“Lanjut dong, nagih ceritanya, seru banget” Komentar ini kerap muncul di kolom video pendek di media sosial bertema micro drama China (micro-dracin).
Narasi usang ini ternyata tetap laku. Padahal micro-dracin mencoba menampilkan tokoh perempuan yang tampak “kuat” namun solusi akhirnya selalu melibatkan tokoh laki-laki yang muncul sebagai penyelamat terakhir.
Posisi perempuan dikerdilkan.
Lihat saja. Adegan pertama selalu memunculkan konflik, seperti orang kaya yang memaki-maki petugas kebersihan, mertua yang menampar menantu, atau menemukan bayi yang membawa keberuntungan.
Micro-dracin adalah genre drama pendek yang biasanya terdiri dari 50 hingga 100 episode, dengan durasi tiap episode hanya sekitar satu hingga dua menit. Setiap episode dirancang dengan cliffhanger (akhir yang menggantung) yang memaksa penonton untuk terus menekan tombol next atau membayar untuk membuka episode berikutnya.
Industri ini berhasil memanen rasa penasaran dan kehausan akan keadilan dari penontonnya untuk keuntungan ekonomi. Meski ceritanya sering dianggap receh, tapi penghasilannya tidak bisa dianggap receh.
Data dari Media Partners Asia, dracin bernilai US$8 miliar (Rp132 triliun) pada tahun 2024. Biaya produksinya rendah sekitar US$150.000-300.000 per seri dengan pengerjaan hitungan hari saja. Beberapa episode pertama gratis, sisanya berbayar, seperti di TikTok Series, harga untuk 55 episode bisa mencapai Rp241.000.
Baca juga: Drama Seri ‘My Ice Girl’: Dukung Korban Kekerasan Seksual untuk Speak Up!
Dengan keuntungan sebesar ini, micro-dracin bukan sekadar tren hiburan receh. Sayangnya, sering kali memoles ceritanya dengan nilai-nilai patriarki yang usang, dan fantasi penyelamatan yang mereduksi agensi perempuan.
Micro-dracin bekerja dengan prinsip “dopamine rush“. Pendek dan padat konflik. Namun, di balik kecepatan alurnya, terdapat pola cerita yang sangat kaku dan berbahaya. Seperti salah satu micro-dracin yang berjudul Lapor Tuan! Nyonya Sudah Tahu Identitasmu mengisahkan seorang CEO kaya raya yang menyamar menjadi kurir untuk mencari calon istri yang “tidak matre”. Premis ini sendiri sudah sangat bermasalah. Seorang laki-laki menguji perempuan untuk jujur dan tulus dengan kebohongan? Lebih naif lagi, drama ini memandang “perempuan baik” hanya dari satu parameter, matre atau tidak matre.
Dalam banyak plot, tokoh utama laki-laki sering digambarkan berpura-pura miskin, kasar, posesif di awal cerita. Namun, narasi tersebut selalu berakhir dengan penjelasan karena ternyata sang laki-laki hanya salah paham atau melakukannya karena terlalu cinta. Di sinilah, micro-dracin melakukan romantisasi terhadap hubungan yang toksik. Penonton secara tidak sadar dilatih untuk memaklumi kekerasan demi janji akhir bahagia di mana sang laki-laki akhirnya memberikan kekayaan dan cintanya.
Dopamin Menghasilkan Algoritma
Micro-dracin tersebar luas melalui TikTok, Reels, dan platform video pendek lainnya yang menggunakan algoritma rekomendasi yang sangat agresif.
Sekali kamu menonton satu cuplikan dracin, FYP akan dibanjiri oleh banyak konten serupa.
Fenomena ini tidak asing bagi masyarakat Indonesia yang sudah lama terpapar oleh pola serupa dalam sinetron stripping. Namun, micro-dracin membawanya ke tingkat yang lebih dekat, yaitu genggaman ponsel kita. Menghipnotis penonton sela-sela waktu istirahat kerja, saat di transportasi umum, atau sebelum tidur.
Stuart Hall, dalam teori Encoding/Decoding (1973), menjelaskan bagaimana pembuat film menyampaikan pesan menggunakan kode-kode teknis, visual, dan verbal yang berakar pada pengetahuan dan infrastruktur teknis tertentu. Proses encoding ini tidak pernah bebas nilai, melainkan sesuai dengan nilai sang pembuat film. Namun, Hall juga menekankan bahwa audiens tidak sepenuhnya pasif, mereka dapat melakukan negotiated reading (pembacaan yang dinegosiasikan) atau bahkan oppositional reading (pembacaan yang menentang).
Masalahnya dengan micro-dracin adalah formatnya tidak memberikan ruang untuk berpikir kritis. Dengan durasi sangat pendek dan narasi yang sangat cepat, audiens tidak punya waktu untuk mempertanyakan atau menolak pesan yang disampaikan. Mereka terseret dalam arus emosional yang memang sengaja dirancang agar kecanduan.
Nilai Badao Zongcai Fetisisme CEO dalam Masyarakat Industri
Salah satu karakter paling dominan dalam micro-dracin adalah Badao Zongcai (CEO yang mendominasi/otoriter).
Contoh narasinya perempuan miskin/biasa bertemu laki-laki super kaya yang menyembunyikan identitasnya bahwa dia adalah seorang CEO.
Kenapa posisi CEO begitu diagungkan? China adalah negara industri yang tumbuh dengan kecepatan luar biasa, di mana posisi jabatan adalah penentu bagi nilai kemanusiaan seseorang. Dalam masyarakat yang sangat kompetitif, terobsesi pada status, dan terjepit dalam budaya kerja yang melelahkan (sering disebut budaya kerja 996), CEO adalah simbol kekuasaan dan kebebasan finansial yang mustahil digapai orang biasa.
Fetisisme terhadap CEO ini mencerminkan mimpi yang sesuai dengan budaya negara penghasilnya. Penonton seperti pekerja kelas menengah ke bawah mencari pelarian melalui fantasi di mana seseorang yang berada di puncak piramida kekuasaan bisa jatuh cinta pada mereka. Pemujaan terhadap CEO ini adalah pengukuhan kembali struktur kekuasaan maskulin. Laki-laki didefinisikan oleh hartanya, kekuasaannya, dan kemampuannya untuk mengontrol lingkungan.
Drama-drama ini juga menyiksa laki-laki dengan memaksa mereka menjadi sosok CEO yang tanpa emosi dan agresif, memperkuat maskulinitas toksik. Laki-laki menghadapi tekanan luar biasa untuk sukses secara finansial. Sementara itu, perempuan diuji kemampuannya untuk menaklukkan hati atau dilindungi oleh sang penguasa tersebut.
Male Savior Bikin Agensi Perempuan Hanya Bayang-Bayang
Memang kadang micro-dracin mencoba menampilkan tokoh perempuan yang tampak “kuat”. Ada karakter perempuan yang digambarkan sebagai penemu di jaman purba, atau ahli bela diri yang sedang menyamar sebagai rakyat jelata. Namun setiap kali ia berada dalam situasi kritis, solusi akhirnya selalu melibatkan tokoh laki-laki yang muncul sebagai penyelamat terakhir.
Entah itu sang laki-laki yang tiba-tiba datang membawa pasukan atau sekadar memegang punggung perempuan yang hendak jatuh dengan satu tangan. Akhirnya penonton bisa menyimpulkan bahwa perempuan, seberapa pintarnya pun dia, tidak bisa hidup sendiri dan tetap butuh “pelengkap” yaitu laki-laki.
Seperti judul Pampered by the Aloof Beast King in the Prehistoric Era. Ceritanya tentang seorang perempuan modern bernama Lin Wei-Wei yang terlempar ke zaman purba. Ia membantu manusia purba membuat api, mengajari teknik bercocok tanam, hingga menyembuhkan wabah penyakit.
Secara sekilas, ini terlihat seperti narasi female empowerment. Lin Wei-Wei adalah agen perubahan membawa peradaban. Namun, micro-dracin selalu punya cara untuk memotong sayap tokoh perempuannya. Karena kecerdasannya dan tindakannya yang dianggap aneh oleh masyarakat, ia dituduh sebagai iblis atau penyihir.
Di sinilah peran Raja Kui muncul. Meskipun si perempuan yang menyelamatkan seluruh suku dari kelaparan dan penyakit, pada akhirnya ia tetap menjadi sosok yang butuh diselamatkan dari amukan massa. Fokus narasi yang awalnya tentang inovasi perempuan bergeser menjadi romansa perlindungan dari sang raja.
Micro-dracin menciptakan masalah bagi tokoh perempuan hanya agar tokoh laki-laki bisa memiliki panggung untuk menjadi pahlawan. Agensi perempuan dalam drama-drama ini hanyalah alat untuk menunggu momen penyelamatan tersebut.
Kenapa Kita Menyukai Dualisme Moral yang Usang?
Salah satu daya tarik terbesar micro-dracin adalah kemampuannya memberikan kepuasan pada penonton karena melihat si jahat dihukum.
Penonton sangat menyukai momen ketika tokoh jahat seperti perempuan yang manipulatif atau ibu mertua yang kejam akhirnya kalah dan dipermalukan di depan umum. Perempuan diadu domba satu sama lain untuk memperebutkan perhatian laki-laki, sementara solidaritas perempuan digambarkan sebagai tidak mungkin atau tidak diinginkan.
Drama-drama ini menggunakan konsep dualisme moral hitam vs putih.
Meskipun konsep ini dianggap usang dalam sastra modern yang lebih menghargai ambiguitas karakter, penonton zaman sekarang justru merindukan kesederhanaan tersebut. Mengapa? Karena dunia nyata terlalu rumit dan sering kali tidak adil. Di dunia nyata misalnya, pelaku korupsi bisa melenggang bebas, dan perusak lingkungan bisa dipuja-puja. Micro-dracin memberikan kepuasan di mana keadilan bisa dicapai hanya dalam hitungan menit.
Namun, hukuman yang diberikan dalam drama-drama ini sering kali bersifat patriarkal juga. Tokoh perempuan jahat (sering disebut sebagai green tea bitch) dihukum dengan cara dipermalukan atau disingkirkan oleh laki-laki yang lebih berkuasa. Keadilan yang ditawarkan tetap dalam bingkai kontrol dan restu laki-laki. Lebih parah lagi, kebaikan perempuan sering didefinisikan oleh kepatuhan, pengorbanan diri, dan kemampuannya menarik perhatian CEO. Kita bersorak saat si jahat jatuh, tanpa sadar apa yang membuat mereka jadi jahat, dan membingkai kebaikan secara dangkal. Tokoh perempuan jahat dalam drama ini sering kali adalah perempuan lain yang juga berusaha bertahan hidup dalam sistem patriarki.
Baca juga: My Lecturer My Husband, Serial Web Drama Rasa Sinetron Yang Patriarkis
Simone de Beauvoir dalam buku The Second Sex menjelaskan bahwa sebagai objek, perempuan tidak didefinisikan oleh dirinya sendiri, melainkan melalui hubungannya dengan laki-laki. Laki-laki sering kali memandang perempuan dengan perasaan mendua antara cinta dan benci, atau pemujaan dan ketakutan. Karenanya perempuan terbelah menjadi dua kutub: perempuan baik yang memasukkan dirinya sendiri sebagai sang liyan vs perempuan jahat yang ingin menjadi subjek dan menjadi dirinya sendiri.
Perempuan seperti diajari untuk merindukan dominasi laki-laki. Repetisi adalah kunci dari indoktrinasi. Jika setiap hari kita mengkonsumsi narasi di mana perempuan selalu butuh diselamatkan, otak kita akan mulai menormalisasi ketidaksetaraan.
Narasi laki-laki sebagai penyelamat utama bukan hanya kolot, tetapi juga membosankan dan menyesatkan. Padahal, sejarah panjang gerakan perempuan membuktikan bahwa perubahan terjadi karena perempuan menyelamatkan dirinya sendiri dan, yang lebih penting, perempuan menyelamatkan sesama perempuan atau orang lain.
Mengutip pernyataan Audre Lorde “The master’s tools will never dismantle the master’s house (penindasan tidak dapat dibongkar menggunakan metode, pemikiran, atau alat-alat yang diciptakan oleh penindas itu sendiri).
Media yang dikontrol oleh logika patriarki dan kapitalisme tidak akan pernah membebaskan kita. Tetapi kesadaran kritis yang menolak untuk dikonsumsi secara pasif adalah awal dari pembebasan.
(Editor: Luviana Ariyanti)




























