Mengukur Jejak Napas Konde.co di Tahun 2024

Tahun 2025 terbang cepat setengah jalan, tetapi justru di titik inilah refleksi Konde.co menemukan relevansinya. Di tengah bayang-bayang suasana sosial politik yang rimpang dan timpang, Konde.co mencoba menengok ke belakang, mengukur seberapa kuat langkah kami dalam menyuarakan yang terpinggirkan, menyigi data guna menilai sejauh mana kerja kami dalam keberpihakan terhadap perempuan dan kelompok marginal.

2025 sudah terbang cepat setengah jalan. Meski begitu, tidak ada kata terlambat untuk melakukan refleksi, sebab barangkali banyak resolusi belum terpenuhi di pertengahan tahun dan menengok ke belakang menjadi cara untuk merawat ingat apa yang sudah, belum, kurang, berlebih–atas kerja-kerja yang telah atau belum dianggap rampung.

Terlebih, 2024 sebagai tahun politik adalah tahun yang keras bagi banyak kelompok di pinggiran kekuasaan. Perempuan yang digencet di ruang domestik dan publik, kelompok minoritas gender dan seksualitas yang dijadikan obyek politik bersamaan disangkal hak-haknya, hingga masyarakat adat dan miskin kota yang tubuh-tubuhnya kerap jadi “tumbal” pembangunan. Di tengah pusaran ini, Konde.co memasang komitmen untuk mengairi gurun pemberitaan dengan mewartakan perspektif yang dipinggirkan. 

Namun bagaimana wajah kerja jurnalistik Konde.co bila dibaca lewat data? Pertanyaan tersebut menyulut agar refleksi lekas dilakukan, selain untuk menepuk bahu, juga agar kami dapat lebih tajam membaca posisi: sudah seberapa dalam kami menggali dan seberapa jauh suara-suara pinggiran didorong ke pusat wacana?

Sepanjang 2024, Konde.co telah menerbitkan 596 artikel, analisis ini terbagi dalam beberapa indikator yakni skala wilayah, isu, jenis berita, identitas gender penulis maupun narasumbernya, hingga bingkai pemberitaan. Sebagai pengingat, Konde.co juga menerbitkan ulang beberapa artikel yang telah disaring dari The Conversation. Konde.co juga menerbitkan tulisan dari penulis-penulis dari berbagai wilayah di Indonesia.

Catatan lain, data yang dibahas dalam artikel reflektif ini terbatas diambil dari keseluruhan sampel artikel sepanjang 2024, tidak termasuk konten media sosial organik atau konten diversifikasi lainnya. 

Baca juga: Memotret Feminisme dalam Peluncuran Buku ‘Transformasi Feminisme Indonesia: Pluralitas, Inklusivitas dan Interseksionalitas’

Dari seluruh artikel yang terbit, hampir separuhnya berfokus pada pemberitaan berskala nasional, yaitu 281 artikel atau 47,1%. Diikuti oleh wilayah tak terdefinisi (119 artikel/19,9%), internasional (101 artikel/16,9%), Jakarta/Jawa (60 artikel/10,1%), dan Luar Jawa (35 artikel/5,9%). 

Data ini menyiratkan bahwa narasi besar nasional masih menjadi tarikan kuat dalam bingkai pemberitaan Konde.co. Persebaran ini disebabkan banyaknya regulasi dan dinamika nasional yang berdampak langsung ke akar rumput. Secara kualitatif, alasan tersebut nampak pada contoh artikel seperti Nasib Perempuan di Pilkada: Diserang Identitas Gendernya, Dipertanyakan Apakah Bisa Memimpin yang membahas isu Pilkada dari skala nasional dengan pendekatan peliputan di daerah-daerah. Contoh lainnya adalah artikel #PerempuHAM: Dikriminalisasi Hingga Dilecehkan, Perempuan Pembela HAM Hadapi Ancaman Berlapis di Indonesia yang menyoroti perempuan pembela HAM dalam konteks nasional dengan perspektif perempuan-perempuan pinggiran termasuk di luar Jawa.

Beberapa penulis dari luar Jawa juga menulis pemberitaan skala nasional dengan warna dan semangat khas akar rumput. Sebagai contoh artikel berjudul Perempuan Petani di Lingkar Tambang Berdaya di Pasar Garasi Pemulihan yang menceritakan bagaimana perempuan petani mengorganisir diri di kolektif yang memasarkan hasil tanamnya langsung ke konsumen. Selain menunjukkan perempuan lingkar tambang yang berdikari secara ekonomi, artikel ini juga upaya merawat memori perjuangan kelompok petani dalam melawan perusakan lingkungan yang saling silang antar pulau seperti petani Kendeng, petani Dairi, hingga petani Garut Selatan.

Meski demikian, angka ~6% artikel yang secara spesifik berada atau membicarakan kondisi wilayah di luar Jawa menjadi catatan penting untuk meninjau ulang indikator geografis dalam narasi keadilan yang Konde.co bangun.

Siapa yang Menulis? Siapa yang Bicara dan Dibicarakan?

Salah satu kekuatan Konde.co selama ini adalah menempatkan perempuan sebagai subjek aktif dalam kerja jurnalistik. Data 2024 mengafirmasi hal ini, dari total 596 artikel, mayoritas penulis adalah perempuan yakni sebanyak 471 artikel atau 79%. Disusul oleh laki-laki (121 artikel atau 20,3%), penulis queer yang teridentifikasi (7 artikel atau 1,2%), dan 16 artikel (2,7%) dengan gender penulis yang tidak diketahui. Sebagai catatan, beberapa artikel ditulis secara kolaboratif, sehingga total bisa mencerminkan multiple attribution.

Selain itu, yang tidak kalah penting untuk ditelisik adalah siapa yang menjadi narasumber dan subjek dalam artikel-artikel tersebut. Dari keseluruhan 596 artikel selama 365 hari, perempuan menjadi narasumber atau subjek utama sebanyak 369 kali (~62%). Laki-laki muncul 81 kali (13,6%), genderqueer 29 kali (~5%), dan sisanya tidak terdefinisi atau tidak diketahui (33,2%).

Angka tersebut menunjukkan bahwa perempuan menjadi tokoh utama dalam narasi-narasi yang dibangun Konde.co. Meski begitu, persentase subjek atau narasumber minoritas gender dan seksualitas masih menjumpai keterbatasan. Di sisi lain, irisan narasumber yang tidak terdefinisi atau tidak terbuka mengenai identitas gendernya dapat menjadi keragaman tersendiri dalam kategori ini.

Namun, isu mengenai minoritas gender dan seksualitas secara konsisten kami kawal dalam kerja-kerja jurnalistik bahkan advokasi. Hal itu kami lakukan ketika Konde.co merilis buku yang berisi tentang bagaimana kehidupan dan konten minoritas gender dan seksual di media dalam buku berjudul “Their Story” .

Baca juga: Riset Konde.co Paparkan Soal Derita Pekerja: Praktik Kekerasan Dan Pelecehan Di Dunia Kerja

Buku tersebut kemudian didiversifikasi dalam konten media sosial, seperti video riset “Their Story” yang membahas bagaimana media memandang keragaman gender dan seksual non-normatif (LGBT). Kami juga menerbitkan berbagai publikasi riset antara lain:

Kami mengakui memiliki beberapa hambatan besar berupa konteks sosial-politik yang konservatif dan represif seperti di Indonesia ketika menuliskan isu kelompok minoritas gender dan seksualitas. Konde.co berkomitmen untuk memegang etika perawatan (ethics of care) dan prinsip yang “tidak membahayakan” sebagai dasar dalam memutuskan bagaimana dan kapan menulis, serta untuk siapa tulisan itu ditujukan. Kondisi berbahaya kadang menyerang kelompok minoritas seksual ketika kami ingin memberitakan ini. Mengadvokasi bukan berarti selalu menyorot terang; kadang justru melindungi dalam senyap adalah bentuk perjuangan yang paling radikal.

Meski begitu, hal ini menjadi otokritik bagi kami untuk lebih memberdayakan dan melibatkan kelompok rentan secara lebih interseksional, terutama kelompok minoritas gender dan seksualitas.

Bagaimana Subjek Dibicarakan dan Diberdayakan?

Beralih dari subjek, dari 973 lapis isu yang teridentifikasi sepanjang 2024, terdapat empat tema mendominasi, yakni Keadilan Gender (229 entri secara akumulatif atau ~38.5%), Kekerasan Seksual/Kekerasan Berbasis Gender (143 entri atau ~24%), Politik & Demokrasi (142 entri atau ~24%), dan Kesehatan Mental (75 entri atau ~13%). 

Terdapat korelasi yang kuat antara konteks sosial-politik Indonesia 2024 dengan naiknya pemberitaan pada tiga isu teratas, terutama pada kuartal I di bulan Januari – April 2024. Pada empat bulan pertama itu, isu Keadilan Gender mendominasi sebanyak 126 entri atau ~66%, Kekerasan Seksual/Kekerasan Berbasis Gender sebanyak 61 entri atau ~32%, dan Politik & Demokrasi sebanyak 64 entri atau ~34%.

Pada kuartal I, memperlihatkan adanya kekecewaan publik terhadap proses pemilu yang dinilai cacat etik dan demokratis, yang berimbas pada makin terpinggirkannya aspirasi kelompok rentan. Dalam konteks inilah, liputan soal demokrasi dan kekerasan negara menemukan momentumnya. Pemberitaan mengenai politik dan demokrasi yang memuncak bukan hanya sekadar respons terhadap peristiwa politik saja, tetapi sebagai bentuk perlawanan terhadap sistem yang mengecilkan suara rakyat.

Kondisi ini berkaitan erat dengan naiknya sorotan terhadap isu keadilan gender dan kekerasan seksual berbasis gender. Ketika negara gagal menjamin proses demokratis yang inklusif dan berkeadilan, identitas sebagai perempuan kembali menjadi sasaran empuk tindak kekerasan. Konde.co menebas jalan itu sebagai tanggung jawab mengawasi kekuasaan dari cermin kelompok perempuan dan pinggiran.

Menyoal isu kekerasan seksual (KS), Konde.co tidak mencatatnya hanya sebagai liputan kriminalitas, tetapi juga politik tubuh. Artikel-artikel ini, meskipun tak bisa kita baca satu per satu dalam analisis kuantitatif, menunjukkan pola bahwa tubuh perempuan masih menjadi medan pertempuran antara moralitas publik, hukum negara, dan resistensi kolektif.

Baca juga: Peluncuran Film dan Buku Konde.co: Potret Overwork Pekerja dan Perjuangan Media Perempuan

Salah satu kasus KS yang mencuat bahkan bersinggungan dengan kelas pekerja, salah satunya kesejahteraan para pekerja lepas. Konde.co mencatatnya dalam artikel Boro-boro THR, Kekerasan Seksual dan Gaji Layak Masih Jadi Ancaman Pekerja Lepas. Beberapa kritik terhadap hukum negara pada implementasi UU TPKS juga kami abadikan dalam artikel 4 Catatan Kritis Belum Optimalnya Implementasi UU TPKS

Mirisnya, tindak KS tersebut bahkan dilakukan oleh pejabat publik itu sendiri. April 2024 lalu, Hasyim Asyari yang pada saat itu menjabat sebagai Ketua KPU, diduga menjadi pelaku dalam tindak asusila. Konde.co mencatatnya dalam Ketua KPU Diduga Lakukan Tindakan Asusila, Merayu Korban Berbasis Relasi Kuasa.

Selain itu, perbincangan soal kerusakan lingkungan juga mulai mendapatkan sorotan yang lebih luas seiring dengan meningkatnya kasus kriminalisasi masyarakat adat di berbagai wilayah, terutama yang menolak penggusuran atas nama pembangunan proyek strategis nasional (PSN).

Rancangan Undang-Undang (RUU) Masyarakat adat yang seharusnya menjadi penopang agar kerusakan lingkungan yang terjadi tidak semakin masif pun tak segera menunjukkan batang hidungnya. Konde.co mencatat perjuangan para perempuan adat yang memperjuangkan produk hukum itu dalam Meneropong Hilal RUU Masyarakat Adat dari Lensa Perempuan Adat. Konflik agraria yang terjadi antara masyarakat adat di Desa Nangahale dengan PT Krisrama menjadi salah satu kasus yang timbul atas mandeknya RUU yang tak kunjung disahkan. Kasus itu tertuang pada artikel “Tanah Itu Hidup Kami, Akan Kami Perjuangkan,” Perempuan Adat Soge dan Goban Melawan Kriminalisasi PT Krisrama.

Di sisi lain, dari sudut pandang lapis subjek isu, perempuan menjadi subjek yang paling banyak diangkat dalam pemberitaan Konde.co, dengan total 377 artikel yang tersebar relatif merata di tiap kuartal. Temuan ini mencerminkan komitmen berkelanjutan terhadap peliputan berbasis gender yang menempatkan perempuan dalam pusat narasi dan pengambilan posisi.

Baca juga: Riset Konde.co tentang Pemetaan Kondisi Media Perempuan di Indonesia

Kelompok orang muda (~70 artikel), buruh (~52), anak (~44), dan masyarakat adat (~31), dan pekerja perawatan (~12 artikel) menunjukkan peran yang cukup signifikan dalam pemberitaan–memperlihatkan bahwa berbagai identitas dan peran sosial mendapatkan tempat dalam narasi jurnalistik. 

Kelompok buruh dan pekerja perawatan juga turut menjadi “kawan dekat” Konde.co dalam menjalankan misi jurnalisme publik. Tak sekadar menulis artikel, Konde.co secara gerilya turut dalam advokasi pengesahan Rancangan Undang-Undang Perlindungan Pekerja Rumah Tangga (RUU PPRT). Selama 2024, kami melakukan pemutaran film dokumenter Mengejar Mbak Puan (2023) produksi Konde.co di 22 komunitas dan 18 daerah, salah satunya dilakukan di Korea Selatan.

Selain itu, subjek LGBTQ (32 artikel) juga menjadi perhatian, terutama pada kuartal ketiga. Lonjakan isu LGBT pada kuartal III 2024 (September – Desember) dengan 15 dari 32 entri tak bisa dipisahkan dari situasi sosial-politik pasca Pemilu 2024, ketika pernyataan-pernyataan dari pejabat publik maupun kandidat politik mulai menunjukkan arah kebijakan yang cenderung menyingkirkan mereka demi suara. Seperti pada pemberitaan yang pernah dicatat oleh Konde.co dalam Aktivis: Pernyataan Wantannas Bahwa LGBTQ Merupakan Ancaman Negara, Tanpa Dasar Logika dan Ragam Gender Dihajar Perda Diskriminatif dan Jadi Sasaran Elite di Tengah Pusaran Politik.

Sementara itu, keberadaan kelompok yang dipinggirkan lain seperti masyarakat miskin (12), minoritas agama (10), minoritas etnis (17), disabilitas (14 artikel), pekerja migran (6), pencari suaka (2), Orang dengan HIV (ODHIV) (7), serta lansia (3), menandai pentingnya peliputan interseksional yang menyadari bahwa pengalaman ketidakadilan kerap saling beririsan dan tak bisa dilihat dari satu identitas tunggal saja. Kendati demikian, kami sadar bahwa angka tersebut masih perlu digemakan lebih luas dalam gurun pemberitaan secara lebih terstruktur dan sistematis, lebih dari sekadar sporadis.

Dalam hal jenis berita, dari tiga kategori yang kami susun Konde.co paling banyak menerbitkan reportase (270 artikel/45,3%), diikuti oleh opini (149 artikel/25,0%) dan resensi/review (80 artikel/13,4%). 

Baca juga: 26 Tahun Komnas Perempuan, Tribute untuk Perempuan Pembela HAM dan Penghargaan Penghapusan Kekerasan

Dari segi bingkai narasi, 545 dari 596 artikel (91,4%) dibingkai secara tematik, sementara 51 artikel lainnya (8,6%) yang dibingkai secara episodik. Artinya, Konde.co lebih memilih menganalisis isu secara struktural dan mendalam, alih-alih sekadar melaporkan peristiwa secara reaktif. Temuan ini menjadi kekuatan yang patut kami pertahankan dan dikembangkan lebih jauh.

Pembiasaan untuk membingkai narasi gender secara tematik kami upayakan lewat kampanye berkelanjutan dalam bentuk tagar serial. Sepanjang 2024, kami telah menerbitkan lima kampanye tagar serial. 

Tagar serial #BukanCumaSimbol mengkritik representasi perempuan di politik yang bersifat permukaan sebagai simbol kesetaraan tanpa kuasa riil atau agenda perubahan yang substantif. Kampanye ini menyoroti bagaimana budaya politik kerap menggunakan wajah perempuan untuk legitimasi semata, alih-alih memperjuangkan hak-haknya secara konkret. 

Sementara itu, #SuaraPekerja hadir untuk mengangkat pengalaman, tuntutan, dan ketimpangan yang dihadapi oleh pekerja, terutama buruh perempuan dan kelompok rentan lainnya dalam sistem kerja yang eksploitatif dan bias gender. Serial ini juga menjadi ruang untuk memperkuat solidaritas lintas sektor dalam perjuangan kerja layak.

Tagar serial #MudaMarginal menyoroti suara-suara muda dari kelompok yang terpinggirkan, termasuk perempuan muda miskin kota, kelompok LGBTQIA+ muda, dan perempuan muda penyintas kekerasan. Kampanye ini membuka ruang naratif agar pengalaman mereka tidak lagi disingkirkan dari wacana arustama. 

Baca juga: Riset Konde.co: Bagaimana Media Memandang Tubuh Perempuan dan Aborsi Aman bagi Korban Perkosaan

Selanjutnya, #StopNgelesUUTPKS berangkat dari pengawasan kritis terhadap implementasi Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS). Melalui tagar ini, kami membongkar berbagai bentuk pengelakan dan kegagalan institusi dalam menjalankan mandat UU tersebut, sekaligus mendorong pemenuhan hak korban secara menyeluruh. 

Terakhir, #PerempuHAM merupakan serial untuk menegaskan bahwa perjuangan hak asasi manusia tidak bisa dilepaskan dari perspektif gender. Tagar ini menampilkan kisah-kisah perempuan pembela HAM yang sering kali menghadapi kekerasan berlapis karena peran ganda mereka sebagai aktivis dan perempuan dalam masyarakat patriarkal.

Melalui kelima tagar serial ini, kami berupaya memperkuat narasi yang responsif terhadap isu-isu gender sekaligus membangun kesadaran publik bahwa perjuangan keadilan harus dijalankan secara tematik, konsisten, dan berakar pada pengalaman kelompok yang paling terdampak.

Apresiasi yang Kami Dapatkan

Sepanjang tahun 2024, Konde.co menerima sejumlah penghargaan yang menandai apresiasi eksternal atas kerja-kerja jurnalisme yang kami jalankan, terutama dalam membangun ruang pemberitaan yang sensitif terhadap pengalaman kelompok rentan. 

Salah satu bentuk apresiasi datang dari Komnas Perempuan, yang memberikan penghargaan kepada Konde.co sebagai media pelopor dalam membangun ruang aman dari kekerasan. Penghargaan ini menjadi refleksi monumental atas kerja panjang dalam menciptakan narasi yang tidak hanya mengangkat kasus kekerasan berbasis gender, tetapi juga secara sadar menolak cara pemberitaan yang traumatis, menyalahkan korban, atau abai terhadap keselamatan subjek.

Pada ranah jurnalisme kolaboratif, Konde.co terlibat dalam dua proyek lintas redaksi yang mendapatkan penghargaan honorable mention dari SOPA Awards 2024. Liputan pertama mengangkat isu aborsi, hasil kolaborasi dengan Project Multatuli dan Tempo. Liputan ini menyoroti kerumitan hukum, stigma sosial, serta dampak buruk kebijakan terhadap perempuan dan kelompok rentan yang membutuhkan layanan aborsi aman. Di tengah minimnya peliputan media arus utama yang berani mengulas tema ini secara jujur dan berpihak, laporan tersebut menjadi intervensi penting dalam memperluas ruang diskusi publik tentang kesehatan reproduksi dan hak perempuan.

Liputan kedua yang juga mendapat honorable mention adalah tentang isu lingkungan dan hilirisasi oligarki, hasil kerja sama dengan Project Multatuli. Laporan ini membongkar bagaimana kebijakan ekstraktif dan relasi kuasa antara negara dan korporasi memperparah kerusakan lingkungan serta merampas ruang hidup masyarakat adat dan komunitas lokal. Keterlibatan Konde.co dalam proyek ini menunjukkan upaya untuk memperluas cakupan isu secara saling silang dengan perspektif keadilan gender sebagai payung utamanya.

Baca juga: Luviana, Pimred Konde.co Raih Penghargaan Wartawan Terbaik di Anugerah Dewan Pers 2023

Selain apresiasi terhadap karya jurnalistik kolektif, penghargaan juga diberikan kepada individu dalam tim redaksi. Luviana Ariyanti, pemimpin redaksi Konde.co, menerima MAW Talk Awards 2024 sebagai tokoh media berpengaruh. Penghargaan ini menggarisbawahi posisi penting kepemimpinan perempuan dalam industri media yang selama ini didominasi laki-laki, sekaligus memperlihatkan bagaimana keputusan redaksional yang inklusif tidak terlepas dari orientasi kepemimpinan yang sensitif terhadap ketimpangan kuasa dan narasi dominan.

Konde.co juga mendapatkan penghargaan dari Organisasi Perubahan Sosial Indonesia (OPSI) untuk karya jurnalistik terbaik tentang isu HIV dan AIDS. Dalam peliputan ini Konde.co mengangkat isu anak dengan HIV (ADHIV) serta bagaimana stigma juga dilekatkan bagi pendamping ADHIV. 

Rangkaian penghargaan ini adalah titik refleksi atas arah kerja jurnalisme yang kami bangun. Di tengah lanskap media yang semakin komersial dan tersentralisasi, pengakuan ini menjadi penanda bahwa masih ada ruang bagi jurnalisme yang berupaya mendengar, mengkritisi, dan bertahan di sisi yang sering kali disingkirkan dari pusat narasi. 

Di sisi lain, bagi kami apresiasi ini juga membawa beban tanggung jawab tentang bagaimana memastikan bahwa ruang aman dan keberpihakan yang telah dan sedang dibangun dapat tetap dijaga serta bertumbuh lebih liar lagi.

Jurnalisme Publik, Bekerja Untuk Publik dan Perempuan

Tak hanya kerja-kerja jurnalistik yang kami rangkum ini, di tahun 2024 Konde.co juga mendukung publik dalam kerja-kerjanya, kami percaya dengan menggunakan media, perubahan, tak terkecuali perubahan kebijakan bisa jadi keniscayaan.

Selain menulis artikel dan berkampanye di media sosial soal isu publik, Konde.co aktif mengadvokasi sejumlah isu perempuan dan kelompok marjinal. Misalnya selain menuliskan soal itu Pekerja Rumah Tangga (PRT) dan buruh, kami juga memberikan pengetahuan melalui pelatihan untuk para buruh dan PRT serta mendukung mereka dalam kerja-kerja berkampanye isu RUU Perlindungan PRT. Selain melalui diskusi, juga melalui produksi dan pemutaran film. Hal ini merupakan bagian dalam mendorong advokasi perubahan kebijakan. 

Konde.co juga memfasilitasi organisasi masyarakat sipil dalam mengkampanyekan isu perempuan, mengajak anak-anak muda berkampanye di Konde.co dan memfasilitasi pertemuan-pertemuan para campaigner juga para jurnalis dengan kelompok perempuan dan marjinal dengan perspektif feminis melalui media. 

Selain itu aktif mengadvokasi kebijakan perempuan dan media di Dewan Pers bersama jaringan organisasi jurnalis, salah satunya turut mempersiapkan peraturan stop kekerasan seksual di media dan konten yang berperspektif gender.

Keterbatasan yang Mesti Dijawab

Sepanjang 2024, Konde.co telah menegaskan posisinya sebagai ruang yang berpihak pada kelompok terpinggirkan. 

Data yang sudah dijabarkan memperlihatkan kerja-kerja konsisten untuk menempatkan perempuan sebagai subjek, membongkar kekerasan berbasis gender, dan menelusuri jalur ketidakadilan struktural secara saling silang.

Meski turut membincangkan kelompok minoritas gender dan seksualitas, masyarakat adat, orang dengan disabilitas, dan komunitas minoritas agama serta etnis, cakupan atas porsi pemberitaan menjadi catatan tersendiri bagi kami. Begitu pula dengan proporsi wilayah luar Jawa yang belum sedemikian berisik dibanding lanskap nasional.

Refleksi ini tidak berhenti pada angka dan capaian, melainkan menjadi kompas untuk kerja-kerja ke depan. Sebab jurnalisme yang kami bayangkan adalah ruang yang terus tumbuh, menyerap suara-suara baru, dan tak gentar menelisik ketimpangan yang digodok secara serampang. 

Kini, 2025 memiliki tantangan yang lebih kompleks dengan situasi politik dan pers yang kian carut marut. Kerja kami jelas belum selesai, dengan gempuran tantangan di segala sisi pada tahun ini, kami penuh harap agar dapat terus bernapas panjang, membangun media alternatif perempuan dengan narasi tanding yang penuh kasih dan beramanatkan keberanian. 

Terima kasih telah mendukung dan mendoakan Konde.co sejak napas kami tersengal hingga tenang, untuk tetap dan terus bertahan di tahun lalu, kini, dan ratusan tahun lagi.

Luthfi Maulana Adhari dan Laras Ciptaning Kinasih

Manajer Riset dan Pengembangan Konde.co dan Mahasiswi Universitas Brawijaya.
Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

Creative Commons License

1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

Let's share!