Meneladani Siti Hajar: Perjuangan Ekofeminisme yang Luput dalam Narasi Agama Maskulin

Kisah Siti Hajar kerap diingat hanya pada figurnya sebagai istri Nabi Ibrahim dan ibu dari Nabi Ismail. Padahal, hidupnya sarat dengan perjuangan perawatan, dipaksa menjalani poligami, dan praktik ekofeminisme yang sulit dilaluinya.

Di dalam agama Islam, kita mengenal ibadah haji sebagai salah satu bagian dari Rukun Islam. Ibadah haji terdiri dari sejumlah ritual, salah satunya sa’i atau bolak-balik menyambangi bukit Shafa dan Marwah di Mekah. 

Ritual ini sangat erat kaitannya dengan kisah perjuangan salah satu tokoh perempuan bernama Siti Hajar yang begitu dikenal oleh umat Muslim dan agama samawi lainnya, tetapi sayangnya, namanya tak pernah muncul dalam kitab suci Al-Quran.

Bagaimana kamu mengenal Siti Hajar? Biasanya, Siti Hajar dikenal sebagai istri kedua Nabi Ibrahim As. dan Umm Ismail atau ibu Nabi Ismail As. Sayangnya, profil Hajar seakan-akan berhenti hanya sampai di sana. Padahal, konteks perjuangan Hajar sangat lekat dengan nilai-nilai feminisme yang kita pahami saat ini, terutama terkait kerja perawatan dan ekofeminisme. 

Dalam kisah-kisah para nabi, kita sering mendengar nama-nama laki-laki yang diabadikan sebagai pembawa risalah, pembangun peradaban, dan tokoh-tokoh besar yang mengubah arah sejarah. Namun, di balik rentetan nama itu, ada satu figur perempuan yang kisahnya menjadi fondasi bagi tradisi spiritual umat Islam dan berdirinya Mekah, salah satu kota paling suci di dunia. Ia adalah Siti Hajar. 

Dalam narasi Islam yang patriarkal, pembacaan sosok Siti Hajar kerap berhenti pada figur istri Nabi Ibrahim dan ibu Nabi Ismail. Padahal di masa itu Siti Hajar melakukan hal penting: berjuang sebagai perempuan.

Baca Juga: Edisi Khusus Feminisme: Ekofeminisme Perjuangkan Lingkungan Ramah Perempuan

Siti Hajar pernah dijadikan budak, ia mengalami ketidakadilan akibat poligami, dan seorang pejuang yang di dalam tubuhnya terkandung sejarah ketabahan yang jarang diakui secara penuh. Selain itu, kisah perjuangan Hajar identik dengan mukjizat air zam-zam yang mencerminkan kedekatan perempuan dengan lingkungan untuk keberlangsungan hidup.

Sayangnya, jika kamu mencari tahu tentang Siti Hajar di dalam Al-Qur’an, kamu mungkin akan kesulitan, sebab namanya tak muncul di sana. Bahkan julukan lain, misalnya Umm Ismail (Ibu Ismail) juga tidak ada. Kisah Siti Hajar dihadirkan secara implisit dalam QS. Al-Baqarah ayat 127 dan QS. Ibrahim ayat 37. Selain itu, namanya muncul dalam hadits dan riwayat Nabi.

Sangat minim referensi literatur yang secara rinci dan tepat menceritakan profil Siti Hajar. Siti Hajar adalah seorang budak yang bekerja di rumah Nabi Ibrahim. Ia mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan mengelola lingkungan disana. Kebanyakan narasi patriarkal mengenai Siti Hajar mengisahkannya hanya sebagai seorang budak yang diserahkan kepada Nabi Ibrahim As. agar Ibrahim memiliki keturunan. Sarah, istri Ibrahim, kesulitan mempunyai anak pada saat itu. 

Siti Hajar kemudian terpaksa menikah dengan Nabi Ibrahim karena konstruksi yang membesarkan pikiran masyarakat waktu itu menyebut bahwa seorang perempuan seperti Siti Sarah yang sudah menikah, harus punya keturunan, jika tidak maka hidupnya dinilai tidak lengkap dan selalu merasa terasing.

Baca Juga: Siapa Bilang Urusan Dapur Adalah Urusan Perempuan yang Remeh Temeh? Stop Lakukan Stigma

Dari perkawinannya dengan Ibrahim, Hajar pun dikaruniai anak laki-laki yang kemudian dikenal sebagai Nabi Ismail As.. Namun, kecemburuan Sarah terhadap Hajar membuat dirinya dan Ismail harus diasingkan ke gurun pasir di antara bukit Shafa dan Marwah. Upaya Hajar untuk mencari air demi kebutuhan bayinya, Ismail, membuat Allah memberikan mukjizat air yang memancar dari tanah dan kini diketahui sebagai air zam-zam.

Lebih dari semua itu, kisah Siti Hajar ialah kisah tentang keyakinan, agensi perempuan, dan ketangguhan seorang perempuan yang mampu membentuk masa depan jutaan manusia.

Riwayat mengenai masa kecil Hajar tidak banyak tercatat dalam teks-teks klasik Islam. Sebagaimana banyak perempuan dalam sejarah yang maskulin dan patriarkal, identitas awalnya kerap terhapus dari catatan yang ditulis dalam sudut pandang terpusat pada laki-laki. Namun, sejumlah sumber menyebut Hajar berasal dari Mesir, dari wilayah Afrika Utara atau mungkin Nubia, sebuah kawasan yang dikenal sebagai tempat lahir perempuan-perempuan tangguh yang sering ditampilkan dalam teks-teks kuno sebagai budak, pekerja, atau tawanan perang. 

Ada riwayat yang menyatakan bahwa Hajar dulunya adalah anak bangsawan yang kemudian ditawan. Juga ada riwayat lain yang menyebut, ia lahir sebagai perempuan bebas yang kemudian diperbudak karena konflik politik masa itu. Sementara menurut Ibnu Atsir dalam Al-Kamil 1385 H jilid 1, halaman 101, Hajar adalah seorang putri Raja Mesir. Pemberontakan penduduk ‘Ain al-Syams membuat Hajar diperbudak dan dijual kepada Raja Mesir yang baru. Kemudian Nabi Ibrahim bersama istrinya, Sarah dan Nabi Luth As., yang masih keponakannya, datang ke Mesir bersama sebagian pengikutnya. Siti Hajar, seorang budak, pun diberikan oleh Raja Mesir sebagai ‘hadiah’ bagi Ibrahim dan Sarah.

Baca Juga: Gerakan Chipko Menginisiasi Perempuan Untuk Menyelamatkan Lingkungan di India

Apa pun asal-usul lengkapnya, yang pasti Hajar membawa identitas berlapis: sebagai perempuan, kulit hitam, dan mantan budak. Dalam konteks zaman itu, ketiganya adalah identitas yang menempatkannya di posisi paling rentan dalam struktur sosial. Namun, justru dari konteks inilah tokoh besar itu muncul. Tokoh yang kelak menjadi ibu leluhur para nabi dan menjadi simbol agensi perempuan dalam tradisi Islam. Lagi-lagi, peran ini kerap tidak dimunculkan dalam narasi agama yang sarat patriarki. 

Barulah belakangan para cendekiawan Islam kontemporer dan feminis berupaya menggali narasi feminis tentang Siti Hajar dan para perempuan lainnya.

Setelah diserahkan kepada Ibrahim dan Sarah, Hajar kemudian menjadi pelayan Sarah. Narasi patriarkal sering menggambarkan Hajar sebagai sosok pasif; “diberikan,” “dimiliki,” dan “digunakan.” Namun, pembacaan feminis menantang narasi tersebut. Banyak riwayat yang menyatakan bahwa Ibrahim menikahinya secara sah, bukan sekadar menjadikannya selir. Artinya, ia memiliki kedudukan dan martabat sebagai seorang istri, bukan sekadar “perempuan pelengkap.”

Kehamilan Hajar kemudian mengubah dinamika rumah tangga Ibrahim. Selama bertahun-tahun Sarah tidak memiliki anak, dan ketika Hajar mengandung, keseimbangan kekuasaan dalam rumah tangga itu berubah. Ketegangan pun muncul. Di dalam banyak kitab klasik, ketegangan ini direduksi sebagai “kecemburuan perempuan” semata. Seolah-olah konflik ini hanya urusan emosional antar perempuan. Padahal, pembacaan feminis melihat ini sebagai situasi kompleks yang lahir dari struktur keluarga patriarkal; perempuan tidak diberi ruang untuk menentukan struktur relasi, sementara laki-laki diberi otoritas penuh.

Baca Juga: ‘Electoral Financing’ Bisa Dukung Perempuan Marginal Wujudkan Keterwakilan Substantif

Persoalan Siti Hajar dalam konteks tersebut juga menunjukkan ketimpangan struktural bagi perempuan dalam poligami. 

Prof. Alimatul Qibtiyah, Guru Besar Bidang Kajian Gender, Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, menjelaskan pentingnya narasi feminis dalam melihat sejarah Siti Hajar. Situasi Hajar yang dipoligami menjadi istri kedua, pada saat itu tak lepas dari tatanan sosial masyarakat sistem kerajaan yang bias gender “menormalisasi” poligami. Terlebih, Hajar adalah budak yang seolah harus menurut apa kata tuannya. 

Tuntutan yang bias gender bahwa perempuan harus”menghasilkan” keturunan juga menjadikan perempuan seolah hanya dipandang sebagai “mesin” reproduksi. Itulah mengapa, poligami pada masa itu juga dilanggengkan. Padahal, itu merupakan bentuk perpanjangan tangan kekerasan terhadap perempuan, termasuk jika digunakan di masa kini.

“Kepemimpinan itu kan sekarang kolektif-kolegial, tidak lagi monarki yang harus melahirkan darah daging. Sehingga, menurut saya kurang relevan lagi (poligami). Termasuk jika itu digunakan untuk konteks saat ini, alasan poligami karena tidak punya keturunan,” ujar Alimatul kepada Konde.co, Jumat (28/11). 

Hajar, sebagai perempuan, mantan budak, dan seorang ibu, berada dalam posisi yang rentan. Namun, ketangguhannya justru terlihat sejak saat itu. Ketika Sarah dan Ibrahim terus berada dalam ketegangan, Ibrahim menerima perintah Allah untuk memindahkan Hajar dan bayi dalam kandungannya ke lembah tandus yang kelak dikenal sebagai Mekah.

Baca Juga: Kepemimpinan Perempuan di Isu Lingkungan Masih Minim, Termasuk dalam Gerakan Green Islam

Pengasingan Hajar sering digambarkan secara sepintas dalam banyak buku keagamaan: Ibrahim membawa Hajar dan bayi Ismail ke gurun lalu meninggalkan mereka. Namun, pembacaan yang lebih kritis menyoroti peristiwa itu dari sudut pandang Hajar. 

Ketika Ibrahim pergi tanpa menjelaskan apa pun, Hajar mengejarnya. Ia bertanya bukan sekali, tetapi berkali-kali: “Mengapa kau meninggalkan kami di tempat tanpa kehidupan ini?” Ibrahim tidak menjawab. Hingga akhirnya Hajar bertanya: “Apakah ini perintah Allah?” Ketika Ibrahim mengangguk, barulah Hajar berhenti bertanya dan berkata dengan ketegasan yang luar biasa: “Jika demikian, Allah tidak akan menelantarkan kami.”

Ini adalah salah satu momen paling penting dalam sejarah spiritual umat Islam. Di sini, Hajar bukan figur pasif. Ia bertanya, menuntut jawaban, dan hanya ketika yakin ini perintah Tuhan, ia menerima dengan keyakinan penuh. Ini bukan kepasrahan; ini adalah kesadaran, kepercayaan, dan agen moral seorang perempuan yang mengambil keputusan berdasarkan iman, bukan paksaan.

Setelah Ibrahim pergi, Hajar tinggal bersama Ismail di lembah gersang yang tidak memiliki sumber air. Persediaan mereka habis. Ismail menangis kehausan. Tak ada manusia lain, tak ada pepohonan, bahkan suara pun tidak terdengar. Namun Hajar tidak duduk diam menunggu mukjizat. Ia bergerak.

Siti Hajar mendaki Bukit Shafa dan mengamati cakrawala, berharap melihat tenda, api, atau sekawanan manusia. Ia turun dan berlari menuju Bukit Marwah, mengintip kemungkinan tanda-tanda kehidupan. Ia melakukan perjalanan itu tujuh kali; berlari, mencari, berharap, dan terus bergerak, meski tubuhnya lelah dan kakinya gemetar.

Baca Juga: Lingkungan Patriarki Memecah Belah Perempuan: Kenali dan Tangani

Dalam tradisi Islam, ritual sa’i dalam ibadah haji mengabadikan perjalanan Hajar itu. Dan inilah satu-satunya ritual haji yang merupakan rekonstruksi langsung dari tindakan seorang perempuan. Jutaan umat Islam melakukan sa’i setiap tahun untuk meneladani langkah-langkah seorang perempuan Afrika yang berlari demi hidup anaknya.

Pembacaan feminis menekankan bahwa Shafa–Marwah bukan sekadar monumen sejarah religius, tetapi monumen perjuangan perempuan: perempuan yang tidak menunggu diselamatkan, tetapi menyelamatkan dirinya.

Ketika Hajar berlari antara dua bukit itu, malaikat Jibril muncul di dekat kaki bayi Ismail dan memunculkan mata air Zamzam. Air itu terus memancar, dan Hajar segera mengumpulkannya dalam wadah kecil agar tidak terbuang. Dalam banyak riwayat, Jibril berkata: “Inilah tempat baik; kelak rumah Allah akan dibangun di sini.”

Air Zamzam menjadi titik awal kehidupan di lembah tersebut. Suku Jurhum, sebuah kabilah Arab kuno, kemudian melintas dan melihat burung-burung terbang di atas lokasi yang biasanya mengindikasikan keberadaan air. Mereka menemukan Hajar dan Ismail, lalu meminta izin untuk tinggal di sekitar mata air itu. Dan inilah detail penting yang sering hilang dalam narasi:

Dalam budaya Arab kuno, memberi izin tinggal berarti memiliki otoritas. Hajar bukan perempuan yang terselamatkan; ia adalah pendiri kota. Mekah berdiri karena ketangguhannya, keputusannya, dan otoritasnya.

Baca Juga: Eco Gender Gap Itu Nyata, ‘Ramah Lingkungan’ Bukan Cuma Tanggung Jawab Perempuan

Ismail tumbuh dalam komunitas Jurhum dan menikah dari kalangan suku tersebut. Dari keturunannya lahirlah Nabi Muhammad. Ini berarti Hajar adalah matriarkal dalam garis keturunan kenabian Islam. Tanpa Hajar, tidak ada Ismail. Tanpa Ismail, tidak ada garis keturunan Quraisy. Kemudian, tanpa Quraisy, tidak ada Muhammad.

Namun, betapa sering nama Hajar disingkirkan dari sebutan “nenek moyang bangsa Arab,” seolah-olah keturunan besar ini lahir semata-mata dari garis Ibrahim. Padahal dialah ibu leluhur, perempuan yang membentuk identitas dan sejarah umat Islam.

“Ini menunjukkan bahwa, siapapun, latar belakang apapun, dia bisa menjadi agensi untuk dirinya sendiri dan melakukan pengaruh pada dunia luar. Jadi walaupun dia seorang budak, tetapi kemudian dia justru sangat berkiprah dalam sejarah Islam untuk menjadi contoh dalam Haji dengan Shafa-Marwah-nya,” jelas Alimatul.

Siti Hajar dan Ekofeminisme Hari Ini: Lingkungan (Di)rusak, Perempuan Berjuang Pertahankan Hidup

Siti Hajar adalah perempuan yang dipaksa berhadapan dengan gurun, bukan karena kehendaknya, tetapi karena struktur patriarki yang menempatkannya sebagai sosok pinggiran. 

Dan justru di padang tandus itu, ia menemukan kembali hubungan yang paling purba: hubungan antara perempuan dan bumi, antara tubuh manusia dan sumber kehidupan, antara iman dan air.

Ekofeminisme melihat bagaimana penindasan terhadap perempuan sering berjalan seiring dengan penindasan terhadap alam. Keduanya dianggap “sumber daya” dalam struktur patriarki—sesuatu yang dapat digunakan, dikendalikan, dan dipertukarkan. 

Dalam konteks ini, perjalanan Siti Hajar di padang pasir bukan semata perjalanan spiritual atau maternal. Ia adalah perjalanan perempuan yang tubuhnya, haknya, dan suaranya ditinggalkan dalam struktur sosial yang mengabaikannya, tetapi justru menunjukkan bahwa perempuan memiliki hubungan paling intim dengan bumi sebagai tempat bertahan hidup.

Ketika Ibrahim, atas perintah Tuhan, meninggalkan Hajar dan bayinya di lembah tandus, ia sebenarnya sedang menyerahkan Hajar bukan kepada kehampaan, tetapi kepada alam. 

Baca Juga: ‘Ecohorror’, Melihat Kualitas Film Horor yang Eksplorasi Masalah Lingkungan

Gurun yang tampak liar dan tak bersahabat itu menjadi ruang di mana Hajar harus menegosiasikan kehidupan. Tidak ada rumah, tidak ada perlindungan, tidak ada manusia lain. Yang ada hanya bumi kosong, angin panas, dan langit luas yang tak memberikan isyarat apa pun.

Dalam kerangka ekofeminisme, kondisi ini menggambarkan dua bentuk penindasan sekaligus. Pertama, penindasan patriarki yang meminggirkan perempuan dari pusat keluarga dan keputusan. Kedua, penindasan ekologis berupa kondisi lingkungan yang ekstrem dan keras.

Penindasan ekologis juga kontekstual dengan masifnya pembangunan yang memberangus alam penghidupan manusia. Aktivis ekofeminisme, Vandana Shiva dalam Staying Alive: Women, Ecology, and Development, menyoroti pembangunan modern yang didominasi sistem patriarkal yang merusak alam dan menindas perempuan. Berdalihkan pembangunan pula, eksploitasi besar-besaran digalakkan dengan terus mengorbankan perempuan dan kelompok rentan.

Maka ekofeminisme juga mengajarkan bahwa alam bukan musuh. Alam adalah mitra. Alam adalah ruang di mana perempuan bisa menemukan bentuk baru dari ketahanan dan kebijaksanaan. Dan di titik inilah perjuangan Hajar dimulai.

Saat Ismail kehausan dan air habis, Hajar berusaha mencari pertolongan. Ia mendaki bukit Shafa, menatap cakrawala, turun, berlari menuju Marwah, lalu kembali lagi. Tujuh kali. Tujuh kali tubuhnya bergerak mengikuti kontur bumi—bukit, lembah, pasir, batu—seperti sebuah ritual ekologis yang menghubungkan tubuh perempuan dengan lanskap alam.

Baca Juga: Terganggu Dengan Baliho Pemilu Karena Rusak Lingkungan? Banyak Pohon Dipaku Dan Bikin Sampah

Ekofeminisme melihat gerakan ini bukan sebagai tindakan putus asa, tetapi sebagai tindakan ekologis, karena Hajar menjadikan alam sebagai peta, bukan ancaman. Tubuhnya menjadi kompas yang menyelidiki kemungkinan sumber kehidupan. Ia pun membaca tanda-tanda alam dengan naluri seorang ibu dan kepekaan seorang perempuan.

Siti Hajar tidak menguasai alam, tetapi bekerja sama dengan alam untuk menemukan jalan hidup. Hal yang tidak dilakukan para penguasa maskulin yang merusak alam demi tujuan mengeksploitasinya habis-habisan. Ini terjadi hingga hari ini di berbagai belahan dunia, termasuk di Papua dan Gaza, Palestina.

Perjuangan perawatan dan ekofeminisme Siti Hajar di bukit Shafa dan Marwah adalah salah satu refleksi atas situasi yang dialami perempuan di wilayah yang mengalami ekosida di dunia saat ini. Hal ini terjadi di Papua hingga Gaza, Palestina. Di lembah tandus tempat Ibrahim meninggalkannya bersama Ismail yang masih bayi, Hajar pontang-panting mencari pertolongan; tak ada sumber mata air, tak ada sumber makanan, tak ada tanda-tanda kehidupan. Tujuh kali ia mondar-mandir naik-turun di bukit Shafa dan Marwah agar anaknya dapat bertahan hidup. Hingga akhirnya Allah berikan air yang memancar dari tanah tempatnya berpijak.

Maka ada banyak ‘Siti Hajar’ pada diri para perempuan yang berjuang mempertahankan kehidupan di tengah krisis lingkungan. Misalnya, di balik sumber daya alam yang melimpah di tanah Papua, kita mesti menyaksikan ironi masifnya kasus perampasan hutan adatnya. Korporasi dengan gurita-gurita bisnisnya memanfaatkan “izin” negara seolah melegalkan ekosida (ecocide).

Baca Juga: Voice of Baceprot Kampanye Stop Panas Jakarta dan Sayangi Bumi

Mengutip Ecocide: Memutus Impunitas Korporasi (Walhi, 2019), istilah ekosida tercetus sejak tahun 1970. Awal sejarahnya ia berhubungan dengan dampak peperangan terhadap kerusakan lingkungan. 

Konde.co pernah menuliskan kisah para perempuan adat Papua yang mengalami dampak dari perampasan hutan dan perusakan alam ini. Salah satunya, Mama Abe (53) yang berada di ujung timur Papua, Boven Digul, Jayawijaya. Ia menceritakan kisah pilunya. Jika dulu, hutan bisa menyediakan semuanya bagi masyarakat Papua: sagu, babi, rusa, pohon-pohon yang teduh, ranting untuk memasak, kini sudah tidak ada lagi. 

Burung-burung yang dulunya berseliweran indah di hutan, kini pun mulai menghilang. Seperti burung kuning cantik, burung cendrawasih yang menawan hingga Kasuari. “Sebelum perusahaan datang, tempat tinggal kami surga,” ujar Mama Abe.

Perempuan adat yang semula harmonis dan tercukupi atas hasil alam, kini terseok-seok: kehilangan mata pencaharian, bekerja bergantung upah, sebagian menjadi konsumtif, hingga munculnya konflik antar suku. Perempuan yang memiliki hubungan yang erat dengan hutan dan tanahnya, meski tersingkir secara sistematis karena tak ada akses lagi ke tanah dan hutan mereka. 

Melintasi batas negara, ekosida juga menjadi mimpi buruk bagi perempuan di Gaza. 

Peneliti dan Aktivis Aljazair, Hamza Hamouchene dalam Ecocide Imperialism and Palestine Liberation menyebutkan, serangan Israel menunjukkan bahwa kekerasan kolonial pemukim tidak dapat dipisahkan dari kerusakan lingkungan. Genosida dan ekosida saling berkelindan dalam upaya sistematis yang disengaja terhadap struktur sosial dan ekologi. 

Baca Juga: Kamus Feminis: Ekosida, Kejahatan Lingkungan Memusnahkan Perempuan dan Kelompok Rentan

Situasinya jadi lebih kompleks, karena juga melibatkan elit global sebagai penyokong ekosida yang berwajahkan kapitalisme fosil dan imperialisme. Parahnya, kejahatan ekologis itu ditampilkan seolah peduli pada lingkungan (greenwashing) hingga eco-normalization

Shourideh C. Molavi dalam Enviromental Walfare in Gaza menunjukkan, bagaimana praktik kolonial pemukim Israel memanfaatkan unsur-unsur lingkungan sebagai alat aktif dalam perang militer di jalur Gaza. Mereka melakukan penghancuran kawasan pemukiman Gaza dan perusakan ruang pertanian yang berjalan beriringan secara masif. 

Di Gaza, pohon zaitun, sumur air, dan tanah yang jadi sumber penghidupan dihancurkan. Tak hanya merusak sumber pangan lokal, Israel juga menutup akses jalur impor pangan dan bantuan pangan. 

Sejak 7 Oktober 2023 hingga pertengahan Agustus 2025, jumlah korban jiwa warga Palestina telah mencapai sekitar 62.004 orang dengan 156.230 orang luka-luka. Mayoritas korban adalah perempuan dan anak-anak. Selain itu, hampir 2.000 orang tewas saat mencari bantuan kemanusiaan dan setidaknya 263 orang meninggal karena kelaparan, di mana 112 di antaranya adalah anak-anak.

Penghancuran ekologis itu terus dilakukan di tengah warganya yang terus diteror bom, dibombardir oleh kekerasan, operasi militer dan kebijakan diskriminatif. Serangkaian kejahatan kemanusiaan dan ekologi yang dilakukan Israel di Gaza itu adalah bentuk nyata dari ekosida. 

Baca Juga: Kamus Feminis: Perkosaan, Cara Laki-laki Menakut-Nakuti Perempuan Agar Berada di Tempatnya 

Papua hingga Gaza jadi segelintir contoh ekosida yang berdampak pada penghancuran perempuan dan kelompok rentan. Sementara itu, dalam perspektif ekofeminisme, perempuan sering digambarkan sebagai penjaga kehidupan karena tubuhnya memiliki relasi biologis dan spiritual dengan proses kelahiran dan keberlanjutan. 

Kembali pada konteks Siti Hajar, ia memetakan gurun seperti seorang perempuan yang memetakan kontraksi melahirkan: dengan rasa sakit, ketegangan, dan harapan.

Ketika akhirnya mata air Zamzam muncul dari hentakan kaki Ismail—dengan Hajar yang bergegas mengumpulkannya agar tidak sia-sia—itulah momen paling ekofeminis dalam seluruh kisahnya. Air, dalam banyak kosmologi perempuan, adalah simbol rahim, kehidupan, kesuburan, dan keberlanjutan. Kehadirannya di bawah kaki seorang bayi dan dalam pengawasan seorang ibu bukan kebetulan spiritual belaka, melainkan pesan bahwa perempuan adalah penjaga sumber kehidupan.

Zamzam bukan muncul ketika Ibrahim berdoa, atau ketika seorang laki-laki hadir. Air muncul ketika seorang ibu berlari, menangis, dan bertahan. Ekofeminisme menyebut ini sebagai restorasi ekologis melalui pengalaman perempuan.

Suku Jurhum datang karena melihat burung-burung beterbangan di atas tempat Zamzam—burung yang hanya terbang ketika ada air. Mereka mendatangi Hajar dan meminta izin mendirikan perkampungan. Dan Hajar lah yang memberi izin itu. Dalam tradisi Arab kuno, pemberian izin untuk menetap adalah tindakan politik besar. Artinya, Hajar menjadi aktor utama dalam pembentukan permukiman permanen yang kelak menjadi kota Mekah.

Baca Juga: Kamus Feminis: Dari Ndasmu, Anjing Menggonggong Hingga Antek Asing, Label Sebagai Alat Pembungkaman

Narasi Siti Hajar dalam ekofeminisme bukan sekadar kisah keimanan, tetapi kisah interdependensi: hubungan saling menghidupi antara perempuan dan alam. Gurun menguji Hajar, tetapi juga memberinya ruang untuk menunjukkan ketabahannya. Bumi kering menjadi tantangan, tetapi juga menjadi tempat di mana air kehidupan muncul. Alam bukan sekadar latar; ia adalah rekan spiritual yang berjalan bersama perempuan dalam penderitaan dan kebangkitan.

Ekofeminisme mengajarkan bahwa ketika perempuan dipinggirkan, alam sering dipinggirkan pula. Tetapi ketika perempuan bangkit, alam ikut menunjukkannya.

Hingga kini, jutaan umat Islam berlari antara Shafa dan Marwah. Mereka mengikuti jejak seorang perempuan yang memeluk bumi dengan langkah-langkah keteguhannya. Ritual itu bukan perayaan penderitaan, tetapi perayaan aliansi perempuan–alam. Setiap langkah jamaah haji sebenarnya adalah pengakuan terhadap perjuangan seorang ibu, kecerdasan ekologis seorang perempuan, dan hubungan sakral antara tubuh manusia dan lanskap alam. Dalam ritual ini, ekofeminisme menemukan bentuk paling konkret: tindakan spiritual yang berakar pada tindakan ekologis perempuan.

Siti Hajar bukan sekadar tokoh dalam kisah Ibrahim. Siti Hajar adalah figur ekofeminis yang merepresentasikan bagaimana perempuan—dalam relasinya dengan alam—membentuk jalan hidup baru meski dalam kondisi paling rentan. Dia menolak menjadi korban, meski patriarki telah menempatkannya dalam situasi tidak adil. Ia bersekutu dengan bumi, membaca tanda-tanda alam, dan bergerak dengan tekad seorang perempuan yang mengetahui bahwa hidup harus dipertahankan, apa pun harganya.

Baca Juga: Kamus Feminis: (Bukan) Gender War, yang Sebenarnya Terjadi adalah Ketimpangan Gender

Dari langkah-langkahnya lahir sebuah kota. Dari air yang ia pelihara lahir peradaban. Dan dari rahimnya lahir garis keturunan yang melanjutkan sejarah suci. Dan ada Hajar dalam diri setiap perempuan yang berjuang di tengah penindasan struktural. Ditindas patriarki, ditindas sistem poligami, ditindas perusakan lingkungan yang membunuh kehidupan. Seperti Siti Hajar, para perempuan ini mengupayakan segala cara untuk bertahan.

Sementara dalam diri Hajar, ekofeminisme menemukan simbol terbaiknya: bahwa perempuan dan alam adalah sumber kehidupan yang tak bisa dipisahkan, dan dalam keduanya, selalu ada kekuatan untuk memulai dunia baru. Setiap kali jutaan umat Islam berlari antara Shafa dan Marwah, mereka mengulang jejak langkah seorang perempuan yang mengubah gurun tandus menjadi pusat peradaban dunia. Dan di sanalah, nama Siti Hajar terus abadi.

*Reporter Nurul Nur Azizah berkontribusi dalam wawancara narasumber yang ada dalam artikel ini

(Sumber Gambar: Zakat Darussalam)

(Editor: Luviana Ariyanti)

(Artikel ini merupakan kerjasama Konde.co yang didukung oleh Greenpeace)

Salsabila Putri Pertiwi

Redaktur Konde.co
Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

Creative Commons License

1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

Let's share!