara verbal.
2. Pelecehan seksual secara fisik.
3. Kekerasan di media masa.
4. Pemukulan istri dan anak perempuan dalam rumah tangga.
5. Perkosaan.
6. Kekerasan untuk kepentingan perdagangan perempuan (TKW).
7. Kekerasan yang berbentuk pornografi.
8. Sunat pada perempuan.
9. Pemaksaan pemakaian alat-alat Keluarga Berencana (KB).


*Tiasri Wiandani, Wakil Ketua Bidang Perempuan, Serikat Pekerja Nasional PT. Pancaprima Ekabrothers, Tangerang


*Saif Roja- www.Konde.co

Alicia Partnoy masihlah perempuan muda kala tubuhnya diringkus paksa oleh tentara. Di awal tahun 1977, ia baru berumur 22 tahun. Sementara situasi negerinya, Argentina, memang tak sedang landai-landai saja. Ini adalah negeri yang turut dilipat oleh “Operasi Condor”.

Kala itu Argentina tengah mendidih direbus pertikaian politik. Dan titik didih politiknya berada disekitar peristiwa kudeta militer 1976 yang disponsori CIA. Partnoy sendiri memang bukan gadis muda biasa. Ia seorang aktivis, satu dari puluhan ribu manusia yang kelak bersengketa dengan tentara.

Seperti lazimnya anak muda yang hidup di jaman dan kawasannya, Partnoy tak luput tertarik dengan segala gagasan perihal ‘pembebasan nasional’ atau frase-frase macam ‘Fuera el imperialismo!”. Ia kemudian bergabung dalam barisan muda Peronista.

Tak lama selepas kudeta, Sabtu celaka itu akhirnya datang menghampirinya. Perang Kotor Argentina yang terkenal dan tak terlupakan telah dimulai. Harinya tiba bagi perempuan muda asal Bahia untuk membayar tunai keyakinan politiknya.

Minggu kedua di bulan Januari yang kelabu, dijemput paksalah Partnoy dari kediamannya. Dia dibuat raib. Diculik oleh tim yang kondang dengan sebutan “Death Squad”. Dia mesti meninggalkan bayi 18 bulannya. Bersama orang-orang senasib, dia lantas dikirim ke kamp tahanan rahasia.

Kamp tahanan tersebut [kemudian] disebut Partnoy dan tahanan lain dengan sebutan ‘La Escuelita’ alias ‘Sekolah Kecil’. Di ‘La Escuelita’, para tahanan diinterograsi, disiksa dan dihujamkan kemanusiaannya. Satu periode gelap ini, kelak dicurahkan ke dalam novel yang ditulis Partnoy dengan judul yang sama pada tahun 1986.

Cerita dari Argentina, perihal orang hilang, penculikan, penyiksaan serta kekerasan tentara, tak kuasa menggiring ingatan kita kepada Munir. Sosok ‘Arek Malang’ yang mendedikasikan hidupnya, satu diantaranya demi membela korban kekerasan negara cum kekejian tentara.

Benar adanya, hari ini adalah hari kematiaan Munir. Kematian seorang aktivis HAM. Laki-laki yang dihabisi nyawanya di angkasa pada usia ke 38. Kematian yang pahit, melenggang tanpa seorang dalang yang bisa dijebloskan ke penjara. Adapun pelaku lapangannya telah dilepas pada akhir Agustus ini.

Lelaki berkumis kemerah-merahan itu kini hanya bersisa sebagai tampang di poster, kaos dan stiker. Setiap tahun sebagian kalangan akan mengingatnya, memprihatininya dan mengkhidmadkannya sebagaimana Wiji Thukul atau nama lain.

Biasanya, dengan gagah atau lirih dipasanglah tagar #MenolakLupa.

Di puisinya yang berjudul ‘Epitafio’, Alicia Partnoy, sendiri sempat menulis:

“Dari segala kebebasan
Kamu, mungkin memilih kematian
Dan cat air dari masa kecil kita pun memudar
menguap ke udara.
Aku akan tiba di kuburan mu
untuk meninggalkan setangkai daun pohon almond, dan puisi yang dibunuh oleh penderitaan,”

Partnoy dan korban lainnya meraih sejumput keadilan seturut rontoknya junta militer. Di Argentina mereka mengadili pelaku dan menggurat dokumen kekerasan masa silam yang bertajuk “Nunca Mas” [Jangan Lagi].

Hingga hampir tiga dekade berjalan, bahkan Alfredo Astiz, tukang jagal yang dijuluki “Malaikat Kematian Pirang” tetap diburu dan dijebloskan ke penjara. Mereka yang masih berhutang pada masa silam pasti tak akan berjalan kedepan, Argentina membayar apa yang harus dibayar.

Sementara hampir lima tahun silam, orang-orang di negeri ini memilih mantan tukang kayu untuk didudukkan di kursi kekuasaan. Tak sedikit yang kemudian jatuh dalam prasangka. Bahwa kali ini Republik memiliki presiden yang bisa dijangkau.

Presiden yang bersahaja. Dengan demikian dia akan paham, kehilangan orang yang dicintai secara tidak adil ialah rasa sakit berkepanjangan. Sehingga dia akan bekerja untuk memberikan jalan terang keadilan. Indah sekali didengar, semua harapan sebelum disobek kenyataan, selalu terasa begitu.

Sayangnya, sebagaimana prasangka buruk, prasangka baik pun tak akan berguna.

Kematian Munir, selayaknya banyak kematian lain di negeri ini, menguap ditelan waktu. Kasusnya melepuh, menjadi basa-basi politik.

Hari ini seperti waktu-waktu yang telah lewat, tak ada epitaf untuk Munir dari istana. Presiden dan pendukungnya, tidak berniat menulis apa-apa untuk Munir. Semisal menulis epitaf yang lebih dekat, jauh lebih dekat, dari sebelum-sebelumnya.

Bisa jadi dari balik tembok istana, ada kecangungan berpedar. Sehingga tak ada epitaf yang mendekatkan kekuasaan dengan korban dan mereka yang ditinggalkan, sebab dalangnya memang berdiam sedemikian dekat dengan tembok istana.

Hingga empat belas tahun Munir terbunuh, kita mungkin tak pernah lupa mengenang sosoknya. Kecuali mungkin tak pernah tahu bagaimana cara menyeret dalangnya. Menyitir Partnoy,

“Presiden akan tiba di kuburan mu
untuk meninggalkan janji kosong, dan puisi yang membusuk oleh kebohongan.”

(Foto: Loyola Marymount University)

*Saif Roja, adalah aktivis buruh. Tulisan ini merupakan kerjasama antara www.Buruh.co dan www.Konde.co

Luviana – www.Konde.co

Bagaimana media selama ini menuliskan tentang perempuan? Apakah benar, semua media meminggirkan perempuan?

Para feminis menyatakan bahwa selama perempuan masih dipinggirkan secara kultur, maka begitulah media akan menuliskan tentang perempuan. Lalu bagaimana media selama ini menuliskan tentang perempuan dikaitkan dengan kultur peminggiran yang melekat pada perempuan?

Sejumlah pengamat menuliskan bahwa perempuan dituliskan dengan berbagai perspektif di media. Yaitu perspektif normatif, konstruktif dan kritis.
Untuk menjawabnya tentu membutuhkan sebuah penelitian yang komprehensif. Namun secara sekilias, inilah yang selama ini banyak terjadi di media:

1. Secara normatif, dari pengamatan, kita bisa melihat bahwa perempuan masih dituliskan secara normatif. Yaitu: perempuan ditulis sebagai perempuan yang dianggap nakal jika pulang malam, perempuan dianggap tidak boleh memilih sesuai pilihannya seperti sebagaimana laki-laki. Karena itu perempuan harus tetap patuh pada norma.

Perempuan dalam konsep normatif mengidentifikasikan perempuan sebagai: orang yang harus hidup sesuai norma atau kultur masyarakat. Maka jika ada perempuan keluar malam, maka akan disebut sebagai perempuan malam. Jika memakai baju berbeda, maka akan dijuluki sebagai perempuan hot/ seksi. Jadi jika ia menjadi korban kekerasan seksual di jalan, maka secara normatif akan disebut sebagai orang yang salah, karena memakai baju seksi.


2. Kedua, Secara konstruktif. Teori konstruktif di media menyebutkan bahwa media sudah mulai mempertanyakan tentang kondisi perempuan. Misalnya, mengapa perempuan dituliskan sebagai perempuan nakal?, Mengapa perempuan diambil foto-foto yang mengetengahkan bentuk tubuhnya? Intinya teori ini sudah mulai mempertanyakan banyak hal tentang kondisi normatif atau kultur dan identifikasi media terhadap perempuan.


3. Ketiga, secara kritis. Teori kritis membongkar semua identifikasi tentang perempuan. Teori ini membongkar tentang kapan lahirnya identifikasi terhadap perempuan, apa latar belakang ekonomi politik atas identifikasi ini?. Apa kepentingan industri dalam identifikasi ini?. Dan siapa saja yang terlibat di dalamnya?.

Teori kritis berangkat dari pertanyaan: mengapa ada banyak hal yang tidak adil, dalam hal ini menimpa perempuan?. Beberapa tokoh yang mempelopori teori ini antara lain Karl Mark, Engels , George Lukacs, Korsch, Gramschi, Guevara, Regis, Debay, T Adorno, Horkheimer, Marcuse, Habermas, dll.

Teori ekonomi politik di media menyebutkan ada perlakuan kontrol terhadap elit penguasa yang melakukan dominasi ekonomi di media. Teori ini mengambil asumsi Marx tentang dominasi superstruktur yang kemudian banyak digunakan untuk melakukan kritik terhadap media yang bias.

Pertanyaan seperti: mengapa budaya kultur mendominasi media?. Apakah audience atau pembaca sadar dengan kekuasaan dari media ini?. Teori ekonomi politik ini adalah penggabungan untuk melakukan kritik terhadap superstuktur, kultur, media.

Walaupun kita tahu bahwa barus sedikit media yang menuliskan perempuan secara kritis, lebih banyak yang normatif, lebih banyak yang mengutamakan konsumen dan pasar, namun dari sini tentu kita tahu, bagaimana sebetulnya kita harus menuliskan tentang perempuan di media.

(Foto/ Ilustrasi: Pixabay)


Tanggal 10 September merupakan hari pencegahan bunuh diri sedunia. Di hari itu, banyak orang memperingati untuk mengajak dan mencegah melakukan bunuh diri. Berikut merupakan tulisan dari Benny Prawira, Kepala Koordinator Into The Light Indonesia yang kami ambil dari website into the light:


Jakarta, Konde.co- Dalam kesempatan ini, mari kita semua menyediakan waktu sejenak untuk mengenang mereka yang telah pergi sebelum kita dengan seluruh rasa sakit di hatinya. Seluruh rasa sakit yang membuatnya tidak mampu lagi memilih selain melihat kematian sebagai cara untuk mengakhirinya. Telah banyak upaya dan riset dilakukan terkait pencegahan bunuh diri. Meskipun demikian, data masih menunjukkan satu nyawa meninggal karena bunuh diri setiap 40 detik di seluruh dunia. Tentu para pakar pencegahan bunuh diri berkejaran dengan waktu untuk menyediakan pengetahuan terkini dan memformulasikan bentuk tindakan pencegahan bunuh diri yang terbaik.

Ketika kita bicara mengenai pengetahuan terbaru, seringkali kita juga mendapatkan kabar yang terdengar tidak mengenakkan mengenai bunuh diri. Hingga saat ini, setelah 50 tahun riset bunuh diri dilakukan, peneliti masih berusaha menemukan cara yang lebih baik dalam memprediksi kemunculan perilaku bunuh diri (Franklin, dkk, 2017).

Di kawasan ASEAN, khususnya Indonesia, sebuah riset terkini mencatat 6,9% dari sampel mahasiswa berusia 18-30 tahun memiliki pemikiran bunuh diri dan setidaknya 3% di antara mereka pernah mencoba bunuh diri (Peltzer & Pengpid, 2017). Mereka yang mengalami kekerasan seksual di masa kanak-kanak, mereka yang dihantui gejala depresi, mereka yang pernah terlibat dalam pertengkaran fisik, mereka yang memiliki performa akademik yang lebih rendah dari standar, cenderung memiliki perilaku bunuh diri dalam hidup mereka. Tentunya, riset ini mengungkap masih banyak ‘mereka-mereka’ lainnya dengan masalah berbeda yang juga memiliki kecenderungan perilaku bunuh diri.

Dari semua riset ini, setidaknya kita mengetahui betapa banyak faktor yang berhubungan dengan risiko bunuh diri pada orang muda. Untuk dapat mengatasi hal ini, maka kita perlu tindakan pencegahan bunuh diri yang lebih efektif dengan mempertimbangkan pentingnya kerjasama dari lapisan keluarga, institusi pendidikan, institusi agama, pemerintah, hingga kelompok kemasyarakatan lainnya yang bekerja untuk kesejahteraan bersama masyarakat kita.

Mencegah bunuh diri hanya dapat dilakukan dengan baik jika kita mau bergerak bersama. Ini adalah tugas kita bersama.

Hal ini sesuai dengan tema Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia 2018, “Bekerja Bersama untuk Mencegah Bunuh Diri”. Tema ini menekankan pentingnya kita untuk mulai bergandengan tangan dalam mengangkat isu pencegahan bunuh diri ke berbagai lini.

Ada suara-suara di tengah kegelapan yang selama ini tidak kita dengar. Mereka yang sedang memiliki beban berat, mereka yang bingung harus mencari bantuan kemana, dan mereka yang mulai kehilangan harapan bertanya-tanya bantuan apa yang dapat mencerahkan kembali harapan dalam diri mereka. Sepanjang tahun ini juga, kita telah dikejutkan berbagai macam berita bunuh diri dari selebritas dunia. Pertanyaannya adalah apakah kita sudah mendengarkan ketika mereka mulai bicara? Atau, mungkin mereka sudah bicara selama ini di ruang sekitar kita, namun kita belum cukup berkerja bersama mereka untuk mencegah bunuh diri di masa depannya?

Pertanyaan-pertanyaan ini tidak hanya sekedar membutuhkan jawaban. Pengetahuan terbaru saja tidak cukup. Kita perlu tindakan yang nyata dari kita semua. Sekarang adalah saatnya untuk kita bertindak untuk lebih banyak mendengar mereka, untuk berkerja bersama mereka dengan melibatkan lebih banyak penyintas percobaan dan kehilangan bunuh diri, serta memastikan terbentuknya kerjasama lintas sektor dan lintas isu agar tindakan pencegahan bunuh diri dapat lebih komprehensif dan adekuat ke depannya.

Pencegahan bunuh diri adalah isu yang sangat rumit dan kompleks untuk dapat kita atasi sendiri. Into The Light Indonesia tidak dapat mengatasinya sendirian. Pencegahan bunuh diri tidak dapat diatasi hanya dengan kehadiran komunitas kesehatan jiwa semata. Kita semua mengetahui bahwa kematian di tangan sendiri adalah sebuah tragedi, namun bunuh diri sangat dapat dicegah jika kita dapat berkerja bersama dengan lebih kuat lagi. Mencegah bunuh diri hanya dapat dilakukan dengan baik jika kita mau bergerak bersama. Ini adalah tugas kita bersama.

Di tengah keterbatasan sumber daya kita, di tengah tidak adanya sistem pencatatan kematian bunuh diri, dan sistem pelayanan krisis bunuh diri, pada akhirnya kita harus bekerja bersama agar sistem pencegahan bunuh diri ini dapat bekerja dengan lebih efektif.

Di saat kita tidak memiliki banyak hal, setidaknya kita masih memiliki satu sama lain. Kita hanya memiliki satu sama lain. Menyadari ini semua, sekaranglah saatnya kita bekerja bersama untuk mencegah bunuh diri.

Dengan cahaya dan cinta untuk Anda,

2 September 2018

(Sumber: https://www.intothelightid.org/2018/09/08/surat-dari-kami-2018-bekerja-bersama-untuk-mencegah-bunuh-diri/)


File 20180903 41732 oc0mv.jpg?ixlib=rb 1.1

Melakukan pekerjaan seperti mencuci piring, mencuci dan menyetrika, memasak, serta memberi makan kepada anak atau bayi bukanlah semata-mata pekerjaan istri, tapi juga tanggung jawab suami.
www.shutterstock.com



Alimatul Qibtiyah, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga dan Siti Syamsiyatun, Indonesian Consortium for Religious Studies

Antara 2005 dan 2010, satu dari sepuluh pasangan suami istri di Indonesia bercerai, menurut data Mahkamah Agung (MA). Sebagian besar–70% dari semua kasus–istri yang mengajukan gugat cerai. Tren ini meningkat setiap tahunnya hingga 80% antara 2010 dan 2015.


Mengapa perempuan dua kali lebih mungkin mengajukan perceraian dibandingkan laki-laki? Salah satu asumsinya adalah bahwa ide mengenai kesetaraan gender yang dipromosikan gerakan feminis mendorong tingkat perceraian. Namun hal ini tidak terbukti.


Data dari Lembaga penelitian dan pengembangan Kementerian Agama RI menyebutkan setidaknya ada tiga alasan utama perceraian: ketidakharmonisan pernikahan, tanggung jawab, dan permasalahan keuangan. Alasan-alasan tersebut berkaitan dengan fleksibilitas peran istri dan suami dalam sebuah pernikahan.


Beragam peran perempuan


Meningkatnya keterlibatan perempuan dalam mencari nafkah dan kegiatan publik tidak diimbangi oleh pergeseran peran laki-laki dalam pekerjaan domestik dan kehidupan reproduksi. Akibatnya, perempuan menanggung beban berlipat sebagai seorang anak, istri, ibu, pekerja, dan juga sebagai anggota masyarakat.


Sebagai anak, perempuan secara tradisional memiliki tanggung jawab merawat kedua orang tuanya. Sebagai istri, dia dituntut melayani suaminya, menyiapkan makanan, pakaian dan kebutuhan pribadi suami lainnya. Sebagai seorang ibu, perempuan harus merawat anak-anak dan memenuhi kebutuhan mereka, termasuk dalam hal pendidikan. Dan sebagai seorang pekerja, perempuan harus bersikap profesional, disiplin, dan menjadi karyawan yang baik.





Baca juga:
Butuh warga satu kampung untuk membesarkan seorang anak





Sebagai anggota masyarakat, perempuan diharapkan berpartisipasi dalam kegiatan komunitas dan kerja sukarelawan, baik di dalam komunitasnya maupun melalui organisasi sosial.


Sementara, laki-laki secara tradisional hanya memiliki satu peran saja, sebagai pencari nafkah dan hanya sedikit kewajibannya untuk aktif terlibat dalam kegiatan komunitas sosial.





Laki-laki dapat melakukan tugas mengasuh anak juga.
www.shutterstock.com



Sampai sekarang beberapa budaya dan keluarga masih mempertahankan peran gender tradisional ini. Tidak heran beban berlipat yang dipikul seorang perempuan dapat menimbulkan kesulitan bagi mereka dan membuat mereka menjadi rentan.


Peran yang fleksibel


Penting untuk membahas masalah pemikiran yang cenderung kaku terkait peran perempuan dan laki-laki dalam pernikahan.


Pertama mari kita setujui, melihat pada definisi peran yang fleksibel, bahwa antara laki-laki dan perempuan memiliki kesetaraan tanggung jawab untuk peran domestik dan pengasuhan dalam keluarga, yang dilakukan atas dasar persetujuan dan komitmen yang adil. Melakukan pekerjaan seperti mencuci piring, mencuci dan menyetrika, memasak, serta memberi makan kepada anak atau bayi bukanlah semata-mata pekerjaan istri, tapi juga tanggung jawab suami. Kesetaraan tidak berarti harus sama persis. Tiap-tiap keluarga mungkin membagi tugas dengan cara yang berbeda kepada setiap anggota keluarga.


Ide yang kedua adalah bahwa baik laki-laki dan perempuan memiliki kesetaraan tanggung jawab untuk mencari nafkah dan untuk berpartisipasi secara aktif dalam masyarakat. Contoh fleksibilitas di sini adalah ketika pasangan memutuskan untuk memiliki seorang anak dan seorang istri hamil. Dalam, banyak kasus, kehamilan ini akan membawa konsekuensi bahwa perempuan akan berkontribusi lebih sedikit pada pendapatan keluarga.


Di dalam skenario yang lain, ketika perempuan mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang lebih baik dibandingkan laki-laki, ini seharusnya tidaklah menjadi permasalahan. Poin terpenting adalah keputusan yang dilakukan merupakan hal yang terbaik demi seluruh anggota keluarga dan tidak membebani satu anggota keluarga secara tidak proporsional. Dalam hal ini seorang suami tidak perlu lagi untuk menghasilkan uang lebih dibandingkan istrinya begitu pun sebaliknya.





Baca juga:
Alasan mengapa kita mencari pasangan yang suka dan bisa membuat kita tertawa





Peran fleksibel membentuk kebahagiaan dalam pernikahan


Argumen yang lebih besar dalam peran fleksibel dalam ruang pernikahan ini didukung oleh bukti empiris. Pada 2018 awal kami melakukan sebuah survei di Yogyakarta didukung oleh Ford Foundation terhadap 106 responden yang menikah. Sebanyak 54% mengatakan bahwa mereka “sangat bahagia” dalam keluarga mereka. Dari angka tersebut, hampir dua per tiga menggambarkan fleksibilitas peran gender dalam pernikahan mereka “tinggi”. Sebagai perbandingan, dari 45% yang mengatakan bahwa mereka hanya “bahagia”, hampir dua per lima mengatakan fleksibilitas peran gender dalam pernikahan mereka hanya “moderat”. Semakin fleksibel peran antara laki-laki dan perempuan dalam keluarga, maka akan semakin bahagia kehidupan mereka dalam keluarga.





Pengaturan yang fleksibel dapat meningkatkan kebahagiaan dalam perkawinan.
www.shutterstock.com



Temuan ini sangat menarik, khususnya bagi pembuat kebijakan dan pemuka agama, serta masyarakat luas. Ide dari peran fleksibel dalam pernikahan ini sejalan dengan karakteristik generasi milenial : dinamis, energik dan tidak kaku.


Menerapkan peraturan yang fleksibel untuk laki-laki dan perempuan dalam rumah tangga dapat berkontribusi dalam membentuk kebahagiaan anggota keluarga dan membantu mengurangi angka perceraian. Lagi pula, tidak ada seorang pun, yang bermimpi memiliki sebuah keluarga yang hancur.The Conversation


Alimatul Qibtiyah, Lecturer in Communication Studies, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga dan Siti Syamsiyatun, Director, Indonesian Consortium for Religious Studies


Sumber asli artikel ini dari The Conversation. Baca artikel sumber.



File 20180903 41735 1rj27xd.jpg?ixlib=rb 1.1

Astronot Sunita Williams – bukan seorang laki-laki.
NASA, CC BY-NC



Dr Susan Wilbraham, University of Cumbria dan Elizabeth Caldwell, University of Huddersfield

Tanyakan kepada anak kecil ingin menjadi apakah mereka ketika mereka sudah besar. Kemungkinannya pekerjaan ilmiah seperti astronot dan dokter akan menjadi pilihan paling teratas dalam daftar pekerjaan. Namun minta mereka menggambar seorang ilmuwan dan ada kemungkinan dua kali lebih besar mereka menggambar sosok laki-laki daripada perempuan.


Anak-anak bisa membentuk bias tersebut dari berbagai sumber. Tapi mungkin kita seharusnya tidak terlalu terkejut melihat absennya ilmuwan perempuan dalam gambar anak-anak ketika ilustrasi yang kita perlihatkan kepada mereka juga seringkali sama buruknya.


Studi kami tentang gambar dalam buku-buku sains anak-anak mengungkapkan bahwa perempuan secara signifikan kurang terwakili. Kami memeriksa foto-foto dan ilustrasi dalam buku anak-anak. Dalam dunia fisika khususnya, gambar seringkali gagal mengkomunikasikan kemampuan teknis atau pengetahuan perempuan. Gambar yang ada dalam buku tersebut memberikan impresi bahwa sains adalah subjek untuk laki-laki dan bahwa karir dalam bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM) tidak memberikan penghargaan kepada perempuan.


Teori-teori perkembangan menjelaskan bahwa anak-anak mempelajari harapan gender untuk membantu mereka merespons sesuai dengan lingkungan sosial mereka. Hal ini mempengaruhi pemahaman mereka akan siapa mereka dan mendorong mereka untuk berperilaku dengan cara yang konvensional bagi gender mereka.


Gambar-gambar laki-laki dan perempuan dalam buku sains anak berkontribusi dalam harapan tersebut dengan mengajarkan mereka ‘aturan’ mengenai pekerjaan yang cocok bagi tiap gender. Hal tersebut mendorong mereka untuk mematuhi stereotip karir gender yang berlaku.


Untuk mengatasi hal ini, tokoh panutan perempuan harus terlihat dalam buku-buku untuk membantu mengembangkan minat anak-anak perempuan dalam sains selama mereka bertambah dewasa, dan mengatasi persepsi negatif tentang ilmuwan perempuan.


Di mana perempuan dalam sains?


Penelitian kami menganalisis buku-buku sains bergambar untuk anak-anak di dua perpustakaan publik di Inggris. Pertama kami menghitung frekuensi gambar laki-laki, perempuan, anak laki-laki dan anak perempuan dalam 160 buku yang tersedia. Lalu kami melakukan analisis visual detail pada dua profesi ilmiah: astronot dan dokter. Dalam bagian dengan 26 buku ini, kami memeriksa apa yang astronot dan dokter laki-laki maupun perempuan lakukan, kenakan, dan genggam dalam gambar-gambar tersebut.


Kami menemukan bahwa, secara keseluruhan, buku-buku sains anak menampilkan laki-laki tiga kali lebih banyak dibandingkan perempuan, menguatkan stereotip bahwa sains adalah pencarian laki-laki. Kurang terwakilinya perempuan semakin diperparah dengan bertambahnya usia target tujuan buku. Para perempuan secara umum digambarkan sebagai pasif, berstatus rendah dan tidak terlatih – atau keberadaan mereka tidak diketahui sama sekali.


Contohnya, satu buku anak-anak tentang eksplorasi luar angkasa menampilkan apa saja yang dibutuhkan dalam berjalan di luar angkasa. Dengan gambar astronot dalam baju ruang angkasa putihnya, kita diberitahu bahwa “without a spacesuit an astronaut’s blood would boil and his body would blow apart atau tanpa pakaian luar angkasa, darah astronot akan mendidih dan tubuhnya (astronot laki-laki) akan meledak”. Penggunaan kata ganti laki-laki ( his) menunjukkan bahwa orang yang ada di dalam pakaian luar angkasa tersebut adalah laki-laki.


Tidak disinggung tentang 11 perempuan berani yang telah berjalan di luar angkasa, termasuk astronot Sunita Williams yang gambarnya digunakkan dalam montase tersebut. Dengan tertutupnya muka William dengan helm dan teks yang hanya menyebutkan laki-laki, akan menjadi mudah bagi anak-anak untuk berpikir bahwa perempuan tidak berjalan di luar angkasa.





Anak perempuan dipengaruhi oleh gambaran mereka tentang ilmuwan.
Shutterstock



Dalam halaman di buku lain, kami melihat seorang astronot perempuan digambarkan sedang melayang di dalam stasiun luar angkasa dan tersenyum kepada kamera. Kualifikasi dan pengalaman yang dibutuhkan untuk astronot pada titik ini melebar. Tempat-tempat program pelatihan astronot NASA sangat kompetitif dengan ribuan lamaran setiap tahunya. Namun dalam buku tersebut, pelatihan, keahlian, dan pengetahuan perempuan tersebut tidak disinggung.


Sebagai gantinya, keterangan gambar tersebut justru berbunyi “Dalam gravitasi 0, setiap hari adalah hari tatanan rambut yang buruk.” Komentar seperti itu yang terfokus pada penampilan perempuan gagal menganggap serius kontribusi mereka. Terlebih lagi, penelitian menunjukkan bahwa penekanan penampilan pada ilmuwan panutan dapat mengurangi penilaian kemampuan diri murid perempuan atau membuat pekerjaan sains tampak tidak terjangkau bagi mereka.


Studi kami juga menunjukkan perbedaan penting antara disiplin ilmu. Dalam buku fisika, 87% gambar yang ada adalah laki-laki atau anak laki-laki, dan beberapa gambar tempat astronot perempuan digambarkan, mereka tidak pernah digambarkan sedang mengemudikan wahana, melakukan percobaan, atau berjalan di luar angkasa.


Buku tentang biologi, kebalikannya, memiliki gambaran yang seimbang antara laki-laki dan perempuan – dan dokter perempuan digambarkan melakukan aktivitas dan memiliki status yang sama dengan dokter laki-laki.


Mengapa hal ini penting


Anda mungkin berpikir bahwa citra atau gambar tidaklah penting, bahwa pesan dalam foto atau ilustrasi adalah sepele. Industri periklanan multimiliar pound sterling tidak sepakat dengan Anda. Iklan jarang menyediakan argumen yang detail tentang sebuah produk atau jasa, tapi hal ini tidak membuat pesannya menjadi kurang kuat. Sebaliknya, periklanan bergantung pada persuasi melalui penanda pinggiran seperti mencontohkan gaya hidup yang menarik dan menggunakan citra untuk menggambarkan penghargaan status atau rasa hormat.


Dengan cara sama, buku-buku anak-anak mengiklankan pilhan karir, dan gambar-gambar tersebut mengkomunikasikan apa artinya bagi perempuan dan laki-laki pada kaitannya dengan pekerjaan tersebut. Perempuan perlu hadir dalam buku-buku sains anak untuk mendemonstrasikan bahwa seluruh bidang sains juga dapat dicapai oleh perempuan.


Penelitian menunjukkan, bahkan sebelum anak-anak pergi ke sekolah, mereka telah memiliki ide bahwa laki-laki lebih baik dalam profesi yang didominasi oleh laki-laki. Mengingat fakta bahwa anak perempuan, bahkan sejak berumur delapan tahun, seringkali menolak matematika dan sains dari orang tua dan gurunya, mungkin tidak mengejutkan bahwa hanya 20% siswa dengan nilai A yang mengambil fisika adalah perempuan.


Wawancara dengan ilmuwan perempuan yang sukses menunjukkan bahwa anak perempuan mencari role model dalam sains, tapi mereka seringkali tidak bisa menemukannya.


Dengan begitu, maka penting bahwa gambar dalam buku anak-anak diberikan perhatian yang lebih besar. Editor dan ilustrator buku perlu untuk melakukan usaha signifikan untuk menggambarkan perempuan sebagai berkualitas, ahli, dan mampu secara teknis. Mereka perlu digambarkan secara aktif terlibat dalam kegiatan ilmiah dan menggunakan alat dan perlengkapan yang sesuai, bukan hanya dihadirkan sebagai asisten atau pengamat.


Perempuan juga perlu direpresentasikan dalam jumlah besar sehingga anak perempuan bisa melihat panutan mereka dalam profesi ilmiah dan melihat karir tersebut bisa bermanfaat.


Para orang tua, guru, dan pustakawan – bersama dengan penulis, ilustrator dan penerbit – perlu meninjau kembali buku-buku mereka untuk pesan-pesan bergender. Tanyakan apa yang yang diajarkan oleh gambar-gambar tersebut dan tanyakan apa aspirasi karir yang mungkin didorong atau dihancurkan oleh buku-buku tersebut.The Conversation


Dr Susan Wilbraham, Senior Lecturer in Applied Psychology, University of Cumbria dan Elizabeth Caldwell, Academic Skills Tutor, School of Art, Design and Architecture, University of Huddersfield


Sumber asli artikel ini dari The Conversation. Baca artikel sumber.


Luviana – www.Konde.co

Bagaimana cara mengajak kampus atau universitas untuk peduli pada persoalan kekerasan terhadap perempuan? Feminist.org menuliskan sejumlah contoh yang dilakukan kampus-kampus di Amerika, tentang bagaimana mereka melakukan kampanye dan advokasi menghapuskan kekerasan seksual:

1. Pertama, yang dilakukan adalah membuat peraturan bahwa kampus harus steril terhadap kekerasan seksual

2. Dalam aturan tersebut harus diperjelas hak-hak korban dan tanggung jawab sekolah untuk memberikan informasi tentang proses yang relevan, disiplin, kemungkinan sanksi untuk pelanggaran seksual, dan bagaimana cara menyelamatkan korban.

3. Sekolah diminta untuk membuat program pendidikan pencegahan proaktif pada relasi dan juga memberikan pendidikan seksualitas.

4. Ada mekanisme penyelesaian untuk pelecehan di kampus, yaitu kedua pihak harus memiliki kesempatan yang sama hadir dalam proses penyelesaian.

5. Pengurus sekolah yang melakukan proses penyelesaian harus dilatih tentang cara bagaimana memberikan perspektif pada korban dan mempromosikan akuntabilitas.

6. Korban harus diberitahu tentang hak atas layanan konseling dan pilihan-pilihan untuk melaporkan kejadian yang ia alami.


Cara lain untuk menolak kekerasan seksual terhadap perempuan yaitu berkampanye dan melakukan unjuk rasa, teknis unjuk rasa antaralain:

• Memetakan rute yang dapat diakses meliputi kampus Anda.

• Biarkan keamanan kampus tahu tentang acara tersebut.

• Melakukan kampanye pencegahan melalui Facebook di event-event serta menyebarkan informasi apapun terkait kekerasan seksual terhadap perempuan.

• Undang pejabat kampus yang bekerja pada isu-isu kekerasan seksual dan memberi mereka kesempatan untuk menginformasikan tentang layanan yang mereka berikan.


Lalu bagaimana cara melakukan kampanye anti kekerasan?

1. Melakukan kampanye secara online dan membuat situs anti kekerasan seksual di kampus yang bisa diakses semua mahasiswa dan akademika kampus

2. Tatap muka dan sharing

3. Mengadakan banyak kegiatan terkait isu tersebut

4. Mengajak semua pihak di kampus untuk menulis kampanye penolakan kekerasan seksual

5. Melakukan survey yang relevan dengan isu

6. Mempublikasikan temuan yang mengesankan berperspektif korban dan menyebarkannya ke pers untuk kampanye secara lebih meluas


(Referensi http://feministcampus.org/campaigns/campus-violence)

“Banyak anak-anak perempuan kita bertahun, bermimpi tentang sebuah pernikahan dan sebuah kelahiran. Padahal tak demikian halnya dengan anak laki-laki kita—yang banyak menghabiskan mimpinya mengubah dunia.”


Dewi Candraningrum (2013)


*Muhammad Rajib Rakatirta- www.Konde.co

Pernahkah anda merasakan bahwa terkadang perempuan-perempuan yang muncul dalam televisi hanya ada sebagai pemanis?

Seorang pegiat film di Amerika bernama Laura Mulvey memikirkan hal yang sama. Ia berteori bahwa dalam film-film dan layar kaca, perempuan terkadang hanya berfungsi sebagai sesuatu untuk dilihat, dan hal ini tentu saja merupakan hal yang buruk bagi kesetaraan bagi manusia.

Masalahnya tentu jelas: film dan televisi adalah jenis media massa, dan media massa mampu mempengaruhi persepsi banyak orang. Sehingga, tayangan-tayangan dengan diskriminasi gender tentu dapat melekat dalam benak banyak orang yang melihatnya.

Meski Murvey mengajukan teorinya di Amerika, hal yang sama ternyata juga terjadi di Indonesia dalam sebuah acara televisi. Acara televisi yang saya maksud adalah ‘Take Me Out’. Sekarang acara ini memang sudah tidak lagi ditayangkan, namun saat dulu ditayangkan di Televisi ANTV, entah kenapa saya benar-benar resah melihatnya, dan saya rasa hal ini perlu dibahas.

Setidaknya ada 3 masalah yang sangat ingin saya lihat dalam acara ini:


1. Tubuh dan Gairah Seksual

Hal yang pertama adalah mengenai gairah seksual. Menurut saya, gairah seksual merupakan salah satu hal yang menunjukkan bahwa perempuan juga manusia yang sama dengan laki-laki.

Dengan menghilangkan atribut dan hak seksualitas perempuan, maka sama saja dengan menanggalkan atribut kemanusiannya. Sehingga, jika Take Me Out memang ingin memperlihatkan sisi tersebut dari perempuan, sah-sah saja. Toh setiap perempuan yang ada pasti sudah memiliki consent(persetujuan) untuk acara ini. Masalah terjadi saat acara hanya berfokus seolah-olah perempuan-perempuan hanya peduli pada masalah percintaan dan gairah seksual.

Adalah baik sebenarnya memberikan hak seksualitas dan kebertubuhan (hak untuk memiliki tubuh sendiri tanpa ada intervensi orang lain) kepada perempuan, namun bukan dengan mengerdilkannya menjadi objek seks belaka.


2. Obyek Tontonan


Dalam beberapa episodenya, tampak perempuan-perempuan harus berjalan dengan genit dan harus mengutamakan bentuk tubuh mereka untuk menarik perhatian laki-laki. Tidak ada hal yang salah mengenai hal ini, namun ada hal yang terlupakan, yakni menjadikan diri sendiri sebagai objek tontonan, dan hal ini masuk ke masalah kedua: perempuan sebagai objek tontonan.

Memangnya apa yang salah menjadi objek tontonan? Sebagai objek sesuatu tidak punya kendali yang besar dan justru malah dikendalikan oleh kepentingan-kepentingan pihak yang berkuasa. Dalam hal ini, pihak berkuasa adalah produser acara. Dengan demikian, apa yang ditampilkan oleh para perempuan bukanlah murni keinginan mereka, namun apa yang mereka lakukan demi tidak dipecat oleh produser yang menginginkan uang. Paham ini yang secara tidak sadar mewajarkan masyarakat hanya menganggap perempuan sebagai objek.


3. Perempuan Harus Memenuhi Standar Kecantikan

Masalah selanjutnya datang ke poin nomor 3: penggambaran perempuan yang tidak beragam. Melihat Take Me Out Indonesia seperti melihat sebuah lingkaran etalase boneka dengan label “cantik” terpampang besar, karena betapa serupanya ‘bentuk’ satu perempuan dan perempuan yang lain.

Hal ini jelas menjadi standarisasi ‘cantik’ bagi perempuan. Hampir tidak ada perempuan yang berbadan gemuk (overweight), berkulit hitam, atau bertubuh pendek. Tinggi setiap perempuan hampir sama, dengan tingkat kecerahan kulit yang sama, serta tata busana yang serupa. Ketidakadaan keragaman ini jelas membunuh banyak perempuan lain yang seakan-akan tidak dianggap keberadaan.

Pernah dalam beberapa ada episode perempuan yang berasal dari Timur, namun dari cara perempuan tersebut bertutur, logat Timur yang diberikan kentara dibuat-buatnya. Selain itu, beberapa kali hal tersebut justru menjadi bahan cemoohan. Sehingga, tidak hanya memarjinalisasi perempuan, acara ini juga memarjinalisasi warna kulit, bentuk tubuh, hingga kesukuan.

Tentu kita tahu bahwa ‘Take Me Out’ tidak asli berasal dari Indonesia, namun berasal dari sebuah acara TV di Inggris dengan judul yang sama.

Menariknya, ada hal-hal dari ‘Take Me Out’ UK yang menurut saya jauh lebih baik daripada di Indonesia. Setelah melihat beberapa episode melalui YouTube, nampak bahwa masalah di poin 1 dan 2 (penggambaran perempuan yang hanya peduli dengan gairah seksual serta menjadi objek tontonan) tidak terselesaikan. Cenderung sama saja.

Perempuan dalam acara tersebut masih berperan sebagai pemanis yang tidak segan harus mengerdilkan kemanusiaan ke dalam sebatas gairah seksual. Meski demikian, yang dilakukan oleh Take Me Out UK tidak separah Indonesia.


Dalam Take Me Out di Inggris misalnya, hanya ada satu host yang menggiring jalannya acara, sementara di Indonesia, ada beberapa orang yang berperan sebagai komentator untuk menambah unsur keseruan dan kelucuan dari acara. Bertambahnya komentator tersebut justru semakin menambah kemungkinan para perempuan untuk dieksplorasi seksualitasnya dan menjadi bahan candaan belaka.

Hal lain yang sukses dilakukan oleh Take Me Out di UK adalah peserta perempuan yang beragam. Hal ini terlihat dari beragamnya warna kulit, tinggi tubuh, serta berat badan. Memang, ada artikel-artikel yang menunjukkan bahwa perempuan-perempuan tersebut memiliki Gladi Resik dan pakaian yang dibawa harus dengan persetujuan produser, namun setidaknya tidak ada standarisasi kecantikan yang terlalu mengungkung seperti yang masih ada dalam Take Me Out Indonesia.

Maka, sebenarnya apa yang dilakukan oleh Take Me Out dalam merepresentasikan perempuan hanya melanggengkan budaya yang mengobjektifikasikan perempuan.

Sudah untung Take Me Out tidak lagi tayang di Indonesia (dan sebaiknya tidak perlu lagi), karena sebagai media massa yang bisa menjangkau banyak orang, televisi seharusnya bisa lebih bermartabat daripada apa yang telah ANTV siarkan. Sudah cukup masyarakat kita mendiksriminasi perempuan, tidak perlu memperkuatnya dengan tayangan-tayangan yang hanya melanggengkan diskriminasi semacam itu.


*Muhammad Rajib Rakatirta,
mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia. Bisa dihubungi melalui: Twiter-Instagram : @Rajib_Ngeeeeeng, Blog :timunlaut.wordpress.com


Referensi

Candraningrum, D. (2013). Depolitisasi Seksualitas. Jurnal Perempuan 77, 114-122
Eagleton, T. (1991). Ideology: An Introduction. London: Verso
Laughey, D. (2007). Key Themes in Media Theory. New York: McGraw-Hill
Meyers, E. (2012). Gossip Blogs and ‘Baby Bumps’: The New Visual Spectacle of Female Celebrity in Gossip Media. The Handbook of Gender, Sex, and Media. New Jersey: Wiley-Blackwell