Tak mudah melepas anggota keluarga untuk pergi menjadi buruh migran ke luar negeri. Selain belum tahu situasi bekerja disana, banyak buruh migran yang rentan terkena trafficking. Tak punya uang dan harus melunasi hutang menjadi alasan banyak orang memutuskan menjadi buruh migran. Cerita yang saya tulis ini berdasarkan sebagian fakta di masyarakat Lombok, Nusa Tenggara Barat yang ingin pergi menjadi buruh migran ke luar negeri


*Muhamad Rasid- www.Konde.co

"Kak, biarkan aku pergi ke saudi, jadi TKW disana,"kata istriku.

Malam sudah larut, kami sedang duduk berbincang. Walaupun sudah mengatakannya selama puluhan kali, namun aku tahu ini adalah hal tersulit yang akan ia lakukan.

Istriku akan pergi ke Arab Saudi sebagai Tenaga Kerja Wanita (TKW) atau buruh migran disana.

Kemanusiaanku sebagai laki-laki juga teriris, aku tak bisa membela istriku yang akan pergi jauh, bekerja untuk menghidupi kami. Ia tahu aku sangat terpukul. Alasan itulah mengapa ia tak mau menatapku.

Dalam situasi terdesak seperti ini, aku lebih memilih sibuk dengan gadget yang aku pegang. Seolah olah tak mendengar ucapan istriku tersebut. Padahal setiap kalimat yang ia ucapkan menyayat hati.

Kemiskinan memang telah membuat hidup kami serba susah. Apa saja sulit. Sawah tak banyak menghasilkan. Kekeringan panjang tahun lalu membuat saya tak pernah semangat untuk ke sawah. Kering, semua warnanya menjadi coklat tak pernah terkena air. Padahal biasanya sudah mulai panen padi dan sawah berwarna-warni, hijau agak sedikit menguning. Pada saat itulah, penduduk disini sangat semangat jika pergi ke sawah, karena kami seperti punya harapan baru di musim itu.

Para perempuan di dusunku, Dusun Telaga Lebur Desa Sekotong Tengah Kecamatan Sekotong Kabupaten Lombok Barat, sudah sekitar 15 orang meninggalkan kampung halaman kami. Bekerja sebagai buruh migran di Arab Saudi, sebagian lagi ke Malaysia.

Tak punya harapan untuk hidup di desa kami. Itulah yang terjadi. Banyak yang tergiur oleh biaya gratis, dapat uang belanja 5 juta, gaji besar serta tergiur dengan berbagai bujuk rayu para calo buruh migran. Namun apa mau dikata. Ini adalah keputusan sulit yang harus diambil perempuan. Sedangkan sebagai laki-laki, aku seolah tak terbedaya. Kepalaku terasa sakit, seperti sedang kalah dalam berjuang.

Terbayang bagaimana nasib anak-anakku yang masih kecil. Haruskah ia di rawat oleh neneknya yang sudah tua? Banyak ketakutan yang aku alami, bahkan menjaga anak sendiripun tak mampu aku lakukan karena semua selalu dibereskan oleh istriku. Dan kini, persoalan ekonomi keluargaku juga akan dibereskan oleh istriku. Laki-laki macam apa aku ini?

Sambil menghisap sebatang rokok dan memainkan gadget, aku masih juga belum menyahut ucapan istriku.

Pikiranku menerawang, mengikuti asap rokok yang mengepul ke langit-langit kamar.


"Bagaimana kak, apakah kakak setuju jika saya pergi?,” tanya istriku lagi.

"Saya ingin punya tempat tinggal yang layak kak, hutang-hutang kita juga bisa lunas.Kalau hanya mengandalkan hasil usaha tani saja, dengan keadaan kita seperti sekarang. Kapan kita bisa merubah keadaan,"sambungnya lagi.

Hening.

Anak anak pun telah terlelap dengan mimpi mereka masing masing. Usia mereka masih terlalu kecil untuk tahu apa yang terjadi pada ayah dan ibunya.

Hanya bunyi jangkrik dan rinai hujan di luar,dan titik titik air yang jatuh dari genteng yang bocor,menjadi musik alam yang syahdu dan tragis. Betapa perihnya menahan luka cinta yang terkoyak oleh keadaan.

Aku membayangkan,bagaimana jika aku menyetujui istriku pergi.

Apa kata orang-orang di sekelilingku.

Apa kata mertuaku.

Lalu, dimana harga diriku sebagai lelaki, yang dibebankan tugas untuk menjadi tulang punggung keluarga

Ku hela napas panjang, "beri aku waktu untuk berpikir ya ,barang beberapa waktu," jawabku.

Malam semakin sunyi, dan kamipun terlelap, seiring rasa kantuk yang mulai mendera.

Tak kuat menanggung gundah mendengar permintaan istriku. Langkahku beranjak menuju rumah sahabatku, ia merupakan salah seorang aparat desa di dusun kami. Dan juga seorang Ketua Komunitas Peduli Perempuan dan Anak Desa (KPPAD). Saya ingin mendengar pendapatnya tentang keinginan istriku tersebut.

"Kita harus melihat dan mengkaji dulu persoalannya," demikian kata sahabatku,Sanudin.

"Saya melihat kalau istrimu ingin pergi Jadi buruh migran, tentu ada alasan-alasannya.Dan saya tidak bisa memberikan jalan keluar, jika belum mendengar alasan mengapa istrimu ingin jadi buruh migran,"sambungnya.

Setelah sekian waktu bercakap-cakap, menikmati segelas kopi, ia duduk di depanku.

"Jika istrimu ingin juga pergi demi merubah nasib keluargamu. Saya sarankan agar istrimu berangkat melalui jalur resmi. Urus surat-surat kelengkapannya di dinas yang menangani tenaga kerja. Agar tidak terjadi hal-hal yang tak diinginkan," tutup sahabatku.

Sahabatku mengingatkan soal bahaya trafficking atau perdagangan orang, penipuan yang terjadi selama proses disana dan hal-hal yang membuatku makin takut melepas istriku

Akupun pamit, berat rasanya menguruskan surat-surat istriku untuk segera pergi ke Arab Saudi

(Foto/ Ilustrasi: Pixabay)

*Muhamad Rasid, sehari-hari aktif di Yayasan Tunas Alam Indonesia (SANTAI) Lombok, Nusa Tenggara Barat

Seorang gitaris perempuan berkampanye menghapus stigma bahwa hanya laki-lakilah yang mampu bermain musik. Padahal perempuan sama baiknya dengan laki-laki dalam memainkan musik

Fabi Reyna tampil di panggung-panggung di seluruh dunia, mengelola festival musik dan menjadi pendiri serta pemimpin redaksi majalah “She Shreds” yang didedikasikan bagi gitaris dan basis perempuan.

“Tujuan saya selalu untuk memastikan bahwa kami melayani orang yang kurang terlayani. Sejarah menunjukkan ada begitu banyak gitaris perempuan yang tidak diketahui publik," kata Reyna.

"Saya kira, sejujurnya, siapa yang menyampaikan cerita-cerita ini, siapa yang menciptakan sejarah? Siapa yang menulis buku, siapa yang berada di posisi eksekutif untuk mengambil keputusan? Sebagian besar, lebih dari 90% adalah laki-laki kulit putih. Terutama di Amerika," lanjutnya.

Di halaman-halaman majalah “She Shreds,” Reyna dan timnya berulangkali menulis bahwa perempuan sama baiknya dengan laki-laki, dan [can rock right alongside] laki-laki. Tetapi Reyna sendiri mengatakan ia membutuhkan waktu lama untuk memahami hal itu.

Reyna lahir di Meksiko dan dibesarkan di Texas, tetapi kini ia tinggal di Portland, Oregon.  Ia mulai bermain gitar ketika masih anak-anak, tetapi sebagai musisi muda ia tidak pernah tampil.

“Saya dibesarkan di saat ketika anak laki-laki seumur saya –sepuluh atau sebelas tahun– mengatakan pada saya, 'anak perempuan tidak main gitar.'  Dan hal itu normal karena guru-guru juga mengajarkan demikian," kata Reyna.

Pada usia 18 tahun Reyna memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikan, dan justru melakukan tur musik keliling Amerika bersama kelompok band-nya. Setelah melangsungkan konser selama satu tahun, muncul gagasan untuk mempublikasikan majalah yang khusus didedikasikan bagi pemain gitar perempuan. Diperlukan tiga tahun lagi hingga edisi pertama majalah “She Shreds” dipasarkan.

Kini Reyna telah menerbitkan majalah itu selama tujuh tahun, tiga edisi dalam satu tahun. Tetapi Reyna mengatakan ia baru merasakan kepuasan yang luar biasa dengan bermain gitar.

“Saya kira ketika saya bermain gitar, sangat menggembirakan menemukan sesuatu  yang baru dan sesuatu yang mirip saya dan hal ini mendorong saya.  Tidak ada yang membuat saya lebih bangga ketika saya menantang diri saya sendiri sebagai gitaris, dan ketika saya mencapai sesuatu lewat gitar saya, yaitu menciptakan musik," kata Reyna.

Reyna optimis pada masa depan perempuan dalam industri musik, dan juga gitar. 

Ia yakin waktu sedang berubah dan perempuan akan meningkatkan kemampuan gitar mereka, serta kemampuan memamerkan bakat mereka sendiri. Karena tentunya para pemain gitar musik rock, tentu sangat suka jika ada pemain gitar perempuan. [em/ii]

(Foto: Youtube)

(Sumber: Voice of America/ VOA Indonesia)

Tidak bisa sekolah tinggi seperti orang lain pada umumnya ternyata sangat tidak menyenangkan, bahkan saya pernah dibully karena ini. Padahal seharusnya kita harus respek pada orang lain bukan karena status sosial atau status pendidikannya, tapi karena respek adalah cara kita untuk menghargai orang lain

*Ravika Alvin Puspitasari- www.Konde.co

Inilah yang saya dan beberapa kawan saya alami. Saya bisa kuliah, namun bukan berarti jika ada teman saya yang tak bisa kuliah, ia boleh dibully. Karena penghormatan pada orang lain menurut saya sifatnya universal, tidak mengenal kelas sosial

Hanya karena berasal dari keluarga miskin, saya pernah dibully karena dianggap tak bisa sekolah tinggi. Hal ini juga menimpa teman-teman perempuan saya yang tak bisa melanjutkan sekolah selepas Sekolah Menengah Atas (SMA).

Selama ini yang saya amati, banyak perempuan dari golongan masyarakat kelas menengah ke bawah atau proletar, masih banyak yang belum mendapatkan hak dalam mengakses pendidikan.

Mereka termarginalisasi akan status dan peranan sosial mereka karena berbagai bentuk stratifikasi sosial dan bayang-bayang budaya patriarki yang menghantaui mereka untuk mengakses pendidikan yang lebih tinggi.

Rata-rata yang tak bisa sekolah tinggi adalah mereka yang tak punya cukup uang, tak punya akses, tak punya kesempatan dan pilihan. Kondisi ini sering membuat perempuan kawan-kawan saya tidak bisa mengakses kesempatan, lebih-lebih kesempatan pendidikan seperti lainnya.

Banyak perempuan yang menyatakan bahwa melanjutkan kuliah bukan dianggap sebagai cita-cita penting karena harus mendahulukan saudaranya yang laki-laki untuk kuliah. Ada juga anggapan yang mengatakan, buat apa sekolah tinggi buat perempuan jika nanti menikah juga, menjadi ibu rumah tangga dan tidak dipakai ilmunya?

Hal ini lalu memunculkan asumsi di pikiran saya: bukankah hakikat dari pendidikan selama ini sendiri adalah sifatnya universal, adil, dan merata? lalu kenapa praktik-praktik diskriminasi, dan stratifikasi masih terjadi di dalam pendidikan untuk perempuan?.

Dan siapa bilang jika ilmu kita tak akan kita pakai ketika kita menjadi ibu di rumah? Karena pendidikan sejatinya adalah mengajarkan cara berpikir, memberikan contoh dalam menyelesaikan persoalan dan memberikan cara untuk menghargai orang lain. Pendidikan seperti ini akan digunakan dimanapun kita berada dan dalam menentukan pilihan-pilihan kita

Problematika semacam itu juga masih terus terjadi di masyarakat kita, misalnya ketika masyarakat masih berpikir secara irasional, dan masih berpengaruhnya hegemoni dari budaya patriarki yang melihat bahwa penghormatan pada orang lain diberikan karena strata sosialnya yang tinggi, bisa mengakses pendidikan tinggi, punya uang yang banyak agar dihormati orang lain. Akibatnya, perempuan menjadi tersingkir dari ruang-ruang ini. Perempuan menjadi terbelakang, dianggap tak pintar dan tidak mendapatkan penghormatan.

Buat saya, inilah pentingnya aksi sosial untuk membebaskan perempuan dari penindasan yang membuat mereka termarginalkan dalam mengakses pendidikan. Perempuan berhak untuk mendapatkan akses pendidikan secara luas, dan ikut berperan bukan untuk memilih dimanapun mereka berada, memilih bekerja di rumah atau di ranah publik.

Kartini sudah pernah menuliskan, bahwa perempuan harus mengenyam pendidikan setinggi-tingginya, tidak hanya perempuan dari kalangan berduit saja yang dapat sekolah tinggi namun saat ini asal ada kemauan dan semangat bagi semua perempuan dapat menempuh pendidikan setinggi-tingginya sesuai minat dan bakatnya.

Karena pendidikan akan mendorong terciptanya kesadaran kritis masyarakat yang memegang teguh nilai-nilai akan kesetaraan gender, dan secara perlahan memupus praktik diskriminasi yang timbul akibat hegemoni dari budaya patriarki yang cukup kental dalam masyarakat.

Saya mengusulkan, upaya yang bisa dilakukan antara lain adalah membuka akses sebanyak-banyaknya bagi perempuan untuk bersekolah tinggi. Untuk perempuan proletar, bisa mendapatkan beasiswa yang lebih banyak

Lalu merekonstruksi sistem pembelajaran seperti kurikulum pendidikan agar tidak terjadi bias gender, dan praktik diskriminatif terhadap perempuan di dunia pendidikan. Dalam hal ini seperti pandangan dari Paulo Freire, bahwa pendidikan haruslah bisa menjadi sarana bagi masyarakat untuk menumbuhkan kesadaran kritis dalam melepaskan diri dari berbagai belenggu praktik penindasan atas dominasi masyarakat dominan dalam ranah sosial, ekonomi, budaya, dan gender.

Pemerintah dan seluruh elemen masyarakat mestinya bersinergi untuk berperan serta dalam menciptakan sistem pendidikan yang humanis, dan memberikan kebebasan dan fasilitas kepada perempuan dalam merengkuh pendidikan tinggi sebagai kebutuhan sosial mereka utamanya bagi para perempuan dari kalangan masyarakat kelas menengah ke bawah yang memiliki keterbatasan ekonomi

(Foto/ Ilustrasi: Pixabay)

*Ravika Alvin Puspitasari,
perempuan dari sebuah Kabupaten yang terkenal dengan tanah kelahiran presiden pertama Indonesia, Bung Karno. Kesibukan saat ini kuliah daring dan mengikuti berbagai diskusi online. Selain itu jika kuliah masuk seperti biasanya, Ravika aktif menulis di lembaga Institute For Javanese Islam Research dan tertarik dengan isu gender

Kendati banyak sekali kekerasan seksual yang terjadi di sekitar kita, namun sebagian kelompok memiliki lack of knowledge, sebagian acuh dan menganggap itu kurang penting. Sebagian lagi menganggap bahwa apa saja yang terjadi tidak akan berpengaruh pada kehidupannya. Buat saya, ini yang kemudian menghambat disahkannya Rancangan Undang-Undang/ RUU Penghapusan Kekerasan Seksual


*Rivelda Julia Helfira- www.Konde.co

Orang-orang seperti itulah yang sebenarnya tidak memiliki pemaknaan yang mendalam terhadap rasa kemanusiaan dan kepeduliaanya terhadap orang lain, padahal dirinya bisa saja mengalami tindak kekerasan seksual juga.

Tindak kekerasan seksual menjadi hal kentara yang tak terelakkan terjadi di kalangan masyarakat kita. Saya banyak menjumpainya dalam kehidupan seharu-hari.

Masyarakat Indonesia yang masih kental dengan sistem patriarkinya seolah membawa pemikiran bahwa tindakan kekerasan seksual merupakan hal yang biasa dan umum terjadi.

Tindakan yang secara luas kebanyakan menimpa kaum perempuan ini kemudian memperkuat perspektif bahwa perempuan adalah kaum yang mudah tertindas, terhina bahkan tergerus hak-haknya ketika disematkan menjadi korban kekerasan seksual yang justru seharusnya memiliki perlindungan penuh.

Perlindungan khusus terhadap korban tindak kekerasan seksual inilah yang harus terus diperhatikan. Mengingat bahwa tindak kekerasan seksual menyangkut hak-hak pribadi seseorang dan sangat mengancam kehidupan manusia sehingga tidak dapat dikatakan sebagai tindak kriminal biasa.

Salah satu bentuk upaya perlindungan pada korban kekerasan seksual dapat berupa disahkannya Rancangan Undang-Undang/ RUU Penghapusan Kekerasan Seksual. RUU yang masih terus disuarakan dan diperjuangkan untuk bisa menjadi undang-undang yang sah sehingga ada perlindungan yang preventif bagi korban dan sanksi tegas bagi pelaku. Hal ini dipertegas karena RUU Penghapusan Kekerasan Seksual meliputi upaya-upaya preventif untuk menghapus tindakan kekerasan seksual.

Dalam Bab III RUU disebutkan bahwa Penghapusan Kekerasan Seksual meliputi pencegahan, penanganan, perlindungan, pemulihan korban dan penindakan pelaku. Dengan demikian tidak ada lagi alasan bahwa kejahatan kemanusiaan seperti kekerasan seksual tidak dapat ditangani atau bisa diabaikan begitu saja.

Dengan menyuarakan dan memperjuangkan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual maka kita sebagai masyarakat telah ikut andil membungkamkan para pelaku atau sebagian orang yang masih menganggap tindak kekerasan seksual sebagai hal yang biasa dan seakan dilumrahkan terjadi, seperti misalnya orang-orang yang menganggap dirinya memiliki kedudukan tinggi seperti laki-laki dibanding perempuan dengan lekatnya pemikiran patriarki.

Partisipasi kita amat dibutuhkan agar penghapusan kekerasan seksual dapat terus disuarakan. Sejalan dengan yang ada dalam RUU Penghapusan Kekerasan Seksual juga pada Bab VIII bahwa partisipasi masyarakat sangat berguna demi mencegah terjadinya kekerasan seksual, memberikan informasi dengan keberanian melaporkan setiap kejadian kekerasan seksual, membantu memantau kinerja pemerintah dalam menangani tindak kekerasan seksual hingga dapat membangun dan mengoptimalkan pemulihan kepada korban.

Dengan partisipasi-pastisipasi itu kita akan terus membawa pemikiran kita semakin bergerak maju, mengedepankan hak-hak kemanusiaan, melindungi satu sama lain dan menciptakan keadaan aman bagi semua pihak dengan mengupayakan penghapusan kekerasan seksual.

Penghapusan kekerasan seksual secara utuh memanglah tidak mungkin bisa terjadi, hal itu tak terelakkan manakala ada kesempatan, pemaksaan, hingga tindak kekerasan dari pelaku dan korban berada di bawah ancaman misalnya.

”There is nothing inherently wrong with sex between two consenting adults, there is something wrong with forcing another person to engage in sexual activity because it involves a form of displeasure or disgust that is exceptionally bad.”

Maka dapat dikatakan bahwa tindakan seksual akan sangat keji dan menjadi tidak wajar apabila dilakukan dengan pemaksaan, membawa ancaman sampai kepada kekerasan. Seperti salah satu bentuk tindak kekerasan seksual yakni pemerkosaan, hal ini dapat dilakukan dimana saja dan oleh siapa saja dengan upaya-upaya penguasaan terhadap diri seseorang bahkan dengan keji bisa dilakukan secara berkelompok.

“Rape involves force by someone who does not have the authority, or right, to exert that force. Same as like an analogy, It would be bad to force your neighbor to eat an apple”


Sehingga kejahatan semacam itulah yang mengancam kehidupan seseorang bukan hanya pada saat tindak kekerasan seksual terjadi namun setelahnya amat memungkinkan mendatangkan trauma berat.

Kondisi mental seseorang dapat sangat terganggu, merasa dirinya tak lagi berharga, merasa direndahkan, dan merasa tidak dicintai lagi oleh orang lain hingga mengarahkan dia untuk mengakhiri hidupnya.

Setiap manusia perlu perlindungan dari sesama manusia lainnya, mari bungkamkan para pelaku kejahatan kemanusiaan, tegakkan keadilan dan suarakan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual.

Referensi:

Brogaard Berit (2015), Is Casual Sex Just Plain Wrong?, https://www.psychologytoday.com/us/blog/the-mysteries-love/201502/is-casual-sex-just-plain-wrong

Komnas Perempuan (2018), Catatan Tahunan ‘Tergerusnya Ruang Aman Perempuan dalam PusaranPolitikPopulisme, Komnas Perempuan : Jakarta,https://www.komnasperempuan.go.id/file/pdf_file/2018/SIARAN%20PERS%202018/Lembar%20Fakta%20Catahu%207%20Maret%202018.pdf

(Foto/ Ilustrasi: Pixabay)

*Rivelda Julia Helfira,
mahasiswa Universitas Katolik Parahyangan Bandung Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jurusan Ilmu Administrasi Publik

Belum lama ini akun resmi Instagram mengunggah foto seorang seniman asal Cilegon, Imelda Adams, yang sedang memegang lukisan hasil karyanya.

Foto yang diunggah langsung oleh akun resmi Instagram ini telah disukai oleh ribuan orang dan hingga artikel ini dirilis, telah disukai lebih dari 546 ribu orang dan mengundang sekitar 8.700 komentar.

Merupakan sebuah kejutan bagi Imelda, ketika pada suatu hari Instagram mengirim pesan dan menawarkan untuk menampilkan hasil karyanya.

“Aku kayak masih nggak percaya, karena aku orang awam gitu ya. Tahunya kan yang di feature di Instagram itu cuman orang-orang yang punya follower banyak, terus mungkin kualitas foto yang bagus dan segama macam,” ujar seniman kelahiran tahun 1997 ini.

Untuk sebuah foto bisa diunggah di akun resmi Instagram ternyata tidak mudah dan harus melalui sebuah proses yang cukup panjang, sekitar satu bulan bagi Imelda.

“Iya, awalnya waktu itu aku sempat di kontak langsung mungkin (oleh) karyawan dari kantor Instagram Asia Pasifik. Waktu itu sempat e-mail aku, terus nawarin aku untuk mau atau nggak gitu kontenku di feature di Instagram,” jelas pelukis yang juga hobi bermusik ini.

Setelah dikontak langsung oleh kantor Instagram Asia Pasifik, proses berlanjut ke sesi wawancara dengan pihak Instagram di Amerika Serikat. Foto yang ditampilkan pun harus memenuhi beberapa persyaratan khusus, mulai dari tema yang dipilih dan ukuran.

Usai melakukan diskusi panjang, Imelda lalu langsung mengambil kanvas dan membuat lukisan dengan tema “Month of Good” atau bulan kebaikan, mengingat pada waktu itu fokus yang ingin diangkat adalah bulan Ramadan. 

Lewat karyanya ini, Imelda juga berusaha menuangkan kehidupannya di masa karantina wilayah, terkait pandemi COVID-19. Bagi Imelda, hasil karyanya merupakan curahan hati yang ia tuangkan ke kanvas. 

“Aku pengen karyaku itu ya, menyatu dengan aku,” jelasnya.

Hasil karya yang akhirnya menjadi sorotan di Instagram ini berhasil ia selesaikan hanya dalam waktu dua hari.

“Sebenarnya itu gambar aku. Aku yang lagi ngelukis, kemudian di dalam lukisannya itu ada lukisan aku, yang di lukisan itu ada gambar keluarga yang lagi duduk di meja itu. Itu sebenarnya menggambarkan aku, yang sebenarnya mengambil hikmah dari adanya lockdown ini, dimana kita bisa saling lebih dekat lagi dengan keluarga gitu,” paparnya.

Dalam lukisannya tertulis kata “charity” alias “amal.” Kata yang penuh arti tersebut ia pilih untuk menggambarkan kepedulian dari masyarakat terhadap musibah COVID-19 ini. 

“Ketika ada musibah ini, teman-teman aku terutama juga banyak yang mengadakan charity gitu (untuk) teman-teman yang terkena musibah COVID-19,” jelasnya.

Instagram pun menulis:

"Bagi seniman Indonesia, Imelda Adams, hasil karyanya adalah kesempatan untuk mengekspresikan diri dan berbagi inspirasi untuk melakukan hal positif."

Awalnya, Instagram hanya meminta Imelda untuk menampilkan lukisannya saja, tetapi pada akhirnya mereka meminta agar Imelda “in frame di dalamnya.” 

“Mungkin Instagram juga lihat dari Instagram aku, konten Instagram aku tuh di dalamnya mungkin like yang terbanyak tuh biasanya ada akunya gitu. Foto-foto yang ada akunya itu lebih banyak di-like sama audience di Instagram,” kata Imelda.

Benar saja! Jumlah pengikut Imelda yang sebelumnya adalah sekitar 4,000 orang, langsung melonjak pesat menjadi lebih dari 15,700 pengikut hanya dalam waktu lima hari.

“Aku senang banget sih. Terus aku jadi lebih dikenal juga sama teman-teman di luar sana yang bahkan aku nggak kenal gitu,” ujar Imelda.

Akun Instagram Imelda langsung dibanjiri komentar dan pujian. Di antara mereka bahkan menyatakan rasa bangga melihat ada sosok seniman Indonesia yang ikut diapresiasi oleh Instagram dan para pengguna Instagram di seluruh dunia.

Keraguan dan Putus Asa Melanda, Imelda: “Perjalanan setiap orang kan beda-beda”

Kecintaan Imelda terhadap dunia seni lukis memang sudah tumbuh sejak kecil. Ia mulai serius mendalaminya ketika duduk di bangku kelas tiga SMP, dengan mengikuti kursus privat selama tiga bulan dan mempelajari lebih lanjut secara otodidak. 

“Aku lebih nyaman-nya lukis tangan yang manual. Kalau kebutuhan digital itu lebih ke aku misalnya mau mengaplikasikan gambarku ke baju atau apa gitu ya yang desain-desain gitu. Jadi ya mau enggak mau aku harus bisa digital juga,” kata Imelda.

Lukisan-lukisan Imelda dijual dengan harga 5-20 juta rupiah, tergantung ukuran dan tingkat kesulitan penggarapannya. Target pembelinya kebanyakan adalah anak-anak muda.

Koleksi lukisannya ia beri nama “Gacon,” yang dalam bahasa Sunda, artinya andalan atau yang diandalkan. Gacon adalah sebutan yang dilontarkan oleh teman-temannya, setiap kali melihat karakter yang ditampilkan oleh Imelda di karya-karyanya.

“Ada gambar orang yang matanya kecil gitu, terus rambutnya diikat ke atas dan itu entah kenapa orang-orang bilang, kalau itu karakternya aku banget gitu,” jelasnya.

Yang juga menjadi khas dari hasil karyanya adalah baju garis-garis yang selalu dipakai oleh karakter-karakter yang ia lukis.

“Aku suka banget dekorasi garis-garis. Aku suka banget pakai pola garis-garis dan memang kebetulan sih aku juga suka pakai baju panjang yang polanya garis-garis juga gitu. jadi bener-bener deket sama aku gitu,” kata Imelda.

Merupakan sebuah kepuasan bagi Imelda ketika mengetahui bahwa karya-karyanya ini ternyata juga mengena di kehidupan banyak orang. 

“Sebenarnya tujuan aku sendiri melukis kan hanya mengeluarkan unek-unek gitu kan, tapi ternyata itu bisa relate juga gitu dengan orang lain,” jelas Imelda.

Saat kuliah, Imelda memutuskan untuk mengambil jurusan yang jauh berbeda dari dunia yang ia cintai, yaitu marketing komunikasi di Universitas Sultan Agung Tirtayasa di Serang. 

“Awalnya aku masih bingung, jadi setelah lulus kuliah aku mau ngapain, karena kebetulan aku lulus dengan gelar marketing komunikasi di mana yang ini sangat berbeda sekali,” cerita Imelda yang baru saja lulus ini.

Meskipun sudah sering melakukan pameran dan mengajar di galeri, awalnya orang tua Imelda sempat ragu akan keputusannya untuk mendalami dunia seni lukis, mengingat stigma yang ada di masyarakat mengenai profesi seniman yang kerap dianggap tidak menghasilkan.

“Aku sempet ya putus asa juga gitu, sempat kepikiran untuk berhenti, karena ya stigma itu tadi. Itu yang bikin aku jadi insecure ya, mungkin ngelihat teman-temanku yang sudah lebih dulu sukses dalam definisiku, tapi kok aku masih gini-gini aja gitu. Tapi enggak juga gitu. Perjalanan setiap orang kan beda-beda,” jelasnya.

Namun, Imelda tetap teguh pada pendiriannya dalam menekuni dunia ini. Menurutnya, di zaman sekarang, “apa pun bisa menjadi pekerjaan.” Ditambah lagi, ilmu marketing komunikasi yang ia dalami saat kuliah, ternyata juga bermanfaat untuk karirnya di dunia seni rupa ini, khususnya di saat menjual produk lukisannya.

“Definisi pekerjaan menurut orang tua zaman dulu itu kan (bekerja dari pukul) nine to five (red: 9-5) gitu ya, tapi kalau aku sendiri sih nggak mau ambil pusing itu. Orang tua juga sekarang sudah mendukung, karena mereka sudah melihat hasilnya gitu kan. Aku bisa membuktikan itu pada akhirnya,” tegasnya.

Kepada teman-teman yang memiliki keraguan yang pernah ia rasakan, Imelda berpesan untuk mengubah stigma yang ada.

“Mereka takut akan stigma bahwa seniman itu akan miskin,” katanya.

“Tapi kan sebenarnya enggak. Itu kan hanya sejarah pada zaman dulu. Sementara sekarang kan juga zaman sudah berubah, dimana media sosial itu sangat membantu banget untuk mempromosikan karya,” tambahnya.

Selain kini tengah menggarap lukisan yang mengambil tema pandemi COVID-19, untuk ke depannya, Imelda berencana akan terus melakukan dunia seni yang ia cintai, dengan berkarya, berpameran, dan melakukan kegiatan kesenian lainnya.

“Ini tuh kesukaan aku. Jadi susah banget untuk lepas," pungkasnya


(Foto: Seniman Cilegon, Imelda Adams, dan karyanya yang mendapat apresiasi dari Instagram/ dok: Imelda Adams)

(Sumber: Voice of America/ VOA Indonesia)

"Corona is like your wife. In easily you try to control it, then you realize that you can't. Then, you learn to live with it’.”


*Ega Melindo- www.Konde.co

Pernyataan seksis tersebut dilontarkan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan HAM, Mahfud MD dalam sambutannya di acara Halal bi Halal Ikatan Alumni Universitas Sebelas Maret/ UNS yang disiarkan di kanal Youtube Universitas Negeri Sebelas Maret, Selasa, 26 Mei 2020:

“Saya kemarin mendapat meme dari Pak Luhut (Menko Kemaritiman) itu begini, ‘Corona is like your wife. In easily you try to control it, then you realize that you can't. Then, you learn to live with it’.”

Atau kira begini bunyinya: “Corona itu seperti istri. Dengan mudah anda mencoba mengontrolnya, maka ketika anda menyadari bahwa anda tidak bisa, kemudian anda belajar hidup dengannya.”

Solidaritas Perempuan mengecam pernyataan pejabat publik yang menganalogikan corona sebagai isteri. Pernyataan ini bukan hanya mencerminkan dangkalnya daya pikir pemerintah untuk memecahkan persoalan pandemi Covid-19, tetapi juga menunjukkan pola pikir seksis dan misoginis pejabat publik.

Bahkan pernyataan itu secara jelas mengandung kehendak untuk menguasai atau mengontrol isteri/ perempuan.

Koordinator Badan Eksekutif Nasional Solidaritas Perempuan, Dinda Nisaa Yura mengatakan, tak hanya itu, menyamakan corona dengan perempuan atau isteri, juga menunjukan cara pikir patriarkis yang melihat perempuan sebagai obyek, bukan sebagai subyek dan manusia secara utuh.

Perempuan dianggap sebagai liyan (the other), atau the second sex, sehingga memiliki kedudukan yang tidak setara dengan laki-laki, bahkan dianggap objek hak milik laki-laki.

Lelucon yang menjadikan perempuan sebagai obyek yang dianggap biasa, akan melanggengkan budaya kekerasan terhadap perempuan. Cara pandang demikian jelas bertentangan dengan komitmen Indonesia yang telah meratifikasi Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan sejak tahun 1984.

Secara mendasar cara pandang tersebut sekaligus mengingkari eksistensi perempuan sebagai manusia yang setara dan berdaya. Ketika seorang pejabat publik mengeluarkan pernyataan yang merendahkan perempuan, maka menjadi tantangan bagi perjuangan penghapusan kekerasan terhadap perempuan, maupun upaya mendorong negara menghormati, memenuhi, dan melindungi hak-hak perempuan.

Jika dilihat lebih jauh, pernyataan yang disampaikan juga menunjukkan ketidakmampuan pemerintah dalam mengontrol laju pandemi Covid-19.

Berbicara terkait perempuan dan corona, di beberapa negaran, perempuan pemimpin justru lebih punya kapasitas mengatasi Covid.

Sebagaimana dikutip di dalam artikel yang dimuat The Conversation: Tindakan para perempuan pemimpin di Denmark, Finlandia, Jerman, Islandia, Selandia Baru, Norwegia, Islandia, Jerman, Taiwan, dan Selandia Baru dilihat sebagai bukti pendukung bahwa perempuan mengelola krisis lebih baik daripada rekan-rekan pria mereka.

Sebaliknya, pernyataan Mahfud MD secara gamblang mengakui bahwa pemerintah gagal dan tidak mampu mengendalikan virus Corona, sehingga satu-satunya pilihan adalah menerima untuk hidup dengan virus tersebut

Di tengah angka pasien positif Covid-19 dan kematian yang terus meningkat, lelucon tersebut sangat tidak sensitif dan tidak bertanggung jawab. Kewajiban dan tanggung jawab negara adalah menjamin hak warga negara, termasuk hak hidup, hak atas rasa aman, dan hak atas kesehatan.

Mengakui kegagalan dalam mengontrol virus, dan meminta masyarakat untuk hidup bersama virus dengan risiko terpapar hingga kematian, sama dengan mempertontokan kegagalan negara sebagai sebuah lelucon di hadapan rakyat.

*Ega Melindo, Aktif di Solidaritas Perempuan. Tulisan ini disarikan dari pernyataan Solidaritas Perempuan tentang lelucon seksis pejabat publik

Sudah 22 tahun reformasi, namun masih banyak sekali hambatan perempuan untuk terjun di politik praktis. Selain hambatan keterbatasan dana, dukungan dari kelompok masyarakat sipil dan juga partai politik masih sangat minim untuk perempuan

*Nunu Pradya Lestari- www.Konde.co

Akademisi Universitas Indonesia, Ani Sutjipto, selama ini banyak melakukan penelitian bagaimana hambatan yang harus dilalui perempuan di ranah politik praktis.

Ani Sutjipto mengungkapkan, keinginan perempuan untuk menjadi anggota parlemen bukan sesuatu yang mudah, apalagi perempuan selama ini di ranah politik praktis jauh tertinggal jika dibandingkan laki-laki. Apa penyebabnya?

Ani Sutjipto memaparkan bagaimana perkembangan demokrasi di Indonesia selama dua dekade terakhir sebagai penyebab hal yang telah menghambat perempuan terjun di politik praktis. Sebelum reformasi, gerakan perempuan di Indonesia terus dibayangi represi rezim Orde Baru. Soeharto, penguasa zaman itu, mengembalikan perempuan dalam kegiatan domestik: dapur, kasur, dan sumur. Jadi, ini yang menyebabkan perempuan jauh tertinggal

Setelah Orde Baru tumbang, sebetulnya sistem demokrasi memberikan harapan bagi perjuangan perempuan. Namun tentu saja, masih banyak ganjalan yang ditemui ketika mendorong keterlibatan perempuan di ranah politik praktis.

Meski sistem demokrasi memberikan harapan bagi perjuangan perempuan, tapi keterlibatan perempuan di politik praktis masih menemui banyak ganjalan, salah satu penyebabnya karena kesetaraan perempuan hanya dipandang sebagai jumlah (kuantitas), bukan sebagai kualitas. Untuk mendapatkan kualitas yang baik, tentu saja akses terhadap perempuan dan laki-laki harus setara. Sehingga kebijakan yang diperoleh bisa mewakili kepentingan seluruh masyarakat, baik laki-laki maupun perempuan

Nurul Arifin, anggota Badan Legislasi (Baleg) DPR RI mengatakan bahwa di kalangan politisi, isu perempuan masih kerap menjadi perdebatan.

“Kemunculan beberapa regulasi kontroversial yang menuai polemik akhir-akhir ini. Di antaranya RUU Ketahanan Keluarga, hingga munculnya draft usulan Rancangan Undang-Undang (RUU) Ibu dan Anak dalam arena legislasi nasional,” ujar Nurul.

Nurul Arifin dan Ani Sutjipto menyatakan ini dalam diskusi publik bertema “Politik Perempuan di Tengah Persimpangan Jalan Demokrasi” pada Kamis, 12 Maret 2020 yang diadakan Koalisi Perempuan Indonesia di Jakarta. Diskusi ini diadakan dalam rangka International Women's day.

Beberapa tema internasional Women's Day di tahun ini, #EachforEqual dan #SheLeads, menjadi tagline utama untuk menginspirasi publik dalam menentang bias gender, mempertanyakan mengenai stereotipe dan merayakan pencapaian setiap perempuan di seluruh dunia. Dari festival IWD di Berlin, hingga aksi longmarch di Indonesia, setiap sudut dunia telah merayakan Hari Perempuan Internasional, termasuk memetakan hambatan yang dialami perempuan di ranah politik praktis

Di kalangan legislatif, Nurul Arifin mengatakan bahwa RUU Ketahanan Keluarga misalnya menjadi pertentangan di internal anggota Baleg. Aturan yang dikritik oleh para pegiat kesetaraan gender ini akan menghambat pergerakan perempuan karena menghilangkan peran perempuan di ranah sosial, termasuk di kancah politik.

Sekretaris Jenderal Koalisi Perempuan Indonesia, Mike Verawati, mengungkapkan ada banyak sekali hambatan dan tantangan dalam mewujudkan kesetaraan perempuan Indonesia selama dua dekade ini. Selain hambatan dari segi keterbatasan dana, dukungan dari kelompok masyarakat sipil dan juga partai politik cukup minim bagi perempuan.

Meskipun demikian, Mike mengungkapkan, harapan terhadap perbaikan partisipasi perempuan terutama dalam aspek politik cukup besar. Salah satunya dengan terus mengawal implementasi kuota 30% bagi Caleg perempuan serta membekali perempuan dengan pendidikan politik.

Saat ini, Indonesia memang memiliki aturan kuota minimum calon legislatif perempuan yakni sebesar 30 persen, tapi belum dilaksanakan dengan baik sehingga perlu perbaikan yang cukup besar.

“Ada banyak sekali hambatan dan tantangan dalam mewujudkan kesetaraan perempuan Indonesia selama dua dekade ini. Selain hambatan dari segi keterbatasan dana, dukungan dari kelompok masyarakat sipil dan partai politik cukup minim,” kata Mike.

Riset yang dilakukan oleh Ella S. Prihatini dari University of Western Australia menyimpulkan bahwa sistem politik di Indonesia masih didominasi oleh laki-laki. Misalnya pada pemilihan legislatif 2014, dari 2.467 kandidat perempuan yang masuk ke bursa caleg, hanya 97 orang yang menang. Angka ini tak lebih dari 4 persen. Sedangkan di parlemen nasional saat itu, rasio keterwakilan perempuan masih di bawah 20 persen.

Dari sedikitnya angka perempuan ini, anggota parlemen perempuan yang berkualitas pun susah ditemukan karena kebanyakan perempuan dipilih karena memiliki hubungan dengan petahana atau merupakan keluarga dari petinggi partai politik. Kondisi tersebut masih terjadi hingga sekarang.

Dalam Pemilu 2019 lalu, hanya 6 persen perempuan yang berlatar belakang kalangan profesional, sisanya, 41 persen memiliki kekerabatan dengan elite partai dan 53 persen lainnya berlatar belakang aktivis partai.

Padahal keterlibatan perempuan di parlemen adalah hal penting karena mereka diharapkan bisa memengaruhi kebijakan sosial terkait dengan hak-hak perempuan. Jika legislator perempuan punya kecakapan terhadap isu perempuan, maka penanganan isu gender di negara itu bisa dilaksanakan dengan baik.

Melalui esai di The Conversation, Iim Halimatusa’diyah mengatakan bahwa kebanyakan legislator perempuan tak memiliki posisi yang strategis. Menurut Iim, ketidakterlibatan ini tak melulu terkait dengan kualitas anggota perempuan, tapi karena kuatnya budaya patriarki.

Penempatan perempuan di posisi strategis parlemen jelas penting, misalnya dalam badan anggaran, keterlibatan perempuan bisa mendorong anggaran pro perempuan, serta badan legislasi yang bisa mendukung kebijakan terkait kesejahteraan perempuan dan anak.

Aktivis perempuan, Dhyta Caturani, mengakui bahwa proses itu tidak instan. Namun hal tersebut bisa dilakukan dengan melawan struktur kuasa.

“Penting bagi perempuan untuk mewujudkan leadership dari aspek politik dan pengambilan kebijakan,” ungkap Dhyta dalam diskusi tersebut.

Cara yang bisa dilakukan untuk meningkatkan partisipasi perempuan dimulai dari pengambilan keputusan dalam keluarga, kelompok masyarakat, hingga ke tingkat nasional dan internasional.

Kesetaraan tak sekadar kesamaan rasio jumlah (kuantitas) antara perempuan dan laki-laki, tapi lebih pada kualitas yakni pengambilan keputusan. Untuk mendapatkan kualitas yang baik, tentu saja akses terhadap perempuan dan laki-laki harus setara. Sehingga akhirnya, kebijakan yang diperoleh bisa mewakili kepentingan seluruh masyarakat, baik laki-laki maupun perempuan.

(Foto: Nunu P.L)

*Nunu Pradya Lestari, sehari-hari aktif sebagai kontributor www.Konde.co dan pegiat buruh di Jakarta





Serial The World of the Married Couple sangat populer tidak hanya di asalnya yaitu Korea Selatan tapi juga di Indonesia.
The Conversation Indonesia



Ranny Rastati, Indonesian Institute of Sciences (LIPI)

The World of the Married, yang dikenal juga dengan A World of Married Couple, adalah drama asal Korea Selatan yang sedang populer di kalangan para penggemar drama Korea (drakor).


Dibintangi oleh Kim Hee Ae (sebagai Ji Sun Woo), Park Hae Joon (sebagai Lee Tae Oh), dan Han So Hee (sebagai Yeo Da Kyung), drakor ini dirilis pada 27 Maret 2020. Saking populernya, The World of the Married bahkan memecahkan rekor baru sebagai drakor rating tertinggi sepanjang sejarah pertelevisian Korea pada 2 Mei 2020.


Drakor yang dirilis pada masa pandemi COVID-19 ini menceritakan kisah rumah tangga yang dibumbui perselingkuhan dan pengkhianatan. Diceritakan, Sun Woo adalah seorang dokter yang terlihat memiliki segalanya. Karir yang sukses, keluarga yang bahagia, dan finansial yang mumpuni.


Namun, yang tidak Sun Woo ketahui, segala yang tampak indah di permukaan ternyata menyimpan kisah kelam yang bertahun-tahun disimpan rapat oleh suaminya, Tae Oh. Pernikahan satu dekade itu ternyata coreng-moreng akibat perselingkuhan yang dilakukan Tae Oh bersama Da Kyung. Yang lebih menyakitkan, sahabat dan teman dekat Sun Woo mengetahui perselingkuhan itu namun turut merahasiakannya.


Menurut Nielsen Korea, rating rata-rata The World of the Married mencapai 24,33% secara nasional, mengalahkan rekor drakor SKY Castle yang sebelumnya sebesar 23,78%.


Penayangan episode akhir pada 16 Mei 2020 bahkan menjadi trending nomor satu di Twitter Indonesia dengan tagar #TheWorldoftheMarried.


Ada setidaknya tiga faktor mengapa drakor ini begitu sukses tidak hanya di Korea tapi juga di luar negeri, termasuk Indonesia. Ketiga faktor ini datang baik elemen-elemen di dalam drakor itu sendiri maupun konteks masyarakat yang menonton.


Skenario oke dan akting yang mumpuni


The World of the Married diadaptasi dari serial BBC One berjudul Doctor Foster, tapi tampaknya kesuksesannya melebihi serial aslinya.


Berbeda dengan drakor genre senada yang mengumbar cerita cinta penuh sensasi dan bertele-tele, The World of the Married menawarkan keunikan dengan plot cerita yang sangat cepat dan sulit untuk ditebak. Di sini, tidak ada kisah ala Cinderella yang menceritakan gadis miskin diselamatkan oleh pangeran kaya raya lalu berjuang atas nama cinta. Narasi usang itu dijungkirbalikkan oleh sosok Sun Woo sebagai pencari nafkah utama sekaligus penyandang dana perusahaan hiburan milik Tae Oh. Karakter-karakter The World of the Married ini juga lebih rasional, memiliki sisi baik dan buruk, serta tidak ada yang menjadi sosok suci tanpa dosa.


Kim Hee Ae bukanlah nama baru dalam industri hiburan Korea. Sebelum The World of the Married, ia berperan dalam drakor My Husband’s Woman, A Wife’s Credentials , dan Secret Affair yang semuanya bertema prahara rumah tangga.


Sebagai seorang yang berpengalaman memainkan peran sebagai istri yang dikhianati maupun yang mengkhianati, Hee Ae mampu mengangkat karakter Sun Woo ke level yang lebih tinggi. Hanya dengan ekspresi dan sorotan mata, Hee Ae dengan apik memainkan psikologis penonton mulai dari simpati, geram, bingung, dan bertanya-tanya.


Totalitas akting Hee Ae pun ramai diperbincangkan netizen setelah ia melakoni adegan menceburkan diri ke laut tanpa peran pengganti. Ia bahkan dikabarkan benar-benar hanyut akibat ombak yang besar dan udara yang dingin.


Park Hae Joon yang berperan sebagai suami Sun Woo pun menunjukkan kualitas akting yang mumpuni.


Karakter Tao Oh pun seperti dibentuk untuk memenuhi semua kriteria suami selingkuh yang terdapat dalam sebuah artikel ilmiah yang mengamati tentang ketidaksetiaan pasangan, seperti membeli ponsel baru secara diam-diam, menghindari menjawab panggilan telepon tertentu saat berada di dekat pasangan, sering menghapus pesan, dan berbohong.


Tema pengkhianatan dan cinta terlarang


Selama beberapa dekade, perselingkuhan merupakan hal tabu dan serius bagi masyarakat Korea.


Sebab sejak 1953, perselingkuhan merupakan salah satu kejahatan yang dapat dijerat dengan hukuman. Jika terbukti bersalah, pelaku perselingkuhan dapat dituntut selama dua tahun penjara.


Namun, pada 2015 Mahkamah Konstitusi Korea telah membatalkan undang-undang tersebut dengan pertimbangan kehidupan seks seseorang adalah masalah personal dan setiap orang berhak untuk memilih nasib dan pasangannya.


Perselingkuhan menjadi alasan utama pasangan mengajukan perceraian di Korea saat ini. Sebuah survei yang dilakukan pada 2016 oleh Institut Korea untuk Seksual dan Kesehatan Suami Istri menunjukkan 50,8% dari laki-laki Korea selingkuh dari istrinya, sementara hanya 9,3% perempuan Korea yang berselingkuh dari pasangannya.


Sebagai sesuatu yang pernah ditutup-tutupi di masyarakat, tema perselingkungan memang selalu menarik perhatian. Oleh karena itu, drakor bertema perselingkuhan dalam ikatan pernikahan selalu menarik minat penonton di Korea.


Beberapa drakor populer lain seperti The Last Empress, VIP, dan Love Affairs in the Afternoon juga menampilkan perselingkuhan.


Situasi pandemi


Pandemi COVID-19 yang membuat banyak orang tetap di rumah tampaknya menjadi salah satu alasan melambungnya popularitas The World of the Married.


Senada dengan riset dari sosiolog budaya populer dari Jepang Kinko Ito tentang kepopuleran drama Korea di kalangan ibu paruh baya Jepang, perilaku menonton drakor pada masa pandemi COVID-19 dapat menjadi pelengkap kehidupan yang membosankan, tidak memuaskan, dan kurang kegiatan.


Drakor dapat menjadi candu yang dengan mudah memikat seseorang dengan perkembangan cerita yang menarik. The World of the Married dapat dianggap sebagai kesuksesan fenomenal budaya pop Korea di tengah upaya untuk tetap berada di rumah.The Conversation


Ranny Rastati, Researcher, Indonesian Institute of Sciences (LIPI)


Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.


Kelangkaan Obat Antiretroviral (ARV) yang terjadi dalam pandemi Covid-19 membuat perempuan Orang dengan HIV/ AIDS atau perempuan ODHA semakin rentan terhadap kondisi kesehatannya

*Aprelia Amanda- www.Konde.co

“Ketika ARV berhenti, maka nyawa orang dengan HIV/AIDS (ODHA) akan terancam,” tutur Mairinda Sembayang dari Jaringan Indonesia Positif dalam sebuah diskusi online yang diikuti Konde.co pada 29 April 2020.

Diskusi ini diselenggarakan oleh Koalisi Peduli Kelompok Rentan Korban Covid-19 (Pekad) menghadirkan tiga narasumber yaitu Meirinda Sembayang dari Jaringan Indonesia Positif (JIP), Aisya Humaida dari LBH Masyarakat, dan Rosmah Karlina dari Aksi Keadilan Indonesia.

Kini, di saat Covid-19 mewabah, aktivitas manusia berubah dan kecemasan akan kelangkaan ARV membayangi para pasien HIV/AIDS. Sejak diberlakukannya pembatasan wilayah, semua aktivitas publik jadi terbatas termasuk layanan kesehatan yang berubah menjadi tempat layanan khusus pengidap Covid 19.

Antiretroviral merupakan obat yang digunakan ODHA sebagai supply untuk bertahan hidup. Selama Pandemi Covid-19, obat ini tiba-tiba sangat langka dan para ODHA sulit untuk mengaksesnya. Beberapa ODHA meminjam obat dari ODHA yang lain dan akan mengembalikan ARV pinjamannya jika ia sudah bisa mengaksesnya kembali

Pengobatan Antiretroviral (ARV) berfungsi untuk memperlambat perkembangan virus HIV. Obat ini membuat ODHA bisa bertahan hidup lebih lama dan beraktivitas normal. Namun ARV semakin sulit didapatkan ketika pandemi Covid 19 menyerang Indonesia.

Situasi ini sulit karena di saat pandemi, ODHA harus mencari obat yang sulit didapatkan, padahal biasanya mereka bisa mendapatkan dengan lebih mudah

“Pengobatan Antiretroviral (ARV) berfungsi untuk memperlambat perkembangan virus HIV. Obat ini membuat ODHA bisa bertahan hidup lebih lama dan beraktivitas normal. Namun, ARV semakin sulit didapatkan ketika pandemi Covid-19 menyerang Indonesia,” ujar Mairinda.

Kesulitan ARV dipengaruhi oleh berbagai hal, seperti aktivitas penerbangan udara yang terhambat hingga alih fungsi beberapa rumah sakit umum menjadi rumah sakit rujukan Covid-19.

“Saat ini, Indonesia memiliki stok ARV yang terbatas, sehingga ODHA semakin sulit mendapatkan ARV. Sebanyak 70 persen ARV yang ada di Indonesia didatangkan dari Tiongkok. Karena Covid-19, banyak penerbangan udara yang terhambat sehingga pengiriman ARV dari Tiongkok tidak maksimal,” tutur Mairinda.

“Alih fungsi beberapa rumah sakit umum menjadi rumah sakit rujukan Covid-19 juga menghambat ODHA untuk mengakses ARV. Mereka bukan hanya sulit mengakses ARV, tapi juga khawatir ketika datang ke rumah sakit justru akan tertular Covid-19,” ungkapnya.

Beberapa waktu lalu, Kementerian Kesehatan (Kemkes) telah mengeluarkan protokol yang memperbolehkan pasien HIV/AIDS mengambil ARV untuk beberapa bulan ke depan sehingga mereka tidak perlu bolak-balik ke rumah sakit. Namun kenyataannya, stok ARV hanya cukup untuk tiga sampai lima hari. Selebihnya ODHA harus mencari dan mengantri kembali

Sebetulnya Kemkes juga mengatur distribusi ARV bagi ODHA tanpa harus ke rumah sakit. Pasien bisa memesan ARV dengan menghubungi layanan kesehatan, kemudian petugas akan mengantarkan ke rumah pasien. Prosedur ini dibentuk untuk mengurangi risiko ODHA terkena Covid-19, tapi aturan ini hanya bisa dilakukan di Jakarta.

Masalah lain yang mendera ODHA yakni kesulitan mereka mengakses layanan pemeriksaan VCT-HIV serta PMTCT (penularan HIV pada perempuan hamil ke bayinya) karena beberapa pusat layanan kesehatan tidak memberikan pelayanan selama masa pandemi Covid-19. Ini tentu menjadi problem serius, sebab pencegahan HIV/AIDS terhadap perempuan hamil ke bayinya menjadi lambat untuk terdeteksi.

Persoalan yang dialami oleh pasien HIV/AIDS selama pandemi Covid-19 ini menjadi bukti bahwa pemerintah masih mengabaikan hak kesehatan yang layak bagi para pasien ODHA.

Koalisi Peduli Kelompok Rentan Korban Covid-19 (PEKAD) dalam pernyataan persnya menjelaskan bahwa perempuan sangat mungkin mengalami peran ganda ketika bekerja di rumah.

Skema belajar di rumah dan kerja di rumah membuat mereka harus mengambil peran sebagai guru, pengasuh utama anak dan keluarga lainnya, serta mengerjakan pekerjaan domestik. Peran ganda inilah yang sangat memungkinkan mereka mengalami rentan mengalami Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).

LBH juga Apik mencatat, sepanjang 16 Maret sampai Mei 2020 terdapat 51 kasus KDRT. ODHA perempuan, bukan tak mungkin mereka akan semakin rentan karena kondisi seperti kelelahan, harus konsentrasi mencari obat untuk dukungan kesehatannya

(Foto/Ilustrasi: Pixabay)

*Aprelia Amanda, biasa dipanggil Manda. Menyelesaikan studi Ilmu Politik di IISIP Jakarta tahun 2019. Pernah aktif menjadi penulis di Majalah Anak (Malfora) dan kabarburuh.com. Suka membaca dan minum kopi, Manda kini menjadi penulis dan pengelola www.Konde.co

Tak mudah bagi korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) untuk kabur dari rumah. Ini adalah pengalaman saudara yang mencari segala cara untuk lari dari suaminya. Kabur dari suami adalah salah satu cara untuk menenangkan dirinya

*Rezki Liana Putri- www.Konde.co

Kursi kayu tua di teras rumah itu seakan menjadi saksi bisu percakapan kami.

Saya dan bulek, (panggilan saya untuk tante) duduk bersebelahan. Bulek, seperti sulit sekali bicara, padahal biasanya tidak begini.

Dengan lirih bulek kemudian bicara,”aku mau pinjem duitmu nduk,” katanya.

Aku kaget, “berapa bulek ?.”

“Empat juta,” ia menjawab.

Wah, kaget bukan main karena aku tak punya uang sebanyak itu, lagipua uang ini bagi bulek buat apa?.

Dengan mata berkaca- kaca beliau bercerita dengan logat Jawanya yang kental,”aku kepingin pergi dari rumah, udah gak kuat di rumah. Sakit hati bulek ini, nduk.’’

Sambil mendengarkan beliau bercerita, aku terus berpikir dimana aku bisa mendapatkan uang untuk bulek?

Tiba tiba aku mendengarkan kata: disiksa.

Dari cerita bulek aku semakin menyimak bahwa hidup beliau rasanya seperti sama dengan yang ada di serial drama. Beliau di siksa, harus bisa membayar hutang namun tidak boleh bekerja, ini karena suami bulek atau paklik/ om saya yang suka cemburu. Bulek juga harus membiayai anak-anaknya yang hidup di pondok pesantren. Jadi yang dilakukan bulek adalah hutang kesana-kemari dan harus terus menanggung malu karena terus berhutang

Saking pusingnya, bulek ingin sekali pergi keluar pulau dan bekerja untuk membayar hutang-hutang rumah tangganya.

“Selama ini bulek tidak boleh bercerita apapun kepada siapapun tentang kondisi rumah tangga bulek, bulek sering di tampar bahkan di depan anak-anak. Mas tidak sungkan untuk memukuli bulekmu ini.”

Mas merupakan panggilan bulek untuk suaminya. Aku lihat bulek sudah mulai menangis. Lalu aku bawakan air segelas untuk menenangkannya, aku bingung mau bicara mulai darimana. Aku beranikan berpendapat menguatkan keinginan bulek untuk pergi keluar Jawa. Tanpa berfikir panjang aku bilang ke bulek.

“Sudah nggak ada cara lain bulek, kecuali bulek mau pergi atau melaporkan perbuatannya ke P2TP2A, aku bisa mendampingi bulek kalau bulek mau melaporkan paklik,” kataku.

P2TP2A adalah kependekan dari Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. P2TP2A yang dibuat oleh pemerintah untuk perempuan dan anak-anak korban kekerasan dalam rumah tangga seperti yang dialami bulekku.

“Percuma dilaporkan nanti bulek akan tetap disiksa tambah pusing mikirin itu semua. Bisa-bisa bulek mati mendadak nanti,”sahutnya.

Iya, memang tidak mudah meyakinkan korban untuk bicara apalagi melapor, kataku dalam hati.

Percakapan terus berlanjut, ibuku yang dari awal hanya mendengarkan, tiba tiba nyeletuk,"gugat cerai aja daripada kesiksa.”

Bulek tanpa ragu menjawab ,”kalaupun bisa menggugat sudah dari dulu saya pisah, tapi saya diancam apabila meminta cerai.”

Saya menoleh memperhatikan bulek. Sungguh kasihan nasib bulek, digantung terus nasibnya namun suaminya tak memberikan solusi apa-apa, malah menyiksanya. Aku semakin tak bisa berpikir lain. Hanya ada satu solusi, yaitu bulek harus pergi untuk memperbaiki semua dengan bekerja untuk membayar hutang-hutang. Ini juga harus dilakukan agar bulek terlepas dari suaminya.

Aku lalu bicara sama bulek bahwa aku belum punya uang sebanyak itu. Bulek menimpali, tidak apa, bulek bilang akan tetap menunggu.

Hari itu pembicaraan terus mengalir sampai malam dan akhirnya bulek pun berpamitan pulang.

Setelah pembicaraan hari itu, setiap hari bulek datang ke rumah untuk sekedar ngobrol dan mencari hiburan. Satu minggu setelahnya aku mendapatkan uang dari hasil pekerjaanku sebanyak Rp. 2 juta, aku langsung bilang ke bulek.

“Bulek, aku hanya punya uang sejumlah ini gimana, bulek mau?,” tanyaku.

“Ndak apa-apa Rp. 2 juta sudah cukup untuk beli tiket pesawat pergi keluar Jawa,” kata bulek.

Akhirnya bulek menyuruhku membelikan tiket pesawat. Berangkatlah aku untuk membeli tiket. Dan ketika aku membeli tiket pesawat di tempat penjualan tiket, bulek menyuruhku meminta kepada penjual tiket agar menyembunyikan identitasnya. Ini untuk menghindari jika ada orang yang bertanya apakah ada nama bulekku yang naik pesawat di hari itu.

Tapi pihak penjual tiket seakan sulit untuk mengiyakan. Aku coba meyakinkan karena temanku yang bekerja disana. Tapi tetap saja mereka menganggap hal ini merupakan kejahatan karena tidak mau menyebutkan identitas. Akhirnya aku setuju dengan temanku, karena buatku yang penting bulek sudah dapat tiket dan bisa segera pergi dari rumah.

Akhirnya malam itu adalah jadwal keberangkatan bulek dari rumah menuju bandara. Selepas Maghrib, bulek ke rumahku.

Suaminya minta bulek untuk pinjam uang pada tetangga, bulek memanfaatkan momen itu untuk kabur. Aku langsung mengantarkan bulek menuju tempat penjemputan travel lewat jalanan gelap demi menghindari suaminya.

Setelah sampai ke lokasi, bulek menunggu travel cukup lama. Akupun menunggu sampai bulek berangkat. Perasaan was-was menghampiri karena takut kalau tiba tiba suaminya datang ke lokasi, karena lokasi penjemputan dengan rumah cukup dekat sekitar 15 menit jarak dari rumah.

Setelah menunggu, sampai akhirnya bulekpun berhasil berangkat dan akupun pulang ke rumah.

Berhubung rumah kami hanya berjarak satu rumah, rasa curiga dari suaminya kepada kami langsung mengarah padaku. Keesokan harinya suaminya bertanya tentang keberadaan bulek dan aku berusaha menutupi semuanya.

Waktupun berjalan sampai aku berpikir, salah apa enggak ya yang aku lakukan untuk membantu bulek kabur dari rumah?

Dan sampai sekarang tidak ada yang tahu keberadaan bulek, hanya aku dan keluargaku yang mengetahuinya.

Semoga bulek baik-baik saja disana dan hidupnya lebih fokus untuk bekerja mencari uang, bukan mendapat pukulan dan kekerasan dari suami. Mungkin kabur adalah salah satu cara bulek untuk menenangkan diri.

(Foto/ Ilustrasi: Pixabay)

*Rezki Liana Putri, aktif di Yayasan Kesehatan Perempuan (YKP) Jawa Timur. Penikmat kopi, senja dan langit