Dari luar, rumah bercat putih di salah satu gang di Desa Belimbing, Kecamatan Kosambi, Kabupaten Tangerang itu tampak sepi. Hanya ada seorang laki-laki sedang beberes di teras ketika saya datang pagi itu. Namun suasana kontras terlihat di dalam rumah.
Chen Fie (51), perempuan peranakan Tionghoa sang pemilik rumah dan anggota keluarganya sedang sibuk menyiapkan hidangan dan segala pernak-pernik untuk kebutuhan sembahyang Cit Gwee.
Hari itu, Rabu, 19 Agustus 2026 atau bulan ke-7 tanggal 15 penanggalan Imlek ialah puncak Cit Gwee. Ini momen bagi masyarakat Tionghoa melakukan ritual sembahyang untuk mendoakan arwah leluhur dan anggota keluarga yang sudah meninggal.
Selain mengirimkan doa, keluarga juga menyajikan hidangan lengkap untuk arwah leluhur. Sembahyang Cit Gwee ini biasanya dilakukan pada siang hari di rumah.
Di ruang tengah Chen Fie sedang menata meja sembahyang, ada berbagai jenis penganan, buah-buahan, lauk, nasi, minuman dan samseng. Samseng adalah persembahan tiga jenis daging yang berasal dari hewan darat, laut, dan udara sebagai bentuk penghormatan dan sesajian untuk arwah leluhur. Seperti babi samcan, bandeng dan ayam yang disajikan utuh.
Ada dua meja sembahyang yang ia siapkan tahun ini, satu meja untuk mendiang suaminya yang meninggal sekitar 6 bulan lalu. Sedang meja lainnya untuk kedua mertua dan leluhurnya yang sudah lama meninggal.

Baca juga: Siotjia-Mia Bustam, Selusur Sejarah Perlawanan Perempuan Tionghoa di Biennale Jogja 2025
Chen Fie mengungkapkan ada perbedaan pada sesaji yang disiapkan untuk leluhur yang sudah lama meninggal dengan yang baru meninggal, biasanya kurang dari satu tahun hingga tiga tahun. Baik itu terkait jenis makanan, tata cara penyajian, maupun warna yang digunakan. Pada leluhur yang sudah lama meninggal, unsur warna merah boleh dipakai, seperti pada lilin dan makanan (kue ku, kue mangkok).
Sebaliknya pada orang yang baru meninggal, penggunaan unsur warna merah tidak diperbolehkan. Ini lantaran dalam tradisi Tionghoa warna merah melambangkan kebahagiaan, keberuntungan dan perayaan sehingga tidak pas kalau dipakai dalam masa duka.
“Perbedaannya antara yang putih dan merah, kalau yang putih buat (orang yang) mati baru, nggak boleh ada warna merah. Kalau yang merah ini [menunjuk kue ku dan kue mangkok warna merah], buat leluhur yang sudah mati lama,” terang Chen Fie kepada Konde.co pada Rabu, 19 Agustus 2026.
Begitu juga pada penyajian makanannya. Untuk orang yang baru meninggal, Chen Fie menjelaskan ikan yang digoreng tidak boleh digarit-garit. Lalu udang yang digoreng ditusuk dengan lidi agar bentuknya lurus dan tidak melengkung saat dimasak.
Untuk sajian samseng bagi orang yang baru meninggal, ayam tidak disajikan bersama dengan dadih darahnya, sedang bandeng disajikan lurus memanjang atau tidak diikat. Hal sebaliknya berlaku untuk penyajian makanan bagi leluhur yang sudah lama meninggal.
Terkait jenis makanannya, mi dan buncis hanya disajikan untuk leluhur yang sudah lama meninggal. Diyakini jenis makanan tersebut tidak sesuai untuk orang baru meninggal (masa berduka) karena dalam tradisi Tionghoa mi melambangkan panjang umur. Selebihnya jenis makanan yang disajikan sama, seperti sup, ayam goreng, babi kecap, dan sebagainya.
Bagi Chen Fie menjalankan tradisi yang sudah dilakukan turun-temurun tersebut bukanlah sebuah beban. Sajian yang disiapkan untuk para leluhur tersebut bisa menyesuaikan dengan kemampuan masing-masing keluarga.
Baca juga: Apa Kata Anak Muda Tionghoa Soal Pemilu 2024: Pilih Coblos atau Golput?
“Mangkuk besar bisa diganti mangkuk kecil kalau maaf-maaf tidak mampu, yang penting sembahyang sama (untuk) abu leluhur,” ujar Chen Fie.
Ada perasaan lega dan tenang yang ia rasakan setelah menjalankan sembahyang Cit Gwee. Karena bagi Chen Fie menjalankan tradisi ini juga merupakan bentuk bakti kepada orang tua dan membuatnya merasa tetap terhubung dengan leluhur.
Dalam perjalanannya, Chen Fie juga belajar bahwa tradisi bisa berubah menyesuaikan perkembangan zaman. Ada proses negosiasi dan pemaknaan ulang atas nilai-nilai lama yang dirasa merugikan salah satu pihak.
Chen Fie menuturkan dalam masyarakat Tionghoa ada semacam [keyakinan] bahwa abu leluhur biasanya dipegang oleh anak laki-laki karena mereka dianggap kuat dibandingkan anak perempuan. Tetapi dengan posisinya yang mempunyai empat orang anak semuanya perempuan, ia pernah bertanya pada suaminya soal abu leluhur. Saat itu suaminya menjawab, mau anak lelaki atau anak perempuan, sama kuatnya.
Ia belajar segala hal terkait sembahyang besar ini dan ritual lainnya yakni Cheng Beng dan Sin Cia dari ibu mertuanya. Orang tua Chen Fie memeluk agama Kristen, sehingga mereka tidak mejalankan ritual seperti Cit Gwee.
Kini setelah ibu mertuanya tiada, anak pertama dan ketiganya yang membantunya menyiapkan keperluan sembahyang dan menjaga tradisi leluhur terus dijalankan. Dalam komunitas Tionghoa, perempuan punya peran penting dalam merawat pengetahuan, tradisi leluhur, nilai budaya dan ritual keluarga dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
Chen Fie berasal dari Ciputat, Tangerang Selatan, sedang mendiang suaminya, Cuan Hoy, tinggal di Desa Belimbing, Kabupaten Tangerang. Mereka bertemu pertama kali di sebuah vihara di Bogor. Kala itu Chen Fie sedang berkunjung ke rumah neneknya dan Cuan Hoy ada pekerjaan di daerah Bogor.
Sejak itu cinta bersemi di antara mereka. Hingga kemudian mereka memutuskan untuk menikah pada 1993 setelah tujuh bulan pacaran saat usia Chen Fie sekitar 17 tahun.
Baca juga: Edisi Khusus Perempuan Muda dan Keberagaman: Cara Minoritas Tionghoa Rawat Keberagaman di Kampung Kami
Setelah menikah, Chen Fie masuk ke dalam keluarga suaminya dan tinggal di rumah mertuanya di Desa Belimbing. Chen Fie dan suaminya, Cuan Hoy, adalah bagian dari komunitas Cina Benteng. Sebutan ini ditujukan pada masyarakat keturunan Tionghoa yang sudah lama tinggal dan menetap di wilayah Tangerang, Banten.
Sejumlah sumber menyebutkan komunitas Cina Benteng selama berabad hidup berakulturasi dengan budaya dan masyarakat lokal, seperti Betawi, Sunda dan Jawa. Karena itu mereka menggunakan logat bahasa mirip Betawi dalam kehidupan sehari-hari. Mata pencarian mereka cukup beragam, mulai dari pedagang, petani, peternak, buruh dan profesi lainnya.
Chen Fie anak pertama di keluarganya. Ia punya lima saudara yang terdiri dari empat laki-laki dan satu perempuan. Dari enam bersaudara hanya dirinya yang lulusan sekolah dasar (SD). Adik laki-lakinya dua orang lulus SMA dan dua lainnya mengenyam bangku universitas sedang adik perempuannya hanya sampai jenjang SMA. Sebagai anak perempuan pertama, ia bertanggung jawab untuk menjaga adik-adiknya.
Kala itu di kalangan komunitas Tionghoa masih meyakini bahwa anak perempuan tidak perlu sekolah hingga jenjang tinggi karena pada akhirnya mereka akan mengurus rumah tangga. Berbeda dengan anak laki-laki yang nantinya akan mengurus nafkah keluarga, jadi tidak apa mereka sekolah tinggi. Orang tuanya waktu itu juga punya anggapan yang sama.
“Kalau laki-laki sekolah tinggi, nggak apa-apa. Kalau cewek mau sekolah tinggi kan nanti tetap di dapur juga,” begitu kata orang tuanya seperti disampaikan Chen Fie.
Apalagi, Chen Fie menuturkan kala itu kawasan Ciputat masih sepi dan masih banyak hutan. Kondisi ini membuat anak-anak perempuan merasa takut untuk bepergian jauh dari rumah seperti ke sekolah. Alhasil seperti anak perempuan seumurannya, Chen Fie berhenti sekolah dan membantu ibunya menjaga adik-adiknya di rumah.
Baca juga: Tak Mudah Hidup Menjadi Perempuan Tionghoa
Bisa dibilang hampir sepanjang usianya Chen Fie menjalankan kerja-kerja perawatan. Ratna Wulan Devy (32) biasa disapa Dewi, anak pertama Chen Fie mengungkapkan sejak usia muda hingga dewasa Chen Fie harus mengurus orang-orang di sekitarnya.
Mulai dari merawat adik-adiknya, sampai harus berhenti sekolah. Berlanjut dengan mengurus empat orang anak perempuannya setelah dia menikah di usia muda. Saat anaknya mulai beranjak remaja, ia harus merawat ibu mertuanya yang sakit bertahun-tahun hingga meninggal. Setelah itu, giliran suaminya yang sakit jadi dia kembali turun tangan mengurus suami sampai meninggal belum lama ini.
Pengalamannya di masa lalu yang hanya sekolah sampai SD membuatnya bertekad menyekolahkan anak-anaknya sampai pendidikan tinggi tanpa membedakan jenis kelaminnya. Karena dari pengamatan dan interaksinya ia melihat bahwa pendidikan berpengaruh terhadap masa depan seseorang.
“Tekad saya sekarang, mau anak laki-laki atau perempuan dua-duanya harus pintar. Karena dulu saya kan mengalami sendiri ya. Jadi kalau dia pintar, kan enak bisa kerja kemanapun.
Karena itulah Chen Fie bekerja keras untuk mencukupi biaya sekolah anak-anaknya. Bersama suaminya Chen Fie jatuh bangun membangun usaha untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari dan , biaya sekolah anak. Sejumlah usaha sudah pernah dijalani bahkan pernah kena tipu.
Ketika suaminya menjadi Ketua RW, Chen Fie juga tidak banyak terlibat dengan urusan di lingkungan tempat tinggalnya. Ia lebih banyak mengurus keluarga. Hingga dirinya pun tidak dikenal sebagai ibu RW oleh tetangga sekitarnya.
“Papa kan menjabat RW tuh udah lama, tapi mama enggak dikenal sebagai ibu RW, enggak kayak ibu-ibu RW lainnya gitu. Karena dia lebih banyak berada di rumah, jarang banget keluar rumah,” tutur Dewi kepada Konde.co, Kamis, 20 Agustus 2026.
Baca juga: Menggusur Kebun Perempuan Hingga Mengancam Ruang Terbuka: Koperasi Desa Merah Putih untuk Siapa?
Hingga suatu hari pengurus PPSW (Pusat Pengembangan Sumberdaya Wanita) Jakarta, LSM perempuan yang mendampingi kelompok-kelompok perempuan di basis datang ke rumah untuk menemui Chen Fie. Mereka mengajak Chen Fie untuk mendiskusikan pembentukan koperasi di desanya.
Direktur PPWS Jakarta, Tiyas Widya Anggraini menjelaskan Koperasi Wanita Pengembang Sumberdaya (PPWS) ini dimaksudkan sebagai sarana peningkatan literasi keuangan, penguatan kapasitas ekonomi, sekaligus ruang interaksi antarperempuan Cina Benteng.

Pembentukan koperasi simpan pinjam ini didasarkan pada hasil survei lapangan PPSW yang menunjukkan bahwa kelompok perempuan Cina Benteng umumnya tidak memiliki akses terhadap sumber permodalan yang terjangkau dan mudah diakses. Kondisi tersebut membuat banyak di antara mereka terjerat utang kepada rentenir, yang secara lokal disebut Bangke.
“KWPS Lampion Merah Abadi dibentuk sebagai wadah ekonomi bersama yang dikelola oleh perempuan Cina Benteng. Tujuannya untuk meningkatkan kemandirian ekonomi, kesejahteraan, dan posisi perempuan dalam keluarga serta masyarakat melalui penguatan kepemimpinan perempuan, penguatan usaha, akses permodalan, dan solidaritas anggota,” jelas Tiyas.
Waktu itu Chen Fie tidak terlalu yakin dengan ide yang digulirkan PPSW Jakarta. Ia merasa dirinya tidak pernah terlibat dalam kegiatan pengorganisasian apalagi ia hanya lulusan SD. Namun, pengurus PPSW kembali datang, memberikan penjelasan, mengajak diskusi dan kembali meyakinkan Chen Fie.
Chen Fie yang ragu-ragu kemudian bertanya pada suaminya, apakah dirinya mampu? Suaminya pun meyakinkan Chen Fie agar tidak ragu dan percaya pada kemampuannya.
Baca juga: Koperasi Desa Merah Putih Tak Memberi Solusi: Dari Kematian, Korupsi, sampai Militerisasi
“Saya waktu itu curhat sama suami, ‘Koh gue bisa nggak nih ya ngejalanin koperasi? Sedangkan pendidikan gue cuma segitu.’ Dia ngomongnya gini, ‘Kan kita lahir juga nggak bisa apa-apa. Sekolah juga kan belajarnya bertahap, ya udahlah koperasi jalanin aja,’” tutur Chen Fie.
Dukungan suami yang meyakinkan kalau dirinya bisa asal mau belajar, membuat Chen Fie mulai yakin untuk bergabung dan membentuk koperasi. Pada 7 Agustus 2022, Koperasi Lampion Merah Abadi akhirnya terbentuk di Desa Belimbing. Ketika ia dipilih sebagai Ketua Koperasi, Chen Fie mengaku sempat rendah diri karena latar belakang pendidikannya.
“Karena pendidikan saya SD. Seenggak-enggaknya kan kalau kita ketemu dan rapat-rapat, mereka kan pendidikannya lebih tinggi. Jadi saya kayak orang minder. Terus nada bicara saya pun nggak yang lancar seperti sekarang,” ujar Chen Fie.
Chen Fie kemudian belajar, termasuk dari perempuan-perempuan lain yang ditemui saat ada kegiatan yang diselenggarakan PPSW Jakarta atau Kemitraan. Ia juga merasa lingkungan yang memberikan rasa aman dan bebas dari perlakuan diskriminatif dan penghakiman bisa memupuk rasa percaya diri dan keberaniannya.
“Waktu itu ada acara, Kemitraan mengundang perempuan dari wilayah yang kondisi geografisnya sulit. Dia pendidikannya sama dengan saya, tapi dia berani datang ke Jakarta. Walalpun nada bicaranya pas-pasan, cara nulisnya di papan tulis pun nggak terlalu bagus, tapi dia punya keberanian. Saya berpikirlah di situ, biarin tulisan kita mau jelek, pendidikan kita mau rendah, kita harus belajar berani,” papar Chen Fie.
“Selain itu, di setiap pertemuan itu orang nggak memandang saya secara rendah, tapi punya kesamaan (setara). Kan ada orang yang suka memandang kita rendah karena pendidikan, ekonomi, atau apapun. Kalau di situ kan nggak, mau pendidikannya rendah atau tinggi sama aja. Dari situ saya mulai punya kepercayaan diri,” tambahnya.
Baca juga: Baca juga: ‘Kita Usahakan Rumah Itu’, Koperasi Rumahan Bisa Jadi Solusi Atasi Problem Hunian
Dari mulut ke mulut akhirnya anggota Koperasi Lampion Merah Abadi bertambah, meski diakui Chen Fie jumlahnya belum banyak. Ini salah satunya karena faktor kepercayaan masyarakat yang telanjur hilang karena sebelumnya ada sejumlah kasus penipuan dengan kedok arisan uang.
Butuh waktu untuk menumbuhkan kepercayaan masyarakat Desa Belimbing agar bergabung di Koperasi LMA. Ada yang suaminya menanyakan dan memastikan dulu siapa yang pegang uangnya. Setelah dia mendapat penjelasan kalau antara yang pegang uang dengan yang memegang kunci cashbox berbeda, dan pengurusnya punya rekam jejak yang baik, barulah dia percaya. Dari situ ia mendukung istrinya bergabung.
Persoalan lain adalah keberadaan bank keliling yang banyak beroperasi di Desa Belimbing. Bank keliling ini menawarkan layanan simpan pinjam tanpa banyak syarat tetapi dengan bunya yang tinggi. Selama ini sebagian masyarakat memanfaatkan keberadaan bank keliling untuk berbagai kebutuhan karena dirasa mudah. Bisa mendapatkan pinjaman uang tunai dalam waktu singkat.
Sementara Koperasi Lampion Merah Abadi mengajak anggotanya untuk menabung dahulu baru bisa mengajukan pinjaman. Proses pinjaman baru bisa diajukan setelah menjadi anggota minimal tiga bulan dan rutin menabung serta membayar simpanan pokok dan wajib. Karena itu butuh waktu untuk mengubah persepsi masyarakat termasuk para perempuan terkait konsep dan tujuan koperasi.
Keberadaan bank keliling dan pinjaman online juga menjadi perhatian Kepala Desa Belimbing, Maskota. Ia menjelaskan dampaknya sangat serius pada warganya. Salah satunya sampai menimbulkan pertengkaran antara suami dan istri, karena istri meminjam untuk kebutuhan keluarga dan ketika bertambah banyak karena bunganya tinggi, suaminya tidak peduli.
Karena itulah Maskota mengapresiasi langkah yang dilakukan Koperasi Lampion Merah Abadi yang mengorganisir dan memberdayakan perempuan di Desa Belimbing.
Baca juga: 80 Tahun Tak Jadi Merdeka: Tak Mau Terpuruk Dari Penggusuran, Perempuan Bangkit Dengan Koperasi
“Kami sangat mengapresiasi dan mendukung Koperasi Lampion Merah Abadi. Di sini masyarakat punya kebiasaan meminjam uang lewat bank keliling atau pinjaman online yang bunganya tinggi sehingga bisa menjerat mereka. Harapannya koperasi ini bisa mengurangi ketergantungan masyarakat pada pinjaman liar dan online,” kata Maskota.

Dengan aktif di koperasi, Chen Fie mengaku dirinya jadi tahu kantor desa karena sebelumnya dia tidak pernah datang atau berurusan dengan aparat desa. Begitu juga dengan kantor kecamatan dan dinas-dinas di Kabupaten Tangerang, seperti Dinas Koperasi dan Usaha Mikro, Dinas Kependudukan, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kabupaten Tangerang.
“Dulu ke kantor desa pun saya tidak pernah. Pas ikut koperasi, saya baru ke kantor desa dan ke kecamatan, tadinya saya nggak pernah ke luar buat urusan begini,” tutur Chen Fie.
Chen Fie dan anggota koperasi lain melihat persoalan kepemilikan kartu identitas sangatlah penting karena membuka akses perempuan terhadap layanan publik. Sementara jarak pusat pelayanan pemerintah di Tiga Raksa yang cukup jauh dirasa menyulitkan sebagian warga. Hal ini menyebabkan sebagian warga tidak punya akta kelahiran, kartu identitas anak (KIA) dan kartu tanda penduduk (KTP).
Untuk itu beberapa anggota Koperasi LMA juga menjadi kader dalam program Tok Tok Adminduk bekerja sama dengan Dinas Dukcapil Kabupaten Tangerang. Jadi warga desa cukup menitipkan dokuman prasyarat kepada kader yang akan membawa dan mengurus dokumen ke Dukcapil.
Baca juga: Menolak Menikah Muda, Memilih Menjadi Srikandi Koperasi
Persoalan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) juga menjadi perhatian anggota koperasi. Pada Mei 2024, Koperasi LMA bersama pemerintah desa membentuk Satgas Pencegahan Kekerasan untuk merespons KDRT di lingkup Desa Belimbing. Satgas yang diketuai oleh pengurus koperasi telah dibekali kemampuan untuk menerima aduan, mengisi form, dan akan melakukan rujukan kepada DP3A untuk proses lanjutan.
Anggota koperasi dan masyarakat bisa menceritakan atau mengadukan kasus kekerasan yang dialaminya saat pertemuan mingguan anggota koperasi setiap hari Kamis. Chen Fie mengungkapkan sejauh ini kasus yang ada belum pernah dilaporkan ke polisi karena setelah diproses oleh satgas kemudian berakhir damai.
Sudah empat tahun Koperasi Lampion Merah Abadi berjalan dan sudah memiliki aset hampir 450 juta. Banyak perubahan yang dialami oleh Chen Fie. Seperti diungkapkannya, “Saya jadi percaya diri dan punya keberanian, kemampuan saya berbicara terasah dan wawasan saya berkembang,” tutur Chen Fie.
Perubahan ini juga dilihat dan dirasakan oleh orang-orang di sekitarnya. Salah satunya sang anak, Dewi, “Pokoknya sekarang si Mama udah bisa pinter ngomong. Kalau bahasa orang Cina Benteng itu lémés. Maksudnya tuh, Ngomongnya udah pede lah ibaratnya,” ujar Dewi.
Namun Chen Pie mengakui menjadi ketua koperasi kadang membuat lelah dan jenuh. Sementara untuk perempuan seumuran dirinya kadang merasa ingin lebih santai menjalani hidup dan tidak banyak pikiran. Kalau sedang jenuh begitu Chen Fie memilih curhat ke anaknya.
Selain itu karena suka alam, Chen Fie biasanya memilih jeda sejenak dengan jalan-jalan menikmati alam. Setelah jeda biasanya ia merasa kembali semangat. Hal yang selalu membuatnya kembali berpikir ulang adalah mengingat hal-hal baik dari aktivitas koperasi yang membuatnya menjadi pintar dan punya wawasan.
Tindakan-tindakan kecil yang ia lakukan secara konsisten bersama komunitasnya telah mampu mengikis stereotipe tentang perempuan Cina Benteng yang sudah lama dilanggengkan.
(Liputan ini mendapat dukungan dari KEMITRAAN Partnership for Governance Reform, melalui Program Estungkara, Kesetaraan untuk Menghapus Ketidakadilan dan Diskriminasi)






