*Saif Roja- www.Konde.co

Alicia Partnoy masihlah perempuan muda kala tubuhnya diringkus paksa oleh tentara. Di awal tahun 1977, ia baru berumur 22 tahun. Sementara situasi negerinya, Argentina, memang tak sedang landai-landai saja. Ini adalah negeri yang turut dilipat oleh “Operasi Condor”.

Kala itu Argentina tengah mendidih direbus pertikaian politik. Dan titik didih politiknya berada disekitar peristiwa kudeta militer 1976 yang disponsori CIA. Partnoy sendiri memang bukan gadis muda biasa. Ia seorang aktivis, satu dari puluhan ribu manusia yang kelak bersengketa dengan tentara.

Seperti lazimnya anak muda yang hidup di jaman dan kawasannya, Partnoy tak luput tertarik dengan segala gagasan perihal ‘pembebasan nasional’ atau frase-frase macam ‘Fuera el imperialismo!”. Ia kemudian bergabung dalam barisan muda Peronista.

Tak lama selepas kudeta, Sabtu celaka itu akhirnya datang menghampirinya. Perang Kotor Argentina yang terkenal dan tak terlupakan telah dimulai. Harinya tiba bagi perempuan muda asal Bahia untuk membayar tunai keyakinan politiknya.

Minggu kedua di bulan Januari yang kelabu, dijemput paksalah Partnoy dari kediamannya. Dia dibuat raib. Diculik oleh tim yang kondang dengan sebutan “Death Squad”. Dia mesti meninggalkan bayi 18 bulannya. Bersama orang-orang senasib, dia lantas dikirim ke kamp tahanan rahasia.

Kamp tahanan tersebut [kemudian] disebut Partnoy dan tahanan lain dengan sebutan ‘La Escuelita’ alias ‘Sekolah Kecil’. Di ‘La Escuelita’, para tahanan diinterograsi, disiksa dan dihujamkan kemanusiaannya. Satu periode gelap ini, kelak dicurahkan ke dalam novel yang ditulis Partnoy dengan judul yang sama pada tahun 1986.

Cerita dari Argentina, perihal orang hilang, penculikan, penyiksaan serta kekerasan tentara, tak kuasa menggiring ingatan kita kepada Munir. Sosok ‘Arek Malang’ yang mendedikasikan hidupnya, satu diantaranya demi membela korban kekerasan negara cum kekejian tentara.

Benar adanya, hari ini adalah hari kematiaan Munir. Kematian seorang aktivis HAM. Laki-laki yang dihabisi nyawanya di angkasa pada usia ke 38. Kematian yang pahit, melenggang tanpa seorang dalang yang bisa dijebloskan ke penjara. Adapun pelaku lapangannya telah dilepas pada akhir Agustus ini.

Lelaki berkumis kemerah-merahan itu kini hanya bersisa sebagai tampang di poster, kaos dan stiker. Setiap tahun sebagian kalangan akan mengingatnya, memprihatininya dan mengkhidmadkannya sebagaimana Wiji Thukul atau nama lain.

Biasanya, dengan gagah atau lirih dipasanglah tagar #MenolakLupa.

Di puisinya yang berjudul ‘Epitafio’, Alicia Partnoy, sendiri sempat menulis:

“Dari segala kebebasan
Kamu, mungkin memilih kematian
Dan cat air dari masa kecil kita pun memudar
menguap ke udara.
Aku akan tiba di kuburan mu
untuk meninggalkan setangkai daun pohon almond, dan puisi yang dibunuh oleh penderitaan,”

Partnoy dan korban lainnya meraih sejumput keadilan seturut rontoknya junta militer. Di Argentina mereka mengadili pelaku dan menggurat dokumen kekerasan masa silam yang bertajuk “Nunca Mas” [Jangan Lagi].

Hingga hampir tiga dekade berjalan, bahkan Alfredo Astiz, tukang jagal yang dijuluki “Malaikat Kematian Pirang” tetap diburu dan dijebloskan ke penjara. Mereka yang masih berhutang pada masa silam pasti tak akan berjalan kedepan, Argentina membayar apa yang harus dibayar.

Sementara hampir lima tahun silam, orang-orang di negeri ini memilih mantan tukang kayu untuk didudukkan di kursi kekuasaan. Tak sedikit yang kemudian jatuh dalam prasangka. Bahwa kali ini Republik memiliki presiden yang bisa dijangkau.

Presiden yang bersahaja. Dengan demikian dia akan paham, kehilangan orang yang dicintai secara tidak adil ialah rasa sakit berkepanjangan. Sehingga dia akan bekerja untuk memberikan jalan terang keadilan. Indah sekali didengar, semua harapan sebelum disobek kenyataan, selalu terasa begitu.

Sayangnya, sebagaimana prasangka buruk, prasangka baik pun tak akan berguna.

Kematian Munir, selayaknya banyak kematian lain di negeri ini, menguap ditelan waktu. Kasusnya melepuh, menjadi basa-basi politik.

Hari ini seperti waktu-waktu yang telah lewat, tak ada epitaf untuk Munir dari istana. Presiden dan pendukungnya, tidak berniat menulis apa-apa untuk Munir. Semisal menulis epitaf yang lebih dekat, jauh lebih dekat, dari sebelum-sebelumnya.

Bisa jadi dari balik tembok istana, ada kecangungan berpedar. Sehingga tak ada epitaf yang mendekatkan kekuasaan dengan korban dan mereka yang ditinggalkan, sebab dalangnya memang berdiam sedemikian dekat dengan tembok istana.

Hingga empat belas tahun Munir terbunuh, kita mungkin tak pernah lupa mengenang sosoknya. Kecuali mungkin tak pernah tahu bagaimana cara menyeret dalangnya. Menyitir Partnoy,

“Presiden akan tiba di kuburan mu
untuk meninggalkan janji kosong, dan puisi yang membusuk oleh kebohongan.”

(Foto: Loyola Marymount University)

*Saif Roja, adalah aktivis buruh. Tulisan ini merupakan kerjasama antara www.Buruh.co dan www.Konde.co

Luviana – www.Konde.co

Bagaimana media selama ini menuliskan tentang perempuan? Apakah benar, semua media meminggirkan perempuan?

Para feminis menyatakan bahwa selama perempuan masih dipinggirkan secara kultur, maka begitulah media akan menuliskan tentang perempuan. Lalu bagaimana media selama ini menuliskan tentang perempuan dikaitkan dengan kultur peminggiran yang melekat pada perempuan?

Sejumlah pengamat menuliskan bahwa perempuan dituliskan dengan berbagai perspektif di media. Yaitu perspektif normatif, konstruktif dan kritis.
Untuk menjawabnya tentu membutuhkan sebuah penelitian yang komprehensif. Namun secara sekilias, inilah yang selama ini banyak terjadi di media:

1. Secara normatif, dari pengamatan, kita bisa melihat bahwa perempuan masih dituliskan secara normatif. Yaitu: perempuan ditulis sebagai perempuan yang dianggap nakal jika pulang malam, perempuan dianggap tidak boleh memilih sesuai pilihannya seperti sebagaimana laki-laki. Karena itu perempuan harus tetap patuh pada norma.

Perempuan dalam konsep normatif mengidentifikasikan perempuan sebagai: orang yang harus hidup sesuai norma atau kultur masyarakat. Maka jika ada perempuan keluar malam, maka akan disebut sebagai perempuan malam. Jika memakai baju berbeda, maka akan dijuluki sebagai perempuan hot/ seksi. Jadi jika ia menjadi korban kekerasan seksual di jalan, maka secara normatif akan disebut sebagai orang yang salah, karena memakai baju seksi.


2. Kedua, Secara konstruktif. Teori konstruktif di media menyebutkan bahwa media sudah mulai mempertanyakan tentang kondisi perempuan. Misalnya, mengapa perempuan dituliskan sebagai perempuan nakal?, Mengapa perempuan diambil foto-foto yang mengetengahkan bentuk tubuhnya? Intinya teori ini sudah mulai mempertanyakan banyak hal tentang kondisi normatif atau kultur dan identifikasi media terhadap perempuan.


3. Ketiga, secara kritis. Teori kritis membongkar semua identifikasi tentang perempuan. Teori ini membongkar tentang kapan lahirnya identifikasi terhadap perempuan, apa latar belakang ekonomi politik atas identifikasi ini?. Apa kepentingan industri dalam identifikasi ini?. Dan siapa saja yang terlibat di dalamnya?.

Teori kritis berangkat dari pertanyaan: mengapa ada banyak hal yang tidak adil, dalam hal ini menimpa perempuan?. Beberapa tokoh yang mempelopori teori ini antara lain Karl Mark, Engels , George Lukacs, Korsch, Gramschi, Guevara, Regis, Debay, T Adorno, Horkheimer, Marcuse, Habermas, dll.

Teori ekonomi politik di media menyebutkan ada perlakuan kontrol terhadap elit penguasa yang melakukan dominasi ekonomi di media. Teori ini mengambil asumsi Marx tentang dominasi superstruktur yang kemudian banyak digunakan untuk melakukan kritik terhadap media yang bias.

Pertanyaan seperti: mengapa budaya kultur mendominasi media?. Apakah audience atau pembaca sadar dengan kekuasaan dari media ini?. Teori ekonomi politik ini adalah penggabungan untuk melakukan kritik terhadap superstuktur, kultur, media.

Walaupun kita tahu bahwa barus sedikit media yang menuliskan perempuan secara kritis, lebih banyak yang normatif, lebih banyak yang mengutamakan konsumen dan pasar, namun dari sini tentu kita tahu, bagaimana sebetulnya kita harus menuliskan tentang perempuan di media.

(Foto/ Ilustrasi: Pixabay)


Tanggal 10 September merupakan hari pencegahan bunuh diri sedunia. Di hari itu, banyak orang memperingati untuk mengajak dan mencegah melakukan bunuh diri. Berikut merupakan tulisan dari Benny Prawira, Kepala Koordinator Into The Light Indonesia yang kami ambil dari website into the light:


Jakarta, Konde.co- Dalam kesempatan ini, mari kita semua menyediakan waktu sejenak untuk mengenang mereka yang telah pergi sebelum kita dengan seluruh rasa sakit di hatinya. Seluruh rasa sakit yang membuatnya tidak mampu lagi memilih selain melihat kematian sebagai cara untuk mengakhirinya. Telah banyak upaya dan riset dilakukan terkait pencegahan bunuh diri. Meskipun demikian, data masih menunjukkan satu nyawa meninggal karena bunuh diri setiap 40 detik di seluruh dunia. Tentu para pakar pencegahan bunuh diri berkejaran dengan waktu untuk menyediakan pengetahuan terkini dan memformulasikan bentuk tindakan pencegahan bunuh diri yang terbaik.

Ketika kita bicara mengenai pengetahuan terbaru, seringkali kita juga mendapatkan kabar yang terdengar tidak mengenakkan mengenai bunuh diri. Hingga saat ini, setelah 50 tahun riset bunuh diri dilakukan, peneliti masih berusaha menemukan cara yang lebih baik dalam memprediksi kemunculan perilaku bunuh diri (Franklin, dkk, 2017).

Di kawasan ASEAN, khususnya Indonesia, sebuah riset terkini mencatat 6,9% dari sampel mahasiswa berusia 18-30 tahun memiliki pemikiran bunuh diri dan setidaknya 3% di antara mereka pernah mencoba bunuh diri (Peltzer & Pengpid, 2017). Mereka yang mengalami kekerasan seksual di masa kanak-kanak, mereka yang dihantui gejala depresi, mereka yang pernah terlibat dalam pertengkaran fisik, mereka yang memiliki performa akademik yang lebih rendah dari standar, cenderung memiliki perilaku bunuh diri dalam hidup mereka. Tentunya, riset ini mengungkap masih banyak ‘mereka-mereka’ lainnya dengan masalah berbeda yang juga memiliki kecenderungan perilaku bunuh diri.

Dari semua riset ini, setidaknya kita mengetahui betapa banyak faktor yang berhubungan dengan risiko bunuh diri pada orang muda. Untuk dapat mengatasi hal ini, maka kita perlu tindakan pencegahan bunuh diri yang lebih efektif dengan mempertimbangkan pentingnya kerjasama dari lapisan keluarga, institusi pendidikan, institusi agama, pemerintah, hingga kelompok kemasyarakatan lainnya yang bekerja untuk kesejahteraan bersama masyarakat kita.

Mencegah bunuh diri hanya dapat dilakukan dengan baik jika kita mau bergerak bersama. Ini adalah tugas kita bersama.

Hal ini sesuai dengan tema Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia 2018, “Bekerja Bersama untuk Mencegah Bunuh Diri”. Tema ini menekankan pentingnya kita untuk mulai bergandengan tangan dalam mengangkat isu pencegahan bunuh diri ke berbagai lini.

Ada suara-suara di tengah kegelapan yang selama ini tidak kita dengar. Mereka yang sedang memiliki beban berat, mereka yang bingung harus mencari bantuan kemana, dan mereka yang mulai kehilangan harapan bertanya-tanya bantuan apa yang dapat mencerahkan kembali harapan dalam diri mereka. Sepanjang tahun ini juga, kita telah dikejutkan berbagai macam berita bunuh diri dari selebritas dunia. Pertanyaannya adalah apakah kita sudah mendengarkan ketika mereka mulai bicara? Atau, mungkin mereka sudah bicara selama ini di ruang sekitar kita, namun kita belum cukup berkerja bersama mereka untuk mencegah bunuh diri di masa depannya?

Pertanyaan-pertanyaan ini tidak hanya sekedar membutuhkan jawaban. Pengetahuan terbaru saja tidak cukup. Kita perlu tindakan yang nyata dari kita semua. Sekarang adalah saatnya untuk kita bertindak untuk lebih banyak mendengar mereka, untuk berkerja bersama mereka dengan melibatkan lebih banyak penyintas percobaan dan kehilangan bunuh diri, serta memastikan terbentuknya kerjasama lintas sektor dan lintas isu agar tindakan pencegahan bunuh diri dapat lebih komprehensif dan adekuat ke depannya.

Pencegahan bunuh diri adalah isu yang sangat rumit dan kompleks untuk dapat kita atasi sendiri. Into The Light Indonesia tidak dapat mengatasinya sendirian. Pencegahan bunuh diri tidak dapat diatasi hanya dengan kehadiran komunitas kesehatan jiwa semata. Kita semua mengetahui bahwa kematian di tangan sendiri adalah sebuah tragedi, namun bunuh diri sangat dapat dicegah jika kita dapat berkerja bersama dengan lebih kuat lagi. Mencegah bunuh diri hanya dapat dilakukan dengan baik jika kita mau bergerak bersama. Ini adalah tugas kita bersama.

Di tengah keterbatasan sumber daya kita, di tengah tidak adanya sistem pencatatan kematian bunuh diri, dan sistem pelayanan krisis bunuh diri, pada akhirnya kita harus bekerja bersama agar sistem pencegahan bunuh diri ini dapat bekerja dengan lebih efektif.

Di saat kita tidak memiliki banyak hal, setidaknya kita masih memiliki satu sama lain. Kita hanya memiliki satu sama lain. Menyadari ini semua, sekaranglah saatnya kita bekerja bersama untuk mencegah bunuh diri.

Dengan cahaya dan cinta untuk Anda,

2 September 2018

(Sumber: https://www.intothelightid.org/2018/09/08/surat-dari-kami-2018-bekerja-bersama-untuk-mencegah-bunuh-diri/)


File 20180903 41732 oc0mv.jpg?ixlib=rb 1.1

Melakukan pekerjaan seperti mencuci piring, mencuci dan menyetrika, memasak, serta memberi makan kepada anak atau bayi bukanlah semata-mata pekerjaan istri, tapi juga tanggung jawab suami.
www.shutterstock.com



Alimatul Qibtiyah, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga dan Siti Syamsiyatun, Indonesian Consortium for Religious Studies

Antara 2005 dan 2010, satu dari sepuluh pasangan suami istri di Indonesia bercerai, menurut data Mahkamah Agung (MA). Sebagian besar–70% dari semua kasus–istri yang mengajukan gugat cerai. Tren ini meningkat setiap tahunnya hingga 80% antara 2010 dan 2015.


Mengapa perempuan dua kali lebih mungkin mengajukan perceraian dibandingkan laki-laki? Salah satu asumsinya adalah bahwa ide mengenai kesetaraan gender yang dipromosikan gerakan feminis mendorong tingkat perceraian. Namun hal ini tidak terbukti.


Data dari Lembaga penelitian dan pengembangan Kementerian Agama RI menyebutkan setidaknya ada tiga alasan utama perceraian: ketidakharmonisan pernikahan, tanggung jawab, dan permasalahan keuangan. Alasan-alasan tersebut berkaitan dengan fleksibilitas peran istri dan suami dalam sebuah pernikahan.


Beragam peran perempuan


Meningkatnya keterlibatan perempuan dalam mencari nafkah dan kegiatan publik tidak diimbangi oleh pergeseran peran laki-laki dalam pekerjaan domestik dan kehidupan reproduksi. Akibatnya, perempuan menanggung beban berlipat sebagai seorang anak, istri, ibu, pekerja, dan juga sebagai anggota masyarakat.


Sebagai anak, perempuan secara tradisional memiliki tanggung jawab merawat kedua orang tuanya. Sebagai istri, dia dituntut melayani suaminya, menyiapkan makanan, pakaian dan kebutuhan pribadi suami lainnya. Sebagai seorang ibu, perempuan harus merawat anak-anak dan memenuhi kebutuhan mereka, termasuk dalam hal pendidikan. Dan sebagai seorang pekerja, perempuan harus bersikap profesional, disiplin, dan menjadi karyawan yang baik.





Baca juga:
Butuh warga satu kampung untuk membesarkan seorang anak





Sebagai anggota masyarakat, perempuan diharapkan berpartisipasi dalam kegiatan komunitas dan kerja sukarelawan, baik di dalam komunitasnya maupun melalui organisasi sosial.


Sementara, laki-laki secara tradisional hanya memiliki satu peran saja, sebagai pencari nafkah dan hanya sedikit kewajibannya untuk aktif terlibat dalam kegiatan komunitas sosial.





Laki-laki dapat melakukan tugas mengasuh anak juga.
www.shutterstock.com



Sampai sekarang beberapa budaya dan keluarga masih mempertahankan peran gender tradisional ini. Tidak heran beban berlipat yang dipikul seorang perempuan dapat menimbulkan kesulitan bagi mereka dan membuat mereka menjadi rentan.


Peran yang fleksibel


Penting untuk membahas masalah pemikiran yang cenderung kaku terkait peran perempuan dan laki-laki dalam pernikahan.


Pertama mari kita setujui, melihat pada definisi peran yang fleksibel, bahwa antara laki-laki dan perempuan memiliki kesetaraan tanggung jawab untuk peran domestik dan pengasuhan dalam keluarga, yang dilakukan atas dasar persetujuan dan komitmen yang adil. Melakukan pekerjaan seperti mencuci piring, mencuci dan menyetrika, memasak, serta memberi makan kepada anak atau bayi bukanlah semata-mata pekerjaan istri, tapi juga tanggung jawab suami. Kesetaraan tidak berarti harus sama persis. Tiap-tiap keluarga mungkin membagi tugas dengan cara yang berbeda kepada setiap anggota keluarga.


Ide yang kedua adalah bahwa baik laki-laki dan perempuan memiliki kesetaraan tanggung jawab untuk mencari nafkah dan untuk berpartisipasi secara aktif dalam masyarakat. Contoh fleksibilitas di sini adalah ketika pasangan memutuskan untuk memiliki seorang anak dan seorang istri hamil. Dalam, banyak kasus, kehamilan ini akan membawa konsekuensi bahwa perempuan akan berkontribusi lebih sedikit pada pendapatan keluarga.


Di dalam skenario yang lain, ketika perempuan mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang lebih baik dibandingkan laki-laki, ini seharusnya tidaklah menjadi permasalahan. Poin terpenting adalah keputusan yang dilakukan merupakan hal yang terbaik demi seluruh anggota keluarga dan tidak membebani satu anggota keluarga secara tidak proporsional. Dalam hal ini seorang suami tidak perlu lagi untuk menghasilkan uang lebih dibandingkan istrinya begitu pun sebaliknya.





Baca juga:
Alasan mengapa kita mencari pasangan yang suka dan bisa membuat kita tertawa





Peran fleksibel membentuk kebahagiaan dalam pernikahan


Argumen yang lebih besar dalam peran fleksibel dalam ruang pernikahan ini didukung oleh bukti empiris. Pada 2018 awal kami melakukan sebuah survei di Yogyakarta didukung oleh Ford Foundation terhadap 106 responden yang menikah. Sebanyak 54% mengatakan bahwa mereka “sangat bahagia” dalam keluarga mereka. Dari angka tersebut, hampir dua per tiga menggambarkan fleksibilitas peran gender dalam pernikahan mereka “tinggi”. Sebagai perbandingan, dari 45% yang mengatakan bahwa mereka hanya “bahagia”, hampir dua per lima mengatakan fleksibilitas peran gender dalam pernikahan mereka hanya “moderat”. Semakin fleksibel peran antara laki-laki dan perempuan dalam keluarga, maka akan semakin bahagia kehidupan mereka dalam keluarga.





Pengaturan yang fleksibel dapat meningkatkan kebahagiaan dalam perkawinan.
www.shutterstock.com



Temuan ini sangat menarik, khususnya bagi pembuat kebijakan dan pemuka agama, serta masyarakat luas. Ide dari peran fleksibel dalam pernikahan ini sejalan dengan karakteristik generasi milenial : dinamis, energik dan tidak kaku.


Menerapkan peraturan yang fleksibel untuk laki-laki dan perempuan dalam rumah tangga dapat berkontribusi dalam membentuk kebahagiaan anggota keluarga dan membantu mengurangi angka perceraian. Lagi pula, tidak ada seorang pun, yang bermimpi memiliki sebuah keluarga yang hancur.The Conversation


Alimatul Qibtiyah, Lecturer in Communication Studies, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga dan Siti Syamsiyatun, Director, Indonesian Consortium for Religious Studies


Sumber asli artikel ini dari The Conversation. Baca artikel sumber.



File 20180903 41735 1rj27xd.jpg?ixlib=rb 1.1

Astronot Sunita Williams – bukan seorang laki-laki.
NASA, CC BY-NC



Dr Susan Wilbraham, University of Cumbria dan Elizabeth Caldwell, University of Huddersfield

Tanyakan kepada anak kecil ingin menjadi apakah mereka ketika mereka sudah besar. Kemungkinannya pekerjaan ilmiah seperti astronot dan dokter akan menjadi pilihan paling teratas dalam daftar pekerjaan. Namun minta mereka menggambar seorang ilmuwan dan ada kemungkinan dua kali lebih besar mereka menggambar sosok laki-laki daripada perempuan.


Anak-anak bisa membentuk bias tersebut dari berbagai sumber. Tapi mungkin kita seharusnya tidak terlalu terkejut melihat absennya ilmuwan perempuan dalam gambar anak-anak ketika ilustrasi yang kita perlihatkan kepada mereka juga seringkali sama buruknya.


Studi kami tentang gambar dalam buku-buku sains anak-anak mengungkapkan bahwa perempuan secara signifikan kurang terwakili. Kami memeriksa foto-foto dan ilustrasi dalam buku anak-anak. Dalam dunia fisika khususnya, gambar seringkali gagal mengkomunikasikan kemampuan teknis atau pengetahuan perempuan. Gambar yang ada dalam buku tersebut memberikan impresi bahwa sains adalah subjek untuk laki-laki dan bahwa karir dalam bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM) tidak memberikan penghargaan kepada perempuan.


Teori-teori perkembangan menjelaskan bahwa anak-anak mempelajari harapan gender untuk membantu mereka merespons sesuai dengan lingkungan sosial mereka. Hal ini mempengaruhi pemahaman mereka akan siapa mereka dan mendorong mereka untuk berperilaku dengan cara yang konvensional bagi gender mereka.


Gambar-gambar laki-laki dan perempuan dalam buku sains anak berkontribusi dalam harapan tersebut dengan mengajarkan mereka ‘aturan’ mengenai pekerjaan yang cocok bagi tiap gender. Hal tersebut mendorong mereka untuk mematuhi stereotip karir gender yang berlaku.


Untuk mengatasi hal ini, tokoh panutan perempuan harus terlihat dalam buku-buku untuk membantu mengembangkan minat anak-anak perempuan dalam sains selama mereka bertambah dewasa, dan mengatasi persepsi negatif tentang ilmuwan perempuan.


Di mana perempuan dalam sains?


Penelitian kami menganalisis buku-buku sains bergambar untuk anak-anak di dua perpustakaan publik di Inggris. Pertama kami menghitung frekuensi gambar laki-laki, perempuan, anak laki-laki dan anak perempuan dalam 160 buku yang tersedia. Lalu kami melakukan analisis visual detail pada dua profesi ilmiah: astronot dan dokter. Dalam bagian dengan 26 buku ini, kami memeriksa apa yang astronot dan dokter laki-laki maupun perempuan lakukan, kenakan, dan genggam dalam gambar-gambar tersebut.


Kami menemukan bahwa, secara keseluruhan, buku-buku sains anak menampilkan laki-laki tiga kali lebih banyak dibandingkan perempuan, menguatkan stereotip bahwa sains adalah pencarian laki-laki. Kurang terwakilinya perempuan semakin diperparah dengan bertambahnya usia target tujuan buku. Para perempuan secara umum digambarkan sebagai pasif, berstatus rendah dan tidak terlatih – atau keberadaan mereka tidak diketahui sama sekali.


Contohnya, satu buku anak-anak tentang eksplorasi luar angkasa menampilkan apa saja yang dibutuhkan dalam berjalan di luar angkasa. Dengan gambar astronot dalam baju ruang angkasa putihnya, kita diberitahu bahwa “without a spacesuit an astronaut’s blood would boil and his body would blow apart atau tanpa pakaian luar angkasa, darah astronot akan mendidih dan tubuhnya (astronot laki-laki) akan meledak”. Penggunaan kata ganti laki-laki ( his) menunjukkan bahwa orang yang ada di dalam pakaian luar angkasa tersebut adalah laki-laki.


Tidak disinggung tentang 11 perempuan berani yang telah berjalan di luar angkasa, termasuk astronot Sunita Williams yang gambarnya digunakkan dalam montase tersebut. Dengan tertutupnya muka William dengan helm dan teks yang hanya menyebutkan laki-laki, akan menjadi mudah bagi anak-anak untuk berpikir bahwa perempuan tidak berjalan di luar angkasa.





Anak perempuan dipengaruhi oleh gambaran mereka tentang ilmuwan.
Shutterstock



Dalam halaman di buku lain, kami melihat seorang astronot perempuan digambarkan sedang melayang di dalam stasiun luar angkasa dan tersenyum kepada kamera. Kualifikasi dan pengalaman yang dibutuhkan untuk astronot pada titik ini melebar. Tempat-tempat program pelatihan astronot NASA sangat kompetitif dengan ribuan lamaran setiap tahunya. Namun dalam buku tersebut, pelatihan, keahlian, dan pengetahuan perempuan tersebut tidak disinggung.


Sebagai gantinya, keterangan gambar tersebut justru berbunyi “Dalam gravitasi 0, setiap hari adalah hari tatanan rambut yang buruk.” Komentar seperti itu yang terfokus pada penampilan perempuan gagal menganggap serius kontribusi mereka. Terlebih lagi, penelitian menunjukkan bahwa penekanan penampilan pada ilmuwan panutan dapat mengurangi penilaian kemampuan diri murid perempuan atau membuat pekerjaan sains tampak tidak terjangkau bagi mereka.


Studi kami juga menunjukkan perbedaan penting antara disiplin ilmu. Dalam buku fisika, 87% gambar yang ada adalah laki-laki atau anak laki-laki, dan beberapa gambar tempat astronot perempuan digambarkan, mereka tidak pernah digambarkan sedang mengemudikan wahana, melakukan percobaan, atau berjalan di luar angkasa.


Buku tentang biologi, kebalikannya, memiliki gambaran yang seimbang antara laki-laki dan perempuan – dan dokter perempuan digambarkan melakukan aktivitas dan memiliki status yang sama dengan dokter laki-laki.


Mengapa hal ini penting


Anda mungkin berpikir bahwa citra atau gambar tidaklah penting, bahwa pesan dalam foto atau ilustrasi adalah sepele. Industri periklanan multimiliar pound sterling tidak sepakat dengan Anda. Iklan jarang menyediakan argumen yang detail tentang sebuah produk atau jasa, tapi hal ini tidak membuat pesannya menjadi kurang kuat. Sebaliknya, periklanan bergantung pada persuasi melalui penanda pinggiran seperti mencontohkan gaya hidup yang menarik dan menggunakan citra untuk menggambarkan penghargaan status atau rasa hormat.


Dengan cara sama, buku-buku anak-anak mengiklankan pilhan karir, dan gambar-gambar tersebut mengkomunikasikan apa artinya bagi perempuan dan laki-laki pada kaitannya dengan pekerjaan tersebut. Perempuan perlu hadir dalam buku-buku sains anak untuk mendemonstrasikan bahwa seluruh bidang sains juga dapat dicapai oleh perempuan.


Penelitian menunjukkan, bahkan sebelum anak-anak pergi ke sekolah, mereka telah memiliki ide bahwa laki-laki lebih baik dalam profesi yang didominasi oleh laki-laki. Mengingat fakta bahwa anak perempuan, bahkan sejak berumur delapan tahun, seringkali menolak matematika dan sains dari orang tua dan gurunya, mungkin tidak mengejutkan bahwa hanya 20% siswa dengan nilai A yang mengambil fisika adalah perempuan.


Wawancara dengan ilmuwan perempuan yang sukses menunjukkan bahwa anak perempuan mencari role model dalam sains, tapi mereka seringkali tidak bisa menemukannya.


Dengan begitu, maka penting bahwa gambar dalam buku anak-anak diberikan perhatian yang lebih besar. Editor dan ilustrator buku perlu untuk melakukan usaha signifikan untuk menggambarkan perempuan sebagai berkualitas, ahli, dan mampu secara teknis. Mereka perlu digambarkan secara aktif terlibat dalam kegiatan ilmiah dan menggunakan alat dan perlengkapan yang sesuai, bukan hanya dihadirkan sebagai asisten atau pengamat.


Perempuan juga perlu direpresentasikan dalam jumlah besar sehingga anak perempuan bisa melihat panutan mereka dalam profesi ilmiah dan melihat karir tersebut bisa bermanfaat.


Para orang tua, guru, dan pustakawan – bersama dengan penulis, ilustrator dan penerbit – perlu meninjau kembali buku-buku mereka untuk pesan-pesan bergender. Tanyakan apa yang yang diajarkan oleh gambar-gambar tersebut dan tanyakan apa aspirasi karir yang mungkin didorong atau dihancurkan oleh buku-buku tersebut.The Conversation


Dr Susan Wilbraham, Senior Lecturer in Applied Psychology, University of Cumbria dan Elizabeth Caldwell, Academic Skills Tutor, School of Art, Design and Architecture, University of Huddersfield


Sumber asli artikel ini dari The Conversation. Baca artikel sumber.


Luviana – www.Konde.co

Bagaimana cara mengajak kampus atau universitas untuk peduli pada persoalan kekerasan terhadap perempuan? Feminist.org menuliskan sejumlah contoh yang dilakukan kampus-kampus di Amerika, tentang bagaimana mereka melakukan kampanye dan advokasi menghapuskan kekerasan seksual:

1. Pertama, yang dilakukan adalah membuat peraturan bahwa kampus harus steril terhadap kekerasan seksual

2. Dalam aturan tersebut harus diperjelas hak-hak korban dan tanggung jawab sekolah untuk memberikan informasi tentang proses yang relevan, disiplin, kemungkinan sanksi untuk pelanggaran seksual, dan bagaimana cara menyelamatkan korban.

3. Sekolah diminta untuk membuat program pendidikan pencegahan proaktif pada relasi dan juga memberikan pendidikan seksualitas.

4. Ada mekanisme penyelesaian untuk pelecehan di kampus, yaitu kedua pihak harus memiliki kesempatan yang sama hadir dalam proses penyelesaian.

5. Pengurus sekolah yang melakukan proses penyelesaian harus dilatih tentang cara bagaimana memberikan perspektif pada korban dan mempromosikan akuntabilitas.

6. Korban harus diberitahu tentang hak atas layanan konseling dan pilihan-pilihan untuk melaporkan kejadian yang ia alami.


Cara lain untuk menolak kekerasan seksual terhadap perempuan yaitu berkampanye dan melakukan unjuk rasa, teknis unjuk rasa antaralain:

• Memetakan rute yang dapat diakses meliputi kampus Anda.

• Biarkan keamanan kampus tahu tentang acara tersebut.

• Melakukan kampanye pencegahan melalui Facebook di event-event serta menyebarkan informasi apapun terkait kekerasan seksual terhadap perempuan.

• Undang pejabat kampus yang bekerja pada isu-isu kekerasan seksual dan memberi mereka kesempatan untuk menginformasikan tentang layanan yang mereka berikan.


Lalu bagaimana cara melakukan kampanye anti kekerasan?

1. Melakukan kampanye secara online dan membuat situs anti kekerasan seksual di kampus yang bisa diakses semua mahasiswa dan akademika kampus

2. Tatap muka dan sharing

3. Mengadakan banyak kegiatan terkait isu tersebut

4. Mengajak semua pihak di kampus untuk menulis kampanye penolakan kekerasan seksual

5. Melakukan survey yang relevan dengan isu

6. Mempublikasikan temuan yang mengesankan berperspektif korban dan menyebarkannya ke pers untuk kampanye secara lebih meluas


(Referensi http://feministcampus.org/campaigns/campus-violence)

“Banyak anak-anak perempuan kita bertahun, bermimpi tentang sebuah pernikahan dan sebuah kelahiran. Padahal tak demikian halnya dengan anak laki-laki kita—yang banyak menghabiskan mimpinya mengubah dunia.”


Dewi Candraningrum (2013)


*Muhammad Rajib Rakatirta- www.Konde.co

Pernahkah anda merasakan bahwa terkadang perempuan-perempuan yang muncul dalam televisi hanya ada sebagai pemanis?

Seorang pegiat film di Amerika bernama Laura Mulvey memikirkan hal yang sama. Ia berteori bahwa dalam film-film dan layar kaca, perempuan terkadang hanya berfungsi sebagai sesuatu untuk dilihat, dan hal ini tentu saja merupakan hal yang buruk bagi kesetaraan bagi manusia.

Masalahnya tentu jelas: film dan televisi adalah jenis media massa, dan media massa mampu mempengaruhi persepsi banyak orang. Sehingga, tayangan-tayangan dengan diskriminasi gender tentu dapat melekat dalam benak banyak orang yang melihatnya.

Meski Murvey mengajukan teorinya di Amerika, hal yang sama ternyata juga terjadi di Indonesia dalam sebuah acara televisi. Acara televisi yang saya maksud adalah ‘Take Me Out’. Sekarang acara ini memang sudah tidak lagi ditayangkan, namun saat dulu ditayangkan di Televisi ANTV, entah kenapa saya benar-benar resah melihatnya, dan saya rasa hal ini perlu dibahas.

Setidaknya ada 3 masalah yang sangat ingin saya lihat dalam acara ini:


1. Tubuh dan Gairah Seksual

Hal yang pertama adalah mengenai gairah seksual. Menurut saya, gairah seksual merupakan salah satu hal yang menunjukkan bahwa perempuan juga manusia yang sama dengan laki-laki.

Dengan menghilangkan atribut dan hak seksualitas perempuan, maka sama saja dengan menanggalkan atribut kemanusiannya. Sehingga, jika Take Me Out memang ingin memperlihatkan sisi tersebut dari perempuan, sah-sah saja. Toh setiap perempuan yang ada pasti sudah memiliki consent(persetujuan) untuk acara ini. Masalah terjadi saat acara hanya berfokus seolah-olah perempuan-perempuan hanya peduli pada masalah percintaan dan gairah seksual.

Adalah baik sebenarnya memberikan hak seksualitas dan kebertubuhan (hak untuk memiliki tubuh sendiri tanpa ada intervensi orang lain) kepada perempuan, namun bukan dengan mengerdilkannya menjadi objek seks belaka.


2. Obyek Tontonan


Dalam beberapa episodenya, tampak perempuan-perempuan harus berjalan dengan genit dan harus mengutamakan bentuk tubuh mereka untuk menarik perhatian laki-laki. Tidak ada hal yang salah mengenai hal ini, namun ada hal yang terlupakan, yakni menjadikan diri sendiri sebagai objek tontonan, dan hal ini masuk ke masalah kedua: perempuan sebagai objek tontonan.

Memangnya apa yang salah menjadi objek tontonan? Sebagai objek sesuatu tidak punya kendali yang besar dan justru malah dikendalikan oleh kepentingan-kepentingan pihak yang berkuasa. Dalam hal ini, pihak berkuasa adalah produser acara. Dengan demikian, apa yang ditampilkan oleh para perempuan bukanlah murni keinginan mereka, namun apa yang mereka lakukan demi tidak dipecat oleh produser yang menginginkan uang. Paham ini yang secara tidak sadar mewajarkan masyarakat hanya menganggap perempuan sebagai objek.


3. Perempuan Harus Memenuhi Standar Kecantikan

Masalah selanjutnya datang ke poin nomor 3: penggambaran perempuan yang tidak beragam. Melihat Take Me Out Indonesia seperti melihat sebuah lingkaran etalase boneka dengan label “cantik” terpampang besar, karena betapa serupanya ‘bentuk’ satu perempuan dan perempuan yang lain.

Hal ini jelas menjadi standarisasi ‘cantik’ bagi perempuan. Hampir tidak ada perempuan yang berbadan gemuk (overweight), berkulit hitam, atau bertubuh pendek. Tinggi setiap perempuan hampir sama, dengan tingkat kecerahan kulit yang sama, serta tata busana yang serupa. Ketidakadaan keragaman ini jelas membunuh banyak perempuan lain yang seakan-akan tidak dianggap keberadaan.

Pernah dalam beberapa ada episode perempuan yang berasal dari Timur, namun dari cara perempuan tersebut bertutur, logat Timur yang diberikan kentara dibuat-buatnya. Selain itu, beberapa kali hal tersebut justru menjadi bahan cemoohan. Sehingga, tidak hanya memarjinalisasi perempuan, acara ini juga memarjinalisasi warna kulit, bentuk tubuh, hingga kesukuan.

Tentu kita tahu bahwa ‘Take Me Out’ tidak asli berasal dari Indonesia, namun berasal dari sebuah acara TV di Inggris dengan judul yang sama.

Menariknya, ada hal-hal dari ‘Take Me Out’ UK yang menurut saya jauh lebih baik daripada di Indonesia. Setelah melihat beberapa episode melalui YouTube, nampak bahwa masalah di poin 1 dan 2 (penggambaran perempuan yang hanya peduli dengan gairah seksual serta menjadi objek tontonan) tidak terselesaikan. Cenderung sama saja.

Perempuan dalam acara tersebut masih berperan sebagai pemanis yang tidak segan harus mengerdilkan kemanusiaan ke dalam sebatas gairah seksual. Meski demikian, yang dilakukan oleh Take Me Out UK tidak separah Indonesia.


Dalam Take Me Out di Inggris misalnya, hanya ada satu host yang menggiring jalannya acara, sementara di Indonesia, ada beberapa orang yang berperan sebagai komentator untuk menambah unsur keseruan dan kelucuan dari acara. Bertambahnya komentator tersebut justru semakin menambah kemungkinan para perempuan untuk dieksplorasi seksualitasnya dan menjadi bahan candaan belaka.

Hal lain yang sukses dilakukan oleh Take Me Out di UK adalah peserta perempuan yang beragam. Hal ini terlihat dari beragamnya warna kulit, tinggi tubuh, serta berat badan. Memang, ada artikel-artikel yang menunjukkan bahwa perempuan-perempuan tersebut memiliki Gladi Resik dan pakaian yang dibawa harus dengan persetujuan produser, namun setidaknya tidak ada standarisasi kecantikan yang terlalu mengungkung seperti yang masih ada dalam Take Me Out Indonesia.

Maka, sebenarnya apa yang dilakukan oleh Take Me Out dalam merepresentasikan perempuan hanya melanggengkan budaya yang mengobjektifikasikan perempuan.

Sudah untung Take Me Out tidak lagi tayang di Indonesia (dan sebaiknya tidak perlu lagi), karena sebagai media massa yang bisa menjangkau banyak orang, televisi seharusnya bisa lebih bermartabat daripada apa yang telah ANTV siarkan. Sudah cukup masyarakat kita mendiksriminasi perempuan, tidak perlu memperkuatnya dengan tayangan-tayangan yang hanya melanggengkan diskriminasi semacam itu.


*Muhammad Rajib Rakatirta,
mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia. Bisa dihubungi melalui: Twiter-Instagram : @Rajib_Ngeeeeeng, Blog :timunlaut.wordpress.com


Referensi

Candraningrum, D. (2013). Depolitisasi Seksualitas. Jurnal Perempuan 77, 114-122
Eagleton, T. (1991). Ideology: An Introduction. London: Verso
Laughey, D. (2007). Key Themes in Media Theory. New York: McGraw-Hill
Meyers, E. (2012). Gossip Blogs and ‘Baby Bumps’: The New Visual Spectacle of Female Celebrity in Gossip Media. The Handbook of Gender, Sex, and Media. New Jersey: Wiley-Blackwell

File 20180719 142435 11xmn2o.jpg?ixlib=rb 1.1

Kejahatan yang digambarkan media seringkali bermasalah.
www.shutterstock.com



Bagus Sudarmanto, Universitas Indonesia

Saat terjadi serangan terorisme Mei lalu, media berlomba-lomba menjadi pihak pertama yang menyampaikan perkembangan kasus tersebut kepada masyarakat. Semakin cepat, semakin baik. Reputasi media tersebut di mata publik akan meningkat.


Sudah menjadi rumus baku bahwa peristiwa kejahatan dan kekerasan memiliki nilai berita yang tinggi karena berita kejahatan diasumsikan mampu menarik perhatian banyak orang.


Dari segi ongkos produksi, berdasarkan pengalaman saya bekerja selama kurang lebih 38 tahun di koran Pos Kota yang spesialisasinya adalah berita kejahatan, menunjukkan bahwa proses pembuatan berita kejahatan relatif mudah dan murah. Proses untuk mendapatkan bahan dan data beritanya pun tak ribet.


Para jurnalis cukup menunggu siaran pers dari institusi penegak hukum, terutama kepolisian, kemudian melengkapinya dengan data tambahan untuk menempatkannya dalam konteks yang diinginkan. Sesekali diberi sentuhan “warna estetik” agar berita dapat memikat publik. Jika setelah diterbitkan mendapat respons positif pasar pembaca, berita tersebut bakal digali lebih jauh. Jurus memainkannya cukup dengan mencari jawaban atas pertanyaan: bagaimana dan mengapa.


Dari penggambaran ini, maka ‘wajar’ banyak media massa – cetak, elektronik, maupun media daring – berlomba-lomba menjual berbagai isu kekerasan dalam agenda liputannya.


Wajah ganda berita kejahatan


Membincangkan konten kekerasan di media, sesungguhnya seperti membahas masalah aspek estetik di satu pihak dan destruktif di pihak lain.


Ahli komunikasi dari Prancis, Sophie Jehel, menjelaskan konten kekerasan mengandung ketertarikan mendua atau paksaan berwajah ganda: menarik sekaligus memuakkan. Kita takut, ngeri, miris melihat kejahatan tapi tak kunjung beranjak pergi.


Kekerasan dalam media selalu saja memancing reaksi penolakan walau memikat. Kendati konten kekerasan mengandung unsur mendominasi tanpa persetujuan kita, jenis berita ini menyentuh rasa ingin tahu naluriah kita sebagai manusia.


Masalah konstruksi kekerasan dalam media


Diskusi yang kemudian berkembang apakah konstruksi konten kekerasan oleh media dengan segala dampaknya itu bermanfaat atau tidak?


Dalam penelitian yang dilakukan oleh sosiolog Shearon Lowery dan Melvin Lawrence DeFleur menunjukkan bahwa konten kekerasan mendorong terciptanya kegelisahan umum.


Penyebabnya, berita kejahatan di media dipandang sebagai fakta nyata yang dipahami lewat mata telanjang – bukan dunia fiksi seperti film, kartun, maupun komik.


Fakta nyata itu terdokumentasi dan dapat meninggalkan bekas dalam dimensi yang berbeda-beda pada setiap orang. Bisa pada dimensi persepsi yang terinternalisasi, bisa dimensi afeksi yang memicu trauma, atau pada dimensi moral yang membuat seseorang harus membedakan mana yang bisa diterima dan mana yang berpengaruh jahat.


Sebuah hasil jajak pendapat yang dibuat dan dimuat Harian Kompas edisi 15 Juli 2018 mungkin dapat memberikan gambaran efek berita kejahatan tersebut.


Artikel Ancaman Kejahatan Jalanan melaporkan jajak pendapat yang dilakukan awal Juli 2018 terhadap warga Jakarta dan Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi, terkait maraknya kasus penjambretan dalam dua bulan terakhir. Ketika itu, penjambretan terjadi di tempat-tempat umum, yang dirampas terutama ponsel, korban perempuan dan laki-laki. Ada korban perempuan sampai terbunuh di Jalan Ahmad Yani, Cempaka Putih, Jakarta Pusat.


Akibatnya warga menjadi resah, khawatir, dan merasa tidak aman. Keresahan tertinggi diungkap warga Jakarta Pusat (88,5%), Jakarta Utara (75.6%), Jakarta Timur (75,3%), Jakarta Barat (76,3%), Jakarta Selatan (66,1%) dan Bodetabek (79,1%).


Pengetahuan masyarakat tentang kasus-kasus penjambretan itu diperoleh dari pemberitaan di berbagai media massa. Menegaskan betapa berita penjambretan yang sebenarnya relatif bukan modus baru dan sering terjadi di Jakarta, itu tetap saja berdampak pada rasa takut warga akan menjadi korban kejahatan.


Asumsi saya, efek tersebut kian kuat manakala berita-berita tentang penjambretan diberitakan banyak media dan terjadi secara beruntun. Padahal mungkin saja ada berita kejahatan lain yang lebih penting, tapi tidak diangkat sebagai isu dominan.


Selain itu, konstruksi realitas kejahatan ke dalam laporan jurnalistik oleh media, kerap tidak mencerminkan keadaan sebenarnya.


Kenyataan yang digambarkan dalam wujud bahasa, gambar, maupun penandaan semiotik lainnya, cenderung meleset.


Hal tersebut bukan sengaja atau tidak sengaja, melainkan memiliki tujuan, baik penyesuaian dengan apa yang dikehendaki ataupun untuk membuat berita tersebut semakin menjual. Contohnya pemberitaan media tentang “begal payudara”, istilah yang disematkan pada kejadian yang sebenarnya bisa digambarkan dengan frasa pelecehan seksual. Pemilihan kata “payudara” dan “begal” jelas ditujukan untuk menarik perhatian pembaca.


Meski ada etika dan hukum, tidak semua media paham benar bagaimana sebaiknya menyodorkan berita kejahatan.


Contohnya kasus pembunuhan Wayan Mirna di kedai kopi yang sangat santer diberitakan dengan Jessica Wongso sebagai tersangkanya.


Kepribadian, relasi pribadi, penampilan, dan hal-hal lain yang tak memiliki hubungan langsung dengan proses hukum yang berlangsung diberitakan secara berlebihan.


Posisi pemberitaan bukan lagi sebagai ‘news’ namun sudah menyatu dengan aspek hiburan sehingga hampir tidak bisa dibedakan dengan infotainment.


Dalam banyak kasus, dorongan untuk melakukan eksploitasi, ketergesaan menyampaikan data yang belum teruji, terlalu detail membeberkan bagaimana suatu kejahatan dilakukan, mendramatisasi atau tak proporsional, semuanya itu membuat media semakin jauh dari kenyataan objektif yang diharapkan dan justru membangun kenyataan baru yang mengaburkan keadaan sebenarnya.


Alih-alih menjalankan fungsi normatifnya sebagai edukator publik, yang terjadi media malah meninggalkan hak publik dalam mendapatkan kebenaran pengetahuan hanya semata-mata karena ekonomi atau kepentingan pihak tertentu.


Dampak potret kejahatan oleh media yang salah kaprah


Ketika jurnalistik mewajibkan unsur “menarik dan penting” dibanding nilai berita yang lain, penyederhanaan seberapa serius kejahatan pun sering terjadi.


Terkadang media juga luput dalam mencermati tipe-tipe kejahatan, hanya karena kejahatan yang terjadi dipandang bukan peristiwa yang layak siar.


Acap pula, sadar atau tidak, media terjebak pada bentuk penciptaan citra kejahatan dan menjadikan pelaku kejahatan semacam pahlawan. Hal ini ditemukan pada pemberitaan-pemberitaan yang menggunakan kata “berhasil” pada tindakan melawan hukum yang dilakukan oleh pelaku kejahatan.


Dalam banyak kasus, refleksi dari realitas kejahatan oleh media mengakibatkan efek yang beragam.


Pertama, pada tataran wacana, munculnya paradoks terhadap kenyataan itu sendiri.


Publik dibuat galau antara benar atau salah, fakta atau rekayasa, pelaku atau korban, adil atau berpihak, objektif atau subjektif dan seterusnya.


Celakanya pada era digitalisasi media seperti sekarang, kenyataan telah menjelma menjadi kenyataan semu atau hiperrealitas, fakta yang kita pahami seolah-olah nyata, padahal tidak.


Kedua, dampak nyata konstruksi realitas kejahatan oleh media terhadap individu masyarakat secara langsung.


Terpaan konten yang dikonstruksi secara gegabah – terlebih jika berita tersebut diperbesar oleh masyarakat di media jejaring sosial internet –dapat mengakibatkan efek peniruan (copycat crime), takut akan kejahatan (fear of crime), kepanikan moral (moral panic), menumpulnya empati, dan lain-lain.


Efek fear of crime, umpamanya. Bentuknya dapat berupa perasaan ketakutan nyata, atau ketakutan antisipatif, yakni perasaan takut akan mengalami kejahatan.


Individu yang mengalaminya menimbulkan kondisi negatif, seperti merasa tidak aman di tempat umum; mudah curiga pada orang asing; tidak betah tinggal sendiri di rumahnya; dan menurunnya hubungan relasional antar individu.


Contoh dampak di atas dapat kita lihat pada pemberitaan yang masif mengenai begal maupun terorisme beberapa waktu yang lalu.


Terpaan pemberitaan sebuah kasus kejahatan yang sama terus-menurus bukan hanya menciptakan ketakutan pada publik namun juga membuat ilusi seakan-akan kejahatan yang terjadi berjumlah banyak, jauh dari kenyataan yang sebenarnya. Hal tersebut juga bisa mengganggu aktivitas kita sehari-hari dengan membuat kita takut keluar rumah dan juga menjadikan kita mencurigai orang-orang dengan atribut tertentu.


Pemberitaan kejahatan yang layak


Lantas, bagaimana meminimalkan efek buruk terhadap publik akibat terpaan konten berita kejahatan dan kekerasan di media?


Untuk menjawab pertanyaan di atas, Gregg Barak, ahli kriminologi dan peradilan pidana, menawarkan konsep newsmaking criminology. Dalam konsep tersebut media harus dapat menjelaskan seberapa seriusnya kejahatan dalam kaitan tingkat keberbahayaannya, melihat kejahatan dalam perspektif keadilan, menjadi fasilitator kebijakan pengendalian sosial, dan memaksimalkan pengetahuan kriminologi atau kriminolog sebagai sumber atau rujukan.


Tujuannya agar media tidak melulu mengemas peristiwa kejahatan sebagai komoditas atau barang dagangan semata, melainkan bagaimana berita media memberi pencerahan agar masyarakat dapat memahami fenomena yang sedang terjadi.


Pada intinya, konsep newsmaking criminology menyarankan batasan-batasan konstruksi berita kejahatan. Secara umum media harus membatasi ruang berita kejahatan secara proporsional.


Jangan menganggap masyarakat sebagai khalayak pasif. Terlebih di era media interaktif seperti sekarang.


Selain itu, secara teknis, hindari deskripsi detail teknik atau modus operandi kejahatan agar tidak berefek peniruan.


Jangan siarkan kasus bunuh diri yang dilakukan korban karena putus asa. Hindari “memuja” atau menjadikan pelaku kejahatan sosok pahlawan atau bersimpati atas yang dilakukan dengan alasan apa pun.


Memang berita kejahatan adalah informasi penting, tapi jauh lebih penting untuk meminimalkan efek negatif yang bisa ditimbulkan bagi masyarakat luas.


Triasa Nitorizki Hawari ikut berkontribusi dalam tulisan ini.The Conversation


Bagus Sudarmanto, PhD candidate in Criminology Departement, Universitas Indonesia


Sumber asli artikel ini dari The Conversation. Baca artikel sumber.


File 20180809 30443 kmtjqb.jpg?ixlib=rb 1.1

Seorang warga Papua menyeberangi gelondongan kayu yang berfungsi sebagai jembatan sambil menggendong anak. Masyarakat adat di Indonesia dan Australia memiliki nilai yang sama tentang pentingnya komunitas dan lingkaran pengasuh yang luas selama 1000 hari pertama di kehidupan seorang anak.
www.shutterstock.com



Elle McLachlan, University of Melbourne

Telah banyak bukti yang menunjukkan bahwa kesehatan dan kesejahteraan anak pada 1000 hari pertama kehidupannya adalah saat yang krusial untuk membangun fondasi yang kuat bagi si anak untuk berkembang sepanjang hidupnya.


Namun pengetahuan ini menambah tekanan bagi para ibu, yang dalam budaya saat ini menanggung sebagian besar beban pengasuhan anak. Hasil survei dinamika rumah tangga, pendapatan, dan kerja di Australia yang terbaru menunjukkan bahwa setelah orang tua memiliki bayi yang baru lahir, maka persentase pekerjaan domestik dan tugas-tugas di rumah yang dikerjakan oleh ibu melonjak drastis.


Dua forum meja bundar di Australia dan Indonesia tahun lalu, yang membahas kesejahteraan masyarakat adat di Australia dan Indonesia, menemukan bahwa keluarga besar serta komunitas memegang peranan penting dalam merawat anak-anak dalam 1000 hari pertamanya.


Penghancuran komunitas masyarakat adat


Kolonisasi Australia menyebabkan penghancuran banyak komunitas orang asli di sana. Di seluruh dunia, urbanisasi terus menekan komunitas masyarakat adat.


Hancurnya komunitas masyarakat adat menyebabkan hilangnya jaringan sosial, keluarga, dan komunitas yang dibutuhkan para pengasuh untuk membantu mereka membesarkan anak.


Ini diperparah dengan tingginya kejadian trauma antar-generasi, depresi sebelum dan sesudah melahirkan, serta kekerasan domestik yang terjadi di seluruh bagian masyarakat di Indonesia dan Australia, namun lebih mencolok terjadi di komunitas orang asli dikarenakan sejarah kolonisasi yang mereka alami. Disintegrasi komunitas telah menghilangkan jaringan dukungan yang diperlukan untuk mengatasi masalah-masalah di atas.


Forum Australia-Indonesia


Forum mengenai kesehatan dan kesejahteraan masyarakat adat diikuti 50 pembuat kebijakan, aktivis komunitas, akademisi, penyedia jasa, dan perwakilan lembaga swadaya masyarakat. Mereka mendefinisikan keluarga besar dengan sangat insklusif, memasukkan semua yang terlibat dalam pengasuhan: kakek-nenek, bibi, paman, pengasuh anak, hingga supir, semuanya berkontribusi dalam mengasuh anak.


Banyak masyarakat adat yang memiliki sejarah hidup secara komunal. Masyarakat adat di Indonesia dan Australia memiliki nilai yang sama tentang pentingnya komunitas dan lingkaran pengasuh yang luas selama 1000 hari pertama di kehidupan seorang anak.


Tak hanya pengasuh dan konsep non-biologis tentang keluarga yang memainkan peranan penting dalam pengasuhan si bayi, mereka juga memiliki peran besar dalam memberi sokongan pada pengasuh utamanya. Para peserta forum memandang bahwa hal ini dapat digunakan dalam kerangka 1000 hari pertama.


Para peserta juga percaya penguatan komunitas. Penghargaan terhadap komunitas dapat meningkatkan dukungan dan pengasuhan anak dan sangat berharga bagi si anak sepanjang hidupnya. Profesor Kerry Arabena, Direktur Eksekutif The First 1000 Days Australia mengatakan:


Pandangan tentang pentingnya komunitas adalah sesuatu yang bisa dinyatakan dalam kebijakan dan kemudian diimplementasikan.


Butuh sebuah pergerakan, kepercayaan dari masyarakat, serta aksi nyata untuk menciptakan persatuan komunitas.


Strategi penguatan peran komunitas


Meskipun sulit merumuskan penerapannya, terdapat beberapa insiatif dan strategi yang telah berhasil mempengaruhi penguatan komunitas di sekitar anak.




Pada 2012, masyarakat Aborigin di Mildura, Victoria, Australia, dan baru-baru ini di Teluk Moreton di Queensland, menghidupkan kembali upacara “Welcome baby to country” (Menyambut bayi dalam masyarakat). Upacara tersebut dilakukan oleh tetua adat yang menyambut seluruh bayi komunitas Aborigin ke tanah leluhur. Bayi-bayi dan keluarganya menjadi bagian komunitas dan dengan itu mereka kembali terhubung dengan budaya dan sejarahnya.


Di Indonesia pada 2016, sebuat pusat kesehatan ibu hamil menginisiasi kelas untuk para ayah. Kelas yang diberi nama “KASIH”, singkatan dari Kelas Ayah Sayang Ibu Hamil, dikembangkan dari kebutuhan untuk meningkatkan dukungan keluarga bagi ibu hamil, terutama dari pasangannya.


Baik di Indonesia maupun Australia, depresi saat dan sesudah kehamilan, gangguan kecemasan, dan kondisi lain yang mempengaruhi 1 dari 5 perempuan atau lebih. Dampak dari kekerasan dalam rumah tangga kebanyakan dirasakan oleh perempuan dan bertambah selama masa kehamilan di Australia dan Indonesia.


Kelas yang ditujukan untuk para ayah tersebut dapat berperan sebagai pengingat peran mereka dalam mengambil tanggung jawab yang sama bagi kesehatan dalam keluarga, terutama pada istri mereka selama masa kehamilan. Data menunjukkan bahwa kelas tersebut dapat berperan dalam menurunkan tingkat kematian ibu hingga meningkatkan kesehatan ibu hamil serta membantu pemenuhan hak kesehatan anak.


Strategi yang bertujuan untuk mempromosikan pemulihan bagi laki-laki, menghargai peran mereka sebagai pengasuh, panutan, dan pengasuh adalah hal yang penting dalam meningkatkan kesehatan bayi dan menurunkan ketidaksetaraan gender.


Bagi laki-laki di Indonesia dan Australia, masyarakat adat atau bukan, perlu perubahan perilaku untuk meningkatkan peranan mereka dalam 1000 hari pertama kehidupan anak. Bertambahnya contoh laki-laki sebagai pengasuh pada masa 1000 hari anak dianggap memiliki andil yang besar pada kesejahteraan dan kesehatan anak ke depan, terutama pada area kesehatan mental dan kesejahteraan.


Contoh lainnya adalah apa yang dilakukan oleh Bubup Wilam, Pusat Pembelajaran Awal Anak dan Keluarga di Melbourne, Australia. Mereka menyediakan pusat bagi komunitas Aborigin Australia di daerah tersebut.


Bubup Wilam bertujuan menyiapkan anak untuk sekolah, menciptakan rasa kepemilikan identitas, dan meningkatkan kekuatan dan ketahanan sehingga mereka mampu hidup bahagia dan sehat di masa depan.


Mereka menggabungkan cara pengajaran dari Barat dan metode pedagogi Aborigin dengan metode seperti pembelajaran lewat pengalaman. Bubup Wilam menggunakan seni dan kerajinan tradisional serta bahasa untuk mendorong anak memiliki rasa memiliki, kepercayaan diri dan identitas.


Bubup Wilam juga bertujuan untuk menyediakan ruang yang aman bagi anak-anak dan keluarga mereka untuk menjangkau pihak dan layanan yang dapat mereka percayai dalam komunitas.


Forum dan program-program yang disebutkan di atas menunjukkan bahwa masyarakat adat dapat memimpin upaya membesarkan anak-anak yang sehat dan kuat menggunakan kearifan lokal, pengetahuan, dan nilai masyarakat dan kekeluargaan mereka. Kearifan lokal ini tidak mengenal batas ras dan negara, dan menemukan tempat mereka dalam kerangka waktu kesempatan emas yang unik - 1000 hari pertama kehidupan anak.The Conversation


Elle McLachlan, Research Assistant, Indigenous Health Equity Unit, University of Melbourne


Sumber asli artikel ini dari The Conversation. Baca artikel sumber.


*Ega Melindo- www.Konde.co

Gerak Lawan, sebuah koalisi nasional di Indonesia yang bertujuan melawan praktik neokolonialisme dan imperalisme di Indonesia, mempunyai sejumlah catatan tentang apa yang sudah dilakukan Bank Dunia dan International Monetary Fund (IMF) di Indonesia. Catatan ini dikeluarkan di tengah sosialisasi Environmental and Social Framework (ESF) di Indonesia.

Dalam catatannya, Gerak Lawan yang diisi oleh komunitas maupun organisasi yang bergerak untuk petani, buruh migran, nelayan, perempuan, kelompok muda, advokat HAM memandang ESF Bank Dunia tak lain adalah topeng baru untuk praktik usang. Alih-alih mengurangi kemiskinan, Bank Dunia justru menjadi aktor bagi kebijakan dan proyek pembangunan yang melanggar Hak Asasi Manusia (HAM) dan merusak lingkungan.

Bank Dunia juga memiliki kekebalan mutlak dan sulit dimintai pertanggungjawabannya atas berbagai krisis yang merupakan dampak dari model pembangunan yang eksploitatif.

Catatan ini juga dilakukan untuk mengingatkan rakyat Indonesia akan jejak perampasan ruang hidup dan hak-hak dasar rakyat di berbagai wilayah akibat model pembangunan yang didorong oleh Bank Dunia dan juga IMF.

Salah satunya yang masih bermasalah selama 33 tahun hingga hari ini adalah kasus Kedung Ombo. Pembangunan waduk yang dimulai sejak tahun 1985 saat rezim Orde Baru yang sentralistik dan militeristik masih berkuasa, dibiayai dari utang Bank Dunia senilai USD 156 juta dan Bank Exim Jepang USD 25,2 juta.

Proyek tersebut telah menggusur setidaknya tanah seluas 7.394 Ha hak milik dari 5.823 KK, yang bermukim di 37 desa di tujuh kecamatan yang berada pada tiga kabupaten yaitu Boyolali, Grobogan dan Sragen, Propinsi Jawa Tengah.

Hingga kini persoalan ganti rugi masih terus ditagih oleh masyarakat korban pembangunan bendungan kepada Bank Dunia dan Pemerintah. Berbagai kasus utang dan intervensi perubahan kebijakan telah mengakibatkan penderitaan rakyat di berbagai sektor. Sigit dari Koalisi Rakyat untuk Hak atas Air (KRuHA) menceritakan bahwa tahun 1999 merupakan penanda perubahan besar pada sektor air.

Munculnya kebijakan untuk melakukan reformasi sektor sumberdaya air di Indonesia dimulai dengan dorongan oleh Bank Dunia melalui Water Resources Sector Adjustment Loan Project (WATSAL). Melalui proyek utang senilai senilai USD 300 juta, Bank Dunia mendorong perubahan pada aspek pengelolaan sumber daya air dan pengelolaan layanan. Privatisasi, komersialisasi hingga korporatisasi menjadi agenda utamanya. Akibatnya rakyat miskin di perkotaan hingga petani di pedesaan menanggung penderitaan tidak memiliki akses air yang baik.

Dinda N Yura dari Solidaritas Perempuan menegaskan soal mustahilnya memikirkan penyelamatan sosial lingkungan, apalagi berbicara keadilan gender, ketika sistem ekonomi yang dihasilkan Bank Dunia dan institusi ekonomi global lainnya justru menjadi aktor kehancuran dunia.

Selama hampir 74 tahun, Bank Dunia telah berkontribusi aktif dalam memperlebar ketimpangan, memperkuat pemiskinan serta penindasan dan kekerasan terhadap perempuan.

Perempuan terus digusur, ruang hidupnya dirampas, sumber mata airnya direbut, nilai sosial dan pengetahuannya dihancurkan, tidak hanya akibat proyek infrastruktur yang didanai Bank Dunia, tetapi juga akibat campur tangan Bank Dunia di dalam berbagai kebijakan. Intervensi Bank Dunia di sektor ketenagakerjaan juga semakin memperburuk kondisi buruh di Indonesia, khususnya perempuan buruh migran.

Zainal A Fuad dari Serikat Petani Indonesia menambahkan bahwa selama ini, Bank Dunia dan IMF hanya menguntungkan korporasi dan kapitalis. Bank Dunia telah membajak reforma agraria dan pembangunan pedesaan dengan memaksa negara menerapkan kebijakan neoliberal melalui jebakan utang.

Di sektor agraria, Bank Dunia mendorong penerapan reforma agraria berbasis pasar dengan proyek sertifikasi lahan yang akan berdampak pada penguasaan individu sehingga memudahkan infiltrasi kapital. Melalui proyek Forest Investment Program (FIP) dalam kerangka REDD+, Bank Dunia mendorong legalisasi perampasan lahan petani dan kemitraan dengan korporasi untuk mengelola konservasi hutan. Oleh karena itu, kita sudah harus membangun alternatif. Yaitu World Beyond Banks.

Pada sektor kelautan dan perikanan Marthin Hadiwinata dari Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia, mengungkapkan bahwa Bank Dunia juga turut aktif dalam perampasan sumber-sumber kehidupan nelayan tradisional dan rakyat di pesisir dan pulau-pulau kecil.

Salah satu bentuk intervensi nyata Bank Dunia dengan mendorong adanya privatisasi pesisir dan pulau-pulau kecil dengan kedok pengaturan pengelolaan sumber daya pesisir dan pulau kecil. Melalui klaim bahwa pengelolan laut yang dianggap akses terbuka (open access), Bank Dunia menawarkan solusi privatisasi.

Di sisi lain konservasi berbasis hutang telah gagal dengan adanya Laporan BPK Tahun 2012 atas Proyek Coremap-CTI yang menunjukkan kegagalan capaian, adanya korupsi serta tiadanya partisipasi publik.

Catatan ini menunjukkan tentang topeng baru dengan politik usang yang telah dilakukan Bank Dunia dan IMF. Nyatanya, apa yang dilakukan justru menambah persoalan baru.


(Foto/ Ilustrasi: Pixabay)

*Ega Melindo, aktif di Solidaritas Perempuan di Jakarta