"Kenyataan menunjukkan, industri sepak bola bukan hanya digerakan oleh kelas buruh dari sisi penonton dan pemain, namun juga seluruh peralatannya. Bola, sepatu, kaos yang digunakan dalam pertandingan kelas dunia ternyata diproduksi oleh buruh, para buruh-buruh perempuan dan anak-anak dunia ketiga."


*Zaki Muhammad- www.Konde.co

Gelaran piala dunia 2018 telah usai. Setiap jadwal yang tersaji, jutaan penonton seantero dunia berkiblat dalam pertandingan ini.

Sepak bola merupakan primadona dikalangan masyarakat termasuk masyarakat kelas buruh. Harus diakui, di sejumlah negara Eropa, Amerika Latin dan bahkan di indonesia, sepak bola adalah sarana hiburan masyarakat kelas buruh. Klub sepak bola dan komunitas suporter adalah tempat mengidentifikasikan diri soal arah politiknya.

Saat kita berbicara keterkaitan antara sepak bola dan kelas buruh, maka sedikit banyak kita akan melihat sepak bola inggris. Karena disana sepak bola mulai muncul dan kelas buruh ikut andil dalam mempopulerkan. Jadwal yang digelar di Liga Inggris terjadi saat Sabtu dan Minggu, ketika kelas buruh libur dan meluapkan waktunya untuk melihat jagoan mereka mencetak gol.

Di Inggris, rivalitas bukan soal bagaiman taktik permainan atau berapa banyak pemain hebat bisa dibeli. Melainkan tak beranjak dari urusan ekonomi. Semisal kebencian para pendukung Liverpool terhadap Manchester United, berawal dari kemarahan buruh-buruh galangan kapal itu terhadap para pengusaha Manchester.

Manchester adalah kota utama dalam revolusi industri abad 18 yang menghasilkan katun. Sementara Liverpool adalah pelabuhan dagang paling sibuk di Inggris tempat buruh galangan kapal harus diperas keringatnya. Saat krisis ekonomi dan depresi pada tahun 1920an terjadi, Manchester terkena imbas. Terjadi migrasi besar-besaran, pengusaha di Manchester ambil jalan pintas dan membuka sendiri pelabuhan dan menghantam pemasukan warga liverpool, terutama buruh galangan kapal.

Hal tersebut memicu rivalitas sampai di lapangan bola antara dua kota yang hanya berjarak sekitar 50 kilomter tersebut. Pemain liverpool pun pernah menunjukkan slogan mendukung pekerja pelabuhan Merseyside yang di pecat.

Rata-rata pemain Inggris berasal dari kelas buruh, penelitian Simon Kuper dan Stefan Szymanski dalam bukunya Soccernomics menunjukkan, sepak bola inggris tergantung pada pasokan pemain dari kelas buruh.

Hanya 15 % pemain tim nasional inggris pada piala dunia 1998-2006 yang berasal dari kelas menengah. Sebut saja Jamie Vardy, pemain Leicester City. Jamie vardy sebelum mengejar mimpinya menjadi pemain top sepak bola inggris, dia harus menjadi buruh berjibaku di dalam gedung pabrik alat-alat penyangga patah tulang.

Di belahan negara lain, tempat dimana Francesco Totti dan Gianlugi Buffon dilahirkan. Dimana gaya bermain Catenaccio sistem grendel yang memainkan pertahanan berlapis di populerkan juga membuka sejarahnya soal bagaimana kelas buruh mengidentifikasikan dirinya di sebuah klub Internazionale Milan. Inter milan memiliki pendukung ideologis dari kaum intelektual dan buruh-buruh baja. Comuna baires, seorang sutradara pendukung Inter, menyebut klub idolanya itu memiliki falsafah anti kapitalisme (dalam hal ini anti bush, anti-berlusconi, anti amerika). Sebagian pendukung Inter mengagumi teori hegemoni Antonio Gramsci, seorang intelektual gerakan rakyat.

Cerita dari tempat lain dimana kelas buruh menapaki jalan politiknya untuk menunjukan bahwa ideologi tidak hanya terbatas dibarisan pabrik, lapangan bola pun menjadi tempat mereka. Jerman, kita awali cerita ini dari Borussian Dortmund. Pemilik klub sepak bola tersebut menyadari, bahwa basis suporter mereka mayoritas berasal dari kelas buruh. Borussian Dortmund, menawarkan kursi gratis kepada para pekerja baja. Pekerja baja tersebut telah berjasa dalam pembangunan klub dari mulai pembangunan stadion sampai sumbangsi terhadap saham.

Selanjutnya adalah St. Pauli, klub yang berkiprah di Bundesliga 2 ini tidak hanya sebagai klub biasa. St. Pauli yang memiliki basis suporter dari kelas buruh menerapkan demokrasi sepenuhnya dan gagasan politiknya di klub tersebut. hal yang lebih menarik adalah terdapat kepentingan berkomunal di St. Pauli itu sendiri. Klub ini telah menjadi wadah bagi orang-orang yang kecewa karena keserakahan dan kebohongan sepakbola modern.

Para pendukung St. Pauli memang selalu lantang menentang rasisme, seksisme, homofobia, dan fasisme, yang di mana bahwa faham-faham itu justru menjadi kultus di sebagian besar sepakbola Jerman penganut fasisme dan para pendukung St. Pauli menganggapnya sebagai ancaman sepakbola dunia.

Pada 2006 silam, Washington Post dibuat kagum oleh para pendukung kesebelasan dari Hamburg ini. Washington Post seolah tidak percaya jika di tribun Stadion Millerntor, kandang St. Pauli, dipenuhi orang-orang yang bisa dibilang ‘buangan’ di Jerman, seperti punk, kelas pekerja, tunawisma, waria, dan lainnya. Presiden St. Pauli Oke Gottlich pun tetap bersikeras jika St. Pauli akan tetap menjadi klub kepedulian sosial. Ia juga menganggap kesebelasan berjuluk Buccaneers of the League (Bajak Laut dari Liga) itu mampu lebih besar tanpa sokongan dana melimpah.

“Kami akan selalu mengambil sikap melawan rasisme dan homophobia. Selalu memerhatikan kaum lemah dan miskin, karena itu penting bagi kami,” tegas Gottlich.

Sedangkan di Indonesia, kisah kelas buruh dalam sepak bola memang belum di temukan secara terperinci. Namun ada sepotong cerita yang disebutkan dalam buku Ruth Mcvey dan Harry J.benda, bahwa sekitar tahun 1927 berdiri sebuah kesebelasan bernama LONA di Sumatera Barat dan tepat dipasar pariaman.

Di kabarkan juga kesebelasan tersebut adalah berisi buruh Pasar Pariaman dan menurut tulisan wartawan dan pengamat bola, Zen RS, kesebelasan tersebut dekat dengan Perdana Menteri Sutan Syahrir.

Kenyataan menunjukkan, industri sepak bola bukan hanya digerakan oleh kelas buruh dari sisi penonton dan pemain, namun juga seluruh peralatannya.

Bola, sepatu, kaos yang digunakan dalam pertandingan kelas dunia ternyata diproduksi oleh buruh, para buruh-buruh perempuan dan anak-anak dunia ketiga.

Yang terbaru, bagaimana transfer ronaldo ke juventus membuat marah buruh-buruh yang bekerja di perusahaan otomotif fiat yang sudah bertahun-tahun menghabiskan waktunya untuk perusahaan, namun perusahaan dengan mudah mengeluarkan uang ratusan milliar dolar demi seorang pemain bola yang tidak pernah mencetak bahkan membuat satupun produk fiat.

Sepak bola tidak akan pernah bisa dilepaskan dengan kelas buruh. Dimanapun dan disisi apapun kelas buruh mempunyai peran dalam sepak bola, termasuk dalam aspek politik.

Meskipun FIFA melarang politik masuk dalam lapangan bola, kegigihan sebuah pandangan politik akan tetap tersengat untuk terus dikobarkan. Disinilah bagaimana kesempatan untuk memperjuangkan pandangan politik harus dilakukan dimanapun berada. Dimana massa rakyat berdiri dengan jumlah banyak sehingga kita bisa memenangkan hati massa rakyat termasuk kelas buruh untuk menyampaikan gagasan politiknya.

Jadi, kalau kalian membenci kelas buruh, berarti kalian juga membenci seluruh tribun dan kesebelasan dukunganmu. Mencintai sepak bola adalah keharusan mencintai kelas buruh termasuk memperjuangkan gagasan politiknya.


*Zaki Muhammad, penulis dan aktivis buruh.

(Foto/Ilustrasi: Pixabay)

(Tulisan ini sebelumnya dimuat di www.buruh.co dan merupakan kerjasama antara www.Buruh.co dan www.Konde.co)

*Poedjiati Tan- www.Konde.co

Jakarta, Konde.co- Pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) Penghapusan Kekerasan Seksual terancam akan tergerus hiruk pikuk suasana tahun politik.

Sejak Maret 2018, RUU Penghapusan Kekerasan Seksual telah masuk dalam pembicaraan tingkat 1, tentu saja ini menjadi capaian baik yang harus diapresiasi kepada Dewan Perwakilan Rakyat/ DPR RI. Mengingat sudah hampir tiga tahun RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU P-KS) telah masuk dalam Prolegnas DPR RI namun tak kunjung juga disahkan.

Namun dalam perkembangannya, pekerjaan rumah anggota DPR khususnya untuk menunaikan janjinya tak kunjung juga terlaksana. Hal ini seharusnya tidak perlu menunggu sampai jatuh lagi korban yang membuat kepanikan publik, demi menujukan bahwa korban kekerasan seksual sangat membutuhkan kebijakan ini.

Bola liar pembahasan RUU P-KS kini telah berada di tangan Panja (Panitia Kerja) RUU P-KS Komisi VIII DPR RI.

Dian Novita, mewakili Forum Pengada Layanan (FPL) menyebutkan bahwa pada awal tahun 2018, pembahasan RUU ini telah dimulai dengan agenda Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) yang mengundang para ahli, LSM perempuan, Komnas Perempuan, dan ormas-ormas perempuan.
Selain itu Panja RUU P-KS juga telah melakukan kunjungan kerja ke luar negeri dan beberapa daerah, tetapi pembahasan substansi RUU ini masih “mandek”, belum berkembang jauh dan masih terkesan digantung.

Dalam RDPU dengan mengundang Forum Pengada Layanan (FPL) dan Komnas Perempuan, FPL telah menerangkan kepada Panja RUU P-KS latar belakang adanya RUU ini, yaitu hasil dokumentasi pendampingan terhadap perempuan korban kekerasan.

Selama 10 tahun Komnas Perempuan juga telah melakukan kajian Catatan Tahunan Komnas Perempuan antara tahun 2001 s.d 2011 yang menemukan kesimpulan bahwa rata-rata 35 perempuan, termasuk anak perempuan menjadi korban kekerasan seksual setiap harinya.

“Sepertinya kita harus mengingatkan kembali kepada pihak legislatif bahwa tidak ada kepentingan lain dari lahirnya RUU ini selain kepentingan korban kekerasan seksual yang selama ini masih diabaikan negara,” ujar Dian Novita, pengarah Forum Pengada Layanan.

Selama ini substansi hukum Indonesia dalam KUHP tentang kekerasan seksual masih sempit, tidak semua kasus kekerasan seksual dapat diproses secara hukum hanya dikenal perkosaan pencabulan dan perzinahan.

Veni Siregar dari FPL juga menyebutkan bahwa selain catatan lain juga menyebutkan sangat sedikitnya kasus yang maju sampai ke persidangan, data pendokumentasian kasus kekerasan seksual yang dilakukan FPL di lima wilayah (Jawa Tengah, Sumatera Barat, Jawa Timur, Sulawesi Tenggara,Yogyakarta) dari 80% korban yang melapor memilih jalur hukum, hanya 10% kasus yang maju sampai ke persidangan, sisanya 40% mandeg di kepolisian dan 50% dimediasi yang kemudian dinikahkan atau terima uang ganti rugi.

Tentu saja situasi sulitnya korban mengakses keadilan inilah yang diharapkan menjadi perspektif yang digunakan untuk membahas RUU ini.

Forum Pengada Layanan meminta komitmen Panja RUU P-KS untuk segera membahas RUU ini dalam masa sidang V tahun 2017-2018.

“Sehingga persiapan pesta demokrasi dalam menyambut tahun politik 2019 tidak menjadi alasan bagi pihak legislatif untuk mengabaikan hak-hak korban kekerasan seksual,” ujar Dian Novita.

(Foto/ Ilustrasi: Pixabay.com)

File 20180425 175044 18lmpe3.jpg?ixlib=rb 1.1

shutterstock.
www.shutterstock.com



Rintis Noviyanti, Eijkman Institute for Molecular Biology

Ini adalah artikel kelima dalam seri “Ibu dan Kesehatan Anak” untuk memperingati Hari Kartini, 21 April.




Tema Hari Malaria Dunia pada tahun ini, yang jatuh pada 25 April, adalah “Siap Mengalahkan Malaria”. Artikel ini menjelaskan penyakit malaria pada kehamilan dan bagaimana penyakit ini akan berdampak pada bayi.


Penyakit malaria yang terjadi pada ibu hamil menimbulkan risiko besar bagi ibu dan bayinya. Perempuan hamil adalah penduduk paling rentan karena mereka memiliki risiko lebih besar terkena infeksi malaria dibanding individu dewasa yang tidak hamil.


Satu dari empat orang Indonesia hidup di kawasan dengan risiko tinggi terserang malaria. Pada 2016, malaria membunuh 161 orang di Indonesia. Secara global, penyakit ini membunuh 445.000 orang pada tahun yang sama.


Saat ini hanya ada beberapa laporan tentang dampak infeksi malaria pada kehamilan pada ibu dan bayi di Indonesia. Tim kami dari Lembaga Eijkman di Jakarta telah mencoba mengisi kekosongan studi tentang dampak infeksi Plasmodium falciparum pada perempuan hamil dan anak-anak mereka di Timika Papua, satu provinsi yang memiliki tingkat prevalensi tinggi infeksi malaria.


Riset ini juga berupaya mengidentifikasi hubungan antara infeksi malaria pada ibu dan kesehatan bayi-bayi mereka.


Infeksi pada kehamilan?


Tanda-tanda terkena malaria pada perempuan hamil bervariasi, tergantung tingkat transmisi mereka dan status kekebalan tubuh para perempuan tersebut. Di sub-Sahara Afrika, malaria pada kehamilan terutama disebabkan oleh infeksi parasit yang dikenal sebagai Plasmodium falciparum. Di Asia Pasifik dan Amerika Selatan, infeksi dari parasit Plasmodium vivax umumnya terjadi.


Saat Plasmodium falciparum menginfeksi sel darah merah, parasit ini dapat terakumulasi di plasenta sebagai cara mereka untuk menghindari sistem kekebalan tubuh (imunitas) manusia.


Beberapa riset menunjukkan bahwa antibodi melindungi perempuan terhadap infeksi malaria. Studi lainnya menunjukkan bahwa perempuan yang hamil pertama kali lebih rentan terkena infeksi malaria dibanding dengan mereka yang telah pernah hamil beberapa kali.


Di Asia dan Afrika, data terbaru menunjukkan bahwa perempuan yang hamil pertama kali dapat memiliki jumlah parasit lebih tinggi di dalam darah mereka ketimbang dengan perempuan yang telah hamil beberapa kali.


Sebuah studi membuktikan bahwa antibodi berperan dalam memperbaiki kondisi bayi dari ibu terinfeksi malaria. Hal ini menunjukkan bahwa upaya mengembangkan vaksin yang melindungi ibu hamil terhadap malaria adalah layak. Bahkan beberapa studi telah menemukan bahwa antibodi yang terbentuk sebagai respons terhadap infeksi Plasmodium falciparum pada ibu hamil dapat mengurangi risiko kematian pada bayi dan berat badan lahir rendah, meskipun laporan lain telah menunjukkan bahwa hal itu tidak selalu terjadi karena adanya respons antibodi yang berbeda.


Wilayah endemik tinggi versus rendah


Laporan pada 2017 dari WHO dan seperti review oleh Desai pada 2007 menunjukan bahwa di daerah endemik tinggi dimana infeksi malaria sering ditemukan, imunitas terhadap penyakit ini juga tinggi.


Laporan ini menyatakan bahwa infeksi ini dapat terjadi tanpa menunjukkan gejala klinis. Meskipun tanpa ada gejala klinis, parasit malaria masih mungkin masih hidup di plasenta. Hal ini dapat menyebabkan anemia pada ibu hamil dan berat kelahiran rendah pada bayi yang dilahirkan dari kehamilan pertama kali.


Di daerah endemik rendah, imunitas perempuan hamil terhadap penyakit ini lebih rendah dibanding di daerah endemik tinggi. Ini berarti perempuan hamil dari daerah endemik rendah menghadapi risiko lebih besar terkena anemia berat dan dampak buruk lainnya seperti kelahiran prematur dan kematian janin.


Bagian timur Indonesia tetap merupakan daerah endemik yang tinggi untuk malaria. Studi terbaru di Timika menemukan bahwa infeksi malaria dapat menyebabkan anemia pada ibu, persalinan prematur, kematian janin, dan bayi lahir dengan berat badan rendah. Sementara itu, resistensi obat dan kurangnya upaya pencegahan seperti penyediaan kelambu dan penyemprotan anti nyamuk dapat berkontribusi pada efek buruk infeksi malaria pada perempuan hamil.


Temuan di Papua


Untuk riset kami di Papua, kami mengumpulkan sampel darah dari perempuan hamil dan sebagian jaringan plasenta mereka untuk meneliti respon antibodi terhadap malaria. Kami juga mengidentifikasi sejumlah faktor yang berkontribusi pada kasus-kasus malaria pada perempuan hamil.


Riset kami menunjukkan konsistensi dengan temuan sebelumnya bahwa tingkat imunitas perempuan yang hamil pertama lebih rendah dibandingkan dengan perempuan pada kehamilan kedua, ketiga, dan seterusnya, sehingga menjadikan kelompok perempuan dengan kehamilan pertama kali lebih rentan terhadap infeksi malaria.


Sementara itu, analisis pada sebagian jaringan plasenta menunjukkan sekitar 40% perempuan dengan parasit yang terdeteksi di aliran darah mereka tidak mengandung parasit dalam plasenta mereka. Ini berarti parasit yang ditemukan di dalam aliran darah tidak selalu menunjukkan adanya infeksi parasit malaria pada plasenta.


Menariknya, data awal kami menunjukkan bahwa banyaknya jumlah parasite yang ditemukan dalam aliran darah dapat menyebabkan bayi berat lahir rendah. Namun demikian, tingginya jumlah parasit dalam darah, tidak selalu dapat dikaitkan dengan akumulasi parasit di plasenta.


Hasil ini menunjukkan bahwa angkah-langkah pencegahan diperlukan bagi perempuan hamil dengan infeksi parasit di dalam aliran darah untuk meminimalkan risiko melahirkan bayi berat lahir rendah. Pemberian obat anti malaria harus ditujukan untuk mengurangi jumlah parasit dalam darah mereka.


Tahap selanjutnya


Indonesia telah melakukan berbagai upaya terintegrasi untuk mengurangi dampak buruk malaria pada ibu dan bayi. Ini termasuk distribusi kelambu dan pemberian obat anti malaria yang cepat dan tepat untuk perempuan hamil.


Baru-baru ini, para ilmuwan dari Lembaga Eijkman, Yayasan Pengembangan Kesehatan dan Masyarakat Papua (YPKMP), dan Liverpool School of Tropical Medicine (LSTM) di Inggris mempelajari dampak pengobatan malaria pada perempuan hamil yang terinfeksi malaria.


Kami masih menunggu hasil penelitian pengobatan malaria pada masa kehamilan dan berencana untuk menerapkannya ke dalam praktik pengobatan malaria. Harapannya, kelak Program Pengendalian Malaria Nasional dapat mengadopsi cara ini jika terbukti berhasil menurunkan dampak buruk bagi perempuan dan bayinya menjadi kebijakan yang sangat dibutuhkan untuk memerangi malaria.


The ConversationPenelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berperan dalam menentukan kondisi kesehatan bayi dari ibu dengan infeksi malaria. Penelitian ini diharapkan dapat membantu memberikan pengobatan malaria yang lebih baik untuk bayi-bayi ini.


Rintis Noviyanti, Scientist at Malaria Pathogenesis Unit, Eijkman Institute for Molecular Biology


Sumber asli artikel ini dari The Conversation. Baca artikel sumber.


*Abdus Somad- www.Konde.co

Ini adalah kisah para perempuan yang terusir dari pembangunan bandara baru di Kulonprogo, Yogjakarta.Tanah mereka raib, kuburan tanah luhur merekapun tergusur. Mereka terusir dari tanah dimana selama ini mereka hidup.

Sinar mentari terbit dengan sempurna, aktivtas Warga Paguyuban Penolak Penggusuran Kulon Progo (PWPP-KP) masih seperti biasa. Pergi ke lahan untuk menyirami tanaman cabai dan terong yang sejak tiga bulan lalu dirawat, semua berjalan dengan baik tidak ada gejala apapun dalam keseharian warga.

Pada Kamis, 26 Juni 2018, sekitar pukul 09.03 tiba-tiba aparat kepolisian gabungan wilayah Kuloprogo datang dengan menggunakan motor antihuru-hara, mobil Brimob serta mobil Patroli.

Ada sekitar ratusan aparat kepolisian datang ke lokasi pembangunan Bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA). Mereka berkumpul menggelar apel pagi untuk melakukan eksekusi pengosongan lahan warga yang masih menolak pembangunan bandara.

Pihak PT. Angkasa Pura I bersama Kepolisian Kulonprogo pagi itu akan melakukan pengosongan lahan (land clearing) selama tiga hari, terhitung dari Kamis 28 Juni sampai dengan Sabtu, 30 Juni 2018. Dalam aktivitasnya mereka akan menumbangkan pohon dan merusak lahan pertanian warga yang masih digunakan oleh warga yang tergabung dalam Paguyuban Warga Penolak Penggusuran Kulonprogo (PWPP-KP) untuk mencari penghidupan.

Melihat adanya aparat kepolisian yang begitu ramai yang tak seperti biasanya, warga pun bergegas menyiapkan diri mereka mencoba untuk menghadang. Namun dari arah selatan bergerak 12 alat berat menuju lokasi berkumpulnya polisi alat berat itu berjejer.

Setelah mengkuti apel pagi, aparat dan alat berat bergerak menuju lahan warga yang berada di sekitar pesisir pantai. Mereka mulai merobohkan tanaman dan pepohonan yang masih berdiri. Tak hanya itu mereka juga bergerak menuju pekarangan rumah warga PWPP-KP dengan merobohkan pohon di sekitar rumah mereka. Tak ada yang menduga gerakan besi penghancur itu akan merusak lahan warga.

Sontak warga geram, mereka mencoba melawan sekuat tenaga dengan cara menghentikan begho (alat berat) bergerak, namun polisi juga ikut bergerak, mereka menghalangi warga untuk menghentikan aktivitas begho. Adu mulut dan saling dorong-pun tak terhindarkan.

Wagirah warga Panguyuban Warga Penolak Penggusuran Kulon Progo (PWPP-KP) mencoba mendekati lahannya. Ia berulang lagi menyampaikan kepada pemimpin kepolisian untuk memberhentikan begho beroperasi. Ia berteriak dengan menyatakan tanahnya tidak pernah menjual tanahnya, uang ganti rugi tidak pernah dan tidak ingin Wagirah terima. Sayangnya teriakan Wagirah tak digubris, ia justru disingkirkan. Tanaman cabainya dilahap begho dengan sekejap.

Wagirah melihat sendiri tak ada yang tersisa dari apa yang kini dipertahankan. Cabai yang ia rawat berbulan-bulan tumbang seketika. Merasa dirugikan Wagirah kembali mencoba menghalangi aktivitas alat berat. Demi lahan ia sampai menduduki alat penampungan begho (bucket), tak berselang lama, aparat kepolisian datang menghampirinya, ia diminta untuk pergi dari bucket, ia-pun diusir untuk kedua kalinya dari lahannya sendiri.

"Begho beraktivitas aku disingkirke ( disingkirkan- red)," ujar Wagirah sembari menangis kencang tak kuasa melihat lahannya rusak dalam sekejap.

Berulang kali Wagirah jelaskan bahwa lahannya tak pernah ia jual, namun tak pernah digubris. Teriakan Wagirah membuat polisi risau, mereka mengelilinginya agar Wagirah tidak mendekati begho yang terus mengobrak-abrik ladangnya.

Ada sekitar ratusan kepolisian membuat lingkaran kecil dengan saling mengandeng tangan polisi agar Wagirah tak lepas dari jeratannya.

“Aku nandur pirang tahun karo simbah-simbah ora didol kok (aku menanam berpuluh tahu, sama si mbah tidak dijual kok-red) siapa yg tanggung jawab? Hayo jawab," tanya Wagirah kepada Polisi Wanita yang mengelilinginya.

Ia berusaha menyingkirkan polisi dari hadapannya. Berulang kali ia berteriak agar bisa lepas dari lingkaran polisi wanita yang mengelilinginya. Namun tetap tak dihiraukan. Teriakan-demi teriakan untuk mempertahnkan lahan untuk seorang anak yang ia besarkan tak juga menjadi perhatian aparat kepolisian. Ia hanya bisa tersipu menangisi lahan yang sudah dirusak.

"Itu wasiat orang tuaku, minggir aku meh nang omah (minggir aku mau ke rumah-red)," pekiknya.

Ibu dengan dua anak itu masih saja menangis sekencang-kencangya. Tangisan itu tak pernah berhenti. Ia terus mencari jalan agar bisa lepas dari kawalan polisi namun sia-sia karena tak juga dilepas. Baru setelah begho selesai merusak lahannya, Wagirah dilepas. Tapi ada daya, semua sudah tak berbentuk. Cabai tak lagi sesegar saat Ia menyirami pagi itu.

"Minggir salahku apa? Aku ini arep nandur nggo anak putu (aku mau menanam untuk anak cucu-red) ," ujarnya kembali

Ia sendiri tidak menyangka akan ada pengrusakan lahan. Wagirah menyatakan tidak pernah ada pemberitahuan sebelumnya. Semua berlangsung dengan tiba-tiba. Dari hal itu, warga tidak sempat melakukan panen dari tanamannya. Semua hilang dengan sekejap mata.

“Gak ada pemberitahuan sama sekali, semua mendadak, kita gak tahu kalau begho rusak lahan,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca memikirkan nasibnya ke depan.

Kala Makam Terakhir Ikut Dirusak

Pengosongan tidak hanya menyasar lahan warga, namun makam-makam yang masih digunakan untuk berziarah juga ikut menjadi target pembersihan lahan. Warga Sidorejo yang menyadari hanya makam itu yang tersisa, mereka kemudian bergerak menuju makam. Di sana mereka berdoa, berharap makam yang masih digunakan untuk sanak keluarga tak dirusak.

Tangisan demi tangisan keluar, air mata jatuh di atas makam si Mbah- si Mbah mereka yang dulu telah banyak memberikan lahan untuk masa depan anak dan cucu mereka. Apa daya pembangunan bandara kemudian meluluh-lantahkan peninggalan si Mbah mereka. Tak ada yang tersisa kecuali rumah yang kini masih ditempati.


Melihat pergerakan warga, ratusan kepolisian begerak dengan cepat menuju makam, mereka mengelilingi warga yang sedang berdoa. Mereka terlihat menatap tegas warga. Semuanya seperti tak ada yang toleran. Demi pembangunan semua hilang, termasuk perasaan sesama manusia.

“Ya Allah anakku yang perempuan di kuburan masih gak? digaruk gak?,” ujar Ponijah berharap makam anaknya tak dirusak.

Tak berselang lama warga berdoa, alat berat bergerak mendekati makam, mencoba menghalau mereka tak sanggup.

Ponijah menuturkan jumlah personil kepolisian perbandingannya 1:50 tak kuat untuk menghalau. Kejadian itu berlangsung begitu cepat tak sampai hitungan jam. Semua rata dengan tanah.

“Sudah gak ada semua, sudah habis semua. Pohonnya tinggal belakang rumah ini, incarannya gak tahu kapan,” ujar Ponijah.

Teguh Purnomo selaku kuasa hukum warga PWPP-KP saat dihubungi melalui telepon mengatakan kepolisian telah mengulangi kesalahannya dalam proses pengosongan lahan. Ia tidak terima perlakuan polisi atas warga PWPP-KP.

"Saya kira ini kesalahan sekian kali, polisi harusnya mereka netral. Kalau kayak gini mereka mengulangi kesalahan,” kata Teguh.

Ia juga mengatakan PT. Angkasa Pura I telah melakukan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) serta pembohongan publik pasalnya dulu sempat ada keingin melibatkan Komnas HAM dalam proses pengosongan ternyata tak dilakukan pihak Angkasa Pura.

"Pengosongan katanya mau libatkan Komnas HAM ternyata gak ada. Itu pembohonan publik. Itu pelintiran Angkasa Pura," kata Teguh.

Sementara itu Sri Sultan Hamangkubuwono X selaku Gubernur saat dikonfirmasi terkait dengan adanya pengosongan lahan justru menyatakan jika tanah yang ditempati warga kini haknya sudah lepas. Ia sendiri meminta warga segera pindah karena sudah tidak ada waktu lagi untuk melakukan pembangunan.

“Hak atas tanahnya sudah lepas, mesti harus pindah wong mau dibangun kok, sudah tidak ada waktu lagi,” kata Sri Sultan saat menghadiri acara Syawalan bersama Walikota Jogja pada Jumat, (28/6/2018).

Tiga hari itu, semua menangis, lahan yang menjadi sumber ekonomi mereka telah diobrak-abrik demi sebuah pembangunan. Ratapan wajah para ibu-ibu dan 87 Kepala Keluarga yang masih menolak bandara terlihat sedih.

Air mata tak henti-hentinya keluar, mereka tak pernah menangis sekencang itu. Di tanah kelahiran mereka, mereka tak berdaya menghadapi ganasnya Pembangunan bandara NYIA.


*Abdus Somad, aktivis lingkungan dan penulis/ kontributor www.Konde.co di Yogyakarta

*Almira Ananta- www.Konde.co

Dan ini adalah toko buku pertama yang aku kunjungi di tahun ini. Sudah lebih dari sebulan di tahun ini, baru 1 toko buku yang aku kunjungi. Kali ini, perasaanku serba tidak enak ketika mau masuk di kawasan ini.

Dulu, seminggu sekali aku selalu mengunjungi toko-toko buku ini. Bahkan setiap Sabtu dan Minggu, di toko merah yang selalu kukunjungi- setelah mampir membeli kue pancong. Di toko hijau setelah hujan-hujan berteduh minum kopi, di toko putih di ujung jalan yang menyimpan banyak cerita Indonesia suram di masa lalu. Jaman kolonial, orde baru.

Tapi, apa yang terjadi sekarang? Aku, teman-temanku seolah sudah melupakan toko merah, hijau, kuning, putih itu.

Ibu tua penjaga toko masih disana-sebutanku untuk ibu Reni, ia masih menyapaku tadi. Ibu Tika di toko putih yang selalu menemaniku ngobrol sambil mencari buku, terlihat duduk sambil mengantuk ketika aku datang.

“Toko buku ibu sudah sepi, nak. Tidak seperti dulu. Sekarang jamannya semua orang menggunakan internet.”

Membaca buku. Aktivitas ini sendiri sudah agak lama saya tinggalkan ketika gadget mulai muncul, menyeruak di setiap ruang, berbarengan dengan televisi yang ada di kamar, di tengah ruangan, di dalam kantor, ruang tunggu. Ini jadi membuat sulitnya beristirahat sejenak dari gadget dan TV. Teman-teman perempuan sayapun mengalami hal ini.

Informasi selalu banjir kemana-mana. Bayangkan, kita jadi kehilangan waktu tidur hanya ingin menjadi orang pertama yang bisa mengkases informasi, tidak mau kalah dari yang lain. Menyebarkan informasi dan menjadi yang pertama lalu menjadi sebuah kewajiban.

Dan membaca buku, aktivitas yang dulu selalu dilakukan dimana-mana, sambil menunggu kereta, duduk di terminal atau ketika malam datang sebelum tidur, seolah hilang ditelan bumi.

Dan ini adalah toko pertamaku di tahun ini. Sudah lama aku tidak terlibat dalam perjumpaan ini, percakapan ini. Membicarakan penulis buku, latar belakang mereka dan pasti isi bukunya. Saya kangen pada ibu tua yang menyediakan waktu untuk bercerita, ibu Tika yang selalu tergopoh membawa tangga ketika akan mengambilkan buku untukku di rak paling atas. Dan sekarang, menyaksikan nasib mereka.

Tak pernah saya bayangkan nasibnya seperti ini. Anak ibu Tika menyuruhnya menutup kios buku ini dan tinggal bersamanya. Ia tak mau melihat ibu Tika sedih memikirkan buku-bukunya yang berdebu, tak banyak yang menyentuh.

Demikian juga nasib ekonomi mereka. Mereka sedikit mendapatkan laba dari penjualan buku. Bahkan menunggui toko lalu menjadi hobi, bukanlah pekerjaan yang bisa menghasilkan laba secara ekonomi.

Sementara ibu tua yang lain juga sudah terlihat renta diantara tumpukan buku dan alat tulis usang. Apa yang bisa kulakukan? Kukumpulkan semangatku, ini tak boleh menjadi toko buku terakhir. Aku merasa bahwa aku harus berbuat sesuatu. Membantu berjualan buku melalui internet? Mungkin ini yang bisa aku lakukan untuk membantu ibu Reni, ibu Tika dan ibu lain di toko merah, hijau, kuning, putih, biru.

Aku ingin membantunya agar buku-buku ini, toko tua ini, tak lagi menjadi seonggok barang lama, gedung lama yang tak lagi disinggahi orang.

Lainnya? Aku kangen sama ibu, orang yang selalu menemani aku, mengajariku membaca hidup dari buku dan mengenalkan aku pada ibu-ibu hebat di toko buku yang sekarang ada di depanku.

(Foto/ Ilustrasi: Pixabay)

*Almira Ananta,
Blogger dan Traveller. Tinggal di Jakarta

*Ika Ariyani – www.Konde.co

Sebagai ibu yang bekerja, saya selalu dihadapkan pada banyak hal sulit. Sebagai orang Indonesia yang selalu mendengar nasihat bahwa perempuan yang bekerja harus bisa membagi waktu dan memprioritaskan rumah tangganya, makin hal ini yang selalu membuat posisi saya menjadi sulit.

Kenapa perempuan selalu dibebani rasa bersalah jika ia bekerja?

Beruntung di tempat saya kerja, dari rekrutmen sampai penggajian, memang sudah setara. Namun, jika ditelisik lagi, mengapa perempuan sulit untuk mencapai posisi tertinggi dalam karirnya? Bukankah dunia kerja juga telah memberikan kesempatan yang sama kepada perempuan?

Dari sinilah saya merasakan bahwa perempuan jika ingin bekerja di publik, selalu dihadapkan pada persoalan sulit: harus tetap mengurus anak dan semua urusan rumah tangga. Di luar itu, selalu dibebani rasa bersalah mengapa harus mengambil pekerjaan di luar rumah.

Memulai hari dengan rasa kantuk yang berat karena malam hari harus menyusui dan mengganti popok bayi, saya memulai dengan memasak dan membereskan rumah seadanya. Setelah itu di tempat kerja hanya mengerjakan tugas rutin yang menjadi kewajiban sebagai pekerja dan menolak berbagai tawaran pengerjaan proyek yang biasanya saya tangani sebelum menjadi Ibu.

Saya juga beberapakali harus menolak tugas yang mengharuskan saya ke luar kota. Begitulah yang terjadi sejak saya menjadi Ibu. Jangankan meninggalkan anak keluar kota selama 2 hari, meninggalkannya pagi hari saat berangkat kerja dengan sembunyi-sembunyi agar ia tidak melihat saya pergi saja sudah membuat saya berlinang air mata. Karena anak saya akan menjerit jika melihat saya pergi.

Lalu bagaimana dengan suami? Saya pernah meninggalkannya satu malam dengan anak, dan ia selalu menelepon saya mengeluh betapa repotnya ia dan menyuruh saya segera pulang.

Saya berpikir, apakah bapak-bapak karir juga mengalami rasa bersalah dan sedih karena bekerja dan meninggalkan anak di rumah atau tempat penitipan anak? Pernahkah ia memikirkan harus masak apa, apa yang harus dilakukan sepulang kerja, memikirkannya sambil rapat?

Saya pikir, akan mudah bagi seseorang memberi hasil maksimal di tempat kerja ketika ia fokus dan diberi dukungan oleh keluarganya. Lalu perempuan? Berapa banyak suami yang mendukung karir istri?

Apakah keadaan ini harus diterima dan didiamkan? Jika pemerintah menganjurkan memberi Air Susu Ibu (ASI) selama 6 bulan, mengapa hanya memberi cuti melahirkan selama 3 bulan? Apakah hanya mempertimbangkan untung rugi pemberian gaji full bagi karyawan perempuan yang cuti melahirkan?

Negara tentu punya uang seandainya tidak ada korupsi, uang ini berasal dari pajak rakyat.

Lalu kenapa ayah tidak diberi cuti juga untuk mengurus istri dan bayinya? Masa-masa setelah melahirkan bukanlah hal yang mudah, seorang perempuan butuh dukungan utuk kembali memulihka kesehatannya, tercakup kesehatan fisik dan mental.

Dan sayangnya, banyak saya jumpai perempuan yang akhirnya memilih berhenti kerja setelah melahirkan, termasuk ibu saya. Perempuan mengalah meninggalkan karir dan mengabdikan diri sepenuhnya menjadi istri dan ibu.

Pertimbangan ini diperoleh karena menganggap perempuan bekerja hanya untuk membantu suami mencari uang. Tapi tidak ada yang memikirkan bahwa perempuan perlu bekerja untuk pencapaian dirinya, bukan sekadar soal uang.

Jika berbicara mengenai wacana generasi emas, saya pikir itu hanyalah ilusi. Pemerintah kita tidak seserius Negara-negara yang sudah memberikan cuti 13 bulan bagi karyawan perempuan yang melahirkan, dan 2 bulan bagi karyawan laki-laki untuk mengurus anak, itu belum termasuk insentif pernikahan dan insentif anak.

Maka dengan negara yang jumlah perempuan bekerja sangat tinggi, tidak lantas menjadi negara yang tidak mengurus hak dan kesehatan reproduksi ibu dan para perempuan.

Lalu apakah saya juga harus berhenti kerja? Jika saya berhenti kerja, maka kami akan mati. Suami saya tidak berpenghasilan tetap, dan tidak ada yang menyalahkannya karena tidak berpenghasilan tetap.

Lalu apakah saya harus terus merasa bersalah dan tidak dihargai sebagai subyek ketika saya bekerja?


(Foto/Ilustrasi: Pixabay)

*Ika Ariyani,
aktivis sosial dan penulis/ kontributor www.Konde.co di Jawa Timur

File 20180309 30986 1k8sn42.jpg?ixlib=rb 1.1

Seorang perempuan penganyam alat panggang bekerja di rumah sambil melakukan tugas rumah tangganya, menjaga anak.
Dari mampu.or.id



Dinar Dwi Prasetyo, SMERU Research Institute

Pekerja rumahan berada di sekitar kita dan lekat dengan keseharian kita. Mereka menjahit baju atau tas yang kita pakai, memproduksi peralatan dapur yang kita gunakan untuk memasak makanan favorit, hingga merangkai komponen elektronik gawai kesukaan kita. Mereka bekerja tidak hanya untuk industri skala rumahan tapi juga perusahaan multinasional.


Namun, informasi mengenai jumlah mereka masih berupa estimasi. Pemerintah Indonesia belum memasukkan pekerja rumahan dalam data statistik resmi negara, baik dalam sensus penduduk, maupun survey angkatan kerja nasional (Sakernas).


Dalam data ketenagakerjaan BPS, posisi pekerja rumahan berada di antara kategori “pekerja bebas di nonpertanian” dan “pekerja keluarga/tak dibayar”. Pada tahun 2017 jumlah pekerja di dua kategori ini mencapai lebih dari 22 juta jiwa atau 18% dari total 121 juta penduduk Indonesia yang bekerja.







Di antara jumlah ini, diperkirakan ada sekitar 12 juta perempuan yang menggeluti pekerjaan rumahan. Hasil studi di enam provinsi di Indonesia juga menunjukkan bahwa pekerja rumahan didominasi oleh perempuan.


Luputnya pekerjaan rumahan dalam data statistik membuat profesi ini menjadi lebih berisiko. Karena tidak masuk dalam hitungan, posisi mereka tidak diakui dan tidak dilindungi pemerintah. Keterbatasan akses di ruang publik untuk bersuara dan berserikat membuat mereka semakin rentan dieksploitasi.


Saya bersama rekan satu tim melakukan penelitian untuk program MAMPU, sebuah kemitraan antara pemerintah Indonesia dan Australia untuk mendorong pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) melalui pemberdayaan perempuan dan pengembangan kepemimpinan perempuan. Dari penelitian tersebut, saya akan menceritakan pengalaman tiga perempuan pekerja rumahan untuk membantu kita memahami kondisi kerja yang mereka hadapi sehari-hari. Nama mereka saya samarkan untuk menjaga privasi.


Setidaknya ada tiga permasalahan yang diemban oleh perempuan pekerja rumahan: upah yang rendah, waktu kerja yang tidak terbatas, dan ketiadaan perlindungan kesehatan dan keselamatan kerja.


Upah yang rendah


Indonesia belum memiliki regulasi tentang standar minimal upah bagi pekerja rumahan. Negosiasi upah minimum dalam forum kerjasama tripartit tidak berjalan karena pekerjaan rumahan belum diatur dalam UU Ketenagakerjaan. Konsekuensinya, pekerja perempuan rumahan harus menerima upah yang rendah tanpa adanya ruang negosiasi dengan pemberi kerja.


Mawar (35) di Pangkajene dan Kepulauan, Sulawesi Selatan, menerima Rp2.500 untuk setiap kilogram biji mente yang ia kupas. Upah ini turun dari sebelumnya Rp3.500 per kilogram di tahun 2014. Mawar tidak mengetahui dengan jelas apa alasannya. Ia dan rekan-rekan sesama pekerja tidak memprotes penurunan upah tersebut karena takut tidak dapat lagi mengupas biji mente, pekerjaan yang menjadi tumpuan pendapatan keluarganya selama lima tahun terakhir.


Sementara itu, Melati (54), seorang janda di Deli Serdang, Sumatra Utara, menerima Rp2.300 untuk setiap 1 bal (1000 lembar) kertas sembahyang umat Konghucu (Kertas Kimcua) yang ia rapihkan, lipat, dan kemas satu persatu. Dalam satu hari, ia bisa menyelesaikan sekitar 5 bal kertas, sehingga dalam sebulan upah yang didapat mencapai Rp300.000. Upah yang minim ini tidak berubah sejak awal ia terlibat dalam pekerjaan ini di tahun 2012.


Bagi Dahlia (37), di Cilacap, Jawa Tengah, upah menjahit gendongan bayi bagi sangat berharga untuk menambah pemasukan keluarga, selain kiriman suaminya yang menjadi buruh bangunan di Jakarta. Ia menerima Rp2.000 untuk setiap potong gendongan bayi yang ia selesaikan. Setiap minggu, ia bisa memproduksi sekitar 50 gendongan bayi dengan total upah berkisar Rp100.000 - Rp150.000. Dari jumlah ini, ia masih harus membeli benang dan membayar listrik mesin jahit yang ia tanggung sendiri.


Selama ini, upah pekerja rumahan ditentukan satu arah oleh pemberi kerja (atau makelar). Persepsi patriarki bahwa pekerjaan perempuan adalah sumber penghasilan sekunder bagi rumah tangga juga turut berkontribusi atas rendahnya upah yang diberikan. Sebuah studi menemukan bahwa sebagian pemilik industri batik beranggapan bahwa pekerjaan membatik (oleh perempuan di rumah) hanya pekerjaan sampingan dan tidak membutuhkan keahlian khusus, sehingga wajar jika upahnya sedikit.


Waktu kerja yang tidak terbatas


Sementara para pekerja di sektor formal memiliki waktu kerja yang jelas dan berbatas, alokasi waktu kerja pekerja rumahan sepenuhnya menjadi kuasa para pekerja sendiri. Meskipun terdengar menguntungkan tapi pada kenyataannya sistem jam kerja seperti ini justru menambah beban buat pekerja perempuan rumahan karena mereka juga mengurusi pekerjaan rumah.


Empat tahun lalu, pekerjaan mengacip biji mente masih terpusat di rumah koordinator dari pukul 08.00 hingga 17.00 WITA. Namun, para pekerja, termasuk Mawar, meminta pekerjaan dilakukan di rumah masing-masing agar mereka tetap bisa mengerjakan tugas rumah tangga. Saat ini, Mawar biasa mengupas biji mente dari pukul 09.00 hingga 16.00 WITA. Durasi bisa lebih panjang, jika biji mente yang diterima ukurannya terlalu kecil. Pekerjaan mengacip biji mente selalu diselingi kegiatan mencuci, membersihkan rumah, dan menyiapkan makan bagi suami dan anak-anaknya.


Bagi Melati menjadi pelipat Kertas Kimcua adalah pilihan terbaik di usianya yang tidak lagi muda seperti saat dirinya masih menjadi buruh tani. Pekerjaan ini menurutnya juga ringan karena dirinya masih bisa mengerjakan pekerjaan rumah. Sejak pagi hingga sore hari, Melati harus mengurus pekerjaan rumah tangga, termasuk menyiapkan bekal bagi tiga anaknya yang bekerja sebagai buruh bangunan. Ia baru mulai melipat kertas pada malam hari ketika perempuan lain seusianya beristirahat.


Begitu juga Dahlia yang awalnya menjahit gendongan bayi di rumah pengepul. Namun, karena ia harus merawat anaknya yang berkebutuhan khusus, semua pekerjaannya dibawa ke rumah. Menurutnya itu lebih baik, karena ia bisa tetap mengawasi anaknya yang sekarang berusia 12 tahun dan mengalami gangguan pertumbuhan. Semua kegiatan rumah sehari-hari, harus ditangani olehnya sendiri karena suaminya berada di Jakarta dan hanya pulang dua bulan sekali.


Perempuan pekerja rumahan seringkali berasumsi bahwa waktu kerja yang fleksibel adalah keuntungan, padahal dalam banyak kasus pekerjaan mereka berujung pada: eksploitasi diri yang memberikan mereka beban ganda. Dalam upaya mencapai target produksi, mereka tetap harus menjalankan peran sebagai pengurus rumah tangga.


Ketiadaan perlindungan kesehatan dan keselamatan kerja


Perempuan miskin terlibat dalam kegiatan ekonomi cenderung memiliki status kesehatan yang lebih rendah. Selain minimnya waktu untuk para pekerja perempuan itu sendiri, tidak adanya standar kesehatan dan keselamatan dalam pekerjaan rumahan membuat para pekerja dan anggota keluarganya memiliki risiko kesehatan yang tinggi.


Risiko bekerja mengupas biji mente bagi Mawar adalah gatal-gatal akibat getah biji mente dan luka karena terkena alat pengupas mente. Oleh karena itu, ia harus menggunakan kapur dan sarung tangan yang ia sediakan sendiri. Apabila gatal, Mawar tidak mendapat bantuan dari pemberi kerja maupun koordinatornya. Membeli minyak gosok sendiri menjadi satu-satunya jalan untuk berobat.


Sementara itu, melipat Kertas Kimcua relatif tidak memiliki risiko kerja yang besar. Namun demikian, kelelahan akibat padatnya kegiatan sehari-hari, membuat Melati seringkali mengalami rematik dan anemia. Karena tidak memiliki jaminan kesehatan, ia harus mengeluarkan Rp100.000 untuk mendapatkan sebotol obat rematik Propolis yang telah dikonsumsinya selama satu tahun belakangan.


Sedangkan Dahlia mengaku tidak pernah mengalami sakit atau kecelakaan selama bekerja sebagai penjahit rumahan. Dirinya juga mengaku tidak pernah mendapatkan jaminan kesehatan maupun ketenagakerjaan dari pemberi kerjanya. Bahkan, Dahlia mengaku tidak begitu paham tentang jaminan ketenagakerjaan dan semacamnya.


Tidak adanya perlindungan kesehatan dan keselamatan kerja merupakan konsekuensi bagi mereka yang bekerja di ranah informal, termasuk para pekerja perempuan rumahan. Di tengah risiko kerja dan kemiskinan yang tinggi, mereka yang tidak mendapat perlindungan cenderung tidak mengakses fasilitas kesehatan untuk berobat.


Apa solusinya?


Pekerja perempuan rumahan rentan terhadap risiko kerja yang mereka geluti. Kita bisa melihat bagaimana pentingnya bagi mereka untuk berserikat dan menyuarakan kepentingannya melalui kelompok advokasi dan organisasi pekerja.


Sementara itu, mempromosikan kesetaraan gender dalam rumah tangga juga penting untuk dilakukan, terutama terkait pembagian peran gender. Selain itu, program-program yang dapat membantu perempuan untuk meningkatkan kualifikasi serta akses mereka terhadap pekerjaan di luar rumah juga diperlukan untuk memperkuat posisi perempuan di dunia kerja.


The ConversationDi sisi lain, pemerintah pusat maupun daerah perlu melakukan langkah tegas untuk memberikan pengakuan dan penghargaan terhadap kontribusi perempuan pekerja rumahan bagi pembangunan. Status mereka selayaknya disejajarkan dengan para pekerja di sektor formal yang lain dengan konsekuensi memenuhi hak-hak mereka, yang diantaranya adalah hak akan penghasilan yang layak, hak mengambil cuti, dan hak mendapatkan perlindungan kesehatan dan keselamatan kerja. Memasukkan para pekerja perempuan rumahan ke dalam kerangka legal formal seperti UU Ketenagakerjaan dapat menjadi tindakan awal yang harus diikuti dengan penyediaan data yang akurat untuk memahami prevalensi dan kondisi pekerjaan pekerja rumahan.


Dinar Dwi Prasetyo, Researcher, SMERU Research Institute


Sumber asli artikel ini dari The Conversation. Baca artikel sumber.


*Abdus Somad- www. Konde.co

Seorang reporter bola asal Kolombia yang bekerja untuk DW Espanol, Juliet Gonzales mengalami pelecehan seksual.Ia menceritakan saat melakukan siaran langsung piala dunia World Cup 2018, ia mengalami serangan seksual. Pipinya dicium dan payudaranya diremas secara cepat dari seorang suporter yang saat itu hendak menonton pertandingan Rusia Vs Arab Saudi.

Peristiwa tersebut awalnya ia pendam, karena ada dorongan sahabatnya untuk bersuara Julieth kemudian menyampaikan serangan terhadap dirinya di sosial media pribadinya-twitter.

Reaksi keras atas serangan tersebut mendapat tanggapan positif dari warganet, namun ada pula yang mencibirnya. Menganggap Juliet orang yang lemah.

Dalam peliputan Piala Dunia 2018 di Moskow, Rusia, tidak hanya Julieth Gonzales yang mengalami pelecehan, ada pula Júlia Guimarães reporter TV Globo dan SportTV. Namun ia melawannya dengan mencoba mendaprat lelaki yang hendak menciumnya. Júlia Guimarães mengatakan peristiwa itu sangat mengerikan.

Jauh sebelum Piala Dunia 2018 berlangsung, ada tiga jurnalis perempuan asal Brazil juga menceritakan apa yang mereka alami.

Serangan seksual pernah dirasakan dengan cara meraba, mencium dengan spontan dan disengaja mereka alami. Tidak banyak yang bisa jurnalis perempuan itu sisi lain mereka sedang melakukan liputan yang dituntut profesional dalam menyiarakan laporan.

Melihat kejadian tersebut, kita perlu berani menyatakan bahwa dunia sepak bola telah mengenalkan jejak hitam pelecehan seksual terhadap perempuan. Pertandingan bisa saja berlangsung fair play, namun kesetaraan gender itu tidak berlaku bagi seoarang jurnalis perempuan yang meliput pertandingan bola. Di luar lapangan justru mereka yang rentan mengalami serangan seksual.

Dari riset yang dilakukan oleh International Womens Media Foundation (IWMF) dan International News Safety Institute (INSI) terkait dengan pelecehan dan kekerasan terhadap pekerja media perempuan tahun 2013 sampai 2014. Tercatat ada sekitar 47,9% atau 327 orang dari 683 responden jurnalis mengaku pernah mengalami pelecehan seksual saat bekerja.

Seperti yang pernah di tulis dalam laporan Tirto.id, dari 999 kasus yang dilaporkan, 20,2% atau 202 kasus berkaitan dengan “komentar yang tak diinginkan atas penampilan dan pakaian, 18,6% sekitar 186 kasus berhubungan dengan pernyataan atau suara yang tidak senonoh, 16,9% atau 169 kasus berkaitan dengan candaan yang bersifat seksual, 15,5% atau 155 kasus berhubungan dengan pelanggaran batas jarak pribadi, dan 14,7% atau sekitar 147 kasus berhubungan dengan kontak fisik yang tidak diinginkan.

Dilihat dari jenis kelamin, ternyata mayoritas pelaku didominasi laki-laki dengan persentasi yang cukup tinggi hingga mencapai 93,8% angka iti didapat dari 270 dari 288.1

Catatan buruk akan pelecehan seksual terhadap jurnalis perempuan juga dilakukan oleh International Federation of Journalist (IFJ) dalam risetnya pada tahun 2017 ternyata menghasilkan 48% jurnalis mengalami kekerasan gender di tempat kerja. Bentuknya mulai dari kekerasan verbal, kekerasan psikologis sampai mengalami tindakan fisik.2

Riset di atas membuka tabir praktek kekerasan terhadap jurnalis. Angka-angka yang dihasilkan dari riset di atas menunjukan perempuan cukup rentan dalam mendapatkan serangan seksual. Tentu saja ini bukan karena perempuan itu lemah, tak berdaya atau tak bisa melawan. Tidak! Perempuan bisa membentengi dirinya, hanya saja tindakan yang dilakukan lebih banyak terjadi saat menjalankan tugas meliput sebuah isu.

Pikiran seoarang jurnalis kemungkinan banyak akan memikirkan apa yang ada di hadapannya, ketika semua yang dilakukan selesai, barulah sadar bahwa tubuhnya sedang diserang.

Seorang lelaki yang melakukan kejahatan seksual pantas kita sebut para patriarkh yang haus akan birahi. Kita perlu memerangi mereka agar perempuan merasa nyaman dan aman.

Pada kasus ini, saya mencoba memberikan sebuah pandangan, ada dua hal yang perlu dilakukan, pertama dengan membuat sebuah kampanye besar untuk mendorong edukasi kepada publik untuk menjaga kewarasan seksualnya, dan memberikan efek jera kepada pelaku.

Kedua, bagi jurnalis perempuan perlu ada sebuah upaya untuk melindungi diri mereka. Kebebasan pers seharusnya termasuk dalam jaminan melindungi diri dari serangan seksual, perlu ada sebuah perlakuan khusus bagi perempuan untuk membentengi dirinya. Seperti mengadakan pelatihan menghadapi serangan seksual sampai pada mendorong jurnalis untuk berani bicara ke publik akan apa yang dialaminya.

Dalam regulasi ini bertujuan untuk menekankan pada tindakan mencegah dan memerangi kejahatan pelecehan serta menerapkan hukuman terhadap para pelaku dan melindungi korban dalam rangka menjaga privasi dan hak individu di bawah aturan hukum.

Sekali lagi, kita perlu melawan kejahatan seksual terhadap perempuan, terhadap jurnalis perempuan sebab tindakan ini adalah kejahatan kemanusiaan serta sebuah tindakan kebiadaban yang hakiki. Semua berhak mendapat perlakuan yang nyaman, aman dan damai-termasuk seoarang perempuan.

Sumber:
1. Wahai Suporer Cowok Biarkan Jurnalis Perempuan Tenang Bekerja, diunduh pada, Selasa, 3 Juli 2018 pada pukul 13.30 WIB melalui laman https://tirto.id/wahai-suporter-cowok-biarkan-jurnalis-perempuan-tenang-bekerja-cHhW

2. International Federation of Journalist, http://www.ifj.org/

(Foto/ Ilustrasi: Pixabay)


*Abdus Somad, penulis dan aktivis lingkungan. Koresponden untuk www.Konde.co di Yogyakarta.


Kim Toffoletti, Deakin University

Artikel ini bagian dari seri Piala Dunia yang mengeksplorasi politik, ekonomi, sains, dan isu sosial di balik perhelatan olahraga paling populer di dunia ini.




Secara global, jumlah perempuan yang menggemari sepak bola sedang meningkat–sekitar 40% pemirsa televisi di dunia untuk Piala Dunia sepak bola laki-laki 2014 adalah perempuan. Digabungkan dengan pertumbuhan pesat Piala Dunia perempuan–yang akan digelar lagi tahun depan di Prancis–maka jelas bahwa perhelatan besar sepak bola tak lagi hanya untuk laki-laki.


Namun, jika Anda mengetik kata-kata “World Cup (Piala Dunia)” dan “women fans (penggemar perempuan)” di Google, yang muncul adalah perempuan-perempuan dari seluruh dunia dengan rambut panjang, celana pendek, dan seragam sepak bola yang kecil, terbungkus warna bendera dan warna negara mereka.


Mengapa stereotip tentang perempuan penggemar olahraga tetap bertahan dan mengapa mereka begitu populer?





Baca juga:
Ini pentingnya negara berkembang mengubah aturan main perhelatan olahraga





Penelitian yang saya lakukan pada konten online yang menampilkan perempuan dalam Piala Dunia 2014 di Brasil mengkonfirmasi bahwa keseksian mendominasi. Riset saya meneliti lebih dari 100 gambar dari laporan media mainstream dan menemukan foto-foto dan kisah paling populer tentang perempuan memfokuskan pada penggemar muda dan langsing di tribun dengan mengkombinasikan pemberdayaan seksual dan kebanggaan nasional.


Dalam banyak gambar, para perempuan berpose secara provokatif untuk kamera jurnalis foto. Mereka berfoto dengan memajukan bibir yang menggunakan warna lipstik sesuai warna tim. Seorang penggemar Brasil mengangkat bendera nasional untuk menunjukkan sebuah senyum lebar dan bikini berpayet.


Potret-potret dari penggemar sepak bola itu memberikan contoh cara baru seksisme dalam media olahraga berlangsung. Ide-ide tentang perempuan sebagai objek pasif untuk konsumsi laki-laki telah berganti dengan gambar-gambar perempuan yang “sengaja memilih” tampil seksi. “Penggemar seksi” dirayakan sebagai bentuk ekspresi individu dan gaya personal, memperkuat ekspektasi budaya bagi perempuan muda menghadirkan diri mereka sendiri dalam konteks olahraga dengan cara yang tidak mengancam keunggulan laki-laki.


Meski ada kritik yang meluas terhadap seksisme di media olahraga dan beberapa inisiatif melawan citra seksual penggemar olahraga perempuan, stereotip penggemar seksi terus berkembang. Bagi penggemar perempuan yang tidak terlihat sesuai dengan stereotip ini, atau memilih untuk tidak tampil seksi, mereka menjadi tidak terlihat di media.


Citra dominan


Salah satu penyebabnya adalah bagaimana pencarian mesin algoritme mengurutkan informasi. Algoritme menentukan preferensi menurut pencarian online pengguna sebelumnya, juga pencarian pengguna yang dianggap serupa secara demografis. Saat algoritme “memberi ranking” para perempuan menurut tingkat persepsi kemolekan mereka dan bukannya ketertarikan perempuan terhadap olahraga atau komitmen terhadap tim mereka, terlihat jelas bagaimana perempuan dalam lingkungan olahraga dinilai.


Ketik kata “male sport fans (laki-laki penggemar olahraga )” di sebuah mesin pencari dan Anda akan mendapatkan gambaran yang beda. Satu-satunya tubuh yang berpakaian minim di acara ditutupi cat tubuh warna-warni. Kriteria laki-laki penggemar olahraga di ranah online tampaknya tidak ada hubungannya dengan daya tarik fisik.





Fan Korea Selatan menyoraki tim mereka di Seoul selama Piala Dunia 2014.
Korean Culture and Information Service/Wikimedia Commons



Komposisi jenis kelamin di ruang redaksi adalah faktor lain yang berdampak pada cara penggemar perempuan ditampilkan. Para fotografer dan editor menyeleksi gambar-gambar penonton perempuan yang mereka ambil dan mereka tunjukkan pada khalayak. Meningkatkan jumlah perempuan dengan kekuasaan untuk mengambil keputusan tentang konten berita dapat membuat lebih banyak variasi gambar online perempuan terkait olahraga.


Stereotip diperkuat oleh persaingan antarnegara


Penggambaran media terhadap perempuan penggemar olahraga sebagai seseorang yang seksi dan pada saat yang sama serius menyukai olahraga juga menguntungkan bagi organisasi olahraga global seperti FIFA, yang mencari cara untuk meningkatkan pangsa pasar global pertandingan mereka dengan mengincar perempuan sebagai penggemar dan pemain.


Secara ironis, gambar-gambar ini menjadi bukti bahwa persaudaraan sepak bola, yang dikenal memiliki rapor jelek soal dalam hal kesetaraan jender, menerima dan terbuka bagi semua jenis perempuan–bahkan mereka yang mungkin tidak terlihat seperti penggemar olahraga “biasa”.




Mereka juga digunakan sebagai bagian dari tontonan olahraga global untuk meningkatkan profil negara-negara yang didukung oleh perempuan ini, dan untuk menguatkan ide rivalitas dan kompetisi antarnegara. Ketika gambar-gambar seksual dari para pendukung perempuan muncul di bawah judul berita seperti “Inggris membuat kita bangga”, tubuh perempuan menjadi terkooptasi sebagai bagian dari kompetisi olahraga maskulin.





Baca juga:
Jika lutut sakit, tetaplah berolahraga. Mengapa?





Popularitas gambar-gambar ini menjelaskan bagaimana persepsi sosial yang langgeng terhadap perempuan penggemar olahraga dan syarat yang harus dipenuhi perempuan agar terlihat dalam media olahraga yang didominasi laki-laki. Dalam memberikan visibilitas pada para perempuan di tribun yang paling sesuai dengan idealisme perempuan menurut laki-laki, dan membingkai keseksian perempuan sebagai pilihan pribadi, media olahraga tidak berbuat banyak dalam melawan hierarki perbedaan gender dalam olahraga.


Untuk memecahkan stereotip ini, perlu representasi yang lebih beragam dari perempuan penggemar sepak bola dalam liputan media tentang Piala Dunia–dan acara olahraga lainnya. Ruang redaksi dapat mengambil petunjuk dari kampanye media sosial akar rumput, seperti This Fan Girl, yang menampilkan secara khusus para penggemar perempuan yang muncul minggu demi minggu, dalam cuaca terburuk, untuk mendukung tim klub di Inggris.


The ConversationPada akhirnya, mungkin, kita akan bisa mengubah gambar-gambar yang berasal dari tribun acara olahraga paling populer di dunia ini. Lebih sedikit celana pendek, lebih banyak keragaman penggemar.


Kim Toffoletti, Associate Professor of Sociology, Deakin University


Sumber asli artikel ini dari The Conversation. Baca artikel sumber.


Luviana – www.konde.co

Apa sebenarnya big data? Apa keuntungannya untuk perempuan?. Di Indonesia, big data menjadi pembicaraan hangat dalam 2 terakhir ini oleh para pelaku pasar, pemerhati dan aktivis digital.

Era digital ini memang makin banyak orang bicara tentang big data. Big data secara gampangnya adalah data-data yang tersebar dan berseliweran tiap hari di sekitar kita.

Big Data bisa kita sebut juga sebagai data dengan ukuran yang sangat besar, variatif, sangat cepat pertumbuhannya dan mungkin tidak terstruktur secara baik. Maka perlu untuk diolah khusus dengan teknologi inovatif sehingga membantu kita untuk mendapatkan informasi baru yang lebih baik dan terstruktur.

Jika dulu orang mengolah data dengan menggunakan sistem lama maka kini bisa diolah dengan teknologi big data ini. Contoh big data misalnya mesin perangkat google. Google adalah penyimpan data dan informasi yang awal melakukannya. Atau facebook yang menyimpan semua data penggunanya dengan menggunakan sistem big data.

Ya, teknologi internet memang sudah menjadi informasi yang setiap saat bisa kita singgahi, ia ada di telepon genggam kita, di layar komputer maupun menjadi perbincangan ketika kita makan, sebelum tidur dan melakukan aktivitas. Informasi personal, informasi yang bersifat umum atau publik seolah mengalir seperti air. Deras seperti air bah.

Sebuah perusahaan iklan di Singapura menyebut bahwa saat ini kita sudah hidup di 2 dunia, yaitu dunia nyata dan dunia maya. Maka tak heran jika banyak perusahaan sekarang beriklan melalui offline dan online.Perusahaan-perusahaan seperti ini umumnya sudah mempunyai aplikasi big data untuk memasarkan produknya dalam 2 dunia, meneliti secara rinci siapa konsumen-konsumen barunya di dunia maya.


Big Data, Kegunaan untuk Publik


Sejumlah pemikir internet sekitar 4 tahun lalu memberikan pertanyaan yang penting tentang big data: Danah boyd, adalah Senior Researcher at Microsoft Research, Research Assistant Professor at New York University dan Fellow di Harvard's Berkman Center for Internet & Society, serta Kate Crawford yang adalah seorang Associate Professor di the University of New South Wales, Sydney dan Principal Researcher di Microsoft Research New England misalnya. Mereka menyatakan bahwa inilah saatnya jaman dimulainya big data. Dan inilah pertanyaan mereka:

“Era Big Data telah dimulai. ilmuwan komputer, fisikawan, ekonom, ahli matematika, ilmuwan politik, bio-informaticists, sosiolog, dan ulama lainnya berteriak-teriak untuk bisa mengakses pada informasi yang lebih luas. Data ini mereka dapat dari orang, benda, dan interaksi mereka. Beragam kelompok kemudian berdebat tentang potensi, manfaat dan biaya dari analisis informasi ini, interaksi sosial media, catatan kesehatan, log telepon, catatan pemerintah, dan jejak digital lainnya yang ditinggalkan oleh orang.Pertanyaan yang signifikan yang kemudian muncul adalah: apakah data yang jumlahnya besar-besaran ini akan membantu kita menciptakan alat yang lebih baik, layanan bagi publik yang lebih baik? Atau hanya akan mengantar kita pada gelombang baru serangan privasi atau serangan secara personal dan hanya memperbesar invasi-invasi dalam bidang pemasaran yang dilakukan perusahaan? Apakah data analytics ini akan membantu kita memahami komunitas online dalam sebuah gerakan politik? Atau justru akan digunakan untuk melacak para aktivis, para demonstran dan menekan aktivitas-aktivitas mereka?.Pertanyaan berikutnya adalah: apakah banjir komunikasi dan data ini akan mengubah cara kita mempelajari komunikasi dan budaya manusia, atau malah mempersempit pandangan kita? Apa sebenarnya kegunaan big data ini untuk penelitian bagi publik?”

Mengingat munculnya Big Data sebagai fenomena sosio-teknis, maka kemudian mereka berpendapat bahwa perlu untuk secara kritis menginterogasi asumsi dan bias dari banjirnya data melalui internet. (Critical question for big data, Provocations for a cultural, technological, and scholarly phenomenon., Routledge, volume 5, 2012)

Di Indonesia, banyak orang yang kini sedang berbicara soal big data. Indonesia memang sedang berada dalam air bah informasi, banyak informasi yang masuk dan lalu lalang setiap hari lewat media internet. Namanya air bah, pasti isinya air dan sampah. Ada yang informasi betulan, namun banyak juga sampah yang bertebaran atau informasi-informasi hoax yang tidak mengandung kebenaran.


Lalu apa Relevansinya untuk Perempuan?

Salah satu klausul dari konferensi perempuan internasional Beijing+20 berisi tentang perempuan dan media. Isinya antaralain yaitu mengajak perempuan untuk menguasai teknologi komunikasi dan informasi, juga memperjuangkan bagaimana akses perempuan dalam teknologi dan mendapatkan informasi ini.

Pertama, perempuan dalam hal ini harus menguasai teknologi dan bisa mengakses semua informasi. Dan di luar itu yaitu harus mengetahui bagaimana membedakan antara apakah ini merupakan data atau informasi yang benar ataukah tidak? Perempuan jangan terjebak pada informasi yang tidak mengandung kebenaran.

Yang kedua, pertanyaan Danah Boyd dan Kate Crawford menjadi penting untuk dijawab, apakah big data bisa gunakan secara kritis untuk menguak kebenaran dan berjuang untuk layanan publik yang lebih baik?

Perempuan bisa meminta pemerintah untuk membuka informasi dan data-data yang harus diketahui masyarakat. Pemerintah kini tak bisa lagi sembunyi di balik data, karena itu banyaknya data ini bisa digunakan untuk menuntut kebenaran.

Kelompok atau organisasi perempuan yang melakukan advokasi misalnya bisa menuntut atau bertanya pada pemerintah tentang apa saja kebijakan yang belum dilakukan pemerintah. Misalnya, ada banyak data tentang Perda diskriminatif, lalu mengapa pemerintah tak kunjung menyelesaikannya?. Ada data tentang jumlah kekerasan terhadap perempuan yang saat ini mudah diakses, namun mengapa pemerintah tidak menyelesaikannya?.

Data-data ini sebenarnya adalah alat yang bisa digunakan sebagai cahaya atau teropong. Dengan statistik data-data ini, perempuan bisa mempertanyakan tentang kebijakan negara yang tidak berpihak pada perempuan.

Karena kita selalu berkejaran dengan waktu,big data kini banyak digunakan perusahaan-perusahaan untuk melakukan invasi pemasaran atau beriklan secara besar-besaran dengan melalui internet dan menjadikan publik sebagai konsumen, sedangkan pemerintah sibuk berlindung di balik data.

Dengan big data, perempuan bisa mengumpulkan kasus-kasus perempuan yang sangat variatif, banyak dan kemudian menyusunnya secara terstruktur, lalu menjadikannya data untuk meminta pemerintah melakukan sesuatu dengan data ini.

Perjuangan untuk perempuan jauh lebih baik jika pemerintah juga memberikan informasinya secara transparan. Jangan sampai hanya berhenti di satu titik dan justru data-data ini digunakan untuk menangkap para aktivis perempuan atau menghentikan perjuangan keterbukaan informasi dan berpendapat.

Big data bisa digunakan sebagai alat untuk membuka transparansi publik perempuan. Data-data kebijakan kesehatan untuk perempuan, data tentang perempuan miskin yang tak bisa mengakses layanan pemerintah, data buruh perempuan yang belum mendapatkan upah minimum dan data lain yang menuntut tranparansi pemerintah.

(Foto/ Ilustrasi: genderit.org)