Trigger warning: Isi dari artikel ini dapat memicu trauma, khususnya bagi para penyintas kekerasan.
Spoiler Alert: Pembahasan dalam artikel ini mengungkapkan alur dan detail penting dari isi novel. Disarankan untuk membaca novel terlebih dahulu sebelum melanjutkan.
Jantung berdetak begitu kencang, mata tak jarang berkaca-kaca, dan emosi yang terus muncul silih berganti karena kisah ini terasa begitu nyata. Begitulah perasaan yang muncul saat aku membaca novel Makhluk Bumi (Earthlings) karya Sayaka Murata.
Novel dengan jumlah halaman yang tidak terlalu tebal ini mampu membawaku ke dalam alur cerita yang amat menyeramkan, menguras emosi, dan tak jarang membuatku ingin mengumpat karena begitu kejam dunia yang dihadirkan di dalamnya.
Novel ini menceritakan kehidupan Natsuki, remaja perempuan yang hidupnya dihantam oleh rentetan permasalahan. Lakon dibuka dengan latar Natsuki yang masih mengenyam bangku sekolah dasar (SD).
Ia tinggal bersama ibu, ayah, dan kakaknya. Sejak lembaran awal, pembaca disuguhkan petualangan Natsuki di rumah kakek dan neneknya. Setiap liburan musim panas, Natsuki dan keluarganya akan mengunjungi rumah mereka.
Saat sampai di rumah kakek dan nenek, pembagian pekerjaan antara laki-laki dan perempuan mulai muncul ke permukaan. Hal itu terlihat ketika makan malam akan berlangsung. Para perempuan mengemban tugas sebagai juru masak dan penyaji makanan, sedangkan para laki-laki hanya duduk santai dan menikmati minuman keras.
Baca Juga: Dari Novel ‘Entrok’ Kita Belajar: Bagaimana Ketidakadilan terhadap Perempuan Dilanggengkan
Natsuki termasuk ke dalam kelompok yang mengharuskannya terlibat dalam urusan domestik. Karena masih kecil, ia menganggap kegiatan tersebut sebagai sesuatu yang normal karena tidak terdapat protes maupun kesepakatan yang dibicarakan dalam pembagian pekerjaan itu.
Di plot ini, Murata menunjukkan bagaimana pembagian kerja berbasis gender sering kali diperkenalkan sejak usia dini dan diterima sebagai sesuatu yang wajar. Perempuan dibiasakan untuk mengurus kebutuhan domestik, sementara laki-laki ditempatkan sebagai pihak yang menikmati hasil kerja tersebut.
Selain pembagian kerja yang bias gender, Natsuki juga mendapat doktrin dari keluarga hingga masyarakat bahwa sebagai perempuan, kelak ia harus mengandung seorang bayi mungil di dalam rahimnya. Bahkan, Natsuki sempat berpikir bahwa rahimnya merupakan komponen dari sebuah pabrik. Jika rahimnya tidak digunakan sebagaimana mestinya, maka ia akan dianggap sebagai perempuan di luar normal.
Lebih dari itu, Natsuki yang masih kecil mampu memaknai keanehan dunia di sekitarnya. Ia memaknai dirinya dalam dua arti. Pertama, ia harus belajar giat agar dapat menjadi alat kerja yang dapat dieksploitasi sejak dini. Kedua, ia harus berusaha keras sebagai perempuan untuk menjadi organ reproduksi demi kelangsungan hidup tempat tinggalnya.
Pada titik ini, Murata memperlihatkan bagaimana tubuh perempuan tidak sepenuhnya dipandang sebagai milik perempuan itu sendiri. Sejak kecil, perempuan diarahkan untuk memenuhi fungsi-fungsi sosial tertentu. Nilai dirinya diukur bukan dari kehendaknya sebagai manusia, melainkan dari kemampuannya menjalankan peran yang telah ditentukan oleh lingkungan.
Baca Juga: Lolita dalam Cengkeraman Humbert Bukanlah Kisah Cinta, Tapi Kekerasan Seksual Child Grooming
Selain itu, Natsuki juga mengalami pelecehan seksual dari guru lesnya yang bernama Igasaki. Ia merupakan seorang mahasiswa yang mengambil pekerjaan sampingan sebagai guru les.
Natsuki merasa bingung dan tak mampu melawan, karena Igasaki selalu berkata, “Kau anak yang penurut dan baik, Natsuki-chan. Anak-anak sepertimu akan berhasil juga di kelas. Dengarkan baik-baik apa yang dikatakan oleh guru, ya.”
Melalui pengalaman tersebut, Murata menunjukkan bahwa relasi kuasa dapat bekerja dengan sangat kuat dalam kehidupan sehari-hari. Status sebagai guru memberikan posisi yang lebih tinggi dibandingkan murid, sehingga korban sering kali merasa sulit untuk melawan, mempertanyakan, atau bahkan memahami apa yang sedang terjadi pada dirinya.
Natsuki mencoba memproses situasi mencekam tersebut. Dengan langkah yang lemah, hati gelisah, dan pikiran yang terus dihantui oleh pengalaman tersebut, ia memberanikan diri untuk bercerita kepada ibunya. Sesaat setelah ia bercerita, respons ibunya membuatku merasa sedih.
Ibunya merasa bahwa Igasaki tidak mungkin melakukan hal tidak senonoh terhadap anak perempuan yang masih kecil. Alih-alih memberi rasa aman, ibunya justru menyuruh Natsuki untuk berhenti memikirkan hal tersebut dan kembali fokus pada rutinitas belajar agar menjadi perempuan yang tidak merepotkan. Tindakan ini tentu mengabaikan pengalaman yang dialami oleh Natsuki.
Bagian ini menunjukkan bahwa keluarga tidak selalu menjadi ruang aman bagi perempuan. Dalam banyak kasus, keluarga justru menjadi tempat pertama yang meragukan pengalaman korban. Murata memperlihatkan bahwa kekerasan juga bisa subur karena lingkungan sekitar memilih untuk tidak mempercayai korban.
Baca Juga: Novel ‘Vegetarian’ Bukan Kisah Sukses Vegetarianisme, Ini tentang Penguasaan Atas Diri Perempuan
Memasuki pertengahan novel, Natsuki sudah beranjak dewasa dan memiliki suami. Ia menemukan suaminya melalui aplikasi kencan. Aku sempat berpikir kehidupan mereka berdua akan membuahkan kisah manis. Ternyata tidak demikian.
Umur pernikahan Natsuki dan suaminya telah berjalan selama tiga tahun. Dalam perjalanan tersebut, mereka belum juga memiliki anak. Karena kondisi itu dianggap mengkhawatirkan oleh kedua keluarga besar, hubungan Natsuki dan suaminya pun kerap dipantau oleh keluarga mereka.
Natsuki dan suaminya merasa bahwa rahim dan testis mereka diam-diam diawasi oleh sekelompok orang yang menganggap kehidupan keluarga tidak lengkap jika belum memiliki anak.
Saking kuatnya budaya patriarki yang melekat dalam kehidupan masyarakat, Natsuki merasa bahwa sebenarnya rahimnya bukan miliknya sendiri, melainkan milik masyarakat.
Perempuan yang tidak memiliki anak dianggap belum menjalankan fungsi yang diharapkan darinya. Akibatnya, tubuh perempuan berubah menjadi ruang yang bebas diawasi, dipertanyakan, bahkan dihakimi oleh orang lain.
Baca Juga: ‘Paya Nie’: Belenggu Patriarki Perempuan Aceh Di Masa Konflik
Begitu kejam dunia yang dihadapi oleh Natsuki. Dari kehidupan masa kecil yang sarat akan kekerasan, pengabaian pengalaman dan perasaan dari lingkup keluarga, hingga kehidupan dewasa yang menekan seorang perempuan agar menggunakan rahim “selayaknya” perempuan lainnya.
Membaca novel ini membuatku sadar bahwa penindasan terhadap tubuh perempuan terjadi secara konstan. Tidak memandang umur dan tidak memandang pekerjaan. Siapa pun dia, selama berjenis kelamin perempuan, cepat atau lambat akan dihadapkan dengan beragam standar kehidupan yang dilekatkan kepada perempuan.
Perempuan makin kehilangan otonomi atas tubuhnya. Ia menjalani hidup tak lebih dari arahan masyarakat yang budaya patriarkinya telah mapan. Harapanku, semoga yang dialami oleh Natsuki tidak dialami oleh perempuan lain. Begitu pedih jika seorang perempuan yang menjadi korban kekerasan tidak mendapat ruang aman, bahkan dalam skala paling kecil sekalipun, yaitu keluarga.
Tugas kita saat ini ialah memastikan bahwa Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS) berfungsi sebagaimana mestinya, bukan sekadar hadir sebagai deretan pasal di atas kertas. Kehadirannya harus benar-benar menjadi perlindungan nyata bagi korban, menjamin ruang aman untuk bersuara, serta menghadirkan proses hukum yang berpihak pada keadilan.
Jangan sampai korban masih dipaksa menghadapi stigma, mengalami pengabaian atas pengalamannya, atau justru dipersulit ketika mencari pertolongan. Sebab hukum yang baik bukan hanya hukum yang disahkan, melainkan hukum yang mampu bekerja, melindungi, dan memastikan bahwa kekerasan seksual tidak lagi dinormalisasi dalam kehidupan masyarakat.
(Editor: Luthfi Maulana Adhari)





